Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. Pengaruh Psikoedukasi Terhadap Masalah Psikososial pada Penderita Kusta dengan Kecacatan di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang dan Puskesmas Omben Hilyatus Sholiha1* | Atika Jatimi1 Universitas Nazhatut Thullab Al-Muafa Sampang * Corresponding Author: missatikaj@gmail. ARTICLE INFORMATION Article history Received 1 October 2024 Revised 4 December 2024 Accepted 4 December 2024 Keywords : Psikoedukasi, penderita kusta. ABSTRACT Intoduction : Leprosy is a disease that attacks the skin and causes wounds to the skin, peripheral nervous system that will cause nerve damage, muscle weakness and numbness, mucous membranes in the upper respiratory tract and eyes. Leprosy sufferers in the community receive social discrimination which can trigger psychosocial problems such as anxiety, self-stigma, and social isolation. Objectives : The purpose of this study is to find out the Influence of Psychoeducation on Psychosocial Problems in Leprosy Patients with Disabilities in the Working Area of the Karang Penang Health Center and the Omben Health Center. Method : The research design used is using One Gruops Pretest-Posttest Design with pra experiment. The population of this study is all leprosy patients in the Working Area of the Karang Penang Health Center and Omben Health Center totaling 37 people. The sampling technique in the study uses the probability sampling technique method, simple random sampling and then measured with a psychosocial problem questionnaire, the data obtained is then analyzed using the Wilcoxson test. Results : The results of the study were obtained that the influence of psychoeducation on psychosocial problems to leprosy patients had results . =0. which means that the p value was less than alpha . =0. Conclution : The conclusion of this study is that psychoeducation can reduce psychosocial problems experienced by leprosy patients. Pendahuluan : Kusta merupakan penyakit yang menyerang saraf dan menyebabkan munculnya kerusakan saraf, dan menyerang kulit, mukosa mulut, saluran pernafasan bagian atas, mata, otot, tulang dan testis kecuali saraf pusat. Penderita kusta dikomunitas menerima diskriminasi sosial sehingga dapat memicu munculnya masalah psikososial sepertinya kecemasan, self stigma dan isolasi sosial. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya dalam pemberian Pengaruh Psikoedukasi Terhadap Masalah Psikososial Pada Pasien Kusta Dengan Kecacatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang dan Puskesmas Omben. Metode : Desain penelitian yang digunakan yaitu menggunakan One Gruops PretestPosttest Design dengan pra eksperimen. Populasi penelitian ini yaitu seluruh penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang dan PuskesLmas Omben berjumlah 37 orang. Teknik sampling dalam penelitian menggunakan metode teknik sampling probalitas, acak sederhana simple random sampling kemudian di ukur dengan kuesioner masalah psikososial, data yang di dapatkan kemudian di analisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : Hasil penelitian diperoleh bahwa ada pengaruh psikoedukasi berpengaruh terhadap masalah psikososial kepada pasien kusta dengan hasil . =0,. yang artinya nilai p kurang dari alpha (=0,. Kesimpulan : psikoedukasi dapat menurunkan angka kejadian masalah psikososial yang dialami oleh penderita kusta dengan kecacatan. Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. Pendahuluan Penyakit kusta merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang terutama menyerang saraf tepi, kulit, mukosa saluran pernapasan bagian atas, dan mata. Gejala utamanya meliputi lesi kulit yang tak kunjung sembuh, mati rasa pada area yang terkena, dan kelemahan otot. Jika tidak diobati, kusta dapat menyebabkan kecacatan permanen, terutama pada tangan, kaki, dan mata (Akbar Nur, 2. Kecacatan yang dialami penderita kusta kerap memicu masalah psikososial, baik yang disebabkan oleh stigma diri sendiri (Jatimi et al. , 2. maupun persepsi negatif masyarakat (Hidayat et al. , 2. Walaupun pengobatan sudah ada, kusta masih menjadi masalah kesehatan global. Secara global, kasus kusta masih cukup tinggi. Menurut laporan WHO pada tahun 2021, tercatat ada 133. 781 kasus prevalen dan 140. 546 kasus baru yang terdeteksi. Indonesia menempati urutan kedua dunia pada tahun 2022 dengan jumlah kasus baru sebanyak 10. yang terdiri dari 91 kasus kusta tipe pausibasiler (PB) dan 994 kasus kusta tipe multibasiler (MB) (Kemenkes RI, 2. Di Jawa Timur sendiri, terdapat 1. 839 kasus dengan prevalensi 10 per 10. 000 penduduk (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2. Kabupaten Sampang, salah satu wilayah di Jawa Timur yang menempati peringkat ketida dengan angka prevalensi 00% per 10. 000 penduduk (Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2. Penularan kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti intensitas dan frekuensi kontak dengan penderita. Faktor lingkungan seperti air dan udara yang tercemar juga berperan sebagai habitat alami Mycobacterium leprae (Eso et al. , 2. Interaksi sosial, terutama di dalam keluarga dan dengan tetangga, turut mempengaruhi penyebaran penyakit Oleh karena itu, kusta masih menjadi masalah kesehatan yang besar di Indonesia, dengan dampak yang melibatkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Penderita kusta sering kali mengalami stigma karena disabilitas yang dideritanya (Yulia & Gustiana, 2. Dampak jangka pendek yang dialami penderita kusta meliputi perasaan rendah diri, takut terhadap penyakit dan kecacatan, serta keraguan untuk berobat karena malu (Jatimi. Yusuf & Andayani, 2. Dalam jangka panjang, kecacatan permanen menjadi hal yang paling ditakutkan karena dapat mengganggu kehidupan ekonomi dan sosial penderita (Siswanto et al. , 2. (Jatimi et al. , 2. Kusta umumnya terbagi menjadi dua tipe: kusta pausibasiler (PB), yang dikenal sebagai kusta tipe kering, dan kusta multibasiler (MB), atau kusta tipe basah. Kecacatan yang dialami penderita sering menimbulkan persepsi negatif di masyarakat, baik pada penderita yang baru tertular maupun yang sudah sembuh (Anwar & Syahrul, 2. Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah psikososial penderita kusta adalah melalui psikoedukasi. Edukasi ini memberikan informasi dan motivasi kepada penderita dan keluarganya untuk membantu mengembangkan pola pikir positif dan strategi penanganan yang efektif. Peningkatan pengetahuan keluarga melalui psikoedukasi berperan penting dalam mengurangi stigma negatif terhadap kusta (Blasius Gadur, 2. Edukasi kesehatan, yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit ini, juga dapat membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan mengurangi stigma terhadap penderita kusta (Mujib et al. , 2. Secara keseluruhan, kusta membawa dampak fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi. Psikoedukasi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dengan memberikan strategi terapeutik yang efektif untuk menghadapi dampak dari penyakit tersebut (Nadia Alfiyatus Sholihah Fadli, 2. Metode Desain penelitian menggunakan penelitian kuantitatif pra eksperimen (One-Groups Pre-Pos. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 37 penderita kusta. Tekhnik sampling yang digunakan untuk penelitian ini yaitu menggunakan teknik Simple random sampling. Waktu penelitian ini dan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2024. Penelitian ini Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. dilakukan dipuskesmas Karang Penang dan Puskesmas Omben. Penelitian ini menggunakan kuesioner masalah psikososial dimana penderita kusta mengisi lembar berupa pertanyaan, sehingga peneliti memperoleh data tentang masalah psikososial sebelum dan setelah pemberian tindakan psikoedukasi. Dari hasil uji statistik uji Wilcoxon Test di peroleh nilai P value 0,034< =0,05. Maka dapat disimpulkan ada pengaruh Psikoedukasi Terhadap Masalah Psikososial Pada Penderita Kusta Dengan Kecacatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang Dan Puskesmas Omben. Hasil dan Pembahasan Data Umum Tabel 1. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Kecacatan Penderita Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang Dan Puskesmas OmbenPada Tanggal 6 Mei-15 Juni 2024 Tingkat Kecacatan Tingkat 0 Tingkat 1 Jumlah Frekuensi Presentase Berdasarkan tabel diatas tingkat kecacatan penderita kusta di wilayah kerja Puskesmas Karang Penang Dan Puskesmas Omben sebagian besar tingkat 1 sebanyak 28 penderita . 7%), dan sangat sedikit memiliki tingkat kecacatan 0 sebanyak 9 penderita . 3%). Masalah Psikososial Penderita Kusta Sebelum Diberikan Psikoedukasi di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang dan Puskesmas Omben Hasil penelitian menunjukkan sebelum diberikan tindakan psikoedukasi penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang dan Puskesmas Omben didapatkan masalah psikososial berat sebanyak 25 penderita kusta dengan Pendidikan perlakuan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan menurunkan stigma negative (Marlina et al, 2. Responden yang memiliki penyakit kusta mengalami suatu penurunan percaya diri dan malu untuk berinteraksi dengan orang lain selain itu penderita kusta mengalami respon negative (Jatimi. Yusuf, et al. Penderita kusta setelah diagnosis menunjukkan perilaku kecemasan seperti merasa takut, tidak menerima penyakitnya, mengalami perubahan fisik dan menyakini dirinya bahwa penyakitnya akan bertambah (Hannan et al, 2. Penderita kusta mengalami perubahan konsep diri yang kurang baik sehingga pasien kusta merasa malu karena kondisinya dan stigma dari masyarakat (Jatimi. Nenobais, et al, 2. Stigma masyarakat merupakan masalah yang sering dialami oleh penderita kusta tentang masalah kusta dan diskriminasi serta stigmatisasinya terhadap individu dengan diagnosis kusta (Jatimi, & Hidayat, 2. mereka dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani atau bahkan dihindari dalam artian