Open Access Bunyan al-Ulum. Page 149 Ae 175. Vol. 1 No. DOI : 10. E-ISSN x P-ISSN 3063-2048 id/index. php/bunyanal-ulum Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam Serta Penerapannya di Era Modern Meti Fatimah. Pebri Azhari . Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum. Surakarta fatimahcan@gmail. azfebryy@gmail. sanusimuhammad17@gmail. Received: 19 Ae 10 - 2024 Accepted : 27 Ae 11 - 2024 Published: 31 - 01 - 2025 Abstract This research examines the relevance of the concepts of supervision and leadership in the Islamic perspective and their implementation in the modern era. The purpose of this study is to analyze how the principles of supervision and leadership in Islam can be effectively applied in the context of contemporary leadership and organizations. The research method uses a library research approach with content analysis of Islamic primary sources and modern supervision literature. The results show that the concept of supervision and leadership in Islam has a strong alignment with modern supervision theory, especially in the aspects of constructive supervision, continuous coaching, and Islamic value-oriented Principles such as trustworthiness, fairness, shura . , ihsan . and others in Islam are very relevant to the needs of leadership in the modern era. The research also identified that the application of Islamic values in supervision and leadership can enhance leadership effectiveness while maintaining moral integrity in supervision practices. The implications of this research provide an integrative framework for the development of supervision and leadership models that combine Islamic values with modern management practices. Keywords: Supervision. Leadership. Modern Abstrak Penelitian ini mengkaji relevansi konsep supervisi dan kepemimpinan dalam perspektif Islam serta implementasinya di era modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana prinsip-prinsip supervisi dan kepemimpinan dalam Islam dapat diterapkan secara efektif dalam konteks kepemimpinan dan organisasi kontemporer. Metode penelitian menggunakan pendekatan library research dengan analisis konten terhadap sumber-sumber primer Islam dan literatur supervisi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep supervisi dan kepemimpinan dalam Islam memiliki keselarasan yang kuat dengan teori supervisi modern, khususnya dalam aspek pengawasan yang konstruktif, pembinaan berkelanjutan, dan kepemimpinan yang berorientasi pada nilai Islam. Prinsip-prinsip seperti amanah, adil, shura . , ihsan . dan yang lainnya dalam Islam sangat relevan dengan kebutuhan 149 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A 2024 Some rights reserved Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta kepemimpinan di era modern. Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa penerapan nilainilai Islam dalam supervisi dan kepemimpinan dapat meningkatkan efektivitas kepemimpinan sekaligus menjaga integritas moral dalam praktik supervisi. Implikasi penelitian ini memberikan kerangka kerja integratif bagi pengembangan model supervisi dan kepemimpinan yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan praktik manajemen Kata Kunci: Supervisi. Kepemimpinan. Modern Pendahuluan Supervisi adalah elemen yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Perannya sangat vital untuk menjamin dan meningkatkan kualitas pembelajaran, pengajaran, administrasi, dan hal lainnya dalam instansi pendidikan. Banyak sekali peran yang membutuhkan skill supervisi yang baik, seperti bagian pengajaran hingga profesionalitas pendidik. Supervisi yang baik dapat membantu guru atau pengajar dalam mengembangkan metode pembelajaran agar tidak monoton, menyenangkan dan menimbulkan dampak baik dalam pembelajaran. Supervisi yang baik juga nanti berguna untuk menilai kinerja karyawan secara objektif, yang mana ini nanti penting untuk mengambil keputusan terkait karir dan penugasan karyawan di instansi pendidikan tersebut. Dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa pengajaran adalah ujung tombak yang menjadi tolak ukur dalam sukses atau tidaknya proses kegiatan belajar mengajar di sebuah instansi 1 Jika dibahas sedikit lebih mendalam, supervisi juga berfungsi memastikan penerapan kurikulum yang sudah dibangun berjalan dengan efektif dan konsisten, dan tentu saja harus berperan dalam peningkatan hasil belajar siswa. Sebagai bagian dari manajemen mutu pendidikan, supervisi juga bertugas memantau dan mengevaluasi segala aspek pendidikan apabila ditemukan kekurangan atau kecacatan ketika pelaksanaan. Selain itu, seorang supervisor wajib memfasilitasi para karyawan untuk berkembang agar mereka bisa berinovasi dalam kegiatan belajar mengajarnya, mengenalkan praktik-praktik pendidikan yang baru agar proses belajar mengajar juga relevan dengan perkembangan zaman. Pentingnya Bahrun Ali Murtopo. AuPeran Supervisi Kepala Dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru (Studi Di Madrasah Ibtidaiyah MaAoarif Adikarso Kabupaten Kebume. ,Ay Jurnal Kajian Manajemen Pendidikan Islam Dan Studi Sosial 1, no. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam peran supervisor adalah karena untuk mengawasi pendidik, penggerak dalam menentukan arah kebijakan sebuah instansi, bagaimana instansi dan pendidikan di dalamnya akan berjalan, memenuhi tujuan instansi, dan merealisasikan visi misi 2. Dari situlah terlihat bahwa supervisi memegang peranan penting dalam proses pengawasan manajerial 3 Dalam Islam, kita sebagai pemeluknya menjadikan Al-QurAoan sebagai sumber dan dasar hukum untuk mengambil segala bentuk keputusan. Dalam konteks ini Al-QurAoan juga sedikit membahas terkait dengan pentingnya pengawasan dan pertanggungjawaban, salah satu contohnya ada dalam surah AtTaubah ayat 105. Surah At-Taubah ayat 105 ini menjelaskan bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah SWT, begitupun dalam hadist-hadist Nabi Muhammad Saw juga menjelaskan demikian. Namun sayangnya, integrasi antara konsep Islam ini dengan teori dan praktik supervisi modern belum dilaksanakan dengan maksimal. Masih banyak sekali instansi pendidikan yang menjalankan sistem supervisi konvensional tanpa mempertimbangkan nilai dan prinsip Islam yang seharusnya menjadi dasar operasional. Supervisi yang berdasar kepada ajaran Islam adalah bantuan yang diberikan supervisor kepada semua individu agar mereka bisa mengembangkan potensi mereka dengan cara menginternalisasikan nilai ajaran Islam yang ada di Al-QurAoan dan hadist ke dalam diri mereka masingmasing 4 Penelitian kali ini berusaha menjadi jembatan agar bisa menjadi penyeimbang antara ilmu supervisi dengan konsep ilmu Islam, sehingga bisa menghasilkan model supervisi yang komperehensif dan sesuai dengan konteks pendidikan Islam kontemporer. Karena pendidikan Islam adalah pendidikan yang bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman sehingga selalu relate dengan kondisi yang ada saat ini. Dengan pemahaman yang lebih mendetail tentang konsep Erwiati et al. AuPeran Pengawas Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan,Ay Jurnal Penelitian. Pendidikan Dan Pengajaran . http://dx. org/10. 