Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 Kompetensi Universitas Balikpapan ETOS KERJA DALAM AL-QURAoAN SEBAGAI PILAR PRODUKTIVITAS DALAM PERSPEKTIF WAHYU DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 Sekolah Tinggi Agama Islam DDI Pinrang1. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar2,3 pos-el: muhammadmukhtar@staiddi-pinrang. id1, muhammadyusuf@uin-alauddin. mardan@uin-alauddin. ABSTRAK Etos kerja merupakan faktor strategis dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Dalam masyarakat Muslim. Al-QurAoan berperan sebagai sumber nilai yang membentuk sikap, motivasi, dan perilaku kerja. Namun, dalam realitas sosial, nilai-nilai etos kerja QurAoani belum sepenuhnya terinternalisasi sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas, integritas dan kedisiplinan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep etos kerja dalam Al-QurAoan sebagai pilar produktivitas dalam perspektif wahyu serta mengkaji implementasinya dalam bidang pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui tafsir tematik . audhuAo. Data diperoleh dari ayat-ayat Al-QurAoan yang berkaitan dengan kerja, didukung oleh tafsir klasik dan kontemporer serta literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja QurAoani tidak hanya menekankan aspek teknis dan material, tetapi juga memuat dimensi spiritual, moral, dan sosial sebagai fondasi produktivitas dan profesionalitas. Kerja dipahami sebagai bagian dari ibadah, manifestasi keimanan, dan sarana aktualisasi potensi manusia sebagai khalifah di bumi. Nilainilai itqan, ihsan, amanah, istiqamah, dan taAoawun menjadi kerangka normatif produktivitas yang adil dan berkelanjutan. Kesimpulan penelitian ini bahwa etos kerja QurAoani merupakan alternatif konstruktif atas krisis etika kerja modern dan relevan untuk diimplementasikan secara holistik dalam pendidikan. Kata kunci : etos kerja, al-QurAoan, produktivitas, perspektif wahyu, pendidikan. ABSTRACT Work ethic is a strategic factor in improving productivity and the quality of human resources. Muslim societies. However, these QurAoanic values have not been fully internalized in social practice, resulting in low productivity, integrity, and work discipline. This study aims to examine the concept of work ethic in the QurAoan as a pillar of productivity from a revelatory perspective and its implementation in education. Using a qualitative library research method with a thematic interpretation approach, data were collected from relevant QurAoanic verses, supported by classical and contemporary exegesis and scholarly literature, and analyzed through content analysis. The findings reveal that the QurAoanic work ethic emphasizes not only technical and material aspects but also spiritual, moral, and social dimensions as the foundation of productivity and professionalism. Work is understood as an act of worship, an expression of faith, and a means of actualizing human potential as GodAos vicegerent on earth. Values such as itqAn, iusAn, amAnah, istiqAmah, and taAoAwun form a normative framework for just and sustainable productivity. The study concludes that the QurAoanic work ethic offers a constructive alternative to the modern ethical crisis and is relevant for holistic implementation in education. Keywords: Work ethic, the QurAoan. Productivity. Revelatory perspective. Education. Vol. No. Juni 2026 Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi, tantangan peningkatan produktivitas menjadikan etos kerja sebagai isu sentral dalam pembangunan manusia dan bangsa. Dalam konteks masyarakat yang beragama, nilai-nilai agama berpotensi kuat membentuk sikap kerja, motivasi, dan praktik produktivitas (Gustiawan. Etos kerja merupakan salah satu unsur penentu dalam perkembangan peradaban manusia. Dalam perspektif