n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 617-626 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan TANTANGAN DAN STRATEGI PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SEKOLAH DASAR DI SEKOLAH LUAR BIASA Fredella Khoirul Huda. Nanda Aleydaaqika Putri2. Septia Ardiana3*. Minsih4 1,2,3,4 Universitas Muhammadiyah Surakarta, 57169. Indonesia. *Email korespondensi : a510210086@student. Diterima Februari 2025. Disetujui Juni 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: This research aims to identify and analyze challenges and formulate strategies in implementing elementary school curriculum in Special Education Schools (SLB). Using a qualitative approach with library research methods, this study examines various current literature sources regarding curriculum implementation in special education schools. The results show that the main challenges include gaps between the national curriculum and specific needs of students with special needs, limited teacher competency in curriculum adaptation, and suboptimal learning support infrastructure. Approximately 70% of special education schools experience difficulties in curriculum adaptation, while only 45% of teachers have comprehensive understanding of curriculum adaptation processes for children with special needs. Recommended optimization strategies include developing differentiation-based curriculum adaptation models, strengthening teacher professional development programs, and enhancing stakeholder collaboration. The implementation of these strategies requires a systematic approach and adaptive policy support to create a sustainable and quality special education ecosystem. Keywords : Curriculum Implementation. Special Education Schools. Inclusive Education Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tantangan serta merumuskan strategi dalam implementasi kurikulum tingkat sekolah dasar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini mengkaji berbagai sumber literatur terkini tentang implementasi kurikulum di SLB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama mencakup kesenjangan antara kurikulum nasional dengan kebutuhan spesifik peserta didik berkebutuhan khusus, keterbatasan kompetensi guru dalam adaptasi kurikulum, dan infrastruktur pendukung pembelajaran yang belum optimal. Sekitar 70% SLB mengalami kesulitan dalam adaptasi kurikulum, sementara hanya 45% guru yang memiliki pemahaman komprehensif tentang proses adaptasi kurikulum untuk anak berkebutuhan khusus. Strategi optimalisasi yang direkomendasikan meliputi pengembangan model adaptasi kurikulum berbasis diferensiasi, penguatan program pengembangan profesional guru, dan peningkatan kolaborasi antar pemangku Implementasi strategi tersebut memerlukan pendekatan sistematis dan dukungan kebijakan yang adaptif untuk menciptakan ekosistem pendidikan khusus yang berkelanjutan dan berkualitas. Kata kunci : Implementasi Kurikulum. Sekolah Luar Biasa. Pendidikan Inklusif PENDAHULUAN Pendidikan inklusif merupakan komponen fundamental dalam mewujudkan hak asasi manusia untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB). Implementasi kurikulum di tingkat sekolah dasar SLB menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan membutuhkan strategi yang tepat untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Tantangan Dan Strategi Penerapan Kurikulum. (Huda. Putri. Ardiana, & Minsih, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 617-626 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Andriani et al. , 2. , sekitar 70% SLB di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas kurikulum dengan realitas implementasinya di lapangan. Dinamika perubahan kurikulum pendidikan nasional yang terus berkembang memberikan tantangan tersendiri bagi SLB dalam mengadaptasi dan mengimplementasikan kurikulum tersebut. (Erikson & Andriani, 2. mengungkapkan bahwa penyesuaian kurikulum untuk ABK memerlukan modifikasi yang substansial, mencakup aspek materi, metode pembelajaran, dan sistem evaluasi yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing peserta didik. Kompleksitas ini semakin bertambah dengan beragamnya jenis kebutuhan khusus yang dimiliki peserta didik, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, hingga autism (Anita et al. , 2. Faktor sumber daya manusia, khususnya kompetensi guru SLB, juga menjadi aspek krusial dalam keberhasilan implementasi kurikulum. Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Kusumawati et al. menunjukkan bahwa hanya 45% guru SLB yang memiliki pemahaman komprehensif tentang adaptasi kurikulum untuk ABK. Hal ini berimplikasi pada efektivitas proses pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Selain itu, keterbatasan sarana prasarana dan media pembelajaran adaptif turut memengaruhi kualitas implementasi kurikulum di SLB. Pandemi COVID-19 telah memberikan dimensi baru dalam tantangan penerapan kurikulum di SLB. Menurut studi yang dilakukan oleh (Oktaviani et al. , 2. pembelajaran jarak jauh selama pandemi menghadirkan kompleksitas tersendiri dalam penyampaian materi dan evaluasi pembelajaran bagi ABK. Adaptasi terhadap pembelajaran daring membutuhkan kreativitas dan inovasi dari para pendidik, serta dukungan optimal dari berbagai pemangku kepentingan (Firstanti Wardany et al. , 2. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara mendalam tantangan-tantangan yang dihadapi dalam implementasi kurikulum tingkat sekolah dasar di SLB, serta merumuskan strategi yang efektif untuk mengatasinya. (Ramadhanty Adinda Putri et al. , 2. menegaskan bahwa pemahaman komprehensif terhadap problematika implementasi kurikulum merupakan langkah awal yang esensial dalam mengembangkan solusi yang tepat sasaran. Rumusan masalah dalam penelitian ini mencakup: . Apa saja tantangan yang dihadapi dalam implementasi kurikulum tingkat sekolah dasar di SLB? . Bagaimana strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan tersebut? . Bagaimana peran berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung keberhasilan implementasi kurikulum di SLB? Tujuan penelitian ini adalah untuk: . Mengidentifikasi dan menganalisis secara komprehensif tantangantantangan dalam implementasi kurikulum tingkat sekolah dasar di SLB, . Merumuskan strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan tersebut, . Mengkaji peran dan kontribusi pemangku kepentingan dalam optimalisasi implementasi kurikulum di SLB. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat teoretis maupun Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat memperkaya khazanah pengetahuan dalam bidang pendidikan khusus, khususnya terkait implementasi kurikulum di SLB. Temuan penelitian dapat menjadi referensi untuk pengembangan model adaptasi kurikulum yang lebih ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 617-626 efektif dan sesuai dengan kebutuhan ABK. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para pendidik, pengelola SLB, dan pemangku kebijakan dalam mengembangkan program dan kebijakan yang mendukung optimalisasi implementasi kurikulum di SLB. Bagi guru SLB, penelitian ini dapat memberikan wawasan dan strategi praktis dalam mengadaptasi dan mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan karakteristik peserta didik. Bagi pengelola SLB, hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan program peningkatan kompetensi guru dan penyediaan sarana prasarana pendukung. Bagi pemangku kebijakan, temuan penelitian dapat menjadi masukan dalam perumusan kebijakan dan regulasi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di SLB. KAJIAN PUSTAKA Konsep dan Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Luar Biasa Pendidikan inklusif merupakan paradigma pendidikan yang mengakomodasi keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik dalam satu lingkungan pembelajaran yang inklusif. Dalam konteks Sekolah Luar Biasa (SLB), implementasi pendidikan inklusif memiliki kompleksitas yang lebih tinggi mengingat kekhususan kebutuhan peserta didiknya. Menurut (Sudarto, 2. , pendidikan inklusif di SLB tidak hanya berbicara tentang aksesibilitas fisik, tetapi juga mencakup aspek kurikulum, metode pembelajaran, dan sistem evaluasi yang harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta didik. Pendekatan pembelajaran di SLB harus mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan peserta didik, termasuk aspek kognitif, afektif, dan Implementasi pendidikan inklusif di SLB juga memerlukan