Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 520-535 Antioxidant activity and toxicity test of yellow wood extract (Arcangelisia flava (L. Mer. ) Uji aktivitas antioksidan dan toksisitas dari ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. Mer. ) Fatin Shilvia a. Anny Sartika Daulay a*. Ridwanto a. Yayuk Putri Rahayu a a Program studi Sarjana Farmasi. Fakultas Farmasi,Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Kota Medan. Sumatera Utara. Indonesia. *Corresponding Authors : annysartika@umnaw. Abstract Currently, people are beginning to shift towards traditional medicine using natural ingredients. One of the medicinal plants is Yellow Wood (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Yellow wood has been proven to have antioxidant, antimalarial, antidepressant, antidiabetic, and anticancer activities. This study aims to determine the antioxidant activity of yellow wood by analyzing its IC50 value and to evaluate the toxicity of yellow wood extract by determining its LC50 value. this study, the antioxidant activity of the extract was tested using the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. In contrast, the toxicity of the yellow wood extract was assessed using the brine shrimp lethality test (BSLT) method with several concentration variants. The analysis of antioxidant activity in yellow wood using the 1,1-diphenyl-2picrylhydrazyl method resulted in an IC50 value of 9. 65 AAg/ml, while vitamin C had an IC50 value of 3. 96 AAg/ml. Based on these results, yellowwood and vitamin C fall into the category of extreme antioxidant activity. The probit analysis of the toxicity test of yellow wood extract using the brine shrimp lethality test method showed an LC50 value of 287. AAg/ml, which is categorized as toxic. Keywords: Yellow Wood. Antioxidant. DPPH. Toxicity. Brine Shrimp Lethality Test. Abstrak Saat ini masyarakat mulai beralih pada pengobatan tradisional dengan bahan-bahan alami. Salah satu tumbuhan yang berkhasiat obat adalah Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Kayu kuning telah terbukti mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, antimalaria, antidepresan, antidiabetes, dan juga antikanker. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada kayu kuning dengan melihat nilai IC 50 dan untuk mengetahui daya toksisitas ekstrak kayu kuning dengan melihat nilai LC 50. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan ekstrak dengan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan pengujian toksisitas ekstrak kayu kuning dengan menggunakan metode brine shrimp lethality test (BSLT) dengan beberapa varian kosentrasi. Hasil analisis aktivitas antioksidan pada kayu kuning dengan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl memiliki nilai IC50 9,65 AAg/ml dan nilai IC50 vitamin C sebesar 3,96 AAg/ml. Dimana dari hasil tersebut kayu kuning memiliki aktivitas antioksidan dan vitamin C dengan kategori sangat kuat. Hasil analisia probit pengujian toksisitas ekstrak kayu kuning dengan menggunakan metode brine shrimp lethality test memiliki nilai LC50 287,872 AAg/ml dengan kategori toksik. Kata Kunci: Kayu Kuning. Antioksidan. DPPH. Toksisitas. Brine Shrimp Lethality Test. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received:02/12/2024. Revised: 15/03/2025 Accepted: 15/03/2025 Available Online: 15/03/2025 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Saat ini masyarakat mulai beralih pada pengobatan tradisional dengan bahan-bahan alami. Penggunaan obat tradisional atau lebih dikenal dengan istilah obat herbal pada akhir-akhir ini terus Hal ini didukung dengan adanya isu back to nature dalam memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai obat. Indonesia termasuk negara tropis yang kaya akan keragaman floranya dan menempati peringkat ketiga setelah negara Brazil. Berbagai tanaman telah dimanfaatkan secara turun-temurun untuk mengobati berbagai penyakit . Salah satu tumbuhan yang berkhasiat obat dan belum banyak diteliti adalah Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Batang kayu kuning telah terbukti mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, antimalaria, antidepresan, antidiabetes, dan juga antikanker. Selain itu di dalam batang kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. juga diketahui mengandung senyawa kimia antara lain saponin, flavonoid dan tanin, di samping itu batangnya juga mengandung glikosida dan alkaloid. Salah satu kesamaan ciri dari beberapa metabolit tersebut adalah hampir semuanya berpotensi untuk digunakan sebagai senyawa Saat ini pemanfaatan kayu kuning di masyarakat baru sebatas penggunaan air rebusan untuk diminum . Antioksidan merupakan molekul yang dapat mencegah atau memperlambat sel mengalami kerusakan akibat radikal bebas dengan cara melengkapi kekurangan elektron dari radikal bebas. Antioksidan alami dapat ditemukan pada tanaman yang memiliki senyawa polifenol yang tinggi . Antioksidan berperan penting bagi kesehatan dikarenakan senyawa antioksidan dapat menghambat terjadinya reaksi oksidasi yang diakibatkan oleh senyawa radikal bebas . Radikal bebas merupakan suatu atom atau molekul bersifat tidak stabil dan sangat reaktif yang memiliki electron yang tidak berpengangan pada orbital luarnya. Radikal bebas terbentuk dalam tubuh secara terus menerus, baik melalui proses metabolism sel normal, peradangan, kekurangan gizi, serta akibat respons terhadap pengaruh dari luar tubuh, seperti sinar ultraviolet (UV), polusi lingkungan dan asap rokok. Kadar radikal bebas yang tinggi dalam tubuh dapat memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif . Mengingat potensi yang dimiliki kayu kuning untuk pengobatan maka perlu dilakukan uji toksisitas, untuk mengetahui tingkat keamanan dari ekstrak kayu kuning sebagai obat herbal. Pengujian ini bertujuan mengetahui dosis yang tidak menimbulkan efek toksik dari penggunaan kayu kuning setelah pemberian secara berulang . Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kayu kuning sebagai bahan alam yang potensial dengan menguji aktivitas antioksidan dan toksisitas batang kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. dengan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan brine shrimp lethality test (BSLT) untuk melengkapi informasi penelitian tentang kayu kuning tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan pada kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. serta menentukan daya toksisitas ekstrak batang kayu kuning dengan mengukur nilai LC50 menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) terhadap Arthemia salina. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Sampel yang digunakan adalah batang kayu Rancangan penelitian ini meliputi pengumpulan dan pengolahan bahan, identifikasi tumbuhan, pemeriksaan karakteristik simplisia, pembuatan ekstrak batang kayu kuning, skrinning fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan dan toksisitas dengan menggunakan metode 1,1- diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH). Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Farmasi Universitas Muslim Nusantara AlWashliyah Medan (UMNAW) dan Universitas Sumatera Utara (USU) selama periode Februari 2023 hingga Mei 2023. Bahan dan peralatan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah batang kayu kuning (Arcangelisia flava (L. Mer. , 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH), etanol 70%, aquadest, pereaksi bouchardat, dragendrof, kloroform, toluene, pereaksi besi . klorida 1%, pereaksi natrium hidroksida 2N, asam klorida pekat, benzene, garam laut dan telur Arthemia salina. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, blander, oven, tabung reaksi. Spektrofotometer UV-Vis. Rotary evaporator, alatalat gelas . elas ukur, erlenmeyer, pipet ukur, batang pengadu. , water bath, cawan penguap, vial, oven, bejana penetasan telur Arthemia salina, dan peralatan lainnya. Pengambilan Sampel Tumbuhan Pengambilan sampel dilakukan secara purposive tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama di daerah lain. Sampel batang kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh di Desa Samar Kilang. Kecamatan Bukit. Kabupaten Bener Meriah. Provinsi Aceh. Determinasi Sampel Tumbuhan Determinan tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanese (MEDA) Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara. Jalan Bioteknologi No. 1 Kampus USU. Medan. Pembuatan Simplisia Sampel batang kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. yang masih segar dikumpulkan disortasi basah untuk memisahkan cemaran . otoran dan bahan asing lai. dilakukan sortasi kering yaitu membuang benda-benda asing yang tertinggal pada simplisia. Selanjutnya sampel dikeringkan dalam lemari pengering, kemudian simplisia yang diperoleh dihaluskan dengan blender dan disimpan di dalam wadah yang tertutup Karakteristik Simplisia Pemeriksaan dilakukan meliputi pemeriksaan penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut dalam air, penetapan kadar sari larut dalam etanol, penetapan kadar abu total, serta penetapan kadar abu tidak larut asam . Skrining Fitokimia Skrining fitokimia kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. , meliputi pemeriksaan senyawa alkaloida, flavonoida, tanin, saponin, steroida/triterpenoid dan glikosida. Skrinning fitokimia dilakukan terhadap simplisia dan ekstrak etanol batang kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Uji Aktivitas Antioksidan dan Uji Toksisitas Pengujian Kemampuan Antioksidan dengan Spektrofotometri Visible Kemampuan sampel uji dalam meredam proses oksidasi 1,1-diphenyl-2-picryhidrazyl (DPPH) sebagai radikal bebas dalam larutan etanol dan methanol . ehingga terjadi peredaman warna ungu DPPH) dengan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. nilai IC50 . ebagai konsentrasi sampel uji yang mampu menurunkan radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel uji tersebut . Pembuatan Larutan Induk Baku DPPH Ditimbang 10 mg DPPH dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml kemudian dilarutkan dengan metanol dan dicukupkan sampai garis tanda, hingga diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 200 AAg/ml . Pembuatan Blanko Larutan baku DPPH konsentrasi 200 AAg/ml dipipet sebanyak 1 ml, kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur 5 ml, dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, sehingga didapat . onsentrasi 40 AAg/m. Larutan disimpan ditempat yang terlindung dari cahaya . Penentuan Panjang gelombang sarapan maksimum DPPH Larutan DPPH konsentrasi 200 AAg/ml dipipet sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 ml dilarutkan dengan metanol dan dicukupkan sampai tanda batas (Konsentrasi 40 AAg/m. , lalu dimasukkan kedalam kuvet dan diukur serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm menggunakan spektrofotometer UV-Visibel sehingga diperoleh panjang gelombang maksimum DPPH . Penentuan operating time Larutan DPPH konsentrasi 200 AAg/ml dipipet sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 ml dilarutkan dengan metanol dan dicukupkan sampai tanda batas (Konsentrasi AAg/m. Kemudian larutan diukur absorbansinya tiap menit pada panjang gelombang maksimum selama 60 menit hingga memperoleh absorbansi yang stabil . Pembuatan Larutan Sampel Ekstrak Batang Kayu Kuning (Arcangelisia flav. Sebanyak 0. 