30596/jp. Mohamad Mustari. AuSupervisi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogi Di Masa Pandemi Covid 19,Ay Obsesi 6, no. Fajri Dwiyama. AuSupervisi Pendidikan Islam Dalam Konsep Al-QurAoan Dan Hadist,Ay JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone, vol. 6, n. 151 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta supervisi dalam perspektif Islam, harapannya penelitian kali ini bisa memberikan dampak positif yang signifikan dalam berkembangnya teori dan praktik supervisi di instansi pendidikan Islam. Diharapkan juga penelitian ini dapat memperkuat identitas instansi pendidikan Islam, dan dapat menjadi bekal untuk mempersiapkan generasi muslim yang lebih siap dalam menghadapi tantangan global saati ini dan juga kedepannya. Metode Penelitian Penelitian kali ini menggunakan metode studi kepustakaan, yaitu metode dengan suatu pendekatan yang mengumpulkan data melalui sumber-sumber tertulis untuk menganalisis data. Penelitian dimulai dengan menidentifikasi dan mengumpulkan literatur yang berkaitan dengan yang akan dibahas, yaitu topik tentang konsep supervisi dari perspektif agama Islam. Pencarian literatur atau bahan yang menjadi sumber dilakukan melalui database akademik online, koleksi digital lembaga-lembaga Islam, artikel ilmiah yang berkaitan, dan lain-lain. Hasil dan Pembahasan Supervisi Menurut Perspektif Islam Supervisi menurut Islam adalah konsep pengawasan komperehensif yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan 5. Dalam tingkatan tertinggi, supervisi menurut perspektif Islam dimulai dari kesadaran bahwa manusia selalu diawasi oleh Allah Swt . di setiap aktivitasnya sehari-hari, baik itu aktivitas saat sedang bersama orang lain ataupun ketika sedang sendirian . Supervisi dalam Islam akan mengembangkan konsep pengawasan diri . sebagai dasar manusia dalam bertindak dan melakukan sesuatu. Implementasi supervisi ajaran Islam memiliki dasar nilai yang sangat kuat yang berdasarkan kepada nilai-nilai fundamental seperti amanah . apat dipercay. , adil. Andri Astuti et al. AuKepemimpinan Dalam Islam,Ay Educational Leadership 2, no. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam jujur, bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan efektif, cerdas, dan bijak saat mengambil keputusan 6. Tujuan dari belajar supervisi menurut Islam tidak hanya sebatas berorientasi kepada pencapaian target pekerjaan tertentu, tetapi juga untuk membentuk lingkungan kerja yang positif, kondusif, dan berkah. Ini berguna untuk memastikan bahwa supervisi Islam ini tidak hanya menghasilkan manfaat material tetapi juga berkontribusi dalam perkembangan spiritual dan sosial seluruh orang yang berada di dalamnya . Dalam praktiknya, supervisi Islam mengedepankan musyawarah untuk menyelesaikan segala macam masalah atau pengambilan keputusan. Ini menunjukkan bahwa supervisi Islam menggunakan pendekatan yang mana berusaha untuk semaksimal mungkin mencari jalan tengah agar keputusan akhir dapat memberikan maslahat bagi seluruh pihak sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan kedepannya. Maka dari itu, supervisor harus bisa menciptakan lingkungan yang mendorong keterbukaan dan partisipasi aktif antar anggota dan juga anggota kepada atasannya. Kepemimpinan menurut perspektif Islam adalah model kepemimpinan yang komperehensif dan holistik, artinya adalah melihat sesuatu secara keseluruhan bukan hanya bagian-bagian terpisah saja. Di dalamnya juga tentu saja akan menggabungkan nilai-nilai Islam dengan ilmu manajemen yang paling efektif. Model kepemimpinan terbaik tentu saja mengacu kepada contoh pemimpin terbaik yaitu Nabi Muhammad SAW dan para Khulafaur Rasyidin, yang telah dicatat oleh sejarah bahwa kepemimpinan pada masa itu adalah kepemimpinan terbaik sepanjang masa 7. Kepemimpinan Islam menitikberatkan kepada pentingnya integritas moral dan spiritual seorang pemimpin. Karena pemimpin tidak hanya dituntut untuk cakap dalam hal administrasi, terapi harus juga memiliki akhlak yang baik untuk memimpin anggotanya. Untuk memiliki akhlak yang baik ini, seorang Kurniawan et al. AuKonsep Kepemimpinan Dalam Islam,Ay PRODU 2 . Ahmad Al Gufron and Cecep Anwar. AuKonsep Kepemimpinan Dalam Persfektif Islam,Ay JIKEM 2 . 153 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta pemimpin harus paham betul ilmu-ilmu keislaman agar ia mengerti apa saja yang boleh dan apa saja yang dilarang ketika sedang menjabat sebagai seorang Keunggulan kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Islam juga salah satunya adalah bahwa ia siap untuk mengambil keputusan berdasarkan hasil musyawarah dan bukan berdasarakan keinginan sendiri. Dalam Islam diajarkan bahwa walaupun seorang pemimpin berada pada posisi tertinggi, ia tetap harus bermusyawarah dengan anggotanya dan tetap harus mendengarkan aspirasi Jika ditarik lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan bahwa kepemimpinan Islam bukan hanya sekedar jabatan duniawi tetapi juga mereka sadar bahwa jabatan ini adalah sebuah amanah dari Allah Swt yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Dengan kesadaran yang tinggi inilah menjadikan mereka mengerti bahwa mereka harus menjaga integritasnya, sungguhsungguh dalam bekerja, dapat dipercaya, tidak menyalahgunakan wewenang dan jabatan, dan lain sebagainya. Biasanya, seorang pemimpin memiliki beberapa kemampuan diantaranya sebagai perancang, pendiri dan pengembang, juga sekaligus sebagai pengembang dan pengelola 10. Hal itu disebabkan karena mereka memahami betul makna dari jabatan yang sedang mereka pegang. Keberhasilan kepemimpinan Islam ini telah dibuktikan ketika kita membuka catatan sejarah, bahwa umat Islam pernah mencapai masa keemasannya ketiak prinsip-prinsip kepemimpinan Islam diterapkan di seluruh muka bumi. Ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan Islam tidak hanya sebatas teoritis tetapi juga aplikatif dan efektif dalam membangun dunia yang lebih maju, adil, dan sejahtera. Rahmat Hidayat dan Wijaya M. Candra pernah menyampaikan bahwa sejarah Islam benarbenar menyadari betapa pentingnya kepemimpina adalah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Para sahabat sangatlah selektif dan hati-hati pada saat itu untuk Arfah. AuKonsep Dasar Kepemimpinan Dalam Islam,Ay Literasiologi 10, no. https://doi. org/10. 47783/literasiologi. Moh Subhan. AuKepemimpinan Islami Dalam Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam,Ay Tadris 8, no. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep. Strategi Dan Implementasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam mencari pengganti Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin, mengingat sosok kepemimpinan beliau yang begitu luar biasa sehingga akan menjadi tekanan dan beban tersendiri bagi sahabat yang menjadi penerus Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Umar pernah berkata AyTiada Islam tanpa jamaAoah, tiada jamaAoah tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatanAy. Kepemimpinan Islam merupakan fitrah bagi semua manusia yang ada di muka bumi ini yang mana hal itu seharusnya juga menjadi motivasi bagi mereka untuk belajar memimpin sesuai dengan ajaran Islam 11. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Baqarah tentang bagaimana manusia menjadi pemegang wewenang yang diamanahi Allah Swt untuk menjaga bumi. Namun pada kenyataannya adalah banyak sekali manusia serakah terhadap kenikmatan duniawi yang bersifat fana ini sehingga merusak bumi dan apa yang ada di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: a A aA EAAE acE Ea EIEaeaa aE a uaacI aEA a A EaO aA CaEaO aaE AaON II O A a a AaON OO A AEA a a ACA AaOuA a aa a a a a a a a a ae a a a a a a AE uacIea aEa aI aI aE a Ea aIO aIA a aAE CA a aA EA a AE a aIeaa aOaI aI Ia aa a aaI aE aOIa aC aA Artinya: Ay(Ingatla. ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. AuAku hendak menjadikan khalifah. di bumi. Ay Mereka berkata. AuApakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?Ay Dia berfirman. AuSesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Ay Tanggung jawab pemimpin bukanlah hal yang bisa dianggap sepele, mengingat perannya yang begitu vital dalam sebuah organisasi atau hal Selain itu juga, tanggung jawab di dunia dan akhirat ketika menjadi seorang pemimpin sangat berat sehingga seorang pemimpin membutuhkan Ari Prasetyo. Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2. 155 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta kewibawaan dan kecakapan dalam membuat dan menentukan langkah apa saja yang harus dia dan anggotanya ambil untuk kebaikan bersama kedepannya. Salah satu fungsi dari pemimpin menurut Islam juga adalah ketika seorang pemimpin bisa menjadi perwakilan dari suara kelompoknya, yang artinya ia memiliki fungsi administratif dan eksekutif meliputi koordinasi dan instruksi dalam banyak Dan seorang pemimpin menurut Islam juga ketika ia akan mengambil keputusan itu berdasarkan kepada hasil dari musyawarah, bukan hasil dari keputusan ia pribadi yang bisa jadi bersifat nafsu atau keinginan pribadi 12 Pemimpin juga penting sekali untuk memiliki skill multitalenta, dalam arti adalah ia harus bisa mengkoordinir, mempengaruhi, mengendalikan, dan orang-orang Dan juga seorang pemimpin harus memiliki sifat haus akan belajar sehingga ia memiliki ilmu dan pengalaman yang luas agar ia bisa mencapai tujuan dari kelompoknya. Dari penjelasan di atas salah satu hal yang bisa kita ambil kesimpulan bahwa kepemimpinan menurut Islam adalah kemampuan seseorang untuk memberi pengaruh . alam hal ini pengaruh kebaikan sesuai ajaran Isla. dan mengajak orang lain untuk bersama-sama mencapai tujuan yang sudah dibentuk sedari awal. Hal ini sesusai dengan firman Allah Swt dalam surah Al-Imran ayat AOE aEI aII aE I aI O OI uaE E aO O aOIOI a EIA aeaAOA OO I N OI aI EII aE a OaOEA AE aN aI E aIAEa aO aIA a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a ca a aa Artinya: AuHendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh . yang makruf, dan mencegah dari yang Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Ay Karena mengarahkan anggotanya, mempengaruhi anggotanya, mengajak anggotanya, maka seorang pemimpin haruslah menguasai strategi kepemimpinan dalam kondisi normal ataupun dalam kondisi lapangan yang suatu saat bisa saja ada dalam kondisi Rostiah. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam tidak stabil. Karena itu sudah sewajarnya seorang pemimpin harus memiliki bekal yang cukup berupa kemampuan teoritis untuk menjadi dasar dan pedoman ia ketika sedang berada di lapangan. Salah satu teori yang menarik untuk dipelajari seorang pemimpin adalah teori kepemimpinan dua dimensi. Dua dimensi yang dimaksud adalah dimensi sisi tugas atau hasil dan dimensi sisi hubungan manusia atau proses. Pertama, gaya kepemimpinan yang berdasarkan kepada tugas atau yang biasa disebut dengan task oriented adalah gaya kepemimpinan yang lebih tertuju kepada hasil yang akan dicapai. Gaya kepemimpinan seperti ini biasa kita lihat ada pada penekanan penyusunan kerja, penetapan pola dan metode pekerjaan, dan prosedur pencapaian tujuan. Sedangkan gaya kepemimpinan yang lainnya adalah yang berdasar kepada hubungan manusia atau biasa disebut dengan people oriented, yang mana itu adalah gaya kepemimpinan yang menekankan kepada hubungan kesejawatan, saling mempercayai, saling menghargai, saling menjaga, saling merawat, saling memperbaiki satu sama lain antar anggota 13. Relevansi Ilmu Kepemimpinan Para Sahabat di Era Modern Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shidiq Kepemimpinan para sahabat Nabi Muhammad SAW pada zaman dahulu masih sangat relevan apabila diimplementasikan pada zaman sekarang. Seperti misalnya Abu Bakar Ash-Shidiq mencontohkan bagaimana memimpin dengan memiliki integritas yang tinggi, memiliki kejujuran dalam kepemimpinan, keterbukaan atau transparansi kepada masyarakat ataupun kepada anggota yang membantu dalam pemerintahan, khususnya terbuka masalah pengelolaan keuangan negara dan kebutuhan publik. Abu Bakar pernah menyampaikan untuk tidak mengikuti yang dilakukannya apabila nanti ketika masyarakat menemukan kesalahan dalam dirinya, dan sebaliknya apabila yang ditemukan adalah sesuatu yang bisa membawa kepada ketaatan maka Abu Bakar berharap hal itu bisa dijadikan tauladan 14. Mardiyah. Kepemimpinan Kiai Dakan Memelihara Budaya Organisasi (Yogyakarta: Aditya Media Publishing, 2. Misrayanti. Nuraeni, and Nur Ahsan Syakur. AuKEPEMIMPINAN ABU BAKAR ALSHIDDIQ (Simbol Pemersatu Umat Isla. ,Ay Rihlah 11, no. 157 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta Dalam masa kepemimpinannya. Abu Bakar dikenal sebaagai pemimpin yang demokratis. Saat itu dibuktikan ketika pendapat dari seorang Umar bin Khattab sama sekali tidak dibatasi oleh Abu Bakar Ash-Shidiq yang pada saat itu sedang melakukan pidato, padahal bisa saja ia lakukan karena ia memiliki otoritas kepemimpinan dalam forum itu 15. Itulah salah satu kejadian yang bisa menjadi bukti bahwa Abu Bakar adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi demokratis dan hal tersebut adalah sikap yang sangat baik dan masih sangat relevan bahkan bagus apabila diterapkan di zaman sekarang ini. Mengingat banyak sekali