pemahaman mendalam tentang berbagai jenis kebutuhan khusus, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Setiap jenis kebutuhan khusus memiliki karakteristik dan kebutuhan pembelajaran yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang spesifik. Sistem pendidikan inklusif di SLB harus mampu mengakomodasi keberagaman ini sambil tetap mempertahankan standar kualitas pembelajaran yang optimal. Tantangan dan Dinamika Penerapan Kurikulum di Sekolah Luar Biasa Implementasi kurikulum di SLB menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan dinamis. (Maghfiroh & Sholeh, 2. mengidentifikasi bahwa salah satu tantangan utama adalah kesenjangan antara desain kurikulum nasional dengan kebutuhan spesifik peserta didik berkebutuhan khusus. Proses adaptasi kurikulum seringkali terkendala oleh keterbatasan pemahaman guru terhadap karakteristik peserta didik dan strategi modifikasi kurikulum yang tepat. Selain itu, dinamika perubahan kurikulum nasional yang relatif cepat memberikan tantangan tersendiri bagi SLB dalam melakukan penyesuaian dan implementasi. (Maghfiroh & Sholeh, 2. menyoroti bahwa tantangan implementasi kurikulum di SLB juga mencakup aspek penilaian dan evaluasi pembelajaran. Sistem penilaian harus mampu mengakomodasi keberagaman kemampuan dan perkembangan peserta didik, sambil tetap mempertahankan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Keterbatasan sarana prasarana dan media pembelajaran adaptif juga menjadi kendala signifikan dalam implementasi kurikulum di SLB. Kompetensi Guru dan Pengembangan Profesional dalam Konteks Pendidikan Khusus Tantangan Dan Strategi Penerapan Kurikulum. (Huda. Putri. Ardiana, & Minsih, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 617-626 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Kompetensi guru merupakan faktor krusial dalam keberhasilan implementasi kurikulum di SLB. Kusumawati et al. mengungkapkan bahwa kompetensi guru SLB harus mencakup pemahaman mendalam tentang karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus, kemampuan adaptasi kurikulum, dan keterampilan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif. Program pengembangan profesional berkelanjutan menjadi kebutuhan mendasar untuk meningkatkan kompetensi guru SLB. Aspek-aspek pengembangan profesional meliputi penguatan pemahaman teoretis tentang pendidikan khusus, peningkatan keterampilan praktis dalam pembelajaran, dan pengembangan kemampuan evaluasi pembelajaran. Guru SLB juga dituntut untuk memiliki sensitivitas dan kemampuan komunikasi yang baik dengan peserta didik berkebutuhan khusus dan orang tua mereka. Kolaborasi antarguru dan dengan tenaga profesional lain seperti terapis dan psikolog juga menjadi komponen penting dalam pengembangan profesional guru SLB. Inovasi dan Adaptasi Pembelajaran di Era Digital untuk Pendidikan Khusus Era digital membawa tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan khusus di SLB. (Saiful Rizal, 2. mengemukakan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran di SLB memerlukan pendekatan yang cermat dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Pembelajaran daring yang menjadi kebutuhan selama pandemi COVID-19 telah mendorong inovasi dalam metode pembelajaran dan penggunaan teknologi assistif. Pengembangan media pembelajaran digital yang adaptif dan aksesibel menjadi prioritas dalam mendukung pembelajaran di SLB. Inovasi pembelajaran juga mencakup pengembangan sistem evaluasi berbasis teknologi yang mampu mengakomodasi keberagaman kemampuan peserta didik. Pemanfaatan teknologi assistif dan platform pembelajaran digital harus mempertimbangkan aksesibilitas dan kemudahan penggunaan bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pengembang teknologi dan praktisi pendidikan, menjadi penting dalam mengembangkan solusi pembelajaran yang efektif dan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. untuk mengkaji dan menganalisis tantangan serta strategi penerapan kurikulum tingkat sekolah dasar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan komprehensif mengenai fenomena yang diteliti, khususnya dalam konteks implementasi kurikulum di SLB yang memiliki kompleksitas dan dinamika tersendiri. Metode studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis berbagai sumber literatur yang relevan dengan topik penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penelusuran sistematis terhadap sumber-sumber data sekunder yang mencakup artikel jurnal ilmiah, buku teks, laporan penelitian, dokumen kebijakan pendidikan, dan publikasi resmi dari institusi pendidikan dan pemerintah yang berkaitan dengan implementasi kurikulum di SLB. Sumber data sekunder yang digunakan meliputi publikasi dalam rentang waktu lima tahun terakhir . untuk memastikan aktualitas dan relevansi data dengan konteks penelitian terkini. Data statistik yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari laporan resmi Kementerian Pendidikan dan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 617-626 publikasi lembaga penelitian terpercaya yang melakukan kajian tentang pendidikan khusus di Indonesia. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis konten . ontent analysi. yang dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah reduksi data, dimana dilakukan proses seleksi dan kategorisasi data dari berbagai sumber literatur sesuai dengan fokus penelitian. Data yang terkumpul kemudian dikategorikan ke dalam tiga tema utama sesuai dengan rumusan masalah: tantangan implementasi kurikulum, strategi penanganan, dan peran pemangku kepentingan. Tahap kedua adalah penyajian data, dimana data yang telah dikategorikan disusun secara sistematis untuk memudahkan proses analisis dan interpretasi. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, dimana dilakukan proses sintesis untuk menghasilkan temuan penelitian yang komprehensif. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dengan membandingkan dan memverifikasi data dari berbagai sumber literatur yang berbeda. Proses analisis juga mempertimbangkan aspek kredibilitas sumber, dengan memberikan prioritas pada publikasi dalam jurnal terakreditasi dan laporan resmi dari institusi yang memiliki otoritas dalam bidang pendidikan khusus. Penelitian ini juga menerapkan prinsip objektivitas dalam analisis dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dan sudut pandang yang berbeda dalam memahami fenomena yang diteliti. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dilengkapi dengan protokol dokumentasi untuk mencatat dan mengorganisir data dari berbagai sumber literatur. Protokol dokumentasi mencakup aspekaspek seperti identifikasi sumber, kategorisasi temuan, dan analisis keterkaitan antar tema. Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara iteratif, dimana temuan awal digunakan untuk mengarahkan pencarian data selanjutnya hingga mencapai saturasi data. Keterbatasan dalam penelitian ini diakui dengan mempertimbangkan bahwa analisis hanya didasarkan pada data sekunder, sehingga tidak dapat mengakses pengalaman langsung dari para praktisi pendidikan di lapangan. Namun, keterbatasan ini diatasi dengan menggunakan sumber data yang komprehensif dan beragam untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tantangan Fundamental dalam Implementasi Kurikulum di SLB Implementasi kurikulum di Sekolah Luar Biasa (SLB) menghadapi tantangan fundamental yang kompleks dan multidimensi. Kesenjangan antara kurikulum nasional dan kebutuhan spesifik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menjadi permasalahan mendasar yang perlu diatasi. Data menunjukkan bahwa sekitar 70% SLB mengalami kesulitan dalam melakukan adaptasi kurikulum nasional untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus (Sinaga et al. , 2. Kesenjangan ini terlihat dari struktur kurikulum yang cenderung bersifat general dan kurang mengakomodasi keragaman karakteristik dan kemampuan ABK. Kompleksitas ini semakin bertambah ketika kurikulum nasional mengalami perubahan, sementara proses adaptasi di tingkat SLB memerlukan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Tantangan berikutnya terletak pada kompleksitas adaptasi kurikulum untuk berbagai jenis kebutuhan Setiap jenis kebutuhan khusus, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Tantangan Dan Strategi Penerapan Kurikulum. (Huda. Putri. Ardiana, & Minsih, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 617-626 http://jurnal. id/index. php/dedikasi memerlukan pendekatan dan strategi adaptasi yang berbeda. Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh (Hidayat et al. , 2. mengungkapkan bahwa proses adaptasi kurikulum seringkali terhambat oleh keterbatasan pemahaman terhadap karakteristik spesifik masing-masing jenis kebutuhan khusus. Modifikasi materi pembelajaran, metode penyampaian, dan strategi evaluasi harus disesuaikan tidak hanya dengan jenis kebutuhan khusus, tetapi juga dengan tingkat kemampuan individual peserta didik. Hal ini menciptakan beban kerja yang signifikan bagi pendidik dan pengelola SLB dalam mengembangkan program pembelajaran yang efektif. Hambatan dalam sistem evaluasi dan penilaian pembelajaran menjadi tantangan tersendiri yang memerlukan perhatian khusus. Sistem evaluasi konvensional yang tercantum dalam kurikulum nasional seringkali tidak sesuai dengan karakteristik dan kemampuan ABK. (Ratna Putri Pradita et al. , 2. menegaskan bahwa diperlukan pengembangan sistem evaluasi yang lebih fleksibel dan adaptif, yang mampu mengukur perkembangan peserta didik sesuai dengan potensi dan keterbatasan mereka. Proses evaluasi harus mempertimbangkan tidak hanya aspek akademik, tetapi juga perkembangan sosial, emosional, dan keterampilan hidup peserta didik. Keterbatasan instrumen evaluasi yang terstandarisasi untuk ABK juga menjadi kendala dalam mengukur pencapaian kompetensi secara objektif dan komprehensif. Implikasi perubahan kurikulum terhadap proses pembelajaran di SLB membawa konsekuensi yang signifikan terhadap berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan. Dinamika perubahan kurikulum nasional yang relatif cepat menuntut adaptasi yang cepat pula dari pihak SLB, sementara proses penyesuaian memerlukan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Hal ini berimplikasi pada stabilitas program pembelajaran dan konsistensi pencapaian tujuan pendidikan. Selain itu, perubahan kurikulum juga berdampak pada kebutuhan pengembangan kompetensi guru, penyesuaian sarana prasarana, dan modifikasi sistem evaluasi pembelajaran. Problematika Kompetensi dan Kesiapan Guru SLB Problematika kompetensi dan kesiapan guru SLB merupakan aspek krusial yang memerlukan perhatian serius dalam konteks implementasi kurikulum. Tingkat pemahaman guru terhadap adaptasi kurikulum menjadi faktor determinan dalam keberhasilan pembelajaran di SLB. (Haikal et al. , 2. mengungkapkan bahwa hanya 45% guru SLB yang memiliki pemahaman komprehensif tentang proses adaptasi kurikulum untuk ABK. Kesenjangan pemahaman ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan Guru SLB dituntut tidak hanya memahami struktur dan konten kurikulum, tetapi juga mampu melakukan modifikasi dan adaptasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Kesenjangan kompetensi dalam pengelolaan pembelajaran ABK menjadi tantangan berikutnya yang perlu Kompetensi guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif, memilih media pembelajaran yang sesuai, dan melakukan evaluasi pembelajaran yang tepat masih perlu ditingkatkan. Kompleksitas pengelolaan pembelajaran di SLB menuntut guru memiliki tidak hanya kompetensi pedagogis, tetapi juga kompetensi sosial dan kepribadian yang mendukung interaksi efektif dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Kesenjangan kompetensi ini semakin terlihat ketika guru harus menghadapi situasi pembelajaran yang dinamis dan beragam. Tantangan pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru SLB ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 617-626 memerlukan pendekatan yang sistematis dan komprehensif. Program pengembangan profesional yang ada seringkali belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan spesifik guru SLB dalam meningkatkan kompetensi Keterbatasan akses terhadap program pelatihan, workshop, dan seminar yang relevan dengan pendidikan khusus menjadi kendala dalam upaya peningkatan kompetensi guru. Selain itu, program pengembangan profesional yang ada seringkali bersifat teoretis dan kurang memberikan pengalaman praktis yang dibutuhkan dalam pengelolaan pembelajaran di SLB. Beban kerja dan kompleksitas tugas guru SLB menjadi faktor yang signifikan dalam memengaruhi efektivitas implementasi kurikulum. Guru SLB tidak hanya bertanggung jawab dalam proses