Jurnal Kesehatan Indonesia. Volume 15. Nomor 3. Juli. Tahun 2025 Hubungan Body Image. Jenis Kelamin. Pola Konsumsi, dan Sikap dengan Status Gizi Remaja di SMAN 2 Martapura The Relationship of Body Image. Gender. Consumption Patterns, and Attitude with Nutritional Status of Adolescents at Senior High School 2 Martapura Lillah KhofifahA. MahpolahA. Rijanti AbdurrachimA. Rosihan AnwarA* AJurusan Gizi. Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika. Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banjarmasin *Korespondensi: rosihanmph@gmail. Abstract Indonesia is currently focusing on improving nutrition at every stage of life, including adolescents who are vulnerable to nutritional status issues influenced by factors such as body image, gender, dietary patterns, and attitudes. In Banjar Regency, 30. 11% of adolescents experience nutritional problems such as severely underweight, underweight, overweight, and This study aims to determine the relationship between these factors and the nutritional status of adolescents at Senior High School 2 Martapura. This research employed a crosectional design with a sample of 103 adolescents selected from a population of 814 using proportional random sampling. Data were collected through questionnaires and measurements of body weight and height. The results showed that most adolescents had normal nutritional status . 1%), positive body image . 2%), inadequate dietary patterns . 1%), and positive attitudes . 5%). Based on FisherAos Exact test (<0. , gender showed a significant relationship with nutritional status . = 0. , and based on the Spearman Rank correlation test (<0. , dietary patterns were also significantly related to nutritional status . = 0. However, body image . = 0. and attitudes . = 0. were not significantly related to nutritional status. Health institutions and schools are expected to actively monitor and provide nutrition education, while adolescents are encouraged to adopt balanced dietary Future researchers are advised to examine other factors affecting nutritional status. Keywords: adolescents, attitude toward balanced nutrition, body image, consumption patterns, nutritional status Pendahuluan Pada saat ini pemerintah Indonesia berfokus pada perbaikan gizi di setiap daur kehidupan, salah satunya yaitu pada masa periode remaja. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Kebudayaan bekerjasama dengan World Food Programme (WFP) menyelenggarakan Forum Diskusi Multi Sektor terkait Penguatan Perbaikan Gizi Anak Sekolah pada tahun Selain itu, terdapat pula program terkait Program Gizi Anak Sekolah (PROGRAS) dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja sebagai bentuk upaya dalam Pengembangan sumber daya manusia terhadap pembangunan kesehatan. Salah satu aspek krusial dalam pengembangan sumber daya manusia adalah melalui peningkatan kesehatan gizi masyarakat, terutama pada kalangan remaja. Remaja memiliki tiga permasalahan gizi antara lain gizi kurang, obesitas, dan defisiensi mikronutrien. Remaja yang memiliki masalah gizi harus segera ditangani karena apabila remaja tersebut menikah dini mempengaruhi tahap-tahap kehidupan mulai dari kandungan, kemudian balita, remaja, sampai dengan lanjut usia . Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia . , didapatkan prevalensi status gizi (IMT/U) remaja umur 16-18 tahun di Indonesia yaitu 1,7% dengan kategori sangat kurus, sebanyak 6,6% kategori kurus, sebanyak 79,6% kategori normal, dan 8,8% dengan kategori gemuk, serta 3,3% dengan kategori obesitas . Remaja sering menghadapi masalah terkait status gizi karena berbagai faktor, termasuk kebiasaan makan yang kurang baik tanpa memperhatikan kandungan gizi Lillah Khofifah, dkk. makanan, pemahaman yang salah tentang gizi . erkait citra tubu. yang mendorong keinginan untuk memiliki tubuh ideal, memiliki kesukaan yang sangat kuat terhadap suatu makanan tertentu yang mungkin tidak memberi semua nutrisi yang diperlukan bagi tubuh, sikap terhadap gizi, dan tingkat aktivitas fisik. Status gizi pada remaja perlu mendapat perhatian khusus, karena pada tahap ini terjadi percepatan pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan, terutama pada sistem reproduksi . Body image merupakan persepsi individu terhadap penampilan fisiknya, yang mencakup kepuasan terhadap bentuk dan berat badan, serta orientasi terhadap tubuhnya . Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya hubungan antara jenis kelamin dan status gizi pada anak sekolah menjelaskan bahwa . perbedaan fisiologis dan kebutuhn metabolik antara remaja lakilaki dan perempuan memengaruhi status gizi Remaja laki-laki biasanya memiliki massa otot yang lebih besar dan dibandingkan perempuan. Pola memengaruhi kesejahteraan gizi mereka secara keseluruhan. Jika remaja tidak makan dengan baik, mereka kemungkinan besar tidak akan mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan, yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Biasanya, ketika remaja mengalami masalah gizi, hal itu terjadi karena apa yang mereka makan tidak memberikan tingkat nutrisi yang disarankan. Sikap merupakan salah satu faktor yang turut berperan dalam memengaruhi status gizi. Pada masa remaja, permasalahan gizi sering kali timbul akibat kurang tepatnya pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait gizi, yang menyebabkan ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan minuman dengan kebutuhan gizi yang Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara sikap terhadap gizi seimbang dan status gizi pada remaja . Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia . , prevalensi status gizi remaja di Kalimantan Selatan berdasarkan Indeks Massa Tubuh terhadap Umur (IMT/U) mencakup kategori sangat kurus sebesar 1,5%, kurus 9,6%, normal 76,1%, gemuk 9,4%, dan obesitas 3,5%. Jika dibandingkan dengan angka nasional. Kalimantan Selatan menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada kategori kekurangan dan kelebihan berat badan serta obesitas. Sementara itu, data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan tahun 2020 mencatat bahwa di Kabupaten Banjar. Proporsi status gizi pada kelompok remaja 16Ae18 tahun meliputi 2,79% sangat kurus, 12,47% kurus, 70,52% normal, 11,05% gemuk, serta 3,8% obesitas. Angka ini menunjukkan bahwa Kabupaten Banjar memiliki prevalensi gizi kurang dan gizi lebih yang lebih tinggi dibandingkan dengan ratarata provinsi. Dengan demikian, status gizi remaja usia 16Ae18 tahun masih menjadi isu penting yang perlu mendapatkan perhatian di wilayah tersebut. Jumlah remaja dengan status gizi yang bermasalah seperti sangat kurus, kurus, gemuk, dan obesitas yaitu mencapai 30,11% . Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan September 2024 terhadap 40 siswa di SMAN 2 Martapura menunjukkan bahwa status gizi siswa cukup Proporsi siswa dengan status gizi kurang sebesar 25%, status gizi normal 30%, gizi lebih 35%, dan obesitas sebesar 10%. Data ini mengindikasikan bahwa terdapat keragaman status gizi di kalangan siswa SMAN 2 Martapura yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image, jenis kelamin, pola konsumsi, dan sikap dengan status gizi remaja di SMAN 2 Martapura. Metode Penelitian Pendekatan penelitian yang diterapkan yaitu menggunakan analisis observasional, atau kerangka kerja lintas bagian yang dilaksanakan dalam periode tertentu. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 3, 4, dan 5 Februari 2025 di SMAN 2 Martapura dengan mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banjarmasin No. 1103/KEPK-PKB/2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X. XI, dan XII di SMAN 2 Martapura sebanyak 814 siswa. Sampel penelitian berjumlah 103 siswa yang diperoleh melalui rumus perhitungan sampel dengan toleransi kesalahan 10%. Teknik Lillah Khofifah, dkk. disesuaikan dengan jumlah siswa tiap kelas dengan menggunakan rumus jumlah siswa per kelas dibagi jumlah total populasi dikali jumlah total sampel yang diinginkan. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah body image, jenis kelamin, pola konsumsi, dan sikap. Variabel terikatnya adalah status gizi remaja. Data primer diperoleh melalui kuisioner yaitu data karakteristik, body image, pola konsumsi, dan sikap serta status gizi dengan pengukuran atropometri berat badan dan tinggi badan kemudian dianalisis menggunakan indikator IMT/U. Data sekunder diperoleh dari pihak sekolah mengenai profil sekolah dan jumlah Pengujian analisis univariat digunakan untuk mengetahui dan mendeskripsikan karakteristik dari setiap subjek variabel. Sedangkan uji analisis bivariat menggunakan uji korelasi Rank Spearman untuk variabel berskala ordinal dan uji FisherAos Exact untuk variabel nominal, dengan tingkat signifikansi < 0,05. Uji korelasi rank Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antara body image, pola konsumsi, dan sikap dengan status gizi. Uji FisherAos Exact digunakan untuk mengetaui hubungan antara jenis kelamin dan status gizi. Analisis Univariat Hasil Pola Konsumsi Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Karakteristik Remaja di SMAN 2 Martapura Karakteristik Umur 14 tahun 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun 19 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan Tabel 1, diketahui remaja di SMAN 2 Martapura dengan umur terbanyak yaitu 16 tahun sebanyak 36 orang . %), sedangkan jika berdasarkan jenis kelamin yaitu paling banyak laki-laki sebanyak 58 orang . ,3%). Status Gizi Tabel 2. Distribusi Remaja Berdasarkan Status Gizi di SMAN 2 Martapura Variabel Status Gizi Obesitas Gizi Lebih Normal Gizi Kurang Total Berdasarkan Tabel 2, diketahui remaja di SMAN 2 Martapura dengan status gizi terbanyak yaitu normal sebanyak 66 orang . ,1%). Body Image Tabel 3. Distribusi Remaja Berdasarkan Body Image di SMAN 2 Martapura Variabel Body Image Body Image Positif Body Image Negatif Total Berdasarkan Tabel 3, diketahui remaja di SMAN 2 Martapura dengan kategori body image terbanyak yaitu body image positif sebanyak 62 orang . ,1%). Tabel 4. Distribusi Remaja Berdasarkan Pola Konsumsi di SMAN 2 Martapura Variabel Pola Konsumsi Pola Konsumsi Baik Pola Konsumsi Kurang Total Berdasarkan Tabel 4, diketahui remaja di SMAN 2 Martapura dengan kategori pola konsumsi terbanyak yaitu pola konsumsi kurang sebanyak 64 orang . ,1%). Sikap Tabel 5. Distribusi Remaja Berdasarkan Sikap di SMAN 2 Martapura Variabel Sikap Sikap Positif Sikap Negatif Total Berdasarkan Tabel 5, diketahui remaja di SMAN 2 Martapura dengan kategori sikap terbanyak yaitu sikap positif sebanyak 52 orang . ,5%). Lillah Khofifah, dkk. Analisis Bivariat Hubungan Jenis Kelamin dengan Status Gizi Tabel 6. Distribusi Hubungan Jenis Kelamin dengan Status Gizi Remaja di SMAN 2 Martapura Status Gizi Variabel Obesitas Gizi Lebih Normal Gizi Kurang Jenis Kelamin Laki-laki 0,039 Perempuan *Uji FisherAos Exact Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa remaja dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 58 orang dengan status gizi paling banyak yaitu kategori normal sebanyak 32 orang . ,2%) dan remaja dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 45 orang dengan status gizi paling banyak yaitu kategori normal sebanyak 34 orang . ,6%). Berdasarkan uji FisherAos exact maka diketahui nilai probabilitas . 0,039 dan alfa () 0,05, dari hasil tersebut diketahui bahwa p . < . Hasil ini menunjukkan adanya hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan status gizi remaja di SMAN 2 Martapura. Untuk mengetahui kekuatan hubungan ataupun arah hubungan pada uji FisherAos menggunakan phi coefficient, diketahui phi coefficient yaitu 0,221. Ini menunjukkan hubungan yang lemah antara dua variabel jenis kelamin dan status gizi remaja. Hubungan Body Image dengan Status Gizi Tabel 7. Distribusi Hubungan Body Image dengan Status Gizi Remaja di SMAN 2 Martapura Status Gizi Variabel Obesitas Gizi Lebih Normal Gizi Kurang Body Image Body Image Positif 0,667 Body Image Negatif *Uji Rank Spearman Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa remaja memiliki paling banyak kategori body image yaitu body image positif sebanyak 62 orang degan status gizi paling banyak yaitu kategori normal sebanyak 42 orang . ,7%), sedangkan untuk status gizi paling sedikit yaitu obesitas sebanyak 4 orang . ,5%). Berdasarkan uji korelasi Rank Spearman, nilai probabilitas . yang diperoleh adalah 0,667, sedangkan nilai alfa () yang ditetapkan adalah 0,05. Hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara body image dengan status gizi remaja. Hubungan Pola Konsumsi dengan Status Gizi Tabel 8. Distribusi Hubungan Pola Konsumsi dengan Status Gizi Remaja di SMAN 2 Martapura Status Gizi Variabel Obesitas Gizi Lebih Normal Gizi Kurang Pola Konsumsi Pola Konsumsi Baik 25,6 21 0,020 Pola Konsumsi Kurang 2 10,9 45 70,4 10 *Uji Rank Spearman Lillah Khofifah, dkk. Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di SMAN 2 Martapura memiliki pola konsumsi yang kurang, diantaranya 45 remaja . ,3%) memilliki status gizi normal, sementara yang paling sedikit adalah . ,1%). Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan nilai probabilitas . sebesar 0,020, dengan nilai alfa () sebesar 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pola konsumsi dengan status gizi remaja. Hasil uji Rank Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,230, yang berarti terdapat korelasi positif dengan kekuatan lemah antara kedua variabel tersebut. Hubungan Sikap dengan Status Gizi Tabel 9. Distribusi Hubungan Sikap dengan Status Gizi Remaja di SMAN 2 Martapura Status Gizi Variabel Obesitas Gizi Lebih Normal Gizi Kurang Sikap Sikap Positif 19,2 33 0,137 Sikap Negatif 13,7 33 *Uji Rank Spearman Tabel 9 menunjukkan bahwa sikap remaja di SMAN 2 Martapura yaitu paling banyak memiliki sikap posittif sebanyak 52 orang dengan status gizi terbanyak yaitu kategori normal sebanyak 33 orang . ,5%), sedangkan untuk status gizi paling sedikit yaitu kategori obesitas sebanyak 4 orang . ,7%). Berdasarkan hasil uji korelasi rank Spearman diperoleh p = 0,137 dengan = 0,05. Karena p > , maka sikap tidak berhubungan signifikan dengan status gizi remaja di SMAN 2 Martapura. Pembahasan Hubungan Jenis Kelamin dengan Status Gizi Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Martapura dengan melibatkan 103 remaja. Sebagian besar remaja yang diteliti berusia 16 tahun . %) dan didominasi oleh jenis kelamin laki-laki . ,3%). Meskipun data populasi SMA Negeri Martapura menunjukkan jumlah remaja perempuan lebih proporsional random sampling menghasilkan sampel yang didominasi laki-laki. Secara umum, status gizi remaja di SMA Negeri 2 Martapura bervariasi, dengan mayoritas . ,1%) memiliki status gizi normal. Namun, terdapat juga proporsi obesitas . ,8%), gizi lebih . ,5%), dan gizi kurang . ,6%). Prevalensi gizi kurang dan gizi lebih/obesitas ini sedikit berbeda dengan data Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan Indonesia, yang mencatat prevalensi gizi kurang pada remaja usia sekolah menengah atas sebesar 8,7%, serta gizi lebih dan obesitas mencapai 16% untuk rentang usia 13-15 tahun dan 13,5% untuk rentang usia 16-18 tahun. Status gizi individu dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin karena kebutuhan nutrisi yang berbeda antara pria dan wanita. Karena massa otot yang metabolisme yang lebih cepat, pria biasanya membutuhkan asupan kalori dan protein yang lebih tinggi. Akibatnya, remaja laki-laki menghadapi risiko lebih besar mengalami obesitas dan kelebihan gizi dibandingkan remaja perempuan. (Khoerunisa, dkk 2. Remaja perempuan biasanya memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pola makan sehat karena adanya tekanan sosial untuk menjaga berat badan ideal. Sebaliknya, sebagian laki-laki kurang memperhatikan pola makan maupun pola konsumsi sehingga lebih berisiko mengalami gizi lebih, obesitas, maupun gizi kurang. Hubungan Body Image dengan Status Gizi Mayoritas remaja di SMA Negeri 2 Martapura . ,2%) memiliki body image Hal ini sejalan dengan penelitian . Lillah Khofifah, dkk. yang menemukan sebagian besar remaja di SMK Muhammadiyah 3 Banjarmasin juga memiliki body image positif. Body image adalah evaluasi individu terhadap kondisi fisiknya, termasuk persepsi mengenai bentuk dan berat badan, yang dibentuk oleh tindakan atau perilaku tertentu . Body image positif menunjukkan penerimaan dan kepuasan terhadap tubuh, berfokus pada fungsi dan kesehatan, serta percaya diri dengan keunikan diri. Meskipun sebagian besar remaja memiliki body image positif, masih banyak yang merasa tubuhnya kurus atau merasa perlu mengurangi porsi makan untuk mengontrol berat badan. Faktor-faktor yang pengaruh orang tua, teman sebaya, media massa, dan