global, masyarakat atau negara yang memiliki semangat kerja yang kuat umumnya mampu meraih peningkatan ekonomi dan kemajuan sosial yang lebih nyata (Max Weber, 2. Sebagai negara yang berpenduduk muslim. Indonesia memiliki peluang yang luas untuk membangun etos kerja yang bertumpu pada nilai-nilai ajaran Islam. Kualitas sumber daya manusia masyarakat sangat dipengaruhi oleh etos kerja sebagai salah satu faktor penting. Suatu negara tidak hanya mengandalkan kekayaan sumber daya untuk mencapai teknologinya, akan tetapi oleh karakter dan budaya kerja yang dianut oleh penduduknya (Nashrudin Setiawan. Dalam realitas kebangsaan yang didominasi oleh pemeluk agama Islam. Al-QurAoan memiliki peran mendasar mengarahkan perilaku, termasuk dalam kaitannya tentang bekerja dan berusaha. Prinsip kerja yang digali dari ajaran AlQurAoan memberikan landasan spiritual, etnis, dan moral yang kuat untuk umat Islam dalam membangun sikap kerja yang produktif, bertanggung jawab, dan disiplin (Abbas J. Ali, 2. Al-QurAoan memosisikan aktivitas kerja sebagai komponen penting bagi pengabdian kepada Allah swt. Dalam bekerja tidak semata-mata diposisikan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan melainkan juga dimaknai sebagai ibadah serta perwujudan amanah dan tanggung jawab yang diemban sebagai khalifah di bumi. Sebagai landasan normatif, dalam QS. Al-JumuAoah/62: 10 yang memerintahkan manusia untuk meraih karunia Allah SWT. , setelah melaksanakan ibadah (Shihab, 2. Selanjutnya, menurut Ibn Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa dalam bekerja manusia harus bersungguh-sungguh setelah menunaikan ibadah dalam rangka mencari rezki secara halal adalah bentuk ketaatan yang bernilai Studi Nata dkk. memosisikan etos kerja QurAoani sebagai kerangka nilai untuk menghadapi disrupsi pendidikan abad ke-21 . eknologi, globalisasi, kritis/kolaborasi/literasi digita. , dengan penekanan bahwa etos kerja QurAoani bukan sekadar etika individual tetapi pendidikan kontemporer (Nata et al. Sejalan dengan itu. Mashuri dkk. juga menautkan etos kerja dan karakter berbasis wawasan Al-QurAoan dengan tuntutan era digital, sehingga isu etos kerja dipahami sebagai integrasi nilai spiritual-etik profesional adaptif (Mashuri et al. Meskipun berbagai kajian telah mengulas etos kerja dalam Al-QurAoan normatif-teologis pembentukan karakter dan nilai moral, masih terdapat keterbatasan penelitian yang secara sistematis menghubungkan konsep etos kerja QurAoani berbasis wahyu dengan indikator produktivitas yang terukur dan implementatif dalam praktik pendidikan. Belum banyak penelitian yang merumuskan model konseptual dan operasional yang menjembatani nilainilai etos kerja dalam Al-QurAoan . dengan strategi implementasi Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 pendidikan serta dampaknya terhadap produktivitas pendidik dan peserta Hal ini menunjukkan bahwa dalam perspektif wahyu, orientasi kerja antara dimensi spiritual dan material. Dalam hal ini, etos kerja dalam pandangan agama (Isla. memiliki nilai ilahiyah dan menekankan sikap kejujuran, kesungguhan, kerja kerja, ketekunan, dan menghindari kemalasan serta keputusasaan. Maka dari itu, rumusan indikator yang spesifik tentang etos kerja QurAoani sebagai basis dari living QurAoan serta dalam konteks pendidikan, yaitu . berorientasi amal/kerja sebagai ibadah . eaningful wor. , kerja dipahami sebagai AuamalAy yang bernilai religius dan menjadi bagian dari identitas etos kerja Islam (QurAoan. (Mela & Zilsafil. Sundosia et al. , 2023. Wakka, 2. , . akuntabilitas dan transparansi kinerja . ork visibility/accountabilit. , pekerjaan dipandang Auterlihat/ternilaiAy . iawasi moral-spiritua. , sehingga mendorong tanggung jawab, konsistensi, dan keseriusan dalam pelaksanaan tugas (Mela & Zilsafil. Sundosia et al. , 2. , . komitmen pada kualitas dan integritas . hsan/integrity orientatio. , etos kerja QurAoani dalam konteks pendidikan abad 21 ditekankan untuk membangun integritas, bukan hanya performa akademik, sehingga kualitas kerja terkait erat dengan karakter (Mashuri et , 2025. Nata et al. , 2. , . ketekunan dan ketahanan menghadapi perubahan . daptive perseveranc. , disrupsi pendidikan/transformasi digital menuntut ketekunan yang adaptif, etos kerja QurAoani dibingkai sebagai daya dorong nilai untuk tetap produktif dan relevan (Mashuri et al. , 2025. Nata et , 2. , . keseimbangan orientasi dunia dan akhirat . ntegrative purpos. , kerja keras untuk kesejahteraan tidak Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan indikatornya tampak pada tujuan kerja atau belajar yang tidak semata-mata material atau nilai rapor, tetapi juga kebermaknaan moral (Nata et al. , 2025. Wakka, 2. Fenomena yang terdapat dalam realitas sosial, nilai-nilai etos kerja yang bersumber dari wahyu dapat dikatakan belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sebagian umat. Masih banyak yang didapatkan sikap kerja yang tidak produktif, seperti kurang disiplin, rendahnya komitmen terhadap kualitas, serta minimnya produktivitas dan sikap tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan (Gunawan & Sari, 2. Selain itu, tantangan umat Islam masa kini adalah terjadinya pemisahan antara dimensi spiritual dan aspek material dalam kehidupan, sehingga nilai-nilai keagamaan kurang menjadi dasar dalam membangun motivasi kerja (Nasr. Hal ini sejalan dengan temuan Sa'adah. Kosim, dan Masyhudi yang menegaskan bahwa "pendidikan Islam kontribusi positif terhadap pembentukan intelektualitas dan spiritualitas, yang diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat" (Sa'adah et , 2. Maka, akibatnya fenomena ini berdampak pada rendahnya daya saing, baik dalam ranah pembangunan masyarakat maupun dunia kerja. Maka dari itu, dibutuhkan upaya pengkajian mendalam dan komprehensif untuk menggali kembali konsep etos kerja Al-QurAoan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Studi tentang etos kerja dalam Al-QurAoan mampu memberikan kontribusi teoritis dan praktik. Secara teoretis, khazanah keilmuan dalam bidang studi Al-QurAoan diperkaya melalui penelitian ini dan Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 Islam. Adapun secara praktik, penelitian ini menjadi rujukan dalam pembinaan moral dan budaya kerja di lingkungan pendidikan maupun pada institusi sosial Dengan demikian, kajian tentang etos kerja dalam Al-QurAoan: pilar produktivitas dalam perspektif wahyu menjadi relevan untuk dikaji, khususnya dalam membangun generasi yang tidak sekedar beriman namun juga memiliki sikap integritas kerja dan kontribusi nyata dalam masyarakat dalam membangun umat dan bangsa. Penelitian menganalisis konsep etos kerja dalam Al-QurAoan sebagai pilar produktivitas dalam perspektif wahyu serta mengkaji METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam jenis menfokuskan kajian pada sumbersumber literatur, terutama dalil-dalil AlQurAoan yang berhubungan dengan semangat dan sikap kerja, serta tafsir dan karya-karya ilmiah yang relevan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan . ontent Pendekatan yang digunakan melalui pendekatan tafsir tematik . audhuAo. , yaitu dengan mengumpulkan dan mengkaji semua teks Al-QurAoan yang berkaitan dengan tema etos kerja. Sumber datanya berupa data primer dan sekunder. Data primer berupa AlQurAoan sebagai sumber wahyu utama yang dianalisis melalui ayat-ayat yang berkaitan dengan etos kerja, amal, tanggung jawab, dan produktivitas, dengan pendekatan tafsir tematik . audhuAo. Pemahaman terhadap ayatayat tersebut diperkuat melalui rujukan pada kitab-kitab tafsir muAotabarah, baik klasik maupun kontemporer, guna Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan memperoleh makna yang komprehensif dan kontekstual. Data sekunder meliputi buku, artikel jurnal ilmiah, hasil penelitian terdahulu, serta literatur akademik lain yang relevan dengan kajian etos kerja QurAoani, produktivitas, dan implementasinya dalam pendidikan. Seluruh sumber tersebut dianalisis kualitatif-deskriptif membangun kerangka konseptual etos kerja dalam Al-QurAoan sebagai pilar produktivitas pendidikan. Langkah analisisnya mengikuti tafsir tematik yang dikembangkan oleh Abdul Hay al-Farmawi, menentukan kajian secara spesifik, mengintervensi ayat yang relevan, menyusun ayat secara kronologis, muhasabah, menganalisis penafsiran dari berbagai mufassir, menarik relevansi ayat dalam konteks masa kini dan menarik kesimpulan secara komprehensif (Abdul Hay Al-Farmawi. HASIL DAN PEMBAHASAN Term Ayat-ayat tentang Kerja dalam Al-QurAoan Istilah Aoamal (A )IEAmerupakan yang paling banyak muncul dengan jumlah 359 kali dalam berbagai variasinya, kemudian diikuti oleh kasb (A ) aEeAsebanyak 76 kali, dan saAoyu (A eOA a ) sebanyak 31 kali (Al-Farmawi, 2. Distribusi penggunaan istilah-istilah tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur'an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap konsep kerja dan aktivitas produktif manusia, bahkan lebih menonjol dibandingkan tema-tema Menurut penjelasan Imam alQurub dalam karya tafsirnya, istilah Aoamal tidak hanya merujuk pada tindakan lahiriah semata, tetapi juga mencakup niat, ucapan, serta seluruh aktivitas batin manusia (Al-Qurtubi. Al-Razi melalui tafsir Mafatih alGhaib menyatakan bahwa penggunaan Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 istilah A IEAdalam Al-QurAoan menjadi indikasi bahwa Islam menekankan pentingnya penerapan ajaran secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada tataran teoritis (AlRazi, 1. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa kata A( IEApekerjaa. dalam Al-QurAoan, konsep ini merujuk pada penggunaan potensi manusia berupa akal, tenaga fisik, kalbu, serta daya kehidupan yang diaktualisasikan secara sadar oleh manusia dan jin (Shihab, 2. Dalam konteks ini, penggunaan kata AIEA . dalam berbagai konteksnya, seperti di QS. al-Baqarah ayat 62. QS. Al-AoAshr tentang melakukan amal shaleh. QS. Al-Kahfi ayat 30 tentang melakukan pekerjaan yang baik, dan QS. Al-Infitar ayat 5 tentang Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan harus dengan memperhatikan kualitas yang optimal. Dominasi penggunaan istilah amal dalam Al-QurAoan menunjukkan bahwa Islam memandang produktivitas bukan sekadar aktivitas kerja yang bersifat teknis atau fisik, melainkan aktualisasi sadar seluruh potensi manusia, akal, tenaga, dan kalbu dalam tindakan nyata yang bernilai moral dan bertanggung jawab. Penekanan AlQurAoan pada amal menegaskan bahwa produktivitas dalam perspektif Islam diukur dari keselarasan antara tujuan, pertanggungjawaban hasil, sehingga kerja dipahami sebagai amal bermakna yang menuntut orientasi nilai, mutu optimal, dan konsekuensi etis, baik di dunia maupun di hadapan Allah. Yang kedua, term kasb (A) aEeA Aumencari mengusahakanAy. Dalam konteks AlQurAoan, istilah ini memiliki pengertian lebih khusus, yaitu merujuk pada usaha atau ikhtiar manusia dalam memperoleh sesuatu, khususnya yang berkaitan Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan dengan aspek ekonomi dan materi (AlIsfahani, 2. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa istilah kasb menekankan pentingnya ikhtiar dan kesungguhan manusia dalam Jika dibandingkan dengan amal yang bersifat lebih luas, kasb lebih menitikberatkan pada proses dan cara dalam memperoleh suatu hasil (Ibn Katsir, 1. Al-QurAoan dalam penggunaan kata ini menegaskan bahwa rezeki dan keberhasilan hidup tidak diperoleh secara otomatis, melainkan harus diupayakan melalui kerja kerja yang halal dan sesuai dengan ketentuan Istilah ini (A ) aEeAdigunakan dalam berbagi bentuk, di antaranya dalam hal mencari rezeki (QS. Al-Mulk: , menaggung dosa (QS. Al-Baqarah: , memperoleh pahala (QS. AzZumar: . Dalam berbagai term tersebut, kata A aEeAmengarahkan pada kesadaran dan tanggung jawab manusia Yang ketiga, term saAoyu (A eOA a ) yang mengandung makna Auberusaha dengan sungguh-sungguh atau berlarilari kecil menuju tujuanAy. Dalam konteks Al-QurAoan kata tersebut . elalu berkemban. dan semangat dalam (Al-Tabari. Selanjutnya. Al-Tabari menjelaskan bahwa term tersebut memiliki makna kesungguhan dalam bekerja. Hal ini kaitannya dengan ibadah saAoi dalam ibadah haji (Muhammad ibn Jarir alTabari, 2. Dalam konteks tersebut, kata saAoyu (A eOA a ) lebih menekankan pada usaha yang dilakukan secara sungguhsungguh serta tekun dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Pilar Produktivitas dalam Perspektif Wahyu Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 Pada tinjauan wahyu, etos kerja bukan hanya terbatas pada ranah ekonomi atau materil, namun memiliki orientasi yang luas, jika ditarik makna dari beberapa ayat yang menyebutkan tentang perintah bekerja, di antaranya yang dapat ditemukan dalam beberapa ayat seperti QS. Al-JumuAoah/62:10. QS. Al-Anfal/8:27. QS. Al-Mulk/67:15. QS. At-Taubah/9:105. QS. AnNajm/53: 39. QS. Al-Qashash/28:77. QS. Al-Insyirah/94:7-8. QS. AlAnkabut/29: 69. QS. Al-Baqarah/2: Kerja sebagai bagian Integral dari Ibadah Al-QurAoan menempatkan aktivitas kerja sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bentuk ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana tergambar dalam firman-Nya pada QS. AlJumuAoah/62: 10. Terjemahnya: AuApabila telah ditunaikan shalat. Maka bertebaranlah kamu di muka bumi. dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyakbanyak beruntungAy. (Kemenag RI, 2. Dalam Tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa ayat tersebut memuat dorongan kepada manusia untuk berikhtiar dan bekerja dalam upaya melaksanakan kewajiban shalat, karena aktivitas tersebut termasuk ketaatan kepada Allah swt (Al-Qurthubi, 2. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa penggunaan . menegaskan pentingnya serta kewajiban untuk berusaha secara aktif. Istilah penyebaran yang luas dan pergerakan yang dinamis, bukan sikap pasif yang hanya menanti datangnya rezeki (Shihab, 2. Islam menekankan bahwa seorang muslim dalam bekerja tidak hanya mengejar keuntungan duniawi saja, tapi Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan harus menjadi bagian integral untuk ibadah kepada Allah swt. Pada ayat tersebut menjadi landasan teologis yang kuat dalam bekerja bahwa bekerja bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga aktivitas spiritual. Melakukan secara Profesional dan Sempurna Dalam Al-QurAoan menekankan prinsip profesionalitas dan kesempurnaan melalui konsep ihsan. Dalam QS. An-Nahl/16:90 Terjemahnya: AuSesungguhnya Allah menyuruh . Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan Dia pengajaran kepadamu agar kamu pelajaranAy (Kemenag RI, 2. Sayyid Quthb menjelaskan bahwa ihsan dalam konteks kerja berarti melaksanakan suatu pekerjaan dengan kewajiban atau standar minimal yang ditentukan (Sayyid Quthub, 2. Hal ini selaras dengan konsep hadis Nabi AuSesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang melakukan sutau pekerjaan, . rofessional, bertanggung jawa. Ay (HR. Al-Baihaqi. No. (Al-Bayhaqi, 2. Konsep ihsan dalam QS. AnNahl/16:90 menjadi fondasi utama bagi profesionalisme dalam Islam. Nilai ini mendorong setiap muslim untuk bekerja dengan standar tertinggi . , tidak sekadar memenuhi kewajiban Ihsan menuntut kesempurnaan . dalam setiap pekerjaan sebagai manifestasi kecintaan dan penghambaan kepada Tuhan. Menurut Sayyid Quthb, ihsan dalam konteks kerja Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 komitmen guna menghasilkan karya berkualitas unggul. Hal ini akan produktif, kompetitif, dan bernilai Konsep ihsan tidak hanya berperan sebagai landasan etika-moral, melainkan juga sebagai strategi membangun keunggulan profesional yang berkelanjutan, menjadikan setiap aktivitas kerja sebagai bentuk ibadah serta kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan peradaban (Yusuf, 2. Kerja sebagai Aktualisasi Potensi Manusia sebagai Khalifah Dalam konteks ini, manusia ditemukan dalam perannya sebagai khalifah, di mana pekerjaannya tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup material tetapi juga untuk menjadi manifestasi dari nilainilai keagamaan dan moral. Dalam kontek Al-QurAoan kerja sebagai aktualisasi potensi manusia sebagai khalifah di bumi tercermin pada QS. Hud/11: 61. Quraish Shihab mengisyaratkan tugas manusia sebagai khalifah dalam membangun bumi, serta menegaskan alasan utama manusia diperintahkan untuk menyembah Allah (Shihab, 2. Sebagai khalifah di bumi, setiap individu memiliki tanggung jawab sebagai upaya pengembangan potensi yang dimiliki. Ini selaras pandangan Loudoe et al. , yang menyebutkan bahwa kebutuhan aktualisasi diri adalah dorongan bagi seseorang untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya dan mencapai tujuan pribadi (Loudoe et al. , 2. Motivasi internal ini menjadi kunci dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas di lingkungan Selain itu, dalam penelitiannya. Hidayat juga menyoroti bahwa work ethic yang berbasis pada nilai Islam memposisikan kerja sebagai pengabdian dan tanggung jawab sosial (Hidayat. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Dengan disimpulkan bahwa kerja sebagai aktualisasi potensi manusia sebagai khalifah tidak hanya berfungsi untuk memenuhi tuntutan ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk integrasi nilai-nilai spiritual, sosial, dan etis. Kesadaran akan pentingnya pengembangan diri, dukungan lingkungan yang konstruktif, serta penerapan etika dalam pekerjaan akan menghasilkan pribadi yang tidak masyarakat secara keseluruhan. Kerja sebagai Jalan Mencapai Keberkahan dan Keadilan Sosial Kerja sebagai jalan menuju keberkahan dan keadilan sosial adalah Dalam konteks ini, kerja tidak hanya dilihat sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian yang berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial dan spiritual umat Melalui pekerjaan, individu dapat berkontribusi pada distribusi kekayaan yang adil dan peningkatan kualitas hidup komunitas mereka, seperti yang tercermin di QS. AlBaqarah/2:267 sebagai landasan etis bahwa bekerja tidak hanya untuk diri sendiri namun juga kemaslahatan mengeluarkan sebagain hasil usaha, sebagai wujud keadilan sosial. Konsep keberkahan dalam kerja selaras dengan pandangan bahwa setiap aktivitas yang dilandasi dengan niat tulus dan etis akan mendapatkan imbalan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Amalia et al. menunjukkan bahwa prinsip-prinsip ekonomi mikro Islam, yang berfokus pada keadilan dan tanggung jawab keberlanjutan di masyarakat (Amalia et , 2. Pekerjaan yang dilakukan bukan hanya dimaksudkan untuk Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 memperoleh keuntungan material, tetapi juga untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam konteks sosial. Selain itu, infaq produktif sebagai bentuk filantropi dalam Islam juga berperan penting dalam mendukung keadilan sosial. Infaq produktif tidak hanya memberikan bantuan dana secara langsung tetapi juga berfokus pada lapangan kerja, dan pemberdayaan ekonomi umat (Anwar et al. , 2. Maka dari itu, kesejahteraan individu dan komunitas dapat dicapai menggabungkan kerja keras, keadilan sosial, serta kesetaraan. Dengan memastikan bahwa semua individu mendapatkan perlakuan yang adil serta pengakuan atas kontribusinya sehingga dapat mewujudkan keadilan sosial dan keberkahan yang lebih luas dalam Etos Kerja QurAoani dan Etos Kerja Modern Dalam memahami etos kerja Qur'ani dan etos kerja modern, penting untuk melihat bagaimana nilai-nilai moral dan spiritual yang terdapat dalam ajaran Islam dapat diinternalisasikan dengan praktik kerja di dunia Perbedaan dan persamaan antara keduanya memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana dikembangkan, dan diimplementasikan secara efektif dalam konteks modern. Etos kerja Qur'ani berakar pada nilai-nilai seperti kejujuran, perilaku adil, tanggung jawab, dan dedikasi Sebagaimana dijelaskan oleh Ridwansyah et al. , etos Islam meningkatkan budaya kerja dan perilaku inovatif. Ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai QurAoani dapat mendorong perubahan positif dalam budaya kerja (Ridwansyah et al. Dengan kata lain, etos kerja Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Qur'ani dapat memperkuat dedikasi dan produktivitas pekerja. Di sisi lain, etos kerja modern sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai kompetitif dan produktivitas tinggi yang dibangun di atas praktik manajerial dan tujuan bisnis. Konsep ini sering kali mengutamakan hasil jangka pendek dan performa yang terukur. Penelitian oleh Mumtaz et al. menunjukkan bahwa etika kerja yang baik dapat berfungsi sebagai tameng . terhadap stres pekerjaan, yang menyoroti pentingnya nilai-nilai kesejahteraan pekerja dalam situasi yang kompetitif (Mumtaz et al. , 2. Ini mengindikasikan bahwa meskipun etos kerja modern berfokus pada produktivitas, ada kesadaran yang meningkat tentang kebutuhan untuk Dengan adanya tantangan yang dihadapi di dunia modern, seperti stres dan kelelahan, etos kerja Qur'ani menyediakan pendekatan yang lebih holistik tentang makna kerja. Studi yang dilakukan oleh Hanjani dan Mubarak spiritualitas dalam dunia kerja berperan penting dalam kesejahteraan emosional karyawan (Hanjani & Mubarak, 2. Dengan menekankan nilai-nilai seperti kerja yang bermakna, organisasi dapat berkontribusi terhadap kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang. Tantangan dan peluang dari etos kerja modern dapat disikapi dengan mengadopsi prinsip-prinsip Qur'ani. Studi oleh Simanjuntak et al. menegaskan bahwa pelaksanaan etika kerja yang berpijak pada nilai-nilai QurAoani mampu menghasilkan dampak positif bagi profesi dan perkembangan karier individu di dunia kerja saat ini (Simanjuntak et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan, nilai-nilai yang terkandung dalam etos kerja Qur'ani masih sangat relevan dan dapat Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 meningkatkan berbagai aspek dalam dunia kerja modern. Secara keseluruhan, integrasi etos kerja Qur'ani dengan etos kerja modern memberikan solusi yang bermanfaat keadilan sosial, serta meningkatkan kesejahteraan seseorang dalam konteks kerja yang semakin kompleks dan Implementasi Etos Kerja QurAoani dalam Bidang Pendidikan Implementasi etos kerja Qur'ani dalam bidang pendidikan memiliki peranan penting dalam pengembangan karakter siswa serta menciptakan berintegritas, responsif, dan berkualitas (Mukhtar S, 2. Dalam konteks ini, implementasi etos kerja QurAoani dalam pembelajaran, dan evaluasi. Pertama, pendidikan dari perspektif Al-QurAoan dan Hadis menempatkan pemimpin sebagai aktor kunci yang mengarahkan, mengelola, dan membentuk lingkungan pendidikan agar sejalan dengan nilainilai Islam (Fansori et al. , 2. Kerangka ini memberi basis normatif bahwa kepemimpinan bukan semata fungsi administratif, melainkan fungsi pembentukan kultur . ulture-buildin. yang memayungi disiplin kerja, teladan moral, dan orientasi pembinaan manusia (Fansori et al. , 2024. Muid & Nasrulloh. Karena pendidikan QurAoani menekankan pembentukan akhlak dan moral mulia, maka kepemimpinan yang paling relevan adalah kepemimpinan yang mempraktikkan nilai etis secara . ole-modelin. keputusan dan interaksi organisasi (Fansori et al. , 2024. Hasan & MaAosum, 2024. Muid & Nasrulloh. Kedua. Mengimplementasikan nilai etos kerja QurAoani dalam kurikulum, yaitu penekanan QurAoan Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan mengimplikasikan kurikulum yang akademik dari pembinaan moralspiritual (Muid & Nasrulloh, 2. Kajian relevansi nilai akhlak berbasis tafsir dengan kerangka pendidikan menegaskan bahwa nilai etis . memiliki tempat substantif dalam arah pendidikan (M. Hasan & MaAosum. Dengan demikian, implementasi etos kerja QurAoani pada kurikulum dapat diwujudkan sebagai integrasi eksplisit nilai akhlak ke dalam capaian pembelajaran, konten, dan pengalaman . ukan tambaha. (S. Hasan et al. , 2021. Muid & Nasrulloh, 2. Ketiga, pembelajaran yang berbasis etos kerja QurAoani menekankan dari nilai ke Pedagogi kognitifAeafektif dengan model pembelajaran etisreligius (Taja et al. , 2. dikuatkan manajemen pembelajaran QurAoan yang menekankan strategi, keterlibatan, serta asesmenAeumpan balik (Julaeha, 2. , dan pengelolaan pendidikan karakter serta habituasi kegiatan religius sebagai pembiasaan nilai (S. Hasan et al. , 2021. Safitri et al. , 2. Keempat, dalam konteks evaluasi pendidikan yang berbasis etos kerja QurAoani menekankan bukan hanya kompetensi yang dinilai . Dalam kerangka etos kerja QurAoani, profesionalisme evaluasi dapat dipahami sebagai manifestasi nilai amanah dan tanggung jawab akademik, penilaian harus dirancang secara serius, (Muid Nasrulloh, 2024. Suriyanti et al. , 2. Dengan merancang pembelajaran yang selain menekankan pencapaian akademik, aspek penguatan karakter juga menjadi perhatian sekolah dapat menciptakan individu yang lebih siap Muhammad Mukhtar S1. Muhammad Yusuf2. Mardan3 dalam konteks kerja modern (Mardia & Mukhtar. S, 2022. Mukhtar S, 2. Dengan demikian, evaluasi dalam implementasi etos kerja QurAoani sebaiknya diposisikan sebagai proses etis . dil, transparan, akuntabe. dan proses pedagogis . mpan balik untuk perbaika. , bukan sekadar penghakiman hasil (Arar & Saiti, 2022. Julaeha, 2023. MIHCI & Uzun, 2. Secara QurAoani, pendidikan mencakup tidak hanya aspek akademik, melainkan juga pembentukan Melalui kepemimpinan yang spiritual, integrasi adab dalam kurikulum, penggunaan media pembelajaran yang inovatif, dan pendidikan dapat menyiapkan generasi penerus yang berakar pada nilai-nilai Qur'ani KESIMPULAN Etos kerja dalam perspektif AlQurAoan menempatkan kerja sebagai berorientasi pada kemaslahatan, dengan perpaduan antara kualitas kinerja, tanggung jawab moral, dan kesadaran Nilai-nilai QurAoani seperti itqan, ihsan, amanah, istiqamah, dan taAoawun membentuk kerangka normatif produktivitas yang berkeadilan dan berkelanjutan, sekaligus menawarkan alternatif etis terhadap problem kerja modern yang cenderung materialistik Dalam pendidikan, implementasi etos kerja QurAoani lembaga pendidikan mampu melahirkan sumber daya manusia yang profesional, berintegritas, dan berakar kuat pada nilai-nilai wahyu. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Penelitian selanjutnya disarankan melakukan studi lapangan pada berbagai jenjang pendidikan perlu efektivitas implementasi etos kerja QurAoani terhadap kinerja pendidik, perilaku belajar peserta didik, dan budaya mutu lembaga. Penelitian lanjutan juga dapat mengintegrasikan pendidikan, dan sosiologi agama untuk kontribusi etos kerja QurAoani dalam menjawab tantangan produktivitas dan etika kerja di era modern. DAFTAR PUSTAKA