Volume 3 Nomor 1 . Pages 98 Ae 109 EduBase : Journal of Basic Education Email Journal : edubase. bbc@gmail. Web Journal : http://journal. id/index. php/edubase Konsep dan Pengaplikasian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkat MI/SD Muhammad Rayhan Saputra 1A . Lu`luil Maknun2 UIN Syarif Hidayatulah Jakarta Email : rayhanmuhammad. saputra20@mhs. id1,maknun@uinjkt. Received: 2021-12-17. Accepted: 2022-02-27. Published: 2022-02-28 Abstract The purpose of writing this article is to find out the basic concepts, implementation steps, characteristics of the advantages and disadvantages as well as the effectiveness of the application of jigsaw cooperative learning in teaching and learning activities in MI or SD level classes. The writing method is carried out using a literature study or literature research method, using research materials in the form of journals, articles and physical and digital books sourced from Google Scholer, national library applications, and other media, which are then explored and adapted to the topic raised as the theme of the material. Learning in the implementation process is known by the teacher as the owner of the main role who explains all learning materials and students only accept so that the interaction becomes passive. Problems sometimes arise when teachers determine the learning model that will be used to deliver predetermined subject matter to students. The jigsaw cooperative learning model is a model that is implemented by focusing on students with group work in the form of small groups. Studying in groups will provide a new atmosphere in learning so as to minimize student boredom and improve student learning outcomes Keyword : cooperative learning. elementary school. Abstrak Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui konsep dasar, langkah-langkah penerapan, ciri khas kekurangan dan kelebihan serta efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam kegiatan belajar mengajar di kelas tingkat MI atau SD. Metode penulisan dilakukan dengan metode studi pustaka atau literature review, menggunakan bahan penelitian berupa jurnal, artikel dan buku fisik maupun digital yang bersumber dari google scholer, aplikasi perpustakaan nasional, dan media lainnya, yang kemudian di dalami dan disesuaikan dengan topik yang diangkat sebagai tema materi pembahasan. Pembelajaran dalam proses pelaksanaannya dikenal guru sebagai pemilik peran utama yang menjelaskan seluruh materi pembelajaran dan peserta didik hanya menerima sehingga interaksi menjadi Permasalahan terkadang muncul pada guru saat menentukan model pembelajaran yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran yang telah ditentukan kepada peserta didik. Model pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan model yang dilaksanakan dengan memusatkan pada siswa dengan kerja kelompok dalam bentuk kelompok kecil. Belajar secara berkelompok akan memberikan suasana baru dalam pembelajaran sehingga meminimalisir kebosanan peserta didik dan meningkatkan hasil belajaran siswa Kata Kunci: pembelajaran kooperatif. sekolah dasar. Copyright A 2022. Author. This is an open-access article under the CC BY-NC-SA 4. DOI: https://doi. org/10. 47453/edubase. How to Cite : Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 99 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang dikenal kaya dengan sumber daya alam, namun dalam pengelolaan dan pemanfaatan belum dapat dikelola secara utuh oleh negara ini, sebab pemberdayaan sumber daya manusia di Indonesia belum maksimal, sehingga sangat perlu ditingkatkan dan dikembangkan untuk memaksimalkan segala potensi manusia yang dimiliki untuk bangsa ini. dengan melalui jenjang pendidikan secara bertahap diharapkan dapat memperbaiki sumber daya manusia di Indonesia. Potensi positif yang dimiliki seseorang dapat membangun, mengembangkan hingga terwujudnya bangsa yang jauh lebih baik, maka dari itu potensi bernilai positif sudah seharusnya diperdalam dan dikembangkan dengan pendidikan (Syaodih, 2. Setiap negara dan bangsa memiliki tujuan dalam pendidikan yang berbeda begitu juga dengan Indonesia, tujuan pendidikan Indonesia tertulis dalam undang undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi-potensi peserta didik agar menjadi sosok manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demikratis serta bertanggung jawab. Dalam pelaksanaan pendidikan terdapat proses pembelajaran, pembelajaran merupakan proses yang dilakukan secara sengaja untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan kemampuan, keterampilan, memperbaiki tingkah laku dan membentuk kepribadian seseorang (Fauzan, 2. Dalam proses pembelajaran akan terjalin hubungan interaksi antara dua pihak yaitu guru dan siswa, untuk mencapai pemahaman dan keilmuan sesua dengan materi pelajaran yang telah disiapkan, dalam orientasinya pada beberapa waktu kebelakang pembelajaran lebih dikenal dengan guru sebagai sosok yang berperan aktif saat menyampaikan materi pelajaran, peserta didik hanya sebagai objek penerima dari pelajaran sehingga bersifat pasif. Perkembangan zaman turut mempengaruhi proses pembelajaran, sehingga adanya inovasi baru dalam pelaksanaannya demi tercapainya segala tujuan disetiap pembelajaran yang menjadi titik Saat ini siswa tidak hanya dianggap sebagai sosok penerima namun juga dapat sebagai sosok yang aktif dalam pembelajaran dengan pengawasan dari seorang guru yang berperan sebagai fasilitator, moderator dan motivator. Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dalam upaya mencapai suatu tujuan, jika komponen yang terkandung di dalamnya terstruktur secara sistematis. Model pembelajaran merupakan satu diantara komponen penting dalam pembelajaran, terutama bagi guru, dengan model pembelajaran yang tepat, maka materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan sempurna oleh siswa hingga mencapai tujuan pembelajaran (Lahir et al. , 2. Sedangkan menurut Soekamto dalam (Shoimin, 2. model pembelajaran merupakan suatu kerangka konsep yang didalamnya terdapat prosedur yang tersusun dalam mengorganisasikan pengalaman belajar siswa untuk mencapai suatu tujuan. Hal yang harus diperhatikan dalam menetukan model pembelajaran salah satu diantaranya adalah harus disesuaikan dengan kondisi para siswa, untuk memberikan kemudahan kepada mereka dalam memahami materi yang diajarkan dan memberikan pengalaman belajar yang berkesan. Adapun fungsi adanya model pembelajaran yakni sebagai pegangan atau pedoman bagi pengajar atau guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Guru terkadang kesulitan dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran terhadap siswa ini merupakan suatu permasalahan yang harus dihadapi oleh guru, dengan adanya model pembelajaran kooperatif sebagai salah satu inovasi dari model pembelajaran, diharapkan Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 100 | Konsep dan Pengaplikasian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkat MI/SD mampu membantu para guru untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran dikelas maupun tujuan Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang di dalam nya siswa belajar dan bekerja melalui kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dan aktif yang anggota nya terdiri atas empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok heterogen (Lubis & Harahap, 2. Menurut Slavin (Umar, 2. bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara mandiri maupun kelompok. Sehingga pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dikelas dengan berpola kelompok-kelompok kecil kemudian bersama memahami dan mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang telah ditentukan, serta guru membimbing dan memfasilitasi siswa selama kegiatan berlangsung. Pembelajaran kooperatif memiliki model beragam salah satunya tipe jigsaw yang mendorong siswa aktif dan saling membantu tanpa membeda-bedakan segala hal dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal secara menyeluruh dan di desain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran secara sendiri maupun orang lain. Dalam tipe ini siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan oleh guru, tetapi siswa juga dapat memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada siswa lain atau anggota kelompok lain dalam kelompoknya. Mengingat model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, artikel ini menyajikan konsep pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, sintaksis dalam pelaksanaan dan efektivitas penerapan pembelajaran tipe ini dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai upaya menanamkan dan meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa serta mengembangkan kepribadian sosial siswa. Dengan melakukan perubahan model pembelajaran akan menciptakan situasi yang berbeda dan menyenangkan tentu akan memberikan kesan yang mendalam dan motivasi belajar pada diri siswa. METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini menggunakan metode studi pustaka atau literature review, merupakan penelitian yang