Gorontalo Development Review https://jurnal. id/index. php/gdrev Vol 8. No 2. Oktober Tahun 2025 P-ISSN : 2614-5170. E- ISSN :2615-1375 Nationally Accredited Journal. Decree No. 225/E/KPT/2022 Analisis Pengaruh Rata-Rata Lama Sekolah. Pertumbuhan Ekonomi. Upah Minimum Regional, dan Gender Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Kepulauan Riau An Analysis of Determinants of Open Unemployment in Riau Islands: Schooling. Growth. Minimum Wages. Gender Fibi Nur Okluanty . Arief Bachtiar Program Studi Ekonomi Pembangunan. Universitas Pembangunan AuVeteranAy Jawa Timur/Jl. Rungkut Madya. Gn. Anyar. Kec. Gn. Anyar. Surabaya. Jawa Timur/Indonesia Email 121011010028@student. id, 2ariefbachtiar@upnjatim. Article info Article history: Received. 09-08-2025 Revised. 18-09-2025 Accepted. 04-10-2025 Abstract. This Study aims to analyze the effect of mean years of school, economic growth, regional minimum wage, and gender on the open unemployment rate in the Riau Islands Province. The research uses panel data from 7 regencies/cities during the period 2019 to 2024 obtainded from publications of Statistics Indonesia. The results indicate that mean years of school and economic growth have a significant negative effect on the open unemployment rate, the regional minimum wage has no significant effect, while gender has a significant positive These findings highlight the improvements in educational attainment and economic growth can reduce the open unemployments rate, whereas the increasing participation of female labor needs to be balanced with inclusive job creation policies to prevent a rice in Abstrak. Kajian ini bertujuan meneltii hubungan antara rata-rata lama sekolah, pertumbuhan ekonomi, upah minimum regional, dan gender terhadap tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Kepulauan Riau. Kajian memanfaatkan data panel yang mencakup 7 kabupaten/kota selama rentan waktu 2019 hingga 2024 yang seluruhnya bersumber dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik. Temuan penelitian mengindikasi bahwa rata-rata lama sekolah serta pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Sementara itu, upah minimum regional tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, sedangkan gender berpengaruh positif Temuan ini menegaskan bahwa pengingkatan kualitas pendidikan yang lebih baik dan tumbuhnya ekonomi yang stabil berkontribusi menekan tingkat pengangguran terbuka, sementara peran serta tenaga kerja perempuan yang terus meningkat perlu diimbangi dengan kebijakan penciptaan lapangan kerja yang inklusif agar tidak memicu peningkatan pengangguran. Keywords: Mean years of school. economic growth. regional minimum unemployment rate Coresponden author: Email: ariefbachtiar@upnjatim. Pendahuluan Pengangguran masih menjadi permasalahan ketenagakerjaan yang sering kali sebagai indikator krusial dalam menilai keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan tenaga kerja suatu wilayah. Tingginya pengangguran tidak semata mata mencerminkan ketidakefisienan perekonomian tetapi juga membawa konsekuensi sosial seperti penurunan daya beli, bertambahnya beban fiskal, dan meningkatnya potensi masalah sosial (Todaro & Smith, 2. Provinsi Kepulauan Riau memiliki karakteristik geografis yang unik dan ekonomi yang khas sebagai wilayah kepulauan strategis terletak di jalur perdagangan internasional Selat Malaka. Struktur perekonomiannya bertumpu pada industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, dan jasa maritim yang menjadikannya salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di luar Jawa (BPS Kepri, 2. Namun keunggulan ini juga dibarengi tantangan ketenagakerjaan yang kompleks. Arus migrasi masuk yang tinggi terutama menuju Kota Batam dan Tanjungpinang menyebabkan pertumbuhan angkatan kerja lebih cepat. Kesenjangan antarwilayah baik dalam hal infrastruktur, investasi, maupun akses pendidikan memperlebar perbedaan tingkat penyerapan tenaga kerja antar kabupaten/kota. Sementara itu, keterbatasan diversifikasi ekonomi di beberapa daerah seperti Natuna. Lingga, dan Kepulauan Anambas yang masih bergantung pada sektor primer membuat pasar tenaga kerja lokal rentan terhadap fluktuasi musiman dan guncangan eksternal. Permasalahan pengangguran di Provinsi Kepulauan Riau tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusianya yang tercermin melalui tingkat pendidikan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) menjadi salah satu tolak ukur yang menggambarkan pencapaian pendidikan formal ditempuh penduduk. Berdasarkan pandangan teori human capital, semakin lama seseorang menempuh pendidikan semakin besar keterampilan dan kompetensi yang dimiliki sehingga peluang untuk terserap dipasar tenaga kerja juga meningkat (Becker, 1. Dalam Provinsi Kepulauan Riau, disparitas RLS antar wilayah berperan dalam menciptakan kesenjangan serapan tenaga kerja. Kota-kota dengan capaian RLS lebih tinggi seperti Batam dan Tanjungpinang cenderung memiliki akses yang lebih luas terhadap pekerjaan disektor industri maupun jasa. Sebaliknya daerah dengan RLS lebih rendah Kabupaten Lingga dan Kepulauan Anambas menghadapi keterbatasan akses kerja sesuai kualifikasi yang dimiliki (BPS Kepri, 2. Pengaruh pendidikan terhadap pengangguran di Kepulauan Riau tidak dapat dilepaskan dari dinamika pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menjadi faktor penting yang menentukan penyrapan tenaga kerja. Peningkatan output perekonomian akan diikuti oleh peningkatan permintaan tenaga kerja sehingga pengangguran dapat ditekan (Keynes, 1. Didaerah dengan sektor industri dan jasa yang berkembang pesat seperti Batam mempercepat pertumbuhan ekonomi yang kerap mendorong terbukanya lapangan kerja baru. Meskipun demikian pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Batam belum sepenuhnya menekan pengangguran di daerah lain akibat ketimpangan struktur ekonomi antarwilayah. Temuan (MuAominin & Yaqin, 2. memperkuat hal ini dengan menemukan bahwa sektor unggulan di Kepulauan Riau berperan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif yang berdampak postif terhadap penyerapan tenaga kerja. Sejalan dengan hasil (Baihawafi & Sebayang, 2. yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kualitas pembangunan manusia (IPM) berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat pengangguran, penelitian (Simbolon et al. , 2. juga menemukan bahwa peningkatan IPM mampu menekan pengangguran terbuka di Indonesia. Namun, berbeda dengan penelitian (MuAominin & Yaqin, 2. yang menekankan peran sektor unggulan dalam mendorong pertumbuhan inklusif. Simbolon et al. justru menunjukkan bahwa upah minimum provinsi (UMP) dan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berpengaruh positif terhadap pengangguran. Hal ini menandakan adanya perbedaan konteks struktural antarwilayah dalam mekanisme penyerapan tenaga Tingkat pengangguran di Kepulauan Riau erat kaitannya dengan kebijakan upah minimum. Upah Minimum Regional (UMR) berperan sebagai acuan bagi pengusaha dalam menetapkan gaji terendah bagi pekerja. Sehingga pada gilirannya dapat mempengaruhi keputusan perekrutan tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja ditentukan besar kecilnya upah oleh pemerintah. Ketika terjadi kenaikan pada tingkat upah tenaga kerja yang diminta akan turun (Habibi & Marta, 2. Upah nomila cenderung sulit menyesuaikan secara cepat terhadap perubahan kondisi ekonomi akibat adanya kontrak kerja, regulasi pemerintah dan peran serikat pekerja (Mankiw, 2. Selain kebijakan upah, faktor gender juga memegang peranan penting dalam dinamika ketnagakerjaan dan pengangguran di Provinsi Kepulauan Riau. Provinsi Riau menghadapi tantangan dalam distribusi tenaga kerja usia produktif yang tidak merata. Variasi yang signifikan terjadi karena perbedaan kondisi geografis dan tingkat perkembangan ekonomi antar wilayah. Tingginya penduduk perempuan usia produktif terutama di wilayah dengan pertumbuhan ekonomi cepat memunculkan tantangan tersendiri dalam penciptaan lapangan kerja inklusif gender (Putri et al. , 2. Ketidakseimbangan ini berpotensi menimbulkantekanan pada pasar tenaga kerja diwilayah yang padat dan memperlebar kesenjangan oembangunan antar daerah. Oleh karenanya, diperlukan kebijakan yang mampu menyesuaikan kebutuhan spesfik masing wilayah guna mendorong pemerataan kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahtenaan tenaga kerja perempuan (BPS. Penelitian ini dilakukan guna mengkaji pengaruh hubungan rata-rata lama sekolah (RLS), pertumbuhan ekonomi. Upah Minimum Regional (UMR), dan gender terhadap tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Kepulauan Riau pada periode 2019 Ae 2024. Melalui pendektan analisis data panel dan mempertimbangkan variabel kontrol sosial-ekonomi yang relevan, studi ini diharap mampu memberi masukan bagi perumusan kebijakan bidang ketenagakerjaan yang lebih efektif serta inklusif dalam upaya menekan pengangguran terbuka. Metode Penelitian Studi menerapkan pendekatan kunatitatif deskriptif melalui analisis regresi datta panel untuk menilai pengaruh Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), pertumbuhan ekonomi. Upah Minimum Regional (UMR), dan gender pada tingkat penganguran terbuka di Provinsi Kepulauan Riau. Data penelitian mencakup periode 2019-2024 dan mencakup seluruh 7 kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau. Seluruh informasi pneletiaian berasal pada pulbikasi rresmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau serta instantsi terkait. Proses pengumpulan data melalui metode teknik dokumentasi yang meliputi kegiatan penelusuran, mengunduh, dan merekap data dari publikasi BPS. Eviews menjadi alat bantu analsis datta temuan Definisi operasional variabel penelitian ini yaitu : Rata-Rata Lama Sekolah menjelaskan rata-rata tahun sekolah penduduk besuria Ou 25 tahun diukur dalam tahun (BPS, 2. Pertumbuhan ekonomi menjelasakan peroses peningkatan kapasitas proses penciptaan barang dan jasa dalam wilayah ekonomi yang diindikasikan oleh nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah (BPS,2. Upah Minimum Regional (UMR) Undang-undang N0. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, upah diartikan sebagai hak pekerja/buruh yang diterima atau dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan sesuai menurut perjanajian kerja, kesepakan, atau peraturaan perundang Ae undangan dan termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau dilakukan. Gender menjelaskan presentase penduduk perempuan usia 15 tahun keatas yang tergolong sebagai bagian dari angkatan kerja (BPS,2. Tingkat Pengangguran Terbuka menjelaskan presentase angkatan kerja yang belum bekerja terhadap total angkatan kerja (BPS, 2. Tabel 1. Definisi Operasional NO Variabel Penelitian Satuan Tingkat Pengangguran Terbuka Persen Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Tahun Pertumbuhan Ekonomi Persen Upah Minimum Regional Rupiah Gender Ribu/Jiwa Sumber: BPS . Analisis data dilakukan dengan regresi panel data yang mengombinasikan data bersifat runtut dari waktu ke waktu . ime serie. dengan data sillang . ross sectio. Model regresi dipergunalan dalam strudi ini diformulasikan sebagai berikut: TPTit = 0 1RLSit 2PEit 3UMRit 4GDRit Ait Keterangan : TPT = Tingkat pengangguran terbuka (%) RLS = Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) (%) = Pertumbuhan Ekonomi (%) UMR = Upah Minimum Regional (Rupia. GDR = Gender (Ribu/Oran. = Konstanta = Koefisien Variabel Independen = 7 Kabupaten/Kota di Kepulauan Riau = Tahun 2019-2024 = Eror estimasi diterapkan mencakup model berikut Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Model optimal berdasarkan 3 tahapan pengujian yakni: Uji Chow sebagai perbandingan CEM dan FEM Uji Hausman guna sebagai pembanding FEM dan REM Uji Lagrange Multiplier (LM) guna membandingkan FEM dan REM Setelah model terbaik ditentukan, pengujian asumsi klasik diterapkan sebagai langkah verifikasi guna memastikan keabsahan model regresi. Selanjutnya, pengujian hipotesis melalui koefisien determinasi (R. uji F . ji simulta. , serta uji T . ji parsia. untuk mengetahui kontrtibusi variabel bebas terhadap variabel Hasil Dan Pembahasan Pemilihan Estimasi Regresi Data Panel Uji Chow Tabel 2. Hasil Uji Chow Effects Test Statistic Cross-section Cross-section Chi-square Prob. Sumber: Eviws, . Nilai probabilitas F sebesar 0. 000 yang ditetntukan dengan uji chow lebih rendah dari taraf signigikanse 0,05. Temuan ini menguraikan terpilihnya fixed effect model. Uji Hausman Tabel 3. Hasil Uji Hausman Sumber: Eviews, . Temuan menunjuukkan nilai probabilitas pada bagian cross section 029 < 0. Hal ini menguraikan fixed effect model meupakan model estimasi unggul dan uji LM tidak diperlukan. Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinieraritas Uji Multikolinearitas diperlkukan dalam pengujian guna mengetahui apakah terdapat korelasi antara variabel bebas. Multikolinearitas memiliki batas ambang dalam parameter sebesar 0. Nilai korelasi 9 menggmabarkan timbul gejala multikolinearitas, sebaliknya apabilaa nilai korelasi dibawah 0. 9, tidak timbul penyakit multikolinearitas (Ismanto & Pebruary, 2. Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas RLS UMR GDR RLS UMR GDR Sumber : Eviews, . Merujuk pada tabel menggmbarkan hasil uji variabel bebas meliputi dari RLS. Pertumbuhan ekonomi (PE). Upah Minimum Regional (UMR) dan Gender secara serentak tidak mengalami gejala multikolinearitas akibat nilai korelasi dibawah 0. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas melihat gangguan bersifat konstan dan ditetapkan untuk melihat apakah terjadi ketidaksamaan ragam atau varians pada periode waktu tertentu. Tabel 5. Hasil Uji Heteroskedastisitas Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. RLS UMR GDR Sumber : Eviews, . Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas, tidak terdapat permasalahan heteroskedastisitas pada penelitian ini karena nilai probabilitas seleuh variabel > dari taraf nyata = 0. Estimasi Hasil Uji Model Data Panel (Fixed Effect Mode. Tabel 6. Hasil Uji Fixed Effect Model Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. RLS UMR GDR Sumber: Eviews, . Tabel 6 menunjukkan hasil estimasi Fixed Effect Model sehingga didapat hasil persamaan regresi sebagai berikut: TPT = 15. 78459 - 1. 949645RLS - 0. 267127PE - 2. 259300UMR 034151GDR A Berikut keterangan dari persamaan regresi yang telah disajikan: Nilai konstanta (C) sebesar 15. 78459 dengan probabilitas 0. menunjukkan ketika seluruh variabel bebas yaitu RLS. Pertumbuhan Ekonomi. UMR, dan Gender bernilai nol, maka TPT bernilai 15. Nilai Koefisien variabel RLS sebesar -1. 949645 dengan probabilitas 0210 < taraf signifikan (=0. memiliki artian apabila RLS berpengaruh secara negatif yang signifikan terhadap TPT. Besaran koefisien variabel PE -0. 26712 pada probabilitas 0. 0000 < taraf signifikan (=0. menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi memberikan pengaruh yang signifikan secara negatif terhdap TPT. Dapat memberikan arti, ketika pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan 1% . TPT cenderung menurun sebesar 0. Besaran koefisien variabel UMR -2. 259300 pada probabilitas sebesar 3689 > taraf signifikan (=0. menunjukkan apabila UMR tidak memberikan arti pengaruh signifikan terhadap TPT. Besaran koefisien variabel GDR 4. 034151 dengan probabillitas 0. taraf signifikan ( = 0. menujukkan bahwa variabel Gender berpengaruh signifikan secara positif terhadp TPT. Uji Hipotesis Koefisien Determinasi (R. Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi Sumber: Eviews, . Tabel 7 diketahui milai R-squared sebesar 0. artinya secara simultan variabel RLS, pertumbuhan ekonomi. UMR, dan GDR mampu menerangkan variabel tingkat pengangguran terbuka sebesar 92,2% sedangkan sisanya 7,8% dijelskan oleh variabel lain yang tidak menjadi fokus penelitian. Uji F (Uji Simulta. Tabel 8. Uji F (Uji Simulta. Sumber: Eviews, . Dengan melihat tabel 8 nilai probabilitas F-statistik sebesar 0. yang berada dibawah ambang signifikansi 0. Hal ini mengindikasikan bahwa, apabila keempat variabel bebas yakni RLS, pertumbuhan ekonomi, umr, dan GDR secara simultan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Kepulauan Riau. Uji T (Uji Parsia. Tabel 9. Hasil Uji T (Uji Parsia. Sumber: Eviews, . Tabel 9 menunjukkan hasil pengujian parsial dapat diuraikan setiap variabel sbagai berikut: Variabel RLS mempunyai nilai t-statistik -2. 431581 dengan probabilitas 0210 dimana nilai tersebut < = 0. dengan demikian. H0 ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan RLS memiliki pengaruh yang signifikan pada TPT. Variabel Pertumbuhan Ekonomi mempunyai nilai t-statistik -6. dengan probabilitas sebesar 0. 0000 dimana nilai tersebut < = 0. Maka dari itu. H0 ditolak dan Ha diterima yang menandakan apabila Pertumbuhan Ekonomi memberikan pegaruh terhdap TPT. Variabel UMR mepunyai nilai t-statistik -0. 911890 dengan probabilitas 3689 dimana nilai tersebut < = 0. Oleh karenanya. H0 ditolak dan Ha diterima yang memberi arti bahwa UMR tidak memberikan pengaruh terhadap TPT. Variabel GDR mempunyai nilai t-statistik 2. 683968 dengan probabilitas 0116 dimana nilai tersebut < = 0. Kesimpulannya. H0 ditolak dan Ha diterima yang mengartikan apabila gender memberikan pengaruh terhadap TPT. Pembahasan Pengaruh RLS terhadap TPT Analisis menunjukkan bahwa RLS memiliki hubungan negatid dan signifikan terhadap TPT di Kepulauan Riau. Artinya peningkatan RLS berkontribusi pada penurunan pengangguran terbuka. Temuan ini konsisten dengan teori human capital yang menekankan pendidikan sebagai bentuk investasi guna meningkatkan mutu kualitas sdm. Hasil ini erat kaitannya dengan temuan penelitian (Fatmawati et al. , 2. dan (Aqilah et al. , 2. pendidikan yang lebih tinggi memperbesar peluang kerja dan menekan pengangguran Pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap TPT Terdapat hubungan negatif yang signifikan atara pertumbuhan ekonomi dengan TPT di Kepulauan Riau. Hasil ini menunjukkan percepatan pertumbuhan perekonomiaan mendorong penciptaan lapangan kerja dan menurunkan pengangguran. Temuan ini mendukung teori keynesian dan okunsAo law menyatakan pertumbuhan ekonomi mendorong meningkatnya kebutuhan permintaan akan tenaga kerja. Temuan dalam penelitian ini konsisten dengan studi (Namuyuni, 2. dan (Correa, 2. sependapat dengan hubungan negatif yang signifikan antara pertumbuhan ekonomi dan Pengaruh UMR terhadap TPT UMR tidak berpengaruh signifikan terhadap TPT. Kondisi ini mengindikasi bahwa penyesuaian UMR di Kepulauan Riautidak cukup mempengaruhi perubahan penyerapan tenaga kerja sejalan dengan teori sticky wages yang menjalankan bahwa upah tidak mudah beradaptasi terhadap perubahan ekonomi karena faktor kontraktual dan kebijakan pemerintah. Temuan ini sejalan dengan studi (Soeharjoto & Oktavia, 2. Pengaruh gender terhadap TPT Variabel gender terbukti berpengaruh positif terhadap TPT. Artinya peningkatan jumlah perempuan usia produktif dalam angkatan kerja cenderung mendorong kenaikan pengangguran terbuka apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja. Kondisi ini lebih terasa di wilayah dengan sedikit variasi jenis pekerjaan atau sektor yang mensyaratkan keterampilan khusus. Migrasi perempuan dari luar provinsi khususnya ke Batam juga memperketat persaingan pasar kerja lokal. Penelitian (Rogayah, 2. dan (Schaner & Das, 2. menemukan fenomena serupa bahwa naiknya penduduk perempuan tidak otomatis menurunkan pengangguran tanpa dukungan sektor formal yang turut menyerap tenaga kerja secara Kesimpulan dan Saran Hasil penelitian menegaskan bahwa peningkatan kualiatas pendidikan yang direpresentasikan oleh Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan berperan penting dalam emnurunkan tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Kepualauan Riau. Pendidikan yang lebih panjang membekali masyarakat dengan ketrampilan dan kualiatas kompetensi yang lebih unggul, sementara stabilnya tumbuhnya ekonomi mampu memeperluas kesempatan kerja. Sebaliknya, kebijakan upah minimum regional (UMR) dalam periode kajian tidak memberikan pengaruh secara berarti pada penurunan pengangguran, menandakan bawha perannya lebih dominan pada aspek kesejahteraan daripada pemicu pendiptaan lapangan kerja serta kondisi ini memperkuat asumsi bahwa upah tidak dapat melakukan penyesuaian langsung terhadap perubahan ekonomi. Sementara itu, peningkatan jumlah perempuan dalam angkatan kerja cenderung diikuti kenaikan pengangguran terbuka yang mengindikasi terbatasnya lapangan kerja yang inklusif bagi tenaga kerja perempuan. Dalam hal ini pemerintah provinsi dan daerah perlu bekerjasama serta fokus dalam 3 hal yaitu peningkatan kualitas pendidikan sesuai kebutuhan industri melalui pendirian balai latihan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui pengutan sektor unggulan yang mampu menyerap tenaga kerja lebih luas dan menyeimbangkan kebijakan upah dengan upaya eningkatan produktivitas agae tidak hanya berfungsi sebagai instrumen tetapi juga mendorong penciptaan lapangan kerja baru. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan lapangan kerja yang inklusif bagi tenga kerja perempuan melalui pengembangan sektor jasa, umkm, pelatihan digital, wirausaha, dan keterampilan vokasional. Penelitian serupa dapat memasukan variabel tambahan seperti arus investasi, struktur ekonomi dan mobilitas tenaga kerja untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh megenai dinamika pengangguran di Kepulauan Riau. Daftar Pustaka