Riska Tri Komala. A Fadila HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU LANSIA DALAM PENGENDALIAN HIPERTENSI A Fadila1. Riska Tri Komala2 Program Studi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang. Komplek Kenten Permai Blok J No 9-12 Bukit Sangkal Palembang 30114 Email : radenayu. dila23@gmail. com1, riskatrikomala24@gmail. ABSTRAK Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius dan salah satu penyebab utama kematian pada Tingginya prevalensi hipertensi disebabkan karena banyaknya lansia yang memiliki perilaku kurang baik dalam mengendalikan hipertensi. Dukungan Keluarga sangat penting untuk mencapai perilaku yang baik dalam pengendalian hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian ini terdiri dari 598 lansia penderita hipertensi. Pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling dengan jumlah sampel 86 lansia, pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang kemudian dianalisis uji statistik dengan uji Chi- Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang dengan nilai p-value 0,000 < 0,05. Diharapkan keluarga dapat memberikan dukungan berupa dukungan informasional seperti informasi yang akurat tentang hipertensi dan pengendaliannya, dukungan emosional dengan memberikan motivasi, dukungan instrumental melalui bantuan praktis seperti pengaturan jadwal pengobatan dan dukungan penilaian dengan memberikan umpan balik terhadap kemajuan yang dicapai lansia agar lansia selalu berperilaku baik dalam pengendalian hipertensi sehingga tekanan darah tetap Kata kunci : Dukungan Keluarga. Perilaku Lansia. Hipertensi. Lansia ABSTRACT Hypertension is a serious health problem and one of the leading causes of death among the elderly. The high prevalence of hypertension is due to the large number of elderly people who act inadequately in the treatment of hypertension. Family support is very important to achieve good behavior in hypertension treatment. This study aims to determine the relationship between family support and the behavior of the elderly in hypertension management in the Pembina Palembang study area. These studies used a quasi-experimental design with a cross-sectional design. The population of the study consisted of 598 elderly people with hypertension. The sample was drawn using Purposive Sampling with a sample size of 86 elderly people. Data collection was done using a questionnaire which was analyzed after statistical tests using Chi-Square test. The findings show that there is a significant relationship between family support and the elderly's behavior in controlling hypertension at Pembina Palembang Health Center with a p value of 0. It is hoped that families can provide support in the form of informational support, emotional support, instrumental support and assesment support so that the elderly always behave well in life. controlling hypertension so that blood pressure remains stable. Keywords : Family Support. Elderly Behavior. Hypertension. Elderly Riska Tri Komala. A Fadila PENDAHULUAN Lansia adalah orang yang berusia diatas 60 tahun. Orang lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita berbagai penyakit, terutama penyakit degeneratif. Degeneratif merupakan pernyakit kronis yang memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup seseorang. Salah satu penyakit degeneratif pada lansia adalah hipertensi (Ariyanti et al. , 2. Hipertensi sering disebut sebagai silent killer, jika menimbulkan komplikasi yang berbahaya (K. Wahyudi et al. , 2. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar. Prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada tahun 2013 yaitu sebesar 25,8%. Prevalensi tertinggi adalah Provinsi Kalimatan Selatan dengan 44,13%. Sedangkan provinsi dengan hipertensi yang rendah terdapat di Provinsi Papua yaitu 22,22%. Untuk Provinsi Sumatera Selatan sendiri prevalensi hipertensinya adalah 30,44%. Menurut data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan jumlah kasus hipertensi dari tahun 2020 hingga 2022 mengalami peningkatan dari 645. kasus menjadi 1. 736 kasus. Prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran di Provinsi Sumatera Selatan dengan kasus terbanyak yaitu di Kota Palembang estimasi 408 kasus (RISKESDAS RI, 2. Hipertensi yang terus meningkat ini jika tidak segera diatasi dengan baik akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti stroke, infark miokard, gagal ginjal hingga kematian. Oleh karena itu, tindakan pengendalian harus dilakukan. Salah satu cara untuk mengendalikan hipertensi adalah dengan melakukan perubahan perilaku seperti pemeriksaan rutin, perbaiki pola makan, istirahat yang cukup dan olahraga yang aman. Namun, masih banyak yang tidak melakukan hal itu. Salah satu faktor yang berperan dalam pengendalian hipertensi pada lansia adalah dukungan keluarga (Lavenia et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ketut, dkk . terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam mengendalikan hipertensi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti, dkk . ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam mengendalikan hipertensi dengan koefisien korelasi sebesar 0,034 dan nilai signifikan . value < 0,. Dalam hal ini dukungan keluarga juga menunjukkan pengaruh yang besar terhadap perilaku lansia agar selalu berperilaku baik dalam kondisi apapun terutama dalam kondisi Dukungan keluarga merupakan faktor penting dalam pengendalian Keluarga berperan penting dalam pemantauan, pencegahan, memberi dukungan dan pengambilan keputusan dalam penatalaksanaan pasien hipertensi. Selain itu, dukungan keluarga juga berperan penting dalam keberhasilan menjaga dan memelihara kesehatan setiap anggota Oleh karena itu. Riska Tri Komala. A Fadila hubungan antara pasien dan keluarga sangat (Daziah & Rahayu, 2. Maka dari itu, peneliti ingin mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan secara cross sectional yang mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dan faktor efek dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu (Notoatmodjo, 2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang pada tanggal 17 Ae 23 Maret 2024. Target/Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini yaitu penderita hipertensi yang terdata di Puskesmas Pembina Palembang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yang diambil menggunakan rumus slovin. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi yang didasarkan atas pertimbangan tertentu. Prosedur Penelitian kuesioner dukungan keluarga dan perilaku lansia yang dikutip dari Anggraini . Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh secara langsung dengan memberikan pertanyaan berupa kuesioner kepada keluarga penderita Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Pembina berupa data jumlah penderita hipertensi, buku bacaan dan sumber dari internet yang berhubungan dengan topik pembahasan. Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan mengenai tujuan, manfaat dan prosedur penelitian kepada responden dan apabila responden bersedia penelitian ini dilakukan maka menandatangani lembar informed consent yang disediakan lalu responden mengisi Setelah kuesioner diisi dan dikumpulkan selanjutnya peneliti akan mengolah data menggunakan SPSS. Teknik Analisis Data Analisa Univariat Analisa univariat yang diuraikan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi karakteristik dari variabel penelitian tentang dukungan keluarga dan perilaku lansia terhadap pengendalian Analisa Bivariat Analisis bivariat yaitu analisis yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Peneliti ingin mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam digunakan uji chi square. Riska Tri Komala. A Fadila HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Pensiunan Lain-lain Total Hasil Penelitian Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah (N) Karakteristik Berdasarkan Usia Tabel Persentase (%) Responden Tabel 5. Dukungan Keluarga pada Responden Hipertensi Frekuensi . Persentase (%) Perilaku Lansia Pengendalian Hipertensi Dukungan Keluarga Baik Kurang Baik Total Tabel 6. Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi Usia Total Perilaku Lansia Baik Kurang Baik Total Jumlah (N) Persentase (%) Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Tidak SMP SMA Total Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel Dukungan Keluarga Responden Hipertensi Jumlah (N) Persentase (%) Frekuensi Persentase (%) Tabulasi Silang Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia Tabel Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia Dukungan Keluarga Baik Kurang Baik Total Perilaku Lansia Baik Kurang Baik F % F % 47 88,7 6 18,2 27 81,8 53 61,6 33 38,4 Total PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Tidak bekerja PNS Wiraswasta Jumlah (N) Persentase (%) Dukungan Keluarga Berdasarkan hasil penelitian pasien lansia hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang Tahun 2024 yang memiliki dukungan keluarga kategori baik sebesar 61,6 % dengan jumlah 53 responden dan yang memiliki dukungan keluarga kategori 0,000 Riska Tri Komala. A Fadila kurang baik sebesar 38,4 % dengan jumlah 33 responden. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga pasien lansia berada dalam kategori baik. Hal ini didukung oleh beberapa faktor. Menurut Friedman dalam Oliver . faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga adalah tingkat pendapatan atau pekerjaan dan tingkat Dukungan keluarga sangat penting karena dapat memotivasi pasien dengan adanya perhatian yang diberikan oleh keluarga (Sapwal et al. Dalam penelitian ini dukungan keluarga yang diteliti meliputi instrumental, dukungan informasional dan dukungan penilaian. Dukungan yang paling rendah adalah dukungan emosional jika dibandingkan dukungan keluarga lainnya. Karena keluarga seringkali sibuk sehingga kurang memperhatikan keluarganya dalam memberikan dukungan emosional yang diperlukan dan anggota keluarga juga menunjukkan dukungan emosional yang efektif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sutini et al. , 2. dimana dampak dari kurangnya dukungan emosional dan mempengaruhi perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi. Menurut asumsi peneliti, sebagian dukungan keluarga baik . ,6 %). Pada dukungan ini mayoritas keluarga lebih informasional, dimana pada saat ini teknologi semakin canggih sehingga anggota keluarga memiliki akses lebih mudah untuk menemukan informasi dan ini juga merupakan solusi yang praktis yang dapat diterapkan. Sedangkan mendapatkan dukungan keluarga kurang baik . ,4 %) mayoritas kurang mendapatkan dukungan emosional dengan baik, seperti memberikan pujian, semangat dan motivasi dimana keluarga sering sibuk dengan tanggung jawab yang lain sehingga memiliki sedikit waktu untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi Berdasarkan hasil penelitian pasien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang Tahun 2024 yang hipertensi dalam kategori baik sebanyak 61,6 % dengan jumlah 53 responden dan yang memiliki perilaku pengendalian hipertensi dalam kategori kurang baik sebesar 38,4 % dengan jumlah 33 Pada menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi berada pada kategori baik. Pada penelitian ini perilaku lansia yang paling sulit dilakukan