Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 ANALISIS SPASIAL FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN PADA BALITA STUNTING DI KECAMATAN PAYUNG SEKAKI KABUPATEN SOLOK TAHUN 2023 Zakia Rahmidini Noeris1Aidil Onasis2 Evino Sugriarta3Wijayantono4Rahmi Hidayanti5 (Politeknik Kesehatan Kemenkes padan. Abstract Environmental risks have an influence on the incidence of stunting in toddlers caused by chronic malnutrition and repeated infections, especially in the First 1000 Days of Life . 0 HPK). One of the highest stunting contributing areas in Solok Regency is Payung Sekaki District in the Sirukam Health Center working area, there are 112 cases of stunting toddlers spread across 3 villages, namely Nagari Sirukam. Nagari Supayang and Nagari Aie Luo. The purpose of this study was to determine the spatial distribution of environmental risk factors in stunting toddlers in Payung Sekaki District. Solok Regency in 2023. The method used in this research is quantitative descriptive analysis method. The number of samples was 73 houses. Data analysis was carried out univariately and spatially using Microsoft Excel software and overlay on QGIS. This research produces information in the form of spatial distribution maps with low, medium and high classifications. With this research, it is known that Jorong Gantiang is the jorong with the highest incidence of stunting with 14 cases. Jorong Lubuak Pulai with 12 cases, and 3 jorong with moderate cases and 6 other jorong with low stunting cases. The high incidence of stunting in Payung Sekaki Sub-district is influenced by several environmental risk factors, namely the physical condition of the house, the provision of clean water, the management of waste water and feces, and having a history of recurrent infectious diseases such as diarrhea and ARI. Keywords: Spatial Analysis. Environmental Risk. Stunting Abstrak Risiko lingkungan memiliki pengaruh terhadap kejadian stunting pada balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK). Salah satu daerah penyumbang stunting tertinggi di Kabupaten Solok yaitu Kecamatan Payung Sekaki di wilayah kerja Puskesmas Sirukam, terdapat 112 kasus balita stunting yang tersebar di 3 nagari yaitu Nagari Sirukam. Nagari Supayang dan Nagari Aie Luo. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi spasial faktor risiko lingkungan pada balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif kuantitatif. Jumlah Sampel sebanyak 73 rumah. Analisis data dilakukan secara univariat dan spasial menggunakan Software Microsoft Excel dan overlay pada QGIS. Penelitian ini menghasilkan informasi berupa peta persebaran spasial dengan klasifikasi rendah, sedang, dan tinggi. Dengan adanya penelitian ini diketahui bahwa Jorong Gantiang merupakan jorong dengan kejadian stunting tertinggi yaitu dengan 14 Kasus. Jorong Lubuak Pulai dengan 12 kasus, dan 3 Jorong dengan kasus sedang dan 6 jorong lainnya kasus stunting rendah. Tingginya kejadian stunting di Kecamatan Payung Sekaki dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko lingkungan yaitu kondisi fisik rumah, penyediaan air bersih, pengelolaan air limbah dan tinja, serta memiliki riwayat penyakit infeksi berulang seperti diare dan ISPA. Kata kunci: Analisis spasial. risiko lingkungan. PENDAHULUAN Indonesia masih mempunyai masalah kesehatan pada gizi dan tumbuh kembang anak. UNICEF menyatakan sekitar 80 % anak stunting terdapat di 24 negara berkembang di Asia Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 dan Afrika. Berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2018, data prevalensi anak balita stunting di Indonesia masuk ke dalam Negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di SouthEast Asian Region setelah Timor Leste . ,5 %) dan India . ,4 %) yaitu sebesar 36,4 %1 Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun . akibar kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK). Anak dikategorikan mengalami stunting apabila tinggi badannya berada di bawah minus 2 standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Stunting di Indonesia menjadi masalah kesehatan masyarakat secara nasional yang perlu mendapat perhatian secara serius, karena tergolong dalam kategori tinggi sesuai standar WHO mencapai 30-39 %, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Prevalensi balita