JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis https://journal. id/index. php/jawamiulkalim/index Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah Hadith Perspective on the Nature of Allah's Laughter Muhammad Istiqamah Institut Agam Islam STIBA Makassar. Indonesia. Email: muhistiqamah@stiba. Abstract The hadiths which mention the nature of Allah Swt. 's "laughter" are part of a complex discussion in Islamic theological discourse, especially in the study of AsmA' wa ifAt. This characteristic is included in the category of khabariyyah . ased on new. characteristics which outwardly resemble the actions of creatures. This research aims to examine in depth the hadiths that mention Allah's laughter, the validity of their sanad, the meaning they contain, as well as the approach of the scholars in interpreting them. Using a literature study method and a descriptive-analytical approach, this paper shows the diversity of approaches between the Salaf and Khalaf groups in understanding this nature. On the one hand, a literal understanding is accepted within the limits of tanzih . urification from likenes. , and on the other hand, there is a more rationalistic approach to takwil. This study emphasizes the importance of the principle of bilA kayf and caution in understanding the nature of Allah in order to avoid deviations from the faith. Keywords: the nature of Allah, laughter, hadith, salaf, takwil, tasybih, tanzih Abstrak Hadis-hadis yang menyebutkan sifat "ketawa" Allah Swt. merupakan bagian dari pembahasan yang kompleks dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam kajian AsmAAo wa ifAt. Sifat ini termasuk kategori sifat khabariyyah . erdasarkan berit. yang secara lahiriah menyerupai perbuatan makhluk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam hadis-hadis yang menyebut ketawa Allah, validitas sanadnya, makna yang dikandungnya, serta pendekatan para ulama dalam menafsirkannya. Dengan metode studi kepustakaan dan pendekatan deskriptif-analitis, makalah ini menunjukkan adanya keberagaman pendekatan antara golongan Salaf dan Khalaf dalam memahami sifat ini. Di satu sisi, pemahaman literal diterima dalam batas tanzih . enyucian dari keserupaa. , dan di sisi lain, terdapat pendekatan takwil. Kajian ini menegaskan pentingnya prinsip bilA kayf dan kehati-hatian dalam memahami sifat Allah agar terhindar dari penyimpangan akidah. Kata kunci: sifat Allah, ketawa, hadis. Salaf, takwil, tasybih, tanzih Article Info: How to cite: Received: 9 July 2025 Revised: 10 August 2025 Accepted: 1 September 2025 Published: 30 September 2025 Muhammad Istiqamah. AuPerspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa AllahAy. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis 3. No. : 107-123. 36701/jawamiulkalim. PENDAHULUAN Pembahasan mengenai sifat-sifat Allah Swt. merupakan salah satu topik sentral dalam teologi Islam (Aoilm al-kalA. dan telah menjadi bahan kajian mendalam sejak masa generasi tabiAoin. Di antara sifat-sifat yang termuat dalam hadis-hadis Nabi Muhammad AA adalah sifat yang secara lahiriah tampak menyerupai sifat-sifat makhluk, seperti marah . , turun ke langit dunia . , dan tertawa . Sifat-sifat semacam ini 107 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. dikategorikan sebagai sifat khabariyyah, yakni sifat-sifat yang diketahui hanya berdasarkan pemberitaan dari sumber-sumber wahyu (Al-QurAoan dan hadi. , dan bukan melalui akal ataupun pengamatan. Salah satu sifat yang kerap menjadi perdebatan dan menarik perhatian para teolog dan ulama hadis adalah sifat AutertawaAy Allah Swt. Hadis-hadis sahih menyebut bahwa Allah tertawa terhadap perilaku hamba-hamba-Nya dalam konteks tertentu. Di antaranya adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang Allah yang tertawa kepada dua orang yang saling membunuh, namun keduanya masuk surga. Perbedaan pendekatan dalam memahami sifat ketawa Allah dapat ditelusuri pada perbedaan orientasi antara mazhab Salaf dan Khalaf. Ulama Salaf seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama Hanabilah umumnya menerima hadis tersebut sebagaimana adanya, tanpa takwil, dan dengan prinsip bilA kayfAimenerima tanpa menanyakan bagaimana bentuk atau hakikatnya. 3 Mereka berpegang pada kesucian Allah dari penyerupaan . dan penolakan . aAo. , serta menyerahkan kaifiyahnya kepada Allah. 4 Di sisi lain, ulama Khalaf seperti Imam al-Nawawi, al-Razi, dan para tokoh AsyAoariyah serta Maturidiyah memilih untuk menakwil makna AuketawaAy sebagai metafora atas keridaan, rahmat, atau pemberian pahala dari Allah. Masalah ini tidak hanya bersifat akademik dan teoretis, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan keimanan dan kerangka akidah seorang Muslim. Bagaimana seseorang memahami sifat-sifat Allah akan berdampak langsung pada konsep ketuhanan yang ia Terlalu condong pada pemahaman tekstual dapat menimbulkan tasybh, sementara terlalu bebas dalam menakwil dapat membawa pada taAol dan rasionalisme ekstrem. Di samping itu, hadis-hadis yang menyebut ketawa Allah Swt. termasuk dalam hadis-hadis yang sahih dan banyak terdapat dalam kitab-kitab utama seperti Shahih alBukhari. Shahih Muslim, dan lainnya. 7 Oleh karena itu, kehadiran hadis-hadis ini dalam sumber primer keislaman menuntut pengkajian yang serius, jujur, dan metodologis. Tidak mungkin seorang Muslim menolak hadis-hadis sahih tanpa alasan ilmiah yang kuat, namun juga tidak dibenarkan memahami makna-maknanya secara sembarangan yang bisa merusak konsep tanzh . enyucian Alla. Berangkat dari latar belakang tersebut, makalah ini akan mengkaji secara sistematis hadis-hadis yang memuat sifat ketawa Allah Swt. dengan pendekatan hadis dan Kajian ini mencakup identifikasi redaksi dan sanad hadis, pemahaman kontekstual terhadap matannya, serta analisis perbandingan terhadap penafsiran para ulama lintas mazhab. Dengan demikian, makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam memperluas wawasan keislaman, khususnya dalam kajian sifatsifat Allah dan pendekatan metodologis terhadap hadis-hadis khabariyyah. Al-Bayhaqi. Al-AsmaAo wa al-Shifat. Beirut: Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah, 1993, hlm. Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari, no. Muslim. Shahih Muslim, no. Ibn Qudamah. LumAoah al-IAotiqad. Riyadh: Maktabah al-MaAoarif, 2004, hlm. Ibn Taimiyyah. MajmuAo al-Fatawa. Kairo: Maktabah Wahbah, 1992, jil. 5, hlm. Al-Nawawi. Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar IhyaAo al-Turats al-AoArabi, jil. 17, hlm. Harun Nasution. Teologi Islam: Aliran-aliran. Sejarah, dan Perkembangannya. Jakarta: UI Press, 1986, hlm. Muslim. Shahih Muslim, no. Fakhruddin al-Razi. Asas al-Taqdis. Beirut: Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2004, hlm. 57Ae59. 108 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. , yang memusatkan kajian pada teks-teks primer dan sekunder dari khazanah Islam klasik dan kontemporer. Metode pencarian hadis dalam penelitian ini menggunakan metode lafzhi sehingga objek utama penelitian adalah hadis-hadis sahih yang memuat lafaz AuyasuakullAhAy (Allah tertaw. atau Auyadhaku rabbunaAy (Tuhan kita tertaw. , atau lafaz yang berbunyi AudhahkAy . lainnya yang disandarkan kepada Allah Swt. sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis utama, seperti Shahih al-Bukhari. Shahih Muslim, dan lainnya. Langkah pertama dalam penelitian ini adalah verifikasi sanad dan matan hadis. Untuk itu digunakan kaidah-kadiah ilmu musthalah al-hadis, seperti penilaian terhadap kualitas sanad . uttasil, tsiqah, dll. ) dan validitas matan . idak syAd dan tidak muAoalla. Langkah kedua adalah analisis kontekstual dan linguistik terhadap lafaz yasuakullAh, dengan menelaah makna bahasa Arab klasik dan penggunaannya dalam konteks masyarakat Arab. Tafsir lafaz juga dikaji melalui pendapat para syurrah hadis. Langkah ketiga adalah analisis komparatif teologis terhadap pendekatan mazhabmazhab teologi dalam memahami hadis-hadis ini, khususnya antara pendekatan Salaf . eperti Ibn Taimiyyah dan Ibn Qudama. dan Khalaf . eperti al-Razi, al-Nawawi, dan al-Ghazal. Pendekatan ini bertujuan menggali keragaman dan kedalaman respons ilmiah terhadap sifat-sifat khabariyyah secara umum, dan sifat ketawa secara khusus. Pendekatan ini memperkuat validitas dan objektivitas hasil kajian, serta memungkinkan peneliti menempatkan hadis tentang sifat ketawa dalam kerangka epistemologi Islam yang utuh, kritis, dan teologis. PEMBAHASAN Hadis-hadis Tentang Sifat Ketawa Allah Swt. Pembahasan mengenai sifat ketawa Allah Swt. merupakan bagian dari diskursus teologis yang masuk dalam kajian al-AsmAAo wa al-ifAt, yaitu pembahasan tentang namanama dan sifat-sifat Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-QurAoan dan hadis. Dalam konteks ini, sifat AuketawaAy termasuk dalam kategori sifat khabariyyah, yaitu sifat-sifat Allah yang hanya diketahui melalui khabar atau riwayat, bukan melalui akal semata. Sifat-sifat khabariyyah kerap menimbulkan perdebatan di kalangan ulama karena berpotensi menyeret pemahaman ke dalam ranah antropomorfisme . enyerupaan Allah dengan makhlu. , terutama ketika lafaz-lafaz tersebut menyerupai sifat fisik manusia, seperti AutanganAy. AuwajahAy. AubersemayamAy, dan termasuk AutertawaAy. Dalam kasus ini, para ulama berbeda pendapat dalam metode memahaminya: apakah menerima secara literal, melakukan takwil maknawi, atau menyerahkan maknanya kepada Allah semata tanpa menjelaskan kaifiyahnya. Pembahasan ini menjadi semakin relevan karena ia tidak hanya bersentuhan dengan aspek linguistik dan keotentikan hadis, tetapi juga menyangkut metodologi penafsiran, fondasi akidah tauhid, serta adab terhadap nash syarAoi. Di satu sisi, hadis-hadis Al-Suyuthi. Tadrib al-Rawi. Beirut: Dar al-Fikr, 1993, jil. 1, hlm. 88Ae94. Ibn Taimiyyah. MajmuAo al-Fatawa. Kairo: Maktabah Wahbah, 1992, jil. 5, hlm. Al-Saffarini. LawAmiAo al-AnwAr al-Bahiyyah. Beirut: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2000. Juz 1, 109 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. yang menyebut Allah tertawa adalah sahih secara sanad. namun di sisi lain, makna tekstualnya dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dijelaskan secara Oleh karena itu, pembahasan berikut akan dimulai dari penelusuran terhadap hadis-hadis yang memuat lafaz AuAAyOE EEA, dilanjutkan dengan analisis linguistik, lalu ditinjau dari pendekatan teologis yang berkembang dalam tradisi Salaf dan Khalaf. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bagaimana umat Islam dapat memahami sifat tersebut dengan tetap menjaga prinsip tanzh . ensucian Allah dari sifat makhlu. tanpa mengabaikan makna spiritual dan etis dari redaksi hadis tersebut. Berikut ini kategori hadis sifat ketawa Allah Swt. , diantaranya: Hadis tentang Pembunuh dan yang Dibunuh Keduanya Masuk Surga Rasulullah saw bersabda: a AcEEa ua OaE aEO IA caA aAUAacEEa AOOa ICO aEA AO a aaNO IeE OO OO I a OaE aI IA ca AeEOIacO u Oa OCa aE ON O aA Oa aOEA e aAOA a A aA AeO OO ICa aE OA AE a OA AacEEa OEOO EI OCa aE AOOa IO I ON aA ca AOA a aAOOA AuAllah tertawa kepada dua orang laki-laki yang salah seorang dari mereka membunuh yang lainnya namun keduanya masuk surga. Orang yang tadinya membunuh kemudian berperang di jalan Allah hingga ia dibunuh lalu Allah mengampuninya dan ia syahidAy (HR. Bukhari Musli. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya (No. dan Imam Muslim dalam shahihnya juga (No. Selain itu, hadis ini juga diriwayatkan dalam banyak kitab hadis seperti MuwatthaAo Imam Malik (No. Mushannaf Abdur Razzaq (No. Musnad Imam Ahmad (No. Imam An-NasaAoi dala Sunan Al-Kubra (No. Shahih Ibnu Hibban (No. dan yang lainnya. Sanad hadis ini sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Yusuf, dari Malik, dari Abi Az-Zinad, dari Al-AAoraj, dari Abu Hurairah ra. Dari Rasulullah saw. Hadis ini sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-NasaAoi, pada hadis nomor 2967. Kandungan hadis ini adalah gambaran tentang kedermawanan dan rahmat Allah Swt. yang tak terbatas. Bagaimana mungkin seorang pembunuh dan yang terbunuh keduanya masuk surga? Ini menunjukkan bahwa pintu taubat dan ampunan Allah selalu terbuka lebar bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya, bahkan untuk dosa sebesar pembunuhan sekalipun. Hadis ini secara tidak langsung menekankan pentingnya akhir kehidupan atau husnul khatimah. Meskipun seseorang pernah berbuat dosa besar di masa lalunya, jika ia mengakhiri hidupnya dalam ketaatan dan pengorbanan di jalan Allah, maka Allah bisa mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Dalam kasus ini, sang pembunuh bertaubat dan gugur sebagai syahid. 12 Hadis ini juga menyoroti kemuliaan yang agung bagi orang yang mati syahid di jalan Allah. Orang yang awalnya adalah pembunuh, namun kemudian berjuang dan gugur di medan jihad, mendapatkan ampunan dan kedudukan tinggi di sisi Allah. Ini Ibnu Hajar al-Asqalani. Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H. Jilid 6, hlm. 110 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. menunjukkan bahwa jihad fi sabilillah . erjuang di jalan Alla. adalah amalan yang sangat mulia dan bisa menghapus dosa-dosa besar. Selain itu. Meskipun keduanya masuk surga, perlu dipahami bahwa kedudukan dan ganjaran antara pembunuh yang bertaubat dan yang terbunuh sebagai syahid kemungkinan besar tidaklah sama. Sang terbunuh adalah syahid secara langsung tanpa melalui proses taubat dari dosa pembunuhan, sehingga ia langsung mendapatkan balasan syahid. Sementara sang pembunuh, meskipun diampuni dan menjadi syahid, ia harus melalui proses taubat dan pengorbanan yang luar biasa untuk mencapai posisi tersebut. Ini mengisyaratkan bahwa Allah Maha Adil dalam memberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan hamba-Nya. Hadis tentang Orang Terakhir yang Masuk Surga Rasulullah SAW bersabda: A OI EO O IO OE O I OeOAUACA a AAo aCA ca AOEA AO OOIEaOO OA A OOIeOO OA:acEEA A Ea aN OA AE OaO I OI OA A CO I IOOIO OA A OEOIO OAUA OI O I O OOEAUA OIA a AEA a AO Ao aCA e aA AaOAUAEA a A aA A OaO O a EO OIa O IEaI O I OCO O IEC OA:AOEA AEacO Ia OA aA aac OaOI O aI EONAUaAcEEa Oac OO O acE IINA a a aA AOE eEOI aacA AuLalu Allah berfirman. Aocelaka engkau anak Adam, betapa pandainya kamu menipu, bukankah engkau telah bersumpah dan berjanji untuk tidak meminta lagi selain yang telah kuberikan?Ao. Maka ia berkata. AoWahai Tuhanku janganlah engkau jadikan aku makhluk-Mu yang paling menderita. Ao Maka Allah Azza wa Jalla tertawa darinya lalu Ia mengizinkannya masuk surga. Ay (HR. Bukhari Musli. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahih-nya . dan Imam Muslim dalam shahih-nya (No. Hadis ini berasal dari sahabat Abu Hurairah ra. Kandungan hadis ini adalah keluasan rahmat Allah Swt. Meskipun Allah telah berfirman dengan nada menegur, "celaka engkau anak Adam, betapa pandainya kamu menipu," dan mengingatkan janji hamba tersebut untuk tidak meminta lagi, namun pada akhirnya Allah tetap mengabulkan permintaannya dan mengizinkannya masuk surga. Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah jauh melampaui batas dan perhitungan manusia. Dialog ini terjadi dengan hamba terakhir yang dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, yang meskipun telah diberi berbagai kenikmatan, ia masih terus meminta dengan gigih. 14 Hadis ini secara gamblang menunjukkan sifat dasar manusia yang cenderung tidak pernah merasa cukup dan selalu ingin mendapatkan yang lebih baik, meskipun telah diberikan karunia yang melimpah. Hamba ini, setelah mendapatkan jatahnya dan berjanji tidak meminta lagi, tetap saja mencari celah untuk memohon lebih. Ini bukan dalam konteks celaan mutlak, melainkan gambaran realitas fitrah manusia yang memiliki thoma' . etamakan/keingina. untuk kebaikan yang terus-menerus. Para ulama Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1392 H. Jilid 13, hlm. Ibnu Hajar al-Asqalani. Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H. Jilid 11, hlm. 111 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. menjelaskan bahwa "celaka engkau anak Adam" bukanlah celaan yang berujung pada siksa, melainkan teguran kasih sayang dari Allah. Hadis Allah Tertawa kepada Dua Orang a A Oua acI EIaac O OC a uaEO IAUAEA I aC AOauIacN O OC a ua OaE EIa aA a A EOO aEI aUAOacN EIacA aA AOauIacNA AOA A OOua acaO aE II OOEI OE OAUAOeEOIacA a a a aa Aa OI IA AOA a a ca aAE EA a a AOa OC aA :A OOEaIE OE a aAUAA O OC oacA a A uaIacNa Oa OCAUA ua OaE EIac aA A OA:AEACA a AO Oa OC aA A OOu acI EI aA a OAUA u OaE EI aA aOaA a A OEO acIa EacOOAUA EaIE aeOA a a a aa U AI uaO OA AIA AOE O OA A AOEO acIa EI OIEOE u OO U O I OAUUAO EEIacOOI EO acIAUUA OOE OOu acI E IE OIEOE EO acIA. A OOAO OOA a A OII O O EO acIO EacOOAU AE AO IEOI a NEEA a AI AO IEOO O O acO I aI II OEa OA a aEA AIA A AO OI II OO O O EO acIO EI OIEO O I O O O O I O OAUAacA A AOu acI NEEOAUAEA a A ua OaEA. AEacOO aI Oa a aEI EI OA IC OaOIIaEIA: AOEA A aaE ua aI NEEa a a aO a aEA:AEA A CO OA. A a IeEOOaA a AOac OO O acE OO aCA AI O a O O O aa IA a AE ua OaE aEO IA UsAA OaEA ca A AOO OOAU aA O a sE CO OI a EOIO EO s Oa aOs aI II AaO a aN OO aaEOAa aN OOa Oa aNA:AeOA e aAOA A aac CO OI ua OaE OAU AOA A a a OA aa a a UA OacIO O OO OI aI O OEA:AAIO O Ao aCOEaO OIA a AAo aCA A OI OaO OE OIO ON O OEOO OI OA:AOE NEEa Oac OO O acE E OI OaE OENA A AO OEa OIAU A o a sE OE OI aA AaO sA. a a A Ao aCAUAOO O OA OCU aaIac aI O OEA A OO acOII aNa aIac O OAU A AOauacI CO I IOOIO aNa OI O OA:AOEA A OI OaO OE OI aO ON O OEOOA:AOE EaIE OI OaEa OE aA a A AO OCO OE Oac Caa OE Ao aCAU aA OO OEa OI OI EONa aI O NEEAUAOI EONa a EI aAO aA A AOauacI a I aN a aE II aOcI CO IA:AOEA a A Ao aCA. A OO O OA OCU aaIac aI O OEAU A OacIO O OO OI aI O OEA:A Ao aCOEaO OIAUAAIO OA AOI OA AA IOO OEEa OIU Oa OONU aNOA A IOOIO aNa OI O O OO acOII aNa aIac O OA "Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian berlaku jujur! Karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan . l-bir. , dan sesungguhnya kebajikan itu membawa kepada surga. Dan jauhilah oleh kalian kedustaan! Karena sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada kefasikan . l-fuju. , dan sesungguhnya kefasikan itu membawa kepada neraka. Sesungguhnya akan dikatakan kepada orang yang jujur: 'Ia telah jujur dan berbuat baik. ' Dan akan dikatakan kepada orang yang berdusta: 'Ia telah berdusta dan berbuat fasik. ' Ketahuilah, sesungguhnya bagi malaikat ada bisikan . dan bagi setan ada bisikan . Bisikan malaikat adalah janji kebaikan, dan bisikan setan adalah janji keburukan. Maka barangsiapa yang merasakan bisikan malaikat, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang merasakan bisikan setan, hendaklah ia memohon perlindungan dari hal itu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Setan menjanjikan . enakut-nakut. kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan . ' hingga akhir ayat. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tertawa kepada dua orang laki-laki: Seorang laki-laki yang bangun di malam yang dingin dari tempat tidur, selimut, dan pakaian tebalnya, lalu ia berwudu, kemudian ia Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1392 H. Jilid 3, hlm. 112 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat-Nya: "Apa yang mendorong hamba-Ku ini melakukan apa yang ia kerjakan?" Para malaikat menjawab: "Wahai Tuhan kami, . harapan terhadap apa yang ada di sisi-Mu dan rasa takut terhadap apa yang ada di sisi-Mu. " Maka Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti. " Dan seorang laki-laki yang berada dalam suatu pasukan . , lalu ia mengetahui apa . baginya dalam melarikan diri, dan ia mengetahui apa . baginya di sisi Allah. Maka ia pun berperang hingga ia terbunuh. Allah berfirman kepada malaikat: "Apa yang mendorong hamba-Ku ini melakukan apa yang ia kerjakan?" Para malaikat menjawab: "Wahai Tuhan kami, . harapan terhadap apa yang ada di sisi-Mu dan rasa takut terhadap apa yang ada di sisi-Mu. " Maka Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mempersaksikan kepada kalian bahwasanya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti," atau kalimat yang serupa dengannya. Ay (HR. Ath-Thabran. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam MuAojam Al-Kabir dengan nomor hadis 8532. Dalam Al-Silsilah Al-Shahihah nomor hadis 3478. Syekh Al-Albani menilai hadis ini sebagai Hasan li Ghairi jika dimarfuAokan kepada Nabi Saw. dan Shahih li Ghairihi jika mauquf ke Abdullah bin MasAoud ra. Kandungan hadis ini mengajarkan pedoman komprehensif yang menggarisbawahi pentingnya kejujuran sebagai fondasi akhlak dan jalan menuju kebaikan di dunia serta surga di akhirat, sekaligus melarang kedustaan yang mengarah pada kefasikan dan neraka, menegaskan bahwa kualitas berbicara seseorang menentukan identitasnya di sisi Allah. Lebih lanjut, hadis ini menyelami dinamika pergulatan batin manusia dengan menjelaskan adanya dua jenis bisikan: bisikan malaikat yang membimbing ke arah kebaikan . ammatul mala. dan bisikan setan yang mengarahkan pada keburukan . ammatul syaita. , yang sering kali termanifestasi dalam bentuk ketakutan akan kemiskinan . engutip QS. Al-Baqarah: . , dan mengajarkan umat Muslim untuk selalu bersyukur atas bisikan kebaikan serta memohon perlindungan dari godaan setan. Puncaknya, hadis ini menggambarkan luasnya rahmat dan keridhaan Allah Swt. diekspresikan dengan "tertawa" terhadap dua golongan hamba istimewa: pertama, seorang yang rela meninggalkan kenyamanan tidurnya di malam yang dingin untuk beribadah dengan penuh harapan dan ketakutan kepada Allah. kedua, seorang pejuang yang berani menghadapi kematian di medan perang, mengesampingkan godaan untuk melarikan diri, demi meraih apa yang ada di sisi Allah dan menghindari siksa-Nya. Kedua amalan tersebut menunjukkan tingkat keimanan dan pengorbanan yang luar biasa, sehingga Allah menjamin pengabulan harapan dan keamanan dari ketakutan mereka. Hadis tentang Tiga Golongan yang Allah Tertawa pada Mereka Rasulullah saw bersabda: Ibnu Hajar al-Asqalani. Fathul Bari. Jilid 11, hlm. al-Nawawi. Syarah Shahih Muslim. Jilid 3, hlm. 113 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. ACE ON IAN NEEA A EO uA:AO NIA A OOAUAOOE uEONIA UaEU eOacNI NEEA AIA AIEA AU OA A IO uaE O N EOA A OEA:A AOCOEAUAOIAN NEEa OOEAOONA A OuI I OAUA AuI I OaCO OEAUA OEA a AOI IIA UA OO O a NOON oEcIA:AAOCOEA a UAEEOEA U aA EOA U A OAAUUAIAN! OEO EN I O OIOA a A Ao aCAUAeO O O UIA AE O a a ca A ACI IIAUA ON OaOAUA ANOAUA OEI IN EAUA OEO u EI aA A sA. AOEO OCO OA ca AOA AOOA "Tiga golongan manusia yang sangat dicintai oleh Allah. Dia tertawa kepada mereka sebagai tanda keridhaan, dan Dia bergembira dengan mereka: Pertama, seseorang yang apabila sekelompok pasukan telah mundur karena kalah, ia tetap berjuang di belakang mereka dengan mengorbankan jiwanya demi Allah Azza wa Jalla, baik ia terbunuh atau Allah menolong serta mencukupinya, lalu Allah berfirman: 'Lihatlah hamba-Ku ini, bagaimana ia bersabar demi-Ku dengan jiwanya?!' Kedua, seseorang yang memiliki istri yang cantik dan tempat tidur yang empuk lagi bagus, namun ia memilih untuk bangun di tengah malam, meninggalkan syahwatnya demi mengingat-Ku, padahal jika ia mau, ia bisa saja tidur nyenyak. Ketiga, seseorang yang sedang dalam perjalanan bersama rombongan, lalu mereka . begadang dan kemudian tidur lelap, namun ia memilih untuk bangun pada waktu sahur, baik dalam keadaan sulit maupun " (HR. Ath-Thabran. Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya nomor 22002 dan AlHakim dalam Al-Mustadrak. No. 2095 dari Abdullah bin MasAoud ra. dan juga oleh Imam Ath-Thabrani dalam MuAojam Al-Kabir, dari sahabat Abu DardaAo ra. dan Nabi Saw. Imam Al-Mundziri mengatakatan dalam Al-Targhib dan Al-Tarhib nomor 629, bahwa AlThabarani meriwayatkan hadis ini dalam MuAojam Al-Kabir dengan sanad hasan. Makna dan kandungan hadis ini menekankan tiga amalan istimewa yang sangat dicintai oleh Allah Swt. , hingga Dia "tertawa" dan bergembira karenanya. Ketiga golongan ini adalah cerminan tertinggi dari keimanan, ketakwaan, dan pengorbanan seorang hamba: Pertama, seorang pejuang yang gigih mempertahankan barisan kaum Muslimin dalam pertempuran, bahkan ketika pasukannya telah terpukul mundur, ia tetap berjuang sendirian dengan mengorbankan jiwanya demi Allah, menegaskan keberanian dan kesabarannya yang luar biasa. Kedua, seorang hamba yang bangun di tengah malam untuk beribadah . iyamul lai. meskipun ia memiliki kesempatan untuk menikmati kenyamanan tidur bersama istrinya yang cantik dan tempat tidur yang empuk, menunjukkan kemampuannya mengalahkan syahwat dan prioritaskan mengingat Allah. Ketiga, seorang musafir yang memilih untuk bangun pada waktu sahur demi beribadah meskipun teman-teman seperjalanannya terlelap setelah begadang, baik dalam kondisi sulit maupun lapang, menyoroti konsistensi ibadah dan kesungguhan dalam mencari keridhaan Allah di setiap keadaan. Secara keseluruhan, hadis ini memotivasi umat Islam untuk meraih derajat tinggi di sisi Allah melalui jihad, qiyamul lail, dan ketekunan 114 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. beribadah dalam segala kondisi, yang kesemuanya dilandasi oleh keikhlasan dan harapan akan pahala Allah. Hadis tentang Implementasi dari Ketawanya Allah di Dunia Menunjukkan Seorang Hamba Tidak Akan Dihisab di Akhirat Rasulullan saw. a A EOI uI O IE aCO a: AEN AE CEA AOONNI ac OaCOEOA AOA U AIA ca AaE EA AEAA E OOEAOI OA s AE acE uaEA a A OEE OIEaCOI aA EaAU a A OuAU AOOE uEONI acNIA U AA EaaE II eEI aacA AOA AOA A EONA a EIO AaEA AOA "Ada seorang laki-laki bertanya . epada Rasulullah A)A: 'Siapakah syuhada yang paling utama?' Beliau menjawab: 'Orang-orang yang apabila mereka dilemparkan ke medan pertempuran, mereka tidak memalingkan wajah mereka . hingga mereka Merekalah yang akan melaju ke kamar-kamar yang tinggi di surga, dan Rabb mereka (Alla. akan tertawa kepada mereka. Dan apabila Rabbmu tertawa kepada seorang hamba di dunia, maka tidak ada hisab . erhitungan ama. " (HR. Ahma. Hadis ini diriwayatkan oleh NuAoaim bin Himar Al-Ghathafani dalam Musnad Ahmad bin Hambal nomor 22476. Musnad Abu YaAola nomor 6855 dan Al-Thabrani dalam MuAojam Al-Ausath nomor 3169. Dihukumi Shahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Targhib pada nomor hadis 1371. Makna dan hikmah hadis ini mengemukakan tentang keutamaan syahid yang paling agung dan balasan luar biasa di sisi Allah. Rasulullah A Amenjelaskan bahwa syuhada terbaik adalah mereka yang ketika dihadapkan pada barisan musuh, mereka tidak gentar atau mundur, melainkan tetap teguh dan berani hingga gugur di medan perang. Keberanian dan keteguhan iman yang tak tergoyahkan inilah yang membuat mereka layak mendapatkan tempat tertinggi di surga, yaitu "kamar-kamar yang tinggi . l-ghuraf al'ul. " Puncak dari kemuliaan mereka adalah ketika Rabb mereka (Alla. "tertawa" kepada mereka, sebuah ekspresi keridhaan, kegembiraan, dan penghargaan ilahiah yang tak terhingga dari AllahAisebuah sifat yang diyakini oleh Ahlussunnah wal Jama'ah sesuai dengan keagungan-Nya tanpa menyerupai makhluk (Imam Tirmidzi. Sunan atTirmidzi. Bab Ma Ja'a fi Fadl as-Shahid. Hadis No. Lebih lanjut, hadis ini menegaskan sebuah janji agung: "Apabila Rabbmu tertawa kepada seorang hamba di dunia, maka tidak ada hisab . erhitungan ama. " Kalimat ini menunjukkan bahwa keridhaan Allah yang sedemikian rupa adalah tanda pasti akan pengampunan total Imam As-Sindi. Syarah Musnad Ahmad. Jilid 16, hlm. Imam Al-Munawi. Faidhul Qadir Syarah al-Jami' as-Shaghir. Jilid 3, hlm. 115 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. dan jaminan masuk surga tanpa melalui proses hisab yang ketat, menyoroti betapa besar nilai keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan jiwa di jalan Allah. Analisis Komparasi Interpretasi Hadis-hadis Sifat Ketawa Allah Swt. Menurut Salaf dan Khalaf Dua pandangan utama dalam Islam mengenai sifat "tertawa" Allah telah berkembang, mencerminkan perbedaan metodologi dalam memahami teks-teks keagamaan yang ambigu . Pandangan ini terbagi antara ulama Salaf . an Hanabila. dan ulama Khalaf (Asy'ariyah dan Maturidiya. Para ulama Salaf, termasuk mayoritas Hanabilah, berpegang pada prinsip itsbat bila kayf . enetapkan tanpa menanyakan bagaiman. Mereka menerima hadis yang menyebutkan sifat "tertawa" Allah sebagaimana adanya, tanpa melakukan takwil . enafsiran yang menyimpang dari makna lahiria. dan tanpa tasybih . enyerupakan Allah dengan makhlu. Mereka meyakini bahwa Allah Maha Suci dari menyerupai ciptaan-Nya. Ibnu Quddamah al-Maqdisi sebagai salah satu ulama Hanabilah mengatakan. AuFirman Allah: "Allah tertawa kepada dua orang laki-laki yang salah satunya membunuh yang lain, kemudian keduanya masuk surga. " Perkataan ini dan yang serupa dengannya, yang sanadnya sahih dan perawinya adil, kami mengimaninya. Kami tidak menolaknya, tidak mengingkarinya, dan tidak menakwilkannya dengan takwil yang menyalahi makna zahirnya. Kami juga tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, atau dengan ciri-ciri yang baru terjadi. Kami mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memiliki kesamaan dan tidak ada yang serupa dengan-Nya, "Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. Asy-Syura: . Setiap apa yang terbayang dalam benak atau terlintas dalam pikiran, sesungguhnya Allah Ta'ala berbeda dari itu. Ay19 Senada dengan pandangan ini. Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin sebagai ulama kontemporer Salafiyah dan juga dari kalangan Hanabilah menetapkan sifat ketawa ini tanpa menyerupakannya dengan tertawa makhluk. Beliau mengatakan. AuDalam hal ini terdapat penetapan sifat tertawa bagi Allah 'Azza wa Jalla, dan ini adalah tertawa yang hakiki, akan tetapi tidak serupa dengan tertawa makhluk. Ini adalah tertawa yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, dan kita tidak mungkin dapat Sebab, kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah memiliki mulut atau gigi atau yang serupa dengan itu. Namun, kita menetapkan sifat tertawa bagi Allah dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Ay20 Dari kalangan ulama Salaf terdahulu. Imam SyafiAoi memberikan pandangannya mengenai ini dengan mengatakan. AuAllah Tabaraka wa Ta'ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam Kitab-Nya (Al-Qur'a. dan diberitakan oleh Nabi-Nya A Akepada umatnya. Di antaranya Imam Al-Mubarakfuri. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami' at-Tirmidzi. Jilid 5, hlm. Ibn Qudamah. LumAoah al-IAotiqad. Riyadh: Maktabah al-MaAoarif, 2004, hlm. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Syarah al-AoAqidah al-Wasithiyah, jil. 2, hlm. 116 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. adalah bahwa Dia tertawa kepada hamba-Nya yang beriman, sebagaimana sabda Nabi A Akepada orang yang terbunuh di jalan Allah: "Sesungguhnya dia bertemu dengan Allah dan Dia tertawa kepadanya. Ay21 Generasi awal syafiAoiyyah seperti Imam Ibnu Khuzaimah menjelaskan bagaimana menetapkan sifat ketawa Allah Swt. secara hakiki tanpa menyerupakan-Nya dengan Beliau mengatakan. AuBab: Penjelasan tentang Penetapan Sifat Tertawa Tuhan Kita. Azza wa Jalla. Kita meyakini Allah Azza wa Jalla memiliki sifat tertawa tanpa adanya penggambaran yang spesifik mengenai bagaimana Dia tertawa. Tertawa-Nya tidak serupa dengan tertawa makhluk, begitu pula tertawa makhluk. Sebaliknya, kita mengimani bahwa Dia tertawa sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Nabi AA, dan kita diam mengenai bagaimana sifat tertawa-Nya Jalla wa 'Ala. Hal ini karena Allah Azza wa Jalla telah merahasiakan sifat tertawa-Nya. Dia tidak memberitahukan kepada kita tentang hal tersebut. Oleh karena itu, kita berpegang pada apa yang telah disampaikan oleh Nabi AA, membenarkannya dengan hati kita, dan berhenti mencari tahu apa yang tidak dijelaskan kepada kita dari apa yang hanya diketahui oleh Allah. Ay22 Para ulama lainnya juga menyebutkan penetapan sifat ketawa Allah Swt. hakiki tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk, seperti Imam Abu IsmaAoil AlShabuni dalam Aqidatu Al-Salaf wa Ashhabil Hadis,23 Imam Al-Ajurri dalam kitabnya Al-SyariAoah,24 Ibnu Batthah dalam Al-Ibanah Al-Kubra25 dan para ulama lainnya. Selanjutnya Imam Al-Baghawi menyimpulkan bahwa metode penetapan sifat-sifat Allah Swt. secara zahir dan tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk merupakan pendapat para ulama salaf. Beliau mengatakan. AuSegala sesuatu yang disebutkan dalam Al-Qur'an atau As-Sunnah mengenai sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti Dzat (Naf. Wajah. Mata. Tangan. Kaki. Kedatangan (Al-Itya. Tiba . l-MajiA. Turun ke langit dunia. Bersemayam di atas 'Arsy. Tertawa, dan Bergembira (Al-Far. , dan yang sejenisnya, adalah sifat-sifat bagi Allah 'Azza wa Jalla. Sifat-sifat ini telah disebutkan dalam dalil-dalil syar'i . , dan wajib mengimaninya. Hendaklah kita memahaminya sesuai dengan makna lahiriahnya, berpaling dari takwil, menjauhi tasybih . , dan meyakini bahwa Al-Khaliq Subhanahu wa Ta'ala tidak ada satu pun dari sifat-sifat-Nya yang menyerupai sifat-sifat Sebagaimana Dzat-Nya tidak menyerupai dzat-dzat makhluk. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. " (QS. Asy-Syura: . Atas dasar inilah, para salaf . umat ini dan para ulama Ahli Sunnah telah berjalan. Mereka semua menerima dan mengimani sifat-sifat tersebut, menghindari tamtsil . enyerupaan secara spesifi. dan ta'wil, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Ibnu Abi YaAola. Thabaqat al-Hanabilah, jil. 1, hlm. Ibnu Khuzaimah. Kitab Al-Tauhid, jil. 2, hlm. Abu Ismail Al-Shabuni. Aqidatu Al-Salaf wa Ashhabil Hadis, hlm. Al-Ajurri. Al-SyariAoah, hlm. Ibnu Batthah. Al-Ibanah Al-Kubra, jil. 7, hlm. 117 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang-orang yang mendalam ilmunya: "Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami'. " (QS. Ali 'Imran: . Ay Ulama Salaf menekankan literalitas teks dalam pemahaman sifat Allah, tetapi dengan batasan ketat pada kesucian Allah dari penyerupaan . Mereka menerima sifat "tertawa" sebagai sifat hakiki bagi Allah, namun cara . tertawa tersebut tidak diketahui dan tidak boleh dipersoalkan, karena Allah berbeda dari makhluk-Nya dalam segala aspek. Berbeda dengan Salaf, ulama Khalaf, terutama dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah, memilih metode takwil . enafsiran secara kontekstual atau metafori. terhadap sifat-sifat Allah yang tampaknya antropomorfik . enyerupai manusi. Mereka khawatir bahwa pemahaman literal dapat mengarah pada tasybih . enyerupaan Allah dengan makhlu. , yang dianggap bertentangan dengan kemahaesaan dan kesucian Allah. Imam Fakhruddin Al-Razi dalam Asas al-Taqdis fi AoIlm al-Kalam menjelaskan bahwa ketawa secara hakiki tidak mungkin terjadi pada Allah karena beberapa alasan. Beliau mengatakan. AuKetahuilah bahwa hakikat tertawa bagi Allah Ta'ala adalah mustahil. Ini ditunjukkan oleh beberapa alasan: Pertama: Firman Allah Ta'ala: "Dan sesungguhnya Dialah yang membuat . tertawa dan menangis. " (QS. An-Najm: . Dari sini jelaslah bahwa yang pantas bagi-Nya adalah membuat tertawa dan membuat menangis, adapun tertawa dan menangis itu sendiri tidak pantas bagi-Nya. Kedua: Tertawa adalah gerakan yang terjadi pada kulit wajah disertai dengan kegembiraan di hati, dan ini mustahil terjadi pada Allah Ta'ala. Ketiga: Jika tertawa dibolehkan bagi-Nya, maka menangis pun dibolehkan bagi-Nya. Sebagian orang yang bodoh berpendapat demikian dan mengklaim bahwa Allah menangis atas kaum Nuh yang ditenggelamkan. Ini adalah kebodohan yang parah, karena Dia Ta'ala-lah yang menciptakan banjir bandang itu. Jika Dia tidak menyukainya, mengapa Dia menciptakannya? Jika Dia tidak membencinya, mengapa Dia mengingkari mereka? Keempat: Tertawa hanya timbul dari rasa takjub, dan takjub adalah kondisi yang terjadi pada manusia ketika tidak mengetahui sebabnya. Hal ini mustahil terjadi pada Dzat yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang tampak. Penafsiran Sifat Tertawa Allah. Jika hal ini telah ditetapkan, maka kita katakan bahwa ada beberapa cara penafsiran . erkait makna "tertawa Allah"): Pertama: Kata benda abstrak . sebagaimana bisa disandarkan kepada objek . af'u. , demikian pula bisa disandarkan kepada pelaku . a'i. Maka perkataan "aku tertawa dari tertawanya Tuhan" berarti tertawa yang terjadi pada diriku karena Tuhan menciptakan tawa itu. Kedua: Maksudnya adalah jika saja Allah Ta'ala adalah Dzat yang tertawa seperti rajaraja, maka perkataan ini akan membuatnya tertawa. Ketiga: Sifat tertawa **ditafsirkan sebagai ridha . dan izin . Ini adalah jenis istia'rah . ajas perumpamaa. yang populer. Ay26 Demikian juga ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dalam menjelaskan makna hadis yang memuat sabda Nabi Saw. tentang tertawa-Nya Allah Swt. Beliau mengatakan. Fakhruddin Al-Razi. Asas al-Taqdis fi AoIlm al-Kalam, jil. 1, hlm. 118 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. AuDalam hadis Nabi AA: "Allah tertawa kepada dua orang laki-laki yang salah satunya membunuh yang lain, keduanya masuk surga. Yang satu berperang di jalan Allah lalu mati syahid, kemudian Allah menerima taubat pembunuhnya, lalu ia masuk Islam dan berperang di jalan Allah lalu mati syahid. " Al-Qadhi berkata: "Tertawa di sini adalah majas . dalam hak Allah Ta'ala, karena tidak pantas bagi-Nya. Subhanahu wa Ta'ala, tertawa sebagaimana yang kita kenal. Hal itu hanya mungkin terjadi pada makhluk berfisik dan pada siapa saja yang mengalami perubahan kondisi. Sementara Allah Ta'ala Maha Suci dari hal tersebut. Yang dimaksud dengan 'tertawa' adalah keridhaan-Nya atas perbuatan keduanya, pahala atasnya, pujian atas perbuatan keduanya, cinta-Nya, dan penerimaan utusan-utusan Allah terhadap mereka dengan hal Ini karena tertawa dari kita terjadi ketika seseorang menyetujui sesuatu yang ia ridhai, merasa senang, dan berbuat baik kepada siapa pun yang ia temui. Al-Qadhi menambahkan, "Ada kemungkinan pula yang dimaksud di sini adalah tertawanya para malaikat Allah Ta'ala yang diutus untuk mencabut ruhnya dan memasukkannya ke surga, sebagaimana dikatakan: 'Raja membunuh si Fulan,' padahal maksudnya: 'Raja memerintahkan untuk membunuhnya. Ay Ulama Khalaf, khususnya Asy'ariyah dan Maturidiyah, mengedepankan penafsiran rasional dan penolakan antropomorfisme secara ketat. Mereka memahami sifat "tertawa" Allah bukan secara hakiki dengan makna literalnya yang berlaku pada makhluk, melainkan sebagai kiasan atau metafora untuk sifat-sifat sempurna Allah seperti keridhaan, pemberian pahala, dan cinta-Nya. Ini dilakukan untuk menjaga tanzih . Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk. Berikut tabel perbandingan kunci antara pandangan Salaf dan Khalaf mengenai sifat "tertawa" Allah. Aspek Perbandingan Sifat "Tertawa" Pandangan Salaf . ermasuk Hanabila. Diimani sebagai hakiki, tetapi bilA kayf . anpa diketahui carany. Tidak serupa dengan tertawa Metodologi ItsbAt bilA kayf wa bilA Utama taAowl (Menetapkan tanpa menanyakan cara dan tanpa menyimpang dari makna Fokus Utama Mengikuti . dengan keyakinan kuat pada tanzih Allah secara umum. Risiko yang Ta'l . enolakan Dihindari Alla. dan tasybh . ika memahami kaifiyah sifa. 119 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah Pandangan Khalaf (Asy'ariyah & Maturidiya. Ditafsirkan sebagai metafora/kiasan . ukan hakiki literalnya pada makhlu. TaAowl (Menafsirkan kontekstual/metafori. menjaga tanzih . esucian Allah dari penyerupaan makhlu. Menghindari tasybh . secara mutlak, bahkan jika harus mentakwilkan teks. Tasybh . enyerupaan Allah dengan JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Pendekatan Akal Contoh Tafsir Menggunakan akal untuk memahami bahwa Allah Maha Suci, tetapi tidak untuk menafsirkan kaifiyah . ara/bentu. Allah tertawa secara hakiki, tetapi bagaimana cara-Nya tidak kita ketahui dan tidak Menggunakan akal secara lebih luas untuk menafikan kemungkinan adanya sifat fisik atau emosi makhluk pada Allah. Allah tertawa diartikan sebagai ridha, memberi pahala, mengasihi, atau atau terkadang diartikan sebagai tertawanya malaikat Allah. Dari kedua pandangan di atas, peneliti cenderung menguatkan pendapat pertama dari kalangan Salaf dan Hanabilah yang menggunakan metode ItsbAt bilA kayf wa bilA taAowl (Menetapkan tanpa menanyakan cara dan tanpa penafsiran yang menyimpang dari makna lahiria. Hal ini berangkat dari beberapa argumentasi berikut: Pertama, seorang sahabat yang bernama Abu Razin Laqith bin AoAmir Al-AoUqaily bertanya memastikan kepada Nabi Saw. terkait dengan tertawanya Allah Swt. , apakah itu tertawa yang hakiki atau kiasan, dan Nabi menjawabnya bahwa itu tertawa hakiki. a a a aAIO Na OCA a aAE acI II CA :AE CEA AOE NEEa ! OOA A aO OA:ACEA ca AOEA a :A CEA. A OaeONA AeOA a AOA a . AIIA A EI I OI II OA:ACEA U AEA AuTuhan kita tertawa karena keputusasaan hamba-hamba-Nya dan karena dekatnya perubahan . eadaan merek. Ay Aku berkata. AuWahai Rasulullah, apakah Tuhan tertawa?Ay Beliau menjawab. AuYa. Ay Aku berkata. AuKalau begitu, kita tidak akan kehilangan kebaikan dari Tuhan yang tertawa. Ay (HR. Ahmad. Ibnu Majah dan Thabran. Hadis ini dinilai Hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits AlShahihah dengan nomor hadis 2810. Kedua, kesamaan penamaan sifat antara Tuhan dengan Makhluk tidak berarti bahwa keduanya sama dalam hakikatnya. Sebagai contoh. Allah Swt. menyebut terkait dengan berbicaranya langit dan bumi di dalam Al-QurAoan, aA IaO OO OO OEN COEOOe o IO O aiOA AeOA AaEA AEA AOA AaEA AEA ACA a AIA AOA ANA AOA AOA AOA AIA ca AO O eO OaEA AIOA UAO I U I IA AIA ac IA AE OI O O a O O O O O OIA AuDia kemudian menuju ke langit dan . itu masih berupa asap. Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi. AuDatanglah kalian berdua dengan patuh atau Ay Keduanya mengatakan. AuKami datang dengan patuh. Ay(QS. Fussilat: . Langit dan bumi berbicara menjawab perintah Allah Swt. , padahal kita tahu langit dan bumi tidak memiliki mulut untuk berbicara seperti manusia dan makhluk lainnya yang membutuhkan rongga mulut, bibir, lidah dan udara untuk berbicara. Sehingga ini menunjukkan bahwa kesamaan sifat antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya tidak otomatis sama dalam hakikat dan kaifiyah-nya, maka bagaimana lagi dengan Tuhan, tentunya lebih jauh lagi dari kesamaan tersebut. Ketiga. Imam Fakhruddin Al-Razi mengatakan bahwa kalau Allah tertawa berarti Allah juga menangis. Konsekuensi seperti ini tidaklah tepat, karena jika demikian berarti semua sifat Allah yang lainnya akan bisa ditetapkan pada kebalikannya seperti Allah yang 120 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Mahahidup, berarti Allah juga bisa mati? Tentunya ini sesuatu yang mustahil terjadi pada Allah. Keempat, dalam takwil terhadap sifat ketawa disebutkan bahwa bukan Allah yang tertawa, tapi Allah yang membuat tertawa makhluk-Nya. Jauh sebelum masa Imam Fakhruddin Al-Razi, argumen ini telah muncul dari kalangan Jahmiyah, dan dijawab oleh Imam Ad-Darimi sebagai berikut. AuSelanjutnya, orang itu mengklaim sesuatu yang lebih jauh dari semua ini. Ia mengira bahwa makna "Allah tertawa dari ini" adalah "Dia menjadikannya tertawa. " Maka dikatakan kepadanya: "Jika bahasa Arab telah berubah menjadi bahasamu dan bahasa teman-temanmu, maka penafsiran yang lebih mungkar dan keji dari ini pun akan dibenarkan di dalamnya. " Seandainya memang seperti yang ia sebutkan, niscaya pertanyaan Abu Razin kepada Rasulullah A Aitu menunjukkan kebodohan. Karena ia bertanya, "Atau apakah Tuhan kita membuat makhluk tertawa?" Padahal ia tahu bahwa setiap makhluk yang membuat mereka tertawa adalah Allah Ta'ala, dan ia telah membaca firman Allah Ta'ala: "Dan sesungguhnya Dialah yang membuat . tertawa dan menangis. " (QS. An-Najm: . Karena itu Abu Razin Al-Uqaili bertanya kepada Rasulullah AA: "Wahai Rasulullah, apakah Tuhan tertawa?" Beliau menjawab: "Ya. " Abu Razin kemudian berkata: "Kami tidak akan kekurangan kebaikan dari Tuhan yang tertawa. " Orang Badui yang cerdas itu Aidengan fitrahnya yang murniAi menjadikan tawa Allah sebagai bukti kemurahan dan karunia-Nya. Ini menunjukkan bahwa sifat ini . selalu terkait dengan kebaikan yang terpuji, dan merupakan sifat kesempurnaan. Sementara itu, seseorang yang selalu cemberut dan tidak pernah tertawa adalah tercela. Jika tawa pada kita sebagai makhluk mengandung kekurangan, maka Allah Ta'ala Maha Suci dari kekurangan tersebut. Jadi, tawa-Nya Ta'ala sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak mengandung sedikit pun kekurangan. Ay27 Setelah menganalisis dua pandangan utama mengenai sifat "tertawa" AllahAi yaitu pandangan Salaf . ermasuk Hanabila. dan pandangan Khalaf (Asy'ariyah dan Maturidiya. Aidapat disimpulkan bahwa pandangan Salaf lebih sesuai dengan metode yang benar dalam memahami sifat-sifat Allah. Pandangan Salaf yang menerapkan prinsip itsbat bilA kayf wa bilA taAowl . enetapkan tanpa menanyakan cara dan tanpa penafsiran menyimpan. menunjukkan kepatuhan yang lebih tinggi terhadap teks-teks Al-Qur'an dan Sunnah sebagaimana Mereka menerima sifat "tertawa" Allah secara hakiki, namun menegaskan bahwa cara atau bentuk tertawa-Nya sama sekali tidak menyerupai tertawa makhluk. Pendekatan ini menjaga tanzih . esucian Allah dari penyerupaa. secara sempurna tanpa harus menafsirkan ulang makna lahiriah kata. Ini sejalan dengan firman Allah. AuTidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ay (QS. Asy-Syura: . , yang secara simultan menafikan penyerupaan dan menetapkan sifat. Sebaliknya, pandangan Khalaf yang menggunakan taAowl . enafsiran metafori. , meskipun bertujuan untuk menghindari tasybih, justru berpotensi mengosongkan makna hakiki dari sifat-sifat ilahiyah yang disebutkan dalam wahyu. Argumentasi mereka sering kali didasarkan pada akal untuk menafikan kemungkinan sifat fisik atau emosi makhluk pada Allah, namun hal ini dapat membawa pada penolakan makna asli yang dimaksudkan Abdullah Al-Ghunaiman. Syarah Kitab Tauhid Shahih Bukhari, jil. 2, hlm. 121 | Muhammad Istiqamah Perspektif Hadis Tentang Sifat Ketawa Allah JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 107-123 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. oleh nash . Ketika teks menyebutkan sifat tertentu, ada hikmah di baliknya yang mungkin hilang jika makna tersebut dipalingkan. Dengan demikian, metode Salaf yang mengimani secara bilA kayf dan menyerahkan detail kaifiyah-nya kepada Allah adalah pendekatan yang paling aman dan paling sesuai dengan tradisi keilmuan Islam awal. Ini mempertahankan kemuliaan dan kebesaran Allah tanpa terjebak dalam antropomorfisme, sambil tetap mengafirmasi apa yang telah Allah dan Rasul-Nya beritakan. Ini adalah jalan yang mengedepankan penyerahan diri sepenuhnya pada wahyu dan menolak untuk menyelami hal-hal gaib yang tidak diizinkan untuk dipahami secara rinci oleh akal manusia. KESIMPULAN Kajian hadis tematik tentang sifat tertawa Allah mengungkapkan adanya dua corak pandangan utama di kalangan ulama Islam dalam memahami sifat-sifat ilahiyah: pandangan Salaf dan pandangan Khalaf. Perbedaan ini terletak pada metodologi penafsiran teks-teks Al-Qur'an dan Sunnah yang tampaknya mengindikasikan sifat-sifat fisik atau emosi pada Allah. Pandangan Salaf, yang dianut oleh ulama terdahulu dan sebagian besar Hanabilah, mengedepankan prinsip itsbat bilA kayf wa bilA taAowl . enetapkan tanpa menanyakan cara dan tanpa penafsiran menyimpan. Mereka mengimani bahwa Allah benar-benar tertawa sebagaimana disebutkan dalam hadis, namun menegaskan bahwa tawa-Nya sama sekali tidak serupa dengan tawa makhluk. Cara dan hakikat tawa Allah sepenuhnya berada di luar pemahaman manusia dan diserahkan kepada Allah. Pendekatan ini berpegang teguh pada makna lahiriah teks sambil menjaga kesucian Allah dari segala penyerupaan . Sebaliknya, pandangan Khalaf, yang banyak dianut oleh ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah, cenderung menggunakan metode taAowl . enafsiran metafori. Mereka menafsirkan "tertawa" Allah sebagai kiasan untuk keridhaan, pemberian pahala, atau manifestasi kebaikan-Nya, karena khawatir pemahaman literal akan mengarah pada tasybih . enyerupaan Allah dengan makhlu. Bagi mereka, tawa fisik tidak mungkin terjadi pada Allah yang Maha Suci dari sifat-sifat jasmani. Dalam perbandingan ini, pandangan Salaf dinilai lebih sesuai dengan kebenaran. Hal ini karena ia menunjukkan kepatuhan penuh terhadap nash . tanpa perlu mengubah makna aslinya melalui penafsiran. Meskipun pandangan Khalaf bermaksud baik untuk menjaga tanzih Allah, metode taAowl yang mereka gunakan berpotensi mengosongkan makna hakiki dari sifat-sifat ilahiyah yang telah Allah tetapkan bagi diriNya. Pandangan Salaf mampu mempertahankan keutuhan makna wahyu sekaligus menegaskan kemahasucian Allah yang mutlak dari segala kekurangan dan keserupaan dengan ciptaan-Nya. DAFTAR PUSTAKA