dilakukan dengan tinjauan pustaka,dalam proses pelaksanaan terdapat kegiatan pengumpulan bahan bacaann berjumlah 25 bahan sebagai sumber kajian seperti jurnal, buku fisik, maupun electronic book dari berbagai media yang dapat digunakan, diantaranya google schooler, aplikasi e-purnas dan buku fisik yang dimulai sejak bulan September lalu, kemudian memfilter seluruh sumber yang diperoleh lalu disesuaikan dengan tema pembahasan yakni Au konsep dan pengaplikasian pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di tingkat MI/SD Au yang disimpan pada aplikasi mendelay. Pada proses penulisan menggunakan aplikasi mendelay untuk mempermudah dan mempercepat dalam melakukan sitasi terhadap sumber-sumber yang HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara bersama-sama yang disatukan menjadi sebuah kelompok-kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda, untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran seperti ini akan berpusat pada peserta didik dan guru menjadi fasilitator, moderator dan motivator saat kegiatan berlangsung. Menurut Slavin (Jaelani, 2. merupakan model pembelajaran dimana siswa bersama-sama saling menyampaikan pendapat, bertangung Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 101 jawab atas keberhasilan belajar secara berkelompok. Sedangkan menurut Brahim pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dengan menyesuaikan pada fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan berjiwa sosial, bergantung kepada orang lain, memiliki tujuan, serta tangung jawab saat berada di satu keadaan secara bersama (Anitra. Menurut Ernes (Umar, 2. konsep dasar pembelajaran kooperatif ialah dibutuhkannya kerja sama siswa sebagai anggota aktif dalam satu kelompok untuk mencapai suatu tujuan secara bersama. Sesuai dengan pendapat diatas keberhasilan perorangan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif sangat di pengaruhi oleh keberhasilan kelompok, saat seluruh anggota dapat berperan aktif dan berkolaborasi dan memahami materi satu sama lain maka tujuan pembelajaran akan tercapai. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran tradisional, dalam pelaksanaan secara kelompok memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan dan meningkatkan perkembangan sosial dan pemikiran. Dalam setiap pembelajaran ini terdapat beberapa unsur yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan pembelajaran kooperatif menurut Mulyadiana (Jaelani, 2. yakni : . saling ketergantungan antar sesama anggota kelompok, karena keberhasilan dan kegagalan pembelajaran tergantung setiap individu dalam kelompok yang berkontribusi atau berpartisipasi, semakin banyak yang memberikan masukan terhadap kelompok akan memberikan kelebihan tersendiri namun harus tetap pada pembahasan yang sesuai. setiap orang memiliki rasa tanggung jawab, serta memahami dan menguasai dengan baik materi yang dibahas, dengan begitu keberhasilan kelompok dapat di raih, tergantung pada seberapa besar kontribusi setiap individu. interaksi secara langsung, dengan bertatap muka akan memberikan keuntungan bagi setiap individu, karena dapat saling mengetahui dan memenuhi kekurangan materi dari setiap anggota kelompok secara langsung. menjalin komunikasi, saat berinteraksi secara langsung tentunya akan terjalin komunikasi yang diharapkan berjalan baik karena akan membantu berjalannya diskusi dalam kelompok untuk memecahkan persoalan yang ada, selain itu dengan komunikasi yang baik tidak akan terjadinya perpecahan saat diskusi berlangsung. Pada pembelajaran kooperatif, siswa tidak hanya menjadi penerima materi pelajaran dari guru melainkan mereka dapat membantu dan melengkapi kekurangan pemahaman siswa lain terkait materi yang berikan dan dipelajari. Dengan suasana berbeda seperti ini diharapkan dapat meningkatkan jiwa solidaritas, sosialisasi, tolong-menolong, menerima pendapat, menyampaikan pendapat dan bertanggung jawab pada diri siswa . Pembelajaran kooperatif memilki berbagai macam tipe pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk memberikan materi pelajaran kepada siswa diantaranya pembelajaran kooperatif tipe Konsep dan Tahapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pembelajaran tipe jigsaw merupakan turunan dari model pembelajaran kooperatif, pembelajaran ini diperkenalkan serta dikembangkan oleh pakar psikologi yang bernama Elliot Aronson di Texas yang kemudian diadapsi oleh Slavin di Universitas John Hopkins (Muslih, 2. Pembelajaran kooperatif jigsaw didasari oleh pemikiran filosifis