Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Publisher: CV. Doki Course and Training E-ISSN: 2985-8070iCP-ISSN: 2986-7762 Job Satisfaction Psychometric: A New Job Satisfaction Scale among ASN Employees Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung1. Malinda Wijaya2. Amalia Rizki Wahyuni3. Zainun MuAotadin4. Yana Mahdiana5 Universitas Persada Indonesia YAI1,2,3,4 STISIPOL Candradimuka5 Corresponding email: jenny. 2465290055@upi-yai. ARTICLE INFO Article History Submission: 23-02-2026 Review: 27-02-2026 Revised: 02-03-2026 Accepted: 03-03-2026 Published: 16-03-2026 Kata kunci Job Satisfaction Pengembangan Instrumen Aparatur Sipil Negara SDM ABSTRAK Job Satisfaction merupakan aspek penting dalam pengelolaan sumber daya manusia pada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menghadapi tuntutan birokrasi, regulasi ketat, dan ekspektasi pelayanan publik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi instrumen Job Satisfaction yang sesuai dengan karakteristik ASN di Indonesia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pengembangan dan validasi Instrumen disusun berdasarkan kerangka teoretis Paul E. Spector . yang mencakup sembilan aspek: pay, promotion, supervision, benefits, contingent rewards, operating procedures, coworkers, nature of work, dan communication. Pengembangan instrumen meliputi uji validitas isi melalui expert judgment (N=. menggunakan AikenAos V, pilot study pada 30 ASN, serta pengujian lanjutan pada 377 ASN. Analisis data mencakup korelasi antaritem, daya beda item, reliabilitas internal. Exploratory Factor Analysis (EFA). Confirmatory Factor Analysis (CFA). Average Variance Extracted (AVE), dan Composite Reliability. Hasil penelitian menunjukkan instrumen memiliki validitas isi tinggi, reliabilitas sangat baik, serta struktur dua faktor yang didukung oleh hasil EFA dan CFA. Instrumen dinyatakan valid dan reliabel untuk mengukur kepuasan kerja ASN. Pendahuluan Kepuasan kerja . ob satisfactio. merupakan salah satu konstruk utama dalam perilaku organisasi yang berperan penting dalam memengaruhi kinerja, komitmen organisasi, produktivitas, serta tingkat turnover pegawai. Dalam konteks Aparatur Sipil Negara (ASN), kepuasan kerja menjadi fokus strategis karena berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan publik, profesionalisme birokrasi, dan efektivitas tata kelola pemerintahan. ASN sebagai pelaksana kebijakan publik dituntut untuk bekerja secara akuntabel, responsif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tingkat Website : http://jurnal. org/index. php/JIPBS/index Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 kepuasan kerja pegawai ASN menjadi krusial dalam mendukung agenda reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Secara konseptual, kepuasan kerja didefinisikan sebagai sikap atau perasaan individu terhadap pekerjaan dan berbagai aspek yang melekat pada pekerjaan tersebut. Menurut Paul Spector . , job satisfaction adalah bagaimana seseorang merasakan pekerjaannya secara keseluruhan maupun terhadap aspek-aspek spesifik pekerjaan tersebut. Spector mengembangkan Job Satisfaction Survey (JSS) yang mengukur kepuasan kerja melalui sembilan dimensi, antara lain gaji, promosi, supervisi, tunjangan, rekan kerja, serta komunikasi organisasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja merupakan konstruk multidimensi yang dapat dianalisis baik secara global maupun berdasarkan aspekaspek spesifik. Pandangan serupa dikemukakan oleh Edwin A. Locke . yang mendefinisikan kepuasan kerja sebagai keadaan emosional yang menyenangkan atau positif yang dihasilkan dari penilaian terhadap pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang. Sementara itu, teori dua faktor dari Frederick Herzberg et al. menekankan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, yaitu faktor motivator . dan faktor higiene . Perspektif ini relevan dalam konteks ASN karena aspek seperti makna pekerjaan, pengakuan, dan kesempatan berkembang sering kali menjadi determinan penting dalam birokrasi publik. Berbagai penelitian empiris di sektor publik Indonesia juga menunjukkan pentingnya kepuasan kerja sebagai prediktor kinerja dan perilaku kerja. Penelitian oleh Adnan Hakim dan Hamid . menemukan bahwa public service motivation dan kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Anggoro . menunjukkan bahwa budaya organisasi dan lingkungan kerja berperan dalam meningkatkan kepuasan kerja ASN, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan performa. Penelitian Darmawan et al. mengungkapkan bahwa quality of work life berpengaruh terhadap kinerja melalui kepuasan kerja sebagai variabel mediasi pada ASN. Selain itu. Hakim et al. menemukan bahwa etos kerja, kepuasan kerja, dan motivasi berprestasi secara simultan memengaruhi kinerja ASN. Studi terbaru oleh Sunarwati et al. pada lingkungan Polres Situbondo juga menunjukkan bahwa kepuasan kerja memiliki hubungan signifikan dengan kinerja ASN, meskipun beberapa variabel seperti promosi jabatan menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Sementara itu, penelitian oleh Rahmalia menyatakan bahwa kompensasi psikologis . ang diukur melalui aspek keadilan, kelayakan, dan kewajara. terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. Semakin besar kompensasi yang diterima dan dirasakan adil, maka semakin tinggi tingkat kepuasan kerja Temuan-temuan tersebut menggarisbawahi bahwa kepuasan kerja merupakan variabel strategis dalam manajemen sumber daya manusia sektor publik. Namun demikian, masih terdapat kebutuhan akan instrumen pengukuran kepuasan kerja yang terstandar, valid, dan reliabel yang secara khusus dikontekstualisasikan pada karakteristik ASN di Indonesia. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Sebagian besar instrumen yang digunakan masih mengadaptasi skala umum tanpa pengujian psikometrik yang mendalam pada populasi ASN. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya menyediakan alat ukur kepuasan kerja yang memiliki validitas konstruk dan reliabilitas tinggi, sehingga mampu memberikan gambaran empiris yang akurat mengenai kondisi psikologis pegawai ASN. Pengukuran yang akurat sangat dibutuhkan sebagai dasar penyusunan kebijakan berbasis bukti . videncebased polic. , khususnya dalam perumusan strategi peningkatan kinerja, penguatan budaya organisasi, perbaikan sistem penghargaan, serta pengembangan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan pegawai. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan keberhasilan reformasi birokrasi di Indonesia. Melalui pendekatan Job Satisfaction Scale yang terstruktur dan melalui tahapan pengujian psikometrik yang komprehensif, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai tingkat kepuasan kerja pegawai ASN, sekaligus memastikan bahwa instrumen yang digunakan memiliki dasar teoretis dan empiris yang Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu perilaku organisasi di sektor publik, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan Indonesia. Menurut Spector . , job satisfaction adalah bagaimana seseorang berperasaan tentang pekerjaan mereka dan berbagai aspeknya, termasuk sejauh mana seseorang menyukai pekerjaannya atau tidak menyukainya. Job satisfaction ini merupakan sikap yang umumnya diukur melalui untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang tingkat kepuasan karyawan di tempat kerja. Secara operasional job satisfaction adalah bagaimana seseorang berperasaan tentang pekerjaan mereka dan berbagai aspeknya, termasuk sejauh mana seseorang menyukai pekerjaannya atau tidak menyukainya. Job satisfaction diukur melalui 9 dimensi, yaitu : Pay (Gaj. Kepuasan terhadap gaji yang diterima serta kenaikan gaji. Promotion (Promos. Kepuasan terhadap kesempatan berupa kenaikan jabatan atau pengembangan karir. Supervision (Supervis. Kepuasan terhadap atasan langsung, termasuk kualitas atasan langsung, gaya kepemimpinan, dan dukungan atasan. Benefits (Tunjanga. Kepuasan terhadap berbagai tunjangan tambahan selain gaji pokok, seperti asuransi, dan fasilitas kerja. Contingent Rewards (Imbalan Kontingen Penghargaa. Kepuasan terhadap pengakuan, penghargaan kinerja, pujian, bonus yang berdasarkan pada prestasi kinerja. Operating Procedures (Prosedur Operasiona. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Kepuasan terhadap aturan, prosedur, dan kebijakan kerja yang berlaku. Coworkers (Rekan Kerj. Kepuasan dalam berinteraksi dan bekerja sama dengan rekan-rekan kerja. Nature of Work (Sifat Pekerjaa. Kepuasan terhadap jenis pekerjaan yang dilakukan, termasuk tugas dan aktivitas sehari-hari. Communication (Komunikas. Kepuasan terhadap penyampaian dan penerimaan informasi, komunikasi, transparansi organisasi, dan partisipasi dalam keputusan. Berdasarkan uraian teoritis dan empiris tersebut, pengembangan alat ukur job satisfaction yang valid dan reliabel pada pegawai ASN menjadi suatu kebutuhan yang Secara teoritis, kepuasan kerja merupakan sikap evaluatif terhadap pekerjaan yang terbentuk dari penilaian individu terhadap berbagai aspek pekerjaan (Locke, 1. Dalam perspektif multidimensional. Paul E. Spector . menegaskan bahwa kepuasan kerja tidak hanya merefleksikan perasaan umum terhadap pekerjaan, tetapi juga mencakup dimensi spesifik seperti gaji, promosi, supervisi, prosedur, dan komunikasi organisasi. Sementara itu, teori dua faktor dari Frederick Herzberg . menjelaskan bahwa faktor motivator dan faktor higiene secara berbeda memengaruhi kepuasan dan ketidakpuasan Dalam konteks ASN yang bekerja dalam sistem birokrasi yang terstruktur dan regulatif, dimensi-dimensi tersebut memiliki karakteristik khas yang berbeda dari sektor Oleh karena itu, diperlukan instrumen pengukuran yang kontekstual, terstandarisasi, dan sesuai dengan karakteristik organisasi sektor publik agar mampu menghasilkan data yang akurat sebagai dasar perumusan kebijakan manajemen sumber daya manusia, peningkatan kinerja, serta penguatan reformasi birokrasi secara berkelanjutan. Metode Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain instrument development and validation study. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji validitas serta reliabilitas alat ukur Job Satisfaction yang disusun berdasarkan teori Paul E. Spector . Kepuasan kerja menurut Spector dipahami sebagai konstruk multidimensional yang terdiri dari sembilan dimensi, yaitu gaji . , promosi . , supervisi . , tunjangan . ringe benefit. , imbalan kontingen . ontingent reward. , prosedur operasional . perating procedure. , rekan kerja . , sifat pekerjaan . ature of wor. , dan komunikasi . Dalam penelitian ini, masingmasing dimensi dikembangkan menjadi tiga butir pernyataan, sehingga total keseluruhan item dalam skala Job Satisfaction berjumlah 27 item. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan empat pilihan respons, yaitu Sangat Tidak Setuju (STS). Tidak Setuju (TS). Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS). Penyusunan item terdiri atas pernyataan favorable dan unfavorable. Item favorable merupakan pernyataan yang secara langsung mencerminkan kepuasan kerja, sedangkan item unfavorable Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 mencerminkan ketidakpuasan kerja sehingga memerlukan proses reverse scoring dalam pengolahan data. Pada item favorable, skor diberikan dari 1 (Sangat Tidak Setuj. hingga 4 (Sangat Setuj. Sebaliknya, pada item unfavorable, pemberian skor dibalik, yaitu 1 (Sangat Setuj. hingga 4 (Sangat Tidak Setuj. Skor total kepuasan kerja diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor item setelah dilakukan penyesuaian terhadap item unfavorable. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat kepuasan kerja pegawai. Selain analisis skor total, penelitian ini juga memungkinkan analisis per dimensi untuk mengidentifikasi aspek kepuasan kerja yang paling dominan maupun yang memerlukan perhatian dalam pengelolaan sumber daya manusia, khususnya pada pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN). Dalam penelitian ini, pengujian validitas isi . ontent validit. dilakukan melalui metode expert judgment yang melibatkan lima orang ahli yang memiliki latar belakang pendidikan Psikologi dan kompetensi di bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Para ahli tersebut terdiri dari dosen psikologi, praktisi psikolog PIO, profesional Human Resources (HRD), serta rekruter yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan dan asesmen sumber daya manusia. Penilaian para ahli terhadap kesesuaian item dengan konstruk Job Satisfaction dilakukan untuk memastikan bahwa setiap butir pernyataan telah merepresentasikan sembilan dimensi kepuasan kerja sebagaimana dikemukakan oleh Paul E. Spector . Hasil penilaian expert judgment kemudian dianalisis menggunakan teknik AikenAos V untuk mengukur tingkat kesepakatan para ahli terhadap relevansi item. Kriteria interpretasi yang digunakan adalah nilai > 0,80 menunjukkan validitas tinggi, nilai > 0,60 menunjukkan validitas cukup, dan nilai < 0,60 menunjukkan validitas rendah. Berdasarkan hasil analisis, seluruh item dalam skala Job Satisfaction memperoleh nilai AikenAos V pada kategori tinggi, sehingga layak untuk dilanjutkan ke tahap uji coba empiris. Setelah pengujian validitas isi, peneliti melakukan try out pada skala job satisfaction kepada 30 responden (N = . untuk melakukan seleksi awal terhadap kualitas item. Pengambilan data uji coba ini dilakukan secara daring menggunakan Google Form selama lima hari. Data hasil uji coba dianalisis melalui uji korelasi antarbutir . nter-item correlatio. , daya beda item . tem discriminatio. , uji reliabilitas internal (CronbachAos Alph. , serta pengujian validitas konstruk awal menggunakan teknik Exploratory Factor Analysis (EFA). Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur faktor awal dan memastikan bahwa item-item yang disusun telah mengelompok sesuai dengan dimensi Setelah analisis try out skala selesai dan item yang memenuhi kriteria dipertahankan, peneliti melanjutkan ke tahap pengambilan data utama dengan jumlah responden yang lebih besar, yaitu 377 responden (N = . yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN). Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Google Form selama 38 hari. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara lebih komprehensif menggunakan Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menguji dan mengonfirmasi validitas konstruk skala Job Satisfaction. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Selain itu, pengujian Average Variance Extracted (AVE) dilakukan untuk menguji validitas konvergen, sedangkan Composite Reliability (CR) digunakan untuk menguji konsistensi internal konstruk secara lebih akurat pada model pengukuran. Analisis reliabilitas ulang ini juga bertujuan untuk membandingkan stabilitas alat ukur antara tahap uji coba dan tahap penelitian utama. Seluruh proses analisis statistik dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi JASP versi 0. Hasil dan Pembahasan 1 Tabel 1: Hasil Analisis AikenAos V Item I II i IV V I II i IV V OcS n. Keterangan Item 1 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 2 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 3 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 4 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 5 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 6 4 3 4 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 7 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 8 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 9 4 3 4 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 10 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 11 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 12 4 3 3 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 13 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 14 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 15 4 3 3 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 16 4 3 4 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 17 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 18 4 3 4 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 19 4 3 3 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 20 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 21 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 22 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 23 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 24 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 25 4 3 4 4 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 26 4 3 4 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Item 27 4 3 3 3 3 2 VALIDITAS TINGGI Berdasarkan hasil penilaian expert judgment, diperoleh nilai AikenAos V yang berada pada rentang 0,80Ae1,00. Rentang nilai tersebut menunjukkan bahwa seluruh item dalam Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 instrumen telah memenuhi kriteria validitas isi dan tergolong memiliki tingkat validitas yang tinggi. Dengan demikian, setiap butir pernyataan dinilai relevan, dan sesuai dengan konstruk teoritis yang diukur sehingga layak untuk dilanjutkan ke tahap pengujian empiris berikutnya. 2 Hasil Uji Coba Instrumen 1 Data Deskriptif Tabel 2: Analisis Data Deskriptif Penelitian ini melibatkan 30 responden yang terdiri atas 11 responden laki-laki dan 19 responden perempuan. Seluruh data yang terkumpulkan dinyatakan lengkap tanpa ditemukan data hilang . issing value = . pada seluruh variabel demografis yang Tabel 3: Hasil Distribusi Usia Responden Berdasarkan hasil analisis deskriptif, mayoritas responden pria berada pada rentang usia 29Ae39 tahun, yaitu sebanyak 6 orang . ,5%). Selanjutnya, responden pria pada rentang usia 40Ae50 tahun berjumlah 3 orang . ,3%), dan usia di atas 50 tahun sebanyak 2 orang Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 ,2%). Tidak terdapat responden pria pada rentang usia 18Ae28 tahun dalam tahap uji coba Pada kelompok responden wanita, distribusi usia juga menunjukkan pola yang Sebagian besar responden wanita berada pada rentang usia 29Ae39 tahun, yaitu sebanyak 10 orang . ,6%). Responden wanita berusia 18Ae28 tahun berjumlah 5 orang . ,3%), diikuti usia 40Ae50 tahun sebanyak 3 orang . ,8%), dan usia di atas 50 tahun sebanyak 1 orang . ,3%). Secara keseluruhan, distribusi usia responden menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan pada tahap uji coba, baik pria maupun wanita, berada pada kategori usia produktif menengah . Ae39 tahu. Hal ini mengindikasikan bahwa karakteristik sampel relatif matang secara usia dan berada pada fase karier yang aktif, sehingga relevan untuk pengujian awal instrumen penelitian. Tabel 4: Hasil Distribusi Pendidikan Terakhir Responden Ditinjau dari tingkat pendidikan terakhir, responden pria didominasi oleh lulusan Strata 1 (S. , yaitu sebanyak 8 orang . ,7%). Responden pria dengan pendidikan Strata 2 (S. berjumlah 2 orang . ,2%), sedangkan lulusan SMA sebanyak 1 orang . ,1%). Tidak terdapat responden pria dengan latar belakang pendidikan Diploma 3 (D. pada tahap uji coba ini. Sementara itu, pada kelompok responden wanita, mayoritas juga memiliki pendidikan terakhir Strata 1 (S. , yaitu sebanyak 17 orang . ,5%). Responden wanita dengan pendidikan D3 dan S2 masing-masing berjumlah 1 orang . ,3%), serta tidak terdapat responden wanita dengan pendidikan terakhir SMA. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa responden uji coba penelitian didominasi oleh individu dengan latar belakang pendidikan tinggi (S1 dan S. Kondisi ini mengindikasikan bahwa para responden memiliki kapasitas akademik yang memadai Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 dalam memahami, menafsirkan, dan memberikan respons terhadap item-item dalam instrumen penelitian yang digunakan, sehingga kualitas data yang diperoleh dapat diasumsikan cukup baik dari sisi pemahaman kognitif responden. Hasil Analisis Korelasi Antarbutir Instrumen (Pearson Correlatio. Tabel 5: Analisis Pearson Correlation Pay (Gaj. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 1 dan item 2 sebesar r = 0,847 . < 0,. , antara item 1 dan item 3 sebesar r = 0,714 . < 0,. , serta antara Item 2 dan Item 3 sebesar r = 0,847 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 1 . = 0,. , item 2 . = 0,. , dan item 3 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif. Hubungan yang kuat dan signifikan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item merepresentasikan konstruk yang diukur, sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 6: Analisis Pearson Correlation Promotion (Promos. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 4 dan item 5 sebesar r = 0,760 . < 0,. , antara item 4 dan item 6 sebesar r = 0,708 . < 0,. , serta antara item 5 dan item 6 sebesar r = 0,756 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 4 . = 0,. , item 5 . = 0,. , dan item 6 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif. Hubungan yang kuat dan signifikan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item merepresentasikan konstruk yang diukur, sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Tabel 7: Analisis Pearson Correlation Supervision (Supervis. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 7 dan item 8 sebesar r = 0,641 . < 0,. , antara item 7 dan item 9 sebesar r = 0,507 . < 0,. , serta antara Item 8 dan Item 9 sebesar r = 0,525 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 7 . = 0,. , item 8 . = 0,. , dan item 9 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi yang positif dan signifikan ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang memadai dan secara empiris mengukur dimensi konstruk yang sama. Meskipun kekuatan korelasi item 9 relatif lebih rendah dibandingkan item lainnya, nilainya masih berada di atas batas minimal daya diskriminasi yang dapat diterima . > 0,. , sehingga item tersebut tetap layak dipertahankan untuk analisis lanjutan. Tabel 8: Analisis Pearson Correlation Benefits (Tunjanga. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 10 dan item 11 sebesar r = 0,731 . < 0,. , antara Item 10 dan Item 12 sebesar r = 0,739 . < 0,. , serta antara item 11 dan item 12 sebesar r = 0,886 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 10 . = 0,. , item 11 . = 0,. , dan Item 12 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif. Hubungan yang kuat dan signifikan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item merepresentasikan konstruk yang diukur, sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 9: Analisis Pearson Correlation Contingent Rewards (Imbalan Kontingen Penghargaa. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara Item 13 dan item 14 sebesar r = 0,776 . < 0,. , antara item 13 dan item 15 sebesar r = 0,380 . < 0,. , serta antara item 14 dan item 15 sebesar r = 0,472 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 13 . = 0,. Item 14 . = 0,. , dan Item 15 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini mengindikasikan bahwa ketiga item secara umum memiliki konsistensi internal yang memadai dan merepresentasikan konstruk yang sama. Meskipun Item 15 menunjukkan korelasi antaritem yang relatif lebih rendah dibandingkan dua item lainnya, nilai korelasi item totalnya masih berada pada batas yang dapat diterima . > 0,. , sehingga item tersebut tetap layak dipertahankan untuk analisis lanjutan. Tabel 10: Analisis Pearson Correlation Operating Procedures (Prosedur Operasiona. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 16 dan item 17 sebesar r = 0,691 . < 0,. , antara Item 16 dan item 18 sebesar r = 0,725 . < 0,. , serta antara item 17 dan item 18 sebesar r = 0,857 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 16 . = 0,. Item 17 . = 0,. , dan item 18 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif. Hubungan yang kuat dan signifikan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item merepresentasikan konstruk yang diukur, sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Tabel 11: Analisis Pearson Correlation Coworkers (Rekan Kerj. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 19 dan item 20 sebesar r = 0,803 . < 0,. , antara item 19 dan Item 21 sebesar r = 0,793 . < 0,. , serta antara item 20 dan item 21 sebesar r = 0,816 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 19 . = 0,. Item 20 . = 0,. , dan item 21 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif. Hubungan yang kuat dan signifikan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item merepresentasikan konstruk yang diukur, sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 12: Analisis Pearson Correlation Nature of Work (Sifat Pekerjaa. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 22 dan item 23 sebesar r = 0,949 . < 0,. , antara item 22 dan item 24 sebesar r = 0,335 . < 0,. , serta antara item 23 dan item 24 sebesar r = 0,354 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 22 . = 0,. , item 23 . = 0,. , dan item 24 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Tabel 12: Analisis Pearson Correlation Communication (Komunikas. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan, baik antaritem maupun dengan skor total konstruk. Korelasi antara item 25 dan item 26 sebesar r = 0,467 . < 0,. , antara item 25 dan item 27 sebesar r = 0,679 . < 0,. , serta antara item 26 dan item 27 sebesar r = 0,407 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu item 25 . = 0,. Item 26 . = 0,. , dan item 27 . = 0,. , yang seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini menunjukkan bahwa ketiga item memiliki konsistensi internal yang baik serta mengukur dimensi yang sama secara kohesif. Hubungan yang kuat dan signifikan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item merepresentasikan konstruk yang diukur, sehingga layak dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. 3 Hasil Analisis Daya Beda Item Tabel 13: Analisis Daya Beda Item Pay (Gaj. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 1 sebesar 0,808 (CI 95%: 0,632Ae 0,. , item 2 sebesar 0,914 (CI 95%: 0,827Ae0,. , dan item 3 sebesar 0,808 (CI 95%: 0,632Ae0,. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 14: Analisis Daya Beda Item Promotion (Promos. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 4 sebesar 0,785 (CI 95%: 0,593Ae 0,. , item 5 sebesar 0,820 (CI 95%: 0,653Ae0,. , dan item 6 sebesar 0,781 (CI 95%: 0,586Ae0,. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Tabel 15: Analisis Daya Beda Item Supervision (Supervis. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 7 sebesar 0,650, item 8 sebesar 0,664, dan item 9 sebesar 0,570. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Tabel 16: Analisis Daya Beda Item Benefits (Tunjanga. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 10 sebesar 0,757 (CI 95%: 0,546Ae 0,. , item 11 sebesar 0,864 (CI 95%: 0,731Ae0,. , dan item 12 sebesar 0,869 (CI 95%: 0,741Ae0,. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Tabel 17: Analisis Daya Beda Item Contingent Rewards (Imbalan Kontingen Penghargaa. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 13 sebesar 0,7665, item 14 sebesar Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 0,739, dan item 15 sebesar 0,453. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Tabel 18: Analisis Daya Beda Item Operating Procedures (Prosedur Operasiona. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 16 sebesar 0,736 (CI 95%: 0,511Ae 0,. , item 17 sebesar 0,836 (CI 95%: 0,681Ae0,. , dan item 18 sebesar 0,860 (CI 95%: 0,723Ae0,. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Tabel 19: Analisis Daya Beda Item Coworkers (Rekan Kerj. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 19 sebesar 0,837 (CI 95%: 0,683Ae 0,. , item 20 sebesar 0,855 (CI 95%: 0,715Ae0,. , dan item 21 sebesar 0,848 (CI 95%: 0,702Ae0,. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Tabel 20: Analisis Daya Beda Item Nature of Work (Sifat Pekerjaa. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 22 sebesar 0,670, item 23 sebesar 0,689, dan item 24 sebesar 0,349. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 21: Analisis Daya Beda Item Communication (Komunikas. Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang merefleksikan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu item 25 sebesar 0,673, item 26 sebesar 0,477, dan item 27 sebesar 0,621. Seluruh nilai tersebut berada jauh di atas kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , serta didukung oleh rentang interval kepercayaan 95% yang tetap berada pada kategori sedang hingga sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing item memiliki konsistensi hubungan yang stabil dengan skor total konstruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda, sehingga layak dipertahankan untuk analisis selanjutnya. 4 Hasil Analisis Reliabilitas Tabel 22: Analisis Reliabilitas Pay (Gaj. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,922 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,865 hingga 0,966. Sementara itu, nilai sebesar 0,921 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,855 hingga 0,963. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 23: Analisis Reliabilitas Promotion (Promos. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,898 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,802 hingga 0,950. Sementara itu, nilai sebesar 0,894 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,775 hingga 0,949. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Tabel 24: Analisis Reliabilitas Supervision (Supervis. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,784 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,279 hingga 0,941. Sementara itu, nilai sebesar 0,784 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,154 hingga 0,940. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang cukup baik. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang cukup baik. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 25: Analisis Reliabilitas Benefits (Tunjanga. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,915 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,856 hingga 0,959. Sementara itu, nilai sebesar 0,914 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,838 hingga 0,954. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Tabel 26: Analisis Reliabilitas Contingent Penghargaa. Rewards (Imbalan Kontingen Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,797 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,506 hingga 0,931. Sementara itu, nilai sebesar 0,774 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,304 hingga 0,924. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 27: Analisis Reliabilitas Operating Procedures (Prosedur Operasiona. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,910 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,810 hingga 0,962. Sementara itu, nilai sebesar 0,904 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,763 hingga 0,956. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Tabel 28: Analisis Reliabilitas Coworkers (Rekan Kerj. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,925 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,795 hingga 0,973. Sementara itu, nilai sebesar 0,925 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,777 hingga 0,973. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega dan Alpha yang identik menunjukkan konsistensi estimasi reliabilitas antarpendekatan, sehingga memperkuat keyakinan bahwa instrumen memiliki struktur internal yang solid. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 29: Analisis Reliabilitas Nature of Work (Sifat Pekerjaa. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,708 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,478 hingga 0,857. Sementara itu, nilai sebesar 0,693 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,411 hingga 0,851. Selain itu, rentang interval kepercayaan yang relatif lebar dan batas bawah yang berada jauh di bawah 0,70 mengindikasikan bahwa presisi estimasi reliabilitas masih terbatas dan berpotensi bervariasi pada sampel yang berbeda. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk Tabel 30: Analisis Reliabilitas Communication (Komunikas. Reliabilitas internal instrumen dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai O sebesar 0,762 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,371 hingga 0,917. Sementara itu, nilai sebesar 0,754 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,256 hingga 0,916. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Nilai Omega yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Alpha juga mengindikasikan estimasi reliabilitas yang stabil dan relatif tidak bias. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 5 Hasil Analisis EFA (Exploratory Factor Analysi. Uji Coba Tabel 31: Analisis Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Kelayakan data untuk dilakukan analisis faktor dievaluasi melalui nilai KaiserMeyer-Olkin (KMO) atau Measure of Sampling Adequacy (MSA). Hasil analisis menunjukkan nilai KMO sebesar 0,720, yang berada pada kategori baik dan telah melampaui batas minimal yang direkomendasikan (Ou 0,. Nilai ini mengindikasikan bahwa pola korelasi antaritem cukup kompak serta memiliki proporsi varians bersama . ommon varianc. yang memadai, sehingga data layak untuk dianalisis menggunakan analisis faktor. Selain itu, nilai MSA pada masing-masing item berada pada rentang 0,543 hingga 0,944. Seluruh nilai tersebut berada di atas batas minimal 0,50, yang menunjukkan bahwa setiap item memiliki kecukupan sampel yang memadai dan dapat berkontribusi secara optimal dalam pembentukan struktur faktor. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data telah memenuhi asumsi kelayakan analisis faktor dan seluruh item dinyatakan layak untuk dipertahankan pada tahap analisis selanjutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 32: Analisis BartlettAos Test of Sphericity Selanjutnya, hasil BartlettAos Test of Sphericity menunjukkan nilai NA = 1232,404 dengan df = 351 dan p < 0,001. Nilai chi-square yang sangat besar dan signifikansi yang tinggi tersebut mengindikasikan bahwa matriks korelasi berbeda secara bermakna dari matriks Dengan kata lain, terdapat korelasi yang signifikan antaritem dalam instrumen. Temuan ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang dianalisis memiliki hubungan yang cukup kuat untuk membentuk struktur faktor. Oleh karena itu, asumsi dasar untuk dilakukan analisis faktor telah terpenuhi, dan prosedur analisis faktor dinilai tepat serta layak digunakan pada tahap selanjutnya. Tabel 33: Analisis Factor Characteristics Hasil ekstraksi faktor menunjukkan adanya faktor utama dengan eigenvalue sebesar 12,795 yang mampu menjelaskan 47,4% varians total pada solusi yang belum dirotasi . nrotated solutio. Setelah dilakukan rotasi dengan metode promax, faktor pertama memiliki kontribusi sebesar 34,4% dan faktor kedua sebesar 18,9%, sehingga secara kumulatif kedua faktor tersebut mampu menjelaskan 53,3% variabilitas konstruk. Penggunaan rotasi promax ini bertujuan untuk mengakomodasi adanya korelasi antar faktor, yang memperjelas pembagian dimensi laten dalam model tersebut. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 34: Analisis Factor Loadings Ditinjau dari factor loadings, sebagian besar item memiliki nilai muatan faktor di atas 0,40, dengan rentang antara 0,419 hingga 1,014. Item 8 memiliki loading tertinggi pada Faktor 1 sebesar 0,956 dengan nilai uniqueness 0,357, yang menunjukkan kontribusi sangat kuat terhadap faktor tersebut. Sebaliknya, item 4 memiliki loading terendah sebesar 0,419 dengan uniqueness di atas 0,500, namun secara umum nilai uniqueness yang moderat pada sebagian besar item mengindikasikan bahwa varians item mampu dijelaskan oleh faktor bersama. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Tabel 35: Analisis Chi-Square model Uji chi-square model juga menunjukkan hasil signifikan (NA = 545,150. df = 298. p < 0,. , yang memperkuat bahwa model faktor yang terbentuk memiliki kecocokan yang memadai dengan data empiris. Kesimpulannya, hasil Exploratory Factor Analysis pada data uji coba ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki struktur multidimensional dengan kualitas item yang baik. Seluruh item memenuhi kriteria kelayakan analisis faktor, memiliki loading yang kuat, serta mampu menjelaskan proporsi varians yang besar. Dengan demikian, instrumen dapat dinyatakan memiliki validitas konstruk awal yang memadai dan layak untuk digunakan pada penelitian lanjutan atau tahap konfirmasi (Confirmatory Factor Analysi. 1 Hasil Analisis Data Pasca Uji Coba Tabel 36: Analisis Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Kelayakan data untuk dilakukan analisis faktor dievaluasi melalui nilai KaiserMeyer-Olkin (KMO) atau Measure of Sampling Adequacy (MSA). Hasil analisis menunjukkan nilai KMO sebesar 0,945, yang termasuk dalam kategori sangat baik . dan jauh berada di atas batas minimal yang direkomendasikan (Ou 0,. Nilai ini menunjukkan bahwa pola korelasi antaritem sangat kompak dan proporsi varians bersama . ommon varianc. cukup tinggi, sehingga data sangat memadai untuk dilakukan analisis faktor. Selain itu, nilai MSA pada masing-masing item berada pada rentang 0,900 hingga 0,977. Seluruh nilai tersebut tidak hanya melampaui batas minimal 0,50, tetapi juga berada pada kategori sangat tinggi, yang mengindikasikan bahwa setiap item memiliki kecukupan sampel yang sangat baik dan berkontribusi secara optimal dalam pembentukan struktur faktor. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data memenuhi asumsi kelayakan analisis faktor secara sangat kuat, dan seluruh item layak dipertahankan dalam model faktor pada tahap analisis selanjutnya. Tabel 37: Analisis BartlettAos Test of Sphericity Selanjutnya, hasil BartlettAos Test of Sphericity menunjukkan nilai NA = 19032,821 dengan df = 351 dan p < 0,001. Nilai chi-square yang sangat besar dan signifikansi yang tinggi tersebut mengindikasikan bahwa matriks korelasi berbeda secara bermakna dari matriks identitas. Dengan kata lain, terdapat korelasi yang signifikan antaritem dalam Temuan ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang dianalisis memiliki hubungan yang cukup kuat untuk membentuk struktur faktor. Oleh karena itu, asumsi dasar untuk dilakukan analisis faktor telah terpenuhi, dan prosedur analisis faktor dinilai tepat serta layak digunakan pada tahap selanjutnya. Tabel 38: Analisis Factor Characteristics Hasil ekstraksi faktor menunjukkan adanya faktor utama dengan eigenvalue sebesar 12,795 yang mampu menjelaskan 47,4% varians total pada solusi yang belum dirotasi . nrotated solutio. Setelah dilakukan rotasi dengan metode promax, faktor pertama Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 memiliki kontribusi sebesar 34,4% dan faktor kedua sebesar 18,9%, sehingga secara kumulatif kedua faktor tersebut mampu menjelaskan 53,3% variabilitas konstruk. Penggunaan rotasi promax ini bertujuan untuk mengakomodasi adanya korelasi antar faktor, yang memperjelas pembagian dimensi laten dalam model tersebut. Tabel 39: Analisis Factor Loadings Ditinjau dari nilai factor loadings, seluruh item memiliki muatan faktor di atas batas minimum 0,40, dengan rentang antara 0,438 hingga 0,897. Pada Faktor 1, nilai loading tertinggi ditunjukkan oleh Item 18 . dengan nilai uniqueness sebesar 0,287, yang mengindikasikan kontribusi sangat kuat terhadap faktor tersebut serta proporsi varians unik yang relatif rendah. Item lain yang menunjukkan kontribusi tinggi pada Faktor 1 meliputi Item 3 . Item 26 . , dan Item 9 . Sebaliknya, nilai loading terendah pada Faktor 1 terdapat pada Item 14 . dan Item 2 . dengan nilai uniqueness masing-masing 0,518 dan 0,477. Meskipun kontribusinya masih memenuhi kriteria minimal, proporsi varians unik pada item-item tersebut relatif lebih besar dibandingkan item lain dalam faktor yang sama. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Pada Faktor 2, nilai loading tertinggi ditunjukkan oleh Item 22 . , diikuti oleh Item 21 . dan Item 20 . Nilai loading terendah pada faktor ini terdapat pada Item 13 . dengan uniqueness sebesar 0,510. Secara keseluruhan, rentang loading pada Faktor 2 berada antara 0,438 hingga 0,827, yang menunjukkan kontribusi item yang memadai hingga kuat dalam membentuk faktor kedua. Nilai uniqueness seluruh item berada pada kisaran 0,287 hingga 0,625, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar varians item dapat dijelaskan oleh faktor bersama, meskipun terdapat beberapa item dengan varians unik yang relatif lebih tinggi, seperti Item 10 . dan Item 4 . Hasil rotasi faktor menggunakan metode promax menunjukkan pemisahan yang jelas ke dalam dua faktor utama tanpa adanya cross-loading yang substansial. Seluruh item memenuhi kriteria kelayakan dengan nilai loading Ou 0,40, sehingga tidak terdapat item yang perlu dieliminasi pada tahap eksploratori ini. Secara keseluruhan, struktur dua faktor yang terbentuk menunjukkan pola yang stabil dan konsisten, mendukung konseptualisasi konstruk Job Satisfaction sebagai konstruk multidimensi yang terdiri atas dua dimensi yang saling Model ini kemudian diuji melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil pengujian menunjukkan nilai CFI sebesar 0,846 dan TLI sebesar 0,833. Meskipun nilai tersebut belum mencapai kategori excellent fit (Ou 0,. , indeks tersebut masih menunjukkan tingkat kecocokan model yang memadai . cceptable fi. untuk model dua faktor yang Dengan demikian, struktur faktor yang diperoleh melalui EFA mendapatkan dukungan empiris awal dan layak untuk digunakan dalam analisis lanjutan serta pengujian hipotesis struktural, dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan penyempurnaan model pada penelitian berikutnya. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 1 Confirmatory Factor Analysis (CFA) Tabel 39: Analisis Model fit Nilai Parsimony Normed Fit Index (PNFI) sebesar 0,809 menunjukkan bahwa model tetap memiliki tingkat kesederhanaan yang baik. Secara keseluruhan, indeksindeks ini mengindikasikan bahwa struktur faktor yang diusulkan sesuai dengan data Hasil pada tabel fit indices menunjukkan nilai Root Mean Square Error of Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 Approximation (RMSEA) sebesar 0,093 dengan interval kepercayaan 90% antara 0,088 hingga 0,098. Nilai ini berada pada kategori marjinal, namun masih dapat diterima dalam konteks model kompleks dan data ordinal. Nilai Standardized Root Mean Square Residual (SRMR) sebesar 0,057 menunjukkan residual yang rendah dan mencerminkan kesesuaian model yang baik. Nilai Goodness of Fit Index (GFI) sebesar 0,933 dan McDonald Fit Index (MFI) sebesar 0,245 turut mendukung bahwa model memiliki tingkat kecocokan yang memadai terhadap data. Tabel 40 : Analisis R-Squared Nilai RA pada setiap indikator berada pada rentang 0,407 hingga 0,696. Temuan ini menunjukkan bahwa proporsi varians masing-masing indikator yang dapat dijelaskan oleh faktor laten tergolong cukup tinggi. Dengan kata lain, antara 40,7% hingga 69,6% varians indikator mampu dijelaskan oleh konstruk laten yang mendasarinya. Hal tersebut Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 mengindikasikan bahwa setiap item memiliki daya representasi yang baik terhadap konstruk yang diukur serta memberikan kontribusi yang substansial dalam pembentukan faktor masing-masing. Dengan demikian, secara keseluruhan indikator-indikator dalam model menunjukkan kualitas pengukuran yang memadai dan mendukung validitas konstruk yang Tabel 41: Analisis Factor Loading Tabel estimasi parameter menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki muatan faktor terstandarisasi yang tinggi dan signifikan . < . Pada Faktor 1, muatan faktor berada pada rentang 0,833 hingga 1,072, sedangkan pada Faktor 2 berkisar antara 0,895 hingga 1,117. Nilai z- value yang tinggi dan interval kepercayaan 95% yang tidak melintasi nol Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 menegaskan bahwa setiap indikator secara valid merefleksikan konstruk laten yang diukur. Temuan ini mendukung validitas konstruk dari masing-masing factor. Analisis CFA orde kedua selanjutnya menunjukkan bahwa kedua faktor tingkat pertama memuat secara signifikan pada faktor umum Job Satisfaction, sehingga mendukung struktur hierarkis konstruk yang diusulkan. Dengan demikian, instrumen Job Satisfaction dikonstruksi sebagai konstruk multidimensi yang terdiri atas dua faktor yang saling berkorelasi, namun secara konseptual berada di bawah satu faktor umum yang merepresentasikan kepuasan kerja secara keseluruhan. 2 Average Variance Extracted (AVE) Nilai Average Variance Extracted (AVE) sebesar 0,536 pada Faktor 1 menunjukkan bahwa faktor tersebut mampu menjelaskan lebih dari 50% varians indikator-indikatornya, sehingga telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Sementara itu, nilai AVE sebesar 0,498 pada Faktor 2 berada sangat dekat dengan batas cut-off 0,50 dan masih dapat diterima, terutama karena didukung oleh muatan faktor yang tinggi dan signifikan. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa indikator-indikator dalam masing-masing faktor memiliki tingkat keterkaitan yang memadai dalam merepresentasikan konstruk laten yang sama, sehingga validitas konvergen model pengukuran dapat dinyatakan terpenuhi. 3 Compute Reliability (CR) Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa nilai koefisien omega (O) dan CronbachAos alpha () pada kedua faktor maupun skor total berada dalam kategori sangat tinggi. Nilai O berkisar antara 0,952 hingga 0,967, sedangkan nilai berada pada rentang 0,951 hingga 0,967. Pada Faktor 1, diperoleh nilai reliabilitas yang berada pada kategori tinggi, yang mengindikasikan bahwa indikator-indikator dalam faktor ini juga menunjukkan keterpaduan yang baik dalam mengukur konstruk laten yang sama. Rentang interval kepercayaan yang relatif sempit pada kedua faktor menunjukkan estimasi reliabilitas yang presisi. Sementara itu, pada Faktor 2, nilai O sebesar 0,895 . % CI = 0,870Ae0,. dan sebesar 0,895 . % CI = 0,869Ae0,. **, dengan standar error sebesar 0,012. Nilai ini berada dalam kategori tinggi (Ou 0,. , yang menunjukkan bahwa item-item dalam Faktor 2 memiliki konsistensi internal yang kuat dan stabil dalam merepresentasikan dimensi Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 yang diukur. Secara keseluruhan, temuan ini mengindikasikan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang sangat baik, baik pada tingkat dimensi (Faktor 1 dan Faktor . maupun pada tingkat konstruk secara keseluruhan. Berdasarkan item-item 18, 3, 26, 9, 6, 5, 27, 12, 24, 15, 17, 16, 8, 11, 10, 1, 2, 14 yang termasuk dalam Faktor 1 didominasi dengan item unfavorable yang mencakup hampir seluruh aspek structural administratif dan sistem imbalan kerja. Hal tersebut merepresentasikan aspek Work-Related Constraints . endala pada pekerjaa. Work-Related Constraints adalah persepsi pegawai terhadap berbagai hambatan struktural, administratif, dan sistem imbalan dalam organisasi yang membatasi kelancaran pelaksanaan tugas serta mengurangi pengalaman kepuasan kerja. Sementara itu, berdasarkan item-item 22, 21, 20, 23, 25, 19, 7, 4, 13 yang termasuk dalam Faktor 2, merepresentasikan aspek Work Support and Job Characteristics . ukungan kerja dan karakteristik pekerjaa. Definisi aspek tersebut adalah persepsi pegawai terhadap kualitas dukungan interpersonal di lingkungan kerja serta karakteristik intrinsik pekerjaan yang memberikan makna, kenyamanan, dan peluang pengembangan diri. Dengan demikian, instrumen dapat dinyatakan reliabel dan layak digunakan dalam pengukuran psikometrik serta analisis lanjutan, termasuk pengujian model struktural. Temuan ini mengindikasikan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang sangat baik, sehingga setiap indikator dalam masing-masing faktor menunjukkan keterpaduan yang kuat dalam mengukur konstruk yang sama. Dengan demikian, instrumen dapat dinyatakan reliabel dan layak digunakan dalam pengukuran psikometrik, baik pada tingkat dimensi . maupun pada tingkat konstruk secara Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi instrumen Job Satisfaction yang secara khusus disesuaikan dengan karakteristik Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. Berdasarkan rangkaian tahapan pengembangan instrumen, mulai dari uji validitas isi melalui expert judgment, uji coba awal, hingga pengujian lanjutan pada sampel yang lebih besar, dapat disimpulkan bahwa instrumen Job Satisfaction yang dikembangkan memiliki kualitas psikometrik yang sangat baik dan layak digunakan. Seluruh item menunjukkan validitas isi yang tinggi berdasarkan nilai AikenAos V, serta memiliki korelasi antaritem, daya beda item, dan reliabilitas internal yang kuat pada tahap uji coba. Hasil analisis faktor eksploratori (EFA) pada data pasca uji coba mengonfirmasi bahwa konstruk Job Satisfaction pada ASN dipahami sebagai konstruk multidimensi yang terdiri atas dua dimensi utama. Kedua dimensi tersebut merepresentasikan aspek-aspek utama kepuasan kerja yang secara konseptual saling berkaitan dalam membentuk evaluasi Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung et. al (Job Satisfaction PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 174-211 menyeluruh terhadap pekerjaan. Struktur faktor ini selaras dengan landasan teoritis kepuasan kerja serta mampu menjelaskan proporsi varians yang besar. Selanjutnya, hasil analisis faktor konfirmatori (CFA) menunjukkan bahwa model dua faktor dengan faktor umum Job Satisfaction memiliki tingkat kesesuaian model yang baik, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai indeks fit yang memenuhi kriteria kelayakan serta muatan faktor yang tinggi dan signifikan pada seluruh indikator. Selain itu, nilai Average Variance Extracted (AVE) pada masing-masing faktor memenuhi kriteria validitas konvergen, dan nilai Composite Reliability serta koefisien reliabilitas ( dan O) berada pada kategori sangat tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa instrumen tidak hanya valid secara konstruk, tetapi juga reliabel dan konsisten dalam mengukur Job Satisfaction pada pegawai ASN. Dengan demikian, instrumen yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat ukur psikometrik yang sahih untuk kepentingan asesmen, penelitian, maupun evaluasi kebijakan sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan Indonesia, serta berpotensi menjadi dasar bagi perancangan intervensi yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan dan kinerja ASN. Lebih lanjut, penelitian selanjutnya dapat menguji bagaimana masing-masing dimensi tersebut berkontribusi terhadap berbagai luaran organisasi. Variabel yang relevan untuk dikaji antara lain employee performance, work life balance, organizational commitment, work engagement, happiness at work, serta fenomena quiet quitting. Pengujian hubungan langsung maupun tidak langsung . elalui mekanisme mediasi dan moderas. antara dimensi-dimensi Job Satisfaction dan variabel-variabel tersebut akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai peran strategis kepuasan kerja dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis, keterikatan kerja, serta produktivitas pegawai ASN. Referensi