P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Desember 2022 Page: 111-123 Linggau Jurnal Language education and literature Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat Lamaran Pekerjaan melalui Model Problem Solving di Siswa Kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 1 Banyuasin II Ema Malini SMA Negeri 1 Banyuasin II. Indonesia Email: emalini76@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan melalui model problem solving. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas dengan siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 1 Banyuasin II Semester 1 Tahun Pelajaran 2021/20202 sebanyak 32 siswa. Teknik dan alat pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes . bservasi dan dokumentas. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan motivasi belajar dari 11 siswa atau 34,38% pada studi awal menjadi 25 siswa atau 78,13% pada siklus pertama dan 31 siswa atau 96,88% pada siklus terakhir. Hal tersebut didukung dengan kenaikan rata-rata hasil belajar studi awal sebesar 64,69, pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 74,38 dan pada siklus II rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 85,31 pada akhir siklus kedua serta didukung dengan peningkatan ketuntasan belajar pada keadaan awal sebanyak 9 siswa . ,13%), setelah dilaksanakan perbaikan dengan penerapan penerapan penerapan metode pemecahan masalah . roblem solvin. pada siklus I meningkat menjadi 15 siswa atau 46,88% dan pada siklus II meningkat kembali menjadi 28 siswa atau 87,50%. Dari perolehan angka-angka di atas dapat disimpulan bahwa pada siklus kedua, proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua. Dari perolehan angka-angka di atas dapat disimpulan bahwa pada siklus kedua, proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua. Kata Kunci : Menulis. Surat lamaran pekerjaan, problem solving ABSTRACT The purpose of this research is to improve the ability to write job application letters through the problem solving model. This study uses Classroom Action Research with a cycle consisting of 4 stages, namely planning, implementing, observing, and reflecting. The research subjects were 32 students of class XII MIPA 1 SMA Negeri 1 Banyuasin II Semester 1 of the 2021/20202 academic Techniques and data collection tools using test and non-test techniques . bservation and The data analysis method in this study uses qualitative data analysis. The results showed an increase in learning motivation from 11 students or 34. 38% in the initial study to 25 students or 78. 13% in the first cycle and 31 students or 96. 88% in the last cycle. This is supported by an increase in the average initial study learning outcomes of 64. 69, in the first cycle the average value obtained by students was 74. 38 and in the second cycle the average value obtained by students was 85. 31 at the end of the second cycle and supported by an increase in learning completeness in the initial state of 9 students . 13%), after the improvement was carried out by applying the application of problem solving methods in cycle I it increased to 15 students or 88% and in cycle II it increased back to 28 students or 87. From the acquisition of the figures above, it can be concluded that in the second cycle, the process of implementing learning improvements was declared successful and completed in the second cycle. From the acquisition of the figures above, it can be concluded that in the second cycle, the process of implementing learning improvements was declared successful and completed in the second cycle. Keywords: Writing, job application letter, problem solving PENDAHULUAN Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru yang diberlakukan di Indonesia mulai tahun ajaran 2013/2014 (Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliya. Kurikulum 2013 ini adalah kurikulum yang menggantikan kurikulum 2006 yang sering disebut dengan (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika. Kurikulum 2013 adalah suatu perangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran sebagai panutan dalam belajar mengajar untuk dikembangkan berdasarkan kebutuhan sekarang dan untuk masa yang akan datang. Berlakunya suatu kurikulum di Indonesia di atur berdasarkan peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan beserta Undang-Undang Nomor 60 tahun 2014. Dalam penerapan kurikulum 2013 Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran kurikulum 2013 ini yaitu Pendekatan Scientific / Pendekatan Ilmiah. Penerapan Pendekatan Scientific sebagai cara untuk mengatasi kebosanan, kejenuhan, dan untuk meningkatkan kemampuan belajar peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Karena dalam pendekatan scientific ada lima proses yang harus dilaksanakan pada saat proses pembelajaran yaitu: mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Penilaian kompetensi peserta didik pada kurikulum 2013 mencangkup tiga standar kompetensi lulusan (SKL), yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan (Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menenga. Salah satu tujuan dari penilaian adalah untuk mengetahui apakah kemampuan peserta didik meningkat agar tercapai kompetensi yang diharapkan . Ketiga kompetensi tersebut sama dengan kompetensi pada kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sering disebut dengan kurikulum 2006. Perbedaannya yaitu hanya terletak pada adanya penilaian sikap spritual, kompetensi inti (KI), dan pengelompokkan kompetensi dasar (KD). Menurut Tarigan . keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu menyimak . istening skil. Berbicara . peking skil. Membaca . eading skil. dan Menulis . riting skil. Penguasaan keempat aspek ini merupakan keterampilan dasar. Untuk menunjang keberhasilan tujuan umum pembelajaran bahasa Indonesia, maka siswa terampil dalam berbahasa yang mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan apresiasi sastra. Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut, aspek keterampilan menulis merupakan aspek yang paling tinggi dan paling kompleks tingkatannya. Aspek keterampilan menulis jauh lebih sukar dan jauh lebih rumit dibandingkan aspek kebahasaan yang lainnya, seperti keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, dan keterampilan membaca. Menulis merupakan salah satu dari pokok bahasan bahasa Indonesia yang bertujuan memberikan bekal keterampilan dan kemampuan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide atau pesan. Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulis menulis juga dapat diartikan sebagai cara berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis Keterampilan menulis dianggap sebagai keterampilan yang sulit dan rumit tetapi keterampilan menulis itu sangatlah penting untuk dipelajari dan dilakukan terus menerus. Keterampilan menulis harus didukung juga oleh keterampilan lainnya terutama keterampilan membaca, karena membaca dan menulis saling berkaitan. Menurut maksud dan menurut tujuannya surat dibagi menjadi empat macam surat yaitu: surat permohonan atau permintaan, surat keputusan, surat kuasa, dan surat lamaran. Berdasarkan empat macam surat di atas, pelajaran menulis surat lamaran Indonesia pembelajarannya tidak difokuskan secara sungguh-sungguh, maka peneliti mengambil satu bentuk surat yang dijadikan penelitian yaitu surat lamaran pekerjaan karena dalam menulis surat lamaran pekerjaan siswa masih sangat sulit dalam menggunakan isi gagasan, pilihan kata, kalimat, paragraf, dan ejaan. Materi menulis surat lamaran pekerjaan ini diberikan pada siswa, untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan berbagai upaya perbaikan, khususnya dalam proses pembelajaran diperlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pemilihan metode yang tepat. Dalam upaya meningkatkan hasil menulis surat lamaran pekerjaan siswa kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 1 Banyuasin II. Peneliti perlu melakukan inovasi kreatif, yaitu dengan cara menyenangkan bagi siswa, sehingga menimbulkan proses pembelajaran yang aktif. Berdasarkan hasil obervasi awal terdapat permasalahan pada pembelajaran Bahasa Indonesia, salah satunya di kelas XII MIPA 1 terutama dalam meningkatkan kemampuan belajar peserta didik di kelas. Suasana di kelas terkesan kaku dan peserta didik cenderung diam dan tidak memperhatikan guru menerangkan didepan kelas. Menurut keterangan beberapa peserta didik, kemampuan belajar mereka di kelas kurang dikerenakan mereka menganggap pembelajaran Bahasa Indonesia adalah pembelajaran yang paling membosankan, karena guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah, murid jadi mengantuk dan mereka berasumsi dengan metode ceramah pembelajaran menjadi kaku, dan peserta didik kurang memperhatikan. Dari 32 siswa di kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 1 Banyuasin II hanya 9 siswa ,13%) saja yang mencapai tingkat penguasaan materi 85% ke atas atau yang mendapatkan nilai minimal sama dengan KKM sebesar 76, sedangkan 23 siswa . ,88%) dinyatakan belum tuntas karena memperoleh nilai di bawah KKM, dengan perolehan rata-rata hasil belajar secara klasikal sebesar 64,69. Untuk itu guru perlu menggunakan beragam metode yang menyediakan beragam pengalaman belajar melalui contoh dan bukti yang kontekstual. Untuk menciptakan kegembiraan dalam proses pembelajaran, mengurangi keabstrakan dan meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis maka harus diterapkan metode mengajar yang baik. Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep jika dalam belajar siswa dapat menggunakan sebanyak mungkin indera dan berinteraksi dengan isi pembelajaran. Apalagi pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang sarat materi sehingga siswa dituntut memiliki pemahaman yang holistik terhadap materi yang disampaikan guru. Metode Pembelajaran Problem Solving merupakan salah satu pendekatan pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis terhadap berbagai persoalan karena Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan Dengan kata lain kemampuan memecahkan masalah merupakan tujuan utama Menindaklanjuti pembelajaran yang belum maksimal/belum dapat meningkatkan hasil belajar membuat peneliti membuat rencana tindakan kelas yang akan ditujukan untuk memperbaiki pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas yang Problem Solving pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Melalui pengamatan selama pembelajaran diketahui faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa yaitu kurang tepatnya metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru karena pada pembelajaran sebelumnya siswa bersikap pasif dan menunjukkan Salah satu alternatif metode pembelajaran yang Bahasa Indonesia pendekatan pemecahan masalah (Problem Solvin. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik mengadakan penelitian terhadap penerapan metode Problem Solving untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Maka Penelitian ini berjudul AuPenerapan Metode Problem Solving untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Surat Lamaran Pekerjaan Siswa Kelas XII MIPA 2 SMA Negeri 1 Banyuasin II Semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022Ay. METODE Pada penelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan desain penelitian model Kemmis & Mc. Taggart. Kusumah dan Dwitagama . 0: . menyatakan bahwa model penelitian Kemmis & Mc. Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang pernah diperkenalkan oleh Kurt Lewin, hanya saja komponen tindakan . dan pengamatan . dijadikan satu kesatuan karena merupakan tindakan yang tidak terpisah. Maksudnya, kedua kegiatan harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Tujuan menggunakan desain penelitian model ini adalah apabila dalam pelaksanaan tindakan ditemukan adanya kekurangan, maka perencanaan dan pelaksanaan tindakan perbaikan masih dapat dilanjutkan pada siklus berikutnya sampai target yang diinginkan Skema penelitian tindakan kelas yang dikemukakan oleh Kemmis & Mc Taggart (Kusumah dan Dwitagama, 2010:. dapat lihat pada gambar 3. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas sistem spiral dengan model Hopkins seperti pada gambar 3. Gambar 3. 1 Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas Adapun penjelasan per kegiatan dalam setiap siklusnya sebagaimana dijelaskan di bawah ini. Perencanaan: Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan itu dilakukan. Pelaksanaan: Penelitian tindakan sekolah adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenai tindakan sekolah. Pengamatan: Kegiatan pengamatan dilaukan oleh pengamat sambil melakukan pengamatan, peneliti mencatat smbil melakukan sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya. Refleksi: Refleksi merupakan kegiatan ini untuk mengemukakan kembali apa yang sudah Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksanaan sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berharap dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada studi awal dimana peneliti menggunakan metode pembelajaran klasikal, ternyata hasil ketuntasan belajar sangat mengecewakan, yaitu 9 siswa atau sebesar 28,13% yang tuntas belajar dari 32 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran. Upaya perbaikan yang dilakukan adalah menggunakan metode Problem Solving akan sangat membantu dalam membangkitkan motivasi belajar siswa, ini terbukti dari hasil belajar yang diberikan pada setiap siklusnya mengalami peningkatan di mana pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa studi awal sebesar 64,69, pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 74,38 dan pada siklus II ratarata nilai yang diperoleh siswa adalah 85,31. Rekapitulasi nilai hasil Tes formatif siswa dari kondisi awal, siklus I sampai dengan siklus II dapat dilihat dari tabel di bawah ini. Tabel 4. Nilai Hasil Tes Formatif Temuan Awal. Siklus I dan Siklus II Tuntas Belum Tuntas Kegiatan Nilai Jml Jml Pra Siklus 64,69 28,13 71,88 Siklus I 74,38 46,88 53,13 Siklus II 85,31 87,50 12,50 Sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dalam perbaikan pembelajaran bahwa siswa yang dinyatakan tuntas belajar jika mendapat nilai tes formatif sebesar 76 ke atas dan jika 85% dari siswa telah tuntas belajarnya. Untuk memperjelas kenaikan ketuntasan belajar siswa dan penurunan ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini : 71,88 53,13 46,88 28,13 T untas Pra Siklus Blm T untas Siklus I Siklus II Gambar 4. 1 Grafik Peningkatan dan Penurunan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan II Penjelasan mengenai peningkatan nilai rata-rata hasil belajar pada menggunakan penerapan metode Problem Solving menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan di mana pada studi awal 64,69, pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 74,38 dan pada siklus II rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 85,31. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa dalam bentuk grafik sebagaimana gambar di bawah ini : 74,38 64,69 Pra Siklus Siklus I 85,31 Siklus II Nilai Gambar 4. 2 Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Belajar Siswa Pada Siklus I dan II Data motivasi siswa diperoleh dari lembar observasi yang telah diisi oleh observer selama perbaikan pembelajaran berlangsung. Fokus observasi difokuskan pada aspekaspek perhatian siswa terhadap penjelasan guru, kerjasamanya dalam kelompok, kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok, memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok, mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat, memberi gagasan yang cemerlang, membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang, keputusan berdasarkan pertimbangan anggota yang lain, memanfaatkan potensi anggota kelompok, saling membantu dan menyelesaikan Hasil observasi pada pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran menunjukkan hasil yang positif, dan dibuktikan dengan adanya peningkatan motivasi siswa pada setiap siklusnya. Secara rinci penjelasan mengenai peningkatan motivasi siswa dalam proses perbaikan pembelajaran sebagaimana tabel di bawah ini : Tabel 4. 8 Rekapitulasi Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa pada Temuan Awal. Siklus I dan Siklus II Uraian Awal Siklus I Siklus II Jumlah Siswa Siswa Tuntas Frekuensi 34,38 78,13 96,88 Siswa Belum Tuntas Frekuensi 65,63 21,88 3,13 Secara jelas peningkatan motivasi siswa selama proses perbaikan pembelajaran sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini : 96,88 78,13 65,63 34,38 21,88 3,13 Awal Siklus I T untas Blm T untas Siklus II Gambar 4. 3 Grafik Ketuntasan Siswa Berdasarkan Tingkat Motivasi Siswa Pada Siklus I dan II Dari hasil observasi mengenai motivasi siswa tersebut berdasarkan kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil karena peningkatan motivasi siswa mencapai angka 96,88% dari 85% batasan minimal yang telah ditentukan pada kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. Atas dasar pertimbangan sebagaimana diurakan di atas, maka peneliti dan observer sepakat memutuskan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran diakhiri pada siklus II. Pembahasan Dari hasil pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan problem solving pada siklus I dan II, peneliti menemukan beberapa temuan penelitian yang akan dibahas sebagai berikut. Hasil belajar yang diperoleh pada siklus I rata-rata hasil belajar yang di dapat dalam kelas adalah 74,38 dari kondisi awal sebesar 64,69. Angka tersebut masih tergolong kurang baik karena belum mencapai target yang telah ditetapkan yakni Ou 76. Selain itu, hanya terdapat 15 siswa . ,88%) yang mencapai nilai yang telah ditetapkan tersebut, selebihnya yakni 17 siswa . ,13%) masih berada di bawah rata-rata. Adapun penjelasan mengenai peningkatan motivasi belajar menunjukkan 25 siswa . ,13%) dinyatakan meningkat motivasi belajarnya sementara 7 siswa . ,88%) dinyatakan belum meningkat dari kondisi awal sebanyak 11 siswa atau 34,38% dinyatakan tuntas dan 21 siswa atau 65,63% dinyatakan belum tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian belum berhasil dan harus dilanjutkan ke siklus berikutnya yakni siklus II. Dari hasil diskusi dengan observer disimpulkan bahwa kegiatan dalam pembelajaran yang mengarah pada problem solving sudah nampak atau sesuai. Peneliti perlu mengemas masalah secara baik sesuai dengan pokok Pada kegiatan diskusi kelompok masih ada beberapa siswa yang kurang aktif, hal ini harus lebih diperhatikan lagi. Adapun kendala lainnya adalah telah ditentukan, peneliti harus memotivasi siswa agar lebih aktif dalam kegiatan kelompok untuk memecahkan Jadi kesimpulannya dalam siklus kedua nanti peneliti . memperhatikan hal-hal sebagai berikut untuk perbaikan dalam pembelajaran . untuk kegiatan dalam pemecahan masalah . roblem solvin. , guru hendaknya mengemas masalah/peristiwa yang berkaitan dengan tema secara baik, . lebih mengefektifkan waktu, terutama kegiatan siswa dalam mencari informasi, data untuk pemecahan masalah, . penggunaan media yang harus di maksimalkan, . Memotivasi siswa yang kurang antusias dalam siklus pertama terutama dalam kegiatan secara berkelompok untuk memecahkan masalah. Dari siklus I tersebut guru beserta observer menganalisis dan berdiskusi untuk merencanakan tindakan yang dapat memperbaiki siklus I tersebut melalui proses pembelajaran pada siklus II. Adapun perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh guru adalah lebih memahami dan memberikan perhatian lebih kepada siswa yang terlihat kurang aktif selama pembelajaran, lebih meningkatkan langkah-langkah pembelajaran problem solving kepada siswa. Lebih banyak memberikan pertanyaan yang sifatnya memancing keaktifan siswa untuk dapat berpikir lebih keras dalam menyelesaikan masalah yang dalam hal ini adalah soal yang diberikan oleh guru. Guru lebih sering lebih berkeliling untuk mengecek ataupun mamastikan bahwa materi yang telah disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Selain itu, guru pun memberikan tugas kelompok kepada siswa agar lebih aktif di kelas dan terjadi transfer ilmu dari siswa