pembelajaran, tetapi juga harus mengelola berbagai aspek administratif, melakukan asesmen individual peserta didik, mengembangkan program pembelajaran individual, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Kompleksitas tugas ini seringkali tidak diimbangi dengan dukungan sistem dan sumber daya yang memadai. Beban kerja yang tinggi dapat berdampak pada kualitas pembelajaran dan kesejahteraan guru secara keseluruhan. Analisis terhadap problematika kompetensi dan kesiapan guru SLB menunjukkan perlunya pendekatan yang holistik dalam pengembangan profesional guru. Peningkatan kompetensi guru harus mencakup tidak hanya aspek pedagogis, tetapi juga aspek sosial, emosional, dan manajerial yang diperlukan dalam pengelolaan pembelajaran di SLB. Program pengembangan profesional perlu dirancang secara sistematis dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik guru SLB dan karakteristik pembelajaran di sekolah luar biasa. Dukungan sistem dan kebijakan yang memadai juga diperlukan untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program pengembangan profesional guru SLB. Infrastruktur dan Sumber Daya Pendukung Pembelajaran Ketersediaan dan kualitas infrastruktur serta sumber daya pendukung pembelajaran menjadi faktor determinan dalam keberhasilan implementasi kurikulum di Sekolah Luar Biasa (SLB). Penelitian komprehensif yang dilakukan oleh (Rahayu & Haq, 2. mengungkapkan bahwa 65% SLB di Indonesia masih menghadapi keterbatasan signifikan dalam hal sarana prasarana pembelajaran adaptif yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Kondisi ini meliputi keterbatasan ruang kelas yang aksesibel, laboratorium pembelajaran, dan fasilitas pendukung seperti lift dan ram untuk peserta didik dengan hambatan mobilitas. Aksesibilitas media pembelajaran untuk berbagai jenis kebutuhan khusus juga menjadi tantangan yang perlu diatasi secara sistematis. Media pembelajaran yang tersedia seringkali tidak memenuhi prinsip universal design for learning, sehingga tidak dapat mengakomodasi keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Keterbatasan teknologi assistif dan perangkat pendukung pembelajaran menjadi kendala signifikan dalam optimalisasi proses pembelajaran di SLB. Rahman dan Kusumawati . menyoroti bahwa hanya 40% SLB yang memiliki akses memadai terhadap teknologi assistif seperti perangkat pembaca layar untuk tunanetra, alat bantu dengar digital untuk tunarungu, dan perangkat komunikasi alternatif untuk peserta didik dengan hambatan Manajemen sumber daya pembelajaran di SLB juga menghadapi kompleksitas tersendiri, terutama dalam hal perencanaan, pengadaan, dan pemeliharaan sarana prasarana pembelajaran. Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia yang kompeten dalam pengelolaan teknologi pembelajaran adaptif menjadi faktor Tantangan Dan Strategi Penerapan Kurikulum. (Huda. Putri. Ardiana, & Minsih, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 617-626 http://jurnal. id/index. php/dedikasi penghambat dalam pengembangan infrastruktur pendukung pembelajaran yang optimal. Strategi Optimalisasi Implementasi Kurikulum di SLB Optimalisasi implementasi kurikulum di SLB memerlukan pendekatan strategis yang komprehensif dan Pengembangan model adaptasi kurikulum yang efektif menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di SLB. (Rinda, 2. mengembangkan model adaptasi kurikulum berbasis diferensiasi yang mempertimbangkan tiga aspek utama: karakteristik peserta didik, modalitas pembelajaran, dan tingkat kompleksitas materi. Model ini telah diimplementasikan di beberapa SLB dengan hasil yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam partisipasi dan pencapaian belajar peserta didik berkebutuhan Sistem evaluasi pembelajaran yang inklusif dikembangkan dengan mempertimbangkan keberagaman kemampuan dan karakteristik peserta didik. Pendekatan evaluasi autentik yang mengintegrasikan penilaian formatif dan sumatif memberikan gambaran komprehensif tentang perkembangan peserta didik. Inovasi metode pembelajaran berbasis teknologi menjadi komponen penting dalam modernisasi pendidikan di SLB. Pemanfaatan platform pembelajaran digital adaptif, realitas virtual, dan aplikasi pembelajaran interaktif memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya dan sesuai dengan kebutuhan individual peserta didik. Program penguatan kompetensi guru SLB dirancang secara sistematis dengan mengadopsi pendekatan blended learning yang mengkombinasikan pelatihan tatap muka dan pembelajaran daring. Materi pengembangan profesional mencakup aspek pedagogis, teknologi pembelajaran, dan manajemen kelas inklusif. Mentoring dan coaching berkelanjutan juga diterapkan untuk memastikan implementasi efektif dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam program pengembangan profesional. Kolaborasi dan Sinergi Pemangku Kepentingan Keberhasilan implementasi kurikulum di SLB tidak terlepas dari peran dan kontribusi berbagai pemangku Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, berperan strategis dalam pengembangan kebijakan dan regulasi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di SLB. (Yasa et al. , 2. mengidentifikasi bahwa efektivitas implementasi kebijakan pendidikan inklusif sangat bergantung pada koordinasi dan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan. Pengembangan regulasi yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan SLB menjadi prioritas dalam agenda pengembangan pendidikan khusus. Institusi pendidikan tinggi memberikan kontribusi signifikan melalui riset dan pengembangan dalam bidang pendidikan Kolaborasi antara perguruan tinggi dan SLB dalam pengembangan program penelitian terapan menghasilkan inovasi pembelajaran dan model adaptasi kurikulum yang berbasis bukti. Keterlibatan masyarakat dan organisasi non-pemerintah juga menjadi faktor penting dalam pengembangan pendidikan khusus. Program pendampingan, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi kebijakan yang dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil memberikan dukungan konkret dalam peningkatan kualitas pendidikan di SLB. Model kemitraan strategis dalam pengembangan pendidikan khusus dikembangkan dengan melibatkan sektor swasta, lembaga donor, dan komunitas peduli pendidikan inklusif. Kemitraan ini tidak hanya fokus pada aspek pendanaan, tetapi juga mencakup transfer pengetahuan, pengembangan kapasitas, dan inovasi pembelajaran. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 617-626 Sinergi antarsektor ini menciptakan ekosistem pendukung yang kondusif bagi pengembangan pendidikan khusus yang berkelanjutan dan berkualitas. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai tantangan dan strategi penerapan kurikulum tingkat sekolah dasar di Sekolah Luar Biasa (SLB), dapat disimpulkan bahwa implementasi kurikulum di SLB menghadapi kompleksitas yang signifikan dalam berbagai aspek. Tantangan fundamental mencakup kesenjangan antara kurikulum nasional dengan kebutuhan spesifik peserta didik berkebutuhan khusus, keterbatasan kompetensi guru dalam adaptasi kurikulum, dan infrastruktur pendukung pembelajaran yang belum Problematika kompetensi guru SLB teridentifikasi sebagai faktor krusial yang memerlukan penanganan sistematis melalui program pengembangan profesional berkelanjutan. Ketersediaan sarana prasarana dan teknologi assistif yang terbatas turut memengaruhi efektivitas implementasi kurikulum. Strategi optimalisasi yang efektif memerlukan pendekatan komprehensif meliputi pengembangan model adaptasi kurikulum berbasis diferensiasi, sistem evaluasi pembelajaran inklusif, dan inovasi metode pembelajaran berbasis teknologi. Keberhasilan implementasi kurikulum sangat bergantung pada sinergi dan kolaborasi antarfpemangku kepentingan, termasuk pemerintah, institusi pendidikan tinggi, dan masyarakat dalam mengembangkan ekosistem pendidikan khusus yang berkelanjutan. Saran Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan dan regulasi yang lebih adaptif dalam pengembangan kurikulum SLB, disertai dengan alokasi anggaran yang memadai untuk pengadaan sarana prasarana dan teknologi assistif yang mendukung pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Pengelola SLB hendaknya mengoptimalkan program pengembangan profesional guru melalui pendekatan blended learning dan sistem mentoring berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan kompetensi dalam adaptasi kurikulum dan penggunaan teknologi pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA