Volume 8 | Nomor 4 | Tahun 2025 | Halaman 1179Ai1190 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1458 Ritual Nutuk Beham dalam tradisi lisan Ngassapi Kutai: Kajian etnolinguistik terhadap nilai karakter dan kearifan ekologis The Nutuk Beham ritual in Kutai oral Ngassapi Tradition: An ethnolinguistic study on moral values and ecological wisdom Suci Oktaviani1,*. Widyatmike Gede Mulawarman2. Dwi Nugroho Hidayanto3. Yusak Hudiyono4. Azainil5, & Bibit Suhatmady6 1,2,3,4,5,6 Universitas Mulawarman Jl. Kuaro. Gunung Kelua. Samarinda. Indonesia Email: sucioktaviani810@gmail. Orcid: https://orcid. org/0009-0006-1630-8351 Email: widyatmike@fkip. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-0996-3757 Email: profdwinugroho@gmail. Orcid: https://orcid. org/0000-0003-0091-1747 Email: yusak. hudiyono@fkip. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-2201-2438 Email: azainil@fkip. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-9382-4433 Email: bibitsuhatmady@fkip. Orcid: https://orcid. org/0000-0001-9432-6631 Article History Received 7 August 2025 Revised 24 November 2025 Accepted 17 December 2025 Published 31 December 2025 Keywords character education. Kutai Nutuk Beham. local wisdom. Kata Kunci folklor Kutai. kearifan lokal. Nutuk Beham. tradisi lisan. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This study aims to examine the linguistic expressions in the Nutuk Beham ritual speech, which is part of the oral tradition of the Kutai Adat Lawas community. The speech contains folk tales and cultural symbols that have been passed down from generation to generation in the rice harvest ritual. This study uses an ethnolinguistic approach with a descriptive qualitative Data was obtained through direct observation, in-depth interviews with traditional leaders and ritual practitioners, and oral documentation collected during the traditional The results of the study show that the Nutuk Beham ritual speech contains a distinctive linguistic structure in the form of repetitive and rhythmic oral poetry. It contains symbolic narratives about the origins of rice and stories of sacrifice that form the mythological basis of the community. These linguistic expressions embody values such as respect, responsibility, and religiosity, and reflect ecological wisdom rooted in the harmonious relationship between humans, nature, and food. This study affirms that the Nutuk Beham ritual speech is not merely a cultural heritage but also an educational medium for transmitting noble values within a local context. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekspresi kebahasaan dalam tuturan ritual Nutuk Beham yang merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Kutai Adat Lawas. Tuturan tersebut memuat cerita rakyat dan simbol budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam pelaksanaan ritual panen padi. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik dengan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pelaku ritual, serta dokumentasi lisan yang dikumpulkan selama proses upacara adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan ritual Nutuk Beham mengandung struktur linguistik khas berupa syair lisan yang berpola repetitif dan ritmis. Di dalamnya tersimpan narasi simbolik tentang asal-usul padi dan kisah pengorbanan yang menjadi dasar mitologis masyarakat. Ekspresi kebahasaan tersebut memuat nilai karakter seperti penghormatan, tanggung jawab, dan religiositas, serta mencerminkan kearifan ekologis yang berakar pada relasi harmonis antara manusia, alam, dan pangan. Penelitian ini menegaskan bahwa tuturan ritual Nutuk Beham bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga media edukatif untuk pewarisan nilai-nilai luhur dalam konteks lokal. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Oktaviani. Mulawarman. Hidayanto. Hudiyono. Azainil. , & Suhatmady. Ritual Nutuk Beham dalam tradisi lisan Ngassapi Kutai: Kajian etnolinguistik terhadap nilai karakter dan kearifan ekologis. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 1179Ae1190. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Suci Oktaviani. Widyatmike Gede Mulawarman. Dwi Nugroho Hidayanto. Yusak Hudiyono. Azainil, & Bibit Suhatmady Pendahuluan Indonesia Timur dikenal sebagai salah satu wilayah tropis Indonesia yang kaya akan warisan budaya dan kearifan lokal. Di balik hutan, sungai, dan kekayaan hayatinya, hidup pula komunitaskomunitas adat yang masih menjaga tradisi leluhur, termasuk dalam bentuk tuturan lisan dan cerita rakyat (Sari, 2. Salah satu tradisi yang menonjol adalah Nutuk Beham, sebuah ritual adat masyarakat Kutai Adat Lawas yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi. Di dalamnya terdapat tuturan sakral yang diwariskan turun-temurun, menyimpan nilai-nilai karakter, spiritualitas, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Tradisi ini dilaksanakan secara khusus oleh masyarakat Desa Kedang Ipil. Kutai Kartanegara, yang hingga kini masih menjaga kemurnian bahasa, simbol, dan nilai-nilai ritual. Ritual Nutuk Beham bukan sekadar perayaan panen, tetapi merupakan refleksi kosmologi masyarakat Kutai yang melihat padi sebagai entitas hidup yang harus dihormati. Menariknya, dalam struktur ritual ini terdapat dua cerita rakyat yang menjadi dasar narasi budaya dan spiritual Cerita pertama mengisahkan tentang seorang anak yang diusir dari rumah karena melanggar pesan orang tua, lalu secara ajaib ditemukan kembali di tengah lumbung padi. Cerita ini menyiratkan pentingnya nilai ketaatan, kesadaran akan makna pangan, dan penghormatan terhadap keluarga. Cerita kedua berkisah tentang seorang bayi yang ditemukan di tengah ladang dan menjelma menjadi tanaman padi, bahkan konstelasi bintang sebagai penanda musim tanam. Cerita ini menyiratkan adanya pemuliaan terhadap padi, serta keterhubungan antara manusia dan Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cerita rakyat dan tuturan lisan memiliki potensi besar sebagai sarana pewarisan nilai karakter dan kearifan lokal. Misalnya. Rahmawati et . cerita rakyat lokal berperan penting dalam membangun kesadaran lingkungan, empati sosial, serta nilai-nilai spiritualitas dan tanggung jawab. Hal ini sesuai dengan prinsip pendidikan karakter yang dikembangkan dalam Kurikulum Merdeka (Simanungkalit et al. , 2. Demikian pula. Nurelide . dalam penelitiannya terhadap cerita rakyat Lae Angkat menunjukkan bahwa narasi lokal memuat relasi ekologis antara manusia dan lingkungan sekitar, memperlihatkan bahwa cerita rakyat dapat mengajarkan prinsip konservasi dan kesadaran ekologis. Kajian Putri Dini Rawati . menambahkan bahwa masyarakat Pulau Tengah menjadikan cerita rakyat sebagai rujukan moral dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, penelitian oleh Hidayah & Syafaah . menunjukkan bahwa cerita rakyat mengandung nilai-nilai luhur yang dapat memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Penelitian ini memperluas cakupan tersebut dengan mengeksplorasi nilai yang terkandung dalam tuturan ritual Nutuk Beham, tidak hanya dari segi isi, tetapi juga bentuk dan fungsi linguistiknya. Sementara itu. Agustian . dan Suryani et al. menegaskan bahwa kekuatan cerita rakyat terletak pada struktur naratif dan simbol budayanya yang mampu menyampaikan nilai-nilai secara implisit. Mereka menunjukkan bahwa tokoh, konflik, dan alur dalam cerita rakyat berfungsi sebagai alat edukasi moral yang bersifat intergeneratif. Penelitian Ullul Azmi . tentang cerita rakyat Kek Lesap juga menunjukkan relevansi nilai pengorbanan dan penghormatan terhadap pangan sebagai bentuk cinta lingkungan dan tanggung jawab komunal. Di sisi lain, pendekatan etnolinguistik mulai banyak digunakan dalam studi-studi budaya untuk mengungkap relasi antara bahasa, nilai budaya, dan spiritualitas. Achmadah et al. menyatakan bahwa etnolinguistik tidak hanya mempelajari struktur bahasa, tetapi juga merekam bagaimana bahasa merefleksikan cara pandang komunitas terhadap alam dan kehidupan. Bahkan. Serafica . menekankan bahwa etnolinguistik modern mencakup studi tentang mitologi dan worldviews yang tertanam dalam praktik bahasa masyarakat adat. Namun, hingga saat ini belum ditemukan kajian yang secara khusus menelaah cerita rakyat yang melatarbelakangi tuturan ritual Nutuk Beham dalam bingkai etnolinguistik, terutama terkait nilai-nilai karakter dan kesadaran ekologis yang dikandungnya. Padahal, masyarakat Kutai Adat Lawas masih sangat bergantung pada transmisi lisan sebagai medium pendidikan budaya yang rentan terputus karena kurangnya dokumentasi dan pengaruh modernisasi. Penelitian ini hadir untuk menjawab kekosongan tersebut Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Ritual Nutuk Beham dalam tradisi lisan Ngassapi Kutai: Kajian etnolinguistik terhadap nilai karakter dan kearifan ekologis dengan cara mengangkat ekspresi kebahasaan dalam tuturan ritual sebagai objek kajian utama yang merepresentasikan sistem nilai, spiritualitas, dan relasi ekologis masyarakat Kutai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji ekspresi kebahasaan dalam tuturan ritual Nutuk Beham sebagai bagian dari tradisi lisan Kutai, khususnya dalam hubungannya dengan nilai karakter dan kearifan ekologis. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk, makna, dan fungsi tuturan serta narasi cerita rakyat yang hidup di balik ritual. Penelitian ini menempatkan tuturan ritual Nutuk Beham sebagai objek kajian linguistik, bukan sebagai karya sastra atau sekadar folklor. Tuturan tersebut dianalisis dalam kerangka etnolinguistik, yaitu cabang ilmu linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa, budaya, nilai, dan praktik ritual masyarakat. Dalam konteks penelitian ini, istilah bentuk, makna, dan fungsi tuturan merujuk pada tiga aspek analisis linguistik yang umum digunakan dalam kajian bahasa ritual. Pertama, bentuk mencakup ciri-ciri kebahasaan pada level fonologis, leksikal, stilistika, dan struktur syair lisan . isalnya repetisi, paralelisme, diksi arkais, pola ritmi. Kedua, makna merujuk pada penafsiran simbolik dan kultural yang muncul dari tuturan sesuai konteks ritual dan kosmologi masyarakat Kutai. Ketiga, fungsi mengacu pada peran tuturan dalam konteks sosial dan spiritual, seperti fungsi magis-performatif, fungsi edukatif, fungsi pemanggil leluhur, dan fungsi ekologis. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka etnolinguistik. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menelaah ekspresi kebahasaan dalam tuturan ritual Nutuk Beham sekaligus memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan sistem nilai masyarakat Kutai Adat Lawas. Dalam etnolinguistik, bahasa dipandang sebagai medium yang merefleksikan pandangan dunia, spiritualitas, serta relasi manusia dengan lingkungannya. Lokasi penelitian berada di Desa Kedang Ipil. Kecamatan Kota Bangun. Kabupaten Kutai Kartanegara. Data penelitian dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, data linguistik, yaitu tuturan ritual ngassapi yang dilafalkan oleh pemamang saat prosesi Nutuk Beham. Data tuturan ritual Nutuk Beham dikodekan secara sistematis menggunakan label NB (Nutuk Beha. Setiap bait tuturan diberi nomor berurutan mulai dari NB/1 hingga NB/6 sesuai urutan performansinya dalam ritual. Kedua, data kontekstual, berupa dua cerita rakyat yang berfungsi sebagai landasan mitologis ritual, yaitu kisah AuAnak yang HilangAy dan AuAsal-Usul PadiAy. Data ini tidak dianalisis sebagai karya sastra, melainkan digunakan untuk menafsirkan simbol dan makna kultural yang muncul dalam tuturan ritual. Data diperoleh melalui . observasi partisipatif dalam ritual Nutuk Beham, . wawancara mendalam dengan pemamang, tokoh adat, dan budayawan lokal, serta . dokumentasi berupa rekaman audio-visual dan catatan lapangan. Transkripsi tuturan dilakukan dengan mempertahankan fonologi, diksi, dan pola lisan setepat mungkin, kemudian diverifikasi kembali melalui member checking dengan informan utama. Analisis dilakukan secara bertahap melalui proses reduksi data, pengelompokan tematik, dan interpretasi makna dalam konteks budaya. Analisis bentuk mencakup pengkajian struktur syair lisan, seperti paralelisme, repetisi, ritme, dan penggunaan diksi arkais. Analisis fungsi menelaah peran tuturan dalam konteks ritual, sosial, pedagogis, dan spiritual. Analisis makna berfokus pada nilai karakter dan kearifan ekologis yang direpresentasikan dalam simbol-simbol kebahasaan dan narasi ritual. Untuk mendukung interpretasi, digunakan pendekatan semiotik dan pendekatan naratif terhadap unsur budaya yang terkait. Validitas data dijaga melalui triangulasi metode . bservasi, wawancara, dokumentas. , triangulasi sumber . emamang, budayawan, tokoh ada. , serta konfirmasi data melalui member checking. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Suci Oktaviani. Widyatmike Gede Mulawarman. Dwi Nugroho Hidayanto. Yusak Hudiyono. Azainil, & Bibit Suhatmady Pembahasan Secara etimologis, istilah Nutuk Beham berakar dari kata nutuk yang berarti menumbuk atau menghantam, serta beham yang merujuk pada padi. Dalam ruang budaya masyarakat Kutai, ritual ini dimaknai sebagai upacara spiritual yang menandai puncak rasa syukur atas hasil bumi. Media utamanya berupa tumbukan padi serta persembahan makanan sakral yang ditujukan kepada leluhur dan entitas penjaga tanaman. Penting untuk ditegaskan bahwa dalam penelitian ini, ritual tersebut tidak diposisikan sebagai objek tunggal, melainkan sebagai konteks performatif yang melahirkan tuturan sakral. Fokus kajian secara spesifik tertuju pada ngassapi, yakni syair lisan yang dilantunkan oleh seorang pemamang di sepanjang prosesi Nutuk Beham. Pembedaan ini krusial untuk memperjelas bahwa analisis tidak akan membedah seluruh rangkaian fisik ritual, melainkan lebih mendalami struktur kebahasaan, fungsi komunikatif, hingga makna simbolik dari teks lisan yang diproduksi. Nutuk Beham dipahami sebagai wadah budayanya, sementara ngassapi menjadi data linguistik utama yang dikaji melalui kacamata etnolinguistik. Alur pembahasan dalam bagian ini dikerucutkan ke dalam tiga fokus analisis: bentuk dan struktur tuturan, fungsi tuturan dalam lanskap budaya-spiritual, serta makna simbolik yang merepresentasikan karakter dan kearifan ekologis masyarakat. Ketiga pilar ini menjadi basis untuk memahami bagaimana bahasa ritual bekerja, baik sebagai penanda identitas maupun media transmisi nilai-nilai pandangan dunia . masyarakat adat. Data ngassapi yang dianalisis terdiri atas enam bait inti yang dilafalkan secara berurutan. Untuk menjaga ketajaman analisis, keenam bait tersebut diberi kode sistematis, mulai dari NB/1 hingga NB/6. Sistem pengodean ini berfungsi sebagai alat navigasi guna memudahkan penelusuran bagian-bagian tuturan pada setiap aspek pembahasan yang berbeda. Secara hierarkis, bait-bait tersebut membangun struktur naratif yang selaras dengan alur ritual, yakni dimulai dari pembersihan ladang (NB/. , pemindahan hasil panen ke rumah (NB/. , hingga pembersihan kampung secara spiritual (NB/. Tahapan kemudian berlanjut pada pemanggilan roh penjaga (NB/. , pemberian makan kepada leluhur (NB/. , dan diakhiri dengan pelepasan roh sebagai penutup ritus (NB/. Struktur ini menjadi landasan fundamental dalam membedah makna, mengingat setiap bait mengandung lapisan ekspresi kebahasaan yang unik, bergantung pada tuntutan tahapan ritual yang sedang berlangsung. Tabel 1. Data Tuturan Ngassapi Ritual Nutuk Beham Kode NB/1 NB/2 NB/3 NB/4 NB/5 NB/6 Teks Munli talang munjui urang. Gerang rawah, gerah rumah. Cukup bulen Orana kana jela tangek naik ka janggen Naik ka lorung nyawe urang. Prasaab pagAogel kan harak kami ka Mun tali bengsa tali puruts landes somo puan tahun. Sapagel ntungan rus pakoyotan Ee sang silik luman. Lang kuak beras beham betampuran gebeh. lamatak kali yong silik takayak. Bukur balayang balai lingkaran wasung wahal ore. Lingkaran wasi wakasilik Nyampu belai ka ore layang ka lingkarang lasung. Entaan lohore ee hamparan lero tuha limbo lambay. Rundung tuha talsilebeng takubeng tanah brempi rayapakan. Aa rapak lambur bengo kabulan kasilik kapikay jaloy karambeng Tak potok roak lamben bulih kilayangan. Aa sisabon tangkalap mata ori padem payilan. Aa sang gola guri ri kana resok ka busat nyalelo. Madisari nung patejoh tarok delam rantaw. Aa ta kahala mandew tiwa sari liang tanah kali musan Tamamulong tamukan ngese lemben. Lamping byeaw tiyup elau telan. Aa urang bu keseh lara kajuntayang. Kakalungan kasumpingan kalombena kalangung. Montar sawuk aa kami tak rompok pantahun. Pagentungan ari pakoyanggan ejeh. Aa ulak kajuntayangan tali begsa tapasak silah tilang. Due talu ampat lima anam tujuh kaliakat Makna Pembukaan ladang. harapan proses bertani lancar. Padi dibawa pulang. syukuran panen. memberi makan arwah. Pembersihan kampung secara spiritual. memohon perlindungan. Pemanggilan roh penjaga kampung dengan pora, beras kuning, asap aromatik. Memberi makan arwah sebelum masyarakat menyantap padi. Pelepasan roh. doa panen. penutup ritual. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Ritual Nutuk Beham dalam tradisi lisan Ngassapi Kutai: Kajian etnolinguistik terhadap nilai karakter dan kearifan ekologis Bentuk dan Struktur Tuturan Ngassapi dalam Ritual Nutuk Beham Tuturan ngassapi dalam ritual Nutuk Beham merupakan bentuk syair lisan yang memiliki struktur linguistik khas tradisi ritual Kutai. Bentuk ini ditandai oleh penggunaan repetisi, paralelisme, diksi arkais, formula mantra, pola ritmis tertentu, dan keteraturan struktur bait. Analisis berikut menggambarkan bagaimana unsur-unsur linguistik tersebut hadir dalam tuturan dan berperan membangun karakter performatifnya sebagai bahasa ritual. Repetisi dan Paralelisme sebagai Ciri Tradisi Lisan Repetisi merupakan ciri dominan dalam tuturan ngassapi yang berfungsi memperkuat ritme syair dan mempermudah pemamang menghafal serta melantunkan tuturan. Pada NB/1, paralelisme tampak jelas dalam frasa Aumunli talang munjui urangAy yang dipasangkan secara ritmis dengan Augerang rawah gerah rumahAy. Artinya, proses memulai membuka ladang. Mengawali dengan membersihkan hutang yang akan ditanami padi. Pengulangan pola frasa sejenis menunjukkan keseimbangan bunyi dan makna, sekaligus memberi tekanan pada pesan pembukaan ladang dan permohonan keselamatan. Contoh repetisi lain tampak pada NB/2 melalui penggunaan bentuk AupagAogel - sapagelAy, yang memperkuat makna gerakan kolektif dan kebersamaan dalam syukuran Sementara itu. NB/5 menampilkan repetisi formula a pada awal baris, yang merupakan ciri khas mantra persembahan dan menandai peningkatan intensitas spiritual. Diksi Arkais dan Kosakata Ritual Tuturan ngassapi memanfaatkan sejumlah kosakata arkais dan istilah ritual yang tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Istilah seperti perbilengan, janggen, juntayangan, serta lamatak dan wasung menunjukkan register khusus yang hanya muncul dalam konteks sakral. Pada NB/4, diksi seperti tuha limbo lambay atau brempi memperlihatkan unsur puitik yang berkaitan dengan entitas spiritual dan lingkungan hutan. Penggunaan leksikon arkais ini merupakan penanda otoritas pemamang sekaligus medium pewarisan kosmologi lokal. Pemilihan diksi tersebut menegaskan bahwa bahasa ritual tidak bersifat informasional, melainkan simbolik dan performatif. Formula Mantra dan Struktur Performatif Tuturan ngassapi memperlihatkan ciri formulasi khas mantra Nusantara. Pada NB/5, formula a yang mengawali tiap baris membentuk pola tetap yang berfungsi sebagai penanda transisi menuju tahap persembahan. Formula ini juga menciptakan ritme chanting yang menandai titik klimaks dalam hubungan manusia dan leluhur. NB/6 menampilkan struktur penutup berupa rangkaian numerik: due, talu, ampat, lima, anam, tujuh, yang berfungsi sebagai penutup ritual supaya roh-roh yang dipanggil pulang kembali, dan kegiatan sakralnya dianggap selesai. Serangkaian bilangan ini tidak bersifat matematis, tetapi simbolik penutup akses antara dunia manusia dan Formula-formula tersebut memperlihatkan bahwa tuturan ngassapi berfungsi sebagai bahasa tindakan . erformative languag. , mengikat kata-kata dengan tindakan ritual secara langsung. Pola Fonologis dan Keteraturan Ritmis Secara fonologis, tuturan ngassapi memperlihatkan pola bunyi yang teratur. Asonansi i-i-i dalam NB/3 pada frasa seperti Ausang silikAy. Auyong silik takayakAy, dan AuwakasilikAy menghasilkan nuansa pembersihan dan kelembutan, sejalan dengan fungsi bait tersebut sebagai pembersihan NB/4 memperlihatkan aliterasi l-l-l dalam rangkaian Aulorohere, limbo, lambayAy, menghasilkan musikal lisan. Ritmisitas ini merupakan ciri khas tradisi lisan Kutai, di mana performansi suara memiliki nilai penting yang setara dengan makna verbalnya. Struktur tuturan ngassapi tidak hanya berupa rangkaian syair, tetapi juga mengikuti alur perjalanan ritus Nutuk Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Suci Oktaviani. Widyatmike Gede Mulawarman. Dwi Nugroho Hidayanto. Yusak Hudiyono. Azainil, & Bibit Suhatmady Beham secara paralel. NB/1-NB/6 mencerminkan pergerakan ritus dari pembukaan, pemanggilan roh, hingga penutupan. Hal ini memperlihatkan bahwa bentuk tuturan tidak berdiri sendiri, melainkan terikat secara fungsional dengan urutan tindakan ritual. Tuturan tidak sekadar diucapkan, tetapi menghadirkan makna dalam konteks ritual. Artinya, makna tuturan tidak berdiri sendiri, tetapi sangat terkait dengan konteks pelafalan, identitas pembicara, serta kepercayaan komunitas yang melingkupinya. Sebagaimana dikemukakan oleh Saputri . dalam kajiannya terhadap mantra upacara wiwit, wacana mantra tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual, tetapi juga mencerminkan struktur berpikir masyarakat yang bersifat simbolik, ekologis, dan religius. Selain itu. Penelitian Sukarno, et al. tentang mantra pengasihan di Banyuwangi mengungkap bahwa struktur linguistik dalam mantra cenderung menggunakan paralelisme, metafora, repetisi, dan bentuk inversi sebagai strategi stilistika untuk memperkuat efek magis dan sugestif. Unsur-unsur ini tidak hanya memperindah bentuk tuturan, tetapi juga memperkuat otoritas dan daya spiritual dari mantra Dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa fitur-fitur linguistik itu merupakan bagian penting dalam membentuk Auaura kekuatan bahasaAy dalam sastra lisan yang dipercaya memiliki daya pengaruh terhadap alam dan manusia. Hal ini sejalan dengan temuan dalam tuturan Nutuk Beham yang secara struktural menyusun syair dalam pola simetris dan repetitif, guna menjaga kesinambungan makna serta kekuatan spiritual yang terkandung di dalamnya. Mantra dalam Nutuk Beham bukan sekadar puisi lisan, tetapi juga merupakan perangkat linguistik yang mengikat antara bahasa, kekuasaan ritual, dan kepercayaan masyarakat lokal. Struktur linguistik ngassapi merupakan bagian integral dari struktur Bahasa tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi menciptakan dan mengaktifkan tindakan ritual itu sendiri. Fungsi Tuturan dalam Konteks Budaya dan Spiritual Masyarakat Kutai Adat Lawas Tuturan ngassapi dalam ritual Nutuk Beham berfungsi sebagai sarana komunikasi verbal, sekaligus sebagai perangkat performatif yang mengikat tindakan ritual, relasi spiritual, dan struktur sosial masyarakat Kutai Adat Lawas. Dalam konteks etnolinguistik, fungsi tuturan dipahami sebagai peran yang dilakukan bahasa ketika diucapkan dalam situasi budaya tertentu. Oleh karena itu, fungsi tuturan ngassapi dianalisis berdasarkan keterikatannya dengan tahap-tahap ritus, hubungan manusia-leluhur, serta sistem nilai yang menopang kehidupan masyarakat agraris Kutai. Fungsi Pembuka dan Pemurnian Ruang Ritual Pada tahap awal ritual, tuturan NB/1 mengemban fungsi pembuka ritus sekaligus memurnikan ruang aktivitas agraris. Melalui frasa seperti Aumunli talang munjui urangAy yang menandai pembersihan ladang, tuturan ini berfungsi mengalihkan ruang ladang dari ranah profan menuju ranah sakral. Pembukaan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual karena dipercaya dapat menghapus gangguan dan ancaman yang mungkin menghambat pertumbuhan Fungsi pemurnian ruang juga kembali muncul dalam NB/3, ketika tuturan mengiringi prosesi pembersihan kampung . bueng bodo. Pengulangan unsur fonologis seperti Ausang silik lumanAy dan AuwakasilikAy memperkuat fungsi protektif dan penyucian yang diyakini mampu menenangkan energi negatif di lingkungan sekitar. Fungsi pembuka dan pemurnian mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa keberhasilan panen bergantung pada terciptanya keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan supranatural. Fungsi Komunikasi dengan Leluhur dan Entitas Spiritual Salah satu fungsi utama tuturan ngassapi adalah sebagai medium komunikasi antara manusia dan entitas spiritual, khususnya roh-roh penjaga kampung dan leluhur yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan pertanian. Pada NB/2, fungsi ini tampak dalam penggambaran proses Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Ritual Nutuk Beham dalam tradisi lisan Ngassapi Kutai: Kajian etnolinguistik terhadap nilai karakter dan kearifan ekologis membawa padi ke rumah untuk disajikan kepada para leluhur sebagai bentuk penghormatan. Istilah juntayangan menandai kehadiran roh-roh yang dipercaya ikut menjaga padi sejak masa pertumbuhan hingga panen. NB/4 memperlihatkan fungsi invokatif secara eksplisit, yaitu ketika pemamang memanggil roh penjaga kampung melalui rangkaian tuturan yang menyertai penggunaan pora, beras kuning, dan asap aromatik. Tuturan pada tahap ini dianggap memiliki daya panggil yang menghubungkan ruang manusia dengan ruang nonmanusia. Kehadiran leluhur dalam ritual diyakini membantu kelancaran Nutuk Beham serta menjaga harmoni antara dimensi fisik dan spiritual. Fungsi Persembahan dan Penghormatan Leluhur Pada tahap inti ritual. NB/5 menjalankan fungsi persembahan . ffering functio. melalui pemberian padi pertama kepada leluhur sebelum masyarakat menyantapnya. Repetisi formula a menandai intensitas hubungan sakral antara pemamang dan roh leluhur yang diberikan makanan simbolik sebagai bentuk penghormatan. Dalam kosmologi Kutai, leluhur memiliki kedudukan sakral dan harus diperlakukan sebagai bagian yang terus berperan menjaga ketenteraman kampung. Tuturan pada tahap ini tidak hanya mengungkapkan rasa hormat, tetapi juga memperkuat nilai tanggung jawab moral masyarakat terhadap leluhur. Fungsi persembahan berperan memastikan bahwa hubungan timbal balik antara dunia manusia dan leluhur tetap seimbang, sehingga keberkahan panen dapat diperoleh kembali pada tahun berikutnya. Fungsi Penutup dan Pelepasan Kembali Roh NB/6 berfungsi sebagai penutup ritus dan pelepasan kembali roh-roh penjaga ke alamnya Rangkaian bilangan due, talu, ampat, lima, anam, tujuh berfungsi sebagai formula penutup . losing formul. yang memutus akses antara ruang sakral dengan ruang profan setelah persembahan Pelepasan roh dilakukan agar tidak terjadi Aukelebihan energiAy spiritual di kampung, yang dapat dianggap mengganggu keseimbangan hidup masyarakat Fungsi penutup juga menandai peralihan dari fase sakral menuju fase sosial ketika masyarakat boleh menikmati beham sebagai bentuk syukur kolektif. Tuturan penutup memastikan ritus selesai secara tuntas dan tidak meninggalkan ikatan yang belum dilepaskan antara manusia dan entitas spiritual. Fungsi Sosial dan Edukatif dalam Komunitas Di luar fungsi sakralnya, ngassapi juga menjalankan fungsi sosial dan edukatif. Tuturan yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi media transmisi nilai budaya kepada generasi muda. Dalam setiap baitnya, tersimpan ajaran tentang penghormatan leluhur, kerja kolektif, tanggung jawab terhadap alam, serta pentingnya syukur atas hasil panen. Melalui performansi tuturan, masyarakat terutama anak-anak dan remaja dapat belajar tentang etika agraris Kutai, tata cara ritual, nama-nama leluhur, simbol makanan sakral, serta prinsip keharmonisan ekologis. Oleh karena itu, fungsi sosial ngassapi memperkuat ikatan komunal dan melestarikan identitas budaya Kutai Adat Lawas. Makna Simbolik. Nilai Karakter, dan Kearifan Ekologis dalam Tuturan Ngassapi Makna tuturan ngassapi tidak hanya bersumber dari struktur bahasa atau fungsi ritualnya, tetapi dari simbol-simbol budaya yang terkandung dalam setiap bait. Simbol-simbol tersebut mencerminkan pandangan hidup masyarakat Kutai Adat Lawas mengenai hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan pangan. Oleh karena itu, analisis makna diarahkan pada tiga lapis utama: makna simbolik, nilai karakter, dan kearifan ekologis, yang bersama-sama membentuk kerangka worldview masyarakat