Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 | November 2025 : hal 160-167 DOI: 10. https://jurnal. id/index. php/abdimu e-ISSN: 2797-3468 Literasi Digital "CerdasAeKritisAeAman" bagi Warga Desa Cisitu. Kabupaten Sumedang Muhamad Furqon1. Nova Indrayana Yusman2 1Komputerisasi Akuntansi. Universitas MaAosoem. Indonesia 2Sistem Informasi. Universitas MaAosoem. Indonesia Mfurqon. mkom@gmail. Received : OctAo 2025 Revised : OctAo 2025 Accepted : NovAo 2025 Published : NovAo 2025 ABSTRACT This community service aims to improve the digital literacy skills of residents in Cisitu Village. Sumedang Regency through a socialization program themed "SmartAeCriticalAeSafe". The background of this activity is the low level of digital literacy in rural communities, which impacts their vulnerability to hoaxes, disinformation, and cyber security threats. The service partners are residents of Cisitu Village consisting of various age groups and educational backgrounds. The method used is Participatory Action Research (PAR) with an interactive socialization approach, demonstration of safe digital technology use, and group discussions. The results showed a significant increase in participants' understanding of how to identify hoax information, digital security practices, and responsible social media use. Activity evaluation was conducted through pre-test and post-test showing an average increase in participant knowledge of 65%. This activity provides an important contribution in building a smart, critical, and safe digital society in the digitalization era. Keywords: Critical. Digital Literacy. Safe. Smart. Socialization. Participatory Action Research. ABSTRAK Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital warga Desa Cisitu. Kabupaten Sumedang melalui program sosialisasi dengan tema "CerdasAeKritisAeAman". Latar belakang kegiatan ini adalah rendahnya kemampuan literasi digital masyarakat pedesaan yang berdampak pada kerentanan terhadap penyebaran hoaks, disinformasi, dan ancaman keamanan siber. Mitra pengabdian adalah warga Desa Cisitu yang terdiri dari berbagai kalangan usia dan latar belakang pendidikan. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan sosialisasi interaktif, demonstrasi penggunaan teknologi digital yang aman, dan diskusi kelompok. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai cara mengidentifikasi informasi hoaks, praktik keamanan digital, dan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta rata-rata 65%. Kegiatan ini memberikan kontribusi penting dalam membangun masyarakat digital yang cerdas, kritis, dan aman di era digitalisasi. Kata Kunci : Aman. Cerdas. Kritis. Literasi Digital. Sosialisasi. Participatory Action Research. PENDAHULUAN Era digitalisasi telah mengubah lanskap informasi dan komunikasi di Indonesia, termasuk di wilayah pedesaan. Perkembangan infrastruktur telekomunikasi yang semakin baik memungkinkan masyarakat desa untuk Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 mengakses internet dan media sosial dengan mudah. Namun, kemudahan akses ini tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai, sehingga masyarakat rentan terhadap berbagai risiko seperti penyebaran hoaks, disinformasi, kejahatan siber, dan pelanggaran privasi . Desa Cisitu. Kabupaten Sumedang, merupakan salah satu wilayah yang mengalami peningkatan penggunaan teknologi digital, khususnya media sosial di kalangan warganya. Berdasarkan observasi awal, sebagian besar warga menggunakan smartphone untuk berkomunikasi melalui WhatsApp. Facebook, dan platform media sosial lainnya. Namun, pemahaman mengenai cara menggunakan teknologi digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab masih sangat terbatas. Kondisi ini diperparah dengan tingginya penyebaran informasi hoaks melalui media sosial yang dapat menimbulkan keresahan sosial, perpecahan, dan konflik di masyarakat . Literasi digital didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk menggunakan teknologi digital secara efektif, mencari dan mengevaluasi informasi secara kritis, serta berpartisipasi dalam komunikasi digital dengan etis dan aman (. , . Dalam konteks Indonesia, literasi digital menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki masyarakat untuk menghadapi tantangan era digital, termasuk kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi informasi dan kesadaran akan keamanan digital . Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan, masih tergolong rendah. Hal ini berdampak pada meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap hoaks dan disinformasi yang dapat mempengaruhi opini publik dan stabilitas sosial . Studi dari . juga menunjukkan bahwa program sosialisasi literasi digital efektif dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang valid. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk meningkatkan literasi digital masyarakat melalui program sosialisasi dan pelatihan berbasis komunitas. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk: . meningkatkan pemahaman warga Desa Cisitu tentang literasi . memberikan keterampilan praktis dalam mengidentifikasi dan memverifikasi informasi hoaks. meningkatkan kesadaran tentang keamanan digital dan privasi online dan . mendorong penggunaan media sosial yang bertanggung jawab dan etis. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat digital yang cerdas, kritis, dan aman di Desa Cisitu. METODE Metode pengabdian kepada masyarakat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Participatory Action Research (PAR), yaitu pendekatan penelitian partisipatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam seluruh proses kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi . Pendekatan PAR dipilih karena dapat memaksimalkan keterlibatan masyarakat dan memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan selesai . Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 Metode PAR digunakan karena menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam keseluruhan proses kegiatan. PAR dilakukan melalui siklus berulang yang terdiri dari: . Perencanaan (Plannin. , yaitu identifikasi kebutuhan dan permasalahan melalui observasi awal dan wawancara. Tindakan (Actio. , yaitu pelaksanaan sosialisasi dan pendampingan literasi digital. Observasi (Observatio. , yaitu pemantauan keterlibatan peserta dan pengukuran pemahaman melalui pre-test dan post-test. Refleksi (Reflectio. , yaitu evaluasi hasil kegiatan dan perumusan langkah keberlanjutan program. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Desa Cisitu. Kecamatan Cisitu. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat pada tanggal 10 Agustus 2025. Khalayak sasaran kegiatan adalah warga Desa Cisitu yang terdiri dari berbagai kalangan, termasuk ibu-ibu PKK, anggota Karang Taruna, tokoh masyarakat, masyarakat umum dan mahasiswa KKN dengan total peserta 41 orang. Pemilihan peserta dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterwakilan berbagai kelompok usia dan tingkat pendidikan. Rancangan kegiatan terdiri dari empat tahap utama sebagai Tahap Perencanaan (Plannin. pada tahap ini, tim melakukan observasi lapangan dan wawancara dengan tokoh masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan terkait literasi digital. Pre-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman awal peserta mengenai literasi digital, identifikasi hoaks, dan keamanan digital menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 20 pertanyaan pilihan ganda. Tahap Tindakan (Actio. kegiatan sosialisasi dilakukan melalui metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan demonstrasi. Materi sosialisasi mencakup tiga pilar utama: . Cerdas Ae kemampuan mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi digital secara produktif. Kritis Ae kemampuan mengevaluasi kredibilitas sumber informasi dan mengidentifikasi hoaks. Aman Ae pemahaman tentang keamanan siber, privasi online, dan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab . Tahap Tindakan Lanjutan (Action Ae Iteras. Peserta diberikan kesempatan untuk praktik langsung menggunakan smartphone mereka untuk memverifikasi informasi melalui situs fact-checking seperti Cek Fakta. Turnbackhoax, dan fitur pencarian Google. Tim juga memberikan pendampingan dalam pengaturan privasi akun media sosial dan pengenalan terhadap berbagai jenis ancaman siber seperti phishing dan penipuan online . Tahap Observasi dan Refleksi (Observation & Reflectio. evaluasi kegiatan dilakukan melalui post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti sosialisasi. Selain itu, evaluasi juga dilakukan melalui observasi partisipasi aktif peserta selama kegiatan dan feedback langsung dari peserta melalui lembar evaluasi kepuasan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan skor pre-test dan post-test untuk mengukur efektivitas Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan sosialisasi literasi digital "CerdasAeKritisAeAman" di Desa Cisitu berlangsung dengan baik dan mendapat respons positif dari peserta. Hasil pre-test menunjukkan bahwa tingkat pemahaman awal peserta mengenai literasi digital tergolong rendah, dengan rata-rata skor 48 dari skala 100. Sebagian besar peserta . %) belum memahami cara mengidentifikasi informasi hoaks, dan 85% peserta tidak mengetahui tentang pengaturan privasi di media sosial. Peningkatan Pemahaman Literasi Digital Setelah mengikuti kegiatan sosialisasi, hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan dengan rata-rata skor 79, yang berarti terdapat peningkatan pemahaman sebesar 65%. Peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik dalam mengidentifikasi ciri-ciri berita hoaks, seperti judul sensasional, sumber tidak jelas, dan konten yang provokatif . Hasil ini sejalan dengan penelitian . yang menunjukkan bahwa pelatihan literasi digital dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang valid. Tabel 1. Perbandingan Hasil Pre-test dan Post-test Aspek Penilaian Pre-tets Post-test Peningkatan (%) (%) (%) Identifikasi Hoaks Keamanan Digital Etika Media Sosial Verifikasi Informasi Rata-Rata Kemampuan Berpikir Kritis Dalam sesi diskusi kelompok, peserta aktif bertanya dan berbagi pengalaman terkait informasi yang pernah mereka terima melalui media sosial. Sebanyak 68% peserta menyatakan pernah menerima informasi yang kemudian terbukti sebagai hoaks. Setelah mendapat pemahaman tentang teknik verifikasi, peserta menunjukkan kesadaran untuk melakukan cross-check informasi sebelum menyebarkan kepada orang lain. Kemampuan berpikir kritis ini sangat penting untuk mencegah penyebaran disinformasi yang dapat memecah belah masyarakat . Peserta diajarkan untuk menggunakan metode SIFT (Stop. Investigate the source. Find trusted coverage. Trace claim. dalam memverifikasi informasi yang mereka terima. Metode ini terbukti efektif dan mudah dipahami oleh peserta dengan berbagai tingkat pendidikan . Praktik langsung menggunakan smartphone membuat pembelajaran lebih konkret dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 Kesadaran Keamanan Digital Aspek keamanan digital menjadi fokus penting dalam kegiatan ini. Peserta diberikan pemahaman tentang berbagai ancaman siber seperti phishing, malware, dan penipuan online. Demonstrasi pengaturan privasi akun media sosial mendapat perhatian besar dari peserta, terutama ibu-ibu yang khawatir tentang keamanan data pribadi dan foto keluarga mereka. Sebanyak 92% peserta menyatakan akan mengubah pengaturan privasi akun media sosial mereka setelah mendapat pemahaman tentang pentingnya proteksi data pribadi . Materi tentang keamanan password, pengenalan terhadap phishing, dan cara melindungi diri dari penipuan online mendapat respons sangat positif. Peserta menyadari bahwa banyak praktik digital mereka selama ini yang kurang aman, seperti menggunakan password yang sama untuk berbagai akun dan mudah tertipu oleh link mencurigakan yang dikirim melalui pesan . Berikut Dokumentasi Kegiatan. Gambar 1. Sosialisasi Literasi Digital Penggunaan Media Sosial yang Bertanggung Jawab Kegiatan ini juga menekankan pentingnya etika digital dan tanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Peserta diberikan pemahaman tentang dampak hukum dari penyebaran informasi palsu dan ujaran kebencian sesuai dengan UU ITE No. 11 Tahun 2008 dan perubahannya . Diskusi tentang kasus-kasus nyata yang terjadi di masyarakat membuat peserta lebih aware terhadap konsekuensi dari tindakan digital mereka. Peserta juga diajak untuk memahami konsep digital footprint dan dampak jangka panjang dari aktivitas mereka di dunia maya. Pemahaman ini penting agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengunggah konten dan berkomentar di media sosial. Sebanyak 89% peserta menyatakan akan lebih selektif dalam membagikan informasi dan lebih bertanggung jawab dalam berkomentar di media Kegiatan yang dilakukan pada sosialisasi ini selain hasil pemahaman dalam bentuk pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman masyarakat, diakhir kegiatan juga dilakukan diskusi dan tanya jawab terkait listerasi digital Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 Gambar 2. Sesi Tanya Jawab dengan Audiens Evaluasi Partisipasi dan Kepuasan Peserta Tingkat partisipasi peserta selama kegiatan sangat tinggi, dengan kehadiran 100% dari awal hingga akhir kegiatan. Hasil evaluasi kepuasan menunjukkan bahwa 96% peserta menyatakan kegiatan sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan mereka. Peserta berharap ada kegiatan lanjutan untuk memperdalam pemahaman tentang literasi digital, khususnya terkait dengan pemanfaatan teknologi untuk pengembangan usaha dan peningkatan kualitas hidup. Hasil pengabdian ini mengkonfirmasi penelitian lain yang menyatakan bahwa program literasi digital berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan digital masyarakat. Selain itu, pendekatan partisipatif yang digunakan dalam kegiatan ini memungkinkan terjadinya dialog dua arah dan pertukaran pengalaman yang memperkaya pembelajaran (. , . Keberlanjutan program menjadi aspek penting yang direncanakan melalui pembentukan kader literasi digital di tingkat RT dan RW yang dapat menjadi peer educator bagi warga lainnya. Model cascade training seperti ini terbukti efektif dalam memastikan diseminasi pengetahuan yang lebih luas di masyarakat . PENUTUP Kegiatan sosialisasi literasi digital "CerdasAeKritisAeAman" bagi warga Desa Cisitu. Kabupaten Sumedang telah berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan literasi digital masyarakat. Peningkatan pemahaman peserta sebesar 65% menunjukkan efektivitas metode yang digunakan dalam kegiatan ini. Peserta menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengidentifikasi hoaks, memahami pentingnya keamanan digital, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Kegiatan ini memberikan dampak positif tidak hanya dalam aspek pengetahuan, tetapi juga dalam perubahan sikap dan perilaku peserta dalam menggunakan teknologi digital. Kesadaran akan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkan dan perhatian terhadap privasi digital menunjukkan terbentuknya fondasi masyarakat digital yang lebih matang. Prospek pengembangan dari kegiatan ini adalah pembentukan komunitas literasi digital di tingkat desa yang dapat menjadi agen perubahan dan melakukan Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 transfer pengetahuan kepada warga lainnya. Selain itu, perlu dilakukan kegiatan lanjutan secara berkala untuk memperdalam pemahaman dan mengikuti perkembangan tren digital yang terus berubah. Kerjasama dengan pemerintah desa dan lembaga pendidikan lokal juga diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program literasi digital di Desa Cisitu. Program pendampingan jangka panjang dan evaluasi berkala akan membantu mengukur dampak jangka panjang dari kegiatan ini terhadap perilaku digital masyarakat. DAFTAR PUSTAKA