Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA SMP NEGERI 33 SURABAYA Nur Idzni Syahrani Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya e-mail: nur. 22043@mhs. Titin Indah Pratiwi Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya e-mail: titinindahpratiwi@unesa. Abstrak Kemampuan komunikasi interpersonal berperan penting pada keberhasilan akademik serta sosial siswa di lingkungan sekolah. Namun, masih ditemui siswa yang menunjukkan keterbatasan saat berkomunikasi, yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri dan dukungan sosial yang dimiliki. Kajian ini ditujukan guna mengerti keterkaitan kepercayaan diri dan dukungan sosial terhadap komunikasi interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel kajian ialah 224 siswa yang dipilih secara acak. Data dihimpun melalui angket kepercayaan diri, dukungan sosial, dan komunikasi interpersonal. Analisis data dikerjakan dengan analisis statistik deskriptif, uji normalitas, uji linieritas, korelasi pearson, dan korelasi berganda. Hasil kajian menggambarkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan dukungan sosial . = 0,. , kepercayaan diri dan komunikasi interpersonal . = 0,. , dukungan sosial dan komunikasi interpersonal . = 0,. Sementara itu kepercayaan diri dan dukungan sosial berkorelasi positif signifikan dengan komunikasi interpersonal (R= 0,. Output ini mengindikasikan jika kombinasi kepercayaan diri dan dukungan sosial berkontribusi penting menguatkan kemampuan komunikasi interpersonal siswa Kata Kunci: Kepercayaan Diri. Dukungan Sosial. Komunikasi Interpersonal Abstract Interpersonal communication skills have a crucial role in students academic and social success within the school environment. However, some students still experience difficulties in communicating effectively, which are associated with their level of self confidence and the social support the receive. This study aims to examine the relationship between self confidence and social support with interpersonal communication among students at SMPN 33 Surabaya. A quantitative approach with correlational design was employed. The research sample consisted of 224 students selected through random sampling. Data were collected using self confidence, social support, and interpersonal communication questionnaires. Data analysis involved descriptive statistical analysis, normality testing, linearity testing, pearson correlation analysis, and multiple correlation analysis, the findings revealed a positive and significant relationship between self confidence and social support . = 0,. , self confidence and interpersonal communication . = 0,. , and social support and interpersonal communication . = 0,. In addition, self confidence and social support simultaneously showed a significant positive correlation with interpersonal communication (R= 0,. These results indicate that combination of self confidence and social support contributes substantially to the improvement of students interpersonal communication skills. Keywords: Self confidence. Social support. Interpersonal Communication jati diri, dan cara berpikir seseorang. Dengan pendidikan, individu berkesempatan untuk mengasah keterampilan, meluaskan wawasan, dan menyiapkan diri agar bisa menghadapi beragam persoalan hidup di masa mendatang. Dalam praktik pendidikan, komunikasi memegang peranan sentral sebagai sarana untuk bertukar informasi sekaligus jembatan interaksi antara guru serta siswa. Selaras dengan Fitri et al, . yang menjabarkan jika komunikasi menjadi elemen esensial di proses PENDAHULUAN Pendidikan menjadi fondasi utama di kehidupan tiap Zahrah dan Purba . menegaskan jika pendidikan itu hak mendasar yang harus diperoleh tiap individu karena mempunya peran strategis guna meningkatkan kualitas hidup. Tujuan tersebut bisa terwujud dengan akses pendidikan yang adil dan merata. Pendidikan berperan krusial untuk membentuk karakter. Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal pembelajaran, khususnya dalam penyampaian ilmu. Tingkat efektivitas komunikasi menentukan ketercapaian siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Oleh karenanya, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari komunikasi, sebab seluruh aktivitas pembelajaran bertumpu pada proses interaksi dan komunikasi yang Salah satu faktor yang berkontribusi dalam ketercapaian siswa di proses belajar adalah kemampuan komunikasi yang memadai. Rambe. Manurung, dan Syarqawi . memaparkan jika siswa yang berketerampilan komunikasi yang baik, akan lebih mudah paham materi pembelajaran, mengemukakan ide, serta mengajukan pertanyaan. Selain itu, kemampuan berkomunikasi akan memungkinkan individu terlibat aktif dalam diskusi, mengekspresikan diri, dan memperdalam pemahaman dari informasi yang dijelaskan oleh guru. Interaksi yang tercipta dengan komunikasi efektif dapat membangun kegiatan belajar yang dinamis dan mendorong partisipasi aktif siswa. Minimnya keterampilan komunikasi yang ada pada siswa berdampak negatif pada keberlangsungan Jawhari dan yusuf . menegaskan jika komunikasi berjalan tidak efektif berpotensi menghambat penyampaian materi. Kondisi itu juga dapat menyebabkan kesalahpahaman, menurunkan tingkat partisipasi siswa, dan melemahkan motivasi belajar. Lemahnya komunikasi juga menimbulkan jarak antara guru serta siswa, sehingga suasana belajar menjadi kaku. Proses komunikasi dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya adalah karakteristik personal yang ada pada Sungga et al. menjabarkan jika karakter individu, terkhusus tingkat kepercayaan diri berkontribusi dalam menentukan kelancaran komunikasi. Latar belakang individu seperti kondisi keluarga serta dukungan sosial yang diterima turut membentuk kemampuan komunikasi seseorang. Anggraini dan Darmawanti . mengungkapkan jika rendahnya kepercayaan diri masih menjadi tantangan utama dalam dunia pendidikan. Sikap itu ditunjukkan dengan keraguan, takut melakukan kesalahan, serta enggan mengungkapkan pendapat. Pada akhirnya, mereka akan menarik diri, takut melakukan hal baru, serta kesulitan dalam mengambil keputusan. Kepercayaan diri sebagai elemen fundamental yang ikut berpartisipasi pada perkembangan individu. Lombu dan Lase . mendefinisikan kepercayaan diri sebagai sikap optimisme yang membuat seseorang menilai dirinya dengan positif serta bisa beradaptasi dengan beragam kondisi yang ada. Individu berkepercayaan diri tinggi akan lebih leluasa dalam menjalin interaksi, berani mengungkapkan gagasan, dan tidak mudah goyah akan Kepercayaan diri membuat seseorang bisa bertanggungjawab, sekaligus paham akan keterbatasan dan kelebihannya. Dukungan sosial menjadi komponen penting dalam kehidupan siswa, terutama dalam membantu mereka menghadapi tekanan akademik dan sosial di sekolah. Christanti dan Wati . menguraikan jika dukungan sosial berfungsi menumbuhkan perasaan diapresiasi, serta diterima dalam suatu kelompok. Hal ini memungkinkan individu tidak merasa sendirian dalam menyikapi Dukungan ini diwujudkan melalui perhatian emosional, penghargaan, bantuan nyata, serta informasi yang menolong individu saat menetapkan keputusan. Keberadaan jaringan sosial suportif memungkinkan siswa menciptakan relasi yang saling menguatkan, yang membuat mereka berani berinteraksi, beradaptasi, dan menghadapi berbagai kendala. Dukungan sosial memberikan rasa nyaman dan umumnya berasal dari figur terdekat yang berperan permasalahan (Rohmah dan Pratiwi, 2. Keberadaan dukungan sosial bisa meningkatkan kepercayaan diri individu saat menjalin relasi dengan individu lain, sebab individu merasa aman dalam mengekspresikan dirinya. Minimnya dukungan sosial memunculkan perasaan terabaikan dan tidak diapresiasi, yang berpotensi memunculkan persepsi negatif pada diri sendiri. Hal ini bisa meningkatkan kecemasan dan juga stres. Berdasarkan hasil observasi, terlihat jika sebagian siswa menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang rendah saat melakukan presentasi ataupun mengungkapkan Kondisi ini tampak dari sikap pasif, ragu ketika berbicara, dan kecenderungan diam selama sesi diskusi. Beberapa siswa terlihat kurang nyaman ketika harus menyampaikan pendapat yang berbeda dari rekannya. Rendahnya kepercayaan diri berpotensi menghambat keterlibatan siswa dalam pembelajaran sehingga kegiatan itu tidak berjalan optimal. Pada memperlihatkan adanya siswa yang kurang memiliki kedekatan dengan rekannya. Hal ini tercermin dari minimnya interaksi dan kurangnya motivasi sosial guna mengemukakan pendapat. Kondisi ini mengindikasikan ada dukungan sosial rendah yang diterima siswa. Minimnya rasa diterima membuat siswa menarik diri dan kurang nyaman saat proses belajar. Akibatnya ia enggan berpartisipasi aktif dan aktivitas akademik terhambat. Pada aspek komunikasi interpersonal, siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah dan minim memperoleh dukungan sosial akan kurang aktif saat menyampaikan Mereka akan sulit mengungkapkan pendapat secara jelas dan terbuka. Temuan ini diperkuat oleh hasil Angket Kebutuhan Peserta Didik (AKPD) yang memperlihatkan jika beberapa siswa mengalami kendala komunikasi Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal interpersonal, seperti rendahnya rasa percaya diri, takut saat bertanya dan menjawab di kelas, serta kesulitan bersosialisasi, yang masuk dalam kategori prioritas tinggi. Ini berpotensi menghambat pembentukan relasi belajar Berdasarkan uraian diatas, kajian ini penting dilaksanakan sebab komunikasi interpersonal berperan krusial dalam menunjang keberhasilan siswa di akademik ataupun sosial. Kemampuan komunikasi siswa masih menunjukkan perbedaan, dimana sebagian siswa bisa berpartisipasi aktif, sementara lainnya cenderung pasif. Kondisi ini mengindikasikan jika kepercayaan diri dan dukungan sosial yang dimiliki siswa berpotensi berkaitan dengan kemampuan komunikasi interpersonal mereka. Meskipun terdapat berbagai penelitian yang membahas masing-masing variabel secara terpisah, kajian ini menguji hubungan tiga variabel secara langsung yaitu kepercayaan diri, dukungan sosial, dan komunikasi interpersonal di SMPN 33 Surabaya. Sehingga, penelitian ini diharapkan bisa mengisi celah penelitian dan memaparkan gambaran keterkaitan ketiga variabel secara Kajian Pustaka Lauster . mengemukakan jika kepercayaan diri sebagai unsur kepribadian yang berpengaruh besar terhadap cara individu membangun pemikiran, bersikap, serta bertindak, yang apabila individu memilikinya akan membuat dirinya mantap dalam menetapkan keputusan, tidak terpengaruh pandangan orang lain, dan tidak memerlukan validasi orang berlebihan. Rais . menekankan jika kepercayaan diri adalah pola pikir positif dan konstruktif yang membuat individu menilai dirinya dan situasi sekitar dengan optimis, sehingga hal ini krusial bagi pelajar dalam menjalani proses belajar dan Hamama dan ratri . memaparkan jika kepercayaan diri terlihat dari keyakinan individu pada kemampuan, pengetahuan, dan prinsip miliknya, yang mendorong individu berani menghadapi persoalan, menetapkan pilihan, dan berupaya mencapai target. Agustien dan Pratiwi . menegaskan jika kepercayaan diri adalah kondisi keteguhan kuat pada diri sendiri yang ditandai dengan sikap gigih, konsisten, dan bisa menerima kelebihan dan keterbatasan diri dengan seimbang tanpa dipengaruhi pihak lain. Berdasarkan beragam definisi yang diuraikan, kepercayaan diri adalah kondisi keyakinan positif individu pada kemampuannya yang nampak pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak dengan mantap, optimis, dan konsisten sehingga individu bisa menetapkan keputusan, menghadapi persoalan, meraih target, dan menerima kekuatan dan kelemahan diri tanpa dipengaruhi sentimen individu lain. Lauster dalam Riyanti dan Darwis . menjabarkan jika kepercayaan diri tersusun dari beberapa Aspek tersebut meliputi sikap optimis yang mendorong individu melihat tantangan dengan positif dan tetap termotivasi, tanggung jawab sebagai kesadaran saat menjalankan kewajiban dan menerima akibat dari tiap tindakan, yakin pada kemampuan diri, serta objektif yang memungkinkan individu menilai berdasarkan fakta. Kepercayaan diri juga ditandai dengan keyakinan pada diri dan tekad kuat guna meraih tujuan, serta kemampuan berpikir rasional dan realistis. Bandura dalam Malureanu et al. mengutarakan jika kepercayaan diri terbentuk melalui sikap optimis, dorongan motivasional, serta akumulasi pengalaman individu. Selain itu, kepercayaan pada nilai diri menjadi fondasi utama menguatkan kepercayaan diri individu saat menangani beragam situasi. House . mendeskripsikan jika dukungan sosial adalah bantuan dari orang lain yang berfungsi menolong individu menyesuaikan diri dan bertahan di situasi penuh Dukungan ini menekankan peran penting relasi sosial yang menopang individu menghadapi beragam Sarafino dalam Ibda . memaparkan jika dukungan sosial ialah respon positif yang ditunjukkan melalui perhatian, apresiasi, dan kasih sayang, akibatnya, individu merasa diakui serta terlibat di relasi sosial yang saling berinteraksi. Berdasarkan hal diatas, definisi dukungan sosial ialah bentuk bantuan dan respon positif yang diberikan lewat relasi sosial berupa perhatian, apresiasi, dan kasih sayang, yang berfungsi menyokong individu dalam menyesuaikan diri, bertahan, dan memunculkan perasaan diterima di House dalam Shara . mengelompokkan dukungan sosial menjadi 4 bentuk utama, yaitu dukungan emosional yang memberikan rasa aman dan perhatian, dukungan penghargaan yang menumbuhkan pengakuan, dukungan instrumental berupa bantuan nayat, serta dukungan informasi yang membantu individu memahami Sementara itu Sarafino dalam Mahmuda dan Jalal . menambahkan dukungan koneksi sosial, yaitu keikutsertaan individu di kelompok sosial yang memunculkan keterikatan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa individu tidak menghadapi persoalan sendirian. Dukungan sosial dapat tercipta dari berbagai sumber. McCubbin dan McCubbin dalam Winner dan Subroto . memaparkan jika dukungan sosial tercinta dari komunitas sekitar, keluarga, hubungan antar generasi, serta kelompok swadaya yang menyediakan dukungan berbentuk pengalaman, sehingga individu merasa dipahami, diterima, dan tidak menghadapi persoalan dukungan sosial yang diterima dapat menjadi pelindung stres, serta menolong individu untuk bangkit dari keterpurukan. Myers dalam Mufidah dan Fadilah Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal . menegaskan jika terciptanya dukungan sosial dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu empati, norma dan nilai sosial, serta pertukaran sosial. DeVito . menekankan jika komunikasi interpersonal tidak sekadar berupa pertukaran kata, tapi juga mencakup aspek nonverbal lain serta respon yang saling mempengaruhi. Lubis . menguraikan jika memengaruhi individu lain melalui penyampaian informasi serta pendapat. Effendi dalam Azzahra et al. menyebutkan jika komunikasi interpersonal yakni komunikasi dua arah yang bisa terjadi langsung ataupun melalui media selama tetap bersifat interaktif dan saling DeVito dalam Fitriani dan Andriani . menjabarkan jika kualitas komunikasi interpersonal ditandai oleh keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, serta kesetaraan. Berdasarkan beragam definisi diatas, komunikasi interpersonal ialah proses komunikasi dua arah yang melibatkan pertukaran pesan verbal atau nonverbal, bersifat interaktif, saling memengaruhi, dan berfungsi untuk membangun relasi juga menyampaikan informasi baik langsung ataupun melalui media. Karakteristik Komunikasi interpersonal menurut Wood . yaitu dipahami sebagai proses yang terus bergerak dan berkembang sebab tiap interaksinya dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Proses ini tidak bisa diulang dan akan meninggalkan dampak, komunikasi interpersonal juga dipandang sebagai satu kesatuan utuh, bukan sekedar kumpulan pesan yang berdiri sendiri. Rogers dalam Jeniawaty et al. menjabarkan jika komunikasi interpersonal ditandai oleh pertukaran pesan dua arah yang melibatkan partisipasi aktif pengirim dan penerima. Proses ini terjadi langsung sehingga umpan balik terjadi dengan cepat. Komunikasi ini memiliki kekuatan dalam memengaruhi sikap dan pandangan individu. Komunikasi interpersonal dipengaruhi berbagai faktor. Sungga et al. menerangkan jika faktor tersebut ialah Karakteristik personal, kondisi emosional, latar belakang sosial budaya, serta kedudukan individu. Perbedaan itu mempengaruhi cara seseorang dalam menyampaikan dan merespons pesan selama komunikasi Selain itu, faktor tersebut bisa memengaruhi pola serta arah interaksi. Tujuan Mengetahui hubungan kepercayaan diri dan dukungan sosial pada siswa SMPN 33 Surabaya. Mengetahui hubungan kepercayaan diri dan komunikasi interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya. Mengetahui hubungan dukungan sosial dan komunikasi interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya. Mengetahui hubungan kepercayaan diri dan interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya. METODE Kajian ini dikerjakan melalui pendekatan kuantitatif metode korelasional. Sugiyono dalam Abdullah et al. menjabarkan jika pendekatan ini digunakan untuk menelaah karakteristik suatu populasi atau sampel tertentu dengan pengumpulan serta analisis data yang sistematis. Metode korelasional dipilih guna memahami keterkaitan antar variabel yang sudah ditetapkan. Varibael Independen pada penelitian ini adalah Kepercayaan Diri (X. dan Dukungan Sosial (X. Sementara variabel Dependennya Komunikasi Interpersonal (Y. Penelitian ini dilakukan di SMPN 33 Surabaya, dengan populasi penelitian adalah siswa kelas 8 dan 9 pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Sampel ditarik menggunakan teknik simple random sampling dengan memanfaatkan rumus slovin dengan tingkat error 5% sehingga didapatkan jumlah sampel 224 siswa. Pengumpulan data dijalankan dengan instrumen berbentuk angket yang mampu mengukur kepercayaan diri, dukungan sosial, dan komunikasi interpersonal siswa. Angket tersebut dirancang berdasarkan indikator masingmasing variabel dan sudah memenuhi uji validitas dan reliabilitas guna mengonfirmasi ketepatan dan konsistensi alat ukur. Uji validitas dan reliabilitas dilaksanakan pada 100 siswa dengan karakteristik yang sama. Dengan demikian, instrumen yang digunakan dinilai layak dan bisa menghasilkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Analisis data dalam kajian ini dilaksanakan melalui beberapa tahap uji statistik. Tahap awal meliputi analisis statistik deskriptif dikerjakan guna memaparkan karakteristik data tiap variabel kajian. Tahap kedua, uji normalitas dan linieritas guna memastikan data memenuhi asumsi dasar sebelum dilakukan uji lanjutan. Tahap ketiga, untuk menguji keterkaitan antar variabel, digunakan analisis korelasi pearson, sedangkan analisis korelasi berganda diterapkan guna mengetahui korelasi antara ketiga variabel secara langsung. Semua tahap ini dilakukan memanfaatkan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 25. Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Tabel 1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Komunikasi Interpersonal Analisis Statistik Deskriptif Variabel Kepercayaan Diri Dukungan Sosial Komunikasi Interpersonal Min Max Mean Std. Devia 91,72 7,779 90,18 8,745 93,07 7,322 0,200 Berdistribusi Normal Output uji normalitas pada tabel diatas, dihasilkan nilai signifikansi tiap variabel yaitu 0,071 pada kepercayaan diri, 0,200 pada dukungan sosial, dan 0,200 pada komunikasi interpersonal. Atas dasar seluruh nilai signifikansi pada tiap variabel lebih besar dari 0,050, bisa ditentukan jika data tiap variabel berdistribusi normal. Uji Linieritas Tabel 4. Hasil Uji Linieritas X1 dan Y1 Nilai Signifikansi Berdasarkan output analisis deskriptif yang dikerjakan, diperoleh rata rata kepercayaan diri siswa 91,72, dukungan sosial 90,18, dan komunikasi interpersonal 93,07. Angka minimum memperlihatkan batas terendah dari hasil yang didapatkan, sementara angka maksimum menggambarkan capaian tertinggi dari tiap variabel. Sebaran data variabel kepercayaan diri yaitu 7,779, dukungan sosial 8,745, dan komunikasi interpersonal 7,322. Melalui hasil tersebut dapat dilihat kriteria tingkat tiap variabel adalah sebagai berikut: Tabel 2. Kategorisasi Tiap Variabel Ket Kepercayaan Diri Dukungan Sosial Komunikasi Interpersonal . ,7%) . ,4%) . ,7%) Deviation Linearity Keterangan Linearity 0,000 0,694 Linear Variabel Kepercayaan Diri Komunikasi Interpersonal Output uji linieritas pada variabel kepercayaan diri dan komunikasi interpersonal menggambarkan hasil nilai linearity 0,000 atau lebih kecil dari 0,050. Nilai deviation from linearity 0,694 atau lebih besar dari 0,050. Sehingga bisa ditetapkan jika hubungan kedua variabel linear. Tabel 5. Hasil Uji Linieritas X2 dan Y1 Nilai Signifikansi Deviation Linearity Keterangan Linearity 0,000 0,420 Linear Variabel ,9%) ,9%) ,3%) ,6%) ,4%) Dukungan Sosial Komunikasi Interpersonal Berdasarkan hasil kategorisasi tingkat tiap variabel, bisa diketahui jika kepercayaan diri siswa terdapat 33 . ,7%) berkategori rendah, 159 . %) sedang, dan 32 . ,3%) tinggi. Sementara itu, dukungan sosial siswa sebesar 39 . ,4%) berkategori rendah, 141 . ,9%) sedang, dan 39 . ,4%) tinggi. Pada kemampuan komunikasi interpersonal siswa terdapat 33 . ,7%) berkategori rendah, 152 . ,9%) sedang, dan 39 . ,4%) Dapat dilihat bahwa mayoritas siswa di tiap variabelnya berada pada kelompok sedang. Uji Normalitas Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Variabel Signifikansi Keterangan Kepercayaan Diri Dukungan Sosial 0,071 Berdistribusi Normal Berdistribusi Normal 0,200 Output uji linieritas pada variabel dukungan sosial dan komunikasi interpersonal menggambarkan hasil nilai linearity 0,000 atau lebih kecil dari 0,050. Nilai deviation from linearity 0,420 atau lebih besar dari 0,050. Bisa ditetapkan jika hubungan kedua variabel linear. Uji Korelasi Uji Hipotesis Pertama Tabel 6. Hasil Uji Korelasi X1 dan X2 Korelasi Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Koefisien Korelasi Signifikansi 0,582 0,000 Output uji korelasi menunjukkan jika koefisien korelasi pada variabel kepercayaan diri dan dukungan sosial sebesar 0,582 dengan tingkat signifikansi 0,000 atau lebih kecil dari 0. Hal ini menandakan jika terdapat Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan dukungan sosial. Artinya, makin tinggi dukungan sosial siswa, makin tinggi pula kepercayaan dirinya. Hubungan positif ini mengindikasikan jika adanya dukungan dari sekitar berperan penting dalam pembentukan keyakinan diri siswa. Secara teoritis, temuan ini sejalan dengan pandangan Bandura dalam Malureanu et al. yang menegaskan jika kepercayaan diri erat kaitannya dengan keyakinan individu pada dirinya, pengalaman keberhasilan atau kegagalan, serta motivasi internal. Dukungan sosial dapat berfungsi sebagai penguat di proses tersebut melalui pemberian dukungan emosional, penilaian positif, informasi, serta bantuan praktis, dukungan ini menjadikan individu merasa diterima dan dihargai, sehingga membentuk persepsi diri dan meningkatkan kepercayaan Hal ini juga diperkuat Lauster dalam Riyanti dan Darwis . yang menyebutkan jika kepercayaan diri meliputi sikap optimis, tanggung jawab, objektivitas, yakin pada diri, serta rasional dan realistis. Dukungan sosia yang diterima siswa akan berkontribusi meningkatkan aspek itu. Hasil penelitian ini memperkuat teori tersebut, khususnya pada siswa SMPN 33 Surabaya. Dukungan sosial yang diterima siswa dari orang sekitar akan memberikan rasa diterima dan diakui. Kondisi ini mendorong siswa menilai dirinya dengan baik, berani mengekspresikan diri, serta menunjukkan kepercayaan diri yang lebih baik. Keberadaan dukungan sosial berperan signifikan menguatkan kepercayaan diri siswa. Temuan ini selaras dengan kajian yang dilakukan Lutfianawati et al. yang memaparkan adanya korelasi bermakna antara kedua variabel tersebut. Dukungan sosial berfungsi sebagai fondasi psikologis yang menyokong individu membangun keyakinan diri. Dukungan seperti apresiasi, peahaman, dan sikap menerima dari lingkungan sekitar bisa memunculkan rasa dihargai dan diakui. Selain itu, penerimaan diri dari rekan sebaya bisa menjadi sumber dukungan emosional yang kuat, sehingga siswa dapat menampilkan kepercayaan diri yang positif. Dukungan sosial menjadi unsur luar diri individu yang turut andil pada penguatan kepercayaan diri. Araminta dan Izzati . mengemukakan jika keberadaan dukungan sosial menjadi aspek esensial saat individu dihadapkan di beragam tantangan hidup. Dukungan tersebut diwujudkan pada bentuk perhatian emosional ataupun bentuk nyata. Akibatnya, individu merasa diterima, serta ditemani. Situasi ini mendorong munculnya keyakinan individu pada kemampuan dirinya. Uji Hipotesis Kedua Tabel 7. Hasil Uji Korelasi X1 dan Y1 Korelasi Kepercayaan Diri dan Komunikasi Interpersonal Koefisien Korelasi Signifikansi 0,522 0,000 Output uji korelasi menggambarkan jika koefisien korelasi pada variabel kepercayaan diri dan komunikasi interpersonal 0,522 dengan tingkat signifikan 0,000 atau lebih kecil dari 0,050. Hal ini mengindikasikan jika ada hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan komunikasi interpersonal. Maknanya, makin tinggi kepercayaan diri siswa, makin baik juga komunikasi Kaitannya dengan teori, output ini sejalan dengan pandangan Lauster yang menyatakan jika kepercayaan diri tidak terbatas pada keyakinan individu pada dirinya, tetapi juga menjadi sumber energi positif yang mendorong keberanian bertindak, bertanggung jawab, dan berelasi. Selaras dengan itu. Bandura dalam Malureanu et al . menyampaikan jika kepercayaan diri berkaitan erat dengan keyakinan diri, pengalaman hidup, serta motivasi internal, yang membentuk sikap optimis, objektif, dan Karakteristik itu berperan penting dalam mendukung berjalannya komunikasi interpersonal. Devito . dan Wood . memaparkan jika komunikasi interpersonal ialah proses timbal balik yang melibatkan unsur verbal dan nonverbal serta dipengaruhi konteks dan pengalaman individu. Siswa yang berkepercayaan diri tinggi bisa memanfaatkan unsur tersebut dengan optimal, seperti terbuka, berpendapat dengan jelas, dan kepekaan terhadap lawan bicara. Aspek optimis dan objektivitas yang melekat pada individu bisa menjaga kualitas komunikasi jadi saling menghargai. Temuan pada siswa SMPN 33 Surabaya memperkuat teori ini jika kepercayaan diri krusial dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal. Rasa percaya diri mendorong siswa lebih berani, terbuka dan efektif dalam Hasil ini searah dengan kajian yang dilaksanakan Damayanti et al. yang menegaskan jika penguatan kepercayaan diri ialah landasan utama untuk pengembangan komunikasi interpersonal. Tingkat kepercayaan diri yang tinggi membantu individu menempatkan diri dan mendorong keberaniannya untuk berpendapat dengan terbuka. Rasa yakin pada diri akan memunculkan keteguhan sikap saat berelasi dengan individu lain. Aspek optimis akan mendorong siswa tidak mudah ragu saat berkomunikasi. Disamping itu, sikap objektif bisa membuat komunikasi berlangsung kondusif. Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal Uji Hipotesis Ketiga Tabel 8. Hasil Uji Korelasi X2 dan Y1 individu dalam menerima dukungan sosial akan mendorong sikap terbuka dalam berinteraksi yang akhirnya meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal. Korelasi Dukugan Sosial dan Komunikasi Interpersonal Koefisien Korelasi Signifikansi 0,554 0,000 Uji Korelasi Berganda Uji Hipotesis Keempat Output uji korelasi menggambarkan jika koefisien korelasi pada variabel dukungan sosial dan komunikasi interpersonal sebesar 0,554 dengan tingkat signifikansi 0,000 atau lebih kecil dari 0,050. Hal ini mengindikasikan jika ada hubungan positif dan signifikan pada dukungan sosial dan komunikasi interpersonal. Artinya makin tinggi dukungan sosial siswa, makin baik komunikasi Temuan ini menegaskan jika dukungan sosial berkontribusi nyata dalam membantu siswa berkomunikasi secara terbuka. House . menyatakan jika dukungan sosial ialah faktor luar diri yang berperan krusial membantu siswa bertahan menghadapi peroslan dan beradaptasi. Bentuk dukungan baik emosional, apresiasi, informasi, atau praktis membuat individu merasa diperhatikan dan Perasaan aman dan nyaman tersebut mendorong individu untuk menjalin interaksi sehingga proses komunikasi berjalan dengan efektif. Sejalan dengan itu. DeVito . menjelaskan jika komunikasi interpersonal yang efektif dipengaruhi oleh pertukaran pesan terbuka, respon, serta kepekaan terhadap konteks dan lawan bicara. Individu yang menerima dukungan sosial dengan konsisten akan menunjukkan sikap terbuka, empati, dan bisa memberi serta menerima umpan balik yang menjadi elemen penting dalam komunikasi interpersonal. McCubbin dan McCubbin dalam Winner dan Subroto . juga memaparkan jika dukungan sosial berfungsi sebagai pelindung dari stress dan mempercepat proses adaptasi diri, sehingga individu lebih siap berinteraksi dengan sehat. Output kajian pada siswa SMPN 33 Surabaya memperkuat teori tersebut. Dukungan sosial berperan signifikan pada meningkatnya kualitas komunikasi Ketika siswa merasa diterima dan didukung, mereka akan lebih berani dan terbuka saat berkomunikasi dengan individu lain. Dukungan sosial bisa dipahami sebagai wujud pertolongan yang disajikan guna memenuhi kebutuhan individu baik secara emosional atau sosial. Dukungan emosional menjadi wujud dukungan sosial yang tersampaikan melalui komunikasi interpersonal. Agustin dan Claretta . menegaskan jika keterbukaan dalam komunikasi menjadi kunci keberhasilan dukungan sosial. Pola komunikasi terbuka bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan penerimaan, sehingga dukungan yang diberikan bisa dirasakan optimal oleh individu. Selain itu, kesiapan Tabel 9. Hasil Uji Korelasi Berganda X1 dan X2 terhadap Korelasi Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal Koefisien Korelasi R Square (Koefisien Determinas. Signifikansi 0,606 0,637 0,0000 Output uji korelasi berganda pada tiga variabel menggambarkan bahwa koefisien korelasi pada variabel kepercayaan diri dan dukungan sosial terhadap komunikasi interpersonal sebesar 0,606 dengan tingkat signifikansi 0,000 atau lebih kecil dari 0,050. Hal ini menunjukkan jika ada hubungan positif dan signifikan antara ketiga variabel tersebut. Maknanya, makin tinggi kepercayaan diri dan makin banyak dukungan sosia yang diterima siswa, makin meningkat juga kemampuan komunikasi interpersonalnya. Bandura dalam Malureanu et al. , . menjabarkan jika kepercayaan diri berakar dari keyakinan individu pada dirinya yang dipengaruhi oleh pengalaman, motivasi, dan sikap optimis. Individu yang percaya diri akan mengelola emosinya dengan stabil, objektif, dan rasional serta realistis dalam menghadapi situasi sosial. Kondisi ini menjadi modal internal yang penting untuk menciptakan komunikasi interpersonal yang konstruktif. Sejalan dengan itu. Lauster dalam Riyanti dan Darwis . menegaskan jika kepercayaan diri merupakan energi positif yang mendorong individu berinisiatif dan menjalin interaksi sosial dengan aktif. Di sisi lain. Dukungan sosial menjadi faktor luar yang menguatkan kualitas interaksi sosial individu. House . serta Sarafino dan Smith dalam Supriyati . memaparkan jika dukungan sosial bisa menciptakan rasa aman, dan diterima dalam lingkungannya. Dukungan itu menolong individu mengelola tekanan serta meningkatkan berkomunikasi terbuka, empatik, dan responsif pada orang Ketika kepercayaan diri dan dukungan sosial hadir secara bersamaan, individu memiliki keseimbangan kekuatan luar dan dalam guna berkomunikasi. Kepercayaan diri memberikan keberanian untuk mengemukakan pendapat dan mengekspresikan diri, sementara dukungan sosial menyediakan rasa aman dan Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Komunikasi Interpersonal penerimaan dari lingkungan sekitar. Kedua faktor ini memunculkan komunikasi interpersonal yang terbuka, aktif, dan efektif mendorong terbentuknya relasi sosial yang sehat. Teori ini sejalan dengan output kajian pada siswa SMPN 33 Surabaya yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan dukungan sosial terhadap komunikasi interpersonal. Siswa yang merasa di dukung lingkungannya, akan yakin pada dirinya dan berani berkomunikasi serta menjalin relasi yang lebih baik dengan siswa lain. Rasa dihormati dan dipercaya oleh orang lain berkontribusi besar membentuk kondisi psikologis yang Perasaan tersebut akan membantu individu mempunyai ketahanan batin saat menghadapi berbagai Adiyansyah et al. menjabarkan jika dukungan sosial berperan penting guna memunculkan kepercayaan diri. Makin besar dukungan sosial, makin kuat keyakinan individu pada dirinya. Dukungan sosial membuat individu sadar dirinya bermakna. Rasa percaya diri yang tumbuh akan membuat individu lebih terbuka dan bisa berkomunikasi efektif dengan lingkungannya. Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu Penggunaan menjelaskan hubungan kausal. Sehingga tidak menjelaskan faktor lain selain kepercayaan diri maupun dukungan sosial yang memengaruhi komunikasi interpersonal siswa. Kajian ini juga tidak bisa digeneralisasikan pada siswa dengan latar belakang maupun lingkungan sosial yang berbeda. menjadikan siswa merasa dihargai, sehingga akan terbuka dan berkomunikasi dengan optimal. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan dukungan sosial terhadap komunikasi interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya. Kombinasi kepercayaan diri tinggi serta dukungan sosial kuat menjadikan siswa bisa berkomunikasi interpersonal dengan optimal. Saran Berdasarkan hasil kajian, peneliti memberikan masukan yaitu: Bagi Siswa Siswa kepercayaan diri dan menjalin relasi positif dengan banyak pihak. Sehingga diharapkan siswa bisa berkomunikasi efektif di berbagai Bagi Guru BK Guru BK direkomendasikan untuk membuat layanan BK yang bisa memperkuat kepercayaan diri dan relasi dukungan sosial, serta melatih komunikasi interpersonal siswa. Berbagai layanan bisa dirancang kreatif agar siswa dapat berekspresi, bereasi, dan berkomunikasi dengan Bagi Sekolah Sekolah lingkungan sekolah yang suportif sehingga siswa bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dan berkomunikasi serta berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan sekolah. Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti selanjutnya direkomendasikan agar meneliti dengan memperluas variabel lain yang bisa memengaruhi komunikasi interpersonal Peneliti juga dapat melaksanakan kajian dengan lebih banyak sampel serta jenjang yang PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil kajian yang telah dilaksanakan mengenai hubungan kepercayaan diri dan dukungan sosial terhadap komunikasi interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya, diperoleh kesimpulan berikut: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan dukungan sosial pada siswa SMPN 33 Surabaya. Makin tinggi dukungan sosial yang dimiliki siswa, makin kuat pula kepercayaan dirinya. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara interpersonal siswa SMPN 33 Surabaya. Kepercayaan diri yang tinggi memacu siswa bisa berkomunikasi efektif dengan orang lain. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan kepercayaan diri siswa SMPN 33 Surabaya. Dukungan sosial yang ada DAFTAR PUSTAKA