KELEKATAN (ATTACHMENT) ORANG TUA DALAM STIMULASI KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI Ayunda Zahroh1. Aulia Annisa2 1 STAI Syekh H. Abdul Halim Hasan Al-Ishlahiyah. Binjai. Indonesia, 2 STAI Syekh H. Abdul Halim Hasan Al-Ishlahiyah. Binjai. Indonesia Abstrak Kualitas hubungan antara anak dan orang tua adalah faktor penting dalam perkembangan anak-anak. Peran keluarga tidak hanya menyangkut pemenuhan segala kebutuhan yang bersifat biologis saja, tapi kebutuhan psikologis dan sosiologis dalam bentuk terjalinnya kelekatan yang aman antara anak dengan orang tua. Untuk mewujudkan hal tersebut, sistem aturan keluarga diharapkan terus mendorong dan mewarnai budaya perilaku anak ke arah kemandirian. Metode penelitian dan/atau penulisan yang digunakan adalah kajian kepustakaan. Referensi utama yang digunakan adalah buku, peraturan perundangan-undangan, makalah seminar, jurnal ilmiah edisi cetak maupun edisi online, hasil penelitian dan artikel ilmiah. Teknik analisis data bersifat deskriptif argumentatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelekatan orang tua yang tinggi pada anak ditunjukkan dengan kepercayaan, dapat membantu, menerima diri anak apa adanya, memberikan cinta dan kepedulian yang layak pada anak. Kualitas yang tinggi dapat membuat individu melihat dirinya layak untuk dicintai dan memandang individu dilingkungan sosialnya dapat diandalkan serta dapat berpikir positif dalam menjalani hidup sehingga akan muncul perilaku mandiri pada anak. Kata Kunci: kelekatan . , kemandirian, anak Usia Dini. Abstract The quality of the relationship between children and parents is an important factor in the development of children. The role of the family does not only concern the fulfillment of all biological needs, but also psychological and sociological needs in the form of establishing a safe attachment between children and their parents. To realize this, the family rule system is expected to continue to encourage and color the behavior of children towards independence. The research and/or writing method used is literature The main references used are books, laws and regulations, seminar papers, printed and online editions of scientific journals, research results and scientific articles. The data analysis technique is descriptive argumentative. The results of the analysis show that high parental attachment to children is indicated by trust, being able to help, accepting children as they are, giving proper love and care to High quality can make individuals see themselves as worthy of love and view individuals in their social environment as reliable and able to think positively in living life so that independent behavior will appear in children. Keyword: attachment, independent, early childhood. Pendahuluan Masa anak-anak merupakan masa perkembangan yang paling signifikan. Freud menyebutkan bahwa usia lima tahun pertama pada anak . olden ag. merupakan masa yang paling menentukan tahap perkembangan selanjutnya. Pada tahapan ini perkembangan otak manusia berkembang sangat pesat sehingga merupakan saat yang penting untuk merangsang kemampuan berpikir anak secara optimal. Kualitas hubungan antara anak dan orang tua adalah faktor penting dalam perkembangan anak-anak. Peran keluarga tidak hanya menyangkut pemenuhan segala kebutuhan yang bersifat biologis saja, tapi kebutuhan psikologis dan sosiologis yang wujud nyatanya adalah terjalinnya kelekatan yang aman antara anak dengan orang tua. Pengalaman sehari-hari yang menyenangkan dengan orang tua dan bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai dalam diri anak, menghadirkan diri dihadapan anak sebagai sosok yang dapat diteladani, merupakan halhal terpenting bagi pembinaan mental emosional dan mental intelektual anak. Perilaku yang berpijak pada nilai-nilai moral akan membantu anak untuk mengembangkan kemampuan sosial, sehingga anak dapat menyesuaikan diri dengan aturanaturan dan norma yang berlaku di masyarakat, membangun kebiasaan untuk menjadi individu yang mandiri, membangun rasa percaya terhadap orang lain, memahami peraturan dan disiplin, menyesuaikan diri dalam berbagai situasi serta dapat menampilkan sikap sopan. Pendidikan merupakan sarana yang sangat menentukan untuk membentuk anak berkembang ke arah dewasa. Pada hakikatnya, kedewasaan yang diinginkan adalah kemandirian dalam hidup dan kehidupannya. Kemandirian ini yang menjadi tujuan Kemandirian merupakan sikap keyakinan diri seseorang untuk berani melakukan usaha-usaha mengatasi masalah sendiri. Sikap yakin yang dimiliki dalam diri anak merupakan perkembangan mental yang harus ditanamkan dalam dirinya. Untuk mewujudkan sikap yakin tersebut, sistem aturan keluarga diharapkan terus mendorong dan mewarnai budaya perilaku anak ke arah kemandirian. Kemandirian tidak terjadi dengan sendirinya. Kemandirian terbentuk dari berproses pematangan potensi diri yang dipengaruhi dari luar dirinya. Perkembangan dipengaruhi oleh pembawaan . , lingkungan . , dan gabungan dari pembawaan dan Pengalaman dalam kehidupan manusia bisa dicermati bahwa kematangan yang dimilikinya berbeda-beda (Muhibbin Syah, 2. Figur lekat yang paling tepat pada pola kelekeatan anak ialah orang tua. Kelekatan . antara orang tua dan anak memberi dampak yang cukup signifikan pada perilaku anak pada masa depan. Jika anak memiliki kelekatan yang baik dengan orang tuanya, maka diyakini anak tersebut akan berkembang lebih optimal dan memiliki perilaku yang positif. Hal ini dipastikan karena orang tua memiliki ikatan biologis sehingga memiliki garis herediter, sebagai turunan. Atau dengan kata lain mereka memiliki ikatan darah yang kuat. Pada dasarnya untuk perkembangan optimal pada anak, khususnya anak usia dini, perlu mendapatkan stimulasi dari lingkungan. Pemberian stimulasi sebaiknya dilakukan pada saat yang tepat dengan jumlah yang memadai. Untuk itu, orang harus tahu benar tentang keadaan Orang yang tahu benar keadaan anak adalah orang yang paling awal dan paling banyak berhubungan dengan anak, serta peka terhadap kebutuhan anak. Orang ini akan dijadikan figur lekat anak dan dia pulalah yang menentukan berapa banyak stimulasi yang harus diberikan serta kapan stimulasi harus diberikan kepada anak. Oleh karena itu, anak-anak yang tidak mempunyai figur lekat akan lebih lamban perkembangannya dibanding anakAeanak yang mempunyai figur lekat. Figur yang diharapkan di sini adalah orang tua. Uraian-uraian tersebut di atas merupakan suatu bukti bahwa hubungan awal antara anak dengan figur lekatnya, akan menjadi dasar bagi perkembangan kepribadiannya. Pada awal kehidupan bayi, hubungan dengan orang lain yang berkembang sangat kuat adalah hubungan dengan orang tua. Orang tua sebagai sosok yang secara biologis memiliki ikatan yang paling kuat yang tidak akan dikalahkan oleh siapapun. Metodologi Metode penelitian dan/atau penulisan yang digunakan adalah kajian kepustakaan. Datadata yang dipergunakan dalam penyusunan karya tulis ini berasal dari berbagai literatur kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Beberapa jenis referensi utama yang digunakan adalah buku, peraturan perundangan-undangan, makalah seminar, jurnal ilmiah edisi cetak maupun edisi online, hasil penelitian dan artikel ilmiah yang bersumber dari Sumber data dan informasi didapatkan dari berbagai literatur dan disusun berdasarkan hasil studi dari informasi yang diperoleh. Penulisan diupayakan saling terkait antar satu sama lain dan sesuai dengan topik yang dikaji. Data yang terkumpul diseleksi dan diurutkan sesuai dengan topik kajian. Kemudian dilakukan penyusunan karya tulis berdasarkan data yang telah dipersiapkan secara logis dan sistematis. Teknik analisis data bersifat deskriptif argumentatif. Simpulan didapatkan setelah merujuk kembali pada rumusan masalah, tujuan penulisan, serta Adapun kesimpulan ditarik dari uraian pokok bahasan karya tulis, serta didukung dengan saran praktis sebagai rekomendasi selanjutnya. Hasil dan Pembahasan Kemandirian pada Anak Usia Dini Kemandirian adalah sikap tidak bergantung kepada orang lain. Kemandirian adalah sifat positif pembentuk keterampilan sosial yaitu kemampuan dasar yang harus ada pada anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Mandiri yaitu kecakapan mengendalikan pikiran, perasaan dengan usaha yang kuat (Desmita, 2. Secara umum, kata mandiri diartikan sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam mengatur atau mengendalikan dirinya untuk berbuat atas keyakinannya. Menurut Barnadib yang dikutip Aziz . bahwa kemandirian anak dapat dilihat dari kemampuan anak mengambil keputusan seperti memilih baju sendiri, memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, merasa bangga terhadap sesuatu yang telah dilakukan, mampu bertanggung-jawab terhadap apa yang ia lakukan seperti membereskan mainan setelah selesai bermain. Menurut Rich dalam buku Rahayu . kemandirian anak dibentuk dari lingkungan keluarga di mana anak tinggal dan dari kesempatan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Berawal dari bawaan dari lingkungan keluarganya, maka hal tersebut menjadi sebuah pembiasaan anak yang dibawa juga oleh anak ke sekolah. Pembiasaan kemandirian dapat dilakukan melalui masalah sederhana misalnya mau berusaha menyelesaikan tugas sendiri sampai selesai tanpa bantuan. Mandiri dalam arti yang lain adalah bagaimana anak belajar untuk mencuci tangan, makan, memakai pakaian, mandi, atau buang air kecil/besar sendiri. Mengajarkan anak menjadi pribadi yang mandiri memerlukan proses, tidak memanjakan mereka secara berlebihan dan membiarkan mereka bertanggung jawab atas perbuatannya merupakan hal yang perlu dilakukan jika kita ingin anak menjadi mandiri. Karakteristik Kemandirian Anak Kemandirian anak akan berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan melalui berbagai latihan secara terus menerus dan bertahap. Latihan-latihan tersebut dapat berupa tugas-tugas tanpa memerlukan bantuan yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan kemampuan anak. Kemandirian memberikan dampak yang positif bagi anak, jadi tidak salah jika diajarkan sedini mungkin yang disesuaikan dengan usia anak, tahapan perkembangan dan kemampuan anak. Menurut Yusuf . ciri khusus kemandirian pada anak usia dini, yaitu: Mempunyai kecendrungan memecahkan masalah dari pada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah, . Tidak takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik-buruknya, . Percaya terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau meminta bantuan dan . Mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap hidupnya. Kemandirian anak usia dini juga dapat dilihat dari tujuh indikator, yaitu: Mempunyai rasa percaya diri. Memiliki kemampuan fisik. Bertanggung jawab. Disiplin. Pandai bergaul. Saling berbagi, dan dapat mengendalikan emosi. Perkembangan kepribadian anak pada usia dini sangat tergantung pada interaksi antara anak dan orang tua. Agar dapat berinteraksi dengan intensif, orang tua harus memperhatikan faktor lingkungan, pemberian pengarahan, menentukan pilihan, kebebasan berinisiatif dan melatih tanggung jawab. Kelekatan . Kelekatan . merupakan istilah yang pertama kali dikemukakan oleh seorang psikolog dari Inggris bernama John Bowlby. Kelekatan merupakan tingkah laku yang khusus pada manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang tersebut (Soetjiningsih, 2. Kelekatan menurut Monks . adalah mencari dan mempertahankan kontak dengan orang-orang yang tertentu saja. Orang pertama yang dipilih anak dalam kelekatan adalah ibu . , ayah atau saudara-saudara dekatnya. Sedangkan menurut Santrok . dalam bukunya yang berjudul perkembangan anak bahwa kelekatan adalah ikatan emosional yang erat diantara dua orang. Dapat ditambah bahwa kelekatan tidak terjadi hanya pada dua orang saja namun juga kepada sesama dalam lingkup yang terdekat. Pendapat di atas bahwa perlekatan yang mengarah pada serangkaian tingkah laku dan gambaran emosi yang dapat diamati pada anak. Manusia membutuhkan perlekatan dengan manusia lain untuk perlembangan psikologi dan emosional untuk dapat bertahan hidup. Perlekatan termasuk hubungan yang unik dan eksklusif antara seorang anak dengan orang Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka kelekatan adalah hubungan timbal balik antara anak dan orang tua, yang merupakan ikatan kasih sayang dan sikap orang tua dalam mengasuh anak, orang tua mampu merespon, dan memenuhi kebutuhan anak, hubungan ini akan membentuk suatu ikatan emosional antara anak dengan orang tua dan terjalin kedekatan anak dengan orang tua, dari hubungan tersebut tercipta rasa aman. Proses Terbentuknya Kelekatan Orangtua dan Anak Kelekatan tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang dalam serangkaian fase. Menurut Bowlby, selama proses interaksi berlangsung antara anak dan pengasuh utama, anak akan mengembangkan pemahaman kognitif yang terdiri atas dua model kerja yaitu self esteem dan aspek tentang kehidupan sosial. Secara umum pendapat-pendapat tersebut berasal dari pengalaman-pengalaman individu terhadap objek lekatnya yang pada akhirnya berkembang saat berinteraksi dengan orang lain di luar keluarga sesuai dengan basic cognitive . spek kogniti. dan emotional representation . yang diberikan objek lekatnya pada anak. Hubungan ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama bahkan usia lanjut dan akan terbentuk pola-pola kelekatan pada anak. Bowbly menjelaskan ada tiga pola/gaya attachment . , yaitu: Secure attachment . ola ama. Pola yang terbentuk dari interaksi antara orang tua dan anak, anak merasa percaya terhadap ibu sebagai figur yang selalu siap mendampingi, sensitif dan responsif, penuh cinta dan kasih sayang ketika anak mencari perlindungan dan atau kenyamanan, dan selalumenolong atau membantunya dalam menghadapi situasi yang mengancam dan menakutkan. Anak yang mempunyai pola ini percaya adanya responsifitas dan kesediaan orang tua bagi mereka. Ibu yang sensitif dan responsive terhadap kebutuhan bayinya akan menciptakan anak yang memiliki kelekatan aman. Resistant attachment . ola melawan/ambivale. Pola ini terbentuk dari interaksi antara orang tua dan anak, anak merasa tidak pasti bahwa ibunya selalu ada dan responsive atau cepat membantu serta datang kepadanya pada saat membutuhkan mereka. Akibatnya, anak mudah mengalami kecemasan untuk berpisah, cenderung bergantung, menuntut perhatian dan cemas dalam berkeksplorasi dalam lingkungan. Dalam diri anak muncul ketidakpastian akibat orang tua yang terkadang tidak selalu membantu dalam setiap kesempatan dan juga adanya keterpisahan. Bayi yang ambivalen bisa merepresentasikan seorang individu yang kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain sebagai akibat dari respon atau ketersediaan yang tidak konsisten pada bagian Avoidant attachment . ola menghinda. Pola kelekatan terjadi di mana orang tua selalu menghindar dari anak mengakibatkan anak melakukan penolakan juga terhadap orang Anak tidak memiliki kepercayaan diri karena ketika mencari kasih sayang tidak direspon atau bahkan ditolak. Anak cenderung memenuhi kebutuhan akan afeksi sendiri tanpa bantuan orang tua. Anak yang memiliki pola kelekatan cemas menghindar memperlihatkan ketidakamanan dengan menghindari ibu. Dari berbagai macam kelekatan di atas tentu yang baik untuk anak ialah kelekatan aman di mana telah dijelaskan bahwa kelekatan aman mampu membuat pengaruh positif terhadap kempetensi sosial dan saling percaya antar sesama, bukan hanya kepada orang tua tetapi orang yang ada dilingkungan nya. Kesimpulan Kelekatan orang tua berperan penting dalam kehidupan anak, walaupun menginginkan otonomi anak terkait dengan orang tuanya, kelekatan anak dengan orang tua merupakan sumber dukungan bagi anak dalam menghadapi proses perkembangannya. Kelekatan orang tua yang tinggi pada anak ditunjukkan dengan kepercayaan, dapat membantu, menerima diri anak apa adanya, memberikan cinta dan kepedulian yang layak pada anak. Kualitas yang tinggi dapat membuat individu melihat dirinya layak untuk dicintai dan memandang individu dilingkungan sosialnya dapat diandalkan serta dapat berpikir positif dalam menjalani hidup sehingga akan muncul perilaku mandiri pada anak. Daftar Rujukan Aziz. Jangan Biarkan Anak Tumbuh dengan Kebiasaan Buruk. Solo: Tiga Serangkai. Cenceng. Perilaku Kelekatan Anak Usia Dini (Perspektif John Bowlb. Lentera. Vol. IXX, No. Desember. Christiana Hari S. Perkembagan Anak: Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanakkanak Akhir. Jakarta: Prenada Media Group. Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Fatimah. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didi. Bandung: Pustaka Setia. Henni Anggraini. Hubungan Kelekatan Dan Kecerdasan Emosi Pada Anak Usia Dini. Seminar Nasional Hasil Penelitian. Universitas Kanjuruhan Malang 2016. Irina V Sokolova, dkk. Kepribadian Anak: Sehatkah Kepribadian Anak Anda?. Jakarta: Katahati. John Santrock. Perkembangan Anak. Eds: 11. Jakarta: Erlangga. Yamin. Sanan. Panduan Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD). Jakarta: Gaperindo. Monks, dkk. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Alih bahasa: Siti Rahayu. Haditono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rahayu. Kemandirian Anak Prasekolah. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim. Sriyanti Rahmatunnisa. Kelekatan Antara Anak Dan Orang Tua Dengan Kemampuan Sosial. Yaa Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Volume 3 No. 2 November 2019. Wade. Ainsworth Carole dan Carol Travis,. Psikologi. Eds: 9. Jakarta: Erlangga. Zawaqi Afdal Jamil, dkk. Kelekatan Anak Terhadap Orang Tua Dalam Pembentukan Kemandirian Di Taman Kanak-Kanak As-Salam Kota Jambi. Generasi Emas Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 2. Mei 2020.