Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Jurnal Perikanan Kamasan, 6 . , 2025, 62-77 https://doi. org/10. 58950/jpk. Available online at: https://jurnalperikanankamasan. com/index. php/jpk/index Komunitas Terumbu Karang dan Ikan di Pesisir Perairan Biak Barat. Biak. Papua Coral Reef Community and Reef Fish in Coastal Waters in West Biak. Biak. Papua Andriani Widyastuti1. Jonas Lorwens2. Latanda3. Ludi Parwadani Aji4 1Akademi Perikanan Kamasan Biak. Papua. Indonesia 2,3Unit Pelaksana Teknis Loka Konservasi Biota Laut Biak-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 4Pusat Riset Ekologi Ae Badan Riset dan Inovasi Nasional Email: andriwidyas20@gmail. ABSTRAK INFO ARTIKEL Wilayah pesisir Biak Barat di Papua memiliki potensi ekosistem terumbu karang yang besar namun belum banyak dikaji dibandingkan wilayah Biak Timur dan Kepulauan Padaido. Pemahaman terhadap kondisi ekologi terumbu karang dan ikan karang di kawasan ini penting sebagai dasar pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menilai kondisi komunitas terumbu karang dan ikan karang di pesisir Biak Barat serta memberikan gambaran status ekosistem sebagai dasar kebijakan konservasi. Penelitian dilakukan pada 27 Februari Ae 8 Maret 2017 di sembilan lokasi, menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) di lima lokasi dan Rapid Reef Assessment (RRA) di empat lokasi, sedangkan inventarisasi ikan dilakukan melalui Underwater Visual Census (UVC). Hasil menunjukkan bahwa tutupan karang hidup berdasarkan LIT berkisar 24,33Ae62,83% dengan rata-rata 46,20% . ategori sedan. , sedangkan hasil RRA menunjukkan kisaran 2Ae18% dengan rata-rata 7% . ategori buru. Sebanyak 104 jenis ikan karang dari 19 famili ditemukan, dengan dominasi Pomacentridae . Labridae . Chaetodontidae . Hasil ini menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang Biak Barat masih memiliki keanekaragaman ikan yang tinggi meskipun beberapa area mengalami degradasi. Secara keseluruhan, kondisi ekosistem pemantauan berkala, perlindungan area rentan, dan pengelolaan berbasis masyarakat guna menjaga fungsi Paper Type: Research Paper Copyright A 2025. Authors Article History: Received 20/07/2025 Revised 19/08/2025 Accepted 5/09/2025 Published 30/09/2025 Kata Kunci: A Biak A Tutupan karang A Ikan Karang A Line Intercept Transect A Rapid Reef Assessment Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 ABSTRACT Coastal area of West Biak. Papua, possesses significant potential for coral reef ecosystems, but has received relatively little scientific attention compared to East Biak and Padaido Islands. Understanding the ecological conditions of coral reefs and reef fish communities in this region is essential as a foundation for sustainable coastal resource management. This study aims to assess the condition of coral reefs and reef fish communities along the West Biak coast, providing an overview of the ecosystem status as a basis for future conservation strategies. Fieldwork was conducted from February 27 to March 8, 2017, across nine observation sites. Line Intercept Transect (LIT) method was applied at five sites, and Rapid Reef Assessment (RRA) at four sites, while fish inventories were carried out using Underwater Visual Census (UVC) technique. Results revealed that live coral cover assessed through LIT ranged from 24. 33% to 62. 83%, with an average of 20% . oderate categor. , whereas RRA results ranged from 2% to 18%, averaging 7% . oor categor. A total of 104 reef fish species from 19 families were identified, dominated by Pomacentridae . Labridae . , and Chaetodontidae . These findings indicate that despite localized degradation, the coral reef ecosystem in West Biak still supports relatively high fish diversity. Overall, the ecosystem is classified as being in moderate to poor condition, highlighting the need for regular monitoring, the protection of vulnerable areas, and the implementation of community-based management to preserve ecosystem functions and sustain marine ecotourism potential. Key Words: A West Biak A Coral Cover A Reef Fish A Line Intercept Transect A Rapid Reef Assessment PENDAHULUAN Papua dikenal sebagai wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia, menyumbang sekitar 30Ae50% dari total keanekaragaman hayati nasional. Selain memiliki kekayaan jenis yang melimpah. Papua juga menunjukkan tingkat endemisitas spesies yang sangat tinggi (Huffard et al. , 2. Wilayah pesisir dan lautnya yang membentang luas menyimpan potensi ekologis dan ekonomi yang besar, termasuk ekosistem terumbu karang yang merupakan salah satu yang paling beragam di dunia. Beberapa lokasi di Papua, seperti perairan Raja Ampat, telah dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global dengan lebih biota ikan karang dan karang yang telah teridentifikasi, serta berbagai biota laut lainnya (Purwanto et al. , 2021. Aji et al. , 2023. Becking et al. , 2. Kekayaan ini menegaskan bahwa Papua memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem laut Indonesia dan dunia. Salah satu wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber daya laut tinggi di Papua adalah Kabupaten Biak Numfor. Secara geografis, kabupaten ini terletak di bagian utara Pulau Yapen, di kawasan Teluk Cenderawasih, pada posisi 0A21AAe1A31A LS dan 134A47AAe136A48A BT. Wilayah pesisir Biak Numfor memiliki tiga ekosistem utama, yaitu terumbu karang, padang lamun, dan mangrove, yang menjadi penopang kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan (Aji & Widyastuti, 2017. Dharmawan et al. , 2. Selain itu, perairan Biak juga menyimpan potensi sumber daya hayati lain seperti biota benthic moluska, crustacea dan echinodermata Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 (Setyastuti et al. , 2018. Dharmawan et al. , 2. Di Kepulauan Padaido, luas ekosistem terumbu karang pada kawasan reef flat mencapai sekitar 9. 252,1 hektar dan deep reef sekitar 328,2 hektar. Berdasarkan penelitian terdahulu. Giyanto et al. mencatat sekitar 90 jenis karang, sedangkan Runtuboi et al. menambahkan 57 jenis karang lainnya. Hasil monitoring ekologi oleh CRITICAe COREMAP II Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukkan bahwa persentase tutupan karang hidup di Kepulauan Padaido mencapai 35,25%, yang tergolong dalam kategori sedang (Dharmawan et al. , 2. Sebagian besar penelitian mengenai ekosistem terumbu karang di Kabupaten Biak Numfor berfokus pada wilayah Biak Timur dan Kepulauan Padaido (Dharmawan et al. , 2017, 2. Sebaliknya, kawasan pesisir Biak Barat masih jarang mendapat perhatian ilmiah, sehingga kondisi ekologi dan komunitas biotanya belum banyak diketahui. Kekosongan data ini menjadi hambatan dalam upaya pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan, khususnya dalam perencanaan konservasi dan perlindungan habitat terumbu karang. Padahal, informasi mengenai struktur komunitas terumbu karang dan ikan karang sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan ekosistem laut berbasis masyarakat. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kondisi ekologi komunitas terumbu karang dan ikan karang di pesisir perairan Biak Barat. Tujuannya adalah untuk menilai kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang serta mengidentifikasi tingkat keanekaragaman ikan karang yang menjadi indikator keseimbangan ekosistem. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dasar ilmiah yang berguna bagi pemerintah daerah, lembaga konservasi, dan masyarakat pesisir dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, serta mendukung upaya pelestarian ekosistem terumbu karang di Kabupaten Biak Numfor. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 Februari hingga 8 Maret 2017 di perairan Biak Barat. Kabupaten Biak Numfor. Papua. Pengamatan dilakukan pada sembilan stasiun yang tersebar di beberapa lokasi, yaitu Orkdori. Ramdo. Yembepioper. Ampombukor. Swainober. Adadikam. Sopeng. Wardo, dan Karnindi. Pengambilan data dilakukan melalui penyelaman menggunakan peralatan Scuba. Sebelum pemasangan transek, dilakukan pengamatan visual bebas dari tepi pantai hingga ke area terumbu karang untuk memperoleh gambaran umum kondisi Garis transek dipasang sejajar garis pantai pada kedalaman sekitar lima meter, yaitu zona yang umumnya memiliki pertumbuhan karang optimal. Selama pemasangan transek, posisi pulau dijaga tetap berada di sisi kiri penyelam untuk memastikan konsistensi arah pengamatan pada seluruh stasiun. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menilai kondisi terumbu karang dan komunitas ikan karang di perairan Biak Barat. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan gambaran menyeluruh Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 mengenai kondisi ekosistem terumbu karang berdasarkan data lapangan yang Desain penelitian dibagi menjadi dua metode utama, yaitu Line Intercept Transect (LIT) untuk pengamatan kuantitatif tutupan karang hidup, dan Rapid Reef Assessment (RRA) untuk penilaian cepat kondisi terumbu karang serta keberadaan ikan karang. Pembagian metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang saling melengkapi, di mana LIT memberikan data numerik yang akurat, sedangkan RRA memberikan deskripsi visual yang lebih luas mengenai kondisi ekosistem. Sebanyak sembilan stasiun pengamatan ditetapkan di sepanjang wilayah pesisir Biak Barat. Lima stasiun menggunakan metode LIT, sedangkan empat stasiun lainnya menggunakan metode RRA. Penentuan lokasi dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan representasi habitat terumbu karang di wilayah tersebut, tingkat aksesibilitas, dan keamanan selama penyelaman. Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan melalui tiga tahap utama, yaitu persiapan lapangan, pengambilan data, dan analisis hasil. Setiap tahap dirancang untuk memastikan ketepatan dan konsistensi data pada seluruh stasiun pengamatan. Persiapan Lapangan Sebelum pengambilan data, dilakukan pengamatan awal untuk memperoleh gambaran umum habitat terumbu karang dan menentukan posisi transek yang aman serta representatif. Titik koordinat setiap stasiun kemudian dicatat menggunakan GPS dan disajikan dalam Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Posisi Stasiun Pengamatan Menggunakan Metode Line Intercept Transect Stasiun Longitude (AE) Latitude (AS) Lokasi Orkdori Ramdo Swainober Adadikam Wardo Tabel 2. Posisi Stasiun Pengamatan Menggunakan Metode Rapid Reef Assessment Stasiun Longitude (AE) Latitude (AS) Lokasi Yembepioper Ampombukor Sopeng Karnindi Pengambilan Data Pengumpulan data tutupan karang dilakukan dengan dua metode utama, yaitu LIT dan RRA (Kurniawan et al. , 2024. Putra et al. , 2. Pertama, metode LIT ini digunakan untuk memperoleh data kuantitatif tutupan karang hidup dan substrat dasar, mengikuti pedoman English et al. dengan beberapa penyesuaian lapangan. Garis transek sepanjang 70 m dipasang sejajar garis pantai pada kedalaman 3Ae5 m dan diulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada segmen 0Ae10 m, 30Ae40 m, dan 60Ae70 m, mencatat setiap biota dan substrat yang bersinggungan langsung dengan garis transek. Selanjutnya pengamatan ikan Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 karang dilakukan dengan mencatat jumlah jenis dengan jarak pandang 2,5 m ke kiri dan kanan garis transek . uas area 350 mA) menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) (Putra et al. , 2. Metode ini diterapkan di lima stasiun. Kedua, metode RRA digunakan untuk penilaian cepat kondisi terumbu karang dan ikan karang menggunakan pendekatan Belt Transect (English et al. , 1. pada area 5 y 10 m. Selain itu, pengamatan dilakukan dengan dua teknik, yaitu free swimming observation dan scuba diving observation, dengan mencatat jenis karang dan ikan karang berdasarkan bentuk, warna, dan morfologi khasnya. Metode ini diterapkan di empat stasiun. Analisis Data Data dari metode LIT diolah menggunakan program Lifeform untuk menghitung persentase tutupan, frekuensi kemunculan, dan panjang total setiap Kondisi terumbu karang diklasifikasikan berdasarkan kriteria Gomez dan Yap . alam Kurniawan et al. menjadi empat kategori yaitu, 0Ae24,9% . 25Ae49,9% . 50Ae74,9% . 75Ae100% . angat bai. Setiap kelompok biota dan substrat dikategorikan dalam karang hidup, karang mati, karang lunak, makroalgae, pecahan karang, pasir, lumpur halus dan kelompok lainnya (Tabel . Kemudian, hasil analisis digunakan untuk menilai tingkat kesehatan terumbu karang dan hubungan dengan distribusi komunitas ikan karang di perairan Biak Barat. Tabel 3. Kategori dan Kode Substrat serta Biota yang Digunakan dalam Analisis LIT No. Kode Kategori Keterangan Singkat Substrat/Biota Live Coral (Karang Karang keras yang masih hidup dan Hidu. berwarna alami Dead Coral (Karang Rangka Mat. mempertahankan bentuknya Soft Coral (Karang Karang lunak dengan struktur fleksibel Luna. Fleshy Seaweed Rumput laut besar yang menutupi substrat (Makroalga. Rubble (Pecahan Pecahan karang mati berukuran kecil Karan. Sand (Pasi. Substrat berupa butiran pasir halus Silt (Lumpur Halu. Substrat halus berlumpur Others (Lain-lai. Substrat lain yang tidak termasuk kategori di atas HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Terumbu Karang di Perairan Biak Barat Penelitian yang dilakukan di perairan Biak Barat mencakup sembilan stasiun pengamatan, lima di antaranya menggunakan metode LIT dan empat lainnya menggunakan metode RRA. Secara umum, kondisi terumbu karang di wilayah ini menunjukkan variasi dari kategori buruk hingga baik. Perbedaan tersebut Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti tingkat kekeruhan air akibat masukan air tawar dari sungai dan aktivitas antropogenik di sekitar pesisir. Perairan Biak Barat yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik menerima pengaruh air laut lepas dan air tawar dari beberapa sungai besar, yang menyebabkan perbedaan tingkat kejernihan antar lokasi. Pada beberapa stasiun, terutama yang jauh dari muara sungai, karang batu . ard cora. tumbuh dengan baik, sedangkan di lokasi lain ditemukan area dengan kerusakan cukup tinggi akibat sedimentasi dan tekanan lingkungan. Hasil pengamatan menggunakan metode LIT menunjukkan bahwa persentase tutupan karang hidup berkisar antara 24,33% hingga 62,83%, dengan rata-rata 46,20% yang termasuk kategori sedang. Nilai tertinggi dijumpai di Stasiun 6 (Adadika. sebesar 62,83%, sedangkan nilai terendah terdapat di Stasiun 8 (Ward. sebesar 24,33% (Tabel . Tabel 4. Persentase tutupan karang hidup di perairan Biak Barat berdasarkan metode LIT Bentuk Habitat Dasar Hard Coral (Acropor. Hard Coral . on Acropor. Dead Scleractinia Algae Other Fauna Abiotik St. St. St. St. St. Rata-rata Karang non-Acropora merupakan komponen dominan di semua lokasi, dengan rata-rata 46,2%, sedangkan Acropora hanya sekitar 1,3%. Nilai Dead Scleractinia cukup tinggi . ,27%), menandakan tingkat kematian koloni karang yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa komunitas karang di Biak Barat masih dalam tahap pemulihan dengan keseimbangan antara proses pertumbuhan dan degradasi. Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Papua dan Indonesia bagian timur, rata-rata tutupan karang hidup di Biak Barat . ,2%) lebih rendah dibandingkan Biak Timur . ,8%. Pattiasina & Marasabessy 2. dan Pulau Wundi . Paulangan 2. , namun lebih tinggi dari TWP Padaido . ,7%. Dharmawan et al. serta Pulau Nusmapi. Manokwari . ,9%. Manangkoda et al. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekosistem karang di Biak Barat tergolong sedang dan masih berpotensi untuk pulih apabila tekanan lingkungan dapat dikendalikan. Pengamatan menggunakan metode RRA di empat stasiun menunjukkan kisaran tutupan karang hidup antara 2Ae18%, dengan rata-rata 7%. Nilai tertinggi dijumpai di Stasiun 9 (Karnind. , sedangkan nilai terendah terdapat di Stasiun 7 (Sopen. Rendahnya nilai ini disebabkan oleh tingginya dominasi Dead Scleractinia . ata-rata 64,8%), yang menunjukkan adanya tekanan lingkungan atau gangguan fisik terhadap koloni karang. Jika dibandingkan dengan hasil RRA di Biak Timur dan Kepulauan Padaido, kondisi karang di Biak Barat masih sebanding. Dharmawan et al. mencatat tutupan karang sekitar 12% di wilayah tersebut, sedangkan BKKPN Kupang . melaporkan kondisi AusedangAy dengan rata-rata Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 33,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa tekanan ekologis terhadap terumbu karang relatif merata di wilayah Biak bagian barat dan timur. Tabel 5. Persentase tutupan karang hidup di perairan Biak Barat berdasarkan metode RRA Bentuk Habitat Dasar Hard Coral (Acropor. Hard Coral . on Acropor. Dead Scleractinia Algae Other Fauna Abiotik St. St. St. St. Rata-rata Analisis keanekaragaman karang batu pada lima stasiun LIT menunjukkan variasi jumlah jenis, genus, dan famili yang terdapat pada tabel 6. Jumlah jenis tertinggi ditemukan di Wardo . jenis, 15 genus, 10 famil. dan Orkdori . jenis, 23 genus, 10 famil. , sedangkan jumlah terendah terdapat di Ramdo . jenis, 9 Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tutupan karang tergolong sedang, keanekaragaman taksonomi masih cukup tinggi, menandakan potensi regenerasi alami yang baik. Kondisi habitat di setiap lokasi pengamatan menunjukkan perbedaan morfologi dasar dan vegetasi pantai yang turut memengaruhi kondisi ekosistem karang. Lokasi dengan lereng landai, seperti Swainober dan Adadikam, memiliki tutupan karang yang lebih tinggi dibandingkan lokasi dengan kemiringan terjal, seperti Ramdo dan Ampombukor. Tabel 6. Kondisi fisik dan habitat di lokasi stasiun pengamatan perairan Biak Barat Nama Lokasi Profil dan Kondisi Perairan Tutupan Karang Ciri Khas Lokasi Peruntukan Orkdori Dasar perairan landai, vegetasi mangrove, lereng A30A 7% . , 25 jenis . genus, 10 Didominasi Porites, koloni kecil, karang mati tinggi Snorkeling. Ramdo Pantai pasir putih, lereng A60A 26% . , 21 jenis . genus, 9 Didominasi Porites sp. karang mati Diving. Yembepioper Pantai pasir putih, lereng A50A 5% . Acropora tabulate kecil. Spot selam. Ampombukor Lereng sangat terjal A90A, kerusakan tinggi 3% . Didominasi Tubastrea Spot selam Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Soft coral Swainober Lereng A45A, rataan terumbu mulai pulih 23% . Koloni kecil Porites lutea. Crinoid Spot selam. Adadikam Lereng A45A, pantai berpasir, terumbu luas 83% . , 22 jenis . genus, 10 Didominasi Porites. Acropora. Gorgonia Snorkeling. Sopeng Lereng A45A, kondisi karang 2% . Didominasi Porites dan karang mati Snorkeling. Wardo Lereng A60A, rataan terumbu 33% . , 26 jenis . genus, 10 Didominasi Montipora sp. dan Porites sp. Snorkeling. Karnindi Lereng A50A, pantai pasir 18% . Didominasi Acropora. Porites. Montipora Snorkeling. Faktor lingkungan lain yang memengaruhi distribusi karang adalah tingkat kekeruhan air. Lokasi yang dekat dengan muara sungai, seperti Orkdori, memiliki kekeruhan tinggi yang membatasi penetrasi cahaya dan menghambat fotosintesis Sebaliknya, lokasi yang jauh dari daratan, seperti Adadikam, menunjukkan perairan jernih dan koloni karang yang lebih sehat. Secara keseluruhan, kondisi terumbu karang di perairan Biak Barat tergolong sedang dan memiliki potensi untuk dipulihkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan. Upaya konservasi seperti pembatasan aktivitas penangkapan ikan destruktif, pengendalian