025 g sampel uji ditimbang masing-masing, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml dilarutkan dengan metanol sampai garis tanda . onsentrasi 1000 AAg/m. Pengukuran Absorbansi DPPH Setelah Penambahan Ekstrak Batang Kayu Kuning (Arcangelisia flav. Dipipet larutan ekstrak kayu kuning . onsentrasi 200 AAg/m. masing-masing sebanyak 0,1 ml. 0,2 ml. 0,3 ml. 0,4 ml dan 0,5 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 ml. Kedalam masing masing labu tentukur ditambahkan 1 ml larutan DPPH konsentrasi 200 ppm lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda . iperoleh konsentrasi larutan uji 20, 40, 60, 80, dan 100 AAg/m. , kemudian didiamkan di tempat gelap selama 26-32 menit. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum 518 nm. Dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Pengukuran Absorbansi DPPH Setelah Penambahan Vitamin C Ditimbang sebanyak 50 mg vitamin C Kristal kemudian dilarutkan dengan metanol dalam labu tentukur 50 ml. volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda . onsentrasi 1000 AAg/m. Kemudian dipipet larutan 0,005 ml. 0,01 ml. 0,015 ml, 0,02 dan 0,025 ml, dimasukkan kedalam labu tentukur 5 ml lalu ditambahkan 1 ml larutan DPPH . osentrasi 200 AAg/m. konsentrasi Vitamin C 1. 3, 4 dan 5 AAg/ml. Kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum 518 nm dan pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan setelah didiamkan sesuai dengan operanting time yang didapatkan. Penentuan proses peredaman Kemampuan aktivitas antioksdian diukur sebagai penurunan serapan larutan DPPH . eredaman warna ungu DPPH) akibat adanya penambahan larutan sampel. Nilai serapan . hasil pengukuran larutan DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan sampel dibagi serapan pengukuran larutan DPPH sebelum penambahan sampel dihitung sebagai (% peredama. dengan rumus sebagai berikut: % Peredaman = Akontrol(DPPH) Oe Asampel Akontrol(DPPH) X 100 % Keterangan : Akontrol : absorbansi tidak mengandung sampel Asampel : absorbansi mengandung sampel Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Selanjutnya hasil perhitungan persen peredaman yang diperoleh dilakukan perhitungan persamaan garis linier dan konsentrasi sampel . sebagai absis . umbu X) dan nilai peredaman sebagai koordinatnya . umbu Y). Maka diperoleh persamaan garis regresi yang selanjutnya dapat dihitung kemampuan bahan uji sebagai antioksidan dengan menghitung inhibitor concentration 50 % (IC. menggunakan rumus sebagai IC50= ax b Keterangan: 50 : kemampuan antioksidan menghambat 50% aktivitas radikal bebas a : Slope b : Intercept x : Konsentrasi . Penentuan Nilai IC50 Nilai IC50 merupakan bilangan yang menunjukkan konsentrasi sampel uji (AAg/m. yang memberikan peredaman DPPH sebesar 50% mampu menghambat/meredam proses oksidasi sebesar 50 %. Nilai aktivitas antioksidan 0% berarti tidak mempunyai aktivitas antioksidan, sedangkan nilai 100% berarti peredaman total dan pengujian perlu dilanjutkan dengan pengenceran larutan uji untuk melihat batas konsentrasi Hasil perhitungan dimasukkan kedalam persamaan regresi dengan konsentrasi seduhan (AAg/m. sebagai absis . umbu X) dan nilai % peredaman . sebagai koordinatnya . umbu Y). Untuk kategori kekuatan aktivitas antioksidan dapat dilihat pada table 1 . Ae. Table 1 Kategori Kekuatan Aktivitas Antioksidan . Ae. No. Kategori Sangat kuat Kuat Sedang Lemah Konsentrasi mg/ml < 50 Uji Toksisitas dengan Metode BSLT (Brine Shrimp Lethalyty Tes. Pembuatan Air Laut Buatan Air laut buatan dibuat dengan cara melarutkan 38 gram garam tanpa iodium dalam 1 liter air, lalu diaduk sampai homogen. Kemudian disaring dengan kertas Whatman . Penetasan telur Artemia Salina Leach Penetasan telur dilakukan dalam dengan cara menyiapkan wadah untuk menetaskan telur udang. Adapun wadah yang digunakan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian gelap dan bagian terang dengan menyekatnya dan diberi lubang pada sekatan. Kemudian ditambahkan dengan air laut buatan sebanyak 500 satu ruang dalam wadah tersebut diberi penerangan dengan cahaya lampu 40-60 watt agar suhu penetasan tetap terjaga 25-31oC . Sedangkan . diruang sebelahnya diberi air laut buatan tanpa penerangan ditutup dengan aluminium foil atau lakban hitam. Kemudian pada bagian gelap dimasukkan satu sendok teh telur, dibiarkan 2x24 jam sampai telur menetas menjadi larva yang aktif bergerak kemudian siap digunakan sebagai hewan uji . Uji Toksisitas Ekstrak Batang Kayu kuning (Arcangelisia flava (L. )Mer. Pada pembuatan larutan induk ekstrak kayu kuning pada kosentrasi 2000 AAg/ml dengan menimbang 0,2 g ekstrak lalu dilarutkan dengan 100 ml air laut di labu tentukur 100 ml. dari larutan induk ini diencerkan menjadi 10 kosentrasi untuk terlebih dahulu digunakan sebagai orientasi, yaitu konsentrasi 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, 1000 AAg/ml, dan 1 tabung digunakan untuk blanko, masing-masing dengan tiga kali Disiapkan vial untuk pengujian, untuk masingAemasing kosentrasi larutan uji membutuhkan 3 vial dan replikasi sebanyak 3 kali. Dalam 11 kelompok masing-masing vial terdiri dari 10 ekor larva udang yang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. telah diisi dengan sampel yang telah dilarutkan dengan air laut buatan 10 ml. kelompok dua diberi larutan uji ekstrak kayu kuning dengan kosentrasi 100 AAg/ml. kelompok 3 dengan kosentrasi 200 AAg/ml. dengan kosentrasi 300 AAg/ml. kelompok 5 dengan kosentrasi 400 AAg/ml. kelompok 6 dengan kosentrasi 500 AAg/ml. kelompok 7 dengan kosentrasi 600 AAg/ml. kelompok 8 dengan kosentrasi 700 AAg/ml. dengan kosentrasi 800 AAg/ml. kelompok 10 dengan kosentrasi 900 AAg/ml. kelompok 11 dengan kosentrasi 1000 AAg/ml. masing-masing vial diletakkan dibawah penerangan lampu 40-60 watt. Pengamatan dilakukan 24 jam terhadap kematian larva udang kemdian dibandingankan dengan control. Tingkat toksisitas ditentukan dengan menghitung jumlah larva yang mati. Kriteria standart untuk menilai kematian larva udang adalah bila larva udang tidak menunjukkan pergerakan selama beberapa detik . Analisis Data Untuk mengetahui pengaruh ekstrak kayu kuning (Arthemia salin. terhadap larva Arthemia salina dilakukan perhitungan statistic dengan analisis probit. Perhitungan dilakukan dengan membandingkan antara larva mati terhadap jumlah keseluruhan, sehingga diperoleh persen kematian dilihat dalam nilai tabel Dari data tersebut akan diketahui nilai probit dimasukkan kedalam persamaan regresi, sehingga dapat nilai LC50. Persamaan Regresi : Y= a bx LC50= arc log x Keterangan . x : log kosentrasi a : intercept b : slope y : nilai probit (Puspita, 2. Data hasil penelitian uji toksisitas diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan kurva. Data dari uji toksisitas tersebut akan dianalisis dengan analisis probit, nilai LC 50 dapat dihitung dengan memasukkan nilai 5 . robit 50% kematian hewan uj. sebagai y sehingga dihasilkan x sebagai nilai log kosentrasi. Antilog nilai x tersebut merupakan nilai LC50 . Hasil Dan Pembahasan Hasil Identifikasi Tumbuhan Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanese (MEDA) Universitas Sumatera Utara menyatakan bahwa tanaman yang digunakan pada penelitian ini yaitu tumbuhan Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. dari family Menispermaceae. Identifikasi ini bertujuan untuk memastikan kebenaran tumbuhan yang digunakan sebagai bahan uji. Hasil Pengumpulan Sampel Tumbuhan Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. diperoleh dari takengon. Aceh Tengah. Pengumpulan sampel kayu kauning dilakukan secara purposive sampling, yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Hasil Pengolahan Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Sampel kayu kuning segar yang telah dikumpulkan didapatkan bobotnya sebanyak 9200 gram . ,2 k. , setelah dilakukan pengeringan degan suhu 40 oC maka diperoleh bobot simplisia sebanyak 932 gram untuk hasil % susut pengeringan . oss on drin. didapatkan sebesar 89,86 %. Hasil Karakterisasi Simplisia Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Pemeriksaan karakterisasi suatu simplisia dilakukan dengan tujuan untuk menjamin mutu dari suatu simplisia tersebut. Hasil pemeriksaan kadar air, kadar sari larut dalam air, kadar sari larut dalam etanol, kadar abu total, dan kadar abu yang tidak larut asam dapat dilihat pada table 2. Hasil karakterisasi simplisia diperoleh bahwa kadar air 6 %, kadar sari yang larut air 6,5%, kadar sari yang larut dalam etanol 3,36%, kadar abu total 0,83%, kadar abu tidak larut asam 0,23%. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 2. Hasil karakterisasi simplisia kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. No. Uraian Kadar air Kadar sari larut dalam air Kadar sari larut dalam etanol Kadar abu total Kadar abu yang tidak larut dalam asam Hasil 6,5% 3,36% 0,83% 0,23% Persyaratan MMI >10% < 2% < 2% > 1,5% > 0,5% Penetapan kadar air dilakukan untuk memberikan Batasan maksimal atau minimum besarnya kandungan air. Pengaturan kadar air sesuai dengan standar, bertujuan untuk menghindari pertumbuhan jamur yang cepat pada simplisia. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan simplisia selama penyimpanan. Kadar sari larut dalam air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapa jumlah kandungan senyawa yang dapat terlarut dalam air . adar sari larut ai. dan kandungan senyawa yang terlarut dalam etanol . adar sari larut etano. Metode penentuan kadar sari digunakan untuk menentukan jumlah senyawa aktif yang terekstraksi dalam pelarut dari sejumlah simplisia. Prinsip dari ekstraksi didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur . Penetapan kadar abu total bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal dari proses awal hingga terbentuknya ekstrak, sedangkan penetapan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk mengetahui besarnya tingkat pengotor yang tercampur pada serbuk saat preparasi simplisia. Proses pengabuan simplisia dengan menggunakan tanur yang memijarkan sampel pada suhu 600AC dapat menyebabkan hilangnya kandungan alkali dan karbon dioksida pada senyawa karbonat. Prinsip kerja penetapan kadar abu yaitu bahan dipanaskan pada temperatur hingga senyawa organic dan turunannya terdekstruksi dan menguap hingga tersisa unsur mineral dan anorganik saja . Hasil Skrinning Fitokimia Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Skrinning fitokimia dilakukan untuk menguji ada tidaknya senyawa metabolit sekunder diantaranya seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tannin dan steroid/triterpenoid. Hasil skrinning fitokimia ekstrak dan simplisia kayu kaning dapat dilihat pada table 3 berikut ini. Tabel 3. Hasil skrinning fitokimia kayu kuning No. Pemeriksaan Alkaloid Flavonoid Glikosida Saponin Tanin Steroid/triterpenoid Simplisia kayu kuning Ektrak kayu kuning Keterangan : ( ) : mengandung golongan senyawa (-) : tidak mengandung golongan senyawa Pada table diatas menunjukkan positif beberapa beberapa golongan senyawa kimia metabolit sekunder dari hasil skrining fitokimia kayu kuning yaitu, golongan alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tannin dan steroid/triterpenoid. Aktivitas senyawa kanker pada ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. Mer. salah satunya dipengaruhi oleh senyawa flavonoid. Flavonoid dapat menangkal radikal bebas untuk menghambat kerusakan sel. Kandungan flavonoid yang tinggi dapat berkontribusi pada efek antioksidan, peningkatan imun dan sifat antikanker . Flavonoid telah dilapokan berperan dalam inisiasi, promosi dan perkembangan kanker dengan memodulasi berbagai enzim dan reseptor di sinyal transduksi jalur yang berhubungan dengan proliferasi sel, diferensiasi, apoptosis, peradangan, angiogenesis, metastasis dan pembalikan resistensi banyak obat . Ae. Pada pemeriksaan alkaloid terdapat 3 pengujian yaitu pengujian dengan pereaksi mayer, dragendorf dan bouchardat. Pada pengujian pertama dengan pereaksi mayer menunjukkan hasil yang positif karena Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning. Kemudian pengujian kedua dengan preaksi dragendorf menunjukkan hasil yang positif ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna coklat. Pada pengujian ketiga dengan pereaksi bouchardat juga menunjukkan hasil yang positif karena membentuk endapan jingga. Dari hasil yang di dapatkan di atas dapat disimpulkan bahwa sampel positif mengandung Hal ini sesuai dengan persyaratan, bahwasanya alkaloid dianggap positif jika terjadi endapan atau kekeruhan sedikitnya 2 reaksi dari 3 percobaan. Prinsip pengujian alkaloid pada dasarnya adalah pengendapan alkaloid dengan logam-logam berat. Endapan yang terbentuk karena adanya kompleks antara ion logam dari reagen dengan senyawa alkaloid. Penambahan HCl 2N di maksudkan untuk menarik senyawa alkaloid dalam sampel karena alkaloid bersifat basa maka dengan penambahan asam seperti HCl akan terbentuk garam, sehingga alkaloid akan terpisah komponen-komponen lain dari sel tumbuhan yang ikut terekstrak dengan mendistribusikannya ke fase asam . Ae. Pada pemeriksaan tanin menunjukkan hasil yang positif terhadap simplisia dan ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Hal ini dikarenakan terjadinya perubahan warna menjadi hijau kehitaman dengan penambahan FeCl3 disebabkan adanya gugus hidroksil yang ada pada senyawa tanin didalam simplisia kayu kuning sehingga terjadi reaksi dengan FeCl3 dan membentuk senyawa kompleks . Pada pemeriksaan senyawa golongan saponin kayu kuning, terbentuk adanya busa yang stabil setelah pemberian asam klorida, yang tidak hilang kurang dari 10 menit, dan setinggi 1-10 cm. Hal ini menunjukkan bahwa pada simplisia dan ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. terdapat saponin. Timbulnya busa menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. Hasil uji yang diperoleh menunjukkan terbentuknya busa setelah perlakuan, dan setelah diberikan 1 tetes HCl 2 N busa tidak hilang. Indikator terbentuknya busa tersebut menunjukkan adanya kandungan senyawa saponin . Pengujian steroid dan triterpenoid di dasarkan pada kemampuan senyawa steroid dan triterpenoid dalam membentuk warna biru atau hijau untuk steroid dan merah atau ungu untuk triterpenoid. Steroid dan triterpenoid merupakan senyawa yang dapat terekstraksi dengan pelarut non polar atau semi polar. Hasil pemeriksaan didapatkan simplisia dan ekstrak kayu kuning positif mengandung steroid karena terbentuk warna hijau. Pada pemeriksaan glikosida menunjukkan hasil yang positif, karena terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas cairan larutan sisa setelah penambahan pereaksi molisch dan asam sulfat pekat. Mekanisme terbentuknya cincin ungu berasal dari karbohidrat yang terhidrolisis oleh asam sulfat menjadi monosakarida kemudian keduanya terkondensasi membentuk furtural yang bereaksi sehingga membentuk cincin ungu . Hasil Pengujian Aktivitas Antioksidan Hasil penentuan panjang gelombang maksimum DPPH Radikal bebas DPPH memiliki warna komplementer ungu dan memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 515 Ae 520 nm (Abdulkadir, 2. Pada gambar 4. 1 dapat dilihat pengukuran panjang gelombang maksimum larutan DPPH konsentrasi 40 AAg/ml dengan pelarut metanol menghasilkan serapan maksimum . pada panjang gelombang 518 nm. Pengukuran sampel harus dilakukan pada panjang gelombang maksimum agar kepekaannya lebih maksimal dan meminimalkan kesalahan karena pada panjang gelombang tersebut perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Penentuan Operating Time Penentuan operating time dilakukan untuk mengetahui waktu pengukuran paling stabil saat sampel bereaksi sempurna dengan DPPH . Operating time dilakukan dengan mengukur antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan. Penetapan operating time perlu dilakukan untuk meminimalkan terjadinya kesalahan pengukuran. Operating time ditunjukkan dengan nilai absorbansi DPPH yang relatif konstan . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Gambar 1 Kurva serapan maksimum larutan 1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl (DPPH) Hasil pengukuran antioksidan kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Hasil dari pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan pada masing-masing konsentrasi yaitu 20, 40, 60, 80 dan 100 AAg/ml, kemudian ditambahkan larutan DPPH . AAg/m. dan diinkubasi selama 26-32 menit. Kemudian diukur serapannya pada Panjang gelombang maksimum 518 nm. Diperolehlah absorbansi dari masing-masing konsentrasi yaitu 0,762, 0,670, 0,595, 0,443 dan 0,364. Tujuan diinkubasi karena reaksi berjalan lambat sehingga sampel membutuhkan waktu untuk dapat bereaksi dengan radikal bebas DPPH. Proses berjalannya reaksi tersebut ditandai dengan perubahan warna sampel kayu kuning yang awalnya ungu menjadi warna kuning. Perubahan warna tersebut menandakan pada masing-masing konsentrasi memiliki kemampuan sebagai antioksidan. Radikal bebas DPPH yang memiliki elektron tidak berpasangan akan memberikan warna ungu. Pada saat elektronnya berpasangan warna larutan akan berubah menjadi kuning. Perubahan intensitas warna ungu menjadi kuning karena karena adanya peredaman radikal bebas yang dihasilkan oleh bereaksinya molekul DPPH dengan atom hydrogen yang dilepas oleh molekul senyawa sampel sehingga terbentuk senyawa diphenyl picrylhydrazil. Reaksi ini menyebabkan terjadinya peluruhan warna dari ungu menjadi kuning. Perubahan warna tersebut menyebabkan penurunan nilai absorbansi pada setiap peningkatan konsentrasi . Ae. Hasil Analisis Peredaman Radikal Bebas DPPH Kemampuan aktivitas antioksidan kayu kuning diukur pada menit ke 26-32 sebagai penurunan serapan larutan radikal bebas DPPH . eradaman radikal beba. akibat adanya penambahan larutan sampel, nilai serapan larutan radikal bebas DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan sampel dihitung sebagai persen peredaman. Hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh nilai persen peredaman pada masingmasing konsentrasi. Tabel 4. Hasil analisis peredaman radikal bebas kayu kuning dan larutan vitamin c Larutan Uji Kayu Kuning Larutan Vitamin C Konsentrasi Larutan uji 0 (Blank. 0 (Blank. % Peredaman 9,71% 20,61% 29,50% 47,51% 56,87% 14,92% 28,08% 38,86% 51,77% 60,18% Berdasarkan Tabel 4 diatas dapat disimpulkan bahwa semakin kecil konsentrasi larutan uji maka semakin kecil persen peredaman DPPH. Tinggi rendahnya aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah sifatnya yang mudah rusak bila terpapar oksigen, cahaya, suhu tinggi, dan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil analisis nilai IC50 Aktivitas antioksidan pada metode DPPH dinyatakan dengan IC 50 (Inhibitory Concentratio. dimana IC50 merupakan bilangan yang menunjukkan kosentrasi sampel . yang mampu meredam radikal bebas sebesar 50%. Semakin kecil nilai IC50 menunjukkan semakin tinggi aktivitas peredaman radikal bebasnya. Sebaliknya, jika nilai IC50 semakin besar maka semakin rendah pula aktivitas peredaman radikal bebasnya. Aktivitas antioksidan dapat dibagi menjadi kategori sangat kuat, kuat, sedang, lemah, dan sangat lemah. Antioksidan dikatakan sangat kuat apabila memiliki nilai IC 50 kurang dari 50 AAg/ml, antioksidan dikategorikan kuat jika memiliki nilai IC50 50-100 AAg/ml, antioksidan dikategorikan sedang jika memiliki nilai IC50 100-150 AAg/ml, antioksidan dikategorikan lemah jika memiliki nilai IC 50 151-200 dan nilai IC50 lebih dari 200 AAg/ml merupakan antioksidan berkategori sangat lemah. Nilai IC50 diperoleh persamaan regresi linier yang menyatakan hubungan antara konsentrasi sampel uji dengan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, dimana konsentrasi larutan uji . sebagai absis . dan nilai % peredaman sebagai ordinat . Hasil analisis nilai IC50 uji aktivitas antioksidan ekstrak kayu kuning dan vitamin C dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil persamaan regresi linier, nilai IC50 ekstrak kayu kuning dan larutan Vitamin C No. Larutan Uji Ekstrak kayu kuning Vitamin C Persamaan regresi Y=0,6522x 5,248 Y= 12,0649x 2,1439 IC50 9,65 3,96 Kategori Sangat kuat Sangat kuat Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak kayu kuning memiliki sangat kuat dengan nilai IC50 yang diperoleh sebesar . ,65 AAg/m. dan pada pengukuran vitamin C . ,96 AAg/m. sebagai pembanding memiliki aktivitas antioksidan kategori sangat kuat . ,37,. Salah satu senyawa metabolit sekunder yang dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan yaitu Flavonoid merupakan antioksidan eksogen yang mengandung gugus fenolik dan telah dibuktikan bermanfaat dalam mencegah kerusakan sel akibat stress oksidatif. Senyawa flavonoid tersebut bertindak sebagai penangkap radikal bebas karena gugus hidroksil yang dikandungnya mendonorkan hydrogen kepada radikal bebas. Senyawa tersebut mampu menetralisir radikal bebas dengan memberikan elektron kepada radikal bebas sehingga atom dengan elektron yang tidak berpasangan mendapat pasangan elektron dan tidak lagi menjadi radikal . Hasil Uji Toksisitas Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. Senyawa toksisitas merupakan senyawa yang bersifat toksik untuk menghambat pertumbuhan sel Uji toksisitas terhadap larva udang (Arthemia salina L) dengan menggunakan metode brine shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan uji pendahulan dalam upaya menentukan senyawa anti kanker dengan penentuan LC50 setelah pemaparan larutan ekstrak selama 24 jam . Penentuan LC50 merupakan kadar suatu zat yang dapat menyebabkan 50% kematian pada hewan uji dari suatu kelompok spesies setelah hewan uji terpapar dalam waktu tertentu. Ae. Langkah awal sebelum melakukan pengujian pada ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. )Mer. mengembangbiakkan larva udang dengan cara menetaskan kista Arthemia salina yang dilakukan kurang lebih selama 48 jam. Berdasarkan morfologinya, larva Arthemia salina yang berumur 48 jam sudah mulai mempunyai mulut dan saluran pencernaan serta cadangan makanannya sudah mulai habis sehingga larva mulai mencari makan. Arthemia salina yang berumur 48 jam sensitive terhadap suatu zat