tahap perkembangan remaja. Dukungan keluarga dan lingkungan, serta penggunaan media sosial yang bijak, berkontribusi pada pengembangan body image positif . Hubungan Pola Konsumsi dengan Status Gizi Sebagian bersekolah di SMA Negeri 2 Martapura menunjukkan kebiasaan makan yang tidak sehat, terbukti dari 62,1% responden yang disurvei tergolong memiliki pola makan "tidak Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan prevalensi kebiasaan makan tidak sehat di antara sebagian besar remaja yang tinggal di Kota Bandung. Pola konsumsi mencerminkan jenis, jumlah, dan frekuensi makanan yang dikonsumsi harian . Meskipun konsumsi karbohidrat seperti nasi sudah mencukupi Angka Kecukupan Gizi (AKG), asupan protein hewani . elur ayam, daging aya. dan nabati . empe, tah. belum mencukupi AKG. Remaja juga banyak mengonsumsi buah-buahan seperti mangga, jeruk, dan pisang yang mencukupi anjuran AKG. Alasan di balik kebiasaan makan yang tidak sehat bisa jadi karena kurangnya kesadaran tentang gizi yang baik, pengaruh teman, komunitas tempat kita tinggal, perubahan dalam cara hidup kita saat ini, dan masalah keuangan . Pola konsumsi yang peningkatan risiko gizi kurang, sementara pola konsumsi yang baik cenderung berkorelasi dengan status gizi normal Hubungan Sikap dengan Status Gizi Sikap remaja terhadap gizi seimbang menunjukkan sedikit perbedaan, dengan 50,5% memiliki sikap positif dan 49,5% sikap Sikap adalah reaksi atau respons internal terhadap stimulus . Gizi seimbang adalah pola makan yang memenuhi kebutuhan gizi tubuh dengan mengonsumsi makanan beragam. Meskipun banyak remaja memiliki sikap positif terhadap teridentifikasi, artinya pemahaman tidak selalu diikuti praktik nyata. Ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mendalam, pengaruh teman sebaya, media sosial, dan kebiasaan makan keluarga. Perbedaan sikap berdasarkan jenis kelamin juga terlihat: laki-laki cenderung bersikap negatif terhadap gizi seimbang, sementara perempuan cenderung positif, yang mungkin dipengaruhi oleh perbedaan perhatian terhadap kesehatan dan penampilan fisik . Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan status gizi remaja di SMAN 2 Martapura hubungannya lemah dengan koefisien phi 0,221. Remaja laki-laki lebih banyak mengalami status gizi tidak normal . besitas, gizi lebih, gizi kuran. dibandingkan perempuan, yang mungkin berkaitan dengan perbedaan massa otot dan kebutuhan kalori . Namun, tidak ada hubungan signifikan antara body image dan status gizi . = 0,. Ini menunjukkan bahwa persepsi tubuh subjektif seringkali tidak selaras dengan status gizi objektif. Remaja dengan body image negatif cenderung memiliki status gizi lebih, mungkin karena emotional eating atau kurangnya pengetahuan gizi. Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara pola konsumsi dan status gizi . = 0,. , dengan korelasi positif lemah . = 0,. Ini berarti pola konsumsi yang lebih baik sedikit berkorelasi dengan status gizi yang lebih baik . Terakhir, tidak ada hubungan signifikan antara sikap terhadap gizi seimbang dan status gizi . = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa sikap positif terhadap gizi seimbang saja tidak cukup untuk memastikan perilaku konsumsi yang sehat dan status gizi yang optimal, karena dipengaruhi oleh berbagai Lillah Khofifah, dkk. faktor lain seperti lingkungan sosial, budaya, akses, dan faktor psikologis. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SMAN 2 Banjarmasin remaja yang memiliki status gizi normal sebesar 64,1%, sementara remaja yang menunjukkan body image positif sebesar 69,2%. Proporsi jenis kelamin sampel didominasi oleh laki-laki . ,3%). Namun, pola konsumsi remaja di . ,1%) dikategorikan kurang, sementara sikap terhadap gizi seimbang terbagi hampir rata antara positif . ,5%) dan negatif . ,5%). Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara body image dengan status gizi remaja, dan juga tidak ada hubungan bermakna antara sikap terhadap gizi seimbang dengan status gizi remaja. Namun, ditemukan hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan status gizi remaja, serta hubungan yang bermakna antara pola konsumsi dengan status gizi Daftar Pustaka