Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 MEDIA EDUKASI STIPMA (STIK INFORMASI PEMBERIAN MAKAN ANAK) MENINGKATKAN PENGETAHUAN IBU DAN POLA PMBA ANAK USIA 6 Ae 24 BULAN Dewi Praya Untari 1. Dahliansyah1. KYanuarti Petrika1. Desi1. Suaebah1 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak. Kalimantan Barat. Indonesia Email Penulis Korespondensi (K) : yanuartip87@gmail. ABSTRAK Asupan makanan dipengaruhi pola makan pada balita. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik, maka akan berdampak pada pertumbuhan balita. Salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian makan balita adalah pengetahuan. Media STIPMA merupakan media edukasi visual hasil modifikasi media flashcard yang dijadikan media stik informasi. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh pemberian media edukasi Stik Informasi Pemberian Makan Anak (STIPMA) dan lembar balik Kartu Kontrol Makanan Pendamping ASI (KUKOMPAS) terhadap pengetahuan ibu dan pola pemberian makan pada balita usia 6-24 bulan di Puskesmas Kampung Bangka. Penelitian ini quasieksperimen dengan rancangan pretest-posttest with control group design, responden penelitian 16 pada kelompok kontrol dan 16 pada kelompok perlakuan pada kelurahan Bansir Laut yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi. Perlakuan berupa pemberian media stik informasi dan pemberian edukasi dengan lembar balik yang dilakukan selama 4 kali pertemuan dalam 21 hari. Analisis data yang di gunakan uji Wilcoxon rank, uji pairet-t test, dan uji Independent-test. Terdapat perbedaan pengetahuan ibu yang signifikan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan pemberian media STIPMA dengan p-value sebesar 0,045<0,05, dan ada perbedaan pola pemberian makan pada balita kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan pemberian media STIPMA dengan p-value sebesar 0,006>0,05 dimana kelompok perlakuan lebih baik dari pada kelompok kontrol. Pemberian media STIPMA dan edukasi menggunakan lembar balik dapat membantu meningkatkan pengetahuan ibu dan membantu ibu dalam mengubah pola pemberian makan pada balita. Kata kunci: Lembar balik. Media STIPMA. Pengetahuan gizi. Pola pemberian makan balita ABSTRACT Food intake was influenced by eating patterns in toddlers. If the diet was not achieved properly, it will have an impact on the growth of toddlers. One of the factors that influenced mothers in feeding toddlers was knowledge. STIPMA media was a visual education media modified from flashcard media. The purpose of the study was to analyze the effect of giving STIPMA educational media . hild feeding information stick. , the flipcharts Breastmilk Complementary Food Control Card (KUKOMPAS) on mother's knowledge and feeding patterns for toddlers aged 6-24 months at the Kampung Bangka Health Centre. The research was quasi-experimental with a pretest-posttest with a control group design, the research sample was 16 in the control and the other 16 in the treatment group in the Bansir Laut sub-district which was determined based on the inclusion criteria. The treatment was in the form of giving media information sticks and providing education with flipcharts which were carried out for 4 meetings in 21 days. Data analysis used the Wilcoxon rank test, paired t-test, and Independent-test. There was a significant difference in mother's knowledge in the treatment and the control group by giving STIPMA media with a p-value of 0. 045<0. 05, and there was a difference in feeding patterns of toddlers in the treatment and the control group by giving STIPMA media with a p-value of 0. 006>0. where the treatment group was better than the control group. The Giving STIPMA media and education using flipcharts could help increase mothersAo knowledge and assist mothers in changing feeding patterns for toddlers. Keywords: Flipcharts. Nutritional Knowledge. STIPMA Media. Toddler feeding pattern Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 PENDAHULUAN Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu bangsa (Nurbaiti, 2. Sumber Daya Manusia (SDM) sangat ditentukan oleh status gizi yang baik dan juga ditentukan oleh jumlah asupan makanan yang dikonsumsi (Widaryanti & Rahmuniyati, 2. Asupan makanan dipengaruhi dengan pola makan pada balita. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik, maka akan berdampak pada pertumbuhan balita. Pemberian makan pada bayi dan anak yang baik merupakan salah satu strategi dalam perbaikan gizi balita. Pemberian makan yang baik sejak berusia 6 bulan bertujuan utuk memenuhi kebutuhan gizi balita. Menurut WHO dan UNICEF sangat dianjurkan untuk meningkatkan status gizi bayi dan anak karena dapat menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas hidup ibu (Fadjri, 2. Permasalahan gizi di Indonesia masih banyak ditemukan, sehingga masih perlu upaya untuk meningkatkan dan menanggulangi masalah gizi tersebut. Masalah gizi jika tidak ditanggulangi akan berdampak pada tingginya angka kematian pada balita (Budi Faisol et al. , 2. Berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2018, masih terdapat kasus gizi yang terjadi di Kalimantan Barat yang angkanya lebih tinggi dibandingkan dengan Nasional, dimana kasus gizi buruk sebesar 5,24% angka nasional hanya 3,90%. Untuk kasus gizi kurang sebesar 18,59%, nasional hanya 13,80%. Kasus balita kurus sebesar 10,26%, nasional hanya 6,70%. Kasus balita sangat kurus sebesar 4,03%, nasional hanya 3,50%. Kota Pontianak juga masih memiliki masalah gizi buruk yang lebih tinggi dari Nasional, dimana kasus gizi buruk sebesar 3,95% Nasional hanya 3,90%. Kasus balita kurus di Kota Pontianak lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Barat dan nasional yaitu sebesar 12,13%. Provinsi Kalimantan Barat sebesar 10,26% dan nasional hanya 6,70%, dan kasus balita kurus tersebut masih berada diatas rata-rata target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2019 yaitu sebesar 9,5%. Berdasarkan Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) di UPT Puskesmas Kampung Bangka pada Tahun 2018 dan 2019, menunjukkan bahwa kasus balita sangat kurus meningkat dari 0% menjadi 16,5% dan kasus gizi kurang juga meningkat dari 17,6% menjadi 22,6%, serta kasus gizi buruk juga meningkat dari 5,8 % menjadi 6,5 %. Data tersebut dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan masalah gizi khususnya Wasting di Wilayah UPT Puskesmas Kampung Bangka, sehingga perlu upaya untuk menanggulangi masalah gizi tersebut salah satunya dengan kegiatan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Tahun 2019 Puskesmas Kampung Bangka sudah mengadakan kegiatan PMBA. Kegiatan PMBA ini dilakukan oleh 32 Ibu balita selama 21 hari. Kegiatan ini terdiri dari penyuluhan, diskusi dan praktik. Adapun kegiatan yang dilakukan hanya menggunakan media lembar balik. Hasil kegiatan PMBA ini masih terdapat balita yang bermasalah pada status gizinya. Hasil kegiatan Praktik PMBA selama 21 hari ini masih ditemukan sekitar 40. 63% ibu yang masih memilih variasi makanan dua atau tiga bintang saja, serta pola pemberian makan ibu ke anak balitanya kembali lagi seperti sebelum Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 dilakukan kegiatan PMBA tersebut. Pola makan selama masa bayi dan balita mempengaruhi kecukupan atau kelebihan gizi selama periode perkembangan kritis (Anater et al, 2. Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi perilaku saat memberi makan anak, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi yang terlibat. Menurut (Sari, 2. , pengetahuan ibu yang rendah akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dan status gizi anak. Peningkatan pengetahuan untuk Ibu balita dapat dilakukan dengan penggunaan media edukasi. Media edukasi dalam kegiatan pendidikan kesehatan sangat berperan penting dalam memberikan informasi sehingga dapat membantu dalam merubah pola ibu dalam memberikan makanan kepada anaknya (Siregar, 2. Penelitian Purwani . , terdapat hubungan pola pemberian makan dengan status gizi. Menurut (Sari, 2. , ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang pola pemberian makan dengan status gizi balita. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pola makan dapat menggunakan media flash card. Flash card adalah salah satu bentuk media edukatif berupa kartu yang memuat gambar dan kata yang ukurannya bisa disesuaikan sendiri (Hotimah, 2. Berdasarkan hasil analisis pada penelitian Zubaedah dan Lestari . didapatkan bahwa media flash card dapat meningkatkan pengetahuan tentang pola makan sehat pada balita. Peneliltian Ningsih . , pendidikan kesehatan menggunakan media flashcard dengan tema anemia dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil dengan sangat baik. Pengetahuan anak tentang pedoman umum diet seimbang dipengaruhi sebelum dan sesudah pendidikan media flashcard (Maslakah & Setiyaningrum, 2. Inovasi yang dilakukan pada penelitian ini, peneliti ingin memodifikasi media flashcard yang dijadikan media stik informasi dimana media tersebut didesain sehingga pada saat ditarik media stik tersebut berisi informasi tentang sumber dan manfaat di dalam pemberian makan pada balita. Media ini dapat disimpan di ruangan makan atau dapur sehingga memudahkan ibu untuk melihat edukasi di dalam media tersebut, diharapkan dengan sering melihatnya media stik informasi ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita di dalam pemberian makan balita. Selain itu peneliti akan membuat kartu kontrol untuk memudahkan ibu balita dalam mengecek pemberian makan pada balitanya sesuai dengan standar PMBA dimana nantinya Ibu balita setiap harinya mengontrol kegiatan pemberian makan kepada anaknya dengan kartu kontrol tersebut dengan cara diceklis setiap hari nya. Kegiatan yang dilakukan akan dipantau oleh peneliti dan dibantu oleh kader PMBA. Berdasarkan latar belakang masih tingginya masalah gizi, ketersediaan SDM yang kurang, tingkat pengetahuan yang rendah dan pola pemberian makan yang kurang tepat pada balita, serta media edukasi yang terbatas, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk melihat Pengaruh Pemberian Media Edukasi STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. dan lembar balik KUKOMPAS (Kartu Kontrol Makanan Pendamping ASI) terhadap Pengetahuan Ibu dan Pola Pemberian Makan Pada Balita Usia 6-24 bulan di UPT Puskesmas Kampung Bangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Media Edukasi STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. dan Lembar Balik KUKOMPAS (Kartu Kontrol Makanan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 Pendamping ASI) terhadap Pengetahuan Ibu dan Pola Pemberian Makan Pada Balita Usia 6-24 bulan di UPT Puskesmas Kampung Bangka. METODE Penelitian yang dilakukan ini dengan metode quasi eksperimen dengan desain pre-test posttest with control group yaitu satu kelompok dilakukan pretest sebelum diberikan perlakuan (Hidayah. Desain ini digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan pada dua kelompok. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok I sebagai kelompok perlakuan yang mendapatkan media edukasi STIPMA (Gambar . dan kartu kontrol serta kelompok II sebagai kelompok kontrol yang mendapatkan edukasi lembar balik dan kartu kontrol. Penelitian ini dilakukan pada Ibu balita di wilayah kerja UPT Puskesmas Kampung Bangka Kecamatan Pontianak Tenggara pada Bulan Juli - Agustus 2021. Populasi untuk penelitian ini adalah seluruh ibu balita yang mempunyai anak berusia 6-24 bulan di wilayah Kerja UPT Puskesmas Kampung Bangka. Kecamatan Pontianak Tenggara. Responden pada penelitian ini adalah ibu balita yang sudah mendapatkan informasi tentang pemberian makan balita berjumlah 32 ibu balita . balita sebagai kelompok perlakuan dan 16 balita sebagai kelompok kontro. Responden penelitian terdiri dari 8 balita sebagai kelompok perlakuan dan 8 balita sebagai kelompok kontrol yang diambil dari masing-masing RW 3 dan RW 4. Tehnik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dimana responden diambil berdasarkan tujuan penelitian dan kriteria yang sudah ditetapkan oleh peneliti. Pada penelitian ini menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi: . Keluarga yang mempunyai balita usia 6-24 bulan, . Pernah mengikuti kegiatan PMBA, . Ibu balita yang memiliki buku KIA, . Bersedia Menjadi Responden, . Ibu rumah tangga, . Tempat Tinggal Responden di daerah penelitian yaitu di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bangka Kecamatan Pontianak Tenggara. Kriteria eksklusi: . Balita yang mempunyai penyakit penyerta, . Ibu yang memiliki pekerjaan. Variabel yang digunakan pada penelitian ini meliputi pengetahuan gizi ibu dan pola pemberian makan bayi dan anak. Data dikumpulkan dengan cara melakukan wawancara langsung kepada responden. Instrumen pengumpulan data terdiri dari kuesioner penelitian dan KUKOMPAS (Gambar . Prosedur penelitian diantaranya: . Membuat dan mendesain Media Edukasi Stik Informasi dan Kukompas . artu kontrol makanan pendamping ASI), . Mengidentifikasi responden yang memenuhi kriteria inklusi penelitian, . Melakukan kunjungan pada semua responden yang bersedia mengikuti penelitian, selanjutnya diminta untuk menandatangani lembar Informed Consent dan diberikan penjelasan teknis penelitian, . Reponden mengisi lembar kuesioner identitas ibu balita, dan mengisi angket pertanyaan tentang pemberian makan pada balita dan peneliti akan melakukan penilaian pola pemberian makan balita dengan recall 1x24 jam menggunakan kartu kontrol untuk melakukan pretest, . Pada kelompok kontrol diberikan konseling lembar balik PMBA dan kartu kontrol, dan pada kelompok perlakuan diberikan konseling lembar balik PMBA, diberikan media Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 STIPMA dan kartu kontrol. Penelitian akan dilakukan selama 21 hari dan selama 5 hari responden akan dipantau secara online atau offline oleh peneliti atau kader. Setelah pemantauan akhir, responden akan melakukan posttest dan diberikan kembali kuesioner pengetahuan untuk diisi. Setelah itu data kartu kontrol akan dikumpulkan kepada peneliti. Setelah data terkumpul, baik data pre test maupun post test kemudian dilakukan analisis data dengan komputerisasi. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang diteliti. Adapun data yang dikumpulkan yaitu identitas responden, data pengetahuan ibu dan pola pemberian makan balita. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh pemberian media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. dan kartu kontrol (KUKOMPAS) terhadap pengetahuan dan pola pemberian makan balita. Sebelum dilakukan uji statistik, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Jenis uji statistik yang digunakan jika data berdistribusi normal adalah parametric test menggunakan paired sample t-test dan independent t-test. Uji independent t-test digunakan untuk menilai perbedaan media STIPMA, edukasi lembar balik dan kartu kontrol (KUKOMPAS) terhadap pengetahuan dan pola pemberian makan balita. Uji paired sample t-test digunakan untuk menilai perbedaan media STIPMA terhadap pengetahuan ibu, perbedaan media STIPMA dan kartu kontrol (KUKOMPAS) terhadap pola pemberian makan balita, perbedaan edukasi lembar balik terhadap pengetahuan ibu dan perbedaan edukasi lembar balik dan kartu kontrol (KUKOMPAS) terhadap pola pemberian makan balita. Uji non parametric test akan dilakukan jika data tidak berdistribusi normal dengan menggunakan Wilcoxon rank dan mann whitney. Seluruh data diolah dan dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS. Gambar 1 : KUKOMPAS (Kartu Kontrol Makan Pendamping ASI) Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 Gambar 2. STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. HASIL Distribusi karakteristik responden penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi karakteristik responden penelitian pada Puskesmas kampung Bangka Tahun Kategori Usia Balita 6 - 11 Bulan 12 - 24 Bulan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia Ibu 15 Ae 30 Tahun 31 Ae 46 Tahun Pendidikan Terakhir Ibu SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat Perguruan Tinggi Total Perlakuan Kontrol Tabel 1 menunjukkan bahwa usia balita paling banyak 12-24 bulan sebesar 68,8% . elompok perlakua. dan 50% . elompok kontro. serta paling banyak berjenis kelamin perempuan sebesar Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 56,2% . elompok kontrol dan perlakua. Karakteristik ibu balita dilihat dari usia lebih banyak berusia 15-30 tahun pada kelompok perlakuan . %) dan 31-46 tahun pada kelompok kontrol . ,5%). Selain itu, pendidikan terakhir ibu paling tinggi tamatan SLTA/Sederajat sebesar 50% . elompok kontrol dan perlakua. Tabel 2. Perbedaan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah pemberian media edukasi di Puskesmas kampung Bangka Tahun 2021 Pengetahuan Ibu Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Sebelum 55,0 A 14,9 Median A SD Min Max Negative Rank Positive Rank Ties p-value Mean A SD p-value 50,9 A 10,1 Sesudah 100,0 A 4,7 < 0,001a 80,0 A 9,1 < 0,001b Selisih 45,0 A 10,1 29,0 A 8,3 a : uji wilcoxon rank b: uji paired t-test Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan ibu mengalami peningkatan sebelum dan sesudah diberikan edukasi sebesar 45 point. Hasil uji Wilcoxon rank diperoleh nilai p-value sebesar <0,001, sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan pengetahuan ibu yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan ana. Selain itu, seluruh responden mengalami peningkatan pengetahuan . ositif rank=. Pada kelompok kontrol, rata-rata pengetahuan ibu juga mengalami peningkatan sebelum dan sesudah diberikan edukasi sebesar 29 Hasil uji paired t-test diperoleh nilai p-value sebesar < 0,001, sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan edukasi menggunakan lembar Pola Pemberian Makan Pada Balita sebelum dan sesudah dilaksanakan edukasi gizi pada kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perbedaan pola pemberian makan pada balita sebelum dan sesudah diberikan media edukasi pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol di UPT Puskesmas kampung Bangka Tahun 2021 Pola Pemberian Makan Kelompok Perlakuan Sebelum 41,1 A 9,8 Mean A SD Sesudah 83,7A 7,4 0,000b p-value Kelompok Kontrol Mean A SD 37,4 A 13,6 p-value Selisih 42,6 A 2,4 64,7 A 8,1 27,3 A 5,5 0,000b b: uji paired t-test Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata pola ibu dalam pemberian makan bayi dan anak mengalami peningkatan sebelum dan sesudah diberikan edukasi sebesar 42,6 point pada kelompok perlakuan dan 27,3 point pada kelompok kontrol. Hasil uji paired t-test diperoleh nilai p-value sebesar 0,000, sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan pola ibu dalam pemberian makan balita yang Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 signifikan sebelum dan sesudah diberikan media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan ana. Selain itu juga terdapat perbedaan pola ibu dalam pemberian makan balita yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan media lembar balik. Tabel 4. Distribusi selisih nilai rata-rata pengetahuan dan pola pemberian makan pada balita kelompok perlakuan dan kelompok kontrol di UPT Puskesmas kampung Bangka Tahun 2021 Variabel Pengetahuan Ibu Pola Pemberian Makan Mean A SD p-value Mean A SD p-value Kelompok Perlakuan 38,7 A 14,6 42,5 A 11,7 Kelompok Kontrol 29,1 A 11,2 0,045c 27,2 A 17,2 0,006c Selisih 9,6 A 3,3 15,3 A 5,4 c : uji Independen t-test Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan ibu antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan p-value sebesar 0,045. Pada pola PMBA juga menunjukkan terdapat perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan p-value sebesar 0,006. BAHASAN Pemberian MP-ASI pada bayi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu. Kurangnya pengetahuan gizi dan kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari merupakan penyebab utama gangguan makan pada bayi (Notoatmodjo, 2. Salah satu Faktor yang mempengaruhi pemberian makan pada balita salah satunya yaitu, pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI (Mulyana & Maulida, 2. , sehingga perlu diberikan edukasi gizi pada ibu balita. Pengetahuan yang baik akan mendukung perilaku ibu yang baik dalam memberikan makanan pada anak sesuai dengan empat bintang MP-ASI (Saputri & Kusumastuti, 2. Media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. merupakan media edukasi visual. Media stik informasi yang dibuat dengan bentuk seperti kotak yang terdapat stik yang dapat ditarik dari kotak berbahan akrilik dengan ukuran kotak 14 x 19 cm, dan pada stik informasi dengan ukuran 16 x 6 cm, media ini dapat disimpan di ruangan makan atau dapur sehingga memudahkan ibu untuk melihat edukasi di dalam media tersebut, didalam media ini diberikan materi tentang sumber bahan makanan, manfaat, dan akibat kekurangan dari pemberian makan pada balita sesuai dengan empat bintang MP-ASI. Empat bintang ini terdiri dari bintang satu yaitu jenis karbohidrat yang berwarna kuning, bintang dua jenis protein hewani berwarna merah, bintang tiga jenis protein nabati berwarna biru dan bintang empat jenis buah dan sayur berwarna hijau. Cover depan diberikan materi tentang jumlah, frekuensi, dan bentuk makanan berdasarkan umur. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil rata-rata pengetahuan ibu pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan sesudah diberikan edukasi dari hasil uji Wilcoxon rank diperoleh nilai p-value sebesar < 0,001, sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pengetahuan ibu Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 yang signifikan sesudah diberikan edukasi STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. Pada uji selisih pengetahuan ibu dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan pada kelompok perlakuan dan kontrol dengan pemberian media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. yaitu hasil uji Independent t-test diperoleh nilai p-value sebesar 0,045 < 0,05. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Choliyah, 2. dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi gizi dan booklet lebih efektif dalam mengubah pengetahuan dengan p-value 0,002 dan pola pemberian PMBA p-value 0,023 dibandingkan hanya memberikan booklet saja. Hasil ini sesuai dengan penelitian Maslakah & Setiyaningrum, . menunjukkan bahwa pengetahuan anak tentang pedoman umum diet seimbang dipengaruhi sebelum dan sesudah pembelajaran dengan media flashcard. Hasil ini sejalan dengan penelitian Nufaisah et al. , . menunjukkan bahwa pengetahuan anak tentang pedoman umum diet seimbang efektif sebelum dan sesudah pendidikan media flashcard. Hasil ini sejalan dengan penelitian Putra et al. , . bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang MP-ASI sebelum dan sesudah intervensi berpengaruh signifikan terhadap konseling individu dengan menggunakan media flip chart. Uji peringkat bertanda Wilcoxon, yaitu p = 0,00 . Hasil ini sejalan dengan penelitian Selviyanti et al. , . yaitu pada kelompok perlakuan dan kontrol menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan masing-masing nilai p-value = 0,000. Media flashcard lebih efektif meningkatkan pengetahuan siswa . -value = 0,. Sekolah diharapkan melanjutkan media flashcard dan menyebarluaskan informasi tentang pesan keseluruhan dari diet seimbang. Gizi Bayi yang Tepat (PHT) merupakan salah satu upaya dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang berkualitas sekaligus memenuhi hak-hak anak (Kemenkes, 2. Makanan pendamping ASI disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan bayi menurut umur bayi apabila pemberian makanan tambahan diberikan kurang dari 6 bulan mengakibatkan dampak negatif terhadap kesehatan bayi seperti penurunan berat badan balita, bayi menjadi mudah terkena penyakit pada saluran pencernaan seperti bayi mudah diare bahkan dapat meningkatkan angka kematian bayi (Saputri & Kusumastuti, 2. Pemberian MP-ASI dapat berupa bubur, tim, sari buah, jus buah, dan Pemberian MP-ASI baik jenis, porsi dan frekuensinya tergantung dari usia dan kemampuan Agar pemberian MP-ASI berjalan baik, maka diperlukan pengetahuan yang baik pula mengenai pola pemberian MP-ASI yang tepat (Wahyuni, 2. Gizi adalah bagian yang sangat penting dari pertumbuhan. Makanan mengandung banyak zat gizi, sehingga gizi bayi berperan penting dalam proses tumbuh kembang bayi. Zat gizi yang terkandung di dalamnya sangat erat kaitannya dengan kesehatan dan kecerdasan. Pada kasus gizi buruk, anak sangat rentan terhadap infeksi. Gizi ini memiliki efek yang besar pada nafsu makan. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik pada balita maka pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus, pendek bahkan bisa terjadi gizi buruk pada balita (Purwani et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan rata-rata pola pemberian makan balita pada kelompok perlakuan mengalami peningkatan sesudah diberikan edukasi gizi. Hasil uji paired t-test diperoleh nilai p-value sebesar Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 0,000. sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pola pemberian makan pada anak yang signifikan sesudah diberikan STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. Pada uji selisih pola pemberian makan pada anak dapat disimpulkan ada perbedaan pengaruh yang signifikan pada kelompok perlakuan dan kontrol dengan pemberian media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. hasil uji Independent t-test diperoleh nilai p-value sebesar 0,006<0,05. Pendidikan kesehatan yang diberikan pada ibu balita dalam penelitian ini yaitu berupa media stik informasi dan edukasi menggunakan lembar balik. Media tersebut dapat mempengaruhi dan merubah pola ibu dalam memberikan makan anak. Edukasi yang diberikan memberikan informasi kepada ibu bayi tentang tujuan MP-ASI untuk meningkatkan kebutuhan energi dan gizi bayi. Makanan Pendamping ASI untuk bayi memiliki beberapa kriteria, antara lain kadar energi dan protein yang tinggi, kadar vitamin dan mineral yang tepat, serta pencernaan yang baik. Makanan pendamping ASI yang baik adalah makanan pendamping bintang 4 untuk ASI, terbuat dari bahan makanan segar seperti tempe, kacang-kacangan, telur ayam, hati ayam, ikan, sayuran dan buah-buahan (Marfuah & Kurniawati, 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Noviyanti, 2. menyatakan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi mempengaruhi pola pemberian makan balita. Tingkat pengetahuan ibu yang baik tentang gizi balita mempengaruhi ibu dalam memilih dan memberikan makanan yang diberikan kepada balita serta akan menerapkan pemberian makanan yang baik pula (Nindyna Puspasari & Merryana Andriani, 2. Penelitian ini sejalan dengan Banowoso, . Hasil uji dependent terdapat perbedaan rata-rata praktik pemberian makan antara kelompok kontrol dan intervensi dengan nilai p-value 0,000 dan 0,168. Edukasi gizi sebagai program unggulan sehingga dapat meningkatkan praktik pemberian makan keluarga terhadap anak stunting. Penelitian ini sejalan dengan Maryati Dewi, . Intervensi edukasi gizi sebanyak tiga kali setiap minggu di posyandu dapat meningkatkan skor pengetahuan dan pemberian makan kepada ibu yang mempunyai balita Kelompok yang mendapat intervensi dengan menggunakan media sampel makanan memiliki peningkatan skor yang lebih tinggi pada pengetahuan dan pemberian makan. Penelitian ini sejalan dengan Junita et al. , . bahwa praktik pendidikan ibu terkait gizi bayi harus dilakukan dengan benar dan tepat. Hasil uji statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan dan regresi logistik multinomial. Dukungan eksekutif mempengaruhi pengasuhan anak Hasil ini sesuai dengan penelitian Wulandari, . yaitu setelah intervensi media smart card, pengetahuan dan praktik siswa SD dalam pemilihan jajanan mengalami peningkatan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sanghvi et al. , . tantang program alive and thrive meningkatkan intervensi pemberian makan bayi dan anak di Bangladesh dengan melakukan konseling terdapat peningkatan yang signifikan dalam praktek yang berkaitan dengan menyusui dan pemberian makan anak. Hasil praktik menunjukkan ibu ada peningkatan pengetahuan tentang MP-ASI dan ketrampilan dalam pembuatan MP-ASI sesuai kategori usia anak (Hapsari Windayanti. Masruroh, 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 1. Juni 2022 Hasil ini dapat dijelaskan dengan fakta bahwa pola gizi orang tua dapat meningkatkan status gizi anak. Pola gizi orang tua berdasarkan jenis makanan, jumlah makanan, dan rencana gizi yang tepat dapat menjamin status gizi yang normal. Di sisi lain, pola pemberian makan yang tidak tepat dari segi jumlah, jenis dan jadwal mempengaruhi status gizi anak. Orang tua harus menekankan bahwa ketika memilih bahan pangan yang mengandung nutrisi seimbang, perlu untuk memilih pola makan yang tepat. Ketika pola makan bergizi dan seimbang maka anak-anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya dengan cara yang berbeda-beda. Ketika nutrisi yang tepat tercapai, status gizi anak normal dan anak sehat serta dapat beraktivitas dengan baik (Subarkah & Rachmawati, 2. KESIMPULAN Rata-rata pengetahuan gizi ibu dan pola PMBA mengalami peningkatan sebelum dan sesudah diberikan edukasi menggunakan media STIPMA. Ada perbedaan yang signifikan rata-rata pengetahuan Ibu dalam pemberian makan bayi dan anak (PMBA) sebelum dan sesudah diberikan media STIPMA (Stik InformasIi Pemberian Makan Ana. Selain itu juga, pada Pola Pemberian Makan Bayi dan Anak ada perbedaan nilai rata-rata sebelum dan sesudah diberikan media STIPMA (Stik Informasi Pemberian Makan Ana. Ada perbedaan pengetahuan ibu antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Begitu juga pada pola PMBA menunjukkan ada perbedaan pola PMBA antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait jumlah asupan yang di konsumsi balita untuk melihat kecukupan makan dan memantau berat badan balita serta jangka waktu penelitian lebih Selain itu, diharapkan kader atau petugas dapat menggunakan media STIPMA dan KUKOMPAS sehingga dapat memantau ibu balita dalam pemberian makan balita dengan harapan dapat merubah pola pemberian makan balita. RUJUKAN