Jurnal Tinta. Vol. 8 No. 1 (Maret, 2. , halaman 1- 11 Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Rumus Pegon bagi Santri Tingkat Pemula di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Banyuwangi Abdul Latif 1. Evi Nurhalimah 2 Universitas Al-Qolam Malang abdullatif24@pasca. evinurhalimah@alqolam. ABSTRACT Learning the kitab kuning . lassical Islamic text. in Islamic boarding schools . , especially at the beginner level, often faces obstacles in understanding Arabic texts and writing pegon meanings, which require precision and relatively long time. This condition affects the low efficiency of learning and limits the space for deepening the material. This study aims to develop teaching materials based on Rumus Makna Pegon (Pegon Meaning Formula. using the Research and Development (R&D) model with the ADDIE stages (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. , and to analyze the effectiveness of the resulting product for beginner students . antri pemul. at the Manbaul Ulum Islamic Boarding School in Banyuwangi. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation, then analyzed descriptively both qualitatively and quantitatively. The results show that the developed teaching materials are valid, practical, and effective in increasing students' speed and accuracy in writing meanings, helping systematic grammatical understanding, and supporting learning time efficiency. This study concludes that Rumus Makna Pegon is a relevant and applicable pedagogical innovation in learning kitab kuning in pesantren. Keywords: pegon. kitab kuning. teaching methods. research and development PENDAHULUAN Pembelajaran kitab kuning merupakan ciri khas utama pendidikan di pesantren dan menjadi fondasi penting dalam pembentukan kompetensi keilmuan santri, terhusus dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman klasik. Namun demikian, pembelajaran kitab kuning pada tingkat dasar sering menghadapi kendala, terutama bagi santri pemula yang belum memiliki kemampuan memadai dalam membaca teks Arab dan memahami struktur nahwu dan sharf. Kondisi ini menyebabkan proses pemaknaan kitab berjalan lambat dan kurang efektif, sehingga tujuan pembelajaran tidak selalu tercapai secara optimal (Zaini, 2. 1 Hal ini senada dengan pandangan KH. Hasyim Asy'ari . dalam Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim yang menegaskan bahwa ketiadaan metode yang sistematis dan bertahap akan menyulitkan santri pemula dalam mengawali perjalanan belajarnya, khususnya dalam mengurai teks Arab gundul 2. Salah satu aspek krusial dalam pembelajaran kitab kuning adalah kemampuan santri dalam menuliskan makna menggunakan aksara pegon. Penulisan makna pegon yang bersifat panjang dan detail menuntut ketelitian serta kecepatan yang tidak mudah dikuasai oleh santri pemula. Akibatnya, guru sering kali harus menyesuaikan ritme pembacaan kitab dengan kemampuan santri, yang berdampak pada berkurangnya efisiensi waktu pembelajaran. Fenomena ini sejalan dengan temuan penelitian Mulyani dan Rohman . yang menyebutkan bahwa metode pembelajaran kitab kuning konvensional cenderung kurang adaptif terhadap kebutuhan awal santri tingkat dasar. Dalam perspektif teori pembelajaran modern. Sugiyono . menjelaskan bahwa pendekatan yang berpusat pada peserta didik . earner-centere. dan berbasis kebutuhan kontekstual mereka adalah kunci efektivitas pembelajaran, prinsip yang juga selaras dengan tuntutan adaptasi di lingkungan pesantren. Berbagai upaya inovatif telah dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran kitab kuning, salah satunya melalui pengembangan bahan ajar yang lebih kontekstual dan sesuai dengan karakteristik santri pemula. Pengembangan bahan ajar berbasis kebutuhan peserta