Kutai. Makna simbolik dalam tuturan ngassapi muncul dari Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Suci Oktaviani. Widyatmike Gede Mulawarman. Dwi Nugroho Hidayanto. Yusak Hudiyono. Azainil, & Bibit Suhatmady penggunaan metafora agraris, simbol leluhur, dan representasi kosmos yang melekat pada setiap tahapan ritus. Pada NB/1, tindakan membuka ladang yang menandakan fase transisi dari alam liar menuju ruang budaya. Membuka ladang bukan sekadar kegiatan pertanian, tetapi simbol transformasi, pembaruan, dan persetujuan antara manusia dan alam. NB/2 memuat simbol penghormatan kepada leluhur yang digambarkan melalui penyajian padi ketan dan padi jela. Padi dalam kosmologi Kutai adalah entitas hidup yang memiliki asal-usul mitologis, sehingga membawanya pulang ke rumah dan menyajikannya kepada leluhur merupakan tindakan simbolik yang menegaskan ikatan genealogis komunitas. Pada NB/4, pemanggilan roh penjaga kampung melalui pora, beras kuning, dan asap aromatik melambangkan pembukaan Augerbang kosmikAy antara dua Tuturan ini memaknai bahwa leluhur tidak hanya hadir dalam ingatan, tetapi dalam tindakan ritus yang memperkuat keseimbangan spiritual kampung. Rangkaian angka pada NB/6 memuat simbol keseimbangan dan penegasan kembali harmonisasi kosmos. Angka due, talu, ampat, lima, anam, tujuh bukan sekadar penanda matematis, tetapi simbol lapisan dunia yang harus ditata ulang setelah ritus selesai. Setiap bait dalam ngassapi memuat internalisasi nilai-nilai karakter yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai tersebut bersifat implisit namun kuat, dan berperan sebagai pedoman moral masyarakat. Dalam perspektif etnolinguistik, ekspresi semacam ini tidak hanya dipahami sebagai produk bahasa, melainkan sebagai cerminan pandangan dunia masyarakat lokal . Bahasa menjadi media yang merepresentasikan bagaimana komunitas memahami hubungan antara manusia, leluhur, dan kekuatan supranatural. Pandangan ini selaras dengan pendapat Davronov & Nurova . dan Serafica . yang menekankan bahwa etnolinguistik mencakup studi mengenai simbol, mitologi, serta lanskap spiritual yang termanifestasi dalam tuturan dan tradisi lisan. Tuturan ini bukan sekadar bentuk komunikasi dalam upacara adat, tetapi juga sarana transmisi nilai-nilai luhur secara kolektif. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi lisan memiliki peran sentral dalam pendidikan karakter berbasis budaya lokal sebagai berikut. Nilai Syukur NB/2 dan NB/5 jelas menggambarkan nilai syukur melalui penyajian padi kepada leluhur. Masyarakat diajarkan untuk tidak menikmati hasil panen sebelum menghormati sumber keberkahan yang diyakini menjaga siklus pertanian. Penghormatan dan Tanggung Jawab NB/5 menunjukkan penghormatan mendalam kepada para leluhur melalui penyajian beham Nilai tanggung jawab generasional tampak dalam kesadaran bahwa kesejahteraan kampung tidak lepas dari jasa leluhur. Kebersamaan (Gotong Royon. NB/1 dan NB/2 menggambarkan kerja kolektif, baik dalam membuka ladang maupun mempersiapkan syukuran. Tuturan menekankan bahwa pertanian adalah kerja bersama dan panen merupakan hasil dari solidaritas komunitas. Nilai karakter seperti empati, gotong royong, dan rasa hormat terhadap asal-usul sangat tampak dalam tuturan ini. Hal tersebut sejalan dengan teori pendidikan karakter yang menekankan pentingnya nilai berbasis budaya lokal sebagai fondasi pembentukan watak dan integritas sosial (Kuswara & Sumayana, 2020. Simanungkalit et al. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asmida . struktur naratif dan ekspresi simbolik dalam cerita rakyat tradisional mengandung nilai pendidikan karakter yang terikat pada konteks budaya masyarakat pendukungnya. Hal ini juga tercermin dalam tuturan Nutuk Beham yang mengajarkan nilai-nilai seperti rasa syukur, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap leluhur melalui ungkapan-ungkapan khas Kutai. Pemanfaatan kearifan lokal dalam pembelajaran tidak Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Ritual Nutuk Beham dalam tradisi lisan Ngassapi Kutai: Kajian etnolinguistik terhadap nilai karakter dan kearifan ekologis hanya memperkaya bahan ajar, tetapi juga membentuk sikap positif siswa terhadap lingkungan sosial dan budaya mereka. Proyek menulis berbasis budaya lokal memungkinkan siswa untuk mengkaji, merefleksi, dan mengekspresikan nilai-nilai karakter melalui narasi yang kontekstual dan bermakna (Sutriyati et al. , 2. Religiositas dan Kesakralan Hidup Pengulangan formula mantra dan pemanggilan roh pada NB/4 menunjukkan bahwa masyarakat Kutai menempatkan spiritualitas sebagai poros kehidupan. Religiositas ditunjukkan melalui keyakinan bahwa setiap aktivitas agraris berada dalam pengawasan leluhur. Nilai Ketenangan dan Pengendalian Diri NB/3 yang menggambarkan pembersihan kampung mengajarkan masyarakat untuk menjaga ketenangan, ketertiban, dan keharmonisan dalam hidup bersama. Tuturan ngassapi menjadi sarana pewarisan karakter yang tidak diajarkan secara didaktis, tetapi melalui praktik ritual yang . Kearifan Ekologis dalam Tuturan dan Ritual Nutuk Beham Kearifan ekologis merupakan dimensi yang paling menonjol dalam tuturan ngassapi. Sikap ekologis masyarakat Kutai berakar pada filosofi mendalam bahwa manusia bukanlah penguasa tunggal atas alam, melainkan bagian integral dari jaringan ekologis yang keseimbangannya harus senantiasa dirawat. Nilai-nilai kearifan ini terdistribusi secara sistematis dalam bait-bait tuturan ritual Nutuk Beham. Adapun nilai kearifan ekologis dalam tuturan dan ritual Nutuk Beham sebagai NB/1 mencerminkan penghormatan terhadap ladang sebagai ruang hidup. Pembukaan ladang dianggap sebagai negosiasi dengan alam, bukan eksploitasi. Tuturan menunjukkan bahwa keberhasilan panen sangat bergantung pada perlakuan manusia terhadap tanah dan lingkungan. Dalam NB/2, padi tidak digambarkan sebagai objek, tetapi sebagai Autamu terhormatAy yang dibawa kembali ke rumah. Konstruksi ini menunjukkan pandangan ekologis masyarakat bahwa pangan memiliki roh dan martabat, sehingga harus diperlakukan dengan hormat. NB/4 menegaskan bahwa alam dijaga tidak hanya oleh manusia, tetapi juga oleh roh penjaga kampung. Konsep ekologis Kutai tidak memisahkan ekologi fisik dari ekologi spiritual. Hutan, kampung, dan ladang dianggap memiliki penjaga masing-masing. Sariasih . dalam penelitiannya tentang mantra tetulungan, struktur dan makna mantra tradisional sering kali mencerminkan relasi antara manusia dan lingkungan. Setiap larik mantra, terdapat diksi dan struktur repetisi yang mengandung pesan Hal ini menunjukkan bahwa tuturan mantra dalam ritual adat Nutuk Beham memiliki peranan penting dalam resistensi ekologis. NB/6 menandai penutupan siklus panen dan doa untuk panen berikutnya. Tuturan mengandung makna bahwa keseimbangan ekologis harus dipelihara dari tahun ke tahun, bukan hanya pada saat panen. Tuturan mengajarkan bahwa manusia harus menjaga tanah agar tidak AumarahAy atau AuterlukaAy. Hal ini menunjukkan adanya etika lingkungan yang berangkat dari tradisi lokal dan masih relevan dalam konteks ekologi modern. Melalui tuturan ngassappi yang diwariskan secara lisan, masyarakat Kutai membentuk sistem nilai ekologis yang bersifat holistik dan spiritual. Alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari relasi yang memerlukan keseimbangan dan penghormatan. Kearifan ini, jika diintegrasikan dalam pendidikan kontekstual, berpotensi menjadi instrumen penguatan pendidikan lingkungan hidup yang berbasis budaya lokal. Ritual Nutuk sarat akan nilai konservasi ekologis yang dapat menjadi rujukan dalam membangun kesadaran lingkungan pada generasi muda. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1179Ai1190 Suci Oktaviani. Widyatmike Gede Mulawarman. Dwi Nugroho Hidayanto. Yusak Hudiyono. Azainil, & Bibit Suhatmady Penutup Penelitian ini menunjukkan bahwa tuturan ngassapi dalam ritual Nutuk Beham bukan hanya rangkaian kata yang diucapkan saat upacara, tetapi merupakan bentuk ekspresi budaya yang memiliki struktur, fungsi, dan makna yang sangat kaya. Dari sisi bentuk, tuturan ini disusun dalam pola syair lisan yang memanfaatkan repetisi, paralelisme, diksi arkais, serta formula mantra yang memberi ritme khas pada pelafalannya. Pola tersebut menunjukkan bahwa bahasa dalam ritual memiliki aturan dan karakter tersendiri. Dari sisi fungsi, ngassapi berperan mengatur jalannya ritual mulai dari pembukaan, pembersihan ruang, pemanggilan roh leluhur, hingga penutupan atau pengembalian suasana ke kondisi semula. Tuturan juga menjadi sarana komunikasi antara manusia, alam, dan leluhur yang diyakini ikut menjaga keseimbangan kampung dan keberhasilan Dengan kata lain, bahasa dalam ritual bekerja sebagai bagian penting dari tindakan sakral yang mengikat seluruh tahapan upacara. Sedangkan dari sisi makna, tuturan ngassapi mengandung banyak simbol yang menggambarkan cara pandang masyarakat Kutai Adat Lawas terhadap alam, leluhur, dan kehidupan agraris. Di dalamnya terkandung nilai-nilai karakter seperti syukur, penghormatan, tanggung jawab, kebersamaan, dan religiositas. Tuturan ini juga mencerminkan kearifan ekologis yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Nutuk Beham bukan hanya tradisi adat, tetapi juga sistem pengetahuan lokal yang diwariskan melalui bahasa. Penelitian ini menegaskan bahwa tuturan ngassapi memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya, memperkuat identitas masyarakat Kutai, dan menjadi sumber nilai yang relevan bagi pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Daftar Pustaka