EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 30-33 JURNAL SOSIAL HUMANIORA DAN PENDIDIKAN Halaman Jurnal: http://journal. id/index. php/Education Halaman Utama : http://journal. id/index. ANALISIS CERPEN PURNAMA DIATAS PURA KARYA WAYAN SUNARTA DENGAN PENDEKATAN PRAGMATIK Dewi Puspitasari a. Padli mutakinb. Rhezza Pratama Tariganc Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, puspitasaridewi461@gmail. Ikip Siliwangi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, fadlimutaqin254@gmail. Ikip Siliwangi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, rhezzatarigan11@gmail. Ikip Siliwangi ABSTRACT Short story or short story is a type of literary work that is described in the form of writing in the form of a story or story in a short, clear and concise manner. In addition, short stories can also be called a prose fiction whose content is about a story that only focuses on one conflict or problem. The pragmatic approach is an approach that views literary works as a means of conveying certain goals to readers. The pragmatic approach is also an approach that views literary works as something that is created or created to achieve or convey certain effects on connoisseurs of literary works, either in the form of fun, aesthetic effects or effects of moral, religious or educational teaching and other effects. This approach tends to judge literary works based on the success or failure of achieving these goals for the reader. Keywords: pragmatic approach, full short story above the temple Cerpen atau cerita pendek merupakan jenis karya sastra yang dijelaskan dalam bentuk tulisan yang berwujud sebuah cerita atau kisah secara pendek, jelas, serta ringkas. Selain itu cerpen juga dapat disebut dengan sebuah prosa fiksi yang isinya mengenai pengisahan yang hanya terfokus pada satu konflik atau Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Pendekatan pragmatik juga adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sesuatu hal yang dibuat atau diciptakan untuk mencapai atau menyampaikan efek-efek tertentu pada penikmat karya sastra, baik berupa efek kesenangan, estetika atau efek pengajaran moral, agama atau pendidikan dan efek-efek lainnya. Pendekatan ini cenderung menilai karya sastra berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut bagi pembacanya. Kata kunci: pendekatan pragmatik, cerpen purnama di atas pura PENDAHULUAN Karya sastra telah banyak dipelajari dalam dunia pendidikan dan bahkan telah melekat untuk memenuhi kebutuhan manusia sesuai dengan kehidupan masing-masing. Karya merupakan sesuatu hasil khayalan ataupun pemikiran seseorang yang dapat dipresentasikan. Sedangkan Sastra merupakan sebuah seni yang indah. Maka dari itu karya sastra dapat diartikan dengan suatu khayalan manusia yang kreatif dan dapat menghasilakan suatu wujud keindahan. Keindahan itu dapat diperoleh manusia dengan cara berpikir luas tanpa ada batasan dan dapat berkarya secara bebas sesuai dengan khayalan manusia itu sendiri. Menurut Danamo dalam (Sitinjak, 2. , karya sastra ada untuk dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan dan mampu memberikan EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 30-33 pengaruh besar kepada kehidupan masyarakat. Karya sastra juga dapat diartikan sebuah karangan dalam bentuk kata yang di dalam karangan tersebut terdapat nilai-nilai yang sangat berguna bagi pembaca. Cerpen atau cerita pendek merupakan jenis karya sastra yang dijelaskan dalam bentuk tulisan yang berwujud sebuah cerita atau kisah secara pendek, jelas, serta ringkas. Selain itu cerpen juga dapat disebut dengan sebuah prosa fiksi yang isinya mengenai pengisahan yang hanya terfokus pada satu konflik atau Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek. Saat membaca cerpen biasanya sangat cepat selesai. Selain itu, isi pada cerpen juga sangat mudah dipahami karena ceritanya yang relatif pendek. Oleh karena itu banyak orang yang suka dengan cerita yang singkat dan tidak rumit seperti pada cerpen. Pada umumnya, permasalahan yang dikisahkan pada cerpen tidak terlalu rumit. Maka dari itu jumlah kata pada cerpen juga dibatasi. Biasanya cerpen terdiri dari berbagai kisah seperti genre percintaan, kasih sayang, jenaka, dan lain-lain. Pada cerpen juga mengandung pesan dan amanat untuk para pembaca, sehingga bukan hanya terhibur saja kita bisa menerapkan setiap pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Pendekatan pragmatik juga adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sesuatu hal yang dibuat atau diciptakan untuk mencapai atau menyampaikan efek-efek tertentu pada penikmat karya sastra, baik berupa efek kesenangan, estetika atau efek pengajaran moral, agama atau pendidikan dan efek-efek lainnya. Pendekatan ini cenderung menilai karya sastra berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut bagi pembacanya. METODOLOGI PENELITIAN Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah penelitian kepustakaan . ibrary Researc. yaitu dengan cara mengadakan studi lewat bahan bacaan yang relevan serta mendukung penelitian ini. Bahan bacaan yang dimaksud adalah cerpen. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode desktiptif Deskriptif yaitu penggambaran atau penyajian data berdasarkan kenyataan-kenyataan secara objektif sesuai dengan objek penelitian, dengan cara menelaah secara seksama cerpen yang diteliti. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data tertulis berupa cerpen "Purnama di atas Pura". Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca catat. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bagaimana menganalis suatu karya sastra yaitu cerpen "Purnama di atas Pura" dengan mengunakan pendekatan pragmtik. HASIL DAN PEMBAHASAN Cerpen yang berjudul "Purnama Di Atas Pura" memiliki tema rasa rindu, karena dalam cerita tersebut menceritakan kerinduan seorang anak terhadap ayahnya yang telah lama pergi. Anak itu selalu bertanya pada ibunya, "Dimanakah ayahku ibu??". Tetapi ibunya malah selalu menjawab bahwa ayahnya sedang ke bulan untuk program kerja. Itulah yang menyebabkan anak tersebut setiap malam pergi ke pelaba pura untuk menyaksikan bulan purnama yang cahayanya terlihat sangat indah dan berharap dapat bertemu ayahnya. Disetiap menyaksikan bulan purnama ia selalu bertemu dengan bidadari kecil yang menemaninya. Cerpen ini mempunyai latar tempat yaitu di palaba pura (Tanah milik pura yang biasanya berlokasi tidak jauh dari area pur. dan dirumah anak itu sendiri. Sedangkan latar waktu menceritakan pada malam hari . aat menyaksikan bulan purnam. Tak hanya mempunyai latar tempat dan latar waktu, namun cerita ini juga mempunyai latar suasana yaitu sedih, kaget dan marah. Serta cerita diatas mempunyai sudut pandang pertama, karena dibuktikan dengan menggunakan kata "aku". Alur cerpen diatas adalah campuran, karena cerita tersebut terdapat alur maju dan alur mundur. Amanat dari cerpen diatas adalah Jika ada seseorang yang berbuat tidak baik pada kita, jangan malah kita bales dengan perbuatan tidak baik pula. Melainkan balaslah dengan kebaikan dan jangan ada dendam pada diri kita masing -- masing. Tokoh dari cerita pendek diatas adalah ibu, ibu mempunyai watak yang baik dan sabar karena dapat dibuktikan ketika sang anak memarahi sang ibu, ibu tetap sabar dan tidak membalas membentaknya. Anak, ia adalah seorang anak kecil yang baik, polos dan tegas. Ayah tiri, ayah tiri nya memiliki watak yang baik Kakak tiri, anak kandung dari ayah tirinya ini juga memiliki watak yang baik seperti ayahnya. Bidadari kecil . majinasi dari sang anak ketika berada dipura, ketika melihat purnam. , bidadari tersebut memiliki watak yang baik dan tidak sombong, dibuktikan ketika sang anak menceritakan keluh kesahnya kepada bidadari kecil dan bidadari kecil selalu memberikan saran yang baik kepada sang anak. EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 30-33 Lokusi. Ilokusi, dan Perlokusi Lokusi atau lengkapnya tindak sosial adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Lokusi semata-mata merupakan tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu dalam kamus dan makna kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya ( Gunarwan 1994:. "Sstt. jangan berisik! Nanti aku ketahuan ngumpet di sini!" . "Tak usah cemas, mereka tidak akan tahu kamu ngumpet di situ. Ayo, ikut main ayunan bersamaku," Tindak Lukosioner (Tindak preposis. yang merujuk dan memprediksi. "Naah! Kena kau!" . "Mau apa kau ke sini?" . "Ayahmu sudah mati!" Tindak Lukosioner . indak uja. yang merujuk pada ujaran kata-kata. "Apa? Bidadari?! Sejak kapan kau punya teman bidadari? Kau sudah gila, ya?!" ujar ibunya kesal. "Sekarang kau mandi dan pergi sekolah. Dan, jangan ulangi lagi pertanyaan bodohmu itu! Ibu sudah capek, mengerti kau?!" Asertif (Assertive. , yakni bentuk tuturan yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan, menyarankan, menbual, mengeluh dan mengklaim. "Bu, maafkan saya. Saya telah banyak mengecewakanmu. Saya ke sini mencari Ayah. Apa Ayah sudah pulang dari bulan. Bu?" Dengan perasaan campur-aduk, aku mencoba menggoda dan menyindir Ibu. Ekspresif (Expressive. adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, berbelasungkawa. "Kata Ibu. Ayah tidak tinggi, tapi tidak juga pendek. Ayah selalu berpakaian rapi, rambutnya juga suka disisir ke belakang dengan minyak yang tebal. Ibu bilang. Ayah punya banyak kawan yang sering main ke Dan Ibu suka jengkel, sebab harus buat kopi banyak untuk kawan-kawan Ayah," tutur bocah itu dengan mata tidak lepas dari purnama. "Ayahmu masih sibuk di bulan! Tidak boleh diganggu!" kata ibunya agak ketus. Si anak tidak puas dengan jawaban ibunya yang itu-itu saja. Ia mulai berani membantah. "Tapi, temanku si bidadari bilang, tidak ada siapa-siapa di bulan!" . "Ibumu memang menyuruhku menemuimu untuk membuka rahasia yang bertahun-tahun kami simpan dengan penuh luka. Memang, aku berkawan akrab dengan ayahmu. Kami satu regu saat gerilya melawan Nica dulu. Kami sama-sama mengagumi Bung Karno. Ayahmu orang yang cerdas dan berpikiran luas, terlebih lagi ia sangat menyukai kesenian," lelaki tua itu terdiam sejenak seperti berusaha mengumpulkan Kemudian. "Saat itu, ayahmu jadi ketua kelompok janger di desa ini. Kami biasa kumpul-kumpul di rumahmu membicarakan pementasan yang akan digelar. Dan pada malam naas itu kami dikepung, dan ayahmu ," tutur lelaki tua itu dengan nada diliputi kesedihan yang dalam. Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang Jenis tindak tutur ini kadang-kadang disebut juga tindak tutur asertif. Termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan menyebutkan, memberikan, kesaksian, berspekulasi dsb. KESIMPULAN Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang Jenis tindak tutur ini kadang-kadang disebut juga tindak tutur asertif. Termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan menyebutkan, memberikan, kesaksian, berspekulasi dsb. DAFTAR PUSTAKA