pemimpin sekarang yang haus akan jabatan sehingga ketika dapat amanah memimpin ia menjadi semena-mena dengan jabatan yang ia miliki dan berakhir membuang nilai demokratis. Sikap ini tentu saja merugikan banyak sekali orang. Hal yang sering kali kita temui adalah ketika pemimpin yang tidak bertanggung jawab itu membuat keputusan tanpa dasar dan alasan yang kuat, yang mana keputusan itu untuk keuntungannya sendiri dan untuk keuntungan orang-orang di sekitarnya saja. Pengambilan keputusan sepihak, peresmian aturan tanpa adanya persetujuan dari orang lain, itu adalah hal yang sudah beberapa kali masyarakat rasakan di era modern ini. Abu Bakar menjabat selama dua tahun di masa pemerintahannya. Bukan seperti masa kepemimpinan di era modern, dalam waktu dua tahun itu Abu Bakar sangat bisa memaksimalkan tanggung jawab yang ia pegang dengan berpedoman kepada ajaran Islam agar tidak melenceng dari jalur syariat Islam. Salah satu hal luar biasa yang dilakukan Abu Bakar pada masa kepemimpinannya adalah ketika ia dengan tegas dan berani memerangi orang dan kelompok yang menolak untuk membayar zakat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW 16. Ketegasan dari Abu Bakar inilah yang menjadikannya salah satu pemimpin terbaik di era sahabat. Ini menunjukkan bahwa dalam menegakkan dan menjalankan hukum atau aturan yang sudah ditetapkan itu Muhammad Rahmatullah. AuKepemimpinan Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq,Ay Jurnal Khatulistiwa-Journal of Islamic Studies 4, no. Hammam Misbakhul Munir and Rz. Ricky Satria Wirananta. AuGaya Kepemimpinan Karismatik Abu Bakar Ash-Shiddiq Perspektif Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah Dan Relevansinya Pada Pendidikan Tinggi Islam,Ay Al-Fahim : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 6, no. 1 (March 30, 2. : 129Ae47, https://doi. org/10. 54396/alfahim. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam memerlukan keberanian. Sebuah prinsip dasar seorang pemimpin yang masih sangat relevan dalam pengelolaan negara modern dimana penegakan hukum dan kepatuhan pada sistem adalah suatu hal yang sangat penting. Saat kita mengetahui bahwa banyak sekali pemimpin yang mempunyai kepentingan pribadi sehingga memandang rendah penegakkan hukum sehingga muncul istilah AuHukum tajam ke bawah tumpul ke atasAy. Artinya adalah bahwa hukum digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga menekan orang-orang kelas bawah dan melindungi orang-orang kelas atas. Berita nasional sudah berulang kali menyiarkan informasi adanya koruptor yang memakan hak masyarakat dengan jumlah yang sangat besar sudah tertangkap. Namun, yang membuat masyarakat sangat emosional adalah ketika hukuman yang diberikan sangat tidak sebanding dengan hukuman yang dijatuhkan. Bahkan di beberapa kasus ada koruptor yang masa jabatannya dikurangi dengan berbagai macam alibi. Hal ini lah yang dimaksud perlunya pemimpin yang tegas dan berani dalam penerapan hukum di sebuah negara. Itulah perbedaan Abu Bakar dengan pemimpin era modern saat ini, yang mana Abu Bakar sangat berani dalam mengambil risiko demi mewujudkan visi dan tujuan yang lebih baik untuk Gaya kepemimpinan Abu Bakar sangat menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah seseorang yang sangat sederhana dan sama sekali tidak gila dengan yang namanya harta duniawi, benar-benar menunjukkan dan memberi contoh apa itu integritas seorang pemimpin. Hal ini dibuktikan dengan Abu Bakar tetap menjadi seorang pedagang di tengah kesibukannya menjadi seorang khalifah. Selain itu. Abu Bakar juga hanya mengambil sebagian kecil upah dari baitul mal yang ia rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Padahal, apabila kita lihat di zaman sekarang, korupsi adalah kejahatan global yang semakin lama semakin mengerikan. Masyarakat dipaksa untuk membayar pajak untuk memenuhi perut-perut rakus orang-orang kelas atas yang berada di Maka, prinsip kepemimpinan dari seorang Abu Bakar ini sangat Putra Sang Fajar. Strategi Memimpin (Sukses Menjadi Pemimpin Dan Memimpin Untuk Kehidupa. , 2020. 159 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta layak bahkan harus diterapkan di dalam kepemimpinan era modern, yaitu memimpin dengan menanamkan sifat amanah dan transparan soal keuangan Hal identik lain yang melekat dengan masa kepemimpinan Abu Bakar adalah ia memimpin dengan bijaksana. Sikap bijaksana adalah kemampuan seseorang dalam menyikapi setiap peristiwa atau kejadian sehingga bisa menanamkan ketenangan di dalam hati 18. Abu Bakar selalu bijaksana dalam mengelola perbedaan pendapat yang terjadi di tengah para sahabat. Abu Bakar sering sekali mengambil keputusan berdasarkan hasil dari musyawarah bersama para sahabat yang lain. Padahal ketika Abu Bakar sedang menjabat menjadi khalifah ia bisa saja mengambil keputusan sepihak yang mungkin itu bisa menguntungkan diri sendiri. Namun dengan ketaqwaannya, ia membuang hal itu sejauh-jauhnya. Praktik pengambilan keputusan setelah musyawarah ini sesuai dengan prinsip demokrasi deliberatif yang sekarang sedang dikembangkan di era modern. Jika kita lihat pada zaman sekarang, tidak jarang kita menemukan banyak pihak yang mengambil keputusan secara sepihak tanpa mengadakan musyawarah, tanpa ada diskusi, dan yang lebih parah lagi adalah seringkali keputusan itu hanya menguntungkan untuk dirinya sendiri tanpa ada keuntungan untuk rakyat yang sedang ia pimpin. Sikap dasar seorang pemimpin yang sudah dicontohkan oleh Abu Bakar ini adalah hal yang langka di zaman sekarang ini. Maka, apabila sikap ini ditanamkan kepada pemimpin sekarang atau calon pemimpin di masa yang akan datang tentu saja akan terus Selain di lapangan. Abu Bakar juga mencontohkan bagaimana cara seorang pemimpin bekerja di bagian administrasi pemerintahan. Pada zaman itu Abu Bakar memperkenalkan sistem pencatatan dan dokumentasi yang sangat rapi dan detail untuk pengelolaan baitul mal dan pembagian harta rampasan perang. Pada tahap awal Abu Bakar menjabat ia memberikan 10 dirham kepada setiap orang dan naik menjadi 20 dirham di tahun setelahnya. Dede Ridho Firdaus et al. AuAnalisis Model Kepemimpinan Kharismatik Dan Visioner Di Pondok Pesantren,Ay Journal on Education 05, no. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam Prinsip yang dipakai Abu Bakar dalam administrasi pemerintahan adalah akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan uang publik. Terbuka apa adanya tanpa ada sesuatu yang ditutupi dari masyarakat, ini adalah tata kelola pemerintahan modern yang relevan di zaman sekarang. Karena sistem administrasi pemerintahan sekarang menuntut segala hal yang berkaitan dengan rakyat harus transparan khususnya terkait dengan keuangan, karena itu berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat dan masyarakat selalu meminta pertanggungjawaban dari pengelolaan uang rakyat untuk negara. Dengan bantuan teknologi yang semakin maju dan modern, harusnya itu bisa mempermudah pemimpin dan pejabat dalam pelaksaan administrasi negara atau daerah. Sekarang juga banyak sekali alternatif untuk belajar bagaimana mengelola administrasi dengan memanfaatkan teknologi maju yang sudah ada. Bisa dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, atau bisa dengan belajar otodidak melalui internet seperti youtube. Harapannya, dengan kemudahan yang ada pada zaman sekarang, itu bisa membantu pengelolaan administrasi agar pendistribusian keuangan bisa merata dan sesuai dengan prioritas. Setelah panjang masa jabatan seseorang dalam pemerintahan, ada kalanya seseorang itu harus turun dari kursinya karena masa jabatan yang ia pegang sudah berakhir. Tentu saja masa jabatan seseorang memimpin itu harus ada umurnya, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dalam hal kaderisasi dan pergantian pemimpin pun. Abu Bakar sudah memberikan caranya. Agar pergantian pemimpin ini berlangsung dengan damai, maka calon pengganti pemimpin adalah seseorang yang harus bisa diterima masyarakat. Untuk mencari siapa yang cocok menggantikannya. Abu Bakar berdiskusi dengan sahabat senior. Mereka mengadakan musyawarah untuk mencari siapa orang yang layak untuk menggantikan posisi Abu Bakar sampai pada akhirnya nama yang muncul adalah Umar bin Khattab. Model suksesi yang terencana dan melibatkan stakeholder kunci ini masih relevan untuk diterapkan dalam organisasi modern untuk menjamin keberlangsungan kepemimpinan yang 161 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta Nilai-nilai kepemimpinan Abu Bakar seperti kejujuran, kesederhanaan, ketegasan, kebijaksanaan, dan kemampuan menyatukan berbagai kelompok merupakan kualitas yang masih sangat dibutuhkan para pemimpin di era Teladannya dalam mengelola pemerintahan dengan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan pelibatan stakeholder juga sejalan dengan prinsip-prinsip good governance yang menjadi standar tata kelola modern. Perlu digarisbawahi bahwa para pemimpin memiliki peranan penting dalam masyarakat karena dianggap sebagai pemilik pengetahuan dan keilmuan yang Kepemimpinan Umar bin Khattab Umar bin Khattab adalah khalifah kedua dalam sejarah Islam, beliau khalifah setelah selesainya masa jabatan Abu Bakar. Umar bin Khattab memiliki ilmu kepemimpinan yang masih cocok dan relevan apabila diajarkan dan diaplikasikan kepada pemimpin maupun calon pemimpin di era modern, meskipun Umar bin Khattab memimpin sudah lebih dari 14 abad yang lalu prinsip-prinsip fundamental yang ia terapkan pada masa kepemimpinannya memiliki nilai universal yang dapat beradaptasi dengan segala tantangan kepemimpinan di era modern ini. Kita bisa belajar banyak dari cara memimpin khalifah Umar bin Khattab, yang pertama kita coba ambil pelajaran tentang bagaimana sikap transparansi dan akuntabilitas yang ia miliki. Umar bin Khattab sangat transparan dan terbuka sekali terhadap fasilitas atau hak yang itu berhubungan dengan Umar bin Khattab merupakan seorang kepala pemerintahan dalam sejarah Islam yang berhasil mengelola bagaimana income suatu negara dapat meningkat dan mengatur bagaimana keuangan negara tidak kekurangan 19. Berbeda dengan zaman sekarang, di mana korupsi menjadi permasalahan global, prinsip pengelolaan Umar bin Khattab tentang keuangan dan fasilitas untuk rakyat sangat relevan, dan itu juga bisa dijadikan pelajaran untuk pemimpin saat ini. Umar bin Khattab secara rutin melaksanakan audit kepada Herlina Kusuma Wardani and Muhammad ThoAoin. AuPengelolaan Baitul Maal Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Negara,Ay Jurnal Akuntansi Dan Pajak 14 . BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam jajaran pemerintahan untuk memantau langsung bagaimana kinerja orangorang yang duduk di pemerintahan. Hal tersebut dilakukan agar ia bisa mengetahui bagaimana kerja para pejabat, apakah semua bebas dari korupsi atau makan hal-hal yang bukan haknya, seperti apa tanggung jawab mereka, dan lainnya. Umar bin Khattab melakukan audit dengan detail dan rinci agar tidak ada hal yang luput dari pengawasannya. Semua itu ia lakukan karena ia sadar bahwa amanah memimpin dan tanggung jawabnya di akhirat bukanlah perkara yang sepele. Maka, dengan dasar agama yang kuat itulah ia menjadi termotivasi untuk memaksimalkan apa yang sedang ia emban pada saat itu. Praktik yang dilakukan Umar bin Khattab pada zamannya sejalan dengan tuntutan yang ada pada zaman sekarang, yaitu good governance. Di mana sekarang pejabat harus bisa trasnparan soal hak-hak rakyatnya, audit independen, dan bisa bertanggung jawab kepada publik tentang apa saja kewajiban yang harus pemimpin laksanakan untuk memakmurkan rakyatnya. Yang kedua, kita juga bisa belajar banyak dari Umar bin Khattab di masa kepemimpinannya tentang bagaimana Umar bin Khattab bisa mensejahterakan Yang bisa kita pelajari adalah cara yang efisien dari bagaimana Umar bin Khattab mendirikan dan mengelola baitul mal yang saat itu dibawahi oleh pemerintahan Umar bin Khattab. Lembaga ini digunakan untuk menyokong perekonomian umat dan dikembangkan untuk mendanai berbagai proyek besar dan prestisius 20. Umar bin Khattab dan jajaran pemerintahannya menerapkan administrasi yang rapi, sensus penduduk yang akurat, dan mereka mendistribusikan bantuan sosial tepat pada sasaran sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan sehingga dapat meminimalisir kekeliruan. Konsep yang diterapkan Umar bin Khattab dan jajaran pemerintahannya itu adalah hal yang sesuai dengan sistem welfare state modern. Welfare state modern adalah sistem ekonomi di mana pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan warga Dalam sistem ini, pemerintah menyediakan pelayanan dan bantuan. Hamilatun Nabila. Ahmad Fauzi, and Abdul Komar. AuKepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab Dalam Mengelola Keuangan Negara Perspektif Prof Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi,Ay Jurnal Pendidikan Dan Konseling, no. 163 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta serta mencegah dan mengatasi masalah sosial. Welfare state modern bertujuan untuk membantu warga negara memenuhi kebutuhan mereka, seperti: Memenuhi kebutuhan kesehatan saat sakit. Menyisihkan uang untuk menutupi pengangguran. Membiayai pendidikan anak-anak. Jadi, sebelum sistem barat itu terkenal dan diterapkan seperti sekarang, hal itu sudah ada sejak zaman khalifah islamiyah dan bisa menjadi efektif untuk mensejahterakan rakyat apabila dilaksanakan dengan benar. Hal lain yang diupayakan oleh Umar bin Khattab untuk memakmurkan ekonomi rakyatnya adalah dengan mengatur pasar, mencegah monopoli, dan menjamin ketersediaan bahan pokok. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa sekarang banyak pasar sekarang dikendalikan oleh beberapa oknum besar saja, sehingga keuntungan yang diraup antara satu dengan yang lainnya tidaklah sama. Orang yang memiliki kuasa besar dengan mudahnya mengatur banyak hal dalam hal jual beli, sehingga orang-orang kelas bawah hanya bisa menikmati keuntungan yang kecil. Maka dari itu, mengatur kebijakan dan tegas dalam kebijakan yang sudah dibuat itu sangat penting. Dan hal itu sudah dicontohkan oleh Umar bin Khattab, ketika ia membuat kebijakan tentang pasar dan mencegah monopoli ia juga tegas dalam melaksanakannya. Dalam pemerintahannya. Umar bin Khattab menerapkan yang namanya sistem meritokrasi dalam memilih kandidat pejabat. Meritokrasi adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin atau mendapatkan penghargaan berdasarkan prestasi atau kemampuannya, bukan kekayaan atau kelas sosial. Sistem ini dapat membantu menghentikan korupsi, suap, dan praktik birokrasi yang tidak etis. Dengan penerapan dari sistem meritokrasi. Umar bin Khattab dapat memilih calon pejabat yang memiliki kompetensi, berintegritas, dan memiliki track record yang bagus. Harapannya, dengan filter yang ketat sebelum melantik pejabat, orang-orang yang nantinya terpilih adalah orang-orang yang benar-benar terbaik. Sebagaimana dahulu Abu Bakar memilih Umar bin Khattab untuk meneruskan estafet kepemimpinan. Abu Bakar terlebih dahulu mengadakan musyawarah bersama BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam para sahabat yang lainnya 21. Tentu saja hal ini sesuai dengan prinsip sumber daya manusia modern yang menekankan pentingnya kompetensi dan Karena sekarang banyak sekali ditemukan para pejabat yang tidak kompeten dan tidak profesional. Dengan penerapan meritokrasi, seleksi yang ketat, filter yang berlapis, itu adalah upaya kita untuk mendapatkan pejabat yang memiliki sikap layaknya pemimpin sesungguhnya, bukan pemimpin yang mengincar kekayaan duniawi semata. Kemudian poin penting yang perlu diingat ketika kita mempelajari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah ia tidak pernah lupa melakukan evaluasi secara berkala. Hal itu dilakukan karena ia menyadari bahwa yang menjabat di pemerintahan juga adalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, sehingga perlunya evaluasi rutin. Yang mana tujuan di forum itu adalah untuk memperbaiki kesalahan yang ada dan mencari jalan keluarnya melalui forum evaluasi itu. Cara memimpin Umar bin Khattab yang keempat yang perlu kita pelajari adalah bagaimana ia berkomunikasi langsung dengan rakyat dan bagaimana ia terlibat langsung dalam pengambilan keputusan. Problematika pada kepemimpinan di era modern adalah banyak sekali pemimpin yang merasa dirinya itu lebih tinggi dari rakyat biasa dan merasa harus dihormati hanya karena ia memiliki jabatan di pemerintahan. Sehingga, pejabat-pejabat ini enggan untuk berkomunikasi langsung dan enggan untuk terjun langsung ke Mereka lupa bahwa yang menggaji mereka adalah rakyat yang mereka enggan untuk temui itu. Hal itu lah yang akhirnya menjadikan mereka tidak mengetahui apa saja problematika yang ada di kalangan masyarakat karena mereka membatasi diri sendiri untuk berkomunikasi dengan Sedangkan pada zaman khalifah Umar bin Khattab, ia seringkali terjun dalam kegiatan publik untuk memantau kondisi rakyatnya. Hal ini terlihat sederhana namun tidak semua pemimpin era modern bisa Mungkin para para pejabat itu hanya akan turun ke lapangan ketika sedang promosi saat mencalonkan diri, dan ketika sudah terpilih mereka lebih Al Qautsar Pratama and Budi Sujati. AuKepemimpinan Dan Konsep Ketatanegaraan Umar Ibn Al-Khattab,Ay JUSPI: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2, no. 165 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta memilih duduk di ruangan dingin ber AC. Harus diakui bahwa memantau administrasi di depan layar sangat diperlukan, hanya saja perlu diimbangi dengan sesekali terlibat dalam komunikasi publik yang mana harus ikut ke lapangan didampingi dengan beberapa petugas lainnya. Akan tetapi, kita juga tidak boleh menutup mata dari perkembangan teknologi. Jika pada zaman khalifah Umar bin Khattab ia sering berkomunikasi dengan rakyat melalui cara terjun langsung ke lapangan, pemimpin zaman sekarang bisa mencari alternatif lain untuk berkomunikasi dengan rakyat. Banyak sekali opsi lain di era modern ini, sehingga tidak ada lagi alasan tidak bisa berhubungan langsung dengan Salah satu cara yang bisa kita adaptasi dari Umar bin Khattab dengan sedikit modifikasi adalah berkomunikasi dengan rakyat melalui sosial Kemajuan teknologi ini tentu saja mempermudah para pemimpin untuk memantau kondisi masyarakat yang sedang ia pimpin. Dan sekarang semua kembali ke masing-masing individu pejabat, apakah dengan kemudahan sosial media bisa ia manfaatkan dengan maksimal atau masih saja malas dengan berbagai macam alasan. Hal terakhir yang juga sangat penting untuk dikuasai oleh pemimpin era modern adalah mereka harus mengakui bahwa masyarakat itu sangat beragam. Berbeda-beda agama, berbeda-beda suku, berbeda-beda ras, berbeda-beda usia, dan masih banyak perbedaan lainnya. Sehingga salah satu yang harus mereka kuasai adalah bagaimana cara untuk mengelola wilayah yang memiliki masyarakat multikultural tersebut. Umar bin Khattab pada zaman kekhalifahannya juga menemukan hal yang serupa, yang mana pada saat itu ia memimpin masyarakat yang juga berbeda-beda dalam segala hal. Pada masa itu Umar bin Khattab membuat kebijakan-kebijakan yang memberikan perlindungan kepada minoritas dan menghormati keberagaman yang ada di kalangan masyarakat. Hal itu sangat relevan dengan tantangan global di era modern ini terkait isu-isu multikulturalisme dan toleransi. Tidak sedikit kita temukan berita bahwa seringkali terjadi diskriminasi baik itu terhadap ras, kelas sosial, ataupun hal yang lainnya. Bahkan tindakan diskriminasi ini beberapa kasus sudah sampai tahap ke fisik sehingga menimbulkan luka, cacat BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam permanen, bahkan korban jiwa. Maka, tugas dari pemimpin di era modern adalah melindungi kaum minoritas dan tegas terhadap para pelaku Selain itu pemimpin juga harus bisa memberikan narasi dan menyadarkan masyarakat yang dipimpinnya bahwa semua manusia itu sama derajatnya, hal itu dilakukan guna meminimalisir tindak diskriminasi. Relevansi kepemimpinan Umar bin Khattab di era modern terletak pada prinsip-prinsip Nilai-nilai keterlibatan publik, dan penghargaan terhadap keberagaman merupakan fondasi kepemimpinan yang tetap relevan di era apapun. Menurut yang diriwayatkan oleh Ibnu Atsir bahwa Abdllah Ibnu MasAoud berkata: AuIslamnya Umar adalah kemenangan, hijrahnya Umar adalah pertolongan, dan kekhalifahannya adalah rahmatAy 22. Tantangan bagi pemimpin modern adalah bagaimana mengadaptasi prinsip-prinsip ini ke dalam konteks kontemporer dengan mempertimbangkan kompleksitas dan dinamika zaman modern. Meskipun konteks historis dan sosial telah berubah secara signifikan, esensi kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Umar bin Khattab tetap menjadi panduan yang berharga bagi para pemimpin di era modern. Kemampuannya dalam memadukan nilai-nilai spiritual dengan pragmatisme administratif, serta keseimbangannya antara ketegasan dan kebijaksanaan, memberikan model kepemimpinan yang komprehensif dan adaptable untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Kepemimpinan Utsman bin Affan Kepemimpinan Utsman bin Affan, khalifah ketiga dalam sejarah Islam, memiliki berbagai aspek yang sangat relevan dengan tantangan kepemimpinan di era modern. Model kepemimpinannya yang visioner dan berorientasi pada pembangunan memberikan pelajaran berharga bagi para pemimpin kontemporer dalam mengelola organisasi dan masyarakat yang semakin Marwa. AuUmar Bin Khattab : Potret Keteladanan Sang Pemimpin Umat,Ay Al-Tadabbur 4, 2 . 167 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta Salah satu hal yang bisa diambil pelajarannya pada masa khalifah Utsman bin Affan untuk diterapkan di era modern adalah bagaimana kemampuannya dalam mengatur perekonomian dan pembangunan. Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan pembangunan sangatlah masif, dan juga ia melakukan ekspansi wilayah yang signifikan 23. Pembangunan yang masif ini menjadi tolak ukur secara kasat mata bahwa perekonomian suatu daerah sangat Maka, apabila pemerintah di era modern ini bisa mengadopsi tips dan trik untuk mengembangkan perekonomian seperti zaman Utsman bin Affan, bisa saja pembangunan di negara akan meningkat secara drastis. Tapi tentu saja pembangunan yang masif harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Seperti, melihat kondisi lapangan yang akan dijadikan tempat untuk membangun sebuah bangunan. Pembangunan yang masif tidak boleh merugikan pihak manapun, baik ke sesama manusia ataupun ke makhluk hidup lainnya. Dan, untuk mewujudkan pembangunan yang bagus, tentu saja ekonominya harus Maka, perlunya pejabat di pemerintahan belajar bagaimana cara membuat suatu daerah memiliki perekonomian yang bagus dan stabil. Kita bisa ambil contoh, di masa Utsman bin Affan untuk menyejahterakan masyarakat mereka melanjutkan program baitul mal yang sudah dibuat oleh Umar bin Khattab. Dengan memaksimalkan baitul mal yang sudah dibangun. Utsman bin Affan mampu membuat masyarakat menjauh dari kesengsaraan. Pengelolaan baitul mal yang sistematis pada masa itu mencerminkan pentingnya manajemen keuangan publik yang transparan dan akuntabel. Maka, jika pada zaman Utsman bin Affan mereka menggunakan baitul mal sebagai sarana untuk menyejahterakan, pemerintah di era modern harus bisa mencari solusi lain yang lebih efektif dengan memanfaatkan teknologi yang sekarang semakin Utsman bin Affan memiliki gaya kepemimpinan yang toleran dan terbuka terhadap perbedaan pendapat 24. Hal ini tentu sangat sesuai dengan Syuryatman Desri et al. AuGaya Kepemimpinan Utsman Bin Affan Pada Masa Kepemimpinannya,Ay INNOVATIVE 3, no. Armyn Hasibuan. AuMenyikapi Nepotisme Kepemimpinan Usman Bin Affan,Ay HIKMAH 12, no. BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam problematika zaman sekarang di mana masyarakat sekarang semakin plural. Utsman bin Affan pandai sekali menjadi penengah atas sebuah permasalahan, ia juga pandai mengelola keberagaman dan menjembatani perbedaan. Ini adalah contoh bagaimana seorang pemimpin di era modern harus bersikap ketika ia menemukan permasalahan dalam perbedaan. Dengan semakin peliknya permasalahan yang ada saat ini, pemimpin di era modern harus mampu mengakomodasi berbagai kepentingan sambil tetap menjaga kesatuan dan harmmoni sosial yang ada di masyarakat. Dalam hal inovasi dan pengembangan, kebijakan-kebijakan Utsman bin Affan yang progresif menunjukkan pentingnya pemimpin yang mampu beradaptasi dengan perubahan sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar keislaman, agar progres yang dijalankan tetap berada pada jalan yang lurus tanpa merugikan pihak manapun. Di era modern yang ditandai dengan perubahan cepat dan disruption teknologi, kemampuan untuk berinovasi sambil tetap menjaga nilai-nilai fundamental dan keislaman menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan saat ini. Meski konteks zaman telah berubah seiring dengan berjalannya waktu, nilai-nilai fundamental dan keislaman dalam kepemimpinan Utsman bin Affan seperti integritas, transparansi, inovasi, dan orientasi pada kesejahteraan rakyat tetap relevan sebagai panduan kepemimpinan yang baik. Karena banyak sekali saat ini penegak hukum yang mengambil keputusan ternyata itu hanya berdasarkan penilaian subjektif dan untuk keperluannya sendiri. Dan untuk menjadikan pemimpin itu sadar bahwa tugas mereka itu sebenernya banyak, diperlukannya panduan yang sifatnya tidak berubah sampai kapanpun yaitu AlQurAoan dan As-Sunnah. Pada sejatinya sikap-sikap di atas itu adalah hal dasar yang harus dimiliki pejabat pemerintahan yang memiliki amanah sebagai perwakilan masyarakat. Pembelajaran dari modelnya dapat membantu pemimpin modern dalam menghadapi kompleksitas tantangan kontemporer sambil tetap menjaga prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik dan beretika. 169 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib memiliki ciri khas kepemimpinan yang menonjol, salah satunya adalah ia dikenal dengan pemimpin yang sangat bijak. Ali bin Abi Thalib memiliki komitmen yang sangat kuat dalam kesenjangan sosial. masa ia memimpin, hal yang tidak ia sukai ketika muncul kesenjangan sosial apapun dasar penyebabnya. Hal itu menjadi keresahan untuk dirinya, sehingga ia memiliki komitmen kuat untuk memberi perhatian khusus terhadap kaum minoritas yang tertindas dan terpinggirkan. Dalam era modern yang kita rasakan saat ini, sering sekali kita dihidangkan dengan berita kesenjangan sosial yang ada di banyak negara, baik itu benua Eropa maupun Asia. Pemimpin yang baik harusnya bisa menanggulangi masalah kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat bagaimanapun caranya. Karena setiap warga negara memiliki hak untuk hidup dengan tenang tanpa adanya gangguan baik itu berupa verbal ataupun perilaku. Belajar dari bagaimana Ali bin Abi Thalib mengatasi masalah kesenjangan sosial ini, pemerintah di era modern harus bisa membuat aturan yang tegas agar tidak lagi terjadi perbedaan antar sesama warga negara. Ilmu kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ini masih sangat relevan apabila diajarkan dan diterapkan kepada para pemimpin di era modern ini, karena permasalahan kesenjangan sosial ini ternyata sudah ada dari zaman Hanya saja, yang berbeda adalah solusi dari masalah tersebut, karena solusi akan berubah-ubah menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sebagaimana yang sudah menjadi rahasia umum, bahwa isu-isu politik di era modern masih sering kali diselesaikan dengan cara kekerasan dengan berbagai macam bentuk. Mulai dari bentuk serangan tulisan bahkan sampai ada yang melukai secara fisik. Dalam hal manajemen konflik. Ali bin Abi Thalib selalu mengedepankan penyelesaian konflik dimulai dari pendekatan dialog. Ali bin Abi Thalib mengajak bicara orang-orang yang bersangkutan dalam konflik itu untuk mencari jalan tengah dari permasalahan yang ada. Ali bin Abi Thalib juga bisa menangani konflik dengan cara yang keras, namun ia tidak mengambil jalan pintas itu karena ia tahu bahwa dampak dari penyelesaian konflik dengan langsung menggunakan tindakan keras tanpa dialog pasti akan BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam berakhir buruk. Maka dari itu ia selalu mengawalinya dengan dialog dengan pihak yang bersangkutan. Pendekatan dengan dialog ini perlu dipelajari para pemimpin pemerintahan agar di setiap masalah yang ditemukan bisa diselesaikan tanpa perlu adanya kekerasan. Perlu diingat juga bahwa pendekatan ini sangat relevan dengan prinsip-prinsip resolusi konflik modern yang menekankan pentingnya negosiasi dan mediasi. Ali bin Abi Thalib adalah seorang pemimpin yang sangat melek terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan juga pendidikan. Ali bin Abi Thalib memiliki ulmu pengetahuan yang sangat luas sampai-sampai nabi Muhammad SAW menyebut Ali bin Abi Thalib dengan sebutan Aupintu ilmu pengetahuanAy Ali bin Abi Thalib mendukung penuh bagi setiap masyarakat yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan. Ali bin Abi Thalib menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah bekal utama untuk membangun masa depan yang cemerlang dan agar umat muslim tetap berada pada jalur yang benar. Kita semua tahu pada era modern ini ilmu pengetahuan adalah segala-galanya. Setiap negara berlomba-lomba memberikan fasilitas terbaik bagi masyarakat yang memiliki ambisi tinggi terhadap pendidikan. Pemerintah menyadari bahwa inovasi pendidikan adalah kunci utama kemajuan sebuah negara, dan hal itu harus dipertahankan pemerintah. Visi Ali bin Abi Thalib terhadap pendidikan ini harus ditanamkan kepada seluruh jajaran pemerintahan di seluruh negara agar para pelajar dapat terfasilitasi dengan baik. Aspek spiritual dan moral dalam kepemimpinan Ali juga memberikan dimensi penting bagi kepemimpinan modern. Di tengah krisis moral dan etika yang melanda berbagai aspek kehidupan modern, integritas moral dan spiritualitas yang ditunjukkan Ali menjadi panduan penting. Ia mencontohkan bagaimana seorang pemimpin harus mampu memadukan kompetensi administratif dengan kualitas moral yang tinggi. Sangat miris ketika mendapatkan informasi dari sumber nasional terpercaya saat ditemukan Sugirma. AuPERAN KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB DALAM MELETAKAN DASAR-DASAR ILMU NAHWU,Ay Foramadiahi . , 171 | BUNYAN AL-ULUM : Jurnal Studi Islam Meti Fatimah. Pebri Azhari. Sanusi Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta pejabat yang diberi amanah dari rakyat untuk memimpin dengan sebaikbaiknya justru berbuat sebaliknya. Banyak sekali berita beredar tentang pejabat yang terjerat kasus mabuk, perselingkuhan, perzinaan, korupsi, dan hal lainnya yang seharusnya itu tidak layak dilakukan oleh pejabat sebagai seorang uswah hasanah bagi masyarakatnya. Manusia yang krisis moral dan etika tidaklah layak dijadikan seorang pemimpin karena tanggung jawab dari seorang pemimpin bukanlah perkara yang sepele. Kemajuan suatu daerah atau negara sangat bergantung dengan pemimpinnya, maka jika pemimpinnya saja tidak memiliki integritas bagaimana ia bisa mengarahkan masyarakatnya menjadi orang-orang yang berkualitas. Spiritualitas seorang juga menjadi nilai kriteria dasar dan yang paling utama untuk menentukan apakah layak ia dijadikan seorang pemimpin. Pemimpin yang dekat dengan Allah Swt tahu bahwa amanah yang ia tanggung sangatlah berat sehingga ia tidak lupa untuk selalu menguatkan ibadah dan berdoa kepada Allah Swt untuk meminta Namun sebaliknya, jika seorang pemimpin jauh dari Allah Swt maka ia akan merusak tatanan masyarakat yang ia pimpin. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa konsep supervisi dan kepemimpinan dalam Islam memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kebutuhan organisasi di era modern. Beberapa kesimpulan utama yang dapat ditarik adalah: Pertama, prinsip-prinsip supervisi dalam Islam yang menekankan pada pengawasan konstruktif dan pembinaan berkelanjutan sejalan dengan konsep pengembangan sumber daya manusia modern. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada pencapaian target organisasi tetapi juga pada pengembangan potensi individu secara holistik. Kedua, nilai-nilai kepemimpinan Islam seperti amanah, adil, dan shura memberikan fondasi yang kuat bagi praktik kepemimpinan modern yang menekankan pada transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi. Implementasi nilai- BUNYAN AL-ULUM. Vol. 1 No. Relevansi Konsep Supervisi dan Kepemimpinan Menurut Perspektif Islam nilai ini dapat meningkatkan efektivitas kepemimpinan sekaligus membangun budaya organisasi yang sehat. Ketiga, integrasi antara konsep supervisi dan kepemimpinan Islam dengan praktik manajemen modern menciptakan model pengelolaan organisasi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Model ini tidak hanya memperhatikan aspek kinerja dan produktivitas tetapi juga aspek moral dan etika dalam praktik Keempat, penerapan konsep supervisi dan kepemimpinan Islam di era modern memerlukan adaptasi dan kontekstualisasi yang tepat, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai fundamental yang menjadi esensi ajaran Islam. Hal ini memungkinkan organisasi untuk memanfaatkan kearifan tradisional sekaligus mengadopsi praktik-praktik manajemen kontemporer yang efektif. Kelima, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan konsep supervisi dan kepemimpinan Islam di era modern bergantung pada kemampuan pemimpin dalam memahami dan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tuntutan dan tantangan organisasi kontemporer. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsep supervisi dan kepemimpinan menurut Islam tidak hanya relevan tetapi juga dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan praktik manajemen modern yang lebih efektif dan beretika. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan model kepemimpinan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan praktik manajemen modern sebagai solusi untuk mencapai keunggulan organisasi yang Daftar Pustaka