Augetting better togetherAy yang mengandung makna mendapatkan suatu hasil yang lebih baik dalam belajar dengan cara bersama (Sri Astiti & Murda, 2. Dan menurut Isjoni pembelajaran Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 102 | Konsep dan Pengaplikasian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkat MI/SD kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang yang mendorong siswa untuk aktif dan saling melengkapi dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi secara penuh, pembelajaran sering kali dikenal dengan pemberian pengetahuan kepada siswa. Trianto dalam (Djabba, 2. , model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah proses pembelajaran yang kegiatan intinya ialah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara bersama dalam kelompok kecil. Sedangkan menurut Nurdyansyah dalam (Rahayu et al. , 2. menjelaskan bahwa Pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini mengambil pola seperti cara bekerja sebuah gigi gergaji yaitu zigzag. Yang dimaksud adalah siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama . eperti: gigi gergaj. dengan siswa lain untuk mencapai tujuan pembelajaran . eperti: memotong kay. di kelas. Dapat dipahami bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh para siswa secara bersama-sama dalam suatu kelompok untuk mendapatkan pengetahuan secara menyeluruh. Namun dalam pembelajaran ini bukan hanya guru yang dapat memberikan pelajaran, melainkan siswa dapat saling memberikan pembelajaran. Dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa belajar dengan teman sebaya lebih efektif bagi siswa, sehingga mereka akan belajar dengan penuh percaya diri, tangung jawab, mandiri dan bersemangat karena mereka telah saling mengenal dengan baik satu sama lain. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa dikelompokan menjadi beberapa kelompok terdiri dari beberapa orang secara heterogen . di setiap kelompok, yang saling bekerja sama dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan bagian materi yang harus di pelajari kemudian disampaikan kepada anggota kelompok lainnya (Widiyati & Muaddab. Saat pelaksanaanya siswa ditekankan untuk bisa berperan aktif serta saling membantu sebagai anggota kelompok dalam memahami dan menguasai materi pelajaran secara maksimal dan tuntas, dengan begitu akan timbul ketergantungan antar siswa satu sama dengan yang lain dan harus saling bekerja sama secara kooperatif. Siswa akan lebih memiliki banyak mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan, mengeksplor pendapat dan pengetahuan yang dimiliki, mengelola informasi yang telah di dapat dan meningkatkan komunikasi interaksi secara lebih baik. Pada model pembelajaran tipe jigsaw ini terdapat dua kelompok peran sangat penting yakni kelompok asal dan kelompok ahli, kelompok asal yakni kelompok utama siswa yang terdiri dari siswa-siswa yang memiliki berbagai macam perbedaan baik keterampilan, kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang keluarga atau heterogen. setiap siswa dalam kelompok mendapatkan wacana atau tugas yang berbeda-beda antara satu sama lain dan memahami dengan baik informasi di dalam nya. Sedangkan kelompok ahli ialah kelompok siswa yang beranggotakan kelompok asal dari setiap kelompok, kemudian bertugas untuk mencari, mempelajari, memahami dan mendalami tema tertentu dan menyelesaikan seluruh tugas yang berkaitan dengan temanya dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan kepada anggota-anggota kelompok asal mereka masing-masing. Adapun rangkaian tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh guru dalam pengaplikasian pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini di dalam kelas, menurut Elliot Aronson terdapat 10 tahapan, yaitu : . Guru membagi siswa dalam satu kelas menjadi beberapa kelompok kecil. Memilih satu orang untuk menjadi pemimpin dalam setiap kelompok yang sudah di tentukan. Guru membagi sesi pelajaran yang ada menjadi 5-6 sesi, yaitu : . Sesi pertama, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 103 . Sesi kedua, guru menyampaikan informasi dengan cara mendemonstrasikan atau menyajikan sumber bacaan kepada siswa. Sesi ketiga, mengorganisasikan setiap kelompok siswa, duru menjelaskan dan mengarahkan bagaimana membentuk kelompok belajar kepada siswa dan membantu setiap kelompok agar komunikasi dapat berjalan dengan baik, menentukan kelompok asal dan kelompok ahli. Sesi keempat, membimbing kelopok bekerja dan belajar, guru memberikan bimbingan kepada kelompok ahli dan memberikan tanggung jawab kepadanya untuk mengajarkan kepada kelompok asal. Sesi kelima, mengevaluasi, setiap kelompok melaporkan atau mempresentasikan hasil kerja, kemudian guru mengevaluasi hasil belajar terkait materi pembelajaran yang telah dipelajari. Sesi keenam, memberikan reward, guru memberikan penghargaan dapat berupa pujian atau nilai tambahan bagi kelompok belajar terbaik dan memberikan pengarahan dan motivasi kepada kelompok lain untuk tetap semangat dan tidak berkecil hati. Memberikan tugas kepada setiap siswa untuk mempelajari setiap sesi dan menguasai sesi mereka. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca secara cepat sesuai sesi minimal dua kali untuk membiasakan mereka memahami sesautu dengan cepat. Membentuk kelompok ahli yang merupakan satu anggota dari setiap kelompok asal, kemudian bergabung dengan siswa kelompok lain yang memiliki sesi sama untuk berdiskusi setiap poin-poin yang terdapat dalam sesi mereka yang kemudian hasil diskusi kelompok ahli di tulis dengan sebaik mungkin, dan berlatih menyampaikan hasil tersebut kepada seluruh anggota kelompok asal . Kelompok ahli kembali kepada setiap kelompok asal. Meminta setiap siswa untuk menyampaikan sesi yang telah dipelajari kepada setiap kelompoknya dan memberikan kesempatan kepada siswa lain jika terdapat pertanyaan. Guru memantau berjalannya proses yang dilakukan setiap kelompok agar diskusi yang dilakukan dengan baik dari awal hingga akhir. Pemberian tugas atau ujian berdasarkan materi yang telah dipelajari untuk mengetahui pemahaman setiap siswa setelah selesai pembelajaran. (Lubis & Harahap, 2. Menurut Rusman dalam (Anitra, 2. adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini yaitu : Siswa melakukan kegiatan membaca untuk menggali dan mendapatkan informasi, siswa mendapatkan bahan-bahan bacaan sesuai dengan permasalahan yang diangkat untuk dibaca atau sebagainya, sehingga menjadi sumber tambahan mendapatkan informasi dari permaslahan yang diangkat. Kelompok ahli saling berdiskusi, siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama kemudian bertemu dalam satu kelompok atau dapat disebut sebagai kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahan yang telah didapatkan. Laporan kelompok, yakni kelompok ahli kembali kepada kelompok asal dan menyampaikan dan menjelaskan hasil yang di dapat dari diskusi pada kelompok ahli. evaluaisi, berupa kuis pertanyaan yang dibuat oleh guru sesuai dengan semua topik pelajaran yang telah dibicarakan tadi. Perhitungan skor pada setiap kelompok dan menentukan penghargaan yang di dapat oleh kelompok tertentu. Dalam setiap pembelajaran tentunya tidak akan selalu berjalan dengan semestinya, begitu pula dengan pembelajaran model ini tidak selalu berjalan dengan baik, adapun hal yang terkadang menjadi penyebab kurang maksimal nya pembelajaran kooperatif jigsaw diantaraya : . penentuan kelompok terkadang masih sesuai dengan lingkup pertemanan dekat, sehingga menutup untuk heterogen dalam kelompok ahli. belum maksimalnya Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 104 | Konsep dan Pengaplikasian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkat MI/SD proses diskusi dalam kelompok ahli. jika tidak mencatat secara lengkap dan baik pada kelompok ahli sehingga berdampak pada tidak maksimalnya kelompok ahli dalam memandu, membimbing, dan menjelaskan materi kepada anggota kelompok asal. proses diskusi kelompok asal yang masih kurang terkadang bersumber dari kurangnya kontribusi anggota kelompok asal untuk memperdalam materi hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya sumber informasi atau bacaan yang dapat digunakan (Trisdiono & Zuwanti, 2. Pembelajaran model ini akan berjalan secara efektif apabila adanya kerjasama antar sesama , memiliki rasa bertangung jawab bersama, saling mempercayai, aktif. Keaktifan dari semua anggota yang berada dalam setiap kelompok. Sehingga mendapatkan hasil belajar yang sesuai dengan tema pembelajaran. Hasil belajar sendiri menurut Nana (Nurdyansyah & Toyiba, 2. hasil pembelajaran merupakan kemampuan yang di dapat dan di miliki oleh siswa setelah mendapatkan pengalaman dari pembelajaran baik berupa pengetahuan dan keilmuan atau perubahan tingkah laku. Keberhasilan para siswa dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : faktor internal yakni dorongan positif yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, berupa motivasi belajar dan keinginan mengetahui sesuatu hal secara natural, sedangkan faktor ekternal merupakan dorongan positif yang datang dari luar diri siswa, dapat berupa hubungan yang terjalin baik antara guru dengan siswa, sarana dan prasarana yang memadai, gaya pembelajaran yang digunakan dan suasana saat Keberadaan sarana dan prasana sangat penting bagi siswa dalam pembelajaran, adanya hal tersebut siswa dapat mencari pengetahuan lebih mendalam suatu materi dengan memanfaatkan fasiltas yang ada, seperti buku latihan siswa, buku bacaan, video pembelajaran dan sebagainya, karena pada dasarnya saran dan prasarana merupakan alat maupun bangunan yang dapat menopang keberlangsungan kegiatan pembelajaran agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Guru pun dapat menggunakan sarana dan prasarana berupa alat bantuan atau alat peraga saat sesi menjelaskan materi yang disampaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah diingat dan dicerna oleh para siswa. Saat model jigsaw ini diterapkan dalam pembelajaran, guru lebih berperan sebagai pengawas, pengkoordinir, fasilitator, dan motivator agar pembelajaran diskusi kelompok ini berjalan dengan maksimal dan tujuan pembelajaran pun tercapai secara merata juga mengatur durasi waktu yang dibutuhkan jangan begitu lama, karena pada siswa usia SD/MI tingkat perubahan sikap semangat menjadi bosan dapat berubah jika memakan waktu yang lama dan tidak adanya hal menarik bagi mereka. Dalam setiap model pembelajaran memiliki kelebihan yang diberikan namun tetap juga terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Secara umum pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini memberikan beberapa kelebihan, diantaranya : . Siswa dapat mengembangkan kreativitas, inovasi kemampuan, serta daya pemecahan masalah sesuai dengan kehendaknya sendiri. Interaksi sosial antara guru dan siswa berlangsung secara seimbang sehingga kemungkinan suasana pembelajaran yang nyaman dan akrab dapat membuat keharmonisan antara keduanya. Memberikan motivasi kepada guru untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengelola pembelajaran. Terciptanya perpaduan atau kolaborasi dari berbagai pendekatan pembelajaran yaitu : pendekatan kelas, pendekatan individu dan pendekatan saat berkelompok (Shoimin, 2. meningkatkan motivasi dan keinginan belajar siswa karena memberikan kesan berbeda Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 105 saat pembelajaran . meningkatkan jiwa sosial untuk saling menghormati pendapat satu sama lain. melatih siswa untuk dapat berkomunikasi secara lebih baik dan efektif (Abdullah, 2. dalam satu kali pertemuan pembelajaran dapat membahas beberapa sub materi. meminimalisir kebosanan yang dirasakan oleh siswa selama pembelajaran Adapun keunggulan lain saat penerapan pembelajaran tipe jigsaw yang diungkapkan oleh Hamdayana dalam (Alfazr et al. , 2. yakni : pertama, membantu guru dalam melaksanakan tugas mengajar, karena dengan kelompok ahli materi pembelajaran dapat disampaikan oleh mereka kepada siswa lain. kedua, tercapainya pemahaman materi oleh siswa secara merata atau menyeluruh dalam waktu yang singkat. dan dengan pembelajaran jigsaw dapat melatih siswa secara perlahan untuk dapat menyampaikan pendapat atau berbicara di depan orang banyak. Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Setiap kelebihan selalu terdapat kekurangan apapun itu, begitu juga dengan model pembelajaran tipe jigsaw ini ada beberapa hal yang menjadi kekurangannya, yaitu : . apabila guru tidak mengingatkan siswa untuk berperan aktif, berkontribusi dan kooperatif dalam kelompok masing-masing, memungkinkan terjadinya suatu hal yang dapat berdampak pada tidak berjalannya dengan baik diskusi di dalam kelompok tersebut. jika dalam suatu kelompok terdapat kurangnya anggota maka akan terjadi permasalahan dalam kelompok tersebut, karena akan terjadi kekosongan di dalam suatu sesi materi pembelajaran. membutuhkan waktu yang cukup lama jika kondisi ruangan kelas belum tertata dengan baik, sehingga akan menghabiskan waktu untuk merubahnya, selain itu kegaduhan juga akan terjadi jika waktu tidak diatur dengan baik oleh guru (Shoimin, 2. tidak seluruh siswa dalam satu kelas memiliki keberanian atau percaya diri saat menyampaikan materi pelajaran yang telah didiskusikan kepada teman satu kelompok nya. membutuhkan fasilitas ruangan yang cukup besar jika dalam satu kelas terdiri dari 30 siswa atau lebih (Abdullah, . jika diterapkan kepada siswa SD kelas rendah yang memiliki karakter lebih senang bermain, saat kerja kelompok memungkinkan terjadinya ketidak seriusan atau bercanda dalam suatu kelompok sehingga diskusi tidak berjalan dengan efektif. diterapkan kepada murid yang pendiam atau pasif dalam pembelajaran seperti ini akan sulit, karena akan menyulitkan kelompoknya dalam diskusi (Fitriani & Mahsup, 2. akan sulit bagi siswa yang memiliki keahlian dalam membaca dan berfikir rendah, karena pada saat menyampaikan materi kepada teman lain kemungkinan akan terjadi kesalahan. siswa yang aktif akan lebih terlihat dan memimpin jalannya diskusi. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ciri-ciri pada setiap model pembelajaran pasti memiliki perbedaan dalam penjelasan Nurhadi (Suprihati, 2. pembelajaran kooperatif jigsaw ini memilki beberapa ciri-ciri diantaranya sebagai berikut : pertama, adanya kelompok yang dibentuk terdiri dari beberapa siswa yang mempelajari dan berdiskusi materi pelajaran yang telah ditentukan oleh guru. kedua, kelompok yang telah di bentuk terdiri dari dua kelompok inti, kelompok ahli dan kelompok asal. ketiga, setiap siswa yang termasuk anggota kelompok memiliki rasa tanggung jawab antar sesama anggota dan kelompoknya. keempat, siswa yang menjadi kelompok ahli akan menjelaskan materi kepada teman-teman nya yang termasuk kelompok Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 106 | Konsep dan Pengaplikasian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkat MI/SD kelima, siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab sama besar dengan anggota lain yang termasuk kelompok nya. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Penggunaan model pembelajaran merupakan suatu upaya guru untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang telah ditentukan, setiap model pembelajaran memiliki tujuan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Walgito dalam (Suprihati, 2. menjelaskan, terdapat beberapa tujuan dari pembelajaran jigsaw ini, antara lain yaitu: pertama, melatih dan membiasakan anak untuk bergaul dan berinteraksi dengan temanteman sebayanya. kedua, melatih bagaimana cara anak mengemukakan dan menerima pendapat dari teman nya. ketiga belajar secara berkelompok dan juga membantu mewujudkan tujuan pendidikan dan pengajaran di kelas. keempat, siswa belajar hidup bersama, sebagai latihan untuk nanti ketika siswa telah dewasa tidak mersakan canggung sehingga tidak kesulitan saat berada di dalam lingkup masyarakat yang lebih luas. menanamkan kepada diri siswa rasa gotong- royong, yang merupakan salah satu sifat dari bangsa Indonesia. Sedangkan menurut Rasmi (Djabba, 2. pembelajaran koperatif tipe jigsaw memiliki tujuan untuk mengembangkan kerja tim siswa sebagai kelompok belajar, keterampilan belajar, dan menguasai pengetahuan dan ilmu secara mendalam yang tidak mungkin dapat di peroleh jika siswa mencoba untuk mempelajari seluruh materi pelajaran yang ditentukan secara mandiri. Sehingga dapat dipahami bahwa tujuan dari pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini bukan hanya memberikan kemudahan dan mengembangkan potensi-potensi siswa dalam kognitif saat belajar di sekolah, melainkan juga menanamkan dan mengembangkan kemampuan dalam berinteraksi sosial dengan banyak orang untuk dijadikan sebagai bekal saat siswa telah menjadi elemen masyarakat yang sesungguhnya sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia. Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Jigsaw pada Proses Pembelajaran Pembelajaraan dapat menggunakan model pembelajaran jigsaw, efektivitas yang diberikan dalam mencapai tujuan pembelajaran memberikan sisi positif pada beberapa pelajaran yang menggunakan pembelajaran ini. Misalnya dalam pembelajaran IPS, mereka mendapatkan pengetahuan sesuai dengan capaian pembelajaran, siswa dilatih untuk dapat mengetahui dan memahami keberadaan mereka sebagai makhluk sosial yaitu bagaimana cara menjalin hubungan dan bertatakrama yang baik, sopan dan santun dengan sesama, menjalani kehidupan dengan rukun dan menghargai pendapat yang disampaikan oleh orang lain (Umar, 2. Adapun hasil yang berkaitan dengan hal ini terdapat dalam Donald Samuel (Santosa, 2. dampak positif pembelajaran jigsaw terhadap murid yaitu terjadinya peningkatan pada minat belajar siswa, meningkatknya motivasi belajar, siswa mulai bertanya dan menyampaikan gagasannya, percaya diri saat menyampaikan pendapatnya dan bertanggung jawab penuh sebagai siswa dalam mengikuti pembelajaran Penerapan model jigsaw dalam pelajaran bahasa Indonesia juga dapat digunakan, selain dapat sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Diki Heriwan dan Taufina (Heriwan & Taufina, 2. karena saat pembelajaran bahasa Indonesia sangat membutuhkan kreatifitas berfikir siswa dalam beberapa materi di dalam nya, sehingga diharapkan juga Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 107 dapat meningkatkan berfikir kritis dan kepercayaan diri siswa saat menyampaikan karangan atau karya yang telah dibuatnya dan tanggung jawab nya sebagai siswa dalam pembelajaran, mereka dapat menyelesaikan permasalah atau persoalan yang ditugaskan guru secara kolaboratif sehingga memudahkan mereka memahami materi atau konsep dari materi pelajaran yang diberikan tersebut. Begitu juga dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan terdapat materi multikulutural yakni sekelompok orang yang terdiri dari berbagai macam perbedaan, dengan menggunakan tipe jigsaw ini, akan melatih dan mengajak siswa untuk mengetahui maksud dari menerima segala perbedaan dari teman-teman nya dalam satu kelompok, mereka harus rukun untuk mempererat dan menjaga pertemanan yang telah terjalin (Ardiawan et al. diharapkan mereka dapat menjadi anggota masyarakat yang baik dan bijaksana dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa serta menjunjung tinggi falsafah pancasila dan semboyan AuBhineka Tunggal IkaAo yang mengandung makna berbeda-beda namun tetap satu. Pembelajaran matematika juga dapat diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini, seperti dalam beberapa hasil penelitian dalam (Anitra, 2. peningkatan hasil belajar dan prestasi siswa saat pembelajaran matematika dalam beberapa sub materi seperti perkalian bilangan tiga angka, pembagian bilangan tiga angka pada kelas 3 SD, kemudian materi KPK dan FPB pada kelas 4 SD, hal ini disebabkan karena meningkatnya pemikiran kritis matematis para siswa terhadap materi pembelajaran. Berpikir kritis ini menurut Ennis (Handayani, 2. mendefinisikan bahwa berpikir kritis adalah pemikiran yang reflektif dan masuk akal yang difokuskan pada apa yang diyakini untuk mengambil suatu keputusan. Siswa yang berfikir secara kritis maka dia akan mencari tahu cara, yang dapat dilakukannya untuk dapat menyelesaikan persoalan maupun permasalahan yang mereka hadapi, kemudian dijadikan pertimbangan dalam menentukan suatu keputusan untuk di pilih sebagai Demikian, bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini memberikan dampak positif terhadap proses penyampaian materi pada beberapa pelajaran di tingkat MI atau SD dan memberikan efek positif kepada siswa berupa, memberikan kemudahan dalam memahami dan dapat meningkatkan beberapa macam kemampuan, keterampilan, moral dan tingkah laku dalam lingkungan sosial, serta mengembangkan potensi yang telah di miliki siswa sebagai dasar. Namun tetap harus diingat hasil yang ditimbulkan tidak secara instan akan terlihat, melainkan secara bertahap akan tercapai dan terlihat hasil yang didapat. Keberhasilan suatu pembelajaran sangat tergantung pada kreativitas guru dalam mengelola lingkungan kelas yang dibimbing, karena guru tetap menjadi pilar utama dalam kegiatan belajar mengajar bagi para siswa. Walaupun model pembelajaran yang di pilih sangat baik, namun jika tidak dapat diterapkan dengan sempurna saat di kenyataan hanya akan sia-sia. KESIMPULAN Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran secara bersama dengan para siswa yang dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil yang bersifat heterogen untuk mencapai suatu tujuan secara bersama. Pembelajaran kooperattif memilki banyak model diantaranya pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, merupakan suatu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam lembaga pendidikan MI/SD terutama pada kelas atas. Pelaksanaan pembelajaran yang berbeda akan memberikan kesan dan pengalaman bagi siswa, sehingga akan meningkatnya semangat dan motivasi belajar siswa serta memperkecil timbulnya rasa bosan Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 108 | Konsep dan Pengaplikasian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkat MI/SD pada diri siswa. Peningkatan keaktifan siswa merupakan salah satu tujuan dan dasar dalam pelaksanaanya, dengan adanya pembelajaran jigsaw diharapkan dapat memberikan efek positif bagi siswa dalam melatih menyampaikan pendapat dihadapan orang banyak, berani bertanggung jawab atas keputusan, saling membantu sesama dalam menghadapi suatu kesulitan, meningkatkan jiwa sosial yang baik sehingga saat dewasa dapat menjadi kelompok masyarakat negara dan bangsa yang baik dan mengembangkan potensi-potensi yang telah di miliki siswa sebagai dasar pengembangan. DAFTAR PUSTAKA