sedimentasi, serta pemantauan berkala perlu diterapkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Melalui hal ini memberikan kontribusi terhadap data spasial ekosistem terumbu karang di wilayah Papua bagian utara, serta memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara faktor lingkungan, tutupan karang, dan kesehatan ekosistem terumbu di wilayah tropis. Komunitas Ikan Karang Hasil sensus visual dan transek terhadap keragaman serta kelimpahan ikan karang di sembilan lokasi pengamatan . ima lokasi metode LIT dan empat lokasi metode RRA) menunjukkan adanya 104 jenis ikan karang yang termasuk dalam 52 marga dan 19 famili. Dari 19 famili tersebut, tiga famili yang paling mendominasi jumlah jenis adalah Pomacentridae . Labridae . Ai keduanya tergolong ikan major Ai serta Chaetodontidae . yang tergolong ikan indikator. Copyright A 2025. Authors Balistidae Labridae Cirrhitidae Chaetodontidae Ephippidae Pomacentridae Mullidae Pomacanthidae Pteridae Fistularidae Holocentridae Nemipteridae Lethrinidae Caesionidae Acanthuridae Scaridae Zanclidae Lutjanidae Serranidae Jumlah jenis Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Famili / suku Gambar 1. Komposisi famili ikan karang menurut jumlah jenis dari 9 lokasi di perairan pesisir Biak Barat . etode RRA dan LIT). Balistidae Labridae Cirrhitidae PomacentA PomacantA AcanthuriA Fistularidae Scaridae HolocentriA Lethrinidae ChaetodoA Ephippidae Mullidae NemipteriA Caesionidae Zanclidae Lutjanidae Serranidae Jumlah jenis Gambar 1 menampilkan komposisi famili ikan karang berdasarkan jumlah jenis dari sembilan lokasi di perairan pesisir Biak Barat, menggunakan metode RRA dan LIT. Pengamatan menggunakan metode LIT di lima lokasi menghasilkan 99 jenis ikan karang yang tergolong dalam 52 marga dan 18 famili (Tabel . Komposisi dominan masih didominasi oleh tiga famili utama, yaitu Pomacentridae . Labridae . , dan Chaetodontidae . Famili / suku Gambar 2. Komposisi famili ikan karang menurut jumlah jenis dari 5 lokasi di perairan Biak Barat . etode LIT). Pada gambar 2 menunjukkan komposisi famili ikan karang menurut jumlah jenis dari lima lokasi pengamatan di perairan Biak Barat . etode LIT). Secara umum, komunitas ikan karang yang ditemukan selama pengamatan dengan metode LIT didominasi oleh ikan major sebesar 57% . , disusul oleh ikan target sebesar 29% . , dan terakhir ikan indikator sebesar 14% . (Tabel . Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian di wilayah lain, seperti di TWP Padaido (Dharmawan et al. , 2. , yang menunjukkan dominasi ikan herbivora . ,89%), serta penelitian Pattiasina dan Marasabessy . di pesisir Biak Timur, yang juga menemukan dominasi ikan major . %). Copyright A 2025. Authors Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Tabel 7. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan ikan-ikan Target. Indikator dan Major Group dengan Metode Line Intercept Transect di perairan Biak Barat. KELOMPOK / GROUP Famili / Suku TARGET : Serranidae Lutjanidae i Lethrinidae Scaridae Acanthuridae Caesionidae VII Nemipteridae Vi Mullidae Ephippidae Sub Ae Total Target INDIKATOR : Chaetodontidae Sub Ae Total Indikator MAJOR GROUP Holocentridae XII Fistularidae Xi Pomacanthidae XIV Pomacentridae Cirrhitidae XVI Labridae XVII Zanclidae XVi Balistidae Sub Ae Total Major Group Total Famili Total Jenis Total Kelimpahan Total Ind Orkdori Ind Ramdori Ind Copyright A 2025. Authors Swainober Ind Adadikam Ind Ind Wardo Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Jenis ikan major yang mendominasi antara lain Pomacentrus moluccensis. Pomacentrus brachialis. Pomacentrus nigromanus, dan Chromis ternatensis dari famili Pomacentridae. Untuk kelompok ikan target, jenis yang paling melimpah adalah Pterocaesio tile. Caesio teres. Caesio cuning . amili Caesionida. , serta Ctenochaetus striatus . amili Acanthurida. Sedangkan kelompok indikator seluruhnya berasal dari famili Chaetodontidae, didominasi oleh Chaetodon baronessa. Heniochus varius, dan Chaetodon trifascialis. Jenis-jenis ini memberikan kontribusi penting dalam dinamika ekosistem terumbu karang di Biak Barat. Berdasarkan data tabel 7, lokasi dengan jumlah jenis tertinggi adalah Desa Wardo dengan 46 jenis, diikuti oleh Orkdori . Ramdo . Swainober . Adadikam Tingginya jumlah jenis di Wardo diduga dipengaruhi oleh kondisi terumbu karang yang relatif baik, tingkat kecerahan air tinggi, serta jaraknya yang jauh dari permukiman penduduk. Kelompok ikan target yang merupakan ikan ekonomis penting ditemukan sebanyak 29 jenis dari 9 famili. Jumlah terbanyak dijumpai di Orkdori . jenis atau 48%), diikuti Wardo . jenis atau 45%). Ramdo . jenis atau 31%). Swainober . jenis atau 28%), dan Adadikam . jenis atau 14%). Namun, dari segi jumlah individu, tertinggi terdapat di Ramdo . ekor atau 48,38%) dan terendah di Swainober . ekor atau 4,33%) kelimpahan tertinggi berasal dari famili Caesionidae . kan lalosi/ekor kunin. , yang mencapai 70,4% dari total individu. Tingginya kelimpahan ikan Caesionidae mengindikasikan bahwa aktivitas penangkapan destruktif, seperti penggunaan bom atau racun, masih tergolong rendah di wilayah Biak Barat. Sifat ikan ini yang hidup bergerombol . chooling fis. membuatnya sensitif terhadap tekanan penangkapan, sehingga populasinya menjadi indikator alami terhadap tingkat gangguan ekosistem. Kelompok ikan indikator . amili Chaetodontida. ditemukan sebanyak 14 jenis . dengan persebaran relatif merata di seluruh lokasi Jumlah tertinggi terdapat di Swainober . jenis, 30 eko. , sedangkan terendah di Wardo . jenis, 9 eko. Sementara itu, kelompok ikan major ditemukan sebanyak 56 jenis . dari delapan famili, dengan dominasi tertinggi di Wardo . jenis, 160 eko. , diikuti Ramdo . jenis, 198 eko. Swainober . jenis, 185 eko. Orkdori . jenis, 146 eko. , dan Adadikam . jenis, 142 eko. Kelimpahan Individu St. St. St. St. Lokasi Penelitian St. Jumlah individu . Jumlah jenis . Kelimpahan jenis St. St. St. St. St. Lokasi Penelitian Gambar 3. Kelimpahan jenis ikan karang (A) dan Kelimpahan individu (B) dari 5 lokasi di perairan Biak Barat . etode LIT). Zanclidae Labridae Pteridae Pomacentridae Pomacanthidae Holocentridae Chaetodontidae Mullidae Nemipteridae Acanthuridae Caesionidae Scaridae Lethrinidae Jumlah jenis Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Famili / Suku Gambar 4. Komposisi famili ikan karang menurut jumlah jenis dari 4 lokasi di perairan Biak Barat . etode RRA). Hasil sensus visual menggunakan metode RRA di empat lokasi penelitian menemukan 35 jenis ikan karang yang tergolong dalam 26 marga dan 13 famili (Tabel . Lokasi Karnindi memiliki jumlah jenis tertinggi . jenis, 98 eko. , sedangkan Ampombukor memiliki jumlah terendah . jenis, 41 eko. Dari 13 famili yang tercatat. Pomacentridae merupakan famili yang paling dominan dengan 11 jenis, menunjukkan peran penting kelompok ini dalam struktur komunitas ikan karang di perairan Biak Barat. Keanekaragaman ikan karang didominasi oleh kelompok ikan major sebanyak 20 jenis . %), diikuti ikan target sebanyak 11 jenis . %), dan ikan indikator sebanyak 4 jenis . %). Secara umum, komposisi jenis ikan karang menunjukkan variasi antar lokasi, tetapi pola dominasi famili Pomacentridae tetap terlihat jelas. Jika dibandingkan dengan hasil transek dan sensus visual menggunakan metode LIT, jumlah jenis dan individu ikan karang yang terdeteksi melalui metode RRA relatif lebih rendah pada ketiga kelompok ikan karang . arget, indikator, dan majo. Hal ini diduga karena metode RRA memiliki cakupan pengamatan yang lebih cepat dan bersifat deskriptif, sehingga beberapa spesies dengan kelimpahan rendah tidak terdeteksi. Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Tabel 8. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan ikan-ikan Target. Indikator dan Major Group dengan metode RRA di perairan Biak Barat. KELOMPOK / GROUP Famili / Suku TARGET : Lethrinidae Scaridae i Acanthuridae Caesionidae Nemipteridae Mullidae Sub Ae Total Target Total No. Yembepioper St. Ampombukor St. Sopeng St. Karnindi St. Sp. Ind Ind Ind Ind Ind INDIKATOR : XII Chaetodontidae Sub Ae Total Indikator MAJOR GROUP Vi Holocentridae Fistularidae Pomacanthidae Pomacentridae XII Labridae Xi Zanclidae Sub Ae Total Major Group Total Famili Total Jenis Total Kelimpahan Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Kelimpahan individu St. St. St. Lokasi Penelitian St. Jumlah individu . Jumlah jenis . Kelimpahan Jenis St. St. St. St. Lokasi Penelitian Gambar 5. Kelimpahan jenis ikan karang (A) dan Kerlimpahan individu (B) dari 4 lokasi di perairan Biak Baratr . etode RRA). Gambar 5 menunjukkan variasi kelimpahan jenis dan individu ikan karang di empat lokasi pengamatan dengan metode RRA. Hasil ini memperlihatkan bahwa meskipun terdapat perbedaan antar lokasi, secara umum perairan Biak Barat masih memiliki komunitas ikan karang yang relatif beragam dan produktif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ekosistem terumbu karang di wilayah tersebut masih mampu mendukung kehidupan berbagai jenis ikan karang. Keberadaan komunitas ikan karang yang sehat ini sangat penting karena berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus menjadi sumber daya yang menopang mata pencaharian masyarakat pesisir Biak. Oleh karena itu, pengelolaan yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk memastikan kelestarian ekosistem serta keberlanjutan manfaat ekologis dan ekonominya. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar dalam perencanaan konservasi serta penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan. Beberapa alternatif kebijakan yang disarankan antara lain: Optimalisasi pengelolaan ekosistem terumbu karang. Perlindungan dan rehabilitasi habitat terumbu karang. Peningkatan kesadaran serta partisipasi aktif masyarakat pesisir dalam menjaga kelestarian ekosistem. Temuan ini sejalan dengan konsep ekonomi biru . lue econom. yang dicanangkan oleh Pemerintah saat ini (Yusuf et al. , 2. yaitu pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan laut. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tutupan karang hidup di perairan Biak Barat berdasarkan metode LIT bervariasi antara 24,33% hingga 62,83%, dengan rata-rata 46,20% yang termasuk kategori sedang. Inventarisasi ikan karang mencatat 104 jenis dari 19 famili, dengan 99 jenis terdeteksi pada lima stasiun pengamatan. Secara umum, kondisi terumbu karang di wilayah Biak Barat masih tergolong cukup produktif dan memiliki keanekaragaman hayati Widyastuti. Lorwens. Latanda, & Aji / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 yang tinggi, meskipun terdapat indikasi tekanan ekologis di beberapa lokasi. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan manfaat ekonominya bagi masyarakat pesisir. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah penguatan pengelolaan berbasis ekosistem melalui partisipasi aktif masyarakat lokal, lembaga adat, dan pemerintah daerah, guna mencegah kerusakan akibat aktivitas penangkapan destruktif dan pencemaran pesisir. Selain itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dasar bagi kajian ekologi terumbu karang di wilayah Papua, khususnya dalam memahami hubungan antara struktur substrat dan keanekaragaman ikan karang. Untuk mendukung kebijakan pengelolaan yang lebih efektif, penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan memperluas cakupan lokasi, memasukkan parameter oseanografi seperti suhu, arus, dan kekeruhan, serta melaksanakan pemantauan jangka panjang untuk melihat dinamika perubahan kondisi ekosistem terumbu karang secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA