Jurnal Ilmiah Sosio Agribis (JISA) Volume 25. Nomor 2 : 441-453 ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . TINGKAT PERSEPSI PETERNAK TERHADAP INSEMINASI BUATAN DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGEMBANGAN PETERNAKAN LOKAL (Studi Kasus Kecamatan Pubian. Lampung Tenga. Livestock Farmers' Perceptions of Artificial Insemination and its Implications for Local Livestock Development (Case Study in Pubian District. Central Lampun. Bayu Eka Wicaksana1*. Ludivica Endang Setijorini2. Diarsi Eka Yani3. Ismail Hasvi4. Irwanto5 1*,2,3,4,5 Program Studi Agribisnis. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Terbuka *Correspondence Author: Bayu Eka Wicaksana Email: bayueka@ecampus. ABSTRACT The increasing national demand for beef is not matched by increased local livestock productivity, making the implementation of reproductive technologies such as Artificial Insemination (AI) crucial. The success of an AI program depends on the perception and acceptance of livestock farmers. This study aims to analyze livestock farmers' perceptions of AI implementation based on three innovation characteristics: relative advantage, suitability, and complexity, and their implications for strengthening livestock programs in Pubian District. Central Lampung Regency. The survey was conducted from March to May 2025, involving 94 purposively selected farmers using AI. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed descriptively and quantitatively. The results indicate that livestock farmers' perceptions are generally positive. The relative advantage . and suitability . scores are high, while the complexity score . is low, indicating that AI is considered profitable, appropriate to needs, and relatively easy to implement. The implications of this study emphasize the importance of improving the quality of AI services, ongoing technical training for livestock farmers, and strengthening farmer group institutions to encourage sustainable AI adoption. Keywords: Adoption of Reproductive Innovation. Socio-Economic Perception. Inseminator Services. Farmer Groups. Central Lampung. ABSTRAK Permintaan daging sapi nasional yang meningkat tidak diimbangi produktivitas ternak lokal, sehingga penerapan teknologi reproduksi seperti Inseminasi Buatan (IB) menjadi krusial. Keberhasilan program IB bergantung pada persepsi dan penerimaan peternak. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi peternak terhadap implementasi IB berdasarkan tiga sifat inovasi: keunggulan relatif, kesesuaian, dan kompleksitas, serta implikasinya bagi penguatan program peternakan di Distrik Pubian. Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian survei dilaksanakan dari Maret hingga Mei 2025 dengan melibatkan 94 petani pengguna IB yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis secara deskriptif-kuantitatif. Hasil menunjukkan persepsi peternak secara umum Nilai skor keunggulan relatif . dan kesesuaian . termasuk tinggi, sedangkan skor kompleksitas . tergolong rendah, yang mengindikasikan bahwa IB dianggap menguntungkan, sesuai dengan kebutuhan, dan relatif mudah diterapkan. Implikasi studi ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan IB, pelatihan teknis berkelanjutan bagi peternak, serta penguatan kelembagaan kelompok tani untuk mendorong adopsi IB yang berkelanjutan. Kata kunci: Penerapan Inovasi Reproduksi. Persepsi Sosial-Ekonomi. Layanan Inseminasi Buatan. Kelompok Petani. Lampung Tengah. PENDAHULUAN Sektor peternakan memiliki peranan penting dalam menyediakan pangan hewani bagi Peningkatan kesadaraan akan pentingnya pangan hewani sebagai pemenuhan Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 441-453 kebutuhan gizi masyarakat mendorong permintaan berbagai produk pangan hewan seperti salah satunya adalah daging sapi (Handayani & Wicaksana, 2. Permintaan terhadap daging sapi terus meningkat setiap tahunnya namun disisi lain produksi daging sapi cenderung mengalami Penurunan produksi daging sapi disebabkan oleh beberapa faktor seperti daya dukung lahan dan minat generasi muda bekerja di sektor peternakan (Margaretno & Wicaksana, 2. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah masih harus melakukan impor daging sapi untuk menjaga kondisi harga dan inflasi tetap stabil. Sapi potong merupakan ikon dari Kabupaten Lampung Tengah. Hal ini dapat dilihat dari 35 persen populasi sapi di Provinsi Lampung dan 70 persen dari usaha penggemukan sapi berada di Kabupaten Lampung Tengah (Habsari & Irwani, 2. Populasi sapi di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 374. 631 ekor dan memiliki potensi besar sebagai sentra peternakan sapi pada skala regional maupun nasional (Slameto & Kiswanto, 2. Potensi ini tentu harus didukung dengan inovasi untuk meningkatkan produktifitas ternak sapi. Kecamatan Pubian merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah yang memiliki potensi dalam pengembangan ternak ruminansia. Menurut Habsari & Irwani . Kecamatan Pubian memiliki keunggulan komparatif sebagai basis pengembangan ternak kerbau, kambing dan sapi. Jumlah usaha peternakan yang paling banyak diusahakan di Kecamatan Pubian pada tahun 2023 adalah sapi potong sebanyak 3. 136 rumah tangga. Proses pemeliharaan ternak sapi potong yang ada di Kecamatan Pubian mayoritas masih menggunakan metode konvensional terutama dalam proses reproduksinya meskipun telah diperkenalkan teknologi Inseminasi Buatan (IB). Menurut Nopianti et al. Inseminasi Buatan (IB) pada sapi potong adalah salah satu upaya yang bertujuan untuk mempercepat peningkatan mutu genetik, produksi dan produktivitas ternak, meningkatkan penyediaan bibit dan bakalan ternak bermutu serta memenuhi daging sapi secara lokal, mencegah penyebaran penyakit reproduksi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak sapi potong. Inseminasi Buatan (IB) adalah sebuah kegiatan perkawinan, mempertemukan antara sel sperma dan sel telur, tidak secara alami yang dilakukan pada ternak betina . nggas dan ruminansi. dengan bantuan manusia (Susilawati. Teknologi inseminasi buatan telah terbukti meningkatkan produktifitas ternak sapi terutama pada proses reproduksi. Inseminasi buatan di Kecamatan Mengwi. Badung. Bali sudah berhasil meningkatkan produktivitas sapi dan dari faktor peternak yang berpengaruh terhadap keberhasilan inseminasi buatan adalah faktor inseminator (Fania et al. , 2. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan mencapai 100% (Mahyun et al. , 2. Penerapan teknologi inseminasi buatan belum secara menyeluruh digunakan oleh para peternak di Kecamatan Pubian meskipun nilai manfaat dari inseminasi buatan telah banyak terbukti meningkatkan produktivitas mutu reproduksi ternak betina. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan penerimaan peternak. Kesenjangan tersebut erat kaitannya dengan persepsi peternak terhadap karakteristik inovasi IB. Pengambilan keputusan peternak dalam menggunakan teknologi inseminasi buatan sangat dipengaruhi oleh persepsi peternak terhadap karakteristik inovasi. Mengacu pada Diffusion of Innovation Theory (Rogers, 2. (Abdullah et al. , 2. , penerimaan inovasi teknologi ditentukan oleh beberapa dimensi utama yaitu relative advantage . eunggulan relati. , compatibility . , dan complexity . yang akan mempengaruhi tingkat persepsi, penerimaan, dan keputusan adopsi Persepsi adalah penerimaan suatu informasi atau stimulus yang berasal dari lingkungan eksternal yang kemudian diubah kedalam kesadaran psikologi yang diwujudkan dalam bentuk tindakan dari respon tersebut (Kusumastuti & Septianai, 2. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi peternak terhadap penerapan teknologi inseminasi buatan pada ternak sapi di Kecamatan Pubian. Lampung Tengah. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja . dengan pertimbangan bahwa lokasi JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Bayu Eka Wicaksana, dkk Ae Tingkat Persepsi Peternak Terhadap Inseminasi Buatan dan . penelitian merupakan daerah prioritas pengembangan sentra peternakan sapi potong di Lampung Tengah. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu dari Maret 2025 sampai dengan Mei Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peternak sapi di Kecamatan Pubian yang telah menggunakan inseminasi buatan (IB) dalam usaha ternaknya. Responden ditentukan dengan menggunakan pendekatan purposive sampling pada dua kelompok tani ternak yaitu kelompok tani ternak Mugi Rahayu dan kelompok tani Makmur. Pemilihan dua kelompok tani ternak tersebut didasarkan karena keduanya telah secara konsisten menerapkan program IB selama 3 Pemilihan responden dilakukan dengan mengambil seluruh peternak pada kedua Kelompok Tani tersebut yakni sebanyak 94 peternak. Data yang diperoleh tersebut selanjutnya akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS dan Microsoft Excel. Jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data Data primer merupakan data yang diambil dari hasil observasi secara langsung pada para peternak sapi di Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah. Data sekunder merupakan data pendukung yang digunakan dalam membantu analisis terhadap pengukuran tingkat persepsi peternak terhadap Inovasi Inseminasi Buatan (IB). Data sekunder pada penelitian ini meliputi data karakteristik lokasi penelitian, publikasi resmi pemerintah, artikel ilmiah, jurnal atau hasil penelitian terdahulu dan arsip yang dimiliki oleh peternak. Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantiatif dengan metode survei yaitu melakukan observasi langsung di lapangan dalam bentuk wawancara untuk menganalisis persepsi peternak. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan dan disusun sesuai dengan tujuan penelitian. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah persepsi peternak terhadap penerapan inseminasi buatan. Pengukuran persepi peternak terhadap penerapan inseminasi buatan dilakukan dengan pengukuran variabel berdasarkan karakteristik suatu teknologi atau sifat inovasi yang meliputi 3 . kriteria yaitu relative advantage, compatibility, dan complexity. Variabel tersebut dijabarkan menjadi indikator yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan kuesioner Pengukuran indikator dilakukan dengan menggunakan skala likert. Jawaban antar item pertanyaan yang menggunakan skala likert memiliki gradasi dari Sangat Setuju (SS = skor . sampai dengan Sangat Tidak Setuju (STS = skor . Adapun variabel operasional untuk mengukur persepsi peternak terhadap penerapan inseminasi buatan ditunjukkan pada tabel berikut ini. Tabel 1. Variabel Operasional Pengukuran Persepsi Peternak terhadap penerapan Inseminasi Buatan Aspek Item Pernyataan SS S R TS STS Relative Inseminasi buatan aman bagi ternak . encegah 5 4 3 Advantage Inseminasi buatan mempermudah peternak 5 4 3 terutama dalam proses reproduksi ternak Inseminasi buatan hemat biaya pemeliharaan 5 4 3 Inseminasi buatan meningkatkan produktivitas 5 4 3 Harga jual pedet hasil IB relatif lebih tinggi 5 4 3 Compatibility Tekonologi IB sesuai dengan manajemen produksi 5 4 3 Teknologi IB sesuai dengan kebutuhan 5 4 3 Teknologi IB sesuai dengan nilai dan norma yang 5 4 3 Complexity Teknologi IB mudah dipelajari 5 4 3 Teknologi IB mudah diterima 5 4 3 JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Keterangan: : Sangat Setuju : Setuju : Ragu-Ragu : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 441-453 Metode Analisis Data Untuk mengukur ketepatan kuesioner dalam penelitian ini maka dilakukan uji instrumen melalui uji validitas dan uji reliabilitas. Menurut Irsa et al. , nilai validitas dikatakan baik atau valid apabila nilai corrected item dari total correlation bernilai diatas 0,2. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan alat Statistical Package for Social Science (SPSS) dengan kriteria penilaian instrumen atau item pertanyaan memiliki korelasi signifikasi terhadap skor total dan dinyatakan valid dengan taraf signifikansi 5%. Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana instrumen yang digunakan dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Uji Reliabilitas pada penelitian ini menggunakan nilai CronbachAos alpha dengan kriteria penilaian instrumen dikatakan reliabel apabila nilai CronbachAos alpha di atas 0,70 dan semakin mendekati angka 1 (Wulandari et al. , 2. Analisis data mengenai persepsi peternak sapi terhadap inovasi Inseminasi Buatan diukur dengan menggunakan Model Perhitungan Interval Kelas (Talibo et al. , dengan perhitungan sebagai berikut: ycyeayeiyeIyeeyeyeCyes yeUyeIyesyeCyei = yeayeOyesyeCyeO yeiyeUyeayee yeiyeIyeeyeiyeOyeayeOyeOyeO Oe yeayeOyesyeCyeO yeiyeUyeayee yeiyeIyeeyeIyeayeIyeCyeO yeEyeCyeayeoyeCyeUyeayeoyeC yeUyeIyesyeCyei Berdasarkan model perhitungan interval kelas tersebut maka didapatkan interval kelas untuk setiap variabel yang ditunjukkan sebagai berikut: Tabel 2. Interval Kelas Persepsi Peternak terhadap Penerapan Inseminasi Buatan Variabel Interval Kelas Relative Advantage Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Compatibility Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Complexity Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Rentang Skor 350 Ae 1. 974 Ae 1. 598 Ae 1. 222 Ae 847 846 Ae 470 410 Ae 1. 184 Ae 959 958 Ae 733 732 Ae 508 507 Ae 282 940 Ae 790 789 Ae 639 638 Ae 489 488 Ae 339 338 - 188 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peternak Sapi di Kecamatan Pubian Karakteristik peternak sapi pada daerah penelitian diperoleh dari hasil observasi lapangan yang mencakup beberapa aspek, antara lain umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, pengalaman beternak, jumlah kepemilikan ternak dan pendapatan rata-rata. Identifikasi karakteristik peternak ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi sosial ekonomi di daerah penelitian. Adapun karakteristik peternak dapat disajikan pada tabel berikut. Berdasarkan data pada tabel 3 di bawah ini, dapat diketahui bahwa umur peternak di daerah penelitian mayoritas berada pada rentang usia 40 Ae 59 tahun dengan persentase sebesar 75,54%. Secara rinci, 40,43 persen berada pada kelompok usia 50 Ae 59 tahun, sedangkan 35,11 persen berada pada kelompok usia 40 Ae 49 tahun. Pada penelitian Hidayah et al. , menyatakan bahwa peternak pada rentang umur rata-rata antara 25 sampai dengan 40 tahun mempunyai JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Bayu Eka Wicaksana, dkk Ae Tingkat Persepsi Peternak Terhadap Inseminasi Buatan dan . tingkat keberhasilan adposi inovasi lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih Hal ini mengindikasikan bahwa profil responden peternak di Kecamatan Pubian memiliki tingkat adopsi inovasi yang cenderung lambat, karena dominasi peternak berada pada kelompok umur menengah hingga lanjut . Ae 59 tahu. Oleh karena itu, peran penyuluh, inventor dan ketua kelompok tani menjadi sangat penting dalam meningkatkan kepercayaan dan memberikan jaminan keberlanjutan terhadap inovasi yang diperkenalkan. Tabel 3. Profil Peternak Sapi Potong Pengguna Inseminasi Buatan di Kecamatan Pubian Karakteristik Peternak Jumlah (Oran. Persentase (%) Umur . 30 Ae 39 7,45 40 Ae 49 35,11 50 Ae 59 40,43 60 Ae 69 17,02 Jumlah 100,00 Tingkat Pendidikan 24,47 SMP 47,87 SMA 27,66 Jumlah 100,00 Pekerjaan Petani 68,09 Swasta 22,34 Wiraswasta 9,57 Jumlah 100,00 Pengalaman Ternak . 25,53 5 Ae 10 46,81 > 10 27,66 Jumlah 100,00 Jumlah Kepemilikan Ternak (Eko. 1Ae5 94,68 6 Ae 10 3,19 > 10 2,13 Jumlah 100,00 Pendapatan Rata-Rata (R. 000 Ae 1. 68,09 000 Ae 3. 29,79 > 3. 2,13 Jumlah 100,00 Sumber: Data Primer setelah diolah, 2025 Karakteristik tingkat pendidikan responden penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak hanya menempuh pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan persentase sebesar 47,87%, serta tidak terdapat responden yang telah mencapai jenjang pendidikan tinggi diploma maupun sarjana. Kondisi ini mengindikasikan bahwa secara umum tingkat pendidikan peternak di wilayah penelitian masih tergolong rendah. Menurut temuan Lamarang et al. dan Elisa & Wicaksana . tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pola pikir, kapasitas analisis, dan kualitas pengambilan keputusan dalam usaha peternakan. Peternak dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menimbang risiko, merencanakan strategi usaha, dan memilih alternatif yang paling Rendahnya tingkat pendidikan peternak di Kecamatan Pubian memiliki potensi sebagai faktor penghambat dalam proses adopsi inovasi sehingga perlu dilakukan upaya-upaya melalui peningkatan intensitas penyuluhan, pelatihan teknis, serta peran aktif lembaga pendukung yang berfungsi sebagai sumber informasi dalam pembelajaran non-formal seperti Kelompok Tani dan Balai Penyuluhan Pertanian. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 441-453 Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden di wilayah penelitian mayoritas berprofesi utama sebagai petani dengan persentase sebesar 68,09%. Aktivitas peternakan umumnya dilakukan sebagai usaha sampingan yang dikerjakan berdampingan dengan kegiatan Strategi ini menggambarkan strategi ekonomi rumah tangga petani mendiversifikasi usaha dan sebagai penyangga ketika menghadapi kebutuhan yang mendesak. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hasan et al. , . usaha peternakan memiliki multiperan bagi peternakan Ternak tidak hanya diposisikan sebagai penghasil produk pangan tetapi juga berperan sebagai sumber tenaga kerja, sumber pupuk kandang, serta tabungan yang memberikan rasa aman ketika menghadapi musim paceklik (WalAoalfrit Gulo & Basri, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman beternak responden di wilayah penelitian cukup bervariasi. Sebagian besar peternak memiliki pengalaman beternak 5 Ae 10 tahun dengan presentase 46,81%, sementara 27,66% memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun, dan 25,53% memiliki pengalaman kurang dari atau sama dengan 5 tahun. Variasi ini menggambarkan adanya distribusi pengalaman yang relatif seimbang antara peternak pemula, menengah, dan Secara teoritis, pengalaman beternak memiliki pengaruh terhadap keberhasilan usaha peternakan karena semakin lama masyarakat peternak menjalankan usaha peternakan maka semakin besar peluang untuk belajar dari pengalaman sebelumnya. Hal ini mendorong peternak menjadi lebih adaptif terhadap perubahan, termasuk dalam penerapan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha, baik pada level individu maupun Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Hidayat et al. , yang menjelaskan bahwa semakin lama pengalaman masyarakat dalam beternak, semakin tinggi kepekaan peternak terhadap kondisi ternak, baik dalam aspek kesehatan maupun deteksi birahi. Tingkat kepekaan tersebut mendorong peternak untuk mengaplikasikan teknologi inseminasi buatan untuk memperoleh bibit yang berkualitas di masa mendatang. Kepemilikan ternak dalam penelitian ini diartikan sebagai jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usaha peternakan di wilayah penelitian masih tergolong berskala kecil. Hal ini ditunjukkan oleh mayoritas responden yang memiliki ternak sapi sebanyak 1 Ae 5 ekor dengan presentase mencapai 94,68%. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa struktur usaha ternak di daerah penelitian cenderung berada dalam kategori peternakan rakyat dengan karakteristik skala kepemilikan yang terbatas. Temuan ini sejalan dengan Hasan et al. , . yang menyatakan bahwa sebagian besar peternakan di Indonesia merupakan peternakan rakyat. Peternakan rakyat umumnya dicirikan oleh kepemilikan ternak dalam jumlah kecil . Ae 5 eko. , pengelolaan yang masih tradisional, serta sifat usaha yang lebih sebagai kegiatan sampingan dari usaha tani utama (Hasan et al. , 2022. Menurut Martha et al. , . pendapatan rumah tangga peternak dapat dikategorikan ke dalam tiga sumber utama yaitu pendapatan on-farm, off-farm dan non-farm. Peternak sapi tidak hanya memperoleh pendapatan dari usaha peternakan, tetapi juga dari aktivitas lain seperti kegiatan usaha tani sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pendapatan peternak responden berada pada rentang Rp. 000,00 hingga Rp. 000,00 per bulan dengan persentase sebesar 68,09%. Tingkat pendapatan tergolong rendah apabila dibandingkan dengan klasifikasi tingkat pendapatan menurut Statistik . Kondisi ini mengindikasikan bahwa usaha peternakan sapi di wilayah penelitian belum mampu menjadi sumber pendapatan utama yang signifikan, melainkan berfungsi sebagai tambahan pendapatan rumah tangga. Rendahnya tingkat pendapatan ini juga mencerminkan terbatasnya skala usaha dan rendahnya produktivitas Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Untuk mendapatkan keabsahan suatu instrumen makan dilakukan uji validitas terhadap Uji validitas menggunakan nilai Pearson Correlation pada tingkat signifikansi 5% dengan menggunakan SPSS. Hasil uji validitas ditunjukkan pada tabel berikut ini. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Bayu Eka Wicaksana, dkk Ae Tingkat Persepsi Peternak Terhadap Inseminasi Buatan dan . Tabel 4. Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Pertanyaan Nilai Pearson Correlation Keterangan Compatibility (X. 0,455 Valid 0,416 Valid 0,460 Valid Complexity (X. 0,261 Valid 0,994 Valid Relative Advantage (X. RA 1 0,347 Valid RA 2 0,417 Valid RA 3 0,442 Valid RA 4 0,994 Valid RA 5 0,452 Valid Sumber: Data Primer setelah diolah, 2025 Hasil uji validitas menunjukkan bahwa setiap pertanyaan pada seluruh variabel dinyatakan baik atau valid. Hasil nilai Pearson Correlation pada setiap pertanyaan menunjukkan nilai di atas 0,2 pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil uji validitas tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan dapat dilakukan analisis lebih lanjut. Uji reliabilitas yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan nilai CronbachAos Alpha. Hasil uji reliabilitas dapat ditunjukkan pada gambar berikut ini. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Berdasarkan nilai CronbachAos Alpha instrumen penelitian menunjukkan nilai 0,749 atau lebih besar dari 0,70. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipercaya dan layak digunakan untuk mengukur setiap variabel penelitian secara konsisten, sehingga hasil analisis yang diperoleh akan lebih akurat. Persepsi Peternak Terhadap Penerapan Inseminasi Buatan (IB) Persepsi peternak terhadap penerapan Inseminasi Buatan (IB) di Kecamatan Pubian diukur berdasarkan karakteristik atau sifat teknologi yang meliputi 3 aspek yaitu: Relative Advantage. Compatibility, dan Complexity. Relative Advantage Teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam aspek relative advantage . euntungan relati. dapat memberikan keuntungan dalam sisi keuntungan ekonomi dan keuntungan teknis. Persepsi peternak Kecamatan Pubian terhadap penerapan inseminasi buatan berdasarkan aspek relative advantage dapat ditunjukkan pada tabel 5 di halaman berikutnya. Hasil penelitian persepsi peternak terhadap aspek relative advantage berdasarkan tabel 5 menunjukkan total skor 1. 863, dan pada gambar 1 termasuk dalam kategori AusetujuAy. Responden menilai bahwa IB memberikan manfaat baik secara teknis maupun ekonomis. Butir dengan skor tertinggi adalah pernyataan Auharga jual pedet hasil IB relatif lebih tinggiAy dengan presentase jawaban setuju dan sangat setuju mencapi 81,91%, sedangkan skor terendah terdapat pada butir AuIB mempermudah proses reproduksi ternakAy dengan presentase jawaban setuju dan sangat setuju mencapai 73,51%. Pada aspek relative advantage, mayoritas peternak menyatakan bahwa IB mampu meningkatkan kualitas bibit dan nilai jual pedet, tetapi sebagian masih menilai prosesnya lebih rumit dibandingkan kawin alami. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Gunawan et al. yang menyatakan bahwa teknologi IB memiliki potensi peningkatan produktivitas sapi dan kualitas genetik seperti yang dilaksanakan di Nusa Tengara Barat. Namun adopsi IB menghadapi tantangan yang signifikan terkait dengan keterbatasan akses layanan IB dan tenaga kerja Pada program Sapi dan Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN), efektifitas IB terkait erat dengan ketersediaan dan keahlian inseminator, serta aksesibilitas layanan IB ke daerah terpencil (Widiyaningsih et al. , 2023. Selain itu, biaya tambahan dan risiko kegagalan inseminasi pertama sering kali menurunkan persepsi peternak terhadap keuntungan JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 441-453 relatif teknologi ini. Berdasarkan kondisi daerah peternakan di Kecamatan Pubian, persepsi ini dapat dipengaruhi oleh topografi daerah yang berbukit sehingga mobilitas petugas dan ketersediaan layanan IB belum optimal di semua desa. Tabel 5. Persepsi Peternak terhadap Penerapan Inseminasi Buatan (IB) Berdasarkan Aspek Relative Advantage No. Pertanyaan Skor Jumlah (Responde. Bobot Presentase (%) Keuntungan Teknis 1 (STS) 5,32 2 (TS) 9,57 Inseminasi Buatan Aman Bagi 3 (R) 9,57 Ternak (Mencegah Inbreedin. 4 (S) 40,43 5 (SS) 35,11 Jumlah 100,00 1 (STS) 7,45 2 (TS) 9,57 Inseminasi Buatan Mempermudah 3 (R) 9,57 Peternak Terutama Dalam Proses 4 (S) 40,43 Reproduksi Ternak 5 (SS) 32,98 Jumlah 100,00 Keuntungan Ekonomi 1 (STS) 5,56 2 (TS) 2,13 Inseminasi Buatan Hemat Biaya 3 (R) 12,96 Pemeliharaan Pejantan 4 (S) 47,87 5 (SS) 31,48 Jumlah 100,00 1 (STS) 6,38 2 (TS) 4,26 Inseminasi Buatan Meningkatkan 3 (R) 12,77 Produktivitas Peternak 4 (S) 40,43 5 (SS) 36,17 Jumlah 100,00 1 (STS) 3,19 2 (TS) 5,32 Harga Jual Pedet Hasil IB Relatif 3 (R) 9,57 Lebih Tinggi 4 (S) 36,17 5 (SS) 45,74 Jumlah 100,00 Total Sumber: Data Primer setelah diolah, 2025 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Ragu Ragu Setuju Sangat Setuju Gambar 2. Skala Interval Persepsi Peternak terhadap Penerapan IB berdasarkan aspek Relative Advantage Compatibility Compatibility dalam teori adposi diartikan sebagai sejauh mana inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan oleh calon pengadopsi. Persepsi peternak Kecamatan Pubian terhadap penerapan inseminasi buatan berdasarkan aspek compatibility dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Bayu Eka Wicaksana, dkk Ae Tingkat Persepsi Peternak Terhadap Inseminasi Buatan dan . Tabel 6. Persepsi Peternak Terhadap Penerapan Inseminasi Buatan (IB) berdasarkan Aspek Compatibility Jumlah Presentase No Pertanyaan Skor Bobot Responden (%) 1 (STS) 3 3,19 2 (TS) 5,32 Tekonologi IB sesuai dengan 3 (R) 13,83 manajemen produksi ternak 4 (S) 34,04 5 (SS) 43,62 Jumlah 94 100,00 1 (STS) 2 (TS) 3 (R) 7,45 Teknologi IB sesuai dengan kebutuhan 4 (S) 44,68 5 (SS) 47,87 Jumlah 94 100,00 1 (STS) 3 3,19 2 (TS) 5,32 Teknologi IB sesuai dengan nilai dan 3 (R) 9,57 norma yang berlaku 4 (S) 32,98 5 (SS) 48,94 Jumlah 94 100,00 Total Sumber: Data Primer setelah diolah, 2025 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Ragu Ragu Setuju Sangat Setuju Gambar 3. Skala Interval Persepsi Peternak terhadap Penerapan IB berdasarkan aspek Compatibility Pada aspek compatibility, total skor sebesar 1. 193 termasuk dalam kategori Ausangat setujuAy. Hal ini menunjukkan bahwa peternak menganggap program IB selaras dengan praktik peternakan yang telah mereka lakukan. Mayoritas responden menyatakan bahwa teknologi IB sesuai dengan kebutuhan mereka dengan persentase 92,55% dan selaras dengan nilai serta norma sosial setempat dengan persentase 81,92%. Hasil ini memperlihatkan bahwa inovasi IB telah diterima secara sosial dan dinilai relevan dengan kondisi usaha ternak lokal. Hal ini sesuai dengan teori difusi inovasi yang menyatakan bahwa penyelarasan inovasi dengan nilai-nilai, norma, dan pengalaman masa lalu secara signifikan dapat mempercepat proses adopsi. Hal ini sesuai dengan temuan Sugiarto & Cahyo . , yang menyatakan peran penting modal sosial yang terdiri dari kepercayaan, jejaring sosial, norma dan hubungan antarpribadi mampu meningkatkan dinamika kelompok dan memfasilitasi adopsi inovasi. Dukungan sosial dari kelompok petani dan hubungan antara petani dan inseminator di Indonesia secara signifikan memperkuat persepsi kesesuaian, sebagaimana dibuktikan oleh peran modal sosial dalam berbagai konteks pertanian. Kelompok petani, seperti yang dipelajari di BPWU dan Kebumen Ongole Peternak Persilangan, memanfaatkan jejaring sosial, kepercayaan, dan norma untuk meningkatkan dinamika dan produktivitas kelompok, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa kesesuaian di antara anggota (Rustinsyah, 2. (Sugiarto & Cahyo, 2025. Oleh karena itu, keterlibatan kelembagaan lokal seperti kelompok ternak Mugi Rahayu dan Makmur menjadi faktor penting dalam memperkuat kompatibilitas sosial IB di Kecamatan Pubian. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 441-453 Complexity Complexity adalah tingkat kerumitan dari suatu inovasi untuk diterapkan dalam suatu lingkungan, seberapa sulit untuk memahami dan menggunakan. Persepsi peternak Kecamatan Pubian terhadap penerapan inseminasi berdasarkan aspek complexity dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini. Tabel 7. Persepsi Peternak terhadap Penerapan Inseminasi Buatan (IB) Berdasarkan Aspek Complexity No Pertanyaan Skor Jumlah Responden Bobot Presentase (%) 1 (STS) 3 3,19 2 (TS) 5,32 3 (R) 9,57 Teknologi IB mudah dipelajari 4 (S) 37,23 5 (SS) 44,68 Jumlah 94 100,00 1 (STS) 2 (TS) 3 (R) 7,45 Teknologi IB mudah diterima 4 (S) 36,17 5 (SS) 56,38 Jumlah 94 100,00 Total Sumber: Data Primer setelah diolah, 2025 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Ragu Ragu Setuju Sangat Setuju Gambar 4. Skala Interval Persepsi Peternak terhadap Penerapan IB berdasarkan aspek Complexity. Aspek complexity menunjukkan persepsi positif dengan memperoleh total skor 812 dan berada pada kategori Ausangat setujuAy. Sebagian besar peternak menilai bahwa teknologi IB mudah dipelajari dengan persentase 81,91% dan mudah diterima dengan persentase 92,55%. Persepi complexity dalam layanan inseminasi buatan sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi dan intensitas interaksi antara petugas dan peternak. Hasil dari temuan Kusumaningrum . menyatakan bahwa keberhasilan program IB bergantung pada komunikasi dan pelatihan yang Persepsi complexity juga dibentuk oleh pemahaman peternak dan adopsi inovasi IB, seperti yang terlihat dalam program SIKOMANDAN, di mana preferensi peternak untuk teknologi IB dinilai sangat tinggi, menunjukkan bahwa komunikasi dan pelatihan yang efektif dapat meningkatkan kemudahaan yang dirasakan dan tingkat adopsi (Ardiansyah et al. , 2. Dalam penelitian ini, persepsi positif terhadap kemudahan proses menunjukkan bahwa keberadaan tenaga inseminator di Kecamatan Pubian telah membantu peternak mengatasi hambatan teknis awal. Hal ini sesuai dengan temuan Widiyaningsih et al. , . , peran inseminator sangat penting, karena pengalaman dan ketelitian prosedural mereka secara signifikan berdampak pada keberhasilan IB, sehingga mempengaruhi persepsi peternak tentang kemudahaan dan penerimaan teknologi IB. Namun, sekitar 18,08% responden masih merasa perlu bimbingan lanjutan, menandakan bahwa peningkatan kapasitas penyuluh lapangan tetap menjadi kebutuhan utama. Implikasi dan Kebijakan Pengembangan Peternakan Lokal Hasil penelitian ini memiliki implikasi strategis bagi pemerintah daerah dan lembaga pendukung peternakan. Peningkatan persepsi positif peternak terhadap IB dapat dilakukan melalui: . peningkatan kualitas layanan inseminator dengan menyediakan pelatihan teknis . penguatan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi manfaat IB berbasis kelompok tani. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Bayu Eka Wicaksana, dkk Ae Tingkat Persepsi Peternak Terhadap Inseminasi Buatan dan . dukungan kelembagaan dan insentif bagi peternak yang rutin menggunakan IB. Efektivitas program inovasi peternakan bergantung pada komunikasi partisipatif antara petugas dan peternak, sehingga pendekatan berbasis komunitas menjadi langkah yang paling relevan untuk kondisi peternakan pada Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi peternak sapi potong di Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah terhadap program inseminasi buatan (IB) umumnya positif, dengan skor relative advantage sebesar 1. 863 dengan kategori setuju, skor compatibility sebesar 1. dengan kategori sangat setuju dan skor complexity sebesar 812 dengan katrgori sangat setuju. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa aspek compatibility dan complexity merupakan aspek persepsi yang paling kuat, karena IB dinilai sesuai dengan kebutuhan, praktik pemeliharaan, serta nilai sosial yang berlaku, sekaligus dianggap mudah dipahami dan diterapkan oleh peternak. Pada aspek relative advantage meskipun termasuk dalam kategori positif namun masih menyisakan ruang perbaikan, terutama terkait persepsi kemudahan proses reproduksi dan ketergantungan terhadap layanan. Kontribusi penelitian ini adalah penyajian bukti empiris lokal mengenai aspek sosial-ekonomi adopsi IB di Kecamatan Pubian, yang melengkapi kajian teknis sebelumnya. Untuk merealisasikan manfaat IB. Dinas Peternakan kabupaten dan penyuluh disarankan memperkuat layanan lapangan, meningkatkan pelatihan teknis bagi peternak, dan mengokohkan peran kelompok tani. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk dapat memasukkan peternak non-pengguna IB untuk mengindetifikasi faktor penghambat adopsi secara lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA