Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal. id/index. php/fhs/index ISSN: 2549-5585 . Vol. 8 No. 3 2024, hal 380-402 Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara. Krisnaldi Putra Kurnia,1* Mumuh Muhsin Zakaria,1 Dade Mahzuni1 Universitas Padjajaran. Indonesia krisnaldi20001@mail. Dikirim: 12-06-2024. Direvisi: 25-11-2024. Diterima: 02-12-2024. Diterbitkan. 31-12-2024 Abstrak: Senjata api beserta bubuk mesiu merupakan komoditas yang umum diperjualbelikan pada masa-masa awal kedatangan bangsa Eropa ke Asia, termasuk Nusantara. Layaknya perdagangan rempah, terdapat kompetisi sengit dalam perdagangan senjata api tersebut. Sejalan dengan itu, riset ini berorientasi untuk menunjukkan persaingan antara dua faksi utama dalam perdagangan di Nusantara pada abad ke-16 dan ke-17, yaitu Portugal-Belanda sebagai kajian sejarah, riset ini menerapkan metode sejarah sebagai metode penelitiannya. Hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa keputusan pedagang Eropa untuk menjadikan senjata api sebagai komoditas ekspor tidak bisa dipisahkan dari popularitas instrumen perang tersebut di medan tempur benua asal mereka. Semula. Portugal berhasil mengonsolidasikan kedudukannya sebagai bandar senjata api dominan di Nusantara setelah penaklukan Malaka pada 1511. Dominasi tersebut perlahan mulai pudar seiring dengan datangnya kapal-kapal VOC pada akhir abad ke-16 yang berpuncak pada perebutan Malaka oleh Portugal pada 1641. Dengan demikian, dapat dikatakan apabila kompetisi perdagangan senjata api di Nusantara pada periode ini merefleksikan tren dalam pertempuran . pada saat itu dan relasi antar bangsa Eropa di luar benua asal mereka. Kata Kunci: Malaka. senjata api. perdagangan rempah. Portugal. VOC Abstract: Firearms and gunpowder are commodities commonly sold during the early European arrival to Indonesia, including Nusantara. Similar to the spice trade, there was intense competition among the Europeans in arms trading. With that, the orientation of this research is to show the rivalry between 2 main trading factions on trading in Nusantara during the 16th and 17th centuries: Portugal and The Netherlands. As a historical study, this research applies the historical method as its research method. Reconstruction results show that European tradersAo decision to make firearms an import commodity cannot be separated from the popularity of the war instrument in the warfare of their home continent. Initially. Portugal managed to consolidate its power as a dominant firearms trader in Nusantara after they conquered Malacca Their domination slowly faded after the arrival of VOC ships during the late 16th century culminating in the takeover of Malacca in 1641. Therefore, it can be said that the firearms trading competition in Nusantara during this period reflects the trend of warfare at the time alongside the relations of various European nations outside their homelands. Keywords: firearms. Malacca. Portugal. spice trade. VOC This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. DOI: https://doi. org/10. 29408/fhs. Page 380 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Pendahuluan Narasi sejarah mengenai perdagangan di Nusantara pada abad ke-16 dan ke-17 umumnya hanya memperlihatkan interaksi yang berjalan satu arah. Rekonstruksi sejarah yang ada cenderung hanya menceritakan bagaimana pedagang-pedagang Eropa saling bersaing mendapatkan rempah di kepulauan ini. Pada kenyataannya, ada peristiwa yang belum mendapat perhatian, yaitu aktivitas penjualan yang dilakukan pedagang Eropa di Nusantara. Penelitian mengenai hal tersebut menjadi penting untuk menunjukkan gambaran yang lebih utuh bahwa sesungguhnya perdagangan yang terjadi tidaklah berjalan searah, melainkan dua arah. Tentu saja para pedagang Eropa tidak berangkat dari pelabuhan asalnya dengan tangan Geladak kapal mereka dipenuhi oleh kargo berupa aneka macam komoditas dari negerinya untuk didagangkan di wilayah-wilayah yang berhasil mereka AutemukanAy. Sejalan dengan itu. Di antara berbagai komoditas yang mereka jual itu, senjata api dapat dilihat sebagai komoditas ekspor andalan para pedagang tersebut. Untuk mencegah kekeliruan, perlu dibahas juga apa yang dimaksud dengan senjata api. Menurut Chase . , senjata api dapat didefinisikan sebagai senjata yang menggunakan daya ledak bubuk mesiu untuk melontarkan proyektil dari tabung atau laras senjata. Sehubungan dengan definisi tersebut, agar suatu senjata dapat diklasifikasikan sebagai senjata api, maka barang tersebut perlu memiliki 3 komponen, yaitu bubuk mesiu, proyektil atau peluru, dan laras. Dengan demikian, senjata-senjata dari berbagai varian ukuran, seperti senapan, pistol, hingga meriam, dan mortir selama memiliki ketiga komponen tersebut dapat diklasifikasikan sebagai senjata api. Ketika kapal-kapal Eropa pertama tiba ke Nusantara, senjata api sebenarnya sudah bukan merupakan teknologi asing bagi penduduk setempat. Alat tersebut diperkirakan pertama kali masuk ke kepulauan ini pada abad ke-14 dalam bentuk meriam (Oktorino, 2. Penggunaan senjata api pun perlahan menyebar secara bertahap pada masa-masa yang akan datang. Berbagai entitas politik di kepulauan ini tercatat sudah menggunakan serta mampu memproduksinya secara mandiri dalam skala yang cukup besar pada paruh pertama abad ke-16 . e Albuquerque. Walau demikian, kondisi geopolitik antar raja dan sultan yang dinamis dan kerap diwarnai konflik membuat tuntutan terhadap senjata api bersama amunisinya selalu tinggi, atau setidaknya selalu ada. Keberadaan tuntutan terhadap senjata api yang cukup tinggi dalam pasar Nusantara merupakan kesempatan emas yang dimanfaatkan oleh para pedagang Portugal untuk memperoleh keuntungan. Sejak penaklukan Malaka pada 1511, mereka berhasil memainkan peran sebagai bandar senjata api berpengaruh di Nusantara, bahkan Asia. Mereka tidak hanya menjual senjata api dalam berbagai ukuran dan amunisinya saja, melainkan juga mengajarkan ilmu pembuatannya kepada para penguasa lokal yang dianggap berguna bagi kepentingan perdagangan Portugal di Nusantara (Reid, 2. Dominasi Portugal tentu saja tidak bertahan Setelah kedatangan Belanda di akhir 1500-an, pendatang baru tersebut perlahan menggeser kedudukan Portugal sebagai pedagang senjata api paling berpengaruh di Nusantara. Page 381 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Persaingan antara pedagang Portugal-Belanda dalam perdagangan senjata api di Nusantara pada gilirannya dapat dilihat sebagai contoh konflik antar kelompok. Sehubungan dengan itu, teori konflik sosial yang digagas Coser . akan digunakan untuk menganalisa persaingan Portugal-Belanda di Nusantara. Coser beranggapan bahwa konflik sesungguhnya merupakan perselisihan atas nilai-nilai serta klaim atas status, kekuasaan, dan sumber daya yang terbatas. Tujuan utama pihak yang bersaing adalah untuk melukai, menetralisasi, bahkan melenyapkan pihak yang dianggap sebagai lawan. Berangkat dari pandangan Coser, baik Portugal maupun Belanda dapat dilihat sebagai dua kelompok yang masing-masing menganut nilai berbeda. Salah satu karakteristik pembeda kedua kelompok tersebut yang berpengaruh besar sebagai pemicu konflik adalah perbedaan Pada kenyataannya, hingga awal abad ke-16. Kristen Katolik masih menjadi agama dominan di kedua wilayah tersebut. Status quo segera berubah ketika era Reformasi meletus di Eropa. Masyarakat Portugal cenderung masih kukuh terhadap Katolik, sedangkan orang-orang Belanda, terutama bagian utaranya, cenderung menerima penyebaran Protestan. Hingga pertengahan abad ke-17, konflik berlandaskan perbedaan agama, terutama Katolik kontra Protestan, sering kali terjadi di antara bangsa-bangsa Eropa, tidak terkecuali untuk Portugal dan Belanda (Hart, 2. Usaha keduanya dalam meraih dominasi pasar senjata api di Nusantara dapat dilihat sebagai ekstensi dari konflik keagamaan yang tengah marak terjadi di Benua Eropa. Pergulatan Portugal-Belanda untuk mengonsolidasikan kekuasaan terhadap perdagangan ini dapat dilihat juga sebagai upaya keduanya untuk mengontrol sumber daya berharga yang terbatas kuantitasnya, seperti rempah-rempah. Keberadaan senjata api menjadi penting dalam konteks perolehan komoditas berharga tersebut karena penjualannya terkadang digunakan untuk membujuk penguasa wilayah penghasil rempah agar bersedia membuka pelabuhannya bagi kapal-kapal Portugal maupun Belanda (Pigeaud & De Graaf, 1. Manuver diplomatis serta tindakan-tindakan militer layaknya perebutan Malaka oleh Portugal . yang dilakukan untuk mengungguli pihak musuh dapat dilihat sebagai contoh upaya kedua pihak yang berkonflik untuk melenyapkan keberadaan musuhnya. Senjata api sesungguhnya sering diperbincangkan dalam historiografi-historiografi mengenai sejarah Indonesia, termasuk pada periode yang dijadikan sebagai batasan temporal penelitian ini. Hal tersebut tidak mengejutkan mengingat eratnya relasi benda ini dengan peperangan atau perpolitikan yang sering kali menjadi kajian sejarah politik makro. Kendati demikian, pembahasan mengenai senjata api sendiri cenderung hanya dilakukan secara sepintas atau belum dijadikan sebagai fokus utama penelitian, seperti dalam karya Reid . Ricklefs . , ataupun Vlekke . Penelitian sejarah yang berfokus pada pembahasan mengenai senjata api di Indonesia juga masih bisa dikatakan cukup minim. Adapun beberapa karya yang mengangkat senjata api sebagai objek material risetnya antara lain adalah Guillot dan Kalus . yang meneliti tentang arti inskripsi dalam meriam Kesultanan Banten. van Till . dan Tagliacozzo . yang mengaitkan perdagangan senjata api dengan kriminalitas pada masa Hindia Page 382 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Belanda. Chew . yang membicarakan peranan orang Eropa dalam perdagangan senjata api di Samudra Hindia dari abad ke-16-19, namun tidak terlalu membicarakan rivalitas Portugal-Belanda di Nusantara. artikel Averoes . yang membicarakan tentang mekanisme dan karakteristik meriam majapahit. Melalui kajian pustaka terhadap literatur-literatur yang relevan dari 20 tahun terakhir, dapat disebut jika selain bukunya Chew . , topik perdagangan senjata api dalam periode awal kedatangan orang Eropa di Nusantara belum banyak dikaji. Di sisi lain, penelitian bertopik serupa sesungguhnya sudah dilakukan di beberapa negara di Benua Afrika. Beberapa negara tersebut di antaranya Sudan dan Chad (Fisher & Rowland, 1. Zambia (Roberts, 1. Afrika Barat (Inikori, 1. dan Afrika Timur (Beachey, 1. Sehubungan dengan yang terakhir, artikel Beachey . membicarakan tentang dinamika ketatnya kompetisi pedagang Arab dan Jerman dalam perdagangan senjata api di wilayah yang ditelitinya pada abad ke-19. Tulisannya dapat dijadikan sebagai inspirasi dalam proses rekonstruksi sejarah, untuk menunjukkan apabila persaingan untuk mengontrol pasar senjata api juga pernah terjadi di Nusantara dalam periode yang berbeda. Berdasarkan pemaparan di atas, artikel ini menjadikan senjata api sebagai fokus utama Lebih spesifik lagi, artikel ini bertujuan untuk meneliti kompetisi Portugal-Belanda dalam upaya dominasi mereka atas perdagangan senjata api di kepulauan ini. Kajian mengenai senjata api belum banyak dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu, artikel ini berusaha untuk melengkapi rekonstruksi sejarah Indonesia dalam topik yang belum terpetakan dengan baik. Kajian mengenai senjata api di kepulauan ini menjadi penting untuk dilakukan dengan mempertimbangkan adanya ketersediaan sumber historis serta eratnya relasi antara keberadaan senjata api dengan berbagai penaklukan yang terjadi di Nusantara. Metode Penelitian Dikarenakan riset ini merupakan riset sejarah, maka metode yang digunakan adalah metode sejarah. Metode penelitian ini terdiri atas empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan terakhir historiografi. Proses heuristik merupakan proses pengumpulan berbagai sumber sejarah yang sekiranya berguna bagi kepentingan penelitian ini. Untuk keperluan itu, proses heuristik dilakukan secara daring dengan memanfaatkan situs-situs penyedia sumber sejarah dan literatur sekunder, seperti Internet Archive. Delpher. Google Books. Google Scholar, dan JSTOR. Melalui proses heuristik yang telah dilakukan, sumbersumber yang akan digunakan pun berhasil dihimpun. Sumber-sumber yang telah terkumpul tersebut dapat diklasifikasikan lebih jauh ke dalam dua jenis. Sumber pertama adalah sumber primer yang memiliki bobot lebih tinggi bagi riset Beberapa sumber primer yang digunakan merupakan sumber tekstual yang mencakup. catatan perjalanan, seperti catatan perjalanan atau sumber sezaman yang dibuat oleh Tome Pires. Duarte Barbossa. Vasco da Gama. Afonso de Albuquerque. Manuel de Faria Sousa. Joyo de Barros, dan Jan Huygen van Linschoten yang telah diedit dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, serta didigitalisasikan. surat kenegaraan, seperti perjanjian-perjanjian VOC yang dikompilasikan dalam Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum Volume I. Selain sumber- Page 383 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 sumber primer yang telah disebut, digunakan juga beberapa sumber sekunder berupa penelitianpenelitian sejarah yang relevan untuk membantu proses penyusunan historiografi ini. Langkah selanjutnya yang perlu ditempuh adalah kritik. Kritik dapat dibagi menjadi kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal dilakukan untuk menguji otentisitas sumber berdasarkan waktu dan lokasi pembuatan, identitas penulis, bahan yang digunakan untuk memproduksi sumber tersebut (Garraghan, 1. Sehubungan dengan itu, contoh kritik eksternal yang dilakukan terhadap sumber primer yang digunakan dapat dilakukan melalui identitas penerjemah sumber tersebut. Sehubungan dengan itu, sumber-sumber Portugal, seperti Suma Oriental-nya Pires, jurnal perjalanan da Gama, serta catatan de Albuquerque ketiganya diterjemahkan oleh lembaga yang sama, yakni Hakluyt Society. Hakluyt Society merupakan lembaga percetakan yang menaruh fokus pada penerjemahan catatan perjalanan atau penjelajahan untuk sumber sejarah sejak 1846. Dengan demikian, maka dapat dikatakan jika sumber-sumber terjemahan tersebut memiliki keterpercayaan yang tinggi. Dalam melakukan kritik internal, validitas dari informasi yang terkandung dalam sumber menjadi fokus kritik. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengujinya adalah dengan melakukan koroborasi atau pendukungan. Apabila suatu keterangan dapat didukung oleh keterangan dari sumber lain tanpa mengutip hal yang sama, maka keterangan atau informasi tersebut dapat dipertanggung jawabkan validitasnya. Setelah sumber-sumber lolos dari tahap kritik, selanjutnya akan dilakukan interpretasi terhadap informasi dari sumber-sumber tersebut. Garraghan . menyebut bahwa ada lima jenis interpretasi yang dapat dilakukan, yaitu interpretasi verbal, interpretasi teknis, interpretasi logis, interpretasi psikologis, dan interpretasi Terakhir, fakta-fakta sejarah yang terkumpul akan disintesiskan dalam bentuk tertulis yang dikenal sebagai historiografi. Hasil Penelitian Senjata Api di Eropa Abad ke-16 Selama berabad-abad, pertempuran darat di Eropa didominasi oleh ksatria berzirah yang menunggangi kuda mereka di medan perang sembari didukung oleh barisan infanteri sebagai kekuatan tempur tambahan. Sehubungan dengan itu, karakteristik mencolok dari peperangan di Eropa sebelum abad ke-14 adalah bagaimana pertempuran dilakukan dari jarak yang dekat. Pedang, tombak, dan busur merupakan tiga ragam senjata yang paling lazim digunakan oleh berbagai unit tempur di benua ini. Tentu saja, senjata-senjata tersebut tidak mungkin ada tanpa keahlian para pandai besi dan tungku perapian mereka. Dari Portugal di ujung barat hingga Rusia, tungku-tungku perapian mereka tanpa henti memproduksi berbagai persenjataan dan baju zirah untuk kepentingan perang. Sifat pertempuran yang dinamis membuat terjadinya perubahan tidak terelakkan. Pertempuran di Eropa pun mulai berubah secara bertahap pasca munculnya senjata api ke benua tersebut pada abad ke-14. Kemunculannya dipercaya tidak bisa dipisahkan dari Invasi Mongol ke Eropa Timur yang menyebarkan pengetahuan mengenai produksi dan pemakaian senjata api dari Asia ke Eropa (Andrade, 2. Sedikit demi sedikit catatan-catatan mengenai penggunaan meriam atau senjata api berukuran besar mulai bermunculan dalam catatan. Salah satu catatan tertua mengenai penggunaan senjata api, atau Page 384 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 lebih tepatnya meriam, di Eropa adalah saat pengepungan Cividale di Italia pada tahun 1331 (Chase, 2. Sejak saat itu, penggunaan Auinstrumen dari nerakaAy seperti kata Petrarch . alam Chase, 2. , seorang penyair dari Italia, itu pun terus menyebar. Kerajaan-kerajaan Eropa lain, seperti Castile dan Kekaisaran Romawi Suci, pun mulai mengintegrasikan penggunaannya ke dalam cara berperang mereka (Hall, 1. Menyadari adanya perubahan minat dalam pasar persenjataan, para pandai besi mulai mencoba strategi baru dalam industri produksi senjatanya. Mereka memutuskan untuk mulai mempelajari teknik pembuatan senjata api dan bubuk mesiu yang berdampak pada lahirnya profesi perajin senjata . Perlahan, senjata api dan amunisinya mulai diproduksi bersamaan dengan senjata konvensional lain, seperti pedang atau tombak. Contoh historis dari hal tersebut dapat ditemukan dalam kasus para pandai besi asal Brescia di Italia Utara. Semula, mereka hanya fokus memproduksi baju zirah bagi para ksatria, akan tetapi pada akhir abad ke15 senjata api sudah mulai diproduksi juga di tungku perapian kota tersebut (Williams, 2. Hal serupa kemungkinan besar terjadi pula di Amsterdam karena kota tersebut dikabarkan mampu memproduksi senjata api, pedang, dan tombaknya secara mandiri (Vogel, 1. Walau senjata api dapat dilihat sebagai teknologi perang baru yang memiliki potensi besar, efektivitas senjata api generasi awal dalam peperangan sering kali dibatasi oleh berbagai Faktor pertama adalah keterbatasan teknologi dan metodologi para pandai besi atau perajin senjata dalam produksi senjata api. Tanpa bantuan mekanisme canggih, produksi senjata api di tungku perapian seorang perajin senjata hanya dapat dilakukan dalam skala terbatas. Alhasil, laporan-laporan mengenai kekurangan stok persenjataan atau amunisi pun terkadang muncul, seperti dalam kasus kampanye penaklukan Kesultanan Granada oleh Castile dan Aragon di akhir abad ke-15 (Hall, 1. Alasan kedua adalah kemampuan bermanuver senjata api awal yang sangat buruk. Sebagaimana dengan yang sudah disebut, kemunculan meriam mendahului senjata api genggam. Meriam-meriam berukuran besar tersebut tidak mudah untuk diangkut sehingga penggunaannya menjadi sangat terbatas. Senapan genggam yang lebih mudah untuk dioperasikan dan digerakkan bernama harquebus baru muncul di Spanyol atau Jerman pada akhir tahun 1400-an (Chase, 2003. Challoner (Ed. ), 2. Faktor terakhir yang turut berkontribusi terhadap minimnya efektivitas alat ini adalah rendahnya presisi tembakan senjata api awal. Sebelum penggunaan ulir . menjadi marak berabad-abad kelak, senjata api, baik artileri maupun senapan, sangat tidak akurat (Charney, 2003. Chase, 2. Senjata api Eropa pada dua abad pertama banyak kekurangannya, baik dalam hal produksi maupun kemampuan operasionalnya. Keberadaan senjata api pun belum mampu menggeser posisi senjata berbilah dan busur secara utuh (Chase, 2. Walau demikian, kelemahan-kelemahan senjata api awal tersebut tidak mengurangi minat berbagai kerajaan dan republik di Eropa untuk menggunakan senjata api dalam kepentingan militernya. Pada akhir tahun 1400-an, wilayah-wilayah sentra produksi senjata api sudah mulai bermunculan di Eropa. Kebangkitan wilayah produsen senjata api ini memberi implikasi bahwa daya produksi senjata api di Eropa sudah mengalami peningkatan hingga ke titik di mana suatu wilayah dapat diidentikkan sebagai daerah penghasil senjata api. Tiga wilayah dengan reputasi sebagai sentra produksi senjata api, baik karena kuantitas maupun kualitasnya, adalah Italia Page 385 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 terutama di kota-kota seperti Ferrara. Brescia. Napoli, dan Firenze. kemudian Belanda . ermasuk Belgia Utar. , dan Jerman (Vogel, 1997. Ansani, 2. Senjata api yang dihasilkan di wilayah-wilayah penghasil senjata api tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer negara asal senjata api itu saja. Komodifikasi senjata api sebagai barang ekspor sudah mulai terjadi pada periode ini. Walau secara umum negara-negara besar di Eropa pada saat itu, seperti Austria. Perancis. Portugal, dan Castile sudah mampu memproduksi senjata apinya sendiri, tidak jarang daya produksi senjata api domestik mereka masih belum mencukupi kebutuhan militernya. Oleh karena itu, tidak jarang negara-negara tersebut masih bergantung pada impor senjata dari salah satu di antara ketiga negara tersebut (Vogel, 1997. Metzig, 2. Salah satu contoh kasus ekspor senjata api di periode ini adalah kisah perajin senjata api asal Bavaria yang dikenal di Italia sebagai Giovanni dan Uspurghi. Pengrajin senjata yang aktif pada paruh kedua abad ke-15 tersebut memiliki reputasi sebagai pembuat senjata api handal di Kekaisaran Romawi Suci. Kisah tentang kompetensinya membuat Kota Pisa, saat itu bagian dari Republik Firenze, menyewa jasanya untuk membuat 13 senjata api besar pada tahun 1493 (Ansani, 2. Pembuatan senjata-senjata tersebut dimaksudkan untuk memperkokoh pertahanan kota tersebut karena perang antar negara kota Italia pada periode ini cukup lazim Di antara pengimpor senjata api di Eropa pada pergantian abad. Kerajaan Portugal merupakan salah satu pengimpor senjata api paling signifikan. Mereka sering mengimpor senjata api dalam jumlah besar untuk kepentingan militernya. Kea . , bahkan menyebut jika Portugal sangat bergantung pada ketersediaan senjata api dari perajin senjata dari Jerman dan Belanda yang menjadi pemasok utamanya. Ketertarikan mereka terhadap pemanfaatan senjata api dibuktikan lebih jauh dengan penyewaan sekelompok penembak dan operator artileri dari tiga wilayah produsen senjata api di Eropa sebagai tentara bayaran sejak 1489 (Metzig, 2. Tentara bayaran non-Portugal tersebut dikenal dengan sebutan bombardeiros da nymina dan mereka dibayar untuk berperang demi Raja Portugal. Dapat dikatakan jika pada abad ke-16, industri senjata api telah berkembang pesat di Eropa Barat. Perdagangan senjata api yang menjadi semakin umum mendemonstrasikan keberadaan sistem perdagangan senjata api di benua tersebut. Sistem tersebut terdiri atas wilayah-wilayah produsen senjata api yang berperan sebagai eksportir atau pemasok di satu sisi, sedangkan di sisi lain terdapat kekuatan-kekuatan besar Eropa yang menjadi importir senjata-senjata Belanda. Jerman, atau Italia untuk mempersenjatai tentaranya. Komodifikasi senjata api di Eropa kemungkinan besar mempengaruhi bagaimana orang-orang Portugal memandang senjata api. Nilai jual yang dimiliki senjata api inilah yang mendorong mereka untuk berdagang senjata di Asia, tidak terkecuali Nusantara. Sepak Terjang Portugal dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1411-1596 Perdagangan senjata api pada abad ke-16 dan ke-17 tidak bisa dipisahkan dari perdagangan salah satu komoditas paling berharga pada masa tersebut, yaitu rempah-rempah. Oleh karena itu, penting untuk membicarakan secara sepintas mengenai kondisi arus masuknya Page 386 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 rempah-rempah ke Eropa dari Asia pada awal abad ke-16. Kondisi perdagangan rempah yang merugikan beberapa bangsa Eropa ini membuat beberapa di antara mereka ingin mengubah Hal inilah yang akan berperan penting dalam memicu impor senjata api dari Eropa ke Asia, terutama wilayah yang berbatasan dengan Samudra Hindia layaknya Nusantara. Selama berabad-abad. Asia dan Eropa dihubungkan oleh rute dagang yang dikenal sebagai jalur sutra. Melalui jalur dagang inilah aneka rupa barang eksotis Asia, termasuk rempah, bisa masuk untuk kemudian didistribusikan ke berbagai pelosok Benua Eropa. Hal tersebut segera berubah pada pertengahan abad ke-15. Setelah mengalami kemerosotan selama berabad-abad. Byzantium yang merepresentasikan fragmen terakhir Kekaisaran Romawi berhasil ditaklukkan oleh Turki Usmani pada 1453. Sebelumnya. Konstantinopel yang merupakan ibu kota Byzantium berperan penting sebagai distributor rempah dalam rangkaian rute dagang jalur sutra. Orang Turki yang sadar mengenai arti penting kota taklukannya pun memutuskan untuk memblokir perdagangan rempah ke Eropa Barat yang didominasi kerajaankerajaan Katolik dengan memasang tarif dagang dengan harga tidak masuk akal (Bown, 2. Keputusan mereka tidak mengejutkan apabila mengingat betapa buruk relasi kedua pihak seperti yang dicontohkan dalam pertempuran Nicopolis . dan Varna . Konstantinopel mungkin memiliki peran yang sangat besar sebagai distributor rempah, namun kota itu bukan satu-satunya gerbang masuk komoditas mewah tersebut ke Eropa. Kairo yang dikontrol oleh Kesultanan Mamluk merupakan gerbang masuk rempah lainnya menuju Eropa. Sehubungan dengan itu, agen dagang Republik Venesia yang memiliki pengaruh di Kairo berhasil membuat kesepakatan dengan para pedagang Arab untuk membeli rempahrempah yang ada di kota tersebut. Rempah yang mereka beli kemudian dipindahkan untuk dijual kembali di kota asal mereka. Hal tersebut memaksa para pedagang Eropa lainnya untuk berlabuh di Venesia, sehingga Republik Italia tersebut berhasil memperoleh reputasinya sebagai pemonopoli rempah di Eropa (Bown, 2009. Ricklefs, 2. Kesuksesan Venesia dalam mengendalikan perdagangan rempah di benua tersebut tentu saja tidak disukai oleh semua pihak. Afonso de Albuquerque . , sang penakluk Malaka dari Portugal, bahkan mengomentari kesuksesan Venesia dengan nada cemburu. Hanya adanya dua pilihan untuk memperoleh rempah dengan harga tinggi, baik itu via pedagang Turki di Konstantinopel atau Venesia, memotivasi berbagai kerajaan Eropa untuk menemukan cara baru dalam memperoleh rempah-rempah, tidak terkecuali Kerajaan Portugal. Mereka berupaya untuk memperoleh komoditas berharga tersebut langsung dari sumbernya tanpa melalui perantara yang mematok harga sangat tinggi. Tidak hanya itu. Portugal juga berambisi untuk mendobrak dominasi perdagangan rempah-rempah Venesia dan bahkan mengungguli mereka . e Albuquerque, 1. Dengan pengetahuan navigasi yang ekstensif, teknologi perkapalan yang memadai, dan sponsor dari kerajaan, berbagai pelaut Portugal mulai memetakan pesisir Afrika untuk menemukan keberadaan India dan kekayaannya (Ricklefs. Upaya-upaya penjelajah Portugal dalam mengarungi samudra pada akhirnya membuahkan hasil. Setelah berlayar dari pesisir Kenya selama hampir sebulan. Vasco da Gama . dan adiknya. Paulo, bersama keempat kapal mereka berhasil mendarat di Calicut pada 20 Mei 1498. Pendaratan Calicut menandakan telah ditemukannya rute dagang rempah baru. Page 387 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Ke depannya, kapal-kapal Portugal lain akan berlalu-lalang di Samudra Hindia dengan intensitas yang semakin tinggi untuk berdagang. Gambar 1. Ilustrasi kapal-kapal armada Vasco Da Gama yang berlayar ke India pada 1498. Digambar oleh Jorge Cabral pada 1549 atau 1550 Sumber: da Gama, 1898 Sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Asia, orang Portugal sesungguhnya sudah membawa senjata api. Sao Gabriel, kapal yang dinahkodai oleh Vasco da Gama sendiri dipersenjatai dengan 20 artileri berat yang didistribusikan dalam berbagai dek dan belahan kapal . a Gama, 1. Tiga kapal lain di bawah kendalinya juga membawa persenjataan Walau kapal-kapal si penjelajah membawa berbagai senjata api berukuran besar, anak buahnya disebutkan tidak membawa senjata api genggam, seperti harquebus, yang sudah mulai marak digunakan di Eropa. Mereka justru hanya membawa perlengkapan perang konvensional seperti pedang, kapak, busur, dan tombak . a Gama, 1. Walau mereka membawa senjata api, baik da Gama atau penjelajah-penjelajah Portugal awal lainnya belum menjadikan alat tersebut sebagai komoditas ekspor. Keberadaannya pada masa awal terbatas hanya sebagai persenjataan kapal atau benteng-benteng mereka di India . e Albuquerque, 1. Ada dua hal yang berpengaruh pada keengganan penjelajah atau pelaut Portugal dalam menjual senjata api pada tahun-tahun awal kedatangan mereka ke Asia. Faktor utamanya terletak dari fakta bahwa Portugal tidak memiliki industri senjata api yang kuat di negeri asal Sebagaimana dengan yang sudah disebut sebelumnya. Portugal sangat bergantung kepada perajin senjata api di Italia. Jerman, dan Belanda untuk suplai senjata apinya, bahkan hingga abad ke-17 (Kea, 1. Ketergantungan tersebut didemonstrasikan juga melalui banyaknya operator meriam dan senjata api dari tiga wilayah penghasil senjata api tersebut yang dibayar untuk berlayar sebagai kru kapal-kapal Portugal di Asia (Boxer, 1965. MeilinkRoelofsz. van Linschoten, 1. Jumlah operator senjata dari Eropa Utara atau Italia tersebut bahkan disebut Chase . , lebih banyak ketimbang operator senjata api kelahiran Portugal sendiri. Singkatnya, dapat dikatakan jika senjata api pada masa ini masih terlalu Page 388 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 berharga untuk didagangkan dan lebih berguna jika dipakai sesuai dengan kegunaan dasarnya sebagai alat perang. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah kecemasan Portugal mengenai kemampuan tempur dan persenjataan kerajaan-kerajaan di Asia. Mereka mengakui bahwa jumlah tentara atau pelaut Portugal di Asia sangatlah terbatas . e Albuquerque, 1875. van Linschoten, 1. Tidak jarang mereka harus bertempur dengan kondisi kalah jumlah melawan musuh-musuh Kendati demikian, orang Portugal sadar bahwa kualitas persenjataan yang superior dapat mengompensasi kelemahan mereka dalam aspek keterbatasan kuantitas personil. Sehubungan dengan itu, jika mereka menjual senjata api secara sembarang, bukan tidak mungkin jika pihak yang membeli senjata api Portugal bisa menjadi musuh mereka di kemudian Hal tersebut berpotensi melenyapkan satu-satunya kunci kesuksesan militer mereka di Samudra Hindia. Kombinasi kedua hal inilah yang kemungkinan besar memengaruhi sikap kehati-hatian Portugal dalam mengekspor senjata api. Keengganan Portugal dalam menjual senjata api secara perlahan berubah melalui aksi Alfonso de Albuquerque yang sukses menaklukkan beberapa kota pesisir di Samudra Hindia. Penaklukan-penaklukannya berkontribusi besar dalam memercikkan perdagangan senjata api oleh Portugal kelak. Ketika Goa direbut untuk pertama kalinya pada bulan Maret 1510, de Albuquerque . mengomentari keberadaan fasilitas pembuatan senjata api dan bubuk mesiu di kota tersebut yang mengagumkan. Setelah cengkraman Portugal atas kota tersebut berhasil dikokohkan pada 25 November 1510. Goa perlahan bertransformasi menjadi pusat operasional kapal-kapal Portugal di benua ini. Dalam tembok kota tersebut jugalah senjata api diproduksi (Chase, 2003. Charney. Melalui tungku perapian Goa, kebutuhan logistik untuk kebutuhan eksplorasi dan peperangan, seperti bubuk mesiu dan senjata api, dapat dipenuhi tanpa harus dikirim terlebih dahulu dari Eropa melalui Tanjung Harapan. Goa bukanlah satu-satunya kota yang berhasil ditundukkan oleh de Albuquerque. Kurang dari satu tahun setelah penaklukannya, ia dan kapal-kapalnya berlayar menuju Malaka. Penyiksaan terhadap Diogo Lopez de Sequeira dan beberapa awak kapalnya, orang yang diutus de Albuquerque untuk berdagang di sana, memberinya justifikasi untuk menyerang balik . e Albuquerque, 1. Sempat ada perbincangan dengan Sultan Malaka untuk menyelesaikan masalah secara damai yang berakhir dengan kegagalan. Meskipun sadar jika Malaka memiliki ribuan senjata api, de Albuquerque sudah membulatkan keputusannya. Pada tanggal 25 Juli 1511, artileri Portugal dan Malaka pun berperang. Meski pada akhirnya orang-orang Melayu dapat dikalahkan dan Malaka takluk, de Albuquerque memuji persenjataan yang dimiliki oleh Ia mengatakan bahwa tungku perapian Malaka setara kecanggihannya dengan apa yang dimiliki para perajin senjata di Jerman, salah satu wilayah penghasil senjata api tercanggih pada saat itu . e Albuquerque, 1. Walau demikian, tidak diketahui jika orang-orang Portugal akan memanfaatkan tungku perapian Malaka untuk membuat senjata api. Penaklukan Malaka memiliki dampak yang sangat besar dalam mendukung perdagangan senjata api pada tahun 1520-an. Menurut Duarte Barbosa . Malaka merupakan daerah penghasil besi dan salpeter. Besi dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan senjata api Page 389 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 berbagai ukuran beserta proyektilnya, sementara salpeter merupakan salah satu dari tiga komponen utama bubuk mesiu. Ada kemungkinan besar jika bahan-bahan mentah dari Malaka dikirim ke Goa untuk memproduksi senjata api di sana. Tidak hanya itu, pelabuhan penting ini juga berperan sebagai pintu akses ke berbagai pelabuhan yang sebelumnya tidak terjangkau oleh kapal-kapal Portugal, seperti Maluku. Tiongkok, dan Jepang yang kelak menjadi importir senjata api Portugal. Dengan demikian, dapat dikatakan jika penaklukan kota pelabuhan tersebut telah meletakkan fondasi kebangkitan Portugal sebagai bandar senjata api dominan di Asia. Meski nantinya Portugal akan berperan aktif dalam perdagangan senjata api di Asia dan Nusantara, perlu diketahui jika senjata api mereka bukanlah senjata api Eropa pertama yang pernah didagangkan di Asia. Menurut Pires . , senjata api dari Venesia sudah didagangkan lebih awal di sini. Senjata-senjata tersebut didistribusikan oleh pedagang- pedagang dari Kairo yang berniaga di Malaka. Mereka kemungkinan besar mendapatkan instrumen perang itu sebagai imbalan atas penjualan rempah kepada pedagang Venesia. Hal tersebut mengimplikasikan kegemilangan para perajin senjata Italia, sebagai salah satu pemimpin produsen senjata api pada abad ke-16. Pada masa-masa setelah 1511. Nusantara belum dijadikan sebagai target ekspor senjata api Portugal. Penjualan senjata api yang dilakukan pun masih menyasar kekuatan-kekuatan besar yang mampu mengacaukan pengaruh musuh dagang mereka, yaitu berbagai dinasti Islam Sunni di Samudra Hindia, seperti Gujarat dan Turki Usmani. Pedagang Portugal menjual senjata api ke Sultan Ismail I dari Persia Safawiyah, yang merupakan rival dari orang-orang Turki, setidaknya sejak tahun 1515 . e Albuquerque, 1875. Chase, 2. Raja-raja Hindu India juga merupakan klien mereka lainnya. Adanya ambisi bersama untuk menekan laju ekspansi Islam di India menjadi alasan bagi pedagang Portugal untuk mengirimkan senjata apinya ke para raja tersebut (Meilink-Roelofsz. Pada waktu yang bersamaan. Portugal memiliki sikap yang berbeda terhadap perdagangan senjata api di Nusantara. Mereka cenderung lebih memilih mengirim kontingen pasukan bersenjata api ketimbang mengekspornya langsung untuk digunakan orang pribumi. Contoh mengenai hal tersebut dapat ditemukan pada 1521 ketika Portugal menyerbu Samudra Pasai. Konflik tersebut bermuara dari keinginan Portugal untuk menyingkirkan Sultan Zainal, atau Geinal dalam catatan Joao de Barros, yang dianggap sebagai ancaman bagi Malaka (Dion. Ketika pasukan Portugal yang dipimpin oleh Joao Pereira mendapat kabar bahwa Kerajaan Aru sedang berkonflik dengan Pasai. Pereira menerima bantuan mereka untuk melawan musuh yang sama. Sultan Zainal pun gugur dalam konflik melawan pasukan gabungan Aru-Portugal. Walau demikian. Barros yang melaporkan mengenai kejadian tersebut tidak menyebut jika Pereira mempersenjatai orang-orang Aru dengan senjata api genggam. Sikap berbeda akan ditunjukkan oleh mereka pada tahun 1540-an yang akan dibicarakan nanti. Contoh lainnya ada dalam kasus aliansi Kerajaan Sunda dengan Portugal. Banten yang berperan aktif dalam menyebarkan agama Islam, lebih spesifiknya Islam Sunni, membuatnya menjadi musuh orang-orang Portugal. Kerajaan Sunda yang merasa tertekan dengan Page 390 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 keberadaan Banten mendirikan persekutuan dengan orang-orang Portugal pada 21 Agustus 1522 (Archivo Nacional da Torre do Tombo, 1. Sebagaimana dengan Aru. Portugal tidak menjual senjata api ke orang-orang Sunda. Mereka hanya berencana membangun benteng di Sunda Kelapa untuk melindungi wilayah tersebut, dan tentunya kepentingan dagangnya, dari ancaman Banten. Walau tidak menjual senjata api. Charney menyebut jika pada masa ini ada 40 pengawal Portugal bersenjata api yang mengabdi sebagai pelindung raja Sunda (Charney. Portugal juga sangat diuntungkan oleh adanya persekutuan ini, sebab mereka diberi upeti sebesar seribu karung lada tiap tahunnya untuk dibawa pulang ke Portugal (Archivo Nacional da Torre do Tombo, 1. Pada akhirnya, rencana Portugal untuk membangun benteng tersebut tidak terealisasi karena invasi Banten pada 1527 (Vlekke, 2. Portugal mungkin belum dapat memercayai orang-orang pribumi dengan senjata api buatan mereka. Kendati demikian, penduduk lokal Nusantara masih memiliki cara untuk memperoleh senjata-senjata orang Portugal, terutama meriam mereka, yang menjadi incaran banyak pihak. Terkadang kapal Portugal yang melintas di perairan Nusantara karam karena alasan tertentu. Senjata-senjata yang dibawa kapal tersebut beserta muatannya tidak jarang diambil oleh kerajaan setempat di lokasi sekitar untuk digunakan kembali oleh mereka (Dion. Menyadari nilai yang dimiliki senjata apinya. Portugal biasanya tidak akan tinggal diam, terlebih ketika senjata tersebut berpotensi jatuh ke tangan musuh. Hal tersebut dicontohkan melalui suatu peristiwa pada tahun 1521 ketika kapal bersenjata yang dikemudikan Gaspar da Costa karam di perairan Aceh (Dion, 1. Khawatir artileri kapalnya akan direbut Aceh yang merupakan rival mereka di Nusantara. Portugal mengirim regu sebanyak 200 orang yang dipimpin oleh Jorge de Brito dari Malaka untuk mengambil kembali meriam-meriam tersebut. Tanpa diduga, pasukan Aceh yang dipimpin langsung Sultannya menyergap mereka (Dion. Pertempuran terjadi dan pasukan Portugal yang kalah jumlah pun terbantai. Misi untuk merebut kembali artileri pun gagal dan 50 tentara Portugal, termasuk de Brito, tewas dalam baku tembak yang terjadi (Dion, 1. Tahun 1540-an dapat dilihat sebagai masa keemasan perdagangan senjata api Portugal. Pada periode ini, industri senjata api mereka di Goa kemungkinan besar sudah semakin Alhasil, semakin banyak pula senjata api berbagai kaliber yang mampu mereka Kapal-kapal Portugal pun sudah mampu berlabuh ke pelabuhan Jepang yang memperluas cakupan pasar mereka. Di sisi lain, kompetisi, selain dari orang Spanyol dan India, dalam perdagangan senjata api pun masih minim, sehingga mereka masih mendominasi penjualan komoditas tersebut. Pada periode inilah sikap mereka terhadap perdagangan senjata api menjadi semakin longgar. Jika pada tahun 1510-an dan 1520-an orang Portugal masih enggan untuk menjual senjatanya kepada kerajaan-kerajaan Nusantara, kini mereka mulai menerima tawaran semacam itu. Selama kehadiran mereka di Malaka hingga 1641. Portugal selalu melihat Aceh sebagai musuh besar mereka di Nusantara. Aceh yang terkenal ekspansionis, sebagaimana Portugal, tercatat sudah pernah mengepung Malaka yang mereka kuasai sejak 1513 (Ricklefs, 2. Sikap ekspansionis Aceh tersebut membuat beberapa faksi di Sumatra merasa terancam hingga memutuskan untuk mendekat ke Portugal. Salah satu kerajaan yang berhubungan baik dengan Page 391 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Portugal sejak lama adalah Kerajaan Aru. Pada masa kepemimpinan Kapten Pero atau Peter de Faria di 1539. Aru diserang oleh 300 tentara Aceh (Sousa, 1. Meski serangan tersebut sukses, tentara Aceh tidak menaklukkan pulau tersebut dan hanya menjarah serta membunuh raja Aru saja. Istri dari mendiang Raja Aru yang berduka pun pergi ke Malaka. Di sana dirinya menghadap de Faria untuk menjalin aliansi antara kedua bangsa. Tawaran aliansi tersebut diterima dan diperkuat melalui pernikahan politik de Faria dan sang Ratu (Sousa, 1. Sejak saat itu. Aru menerima senjata-senjata Portugal yang dikirim oleh de Faria dari Malaka. Aru bukanlah satu-satunya kerajaan Nusantara yang membeli senjata api Portugal. Sekutu lain mereka dalam konflik melawan Aceh adalah orang Batak. Di antara tahun 1540 hingga 1542. Sousa . menyebut bahwa orang Aceh telah menghabisi nyawa tiga anak raja Batak yang tengah berkuasa. Percaya jika Portugal dapat menolong mereka melawan Aceh, sang Raja mengirim utusannya untuk menghadap de Faria. Utusan tersebut datang dengan tawaran, di mana mereka akan membeli senjata api yang dimiliki Portugal beserta amunisinya. Sebagai imbalan atas pengiriman alat perang tersebut. Raja berjanji akan mengirimkan emas, kapur barus, dan komoditas yang mereka incar, yaitu lada (Sousa, 1. Kesepakatan pun berhasil Senjata api Portugal pun mulai dikirim ke negeri Batak. Dengan senjata baru yang mereka miliki tersebut, mereka menyerang balik orang-orang Aceh meskipun dengan kesuksesan yang sangat minim (Sousa, 1. Di luar Sumatra, importir senjata api Portugal lainnya adalah Kerajaan Gowa-Tallo. Sebelum Islam mempenetrasi Sulawesi Selatan, pedagang Portugal aktif berdagang di wilayah tersebut sejak 1540-an (Ricklefs, 2. Interaksi komersial antara kedua pihak bersifat Di satu sisi, pedagang Portugal mendapat rempah dan emas, sedangkan di sisi lain penduduk lokal memperoleh senjata api. Orang Makassar tidak hanya mendapat senjata api sebagai barang jadi. Mereka juga memperoleh pengetahuan mengenai proses pembuatannya. Sehubungan dengan itu. Raja Gowa-Tallo pun mempekerjakan berbagai perajin senjata Portugal, kemungkinan besar orang Italia atau Belanda, untuk membuat senjata api baginya (Meilink-Roelofsz, 1962. Reid, 2. Kesungguhan Gowa-Tallo dalam membuat senjata api semakin dibuktikan melalui penerjemahan kitab-kitab berbahasa Portugal yang berbicara mengenai persenjataapian (Ricklefs, 2. Tidak terdapat banyak catatan lain mengenai perdagangan senjata api yang dilakukan orang Portugal di Jawa. Kalimantan, atau pun Maluku. Walau demikian, mengingat senjata api Portugal marak diperjualbelikan dari Persia hingga Jepang serta beberapa kerajaan di Nusantara, maka bukan tidak mungkin jika senjata api Portugal juga turut diperjualbelikan di ketiga pulau tersebut (Chase, 2. Memasuki sepertiga terakhir abad ke-16, perdagangan senjata api yang dilakukan secara bebas mulai membawa konsekuensi bagi Portugal. Keretakan terhadap dominasi mereka dalam pasar perdagangan senjata api pun mulai muncul. Pukulan pertama justru dari dalam negeri. Faksi gereja khawatir jika penjualan senjata api, terutama meriam, secara bebas di Asia dapat membahayakan keselamatan koloni-koloni mereka di Asia karena dapat jatuh ke pihak yang berpotensi menjadi musuh. Kecemasan mereka identik dengan kekhawatiran para penjelajah Page 392 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 awal Portugal ketika tiba ke benua ini. Untuk menghentikan persebaran senjata api, dewan gereja Portugal di Goa mengeluarkan larangan menjual senjata api ke orang-orang Hindu dan Muslim (Boxer, 1. Peraturan baru tersebut harus dipatuhi setiap pedagang Portugal yang membuat mereka tidak dapat menjual instrumen perang tersebut secara bebas. Peraturan tersebut tentunya akan dipatuhi oleh para administrator dan prajurit Portugal yang taat mengabdi untuk negaranya. Kendati demikian, orang-orang semacam itu bisa dibilang langka pada abad ke-19, sebab masalah korupsi merupakan masalah nyata yang tengah menggerogoti administrasi Portugal di Asia pada masa-masa ini. Dalam konteks perdagangan senjata api, ada laporan jika meriam dan amunisi di benteng-benteng Portugal dipreteli dan dijual secara ilegal (Meilink-Roelofsz, 1. Tidak hanya itu, aset negara, termasuk kapal perang dan senjata api negara pun sering kali digunakan untuk melakukan perdagangan pribadi tanpa sepengetahuan pihak berwenang (Meilink-Roelofsz, 1. Isu lain yang turut menggoyahkan dominasi Portugal adalah masalah kedisiplinan. Terdapat kasus di mana tentara atau pelaut Portugal di Asia tidak digaji oleh pemeritah . an Linschoten, 1. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan maraknya korupsi yang terjadi dalam administrasi Portugal di Asia. Sebagai dampaknya, tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk melakukan desersi (Trakulhun, 2. Mereka yang melakukan desersi cenderung tidak pulang ke Portugal, namun memilih untuk mencari peruntungan mereka sendiri di Asia. Mendagangkan senjata api secara ilegal merupakan suatu hal yang besar kemungkinannya dipraktikkan oleh para mantan tentara dan pelaut Portugal. Di tengah-tengah disorganisasi yang terjadi dalam kepemimpinan Portugal di Asia, kekuatan-kekuatan Eropa lainnya mulai mengkesploitasi kelemahan mereka. Rute pelayaran menuju Asia yang sebelumnya sangat dirahasiakan oleh Kerajaan Portugal perlahan mulai menjadi rahasia umum. Menjelang akhir abad ke-19, menyusul orang-orang Spanyol, kapalkapal dari Inggris. Perancis. Belanda, dan Denmark-Norwegia mulai bermunculan di perairan Nusantara. Dari sekian negara yang disebut itu. Belanda akan menantang dominasi Portugal dalam perdagangan senjata api dan rempah di Nusantara pada abad berikutnya. Kompetisi Perdagangan Senjata Api Portugal-Belanda, 1596-1641 Seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, orang Belanda mungkin sudah hadir di Asia sejak kedatangan orang Eropa pertama pada ekspedisinya Vasco da Gama. Pada awalnya, mereka sering kali hanya berprofesi sebagai awak kapal, terutama operator meriam dan senjata api saja. Dikarenakan mereka mengabdi ke Raja Portugal, maka mereka tidak diberi mandat untuk menahkodai kapal-kapal kerajaan. Hal tersebut sejalan dengan keinginan Portugal untuk merahasiakan jalur dagang menuju Asia dari bangsa-bangsa Eropa lainnya. Kendati demikian, selama keberadaan orang-orang Portugal di Asia, orang Belanda banyak membantu mereka dalam mendirikan jaringan perdagangan melalui berbagai penaklukan. Rydiger von Geldern misalnya yang mengabdi di bawah kepemimpinan de Albuquerque dan berperan sebagai pengurus amunisi pada perebutan Goa pada 1510 dan Malaka setahun setelahnya (Metzig. Page 393 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Walau pada awalnya kinerja dan kemampuan operator senjata api Belanda sangat dihargai oleh orang-orang Portugal, memasuki paruh kedua abad ke-16, hubungan antara keduanya mulai merenggang. Memburuknya relasi orang Belanda dan Portugal ini kemungkinan besar tidak dapat dilepaskan dari reformasi yang tengah terjadi di Eropa. Orang Belanda, terutama yang tinggal di utara, cenderung lebih menerima Protestanisme. Sebagai konsekuensinya, orang Portugal yang beragama Katolik mulai memiliki prasangka buruk kepada mereka. Tentu saja, perlu diingat bahwa tidak semua orang Belanda langsung beralih kepercayaan menjadi Protestan ketika reformasi meletus, namun hal tersebut tidak banyak memengaruhi pandangan orang Portugal kepada mereka. Korupsi dalam administrasi Portugal di Asia juga semakin memperkeruh keadaan. Jan Hyygen van Linschoten . , pedagang Belanda yang pernah bekerja di bawah Portugal dan tinggal di Goa pada 1583, pernah melaporkan tindakan diskriminatif perwira Portugal kepada operator senjata Jerman dan Belanda. Ia menyebut bahwa beberapa tahun sebelum dirinya tiba ke koloni Portugal tersebut, gaji para operator senjata Jerman dan Belanda sering kali tidak dibayarkan oleh tuan Portugalnya. Ketidakmampuan orang Portugal untuk membayar gaji anak buahnya tentu saja aneh jika mengingat besarnya keuntungan yang mereka dapat dari perdagangan rempah dan senjata api di Asia. Ketika para prajurit tersebut meminta haknya, tuannya justru malah membalas dengan pelecehan dan hukuman . an Linschoten, 1. Mereka yang dihukum ini dijatuhi hukuman dengan cara dipaksa menjadi pendayung galaigalai kapal Portugal. Perbedaan keyakinan dan diskriminasi kemungkinan besar berperan dalam menaburkan benih-benih konflik Portugal kontra Belanda di masa depan. Setelah provinsi-provinsi Belanda bersatu untuk mendirikan negara Belanda pada tahun 1579, meski harus memperjuangkan kemerdekaannya selama berpuluh-puluh tahun dari Spanyol, alasan untuk berlayar di bawah panji Portugal menjadi semakin tidak bisa dibenarkan di antara orang Belanda (Levy, 1. Van Linschoten, meski seorang Katolik, memetakan kekayaan Asia dan Nusantara dalam catatan perjalanannya selama ia tinggal di benua tersebut. Kesaksiannya kelak akan menjadi modal berharga bagi para pedagang Belanda yang hendak berlayar ke arah timur. Layaknya orang Portugal yang ingin menggeser kedudukan Venesia. Belanda kini memiliki ambisi serupa untuk merebut tahta Portugal dalam perdagangan rempah, dan bersamanya perdagangan senjata api (Hart, 2. Sehubungan dengan senjata api, orang Belanda juga menjadikan senjata api sebagai aset dan komoditas berharga bagi petualangan mereka di Nusantara sebagaimana halnya dengan orang Portugal. Sehubungan dengan itu, sejak abad ke-15, wilayah Belanda sudah terkenal sebagai salah satu dari tiga daerah perajin senjata terbaik di Eropa. Selang satu abad ke depan, senjata api sudah diproduksi di berbagai kota besar di sana (Vogel, 1. Perajin senjata Belanda sering kali menerima pesanan pembelian senjata api dari berbagai kerajaan di Eropa dan Afrika. Vogel . menyebut klien mereka mencakup Perancis. Spanyol. Austria. Swedia. Brandenburg. Denmark. Rusia. Polandia. Inggris. Venesia. Portugal, dan Maroko. Kuatnya industri persenjataapian Belanda menandakan banyaknya senjata api dari berbagai ukuran yang mampu mereka produksi. Melalui pengalaman berlayar di bawah orang-orang Page 394 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Portugal, mereka pun sadar akan tingginya minat terhadap senjata api Eropa di Asia, termasuk Nusantara. Ketika kapal-kapal Belanda tiba di Nusantara, mereka akan berperan aktif dalam mendistribusikan senjata api di kepulauan ini. Pada Juni 1596, empat kapal Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba di perairan Nusantara. De Houtman sendiri adalah pelaut berpengalaman yang sudah pernah berlayar bersama orang-orang Portugal beberapa tahun sebelumnya (Raffles, 1. Dirinya mengetahui siasat Portugal dalam berdagang dan siapa saja musuh-musuh mereka. Sehubungan dengan itu. Banten, yang tengah berkonflik dengan Portugal, dijadikan destinasi pertama keempat kapal Belanda tersebut (Raffles, 1830. Ricklefs, 2. Kesepakatan antara Sultan Banten dan de Houtman pun berhasil tercapai. Melalui kesepakatan tersebut. Belanda dizinkan untuk mendirikan pabrik yang memungkinkan mereka untuk berdagang rempah di wilayah sang Raffles . dalam bukunya The History of Java, menyebut jika pemukiman Belanda di Banten adalah pemukiman pertama mereka di Asia. Kemunculan kapal-kapal Belanda di perairan Nusantara memicu kemarahan orang-orang Portugal. Sebagai balasan karena telah menerima kedatangan Belanda. Goa bertindak cepat untuk menghukum dan mengintimidasi Sultan Banten. Pada tahun yang sama. Lourenyo de Brito diutus dari Goa untuk memimpin detasemen armada Portugal untuk membombardir pelabuhan tersebut (Murterira, 2. Walau demikian, penyerangan tersebut tidak berhasil. Sebagai alternatifnya. Portugal memutuskan untuk menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal Belanda yang mereka temui. Hingga beberapa tahun ke depan. Goa akan terus berupaya untuk mengintimidasi Banten agar menutup pelabuhannya untuk kapal-kapal Belanda (Murterira. Dengan ini, maka konflik antara Belanda dan Portugal pun terpercik tanpa adanya deklarasi perang resmi. Tidak diketahui apabila orang-orang Belanda yang direpresentasikan de Houtman menjual senjata api ke orang-orang Banten pada tahun 1596. Walau demikian, orang-orang Belanda tidak menghabiskan waktu lama untuk terlibat ke perdagangan senjata api di Nusantara. Catatan pertama mengenai keterlibatan mereka sebagai pemasok senjata api di kepulauan ini muncul pada tahun 1602, beberapa bulan ketika VOC baru saja terbentuk. Pada 17 Juni 1602. Laksamana Wolphert Hermanszoon berhasil membuat kesepakatan dengan penguasa dari Pulau Banda. Kesepakatan tersebut merupakan perjanjian dagang yang intinya memberi izin orang Belanda untuk menjual beberapa komoditas ke Banda. Di antara berbagai komoditas yang disebut, senjata api merupakan salah satu barang yang akan dikirim ke pulau itu (Heeres, 1. Dikarenakan para pelaut Belanda yang berlayar di Nusantara memiliki pengetahuan luas mengenai kondisi Portugal, termasuk relasi diplomatisnya, mereka sadar betul mengenai rivalitas yang ada antara Portugal dengan Aceh. Sehubungan dengan itu, selain bekerja sama dengan Banten, kini orang Belanda berusaha untuk membuka hubungan diplomatis dengan kesultanan tersebut untuk semakin menekan pengaruh Portugal. Upaya ini direalisasikan pada 1607 ketika Wakil Laksamana Olivier van Vivere yang diutus VOC berhasil mendarat di Aceh setelah berlayar dari Banten beberapa hari sebelumnya (Heeres, 1. Di sana dirinya Page 395 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 disambut dengan baik dan dijamu oleh Sultan Aceh. Setelah berbincang panjang lebar, kedua pihak sepakat untuk menjalin hubungan diplomatis yang diratifikasi pada kesepakatan tanggal 17 Januari 1607. Lebih lanjut lagi. VOC juga menyatakan bahwa mereka siap menyuplai Aceh dengan senjata api jika Aceh mampu membayarnya (Heeres, 1. Kepulauan Maluku yang terkenal sebagai daerah penghasil rempah memiliki kedudukan penting dalam perdagangan komoditas tersebut. Berniat mengungguli keberadaan pedagang Portugal di sana. Belanda mulai melakukan operasi perdagangan pada awal 1600-an di Ternate dan Kepulauan Maluku lainnya. Akses mereka ke kepulauan rempah terbuka setelah mereka berhasil menaklukkan benteng Portugal di Ambon pada tahun 1605 (Ricklefs, 2. Benteng tersebut akan mereka jadikan sebagai pusat operasional VOC di Nusantara sebelum nantinya dipindahkan ke Batavia pada 1619 (Ricklefs, 2. Sebagaimana dengan yang telah diperbincangkan di awal, perdagangan senjata api dan rempah sering kali saling berkaitan erat. Sejalan dengan itu. VOC di Maluku tidak hanya berperan sebagai importir rempah, melainkan juga pengekspor senjata api ke pulau tersebut. Berdasarkan sebuah catatan pada tahun 1613, kongsi dagang Belanda tersebut disebut sudah menjual senjata api ke orang-orang Ternate (Heeres, 1. Tidak hanya itu, mereka juga berniat untuk menjual senjata api ke pulau-pulau lainnya dalam gugusan kepulauan Maluku. Walau demikian, mereka sadar bahwa penjualan tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar senjata api tidak jatuh ke tangan musuh (Heeres, 1. Dedikasi Belanda untuk meruntuhkan dominasi perdagangan senjata api Portugal tidak hanya terbatas di Nusantara. Sadar bahwa Jepang merupakan salah satu klien Portugal terbesar dalam impor senjata api, mereka mulai menyusun siasat untuk menginfiltrasi pasar Jepang. Pada tahun 1610-an. VOC sudah mulai menjual meriam-meriam buatan mereka ke berbagai penguasa di Jepang (Chase, 2. Sejak saat itu, mereka menjadi salah satu eksportir senjata api berpengaruh di negeri tersebut. Kesuksesan mereka nyatanya memercikkan kecemburuan orang Portugal yang telah berdagang senjata api di Jepang sejak 1542 atau 1543 (Boxer, 1965. Chase, 2. Akibatnya, pada tahun 1621, terjadi bentrokan antara kapal-kapal VOC kontra Portugal di perairan Jepang karena perselisihan dagang (Heeres, 1. Memasuki tahun 1620-an. Portugal sadar bahwa posisi mereka sebagai pengekspor senjata api paling berpengaruh di Asia sedang ditantang oleh VOC. Mereka tidak pasrah begitu saja, bahkan ketika digerogoti oleh permasalahan korupsi yang sangat serius. Sebagai respons terhadap pembangunan pabrik mesiu VOC di Pulicat pada 1620, mereka memutuskan untuk membuka fasilitas pembuatan senjata api baru (Chew, 2. Makau yang mereka kuasai pada 1557 dipilih sebagai lokasi konstruksi karena jaraknya yang dekat ke Cina dan Jepang (Boxer. Melalui pembuatan fasilitas tersebut, mereka kemungkinan besar berharap dapat kembali mengungguli produksi senjata api VOC yang dapat mengubah kondisi perdagangan senjata api di Asia. Tungku pembuatan senjata api tersebut rampung pada awal 1620-an dan mulai memproduksi senjata api pada tahun 1623 (Boxer, 1. Senjata api tersebut nantinya akan diekspor ke Cina, dan untuk kebutuhan domestik di Malaka (Boxer, 1965. Raap, 2. Page 396 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 Dalam beberapa titik di Nusantara, senjata api berperan besar dalam menggerakkan dinamika perpolitikan dan diplomasi antar negara. Hal tersebut sesuai dengan perkataan Chase . yang menyebut bahwa senjata api merupakan alat diplomatis. Salah satu contoh mengenai bagaimana keberadaan senjata api menggerakkan dinamika perpolitikan suatu daerah dapat ditemukan di Makassar atau Kesultanan Gowa-Tallo pada abad ke-17. Penguasa GowaTallo, yang kerajaannya telah memeluk Islam, memiliki ketertarikan besar terhadap teknologi senjata api. Mereka telah menjadi importir senjata Portugal sejak abad sebelumnya. Pada tahun 1620-an. Sultan Gowa-Tallo ingin membeli meriam dari Portugal. Keinginan Sultan menimbulkan sebuah perdebatan bagi orang-orang Portugal. Seperti yang telah disebut, sejak tahun 1567 mereka dilarang untuk mendagangkan senjata api ke orang Muslim. Di sisi lain, mereka sadar jika sang Sultan kemungkinan besar akan berpaling ke orang-orang Belanda yang sudah memiliki pabrik di Makasar untuk membuat permohonan serupa (Chew, 2. Tidak mau kembali diungguli oleh orang Belanda, pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjual meriam tersebut ke Gowa. Keputusan tersebut mempererat hubungan keduanya. Contoh serupa dapat ditemukan di Pulau Jawa, di mana baik VOC maupun Portugal saling berlomba untuk menjalin persekutuan dengan Kesultanan Mataram. VOC membuat pergerakan jauh lebih awal ketimbang Portugal pada tahun 1610-an. Orang-orang Belanda sadar bahwa mereka membutuhkan persediaan pangan untuk pos-pos dagang mereka di Nusantara dan Asia. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk menjalin hubungan dagang dengan Mataram yang wilayahnya terkenal sebagai pengekspor beras. Untuk menyimbolkan ketulusan dan persahabatan. VOC menghadiahi Sultan Agung empat buah meriam pada tahun 1615 (Pigeaud dan de Graaf, 1. Sebagai balasannya. Sultan Mataram tersebut mengizinkan VOC untuk mendirikan pos dagang di Jepara. Hubungan bersahabat keduanya tidak berlangsung Hanya tiga tahun setelah pos dagang di Jepara dibuka. Sultan Agung tiba-tiba melarang penjualan beras ke orang-orang Belanda (Ricklefs, 2. Larangan itu membuat kesal pedagang Belanda. Sebagai balasannya, mereka memutuskan untuk merusak masjid Jepara dan menjarah kapal-kapal Mataram (Ricklefs, 2. Permusuhan antara Sultan Agung dan VOC merupakan kabar baik bagi Portugal. Memanfaatkan kondisi tersebut, mereka mengirim utusan ke Mataram pada tahun 1631 (Pigeaud dan de Graaf, 1. Utusan Portugal tersebut disambut dengan baik oleh Sultan. Kedua pihak sepakat untuk melakukan serangan bersama terhadap Batavia, di mana Portugal akan menyerbu via jalur laut (Pigeaud dan de Graaf, 1. Tahun demi tahun berlalu, dan janji Portugal untuk menyerang Batavia tidak kunjung tiba. Orang-orang Portugal mungkin sadar jika mereka kemungkinan telah membuat Sultan Agung kesal. Untuk mempertahankan aliansi. Portugal melakukan manuver politik yang sama dengan VOC hampir tiga dekade lalu. Pada tahun 1638-1640, mereka menghadiahkan Mataram berbagai senjata api. Sayangnya, upaya Portugal itu tidak bisa menyelamatkan Malaka dari serangan VOC. Dengan persenjataan superior dan pasukan yang lebih disiplin. VOC berhasil mengungguli Portugal dalam berbagai kesempatan. Pada tahun 1639, mereka berhasil mengusir musuhnya dari Sri Lanka atau Ceylon (Hart, 2. Kemenangan ini tampaknya memberi dorongan dan kepercayaan diri mereka untuk melenyapkan Portugal dari perairan Nusantara. Page 397 of 402 Krisnaldi Putra Kurnia. Mumuh Muhsin Zakaria. Dade Mahzuni Kompetisi Portugal-Belanda dalam Perdagangan Senjata Api di Nusantara, 1498-1641 yaitu dengan merebut Malaka. Strategi perebutan Malaka pun mulai disusun pada tanggal 5 Mei 1640 di Batavia. Berdasarkan keputusan yang disepakati. VOC akan mengirim kapal-kapal mereka, yaitu Egmond. Rijnsburg. Valkenburg. Oudewater. Bredam, de Vos. Langerak. Veenhuizen. Limmen. Rijswijk. Roemerswaal. Klein Zutphen, de Draak. Utrecht. Welsing. Waterlooze. Werve, dan de Yager dalam penyerangan (Leupe & Hacobian, 1. Armada tersebut dipimpin oleh seorang Sersan Mayor bernama Adriaen Antonisz yang memiliki pengalaman perang di Sri Lanka (Leupe dan Hacobian, 1. Ketika tiba, mereka juga dibantu oleh pasukan tambahan dari Kesultanan Johor (Ricklefs, 2. Perebutan Malaka berjalan lambat karena Gubernur Malaka. Manuel da Souza Coutinho, enggan menyerah begitu saja. Pertempuran pun berubah menjadi pengepungan yang berlangsung selama berbulan-bulan. Pada awal Januari 1641, keretakan dalam kubu bertahan mulai muncul yang ditandai dengan maraknya desersi di hari-hari menjelang kapitulasi Malaka (Leupe dan Hacobian, 19. Akhirnya, pada tanggal 14 Januari 1641, panji Portugal berhasil VOC telah merebut Malaka dari genggaman Portugal. Berita kemenangan VOC tersebut dikirim ke Batavia pada tanggal 17 1641 (Leupe dan Hacobian, 1. Perebutan Malaka oleh VOC pada tahun 1641 sukses meruntuhkan dominasi Portugal di Nusantara. Sejak saat itu. VOC akan menggantikan peran Portugal dalam perdagangan senjata api dan rempah di wilayah ini. Walau demikian, jatuhnya pelabuhan tersebut tidak serta-merta menandakan akhir keberadaan Portugal di Nusantara. Mereka masih dapat mengirim armada dari Goa atau Macau walau dengan pengaruh yang terbatas. Portugal tetap menjadi pemasok senjata api bagi Gowa hingga penaklukan kesultanan tersebut oleh VOC pada pertengahan 1600-an (Vlekke, 2. Tidak hanya itu, melalui koloni mereka di Timor, mereka tercatat masih terlibat dalam penjualan senjata api bahkan hingga Hindia Belanda pada abad ke-19 (Java Bode, 1. Kesimpulan Perdagangan senjata api yang dilakukan orang Eropa di Nusantara berkaitan erat dengan perdagangan rempah-rempah. Alasan mengapa pedagang Eropa menjual senjata api di Nusantara tidak terlepas dari normalisasi perdagangan senjata api yang sudah terjadi di benua asal mereka sejak abad ke-15. Berkat kesuksesannya dalam menjelajahi samudera, orang-orang Portugal akan bangkit menjadi bandar senjata api dominan yang juga menguasai perdagangan rempah di Nusantara, bahkan Asia dari tahun 1511-1560-an. Walau demikian, pada sepertiga terakhir abad ke-16, dominasi mereka mulai goyah karena kombinasi faktor internal dan Setelah kapal Belanda tiba di Nusantara pada tahun 1596, keduanya bersaing untuk menguasai pasar ekspor senjata api serta impor rempah. Pada akhirnya. Belanda (VOC), yang lebih unggul berhasil memenangi kompetisi tersebut melalui perebutan Malaka pada tahun Melalui kemenangan tersebut. Belanda berhasil menggeser posisi Portugal dalam perdagangan senjata api dan rempah di kepulauan ini. Ucapan Terimakasih