yaitu mengonsumsi garam sesuai anjuran, tidak lebih dari 1 sendok teh perhari. Menurut pernyataan (Purwono dalam Aninditya et al. , 2. Mengonsumsi terlalu banyak garam atau terlalu banyak natrium dalam makanan menyebabkan retensi air sehingga meningkatkan volume darah. Asupan natrium yang Riska Tri Komala. A Fadila hormon natrioretik berlebihan yang secara tidak langsung meningkatkan tekanan darah. Salah satu cara untuk mencapai pengendalian hipertensi yang efektif pada lansia adalah dengan meningkatkan dukungan keluarga. Semakin kuat dukungan yang diberikan keluarga kepada penderita hipertensi, maka semakin efektif usaha yang dilakukan mengendalikan tekanan darahnya. Hal ini untuk mencegah kemungkinan penyakit hipertensi semakin parah dan mencegah komplikasi yang lebih serius. (Anggraini, 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Brialianifah dalam Wahyudi . faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan diet itu adalah dukungan keluarga. Dalam hal ini kaitan dukungan keluarga dengan perilaku lansia sangatlah erat dikarenakan adanya dukungan dalam mengontrol dan mengingatkan apabila pasien lupa serta merubah gaya hidup sesuai yang dianjurkan dapat mempercepat proses Menurut asumsi peneliti, perilaku baik pada lansia dapat dicapai dengan rutin mengonsumsi buah dan sayur, menjaga berat badan tetap ideal, rutin kesehatan ke fasilitas kesehatan, berolahraga secara teratur. Perilaku lansia yang baik ini juga tentu saja tidak mudah jika tidak diiringi dengan pengetahuan yang dimiliki. Dukungan keluarga erat kaitannya dengan perilaku lansia karena informasi yang diberikan pengetahuan lansia terhadap topik seperti pengendalian hipertensi. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 86 responden didapatkan bahwa responden dengan dukungan keluarga baik memiliki perilaku yang baik dalam pengendalian hipertensi sebanyak 47 responden . ,7%) dibandingkan dengan responden yang memiliki dukungan keluarga kurang baik cenderung berperilaku kurang baik dalam pengendalian hipertensi sebanyak 27 responden . ,8%). Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan p-value 0. < 0. Nilai OR 35. 250 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang dan lansia dengan dukungan keluarga yang baik memiliki peluang 35. 250 kali untuk berperilaku baik dalam hipertensi dibandingkan dengan lansia yang dukungan keluarga kurang baik. Dukungan keluarga merupakan sikap atau tindakan dalam menentukan pertolongan yang diperlukan oleh anggota keluarga yang sakit, bentuk dukungan keluarga antara lain berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional (Amelia & Kurniawati, 2. Lansia akan merasa nyaman dan lebih tenang saat anggota keluarganya memberikan dukungan dan semangat yang mendorongnya untuk berperilaku yang baik agar sembuh dari penyakit dan masalah kesehatannya (Triana & Sidabutar, 2. Riska Tri Komala. A Fadila Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh di (K. Wahyudi et , 2. di Wilayah Puskesmas Fakfak Kota Kabupaten Fakfak didapatkan hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan pengendalian hipertensi dengan p-value 0,000 < 0,05 %, penelitian lainnya juga dilakukan oleh (Lavenia et al. , 2. di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi dengan nilai p-value 0,000 < 0,05. Menurut asumsi peneliti, dukungan keluarga berhubungan erat dengan Semakin baik dukungan yang diberikan oleh keluarga pada lansia, lansia mengendalikan hipertensi mereka. Mayoritas lansia yang menderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang memiliki dukungan keluarga yang baik dengan perilaku pengendalian hipertensi baik sebanyak 88,7 %. Ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina dengan nilai p-value 0. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dengan sampel sebanyak 86 responden tentang hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang Tahun 2024, maka dapat disimpulkan sebagai Distribusi frekuensi data demografi responden menderita hipertensi dengan karakteristik usia 60-74 tahun . ,6 %), perempuan . ,9 %), kategori tingkat pendidikan SD . ,9 %) dan status tidak bekerja . ,3 %). Distribusi responden berdasarkan dukungan keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang dukungan keluarga baik . ,6 %). Distribusi kategori baik . ,6 %). Ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang dengan nilai p-value 0. < 0. SARAN Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina Palembang Tahun 2024, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut : Bagi Puskesmas Pembina Palembang Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan ilmiah dan keluarga dengan perilaku lansia dalam meningkatkan mutu dan pelayanan guna mudahnya lansia dalam akses terhadap fasilitas kesehatan yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Pembina. Riska Tri Komala. A Fadila Bagi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi mahasiswa STIKES Mitra Adiguna dalam memberikan asuhan keperawatan pada masyarakat tentang dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi, tentang jenis-jenis dukungan keluarga, perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi dan memahami ruang lingkup lansia, masalah kesehatan lansia dan perubahan-perubahan yang terjadi pada Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan penelitian mengenai hubungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi dengan ruang lingkup yang berbeda dan lebih di spesifikan dukungan keluarga hubungannya dengan perilaku lansia dan menggunakan tempat penelitian, metode penelitian, jumlah responden yang lebih banyak dan kuesioner yang berbeda. UCAPAN TERIMA KASIH