Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Asesmen Perkembangan Sosial Anak Usia 5 Tahun melalui Observasi Naturalistik Mardiyah1. Sakinah2. Lia Khaerunnisa3 Universitas Panca Sakti Bekasi. Indonesia Email Korespondensi: diyahhery31@gmail. 1,2,3 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perkembangan sosial anak usia 5 tahun melalui metode observasi naturalistik dalam konteks pendidikan anak usia dini. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai perilaku sosial anak di tiga lingkungan berbeda, yaitu rumah, sekolah, dan tempat wisata. Subjek penelitian terdiri dari tiga anak berusia 5 tahun yang diamati secara langsung tanpa intervensi. Data dikumpulkan melalui catatan anekdot, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat kesiapan sosial yang berbeda dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dukungan emosional dari orang dewasa dan pengalaman sebelumnya memengaruhi inisiatif anak dalam menjalin hubungan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa observasi naturalistik merupakan metode asesmen yang efektif untuk memahami proses interaksi sosial anak secara autentik, serta menjadi dasar penting bagi perencanaan stimulasi sosial yang sesuai. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan asesmen formatif berbasis konteks nyata untuk menilai perkembangan sosial anak usia dini secara komprehensif. Kata kunci: Perkembangan Sosial Anak. Observasi Naturalistik. Asesmen PAUD. Interaksi Sosial. Assessment of Social Development of 5 Year Old Children Through Naturalistic Observation ABSTRACT This study aims to describe the social development of 5-year-old children through naturalistic observation methods in the context of early childhood education. A descriptive qualitative approach was employed to gain an in-depth understanding of children's social behavior in three different settings: home, school, and a recreational environment. The research subjects consisted of three 5-year-old children who were observed directly without intervention. Data were collected through anecdotal records, interviews, and documentation, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The results indicate that each child demonstrated varying levels of social readiness when interacting with their surroundings. Emotional support from adults and previous experiences influenced their initiative to build social relationships. These findings suggest that naturalistic observation is an effective assessment method for understanding children's social interactions authentically and serves as a valuable basis for planning appropriate social stimulation. This study contributes to the development of context-based formative assessments to comprehensively evaluate early childhood social development. Keywords: Children's Social Development. Naturalistic Observation. Early Childhood Assessment. Social Interaction. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Lingkungan sosial berperan sebagai salah satu faktor utama yang mendukung tercapainya tujuan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas (Pitoewas, 2. Kehadiran lingkungan sosial sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian dan nilai moral pada diri anak, karena melalui interaksi sosial inilah anak mulai belajar mengenal norma, etika, serta perilaku yang diterima dalam masyarakat. Selanjutnya, lingkungan sosial di mana anak dibesarkan memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter serta kepribadiannya. Anak akan mulai mengenal dan terpengaruh oleh beragam norma, nilai, dan budaya yang berkembang di sekelilingnya. Interaksi yang terjadi dengan teman sebaya, tetangga, maupun dalam konteks lingkungan sekolah dan area bermain turut berkontribusi dalam membentuk cara berpikir dan perilaku anak pada masa usia dini (Zahroh & NaAoimah, 2. Perkembangan sosial pada anak usia dini merupakan proses penting yang berkaitan dengan kemampuan anak untuk menyesuaikan perilakunya dengan harapan sosial di sekitarnya. Hurlock . menyatakan bahwa perkembangan sosial adalah proses perolehan kemampuan berperilaku sesuai dengan tuntutan sosial. Dalam konteks anak usia dini, hal ini terlihat dari kemampuan mereka untuk berbagi, bekerja sama, dan mengikuti aturan sederhana. Proses ini tidak terlepas dari sosialisasi, yang menurut James W. Vander Zanden dalam Damsar . , adalah interaksi sosial yang memungkinkan individu memperoleh pengetahuan, sikap, nilai, dan perilaku penting untuk berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Dengan demikian, sejak usia dini, anak perlu dibimbing melalui berbagai pengalaman sosial agar dapat mengembangkan kemampuan sosial yang sehat dan adaptif dalam lingkungan sekitarnya. Masa anak usia dini, yang menurut NAEYC berada dalam rentang usia 0Ae8 tahun, dan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 berkisar antara 0Ae6 tahun, merupakan periode fundamental dalam kehidupan anak. Pada tahap ini, seluruh aspek perkembangan mulai dibentuk secara bertahap, termasuk perkembangan sosial. Masa ini dikenal sebagai masa emas . olden ag. karena merupakan fase penting dalam menanamkan dasar-dasar keterampilan sosial yang kelak akan membentuk kepribadian anak. Perkembangan sosial anak usia dini ditandai dengan kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain, mengenal emosi, bekerja sama, dan memahami aturan-aturan sosial di lingkungan sekitarnya. Anak mulai belajar berbagi, menunggu giliran, menyelesaikan konflik, serta membentuk hubungan dengan teman sebaya dan orang dewasa di sekitarnya. Dalam proses ini, lingkungan sosial memegang peranan yang sangat penting. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi tempat di mana anak pertama kali mempelajari norma, nilai, serta pola perilaku yang diterima secara sosial. Interaksi yang terjadi dalam lingkungan tersebut memberikan pengalaman langsung yang membentuk pola pikir, sikap, dan keterampilan sosial anak. Observasi naturalistik merupakan metode pengamatan yang dilakukan secara langsung di lingkungan tempat anak menjalani aktivitas sehari-hari, seperti di sekolah, rumah, taman bermain, atau lingkungan sekitar. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pendekatan ini menjadi cara yang efektif untuk memahami perkembangan sosial anak secara menyeluruh. Melalui observasi di lingkungan alami, perilaku sosial anak dapat terlihat secara spontan dan apa adanya, tanpa tekanan atau pengaruh dari situasi yang dibuat-buat. Anak-anak yang sedang bermain bersama teman, berbicara, bekerja sama, atau bahkan terlibat konflik kecil, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana mereka belajar memahami aturan sosial, berbagi, menyelesaikan masalah, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Lingkungan sosial seperti sekolah dan rumah juga berperan dalam memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, empati, dan kontrol diri. Dengan mengamati anak dalam situasi tersebut, pendidik dapat menilai sejauh mana anak menunjukkan perkembangan sosial yang sesuai usianya. Selain itu, hasil dari observasi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan stimulasi lanjutan, dukungan, atau strategi pembelajaran yang tepat. Karena dilakukan dalam situasi nyata, data yang diperoleh melalui observasi naturalistik cenderung lebih valid dan mencerminkan kondisi sebenarnya dari perkembangan sosial anak. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali pemahaman mendalam mengenai perkembangan sosial anak usia 5 tahun dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengamati gejala sosial secara langsung di lingkungan alami tanpa intervensi. Bogdan dan Taylor . alam Nugrahani, 2. menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dari subjek yang diamati, termasuk perilakunya. Senada dengan itu. Creswell . alam Murdiyanto, 2. menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena sosial dan persoalan manusia secara mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi naturalistik, wawancara terbuka, dan Observasi dilakukan dalam tiga konteks sosial: rumah, taman wisata, dan salah satu sekolah PAUD yang berlokasi di Jakarta Utara sebagai objek observasi. Pendekatan naturalistik sering kali diidentikkan dengan desain penelitian kualitatif (Rukminingsih dkk, 2020: Pendekatan kualitatif merupakan suatu proses penelitian yang melibatkan pengumpulan data empiris, analisis, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif tanpa menggunakan perhitungan Teknik yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, analisis isi, narasi, jurnal, serta angket terbuka . pen-ended questionnair. (Rukminingsih dkk, 2020: . Teknik ini memungkinkan peneliti mengamati perilaku anak secara langsung dalam lingkungan alaminya tanpa manipulasi. Pradley . dan Johnson . menyatakan bahwa observasi bersifat deskriptif, yaitu mencatat data yang tertangkap oleh pancaindra serta mengumpulkan informasi penting dari pengamatan langsung. Angrosino . menegaskan bahwa observasi naturalistik menghasilkan data yang kaya karena tidak mengganggu perilaku alami subjek, sementara Suryani . menekankan pentingnya teknik ini untuk memperoleh data yang tidak Subjek penelitian adalah empat anak berusia 5 tahun yang dipilih secara purposif untuk mewakili situasi sosial yang berbeda namun saling melengkapi: rumah sebagai ruang interaksi emosional, taman bermain sebagai tempat interaksi spontan, dan sekolah sebagai lingkungan sosial yang terstruktur. Perkembangan sosial dalam konteks ini mencakup kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial, berbagi, bekerja sama, berkomunikasi, menaati aturan, dan menyelesaikan konflik kecil. Data utama berupa catatan anekdot dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk meningkatkan keabsahan data, peneliti menerapkan triangulasi dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dari berbagai sumber, teknik, dan waktu (Mekarisce, 2020, hlm. HASIL DAN PEMBAHASAN Nama Anak Suhail Al Ghozi Tempat Waktu Peristiwa Rumah Pada suatu hari Kamis. Suhail terlihat sedang menikmati jajanan yang baru saja dibelinya dari warung. Sambil duduk dengan tenang, ia tampak mengamati sekelompok anak yang sedang bermain di halaman rumah dengan penuh perhatian. Dari raut wajah dan gesturnya, terlihat bahwa Suhail menunjukkan minat untuk bergabung dalam aktivitas bermain tersebut. Ia kemudian menyampaikan keinginannya kepada penulis untuk mengajak anak-anak itu bermain bersama di dalam rumah. Selain itu. Suhail juga meminta agar penulis mendampinginya dalam mengajak mereka, yang kemungkinan mencerminkan kebutuhannya akan dukungan agar merasa lebih percaya Menanggapi permintaan tersebut, penulis pun menemani Suhail mengundang anak-anak masuk ke dalam Tak lama kemudian, anak-anak tersebut mulai bermain bersama dengan gembira di ruang tamu. Meskipun suasana tampak ramai dan menyenangkan. Suhail justru berdiri menyendiri di sudut ruangan sambil teman-temannya mengucapkan sepatah kata pun. Ia tampak ragu dan belum menunjukkan inisiatif untuk bergabung atau memulai interaksi dengan mereka. Meskipun suasana terlihat hidup dan penuh keceriaan. Suhail justru memilih berdiri di sudut ruangan, hanya memperhatikan teman-temannya tanpa ikut serta dalam Ia tampak ragu dan belum menemukan cara untuk memulai interaksi. Namun, dorongan dari dalam dirinya tampaknya mulai Beberapa saat kemudian. Suhail mengambil inisiatif dengan menawarkan jajanan yang dimilikinya kepada anak-anak lain. Tindakan sederhana ini menjadi titik awal yang positif bagi Suhail untuk mulai terlibat dalam permainan dan membangun keberanian dalam menjalin relasi sosial secara mandiri. A Mengungkapkan keinginan untuk berinteraksi A Membutuhkan dukungan untuk membangun rasa percaya diri A Mulai menunjukkan inisiatif dalam menjalin relasi A Mengembangkan keberanian dan kemandirian dalam Pada hari Senin. Farhana datang ke tempat belajar mengaji untuk pertama kalinya. Ia tampak rapi dengan jilbab dan membawa tas kecil berisi buku IqraAo. Meski terlihat antusias, ekspresinya menunjukkan sedikit Sesampainya di kelas. Farhana duduk diam di sudut ruangan dan hanya memperhatikan teman-teman yang sudah saling bercanda. Ia tampak cemas dan meremas tali Beberapa saat kemudian, seorang anak bernama Zahra mendekat dan menyapanya. Farhana merespons dengan senyuman dan memperkenalkan diri. Interaksi singkat tersebut menjadi awal dari keterlibatan sosial Farhana di lingkungan barunya. Setelah mendapat sapaan dari beberapa anak. Farhana mulai terlibat dalam percakapan dan menunjukkan ketertarikan untuk berinteraksi. Hal ini mencerminkan inisiatif dalam membangun relasi sosial, yang merupakan salah satu indikator perkembangan sosial anak. Percakapan berkembang secara alami, dengan anakanak saling bertanya mengenai nama, tempat tinggal, dan makanan favorit. Farhana yang awalnya pendiam mulai tersenyum dan tertawa ketika salah satu temannya melontarkan lelucon. Usai kegiatan mengaji. Farhana terlihat bermain bersama teman-temannya di halaman sekolah, menunjukkan partisipasi aktif dalam interaksi sosial di lingkungan barunya. A Menunjukkan kemampuan beradaptasi sosial secara cepat di lingkungan yang baru. A Mampu menjalin interaksi sosial dengan lancar dalam situasi atau lingkungan yang belum dikenalnya. A Memiliki inisiatif dan keterbukaan dalam membangun hubungan sosial di tempat baru. A Cepat menyesuaikan diri secara sosial ketika berada dalam lingkungan baru. Nama Anak Tempat Maulana Syaban Tempat Waktu Peristiwa Pada hari Kamis. Maulana mengikuti kegiatan wisata edukatif bersama teman-temannya ke Bogor. Di awal kegiatan. Maulana tampak cemas dan enggan berinteraksi karena harus berada di lingkungan baru serta bertemu dengan orang-orang yang belum dikenalnya. Ia menolak untuk didampingi oleh kakak pendamping dan memilih duduk diam bersama guru yang sudah dikenalnya. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Namun, dengan motivasi dan pendekatan dari kakak pembina di lokasi tersebut. Maulana perlahan mulai membuka diri. Meskipun awalnya menunjukkan tandatanda ingin menangis saat dibimbing, ia akhirnya menerima ajakan tersebut dan tidak lagi menangis setelah diberikan penguatan secara emosional. Seiring berjalannya waktu. Maulana mulai terlibat dalam berbagai kegiatan yang telah disiapkan. Ia bahkan menunjukkan kepedulian sosial dengan membantu temannya mencabut tanaman kangkung, menandakan mulai tumbuhnya keberanian dan kemauan untuk berinteraksi di lingkungan baru. Akhirnya maulana dengan teman-temannya beserta kakak pembina pun memetik tanaman kangkung Bersama. A Mulai mampu menyesuaikan diri di lingkungan baru. A Mampu menerima bantuan atau pendampingan dari orang yang sebelumnya belum dikenal. A Mampu bekerja sama dalam kelompok. Nama Anak Tempat Waktu Bintang Atayya Disekolah Peristiwa Pada hari Selasa, saat kegiatan fun cooking berlangsung. Bintang menunjukkan antusiasme dan keinginan untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Meskipun awalnya ia belum mendapatkan kesempatan karena teman-temannya lebih dahulu mengambil peran, dengan dukungan dari guru. Bintang memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya. Ia sempat merasa malu, namun akhirnya berkata kepada salah satu temannya yang sedang menuangkan bubuk cokelat. AuNanti aku yang aduk cokelatnya, boleh nggak?Ay Permintaan tersebut disambut baik, dan Bintang pun memperoleh kesempatan untuk mengaduk adonan cokelat. Ia melakukannya dengan penuh semangat dan ekspresi wajah yang ceria. Antusiasme untuk Berpartisipasi Kemampuan Mengelola Emosi Keberanian Mengungkapkan Keinginan Inisiatif dalam Interaksi Sosial Kemampuan Menunggu Giliran dan Menghormati Orang Lain Berdasarkan hasil observasi naturalistik yang dilakukan pada tiga konteks sosial, yaitu rumah, sekolah, dan tempat wisata, ditemukan bahwa setiap anak menunjukkan tingkat kesiapan dan strategi yang berbeda dalam menjalin interaksi sosial. Pengamatan dilakukan secara langsung dalam lingkungan alami tanpa intervensi, dengan mencatat momen-momen penting melalui catatan anekdot. Hal ini memungkinkan peneliti menangkap perilaku sosial anak secara autentik dan kontekstual. Subjek pertama. Suhail, memperlihatkan minat dalam bermain bersama teman sebaya, meskipun ia masih merasa ragu untuk langsung terlibat. Ia membutuhkan bantuan dari orang dewasa sebagai perantara untuk memulai interaksi. Namun, seiring waktu. Suhail mulai menunjukkan inisiatif sendiri, seperti dengan menawarkan jajanan kepada teman-temannya. Hal ini menunjukkan kemampuannya dalam mengekspresikan emosi dan membangun rasa percaya diri secara perlahan, yang merupakan aspek penting dalam perkembangan sosial anak. Penguasaan terhadap keterampilan dasar dan keterampilan baru sangat diperlukan agar individu dapat menyesuaikan diri, yang kemudian menjadi fondasi dalam membentuk hubungan sosial yang lebih luas (Saleh, 2. Berbeda dengan Suhail. Farhana, yang baru pertama kali datang ke tempat belajar mengaji, awalnya tampak ragu dan memilih diam di sudut kelas. Namun, setelah disapa oleh teman sebaya, ia mulai merespons secara positif dan menunjukkan keterbukaan dalam menjalin hubungan sosial. Farhana bahkan mulai tertawa dan bermain bersama teman-temannya hingga kegiatan berakhir. Ini menunjukkan bahwa Farhana memiliki kemampuan beradaptasi sosial secara cepat dan inisiatif dalam membangun hubungan baru, yang menjadi indikator perkembangan sosial yang lebih matang di usianya. Hubungan yang positif antara anak dan lingkungannya memiliki peran penting karena dapat memberikan berbagai pengalaman, perasaan, serta pembelajaran dalam aspek sosial dan emosional, yang pada akhirnya mendukung pencapaian tingkat perkembangan sosial-emosional yang optimal (Gunarsih. Rahmawati & Latifah, 2. Sementara itu. Maulana memperlihatkan respons awal yang berbeda. Ia menunjukkan kecemasan saat berada di lingkungan baru dan enggan berinteraksi dengan pendamping yang belum dikenalnya. Namun, dengan pendekatan yang empatik dari kakak pembina. Maulana akhirnya mampu menyesuaikan diri, tidak lagi menangis, dan ikut serta dalam kegiatan secara Bahkan, ia menunjukkan kepedulian sosial dengan membantu temannya mencabut tanaman kangkung. Perilaku ini mengindikasikan adanya kemampuan adaptasi bertahap, serta kemauan bekerja sama dalam kelompok, yang penting dalam perkembangan sosial anak. Berbeda dengan ketiga subjek sebelumnya. Bintang Atayya menunjukkan respons sosial yang positif sejak awal kegiatan. Saat kegiatan fun cooking di sekolah. Bintang terlihat antusias dan memiliki keinginan kuat untuk berpartisipasi. Meskipun sempat merasa ragu dan malu karena tidak segera mendapat peran, ia tetap menunjukkan sikap yang sabar dan menghormati giliran teman-temannya. Dengan dukungan dari guru. Bintang akhirnya membangun keberanian untuk menyampaikan keinginannya secara verbal kepada teman Tindakan Bintang yang meminta peran dengan cara yang sopan merupakan bentuk keterampilan komunikasi yang baik serta kemampuan untuk mengatasi rasa malu secara Respons positif dari temannya menjadi penguat bagi Bintang untuk berinteraksi lebih Setelah diberi kesempatan. Bintang melaksanakan tugasnya dengan semangat dan ekspresi wajah yang ceria, menandakan kenyamanan emosional dan keterlibatannya secara Perilaku sosial yang ditunjukkan Bintang mencerminkan perkembangan sosial yang selaras dengan usianya, terutama dalam hal inisiatif, regulasi emosi, kemampuan berkomunikasi, dan adaptasi terhadap dinamika kelompok. Hal ini juga memperlihatkan bahwa lingkungan sekolah yang suportif, serta adanya figur pendidik yang responsif, mampu memfasilitasi perkembangan sosial anak secara optimal. Dengan demikian. Bintang dapat dikatakan telah memiliki pondasi sosial-emosional yang kuat untuk menghadapi situasi sosial yang lebih kompleks di masa depan. Menurut NiAomah . , anak usia 5Ae6 tahun memiliki kemampuan sosial emosional yang ditandai dengan perilaku yang sesuai dengan norma, kemampuan memahami situasi, kesabaran, keterampilan menghadapi masalah, kemampuan mengekspresikan kasih sayang, serta ketertarikan terhadap aktivitas orang dewasa. Kemampuan ini berperan penting dalam membangun interaksi yang positif dengan lingkungan sekitar dan turut mendukung pembentukan kepribadian yang sehat. Berdasarkan keempat catatan anekdot yang dianalisis, terlihat bahwa perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh dukungan emosional yang diterima serta pengalaman sosial yang dimiliki sebelumnya. Anak yang merasa aman secara emosional, seperti Farhana dan Bintang Atayya, cenderung menunjukkan keterbukaan, inisiatif, dan kemampuan beradaptasi lebih cepat dalam lingkungan sosial baru. Farhana mampu menjalin interaksi dengan teman sebaya secara alami, sementara Bintang menunjukkan keberanian untuk mengungkapkan keinginannya meskipun sempat merasa malu. Pengembangan keterampilan sosial pada anak, khususnya pada masa usia dini, memiliki peran yang sangat penting karena menjadi landasan bagi anak untuk menjalin interaksi dengan orang lain (Sujiono, 2. , menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial, serta membentuk hubungan yang positif. Beberapa alasan mengapa keterampilan sosial perlu dikembangkan antara lain adalah karena keterampilan ini membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang efektif, baik secara verbal maupun nonverbal (Jamilah, 2. Sementara itu. Suhail dan Maulana memperlihatkan kebutuhan akan rasa aman dari figur yang sudah dikenal sebelum mampu berinteraksi secara mandiri. Suhail membutuhkan pendampingan awal untuk mulai berinteraksi, dan Maulana memerlukan pendekatan empatik sebelum bersedia terlibat dalam kegiatan kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan kesiapan sosial yang berbeda, sehingga penting bagi pendidik dan orang tua untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Hasil wawancara dengan guru dan orang tua juga menunjukkan bahwa kedekatan emosional anak dengan orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tua, sangat memengaruhi kesiapan sosial anak. Anak yang terbiasa berdialog dengan orang tua cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi saat berada dalam lingkungan sosial baru. Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan perhatian emosional menunjukkan sikap menarik diri atau kecemasan Peran guru dalam proses pembelajaran sangatlah vital, tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing, fasilitator, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang mendukung siswa dalam mencapai tujuan belajar yang telah dirancang (Sanjani, 2. Fokus utama dalam pendidikan terletak pada pembinaan dan pengembangan manusia secara menyeluruh, mencakup aspek intelektual, moral, dan sosial yang terpadu secara harmonis dan Proses pembelajaran menjadi sarana untuk mewujudkan perubahan perilaku yang mencakup peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Salim, 2019: . Dengan demikian, observasi naturalistik terbukti menjadi metode asesmen yang efektif dalam mengungkap dinamika perkembangan sosial anak usia dini secara alami. Data yang diperoleh tidak hanya menunjukkan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial, tetapi juga mencerminkan pola hubungan anak dengan lingkungannya, baik di rumah maupun di sekolah. Temuan ini memperkuat pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam memberikan stimulasi sosial yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Kemampuan dalam membentuk perilaku sosial, mengelola emosi, serta menjalin hubungan dan interaksi dengan orang lain melalui ekspresi perasaan terhadap sesama merupakan bagian dari aspek perkembangan sosial emosional (Halida dalam Wardany, 2. SIMPULAN Penelitian ini menghasilkan gambaran nyata mengenai perkembangan sosial anak usia 5 tahun melalui observasi naturalistik dalam tiga konteks sosial yang berbeda, yaitu rumah, sekolah, dan tempat wisata. Hasil observasi menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara yang unik dalam merespons situasi sosial baru, yang dipengaruhi oleh tingkat kenyamanan emosional, pengalaman sebelumnya, dan dukungan dari lingkungan sekitar. Anak yang memperoleh dukungan emosional secara tepat dari orang dewasa di sekitarnya cenderung lebih cepat menyesuaikan diri, menunjukkan inisiatif, serta mampu membangun relasi sosial yang sehat dengan teman sebaya. Temuan ini menegaskan bahwa perkembangan sosial anak usia dini tidak hanya dipengaruhi oleh karakter individu, tetapi juga oleh kualitas interaksi dan kedekatan anak dengan lingkungan sosialnya, baik di rumah maupun di sekolah. Kontribusi utama dari penelitian ini terletak pada penerapan metode observasi naturalistik sebagai alat asesmen yang efektif untuk menangkap perilaku sosial anak secara spontan dan autentik, tanpa intervensi yang dapat mengubah respons alami anak. Dengan pendekatan ini, pendidik dan orang tua dapat memperoleh informasi mendalam mengenai kebutuhan sosial anak, sehingga mampu memberikan stimulasi dan pendampingan yang sesuai. Penelitian ini memperkuat pentingnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang sosial anak usia dini secara optimal. DAFTAR PUSTAKA