didik dinilai mampu meningkatkan keterlibatan belajar dan mempercepat penguasaan kompetensi dasar (Sanjaya, 2. Dalam konteks pesantren, inovasi bahan ajar tidak hanya dituntut sederhana, tetapi juga harus tetap menjaga akurasi keilmuan dan kesesuaian dengan kaidah bahasa Arab. Berdasarkan kondisi tersebut, pengembangan Rumus Makna Pegon menjadi alternatif strategis dalam pembelajaran kitab kuning bagi santri pemula. Rumus makna ini dirancang dalam bentuk singkatan dan simbol gramatikal yang merepresentasikan fungsi kata dalam struktur kalimat Arab, sehingga memudahkan santri dalam menuliskan makna secara ringkas tanpa menghilangkan unsur nahwu. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip scaffolding dalam pembelajaran, yang menekankan penyederhanaan tahap awal untuk membantu peserta didik memahami materi yang kompleks secara bertahap (Bruner, 1. 6 Prinsip ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menganalogikan proses belajar seperti memberi makan bayi. dimulai dengan makanan yang lunak dan mudah dicerna, sebelum diberikan makanan yang lebih keras. Demikian pula. Syekh Nawawi al-Bantani dalam karyanya menekankan 1 Zaini. Model pembelajaran kitab kuning bagi santri pemula di pesantren salaf. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 17. , 45Ae58. 2 AsyAoari. Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim. Pesantren Tebuireng. Mulyani. , & Rohman. Pembelajaran kitab kuning di pesantren: Tantangan dan inovasi metode Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 215Ae228. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D . th ed. Alfabeta. 5 Sanjaya. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana. 6 Bruner. The culture of education. Harvard University Press. pentingnya memulai pembelajaran nahwu dari konsep yang konkret dan visual sebelum masuk ke abstraksi kaidah yang rumit. Meskipun beberapa penelitian telah membahas inovasi pembelajaran kitab kuning, kajian yang secara khusus mengembangkan bahan ajar sistematis berbasis Rumus Makna Pegon dengan pendekatan R&D masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengisi celah penelitian . esearch ga. terkait pengembangan bahan ajar makna pegon yang terstruktur, teruji, dan aplikatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis Rumus Makna Pegon serta menganalisis validitas, kepraktisan, dan keefektifannya dalam pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Banyuwangi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan mengadopsi model pengembangan ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. Pemilihan model R&D ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pendekatan ini sangat cocok untuk menciptakan produk pendidikan yang inovatif sekaligus teruji secara empiris, sebagaimana ditegaskan oleh Borg & Gall . yang menyatakan R&D efektif untuk menyelesaikan masalah praktis di lapangan pendidikan. 8 Pada tahap Analysis, peneliti melakukan analisis kebutuhan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan santri, serta kajian dokumen untuk mengidentifikasi permasalahan pembelajaran kitab kuning, khususnya kesulitan santri dalam menulis makna pegon dan memahami struktur gramatikal bahasa Arab. Berdasarkan temuan analisis, pada tahap Design dirancang bahan ajar berbasis Rumus Makna Pegon dalam format tabel yang memuat simbol, posisi penulisan, kategori gramatikal, cara baca, dan contoh penerapan. Tahap Development melibatkan proses validasi oleh dua ahli, yaitu ahli materi (KH. Ahmad Ghozal. dan ahli media (Abdul Rou. , menggunakan instrumen angket dengan skala Likert. Proses validasi ini merupakan langkah krusial untuk menjamin kualitas Nana Syaodih Sukmadinata . menegaskan bahwa validasi oleh ahli yang kompeten merupakan syarat wajib dalam pengembangan bahan ajar untuk memastikan kelayakan isi, konstruk, dan kegunaan praktisnya. 9 Produk kemudian direvisi berdasarkan masukan validator hingga memenuhi kriteria validitas. Subjek penelitian terdiri dari 30 santri tingkat pemula dan 2 guru pengampu kitab kuning di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Banyuwangi, yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan karakteristik pembelajaran yang representatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif selama proses pembelajaran, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan santri, angket validasi ahli, angket respon pengguna . uru dan santr. , dokumentasi . ahan ajar dan hasil kerja santr. , serta tes kemampuan menulis makna yang diberikan sebelum dan sesudah penggunaan bahan ajar. Tahap Implementation dilakukan dengan mengujicobakan produk dalam pembelajaran nyata selama empat pertemuan, sementara peneliti melakukan observasi dan Pada tahap Evaluation, data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur kepraktisan dan keefektifan bahan ajar. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan model 7 Nawawi al-Bantani. Syarah Kasyifatus Saja. Dar al-Kutub al-Islamiyah. 8 Borg. , & Gall. Educational Research: An Introduction . th ed. Longman. 9 Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan. Remaja Rosdakarya. elalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpula. dan secara kuantitatif dengan statistik deskriptif untuk menghitung persentase validitas, kepraktisan, serta peningkatan kemampuan santri dalam kecepatan dan ketepatan menulis makna. Triangulasi sumber dan metode digunakan untuk memastikan keabsahan data, sehingga penelitian ini menghasilkan produk bahan ajar yang tidak hanya inovatif tetapi juga teruji secara empiris. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian pengembangan bahan ajar berbasis Rumus Makna Pegon dilakukan melalui tahapan ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. Hasil dari setiap tahap diuraikan sebagai berikut: Analisis Kebutuhan Tahap analisis kebutuhan mengungkapkan disparitas antara tujuan pembelajaran kitab kuning dan realitas kompetensi santri pemula di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Banyuwangi. Observasi partisipatif dan wawancara semi-terstruktur mendokumentasikan tiga temuan Pertama, sebanyak 85% populasi santri mengalami kesulitan dalam memproduksi makna pegon secara cepat dan akurat, dengan rata-rata waktu penulisan mencapai 14 menit per paragraf teks dasar. Kedua, defisit pemahaman gramatikal teridentifikasi pada 78% responden, yang berdampak pada ketidaktepatan penempatan makna sesuai fungsi sintaksis. Ketiga, implikasi pedagogis dari kondisi tersebut adalah teralokasikannya sekitar 40% waktu pembelajaran untuk aktivitas waiting time, di mana pengajar harus menunggu penyelesaian penulisan makna sebelum melanjutkan eksplanasi materi. Temuan ini mengkonfirmasi adanya instructional gap yang memerlukan intervensi berbasis scaffolding gramatikal dan notasi yang terstandarisasi. Hasil Design (Desain Produk Awa. Berdasarkan peta kebutuhan tersebut, dirumuskan suatu kerangka desain bahan ajar yang mengadopsi pendekatan symbolic scaffolding. Produk awal direpresentasikan dalam format matriks 27 rumus makna pegon yang terstruktur secara multimodal. Setiap entri rumus memuat lima dimensi informasional: . simbol grafis berbasis aksara Arab-Pegon . eperti A IAuntuk mubtadaA. , . posisi penulisan relatif terhadap teks sumber . tas, bawah, atau dalam tanda peti. , . kategori gramatikal sesuai taksonomi nahwu-syaraf, . konvensi fonetik cara baca dalam sistem Pegon, dan . contoh kontekstual dari kalimat atau ayat Arab. Desain ini mengintegrasikan prinsip chunking information dan visual grammar, yang memungkinkan santri melakukan parsing struktur kalimat melalui representasi simbolik yang terstandarisasi, bukan melalui reproduksi makna verbal yang Hasil Development (Validasi Produ. Prototipe bahan ajar tersebut menjalani proses validasi eksternal oleh dua ahli independen. Ahli materi (KH. Ahmad Ghozal. memberikan penilaian pada aspek kesesuaian konten dengan kurikulum pesantren, kejelasan rumus, dan potensi peningkatan kecepatan pemahaman. Sementara ahli media (Abdul Rou. mengevaluasi aspek desain presentasi, kemudahan penggunaan, dan daya tarik visual. Data kuantitatif menunjukkan skor validasi yang tinggi dengan rata-rata agregat 4,72 . Secara kualitatif, validator merekomendasikan penyempurnaan pada diversifikasi contoh kalimat dan penambahan latihan drill untuk mengakomodasi variasi kemampuan santri. Revisi produk dilakukan secara iteratif hingga memenuhi kriteria validitas isi, konstruk, dan media, sehingga produk dinyatakan siap untuk tahap uji empiris. Tabel 1. 1 Rekapitulasi Skor Rata-rata Validasi. Aspek Penilaian Efektivitas Efisiensi Daya Tarik Rata-rata Ahli Materi 4,83 Ahli Media Rata-rata 4,75 4,72 Tabel ini merepresentasikan konvergensi penilaian antara otoritas keilmuan tradisional . hli mater. dan kompetensi teknis modern . hli medi. Skor rata-rata 4,72 bukan sekadar angka statistik, melainkan penanda legitimasi epistemik bahwa produk ini berhasil menjembatani dua ranah yang sering dianggap berseberangan: kesakralan kaidah gramatikal Arab dan efisiensi desain pembelajaran kontemporer. Efisiensi meraih skor tertinggi . , mengisyaratkan bahwa produk tidak hanya "benar secara ilmiah" tetapi juga "praktis secara operasional". Hal ini mencerminkan sebuah terobosan dalam ekosistem pesantren, di mana materi pembelajaran seringkali diukur dari kedalaman (A)uCIA namun kurang memperhatikan aspek aksesibilitas kognitif. Tingginya skor daya tarik . juga patut dicermati menunjukkan bahwa rumus simbolik ini berhasil mentransformasi materi yang dianggap "kering" . ahwu-shar. menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika dan engagement Perbedaan kecil antara ahli materi . dan ahli media . justru mengungkap dialektika yang produktif: sang ahli pesantren melihat kelayakan substansial-tekstual, sementara ahli media menyoroti potensi penyempurnaan pada aspek penyajian. Ini adalah contoh nyata bagaimana validasi interdisipliner dapat memperkaya kualitas produk pengembangan. Hasil Implementation (Uji Coba Terbata. Implementasi produk dalam setting pembelajaran aktual selama empat pertemuan menunjukkan dinamika perubahan yang signifikan. Observasi mengungkapkan bahwa santri mengadopsi rumus makna pegon sebagai cognitive toolkit yang memandu proses dekoding teks. Terjadi reduksi waktu produksi makna sebesar 50% . ari 14 menit menjadi 7 menit per paragra. , yang mengindikasikan peningkatan automaticity dalam pemrosesan gramatikal. Di sisi pedagogis, pengajar dapat mentransformasi peran dari text explainer menjadi discussion facilitator, dengan alokasi waktu yang lebih besar untuk eksplorasi konteks, diskusi interpretatif, dan pendalaman materi. Pergeseran ini sejalan dengan prinsip student-centered learning dan efisiensi pembelajaran berbasis time-on-task. Tabel 1. rekapitulasi perubahan yang teramati selama uji coba terbatas Aspek yang Diamati Waktu Penulisan Makna per Paragraf Sebelum Implementasi Setelah Implementasi Perubahan 14 menit 7 menit Berkurang 50% Peran Guru Sebagai text explainer . enjelas tek. Sebagai discussion facilitator . asilitator diskus. Pergeseran peran Fokus Pembelajaran Menunggu santri menulis Diskusi kontekstual dan pendalaman materi Keterlibatan Santri Terfokus pada penulisan Aktif dalam diskusi dan tanya jawab Peningkatan interaksi dan Meningkatnya Tabel ini menunjukkan perubahan signifikan dalam proses pembelajaran kitab kuning setelah penerapan Rumus Makna Pegon. Waktu penulisan makna per paragraf berkurang setengahnya, dari 14 menit menjadi hanya 7 menit, yang mencerminkan peningkatan efisiensi yang Peran guru bergeser dari sekadar menjelaskan teks menjadi memfasilitasi diskusi yang lebih Fokus pembelajaran juga berubah dari menunggu santri menulis makna menjadi lebih banyak dialog kontekstual dan pendalaman materi. Keterlibatan santri meningkat, dengan partisipasi yang lebih aktif dalam tanya jawab dan diskusi. Secara keseluruhan, tabel ini menggambarkan transformasi pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisien, dan bermakna setelah penggunaan rumus pegon sistematis. Hasil Evaluasi Kepraktisan dan Keefektifan Evaluasi produk dilakukan melalui triangulasi data kuantitatif dan kualitatif. Analisis angket respon pengguna mengungkapkan tingkat kepraktisan yang tinggi, dengan 92% santri menyatakan kemudahan penggunaan dan 88% guru mengonfirmasi utilitas bahan ajar dalam mendukung proses instruksional. Uji paired-sample t-test terhadap data pretest-posttest menunjukkan peningkatan signifikan pada tiga indikator efektivitas: kecepatan menulis makna . eningkatan 41,7%), ketepatan makna gramatikal . %), dan pemahaman struktur nahwu . %). Temuan ini mengonfirmasi bahwa rumus makna pegon berfungsi tidak hanya sebagai mnemonic device, tetapi juga sebagai metacognitive scaffold yang meningkatkan kesadaran gramatikal . ahwu consciousnes. Efek tersebut konsisten dengan teori cognitive load theory, di mana representasi simbolik mengurangi beban kognitif pada memori kerja, sehingga sumber daya mental dapat dialihkan kepada pemrosesan makna yang lebih mendalam. Tabel 1. 1 Prosentase peningkatan dari sebelum dan sesudah penerapan rumus. Kemampuan Kecepatan Menulis Ketepatan Makna Pemahaman Gramatikal Pretest (Rata-rat. 12 menit/ paragraf Posttest (Rata-rat. 7 menit/ paragraf Peningkatan 41,7% Tabel ini adalah bukti empiris transformatif yang mengkonkretkan dampak pedagogis dari rumus Pegon. Setiap persentase peningkatan menyimpan narasi perubahan yang lebih dalam: Kecepatan Menulis Makna ( 41,7%): Pengurangan waktu dari 12 menjadi 7 menit bukan sekadar efisiensi mekanis. Ini mencerminkan pergeseran dari pemrosesan sadar . ontrolled processin. menuju otomatisitas . dalam dekoding teks Arab. Santri tidak lagi "menghitung" setiap harakat dan posisi, tetapi telah menginternalisasi pola gramatikal melalui simbol visual. Ketepatan Makna ( 21%): Angka ini mengisyaratkan bahwa rumus Pegon berfungsi sebagai scaffolding struktural yang mencegah drift semanticAipenyimpangan makna akibat ketidakpahaman fungsi sintaksis. Peningkatan ini sangat signifikan mengingat akurasi makna adalah jantung dari pembelajaran kitab kuning. Pemahaman Gramatikal ( 24%): Ini adalah indikator paling substantif, karena menunjukkan bahwa rumus ini tidak hanya alat bantu teknis, tetapi juga katalis pemahaman konseptual. Santri tidak sekadar "menyalin simbol", tetapi mulai membangun mental grammar bahasa Arab melalui representasi visual yang sistematis. Ketiga peningkatan ini saling berkorelasi dan membentuk siklus pembelajaran yang positif: pemahaman gramatikal yang lebih baik Ie ketepatan makna yang meningkat Ie kecepatan penulisan yang bertambah Ie waktu lebih banyak untuk pendalaman Ie pemahaman yang semakin Sebagai kristalisasi dari keseluruhan proses desain dan pengembangan, produk akhir penelitian ini hadir dalam bentuk matriks rumus Pegon yang komprehensif. Tabel 1. 2 berikut memvisualisasikan 27 rumus inti yang dikembangkan, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat notasi gramatikal, tetapi juga merupakan perwujudan dari pendekatan symbolic scaffolding yang diintegrasikan ke dalam pembelajaran kitab kuning. Setiap baris dalam tabel ini merupakan satu kesatuan pedagogis yang menghubungkan simbol, posisi, bunyi, fungsi, dan konteks nyataAi sebuah peta jalan yang memandu santri pemula dalam mengarungi kompleksitas teks Arab. Tabel 1. 2 Rumus pegon Rumus Posisi Cara Baca AIA a a AIAA AIA AIA a AIA AOA AEA AIA AIA AIAA AIAA AuEA AAIA Atas Au Bawah Au AuNA AoA AuOEOA a a AuA AIA AEEOIA AEIA AEIA AEA AEA AOAIA AOIA AEA AIIA AIEA AEOOA AIO A AAIA AeOIA AOA AOENA A AA-a ANA AE A AAOE NEE EOA AOEIA AuINA Kategori Gramatikal AIA AAE CEA A CEA AAE A AIAOE NA AIAOE INA AIAOE IECA AIAOE AONA AIAOE EENA AAEA AIA AEA AOIA AEA AOA AOA AEEIEEA a AA AIOA AI IA AOA AIAA AIAOA AIA Hingga akhir Sholawat Contoh Penerapan a Aa NA AacEE EA ANEE E a aA ACI eOA a A a eEA aA A O a eI UOA A aOEI eO aEA e aA A AA U ea AA EOEA a e a AOE CEO OEEI aO uIECA a AAIEO I aA A EEIA a ea A O EE aO aIA A O aA ACI O AA a aI aA A O a aEA aea eaa AOII EOIO OEEI EIO OEO EII A O IOA a a AA AI A au eI COA AOu EE OA ANA AacEEA a a AEIA AO ECEI aE a eOA AI O eOA a ca a AAEI IN E uEN E NEEA AEE IA aA aI E NOIA AaOaE OIE COENIA e e a a ea A EEIA AOI AO aIO A aAEI eEI e A AOA AOI II a a a A AI NEE uEA ACE EII A IA Akhir dawuh A uNA. ACE EIAIAA Tabel ini adalah masterpiece desain pedagogis yang mengkristalisasi kompleksitas gramatikal Arab ke dalam sistem notasi yang elegan dan fungsional. Setiap kolomnya membentuk sebuah ekologi makna yang saling terhubung. Kolom "Rumus": Simbol-simbol Arab-Pegon (A AA,A A,AIA, dst. ) berfungsi sebagai kode grafis yang memadatkan informasi gramatikal. Ini adalah contoh sempurna ekonomi linguistikAisatu karakter mewakili satu fungsi sintaksis lengkap. Kolom "Posisi": Sistem penempatan . tas, bawah, peti. menciptakan dimensi spasial dalam membaca teks. Ini mengajarkan santri untuk membaca secara multidirectionalAi tidak hanya horizontal tetapi juga vertikal, sebuah keterampilan kritis dalam memahami struktur tarkb. Kolom "Cara Baca": Transkripsi fonetik Pegon . eperti "A "oAuntuk A)IA menunjukkan komitmen pada tradisi lokal sekaligus adaptasi pedagogis. Sistem ini menjaga rantai transmisi keilmuan . snad pedagogi. sambil membuatnya lebih . Kolom "Kategori Gramatikal": Taksonomi fungsional (A AEA,A A,AIA, dst. ) yang ditampilkan dalam aksara Arab adalah pernyataan filosofis: inovasi metodologi tidak berarti meninggalkan terminologi orisinal. Ini adalah hibridisasi yang respectful terhadap epistemologi asli. Kolom "Contoh Penerapan": Setiap rumus diikat dengan konteks nyata dari ayat atau kalimat Arab. Ini mencegah pembelajaran menjadi abstrak dan terisolasi. Misalnya, rumus "A "IAtidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi langsung diterapkan dalam kalimat "AAi" a NacEEa EAmenghubungkan teori gramatikal dengan realitas tekstual PEMBAHASAN Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar berbasis Rumus Makna Pegon melalui model R&D ADDIE telah menghasilkan produk yang valid, praktis, dan Dari perspektif teori pengembangan, tahapan ADDIE memungkinkan produk dikembangkan secara sistematis dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan (Branch, 2. Hasil validasi ahli yang mencapai skor rata-rata 4,72 mengindikasikan bahwa produk memenuhi standar kelayakan isi, bahasa, dan desain, serta relevan dengan konteks pembelajaran pesantren. Dari sisi pedagogis, penggunaan simbol dan singkatan dalam rumus makna berfungsi sebagai scaffolding yang membantu santri memahami struktur kalimat Arab secara bertahap. Hal ini sejalan dengan teori Bruner . tentang penyederhanaan representasi konsep dalam pembelajaran awal, yang juga diperkuat oleh prinsip at-tadrij fi at-ta'lim . embelajaran bertaha. dalam tradisi keilmuan Islam (Al-Zarnuji, 2. 11 Pendekatan bertahap ini sangat ditekankan oleh Imam Al-Ghazali yang menyamakan guru yang baik dengan seorang dokter yang memberikan obat sesuai dengan kondisi dan tingkat penyakit pasiennya. Dalam konteks nahwu. Prof. Dr. Ramzi Munir Baalbaki . menjelaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap tarkb . truktur kalima. merupakan fondasi yang tidak dapat diabaikan sebelum melangkah ke penafsiran makna, sebuah prinsip yang dipegang kuat oleh para ulama nahwu klasik. 12 Dengan rumus ini, santri tidak lagi terbebani oleh penulisan makna panjang, sehingga energi kognitif dapat dialihkan untuk memahami fungsi gramatikal dan konteks teks, sebagaimana ditegaskan oleh ulama nahwu klasik seperti Ibnu Malik dalam karyanya Alfiyyah yang menekankan pentingnya pemahaman struktur . sebelum masuk ke pendalaman makna. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan signifikan dalam kecepatan dan ketepatan menulis Ini mengonfirmasi temuan Zaini . bahwa format makna ringkas dapat mempercepat proses membaca kitab kuning. Namun, penelitian ini melangkah lebih jauh dengan tidak hanya 10 Branch. Instructional design: The ADDIE approach. Springer. 11 Al-Zarnuji. TaAolm al-MutaAoallim arq at-TaAoallum. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 12 Baalbaki. The Arabic Linguistic Tradition. Georgetown University Press. menyediakan format ringkas, tetapi juga mengembangkannya secara sistematis melalui pendekatan R&D, sehingga produk yang dihasilkan teruji validitas dan efektivitasnya. Pendekatan ini juga selaras dengan pandangan KH. Hasyim AsyAoari dalam Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim yang menekankan pentingnya metodologi yang jelas dan adaptif dalam pembelajaran kitab kuning. Kontribusi praktis dari penelitian ini adalah tersedianya bahan ajar terstruktur yang dapat langsung digunakan oleh guru pesantren. Guru tidak perlu lagi menyusun rumus secara mandiri, sehingga waktu persiapan mengajar dapat dikurangi. Selain itu, dengan efisiensi waktu yang dicapai, pembelajaran dapat difokuskan pada pendalaman materi dan diskusi kontekstual, sesuai dengan prinsip pembelajaran yang bermakna (Sanjaya, 2. dan sejalan dengan metode mudzakarah . yang telah lama menjadi ciri khas pembelajaran pesantren (Azhar, 14 Hal ini merupakan bentuk konkret dari seruan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Du. agar pesantren mampu mengadaptasi metode pembelajaran tanpa kehilangan ruhnya. Beliau melihat bahwa efisiensi waktu dan pendalaman diskusi adalah dua hal yang harus berjalan beriringan dalam modernisasi pendidikan pesantren. Dalam perspektif ulama kontemporer. Prof. Dr. Quraish Shihab . menegaskan bahwa inovasi dalam pembelajaran kitab kuning harus tetap berpegang pada kaidah ilmu alat yang benar, namun terbuka terhadap bentuk penyajian yang lebih mudah dipahami. Pernyataan serupa disampaikan oleh KH. Said Aqil Siroj . yang menegaskan bahwa digitalisasi dan penyederhanaan metode harus menjadi alat, bukan tujuan, untuk menjaga otentisitas dan kedalaman ilmu. Rumus Makna Pegon yang dikembangkan dalam penelitian ini memenuhi kedua aspek tersebut: tetap menjaga akurasi gramatikal, namun menyajikannya dalam bentuk yang sederhana dan sistematis. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berhasil mengembangkan produk inovatif, tetapi juga memberikan model pengembangan bahan ajar yang dapat direplikasi di pesantren lain. Implikasinya. Rumus Makna Pegon dapat diadopsi sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran kitab kuning tingkat pemula, dengan penyesuaian sesuai konteks masing-masing pesantren, sekaligus menjawab tantangan pembelajaran kitab kuning di era modern sebagaimana diungkapkan oleh Mulyani & Rohman . KESIMPULAN Pengembangan bahan ajar berbasis Rumus Makna Pegon melalui model R&D ADDIE telah menghasilkan produk yang valid, praktis, dan efektif bagi santri pemula di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Banyuwangi. Produk ini terbukti mampu meningkatkan kecepatan penulisan makna sebesar 41,7%, ketepatan makna gramatikal sebesar 21%, serta pemahaman struktur nahwu sebesar 24%. Selain berfungsi sebagai alat bantu teknis, rumus ini juga berperan sebagai scaffolding pedagogis yang memfasilitasi pemahaman bertahap terhadap struktur bahasa Arab, sekaligus 13 Zaini. Model pembelajaran kitab kuning bagi santri pemula di pesantren salaf. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 17. , 45Ae58. 14 Azhar. Pembelajaran nahwu dan sharaf dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri Jurnal Pendidikan Islam, 7. , 123Ae136. 15 Wahid. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. LKiS. 16 Shihab. Membumikan al-QurAoan: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Mizan. 17 Mulyani. , & Rohman. Pembelajaran kitab kuning di pesantren: Tantangan dan inovasi metode Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 215Ae228. mendukung efisiensi waktu pembelajaran dan memungkinkan pendalaman materi yang lebih Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar lembaga pesantren mengintegrasikan bahan ajar ini ke dalam kurikulum pembelajaran kitab kuning tingkat pemula, disertai pelatihan singkat bagi pengajar untuk memastikan penerapan yang optimal. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dikembangkan versi digital atau interaktif dari rumus ini serta melakukan uji coba lebih luas di berbagai pesantren untuk menguji generalisasi dan dampak jangka panjangnya. Model pengembangan R&D ADDIE dalam penelitian ini juga dapat diadopsi untuk inovasi pembelajaran lain yang berbasis kebutuhan kontekstual pesantren. DAFTAR RUJUKAN Azhar. Pembelajaran nahwu dan sharaf dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 7. , 123Ae136. Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin. Dar al-Minhaj. Wahid. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. LKiS. Baalbaki. The Arabic Linguistic Tradition. Georgetown University Press Branch. Instructional design: The ADDIE approach. Springer. Bruner. The culture of education. Harvard University Press. Borg. , & Gall. Educational Research: An Introduction . th ed. Longman. Mulyani. , & Rohman. Pembelajaran kitab kuning di pesantren: Tantangan dan inovasi metode pembelajaran. Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 215Ae228. Sanjaya. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana. Siroj. Pesantren dan Tantangan Modernitas. Pustaka Pesantren. Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan. Remaja Rosdakarya. Zaini. Model pembelajaran kitab kuning bagi santri pemula di pesantren salaf. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 17. , 45Ae58. Al-Zarnuji. TaAolm al-MutaAoallim arq at-TaAoallum. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. AsyAoari. Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim. Pesantren Tebuireng. Shihab. Membumikan al-QurAoan: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Mizan. Ibnu Malik. Alfiyyah Ibnu Malik. Dar al-Minhaj. Nawawi al-Bantani. Syarah Kasyifatus Saja. Dar al-Kutub al-Islamiyah. Fathoni. Inovasi Pembelajaran Nahwu-Sharaf di Pesantren: Studi terhadap Penggunaan Media Simbolik. Jurnal Pendidikan Islam, 11. , 78Ae92. Ridwan. Metodologi Pembelajaran Kitab Kuning: antara Tradisi dan Inovasi Digital. Jurnal Kajian Pesantren, 5. , 145Ae160. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D . th ed. Alfabeta.