yang dimasukkan, berbeda dengan larva berumur 24 jam yang belum mempunyai saluran pencernaan sehingga zat yang akan dimasukkan tidak dapat diabsorbsi oleh larva . Sehingga pada saat pemberian ekstrak kayu kuning larva akan memakan larutan ekstak tersebut yang akan berdampak terhadap hidup larva. Setelah 24 jam pengaruh pemberian ekstrak akan terlihat dari kematian larva. Saat mengembangbiakan Arthemia salina, alat yang digunakan dibuat dalam bentuk wadah persegi yang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian gelap dan bagian terang. Fungsi bagian gelap adalah penetasan kista dan bagian terang adalah untuk memberikan sinar selama proses penetasan. Tujuan pemberian sinar yaitu agar selama proses penetasan larva, kista yang sudah menetas dan menjadi larva akan mendekat kesumber cahaya yang berasal dari lampu. Selain itu alat penetasan kista Arthemia salina harus dilengkapi dengan aerator yang harus dihidupkan terus sampai terjadi penetasan, fungsi lain dari aerator adalah untuk Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. mencegah pengendapan kista didasar tangka. Pengendapan kista ini dapat mengakibatkan kondisi anaerob pada kista-kista sehingga perkembangan embrio akan terhambat . Kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. yang sudah melalui proses ekstraksi dengan pelarut etanol 70% siap digunakan untuk pengujian BSLT. Larutan induk dari ekstrak kayu kuning dibuat 2000 AAg/ml yaitu dengan menimbang 0,2 g ekstak kayu kuning dengan 100 ml air laut buatan. Kemudian larutan induk yang telah dibuat diencerkan menjadi beberapa konsentrasi, yaitu 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, dan 1000 AAg/ml, yang akan digunakan untuk uji orientasi konsentrasi terlebih dahulu. Selain itu dibuat juga kontrol negatif berupa air laut buatan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh air laut maupun faktor lain terhadap kematian larva. Sehingga dapat dipastikan bahwa kematian larva hanyalah akibat dari penambahan ekstrak yang dilakukan. Uji dilakukan dengan 3 kali replikasi/pengulangan . dengan tujuan agar mendapat data yang lebih baik dan lebih akurat . Kemudian masing-masing konsentrasi tersebut diujikan kedalam vial yang telah dikalibrasi selanjutnya dimasukkan larva udang yang telah ditetaskan sebelumnya sebanyak 10 ekor larva udang pada masing-masing vial dan ditambahkan air laut hingga batas kalibrasi. Setelah 24 jam, maka hitung berapa banyak larva udang yang mati, hitung % kematian dan nilai LC 50 (Lethal Cocentration . LC50 adalah besarnya konsentrasi sampel yang dapat menyebabkan kematian hewan uji sebanyak 50% dan untuk melihat efek toksik dari sampel uji setelah 24 jam terhadap larva Arthemia salina . Tabel 6. Hasil uji pendahuluan toksisitas ekstrak kayu kuning Konsentrasi ekstrak (AAg/m. Jumlah larva udang tiap vial uji Jumlah larva yang Total larva yang mati Rata-rata 2,66 3,66 4,33 5,66 6,33 7,33 9,33 9,66 % Mortalitas Kematian larva Artemia salina pada setiap konsentrasi diamati secara visual. Kriteria kematian larva Artemia salina ditentukan berdasarkan ketiadaan pergerakan sama sekali selama pengamatan. Setelah 24 jam, persentase kematian larva Artemia salina pada ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Merr. menunjukkan variasi pada setiap konsentrasi yang diuji. Standar kriteria kematian larva udang adalah jika larva tidak menunjukkan pergerakan selama 10 detik pengamatan. Setelah 24 jam, jumlah larva yang mati dicatat, dan persentase kematian dihitung untuk setiap konsentrasi berdasarkan ketiadaan pergerakan selama pengamatan . Berdasarkan hasil pengujian toksisitas ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Merr. ) terhadap larva Artemia salina, terlihat bahwa persentase kematian larva meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara konsentrasi ekstrak dan efek Konsentrasi yang digunakan dalam pengujian ini berkisar antara 100 hingga 700 AAg/ml, dipilih karena menghasilkan persentase kematian larva antara 30-80%. Rentang ini dianggap optimal karena mampu memberikan kurva linier yang baik, sehingga memudahkan dalam penentuan nilai LC50 (Lethal Concentration . dengan akurasi yang lebih tinggi . Data Tabel 7, dapat diamati bahwa pada konsentrasi 100 AAg/ml, persentase kematian larva adalah 26,6%, yang kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai 80% pada konsentrasi 700 AAg/ml. Peningkatan ini menunjukkan bahwa ekstrak kayu kuning memiliki aktivitas toksik yang signifikan terhadap larva Artemia salina. Nilai probit yang diperoleh dari analisis data juga menunjukkan tren yang konsisten, di Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. mana semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin tinggi pula nilai probitnya. Misalnya, pada konsentrasi 100 AAg/ml, nilai probit adalah 4,3750, sedangkan pada konsentrasi 700 AAg/ml, nilai probit meningkat menjadi 5,8416. Nilai LC50 diperoleh dari grafik analisis probit yang menggambarkan hubungan antara log konsentrasi dan nilai probit. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak kayu kuning memiliki potensi toksik yang cukup tinggi, dengan nilai LC50 yang dapat diestimasi secara akurat dalam rentang konsentrasi 100-700 AAg/ml. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa ekstrak kayu kuning mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid dan flavonoid, yang diketahui memiliki aktivitas toksik terhadap organisme uji . Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu kuning memiliki potensi sebagai agen toksik yang efektif, yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk aplikasi dalam bidang pengendalian hayati atau sebagai bahan baku obat tradisional. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang bertanggung jawab terhadap aktivitas toksik ini serta menguji efeknya pada organisme non-target untuk memastikan keamanan penggunaannya. Tabel 7. Hasil pengujian toksisitas ekstrak kayu kuning Konsentrasi (AAg/m. % Mortalitas Log Konsentrasi Nilai probit 2,0000 2,3010 2,4771 2,6020 2,6989 2,7781 2,8450 4,3750 4,6575 4,8313 5,1662 5,3398 5,6219 5,8416 Setelah mengetahui persen kematian, kemudia dilihat dalam tabel probit pada lampiran. Analisis probit dilakukan untuk mengetahui tingkat konsentrasi bahan yaitu ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. terhadap respon sampel . ersentase kematian se. Setelah dilakukan analisis probit dapat diketahui grafik persamaan garis lurus y =0,7905 1,7117. Dengan memasukkan nilai y yaitu nilaiprobit 50% hewan uji dan didapatkan nilai x =2, 4592 adalah 287, 872 AAg/ml. parameter yang ditunjukkan untuk mengetahui adanya aktivitas biologi pada senyawa terhadap hewan uji ialah dengan menghitung jumlah larva yang mati karena pengaruh pemberian senyawa dengan kosentrasi yang telah ditentukan . Tabel 8. Hasil persamaan regresi linier, nilai LC50 ekstrak kayu kuning No. Larutan Uji Ekstrak kayu kuning Persamaan regresi Y=0,7905x 1,7117 IC50 287,872 Kategori Toksik Menurut Meyer et al . mengatakan bahwa pada metode BSLT suatu ekstrak dikatakan aktif bila dapat menyebabkan kematian 50% hewan uji pada konsentrasi kurang dari 1000 AAg/ml . , sedangkan menurut Anderson et al . menyatakan bahwa suatu senyawa memiliki nilai LC 50 250-500 AAg/ml . Maka senyawa tersebut dikatakan toksik, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. mempunyai potensi toksisitas. Penunjukkan efek toksisitas yang dihasilkan memberikan indikasi tergangunya proses pembentukan sel, dalam hal ini diasumsikan sebagai sel kanker . Mekanisme kematian larva Artemia salina yang berkaitan dengan senyawa alkaloid dan flavonoid berfungsi sebagai penghenti nafsu makan. Ketika senyawa ini diintroduksi ke dalam tubuh larva, mereka bertindak sebagai racun perut, menyebabkan gangguan dalam sistem pencernaan. Hal ini dapat terjadi melalui penghambatan reseptor rasa di mulut larva, yang mengakibatkan kegagalan larva dalam mendeteksi makanan, sehingga berisiko mati akibat kelaparan . Senyawa alkaloid dan flavonoid terkenal memiliki efek toksik yang cukup kuat. Penelitian menunjukkan bahwa alkaloid dan flavonoid yang diisolasi dari tanaman seperti Acalypha hispida dapat meningkatkan pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan stres oksidatif, yang selanjutnya merusak DNA, protein, dan lipid dalam sel . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pengaruh toksik dari senyawa tersebut juga dipicu oleh stres oksidatif yang dihasilkan dari akumulasi ROS. Stres oksidatif adalah hasil dari ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan tubuh untuk menetralkannya . Beberapa studi telah mengindikasikan bahwa senyawa flavonoid tidak hanya terlibat dalam proses penghambatan mikroba, tetapi juga dalam modulas respons saraf dan peradangan, berkontribusi pada efek toksik lebih lanjut pada larva Artemia salina . Senyawa-senyawa bioaktif dari ekstrak tanaman sering kali berfungsi dalam merusak aktivitas pencernaan, menyebabkan gangguan pada metabolisme dan akumulasi lipid yang berdampak pada kerusakan sel. Efek racun perut ini bersifat multifaset, yang mencakup penghalangan saluran pencernaan dan penghambatan respons sensorik, yang vital bagi proses pengecapan dan tidak dapat diabaikan dalam hal peningkatan kematian larva . Lebih jauh, senyawa alkaloid dan flavonoid juga mempengaruhi sistem enzim antioksidan larva. Meningkatnya stres oksidatif dapat mengganggu keseimbangan antara oksidasi dan antioksidasi dalam sel, sehingga mempercepat kerusakan sel dan kematian larva . Penelitian yang dilakukan oleh Vitorino et al. menggarisbawahi sifat pro-oksidan dari berbagai senyawa, menunjukkan bahwa paparan terhadap senyawa ini dapat menyebabkan kematian sel akibat kerusakan membran dan struktur dalam sel . Oleh karena itu, senyawa alkaloid dan flavonoid tidak hanya berperan sebagai antifeedant yang mengurangi minat makan, tetapi juga sebagai mediator yang memperburuk kondisi fisiologis larva Artemia salina, mempercepat kematian sel dan larva akibat stres oksidatif dan disfungsi pencernaan . Senyawa golongan flavonoid dapat menginduksi fragmentasi DNA yang mengakibatkan DNA menjadi rusak, kerusakan DNA mengakibatkan munculnya peningkatan protein proapoptosis sehingga terjadi proses apoptosis sel yang mengakibatkan kematian sel, dan proses pertumbuhan sel dapat terhalang dan mengakibatkan kematian sel . Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak kayu kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 9,65 AAg/ml. Selain itu, hasil uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test menunjukkan bahwa ekstrak kayu kuning memiliki daya toksisitas dengan nilai LC50 sebesar 287,872 AAg/ml, yang dikategorikan sebagai toksik. Conflict of Interest Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini. Seluruh proses penelitian dan penulisan dilakukan secara mandiri, tanpa intervensi eksternal, serta bebas dari kepentingan pribadi, finansial, atau profesional yang dapat memengaruhi objektivitas dan integritas hasi. Acknowledgment Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Medan atas penyediaan fasilitas yang memungkinkan terlaksananya penelitian ini. Supplementary Materials Referensi