tidak diberikan kesempatan untuk berapresiasi yang positif dalam hidup mereka (Herlinawati et al, 2. Faktor-faktor yang melatarbelakangi persepsi penderita kusta terhadap penyakitnya berpersepsi bahwa sikap membatasi diri dalam pergaulan (Jatimi. Holisun & Ahmadi, 2. , menutupi kekurangannya atau kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi atau mengatasi cap buruk perilaku negatif yang di timbulkan dari persepsi masyarakat (Jatimi & Hidayat, 2. pada penderita kusta yaitu tidak mau berobat karena malu, mengucilkan diri dan putus asa (Haris hidayat, 2. Berdasarkan hasil penelitian sebelum diberikan psikedukasi penderita kusta mengalami masalah psikososial berupa cemas dan malu untuk berinteraksi dengan orang lain dikarenakan penyakit yang di derita ialah penyakit yang menjijikkan dan Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. menular sehingga masyarakat sekitar merasa enggan untuk berinteraksi dengan penderita kusta. Dan penderita kusta sendiri kurang dukungan dari pihak keluarga untuk menjahui dari perasaan cemas, khawatir dan bahkan tidak dapat menghilangkan pikiran atau perasaan yang negative seperti halnya bersifat ragu atau merasa rendah diri dan sulit untuk berkonsentrasi. Masalah Psikososial Penderita kusta Setelah Diberikan Psikoedukasi di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang dan Puskemas Omben Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penderita kusta setelah diberikan tindakan psikoedukasi dalam kategori berat sebanyak 21 penderita dengan 8%, dalam kategori sedang sebanyak 10 penderita dengan presentase 0%, dan dalam kategori ringan sebanyak 6 penderita dengan presentase 16. Dukungan keluaga merupakan bantuan yang akan diberikan oleh anggota keluarga kepada penderita kusta sehingga akan memberikan rasa nyaman secara fisik dan psikologis pada individu yang sedang merasa tertekan atau stres akibat masalah kesehatan yang dihadapi (Sidabutar et al, 2. Stres yang dialami oleh penderita kusta dapat dipicu oleh adanyan stigma dari masyarakat berupa labeling dan diskriminasi (Jatimi. Yusuf & Andayani, 2. Penderita kusta yang mendapatkan dukungan keluarga yang baik akan merasakan manfaat yaitu mengurangi stres dan depresi yang dirasakan penderita kusta (Dian Eva Borlyin, 2. Berdasarkan hasil penelitian setelah diberikan psikoedukasi kepada penderita kusta terdapat penurunan masalah psikologis yang dihadapi individu yaitu penurunan masalah psikososial berupa cemas dan gejala maladaptif lain yang Adapun pemberian psikoedukasi tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup baik secara fisik maupun secara psikologis kepada penderita kusta yang mempunyai masalah psikososial. Pengaruh Psikoedukasi Terhadap Masalah Psikososial Pada Pasien Kusta Dengan Kecacatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang Dan Puskesmas Omben Hasil penelitian menunjukkan hasil dari Uji Statistik Data Uji Wilcoxon di dapatkan Hasil . =0,. yang artinya ada pengaruh psikoedukasi terhadap masalah psikososial pada penderita kusta. Hasil penelitian menunjukkan hasil uji wilcoxon antara kejadian pengaruh psikoedukasi dengan masalah psikososial pada penderita kusta di dapatkan hasil nilai p value 0,034< a= 0,05 menunjukkan ada pengaruh psikoedukasi dengan masalah psikososial pada penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Penang Dan Puskesmas Omben. Psikoedukasi merupakan suatu metode esukatif yang bertujuan untuk mengubah pemahaman psikis individu melalui proses pemberian informasi ataupun pelatihan selain itu psikoedukasi bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta coping . trategi terapeuti. yang dapat membantu individu atau kelompok dalam meningkatkan kualitas hidup (Maisyaroh, 2. Berdasarkan uraian di atas psikoedukasi disimpulkan sebagai intervensi psikologis dengan pendekatan edukatif yang bertjuan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan individu ataupun kelompok masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan akibat perubahan proses mental. (Mulia Marita, 2. Dukungan psikososial yang diberikan oleh keluarga sangat sangat berpengaruh terhadap masalah psikologi dan sosial seorang penderita kusta yang biasanya jika tidak adanya dukungan tersebut maka penderita kusta tidak akan dapat menjalani pengobatannya hingga tuntas (Siti Kotijah, 2. Bentuk dukungan psikososial yang diberikan keluarga dapat memberikan motivasi untuk segera sembuh karena merasa diperhatikan oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya (Agus Sudaryanto, 2. Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. Penelitian ini menunjukkan bahwa psikoedukasi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup atau dukungan kepada responden untuk menurunkan masalah psikososial yang di alami penderita kusta. Kesimpulan Kesimpulan hasil penelitian dikemukakan ada pengaruh psikoedukasi terhadap masalah psikososial pada penderita kusta dengan kecacatan di wilayah kerja Puskesmas Karang Penang dan Puskesmas Omben. Daftar Pustaka