stunting di provinsi Sumatera Barat yaitu 23,3 % pada tahun 20213 dan mengalami kenaikan di tahun 2022 menjadi 25,2 %4. Angka tersebut masih jauh dari target nasional sebesar 14 % pada tahun 2024. Penyebab stunting bersifat multidimensional, tidak hanya kemiskinan dan akses pangan tetapi juga pola asuh dan pemberian makan ada balita. stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dalam jangka waktu lama dan kurangnya stimulasi psikososial sejak dalam kandungan dan setelah dilahirkan. Tidak hanya faktor spesifik gizi. Tetapi juga faktor sensitif gizi yang berinteraksi satu dengan lainnya. Faktor sensitif meliputi status ekonomi dan pendapatan keluarga, pendidikan ibu, akses terhadap pelayanan kesehatan, pola makan keluarga dan kondisi lingkungan sanitasi yang Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain: pembuangan kotoran manusia . , penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor . ir limba. , dan perilaku hygiene. Keadaan lingkungan dan hygiene yang kurang baik memungkinkan terjadinya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan sehingga dapat menimbulkan angka stunting6 Kabupaten Solok menjadi peringkat pertama sebagai kab/kota dengan Prevalensi balita stunting tahun 2021 yaitu 40,1 %. 3 Berdasarkan data dari hasil studi status gizi di tahun 2022 angka prevalensi stunting turun menjadi 24,2 %. 4 Data dari dinas kesehatan Kabupaten Solok pada penimbangan masal di bulan agustus tahun 2022 didapatkan adanya penurunan angka stunting menjadi 16,3 %. Salah satu daerah penyumbang stunting tertinggi di Kabupaten Solok yaitu Kecamatan Payung Sekaki di wilayah kerja Puskesmas Sirukam yang mempunyai 3 nagari yaitu Nagari Sirukam. Nagari Supayang dan Nagari Aie Luo. penimbangan di bulan agustus tahun 2022 terjadi penurunan menjadi 21,2 % dengan balita yang diukur 546 dengan kasus balita stunting 112 balita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi spasial faktor risiko lingkungan pada balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2023. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (GIS). Penelitian dilaksanakan di tiga nagari Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok. Sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 73 responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2023. Data diperoleh melalui wawancara dan obeservasi langsung penulis terhadap responden, lembaran kuesioner dan lembar checklist. Analisis data dilakukan secara univariat dan spasial dengan metode scoring dan pemetaan dengan aplikasi keruangan yaitu Quantum GIS. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 Jorong Jumlah Persentase (%) Nagari Sirukam Gantiang Koto Tingga Lubuak Pulai Kubang Nan Duo Nagari Supayang Rumah Gadang Kubang Nan Raok Koto Kubang Tiagan Nagari Aia luo Kipek Tanah Sirah Rumah Panjang Jumlah Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 11 jorong diperoleh 73 kasus balita stunting dengan rincian kasus tertinggi di Jorong Gantiang dengan 14 kasus. Jorong Lubuak Pulai dengan 12 kasus serta Jorong Koto tingga dan jorong tiagan dengan kasus terendah dengan 3 kasus balita stunting. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kondisi Fisik Rumah Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 No Kondisi Fisik Rumah Frekuensi Persentase (%) Letak rumah bebas pencemaran Dinding rumah . Jenis lantai ( semen/co. Ketinggian loteng rumah minimal 2,8 m Konstruksi atap cukup kuat dan rapat Tata ruang bersekat Ruangan terpisah dengan dapur Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa letak rumah bebas pencemaran yaitu 58,9 %. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Penyediaan Air Bersih di Rumah Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 No Penyediaan Air Bersih Frekuensi Persentase (%) Sumber air bersih dari PAMSIMAS Alternatif sumber air bersih . ata ai. Kondisi sumber air bersih . Wadah penampung air . Sumber air minum . ir bersih yang dimasa. Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa 100 % responden memiliki sumber air bersih dari pamsimas dan memiliki alternative air bersih yang berasal dari mata air dengan persentase 71,2 %. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pengeloaan Limbah dan Tinja di Rumah Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 No Pengelolaan Limbah dan Tinja Frekuensi Persentase (%) Kepunyaan jamban Alternatif jika belum punya jamban . arit/go. Kecukupan air di jamban Ketersediaan septik tank Mempunyai SPAL Saluran air limbah terpisah Terpisah antara air limbah dapur dan kamar mandi Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa 46,6 % responden mempunyai jamban dan alternatif jika belum mempunyai jamban meggunakan parit/got sebagai tempat buang air besar sebanyak 44,1 %. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Riwayat Penyakit Infeksi Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 No Riwayat Penyakit Infeksi Frekuensi Persentase (%) Gejala diare 3 bulan terakhir Sering mengalami diare 1 tahun terakhir Minum air dari sumber tidak terlindungi Lingkungan sekitar rumah bersih Memasak makanan dengan benar Mencuci tangan dengan sabun setelah dari toilet . Gejala ispa 3 bulan terakhir Gejala ispa yang terjadi berturut-turut setiap bulan Terpapar asap rokok, polusi udara, kontak dengan penderita ispa 10 Pengelolaan sampah . Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa balita yang memiliki gejala diare 3 bualn terahir yaitu sebanyak 31,5% dan memiliki gejala ISPA 3 bulan terakhir yaitu sebanyak 20,5 %. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 Gambar 1. Distribusi Spasial Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 Gambar 1. menunjukkan bahwa distribusi spasial kasus balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2023 tersebar di setiap wilayah di Kecamatan Payung Sekaki. Kasus tertinggi terdapat pada Jorong Gantiang sebanyak 14 kasus dan Jorong Lubuk Pulai sebanyak 12 kasus. 3 Jorong dengan kasus sedang dan 6 jorong lainnya kasus stunting Gambar 2. Distribusi Spasial Kondisi Fisik Rumah Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 Gambar 2 menunjukkan bahwa distribusi spasial kondisi fisik rumah balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2023 berisiko rendah terdapat di Jorong Koto Kubang dengan kriteria bobot tingkatan kasus rendah, dan 10 jorong lainnya kasus stunting dengan kriteria bobot tingkatan kasus sedang. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 Gambar 3. Distribusi Spasial Penyediaan Air Bersih di Rumah Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 Gambar 3 menunjukkan bahwa distribusi spasial penyediaan air bersih rumah balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2023 berisiko rendah disemua jorong yang ada kriteria bobot tingkatan kasus rendah. Gambar 4. Distribusi Spasial Kondisi Pembuangan Limbah dan Tinja di rumah Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok 2023 Gambar 4. menunjukkan bahwa distribusi spasial kondisi saluran pembuangan air limbah dan tinja rumah balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2023 berisiko sedang terdapat di semua Nagari Supayang yaitu Jorong Koto Kubang. Kubang Nan Raok. Rumah Gadang serta Tiagan. 7 jorong lainnya dengan kriteria bobot tingkatan kasus tinggi dengan kriteria bobot tingkatan kasus tinggi. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 Gambar 5. Distribusi Spasial Riwayat Penyakit Infeksi Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2023 Gambar 5. menunjukkan bahwa distribusi spasial Riwayat penyakit infeksi pada balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2023 berisiko sedang terdapat di 3 jorong yaitu Jorong Kubang Nan Duo. Jorong Lubuk Pulai dan Jorong Rumah Gadang. 8 jorong lainnya dengan kriteria bobot tingkatan kasus rendah. PEMBAHASAN Prevalensi Kasus Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki 2023 Gambar 1. menunjukkan bahwa distribusi spasial kasus balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2023 tersebar di setiap wilayah di Kecamatan Payung Sekaki. Kasus tertinggi terdapat pada Jorong Gantiang sebanyak 14 kasus dan Jorong Lubuk Pulai sebanyak 12 kasus. 3 Jorong dengan kasus sedang dan 6 jorong lainnya kasus stunting Dalam model spasial, karakteristik anak seperti usia dan jenis kelamin anak merupakan prediksi penting untuk pengerdilan. Penelitian ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Hadibah Hanum . yang menemukan bahwa proporsi stunting pada balita 24-59 bulan di wilayah Kecamatan Maron terbesar terdapat pada kelompok balita laki-laki . ,3 %), hal ini boleh jadi disebabkan karena balita laki-laki pada umumnya lebih aktif dibandingkan balita perempuan, dan umumnya balita laki-laki lebih aktif bermain di luar rumah, seperti berlarian, sehingga lebih mudah bersentuhan dengan lingkungan yang kotor dan menghabiskan energi yang lebih banyak, sementara asupan energinya terbatas (Nurlaeli, 2019 dalam Istiqammah 2. 8 Kondisi Fisik Rumah Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki 2023 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan pada Kecamatan Payung Sekaki, terdapat 58,9 % bebas dari pencemaran, 20,5 % memiliki jenis dinding Bilik/Papan, 13,7 % memiliki lantai yang terbuat dari Kayu, rumah yang memiliki loteng Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 dengan ketinggin kurang dari 2,5 m yaitu 65,8 %, 72,6 % memiliki atap yang cukup kuat dan rapat, 71,2 % memiliki tata ruang bersekat dan 90,4 % terpisah antara ruangan depan dan dapur. Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap lantai rumah balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki yaitu sebanyak 76,7 % terbuat dari semen/cor dan 13 % lantai rumah balita stunting terbuat dari kayu. Standar jenis lantai yang baik menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 tentan Kesehatan Lingkungan adalah lantai yang kedap air, lantai berbahan dari plester atau dilapisi ubin atau tegel atau keramik, permukaan lantai halus dan rata, tidak licin tidak retak dan mudah dibersihkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Utari tidak terdapat hubungan antara jenis lantai dengan kejadian stunting pada balita 24-59 bulan di Desa Secanggang, nilai OR pada jenis lantai 1,989 yang artinya jenis lantai yang tidak memenuhi syarat 1,989 kali lebih besar terhadap kejadian stunting dibandingkan dengan jenis lantai yang memenuhi syarat lebih kecil terhadap kejadian stunting. 9 Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktafriawan juga tidak terdapat hubungan antara jenis lantai dengan kejadian balita terindikasi stunting. 10 Upaya yang dapat dilakukan oleh responden dengan jenis lantai yang tidak memenui syarat yaitu mengganti bahan lantai tanah atau plester yang rusak menjadi lantai berbahan ubin, semen/cor maupun keramik. Penyediaan air bersih di rumah Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki 2023 Penelitian ini menunjukkan bahwa alternatif sumber air bersih yang digunakan oleh rumah kasus balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki yaitu mata air sebanyak 71,2 % dan menggunakan air hujan dan sumur sebanyak 2,7 %. Dan kondisi sumber air bersih pada rumah balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki kondisi bersih sebanyak 74 % dan dengan kondisi agak kotor 26 %. Jenis bak penampungan yang digunakan untuk menampung air bersih di Kecamatan Payung Sekaki diantaranya menggunakan ember 49 % menggunakan bak semen dan 2,7 % menggunakan. Sumber air minum yang diperoleh dari sumber air bersih yang dimasak sebanyak 72,6 % dan mengkonsumsi air dari depot air minum isi ulang sebanyak 27,4 %. Sejalan dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan puskesmas pada pamsimas batu tarajang tahun 2022 kadar e. coli 23 per 100 ml sampel air pada baku mutu di Permenkes No 2 tahun 2023, nilai baku mutu 0 CFU/100 ml air. Sehingga perlu dilakukan pengawasan dan pengelolaan air untuk keperluan hygiene dan saitasi yang tepat agar masyarakat terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh kualitas air yang digunakan sehari-hari. Pengolahan air limbah dan tinja di rumah Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki 2023 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan pada Kecamatan Payung Sekaki, terdapat . 53,4 % mempunyai jamban (WC permane. dan tersedia air Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 yang cukup dijambannya, 46,6 % tidak mempunyai jamban yang membiasakan membuang kotoran/tinja ke sungai, parit/got dan menumpang kerumah tetangga/mesjid, 50,7 % memiliki septic tank untuk pembuangan pada jambannya, tidak ada responden yang melakukan pengurasan septic tank kurang dari 2 tahun sekali, 69,9 % memiliki sarana pembuangan air limbah . apur dan kamar mand. , 34,2 % memiliki saluran air limbah yang tertutup, 84,9 % memiliki sarana pembuangan air limbah yang tidak terpisah antara dapur dan kamar mandi. Berdasarkan gambar 4 dapat terlihat bahwa tingkat risiko kondisi saluran pembuangan air limbah dan tinja di Kecamatan Payung Sekaki 4 jorong berisiko sedang yang berada di Nagari Supayang dan 4 jorong lainnya berisiko tinggi. Hal ini disebakan karena Nagari Supayang termasuk nagari open defication free . dimana kondisi ini ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan dan juga pada Nagari Supayang sudah terdapat saluran IPAL komunal yang berfungsi dengan baik. Oleh karena itu risiko balita stunting di Nagari Supayang lebih rendah dibandingakan dengan Nagari Sirukam dan Aia Luo. Pada variabel kepemilikan jamban, ditemukan bahwa jamban masyarakat rumah balita stunting di Kabupaten Payung Sekaki sebanyak 36 rumah yang tidak sesuai persyaratan jamban sehat utamanya pada konstruksi saluran pembuangan limbah. Berdasarkan hasil wawancara, limbah dari jamban tersebut langsung dialirkan ke sungai dan parit/got Tidak tersedianya tangki septik ini berhubungan dengan biaya pembangunan jamban sehat yang cukup tinggi sehingga masyarakat lebih memilih untuk tidak memperbaiki/mengubah konstruksi jamban sesuai dengan syarat bangunan jamban yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Padahal, jamban sehat atau sarana pembuangan feses efektif untuk menghentikan mata rantai penyebaran penyakit. Hasil studi yang dilakukan Nashyirah . menunjukkan bahwa kekurangan jamban tidak sehat berkorelasi signifikan dengan angka anak stunting di NTT pada 202112. Menurut studi UNICEF dan WHO, lebih dari 370 anak di bawah usia 5 tahun meninggal di Indonesia karena buang air besar sembarangan. Open defecation keterbelakangan fisik pada anak. dapat meningkatkan risiko Analisis spasial di India juga menunjukkan bahwa buang air besar terkait erat dengan prevalensi stunting pada anak. 14 Hal ini sesuai dengan penelitian pada anak kecil di negara berkembang dan Asia Tenggara yang menunjukkan bahwa kualitas toilet yang buruk berdampak signifikan terhadap angka stunting. Riwayat penyakit infeksi Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki 2023 Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rumah balita stunting yang memiliki riwayat penyakit diare di Kecamatan Payung Sekaki sebanyak 31,5 % dan rumah yang tidak memiliki gejala diare dalam 3 bulan terakhir sebanyak 68,5 %. Salah satu faktor penyebab kurangnya kegiatan cuci tangan dengan sabun yang dilakukan oleh ibu balita setelah Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 2 No. 1 November 2023 E-ISSN 2964-0857 menggunakan toilet di Kecamatan Payung Sekaki, jarang dilakukan sebanyak 63 % dan rumah yang kadang-kadang melakukan 37 %. Sedangkan untuk riwayat penyakit ispa terdapat 20,5 % dan rumah yang tidak memiliki gejala ispa dalam 3 bulan terakhir sebanyak 79,5 %. Berdasarkan gambar 5 dapat terlihat bahwa tingkat risiko riwayat penyakit infeksi di Kecamatan Payung Sekaki 3 jorong berisiko sedang dan 8 jorong lainnya berisiko rendah. Dalam penelitian ini terdapat 23 balita stunting memiliki riwayat penyakit infeksi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan istiqommah . didapatkan bahwa mayoritas balita stunting memiliki riwayat penyakit infeksi dikecamatan Bolo dikarenakan sanitasi lingkungan dan sanitasi air yang buruk, hal ini dapat menjadi salah satu kemungkinan faktor yang menyebabkan balita stunting memiliki riwayat penyakit infeksi. Hasil penelitian yang dilakukan arifin . diperoleh bahwa balita dengan riwayat penyakit infeksi mempunyai risiko 2,2 kali lebih besar terkena stunting dibanding balita dengan tidak mempunyai riwayat penyakit infeksi. 15 Sejalan dengan temuan Wulandari dan Rahayu . dimana terdapat hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kerkap Kabupaten Bengkulu. 16 Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi penyakit diare dan ISPA pada balita yaitu dengan menjaga kondisi fisik balita, personal hygiene balita, serta menjaga lingkungan sekitar balita. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis spasial yang telah dilakukan mengenai Faktor Risiko Lingkungan pada Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2023, maka dapat diambil kesimpulan terdapat perbedaan jumlah kasus antar jorong yang di pengaruhi oleh faktor risiko lingkungan masing-masing jorong. Diharapkan untuk menjaga kondisi fisik rumah, penyedian air bersih, pengelolaan air limbah serta menjaga kesehatan balita agar terhindar dari penyakit infeksi berulang yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya stunting. DAFTAR PUSTAKA