yang sudah faham kepada siswa yang masih belum memahami materi yang Pemberian reward untuk siswa yang turut berpartisipasi aktif pun cukup meningkatkan semangat belajar siswa di kelas. Dari siklus II ini di dapatkan hasil rata-rata hasil belajar yakni 85,31 dan siswa yang mencapai KKM sudah lebih dari 85% yakni 87,50%. Hanya sekitar 12,50% siswa atau 4 siswa yang dinyatakan belum tuntas. Hal ini di dukung oleh tingkat motivasi belajar yang meningkat pada siklus II mencapai angka 96,88% atau 31 siswa dari 32 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran. Maka dari itu peneliti memutuskan untuk mencukupkan penelitian hanya pada siklus II. Alasan mengapa pembelajaran siklus II mengalami peningkatan yang cukup siginifikan adalah karena siswa memang sudah terbiasa dengan pembelajaran problem solving dan faham dengan tahap-tahap penyelesaiannya, siswa sudah terbiasa berinteraksi dengan peneliti yang dalam hal ini sebagai guru di kelas tersebut, dan siswa lebih banyak mengerjakan latihan-latihan soal yang diberikan dengan tahapan pemecahan masalah. Selain itu, peneliti berusaha agar pembelajaran yang diterapkan benar-benar dapat diterima oleh siswa yaitu dengan lebih berkomunikasi kepada siswa, mencari tahu apa saja kesulitan yang dihadapi siswa, memberikan latihan terbimbing kepada siswa yang mengalami kesulitan tersebut dan berusaha menciptakan suasana kelas yang nyaman agar siswa tetap senang dengan pembelajaran Bahasa Indonesia walaupun materi yang dipelajari cukup sulit. Dengan metode problem solving dapat meningkatkan rasa percaya diri dan cara berpikir siswa selain itu metode problem solving terbukti dapat meningkatkan hasil belajar dan mengembangkan ketrampilan siswa dalam bekerjasama, berinteraksi dari latar belakang cara berpikir yang berbeda untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dikerjakan secara bersama sehingga dapat membangun motivasi belajar pada siswa dan pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Dari penelitian yang telah dilakukan ini, hasil belajar siswa. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan temuan-temuan yang didapatkan peneliti selama proses perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa : Penggunaan metode Problem Solving dapat meningkatkan proses pembelajaran Bahasa Indonesia materi surat lamaran pekerjaan pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Banyuasin II Semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022. Peningkatan proses pembelajaran tersebut terlihat dengan adanya perubahan ke arah perbaikan dan meningkatnya tindak belajar, meliputi peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. Penggunaan metode problem solving pembelajaran Bahasa Indonesia materi surat lamaran pekerjaan dapat meningkatkan motivasi siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan motivasi belajar dari 11 siswa atau 34,38% pada studi awal menjadi 25 siswa atau 78,13% pada siklus pertama dan 31 siswa atau 96,88% pada siklus terakhir. Penggunaan metode problem solving pembelajaran Bahasa Indonesia materi surat lamaran pekerjaan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal tersebut dibuktikan oleh kenaikan rata-rata hasil belajar studi awal sebesar 64,69, pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 74,38 dan pada siklus II rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 85,31 pada akhir siklus kedua serta didukung dengan peningkatan ketuntasan belajar pada keadaan awal sebanyak 9 siswa . ,13%), setelah dilaksanakan perbaikan dengan penerapan penerapan penerapan metode pemecahan masalah . roblem solvin. pada siklus I meningkat menjadi 15 siswa atau 46,88% dan pada siklus II meningkat kembali menjadi 28 siswa atau 87,50%. Dari perolehan angkaangka di atas dapat disimpulan bahwa pada siklus kedua, proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Ahmad. Susanto. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Akhmad Sudrajat. Pengertian Pendekatan. Strategi. Metode. Teknik dan. Model Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi. Revisi VII. Jakarta: PT. Rineka Cipta Asmani, 2011. Tuntunan Lengkap Metodologi Praktis Penelitian Pendidikan : Jakarta. Diva Press. David B. Johnson. David A. Maltz, dan Josh Broch. DSR: The Dynamic Source Routing Protocol for Multi-Hop Wireless Ad Hoc Networks. in Ad Hoc Networking, edited by Charles E. Perkins. Chapter 5, pp. AddisonWesley. Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Eka MR. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Erman Suherman, dkk. Strategi Pembelajaran Kontemporer. Bandung: UPI. Hamalik. Oemar. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hendra Surya. Kiat Mengatasi Kesulitan Belajar. Jakarta: Elex Media Komputindo. Heryanto, 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Kusumah. Wijaya dan Dedi Dwitagama. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Edisi : 2. Jakarta : PT Indeks. Kunandar. Guru Profesional. Jakarta: Rajawali Press. Subana. Dasar-dasar penelitian ilmiah. Jakarta. Pustaka setia