Volume 2 Issue 2 . Pages 71-80 Jurnal Al-Muharrik: Jurnal Pendidikan Agama Islam E-ISSN: 3047-4132 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas Ahmad Syauqi Fuady1 Program Studi Pendidikan Agama Islam. STIT Muhammadiyah Bojonegoro asf68@gmail. Abstrak Manusia merupakan esensi dan sasaran utama dari proses pendidikan. Pendidikan senantiasa berkaitan erat dengan hakikat keberadaan manusia, karena pendidikan merupakan upaya untuk menumbuhkembangkan potensi alamiah manusia. Oleh karena itu, di dalam memahami tentang pendidikan, harus memahami hakikat manusia dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep manusia menurut Muhammad Naquib Al-Attas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka. Oleh karena itu sumber data utamanya adalah dokumen tertulis. Dua buku karangan Muhammad Naquib Al-Attas AuIslam dan SekulerismeAy dan AuThe Concept of Education in IslamAy menjadi sumber data utama. Sedangkan buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan tema penelitian menjadi sumber data sekunder. Analisis Isi dipilih untuk menganalisis data tekstual, ditafsirkan, dan disajikan secara eksploratif naratif. Hasil penelitian ini adalah: . manusia memiliki dua aspek jasmani-fisik dan roh-jiwa, oleh karena itu pendidikan adalah upaya memberikan ilmu pengetahuan . gama dan sain. bagi kedua aspek . tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk individu paripurna sebagai manusia beradab. Pendidikan Islam bertujuan menanamkan adab ke dalam diri manusia sehingga dapat memahami kedudukan setiap eksistensi di dalam tatanan kehidupan Kata Kunci: Al-Attas. Manusia. Pendidikan Islam Abstract Humans are the essence and primary target of the educational process. Education is always closely related to the nature of human existence, because education is an effort to develop human natural potential. Therefore, in understanding education, one must understand the nature of humans well. This study aims to understand the concept of humans according to Muhammad Naquib Al-Attas. This study uses a qualitative approach with a literature study type. Therefore, the main data sources are written documents. Two books by Muhammad Naquib Al-Attas "Islam and Secularism" and "The Concept of Education in Islam" are the primary data sources. Meanwhile, books and journal articles related to the research theme are secondary data sources. Content Analysis was chosen to analyze textual data, interpreted, and presented in an exploratory narrative manner. The results of this study are: . humans have two aspects: physical and spiritual, therefore education is an effort to provide knowledge . eligion and scienc. for both . the goal of Islamic education is to form complete individuals as civilized humans. Islamic education aims to instill manners in humans so that they can understand the position of each existence in the order of life Keywords: Al-Attas. Human. Islamic Education PENDAHULUAN (Times New Roman, 12, tebal, spasi 1. Manusia merupakan substansi, subjek, dan objek utama dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pembahasan tentang hakikat manusia merupakan hal esensial dalam pendidikan. Pendidikan adalah usaha pembangunan manusia untuk melahirkan masyarakat cerdas, terampil Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2025 | 71 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas dan berbudi luhur. 1 Oleh karena itu, pada hakikatnya, pendidikan merupakan upaya menolong manusia dalam menyingkap dan memahami rahasia alam, memupuk bakat dan potensi alamiahnya sejak lahir, mengarahkan serta membimbing manusia untuk mewujudkan kebaikan bagi individu dan masyarakat. 2 Manusia adalah makhluk pedagogis, bermakna bahwa manusia memiliki potensi dan naluri alamiah untuk dididik dan mendidik. 3 Proses pendidikan dapat dimaknai sebagai upaya membantu manusia mengembangkan potensi alamiahnya, sehingga dapat menjadi kunci dan modal dalam mencapai tujuan, menunaikan tanggung jawab dan amanah kekhalifahan di dunia dengan baik dan paripurna. Berdasarkan konsep di atas, tujuan pendidikan Islam berkaitan erat dengan tujuan penciptaan manusia. Tujuan pendidikan Islam adalah membimbing manusia supaya dapat menunaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai khalifah di dunia, menjalankan ibadah berupa pengabdian dan penghambaan kepada Allah Swt. 4 Pendidikan Islam menjadi sarana untuk membentuk pribadi muslim dalam menjalankan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. 5 Pribadi muslim . nsan kami. yang dimaksud adalah pribadi yang menjadikan takwa kepada Allah Swt. sebagai jalan hidup sebagai seorang muslim hingga kematian 6 Pendidikan dalam Islam dilakukan untuk mempersiapkan manusia sehingga dapat menjalankan kewajiban dalam meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Muhammad Naquib Al-Attas merupakan sallah satu cendekiawan Muslim yang menaruh perhatian besar terhadap hakikat manusia dan permasalahan yang dihadapi manusia. Manusia menghadapi tantangan besar berupa kerusakan dan kekacauan akibat pendidikan yang berdasar kepada ilmu pengetahuan sekuler. Pendidikan yang baik harus memberikan manusia pemahaman dan pengetahuan tentang eksistensi Tuhan, sehingga ilmu pengetahuan tidak membawa kerusakan bagi manusia dan alam semesta secara keseluruhan. 8 Oleh karena itu, di dalam pendidikan Islam, manusia tidak hanya cukup diberikan tambahan ilmu pengetahuan yang berguna dalam memahami alak semesta, tetapi juga ilmu pengetahuan agama untuk memahami makna di segala fenomena. Naquib Al-Attas menilai bahwa pendidikan tidak bertujuan hanya untuk mencetak individu Muslim dengan kemampuan dan pemahaman menyeluruh tentang ajaran, nilai, dan pandangan hidup Islam, tetapi juga menyiapkan manusia dengan pelbagai spesialisasi keilmuan Mohd Faizal Musa. Naquib Al-AttasAo Islamization of Knowledge (Singapore: ISEAS Publishing, 2. Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1. Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2. Hasan Langgulung. Manusia Dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologis. Filsafat Dan Pendidikan (Jakarta: Pustaka Alhusna Baru, 2. Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. V (Bandung: AlmaAoarif, 1. Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam. Wina Arsita. Eva Dewi, and Selsa Ihza Febriza. AuIslamization of Science and the Application of Axiology Related to the Science of Naquib Al-Attas Perspective,Ay International Journal of Education. Social Studies, and Management (IJESSM) 4, no. 3 (January 4, 2. : 1340Ae50, https://doi. org/10. 52121/IJESSM. V4I3. Jarman Arroisi. Hamid Fahmy Zarkasyi, and Winda Roini. AuThe Relevance of Contemporary Epistemology on Existing Knowledge: A Critical Analysis of Western Scientific Worldview According to Al-Attas Perspective,Ay Afkar 25, no. : 225Ae56, https://doi. org/10. 22452/afkar. 72 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2025 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas berdasarkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Kompetensi spesialisasi keilmuan ini dapat menjadi modal bagi manusia menghadirkan manfaat dan kontribusi bagi kemajuan dan perkembangan kehidupan manusia. 10 Hal ini menunjukkan bahwa, bagi Al-Attas, manusia sebagai objek pendidikan, hendaknya diarahkan, dididik, dan dibimbing agar memiliki ilmu pengetahuan yang berguna dalam memahami eksistensi di alam semesta serta yang berguna dalam mengolah kehidupan di dunia. Artikel ini ingin mengkaji tentang konsep manusia dalam perspektif Muhammad Naquib Al-Attas. Gagasan Al-Attas tentang manusia sebagai penerima ilmu pengetahuan yang ditanamkan melalui proses pendidikan penting untuk dipahami secara mendalam. Pemahaman tentang keterkaitan pendidikan, manusia, dan ilmu pengetahuan dapat menjadi rujukan dalam praktik pendidikan Islam dalam mewujudkan manusia yang utuh sebagai pribadi muslim mulia. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka. Secara umum, langkah-langkah di dalam penelitian kualitatif meliputi: penentuan tema, kajian pustaka, pencarian data, analisis data, penafsiran data, dan pelaporan hasil analisis. Jenis penelitian ini adalah studi pustaka, sehingga data utama penelitian ini adalah dokumen tertulis atau artikel dalam berbagai buku dan jurnal ilmiah yang sesuai tema penelitian. Sumber data utama adalah dua buku karya Muhammad Naquib Al-Attas berjudul AuIslam dan SekulerismeAy11 dan AuThe Concept of Education in IslamAy. 12 Sumber data sekunder adalh buku karya Mohd. Nor Wan Daod berjudul AuFilsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed. Naquib al-AttasAy13 serta berbagai jurnal ilmiah buku dan sumber dokumen tekstual lainnya. Analisis Isi digunakan sebagai metode analisis, karena sumber data utama dalam penelitian ini adalah dokumen berupa 14 Data yang dikumpulkan kemudian dilakukan analisis dengan tiga langkah, pertama kondensasi data dengan mengumpulkan, menyeleksi, dan membuat abstraksi. Kedua, data yang telah diseleksi kemudian ditampilkan sesuai sub-tema penelitian. Ketiga dilakukan verifikasi dan penulisan data. Penyajian hasil analisis data penelitian secara deskriptif eksploratif untuk memperoleh inferensi atau tafsiran dari makna pokok dari topik penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Manusia dalam Pandangan Islam Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu AoAbbas dinyatakan bahwa manusia disebut sebagai insan karena manusia berpotensi lupa terhadap janjinya kepada Allah Swt. Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah perjanjian kepada Allah Swt. Akan tetapi, setelah berjanji dan bersaksi untuk beriman dan beribadah mematuhi perintah serta menjauhi larangan Wan Mohd Nor Wan Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas (Bandung: Mizan, 1. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme, 2nd ed. (Bandung: PIMPIN dan CASIS Universitas Teknologi Malaysia, 2. Syed Muhamamd Naquib Al-Attas. The Concept of Education in Islam (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization, 1. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Matthew B. Miles. Michael Huberman, and Johnny Saldaya. Qualitative Data Analysis A Methods Sourcebook, 3rd ed. (SAGE Publications, 2. Muzairi Muzairi et al. Metodologi Penelitian Filsafat, ed. Nazwar Nazwar. Pertama (Yogyakarta: FA Press, 2. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2. 73 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas Allah Swt. , manusia lupa . dalam menunaikan kewajiban atau utang janjinya tersebut. Kondisi ini menegaskan bahwa manusia membawa dua potensi berupa kebaikan atau ketaatan dan keburukan atau keingkaran. Keingkaran manusia terhadap janji untuk berbuat kebaikan dan keadilan akan menjerumuskan manusia ke dalam ketidakadilan . dan kejahilan . Di antara seluruh makhluk dan wujud yang ada di alam semesta, manusia adalah makhluk yang paling mulia. 17 Di dalam Al-QurAoan surat At-Tiin ayat 4, dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt. dengan bentuk fisik paling bagus dan seimbang. Pemuliaan Islam terhadap manusia berkaitan erat dengan tugas dan tanggung jawab kehidupan yang harus dilaksanakan oleh manusia. Kedudukan mulia manusia yang dibawa semenjak lahir, menjadi sia-sia dan tidak bernilai ketika manusia lupa atau lalai dari tugas dan tanggung jawab yang dilekatkan kepadanya. Kedudukan manusia sebagai makhluk mulia ditentukan oleh tiga aspek utama, yaitu . akal dan perasaan, . ilmu pengetahuan, dan . 19 Aspek pertama yaitu manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki perasaan. Hal ini menegaskan bahwa manusia adalah hewan berpikir . l-hayawan an-nati. 20 Potensi akal yang dimiliki manusia memberikan manusia kemampuan berpikir, sedangkan perasaan menyebabkan manusia dapat merasakan sesuatu yang ada di dalam hidupnya. Kedua aspek ini, akal dan perasaan, menjadi modal utama manusia dalam upaya untuk mencari dan memperoleh ilmu. Aspek kedua yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah kunci keberhasilan di dalam kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, mencari dan mengambangkan ilmu menempati tempat sangat penting di dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan menjadi instrumen manusia dalam mencipta, memahami, dan memberikan nama-nama dan istilahistilah terhadap benda-benda yang ada di dunia. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan menggunakan dengan baik potensi akal pikiran manusia dalam berbagai lapangan pragmatis kehidupan manusia. 21 Kemampuan akal pikiran manusia mencipta, memahami, dan memberi nama-nama benda melahirkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dan ditangkap oleh pancaindra serta dipahami dengan akal pikiran. Aspek ketiga yaitu kebudayaan. Kebudayaan dihasilkan dari hasil kerja akal, perasaan, dan ilmu pengetahuan yang dilakukan manusia. Bentuk kebudayaan yang hadir dalam kehidupan manusia berupa sikap, tingkah laku, cara hidup, kebiasaan, alat-alat, ilmu, teknologi, dan sebagainya. 23 Pemahaman ini memberikan penegasan bahwa kebudayaan adalah produk dari manusia dalam menggunakan potensi yang dimilikinya. Kebudayaan yang terus-menerus bertumbuh dan berkembang menandakan bahwa manusia senantiasa melakukan respons terhadap perubahan dan tantangan di dalam kehidupannya. Kemajuan kebudayaan, peradaban. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam. Al-Syaibany. Al-Syaibany. Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Kemas Badaruddin. Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. 74 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2025 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas dan kehidupan umat manusia secara umum ditentukan dari respons dan sintesis kreatif yang dilakukan manusia terhadap segala masalah, tantangan, dan dinamika kehidupan. Di dalam Islam, manusia diciptakan sebagai hamba (Aoab. Allah Swt. Hakikat manusia sebagai hamba Allah Swt. menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki utang secara mutlak kepada Allah Swt. 25 Konsekuensi manusia yang memiliki utang menuntun manusia untuk melunasi utangnya dengan jalan mencapai tujuan manusia dalam hidup di dunia. Tujuan hidup manusia di dalam hidup, tidak lain adalah untuk menjalankan ibadah kepada Allah Swt. dan menunaikan kewajiban dalam bentuk ketaatan kepada Allah Swt. 26 Hakikat sebagai hamba Allah Swt. ini menuntun manusia kepada perbuatan, pengabdian, dan penghambaan dengan penuh kesadaran dalam bentuk ibadah kepada-Nya. Manusia juga diciptakan dengan predikat sebagai khalifah Allah Swt. menjalankan kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab mengatur dan memanfaatkan segala apa yang ada di dunia dengan kesadaran bahwa semuanya merupakan kehendak, maksud, dan rida Allah Swt. 28 Predikat khalifah Allah Swt. di dunia adalah perkara harus dijalankan manusia dengan keadilan dan kebijaksanaan. Amanah sebagai khalifah ini tentu tidak mudah, oleh karena itu, manusia diberikan modal atau bekal oleh Allah Swt. berupa potensi, kedudukan, dan modal khusus hanya bagi manusia. Hasan Langgulung menyebutkan empat potensi manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah. Pertama, yaitu fitrah, bahwa manusia sebagai individu baik dan suci sejak lahir tanpa membawa dosa. 29 Fitrah juga berarti din atau agama, bahwa manusia hakikatnya cenderung menyadari adanya Tuhan dan memeluk agama sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan. 30 Kedua, yaitu roh, bahwasanya manusia terdiri atas jasmani atau badan dan juga roh. Manusia adalah pribadi utuh, meliputi aspek jiwa dan raga atau roh dan jasmani. 31 Roh yang mengatur dan mengendalikan jasmani manusia, sehingga menjadi aspek penting bagi terjadinya perubahan di dalam hidup manusia. 32 Roh manusia memiliki daya berupa jiwa akali yang luhur . l-nafs al-natiqa. dan jiwa hewani yang rendah . l-nafs al-hayawaniya. Aspek ketiga, yaitu kebebasan kemauan dalam memilih segala tingkah lakunya sendiri. Kemauan manusia timbul karena manusia diciptakan memiliki perbedaan dalam kapasitas intelektual, spiritual, dan etika. 34 Kebebasan manusia tidak absolut, karena harus tetap menjadikan tata aturan nilai kebenaran dan kebaikan sebagai pedoman. 35 Aspek keempat, yaitu akal untuk mendukung manusia memutuskan perkara benar dan salah sehingga membawa manusia memiliki kebebasan memilih perkara terbaik tidak dilandasi oleh kejahilan dan Jurgen Schmandt and C. Ward. Sustainable Development: The Challenge of Transition. Jurgen Schmandt and C. Ward (Cambridge University Press, 2. , https://doi. org/10. 1017/CBO9780511536021. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Al-Attas. Al-Attas. Langgulung. Manusia Dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologis. Filsafat Dan Pendidikan. Langgulung. Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2. 75 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas 36 Agama Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mengambil pelajaran dan manfaat dari sekitarnya dengan memanfaatkan akal. Dua Hakikat Manusia Menurut Naquib Al-Attas Muhammad Naquib Al-Attas mendefinisikan pendidikan sebagai proses menanamkan . sesuatu kepada manusia. Definisi pendidikan menurut Al-Attas memuat tiga elemen kunci, yaitu . proses, . isi atau konten, . penerima atau manusia. 38 Merujuk definisi tersebut, maka manusia berkaitan erat dengan pendidikan. Pendidikan menjadikan manusia sebagai makhluk utama sebagai objek atau penerima penanaman pengetahuan. Manusia menjadi makhluk yang diberikan ilmu pengetahuan melalui proses pendidikan. Menurut Al-Attas, manusia terdiri dari dua hakikat, yaitu jiwa dan raga. roh dan atau jiwa akali yang bercorak spiritual dan raga hewani yang bercorak fisikal. Kesatuan harmonis kedua unsur ini dalam diri manusia menyebabkan aspek spiritual dengan indra fisik saling terhubung, sehingga menjadi modal bagi manusia dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan kewajibannya dalam mengelola kehidupan di dunia. Masing-masing unsur dari dua hakikat manusia membutuhkan jamuan berupa gizi agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu, pendidikan merupakan proses untuk memberikan pelbagai ilmu pengetahuan yang sesuai dan tepat dalam mengembangkan kedua hakikat manusia. Oleh karena itu, merujuk pemikiran Naquib al-Attas, pendidikan merupakan upaya untuk memberikan ilmu pengetahuan bagi manusia. Ilmu pengetahuan yang diberikan bagi manusia haruslah meliputi ilmu pengetahuan untuk jiwa atau rohani manusia berupa ilmu agama yang memberikan pengetahuan tentang kedudukan dan keberadaan Allah Swt. , cara menyembah, dan beribadah. Selain itu juga membekali ilmu pengetahuan umum atau sains sebagai kunci dalam pengelolaan kehidupan dunia dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia di dalam kehidupannya. Berkaitan erat antara manusia, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Al-Attas mengungkapkan bahwa manusia memiliki potensi alamiah berupa akal. Akal ini memberikan kemampuan manusia bernalar, berpikir rasional dan logis. Potensi ini merupakan bagian esensial dan utama dari keberadaan atau eksistensi manusia, karena kemampuan ini memberi modal untuk memahami dan memberi nama-makna benda yang ada di dalam kehidupan Selain akal, manusia diberikan potensi kalbu sebagai rujukan dalam membedakan antara perkara salah dan benar. 42 Keberadaan dua potensi ini menyebabkan manusia memiliki daya berpikir secara intelektual dan daya spiritualitas. Dua potensi ini menjadi sebab manusia dapat melakukan perbuatan dengan berdasarkan nilai ilmu dan kebijaksanaan sehingga menghadirkan keadilan dalam kehidupan. Manusia dilahirkan dengan kontrak pribadi berupa perjanjian . yang menentukan tujuan, perbuatan, dan keterikatan dengan Allah Swt. Perjanjian ini mengikat manusia dengan fitrah agama Islam, senantiasa beribadah kepada Allah Swt. , dan melaksanakan Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam. Al-Attas. The Concept of Education in Islam. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Al-Attas. The Concept of Education in Islam. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Al-Attas. The Concept of Education in Islam. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. 76 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2025 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas tanggung jawab dan amanah sebagai khalifah di dunia. Akan tetapi, manusia dibekali potensi negatif berupa sifat pelupa . , sehingga manusia terlena dan melalaikan perjanjiannya dengan Allah Swt. Sifat pelupa ini yang menyebabkan manusia berperilaku zalim, ingkar, dan Perjalanan hidup manusia merupakan pertarungan antara sifat baik dan buruk. Keselamatan hidup manusia ditentukan oleh hasil dari pertarungan ini. Al-Attas menekankan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memformulasikan makna sesuatu, yaitu kemampuan untuk mengenal kedudukan tempat segala sesuatu di dalam Pengenalan manusia yang timbul karena ilmu pengetahuan memberikan pemahaman dan kejelasan hubungan antara suatu materi dengan lainnya. Pengenalan atas dapat terjadi ketika terdapat perbedaan dan hubungan esensial antara suatu benda dengan benda lainnya. Sifat perbedaan dan hubungan tersebut selalu berubah secara signifikan. Ketiadaan perbedaan dan hubungan esensial, maka pengenalan tidak mungkin terjadi dan hakikat makna benda akan menjadi tiada. Hakikat Manusia Beradab Menurut Naquib Al-Attas Naquib Al-Attas. Al-Attas menilai bahwa orientasi pendidikan Islam adalah individu. Individu diletakkan di posisi pertama dalam kerangka pemikiran pendidikan Islam. Menurut Al-Attas, tujuan pendidikan adalah bukan mewujudkan warga negara yang sempurna, tetapi untuk memunculkan manusia paripurna. 46 Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mengupayakan manusia paripurna, manusia yang memiliki kedudukan paling utama sebagaimana kedudukan asalnya saat diciptakan. Oleh sebab itu, pendidikan Islam tidak boleh lalai terhadap tujuannya dalam menanamkan kebaikan dan keadilan ke dalam diri manusia sebagai diri pribadi tidak hanya pada manusia sebagai warga negara. Bagi Al-Attas, menghasilkan manusia yang baik lebih utama daripada menghasilkan warga negara yang baik. Warga negara yang baik belum tentu menjadi manusia yang baik, sebaliknya manusia yang baik akan menjadi warga negara sekaligus seorang pekerja yang 48 Dengan demikian manusia tidak dinilai hanya dari aspek fisik dan jasmani dalam pemaknaan pragmatis dan kegunaan sesuai manfaatnya bagi negara, masyarakat, dan dunia. Penekanan terhadap individu bukan berarti pendidikan Islam mengabaikan pendidikan Pengembangan individu tidak dapat dipisahkan secara sosial dalam cara dan konteks pelaksanaannya. Al-Attas meyakini bahwa pendidikan adalah pembuat struktur Masyarakat yang terdidik hanya akan terbentuk oleh individu-individu yang Masyarakat yang baik tersusun atas individu-individu yang baik. Seorang individu manusia hanya akan menjadi seorang individu jika ia menyadari individualitasnya yang khas dan secara simultan menyadari kebersamaan antara dirinya dengan orang lain yang ada di dekatnya dan di sekitarnya. Al-Attas. Al-Attas. The Concept of Education in Islam. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2. 77 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas Al-Attas mengenalkan konsep manusia beradab sebagai istilah yang tepat bagi manusia yang baik. Predikat AobaikAo dalam pengertian Al-Attas adalah adab yang menyeluruh. Pendidikan Islam memiliki tugas dan kewajiban untuk membentuk orang-orang yang baik dan terpelajar sebagai manusia beradab. Manusia beradab menurut Al-Attas adalah orang dengan penuh kesadaran memahami tanggung jawab individu kepada Allah Swt. yang Hak, memahami hakikat keadilan, dan menjalankan nilai keadilan bagi dirinya, orang lain di dalam kehidupan bermasyarakat, dan senantiasa berupaya meningkatkan setiap unsur di dalam dirinya hingga mencapai kesempurnaan sebagai manusia beradab. Manusia beradab . nsan adab. adalah individu yang sadar sepenuhnya akan individualitasnya dan hubungannya yang tepat dengan diri. Tuhan, masyarakat, dan alam yang tampak maupun yang gaib. Itulah sebabnya, dalam pandangan Islam, manusia atau individu yang baik secara alami harus menjadi hamba yang baik bagi Tuhannya, ayah yang baik bagi anak-anaknya, suami yang baik bagi istrinya, anak yang baik bagi orang tuanya, tetangga yang baik, dan warga negara yang baik. 52 Manusia beradab adalah manusia universal yang memahami dan mengamalkan adab dalam diri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat dunia. Manusia beradab dapat menghadapi dunia yang plural ini dengan sukses tanpa harus kehilangan Berhadapan dengan pelbagai tingkatan realitas, dengan cara yang benar dan tepat, akan mendorongnya meraih kebahagiaan spiritual dan permanen, baik di dunia dan di akhirat. Gambaran di atas menunjukkan betapa besar perhatian Al-Attas terhadap persoalan adab dalam pendidikan Islam. Adab merupakan aspek utama yang tidak boleh dilepaskan dalam pendidikan Islam. Ketiadaan adab dalam pendidikan Islam harus dihindari. Karena ketiadaan adab dalam pendidikan, menurut Al-Attas, akan berakibat munculnya kezaliman, kebodohan, dan kegilaan yang berujung pada dua hal: kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu dan praktik yang menyebabkan rusaknya pengetahuan . orruption of knowledg. , serta munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak layak dalam memikul tanggung jawab yang benar dalam segala bidang. 54 Rusaknya ilmu dan munculnya pemimpin yang tidak layak sebagai akibat hilangnya adab sebagai tujuan pendidikan Islam merupakan dua hal yang saling berkaitan. Hilangnya adab akan menyebabkan hilangnya keadilan dan ilmu yang jernih dalam masyarakat dan umat, kondisi ini akan mendukung munculnya pemimpin-pemimpin palsu dan tidak layak dalam masyarakat yang pada akhirnya akan menimbulkan ketidakadilan. Daod. Daod. Daod. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. Daod. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Al-Attas. Islam Dan Sekulerisme. 78 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. , 2025 Kedudukan Manusia dalam Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Naquib al-Attas SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dari data penelitian yang dilakukan, beberapa kesimpulan dapat diperoleh. Muhammad Naquib Al-Attas menempatkan manusia sebagai salah satu dari tiga istilah kunci dalam memahami hakikat pendidikan Islam. Manusia menjadi penerima ilmu pengetahuan dari proses pendidikan yang dilakukan secara sadar dan terencana. Pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya untuk menanamkan ilmu pengetahuan . gama dan sain. sebagai jamuan atau gizi bagi jasmani-fisik dan roh-jiwa manusia. Muhammad Naquib Al-Attas menempatkan individu sebagai hakikat kunci di dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk individu paripurna dengan istilah manusia beradab. Pendidikan adalah menanamkan adab ke dalam diri manusia, sehingga manusia dapat mengetahu dan memahami hakikat kedudukan setiap eksistensi dengan kebijaksanaan sehingga mewujudkan keadilan dalam tatanan kehidupan. DAFTAR PUSTAKA