Sophia Dharma: Jurnal Filsafat. Agama Hindu, dan Masyarakat e-ISSN: 2829-6958 * https://e-journal. iahn-gdepudja. Volume 8 Nomor 2. Oktober 2025 SIMBOLISME DAN MAKNA TEOLOGIS SUDHI WADANI DALAM KERANGKA FILSAFAT HINDU Nurhayati1. Sayu Kadek Jelantik2 Universitas Terbuka1. IAHN Gde Pudja Mataram2 nurhayati@gmail. com1, sayujelantik@gmail. Abstract Keywords: Sudhi Wadani. Symbolism. Hindu This study aims to examine the symbolism and theological meaning contained in the structure of the Sudhi Wadani ceremony through a Hindu philosophical approach, particularly those derived from the Vedas. Upanishads, and tattwa teachings. The research method uses a qualitative approach with observation techniques, indepth interviews, and document studies with religious practitioners, traditional leaders, and relevant religious The results of the study show that each stage of the Sudhi Wadani ceremony, from physical and spiritual cleansing, chanting mantras, offering banten, to the declaration of dharma, contains symbolism that represents the process of self-purification, transformation of consciousness, and reaffirmation of the relationship between Atman and Brahman. The theological meaning of Sudhi Wadani is oriented towards personal purification and the affirmation of life ethics through Tri Kaya Parisudha and the realization of the concept of moksha as the ultimate goal of humankind. Sudhi Wadani is not merely a ceremonial ritual, but a practice of Hindu philosophy of life that emphasizes the transformation of consciousness towards spiritual purity. The symbolism present in this ritual depicts the process of humankind's return to its true self (Atma. , while its theological meaning emphasizes the cosmic connection between humans, nature, and Brahman. Thus. Sudhi Wadani has strong relevance as a spiritual practice that unites aspects of ritual, theology, and philosophy into a unified whole. Abstrak Kata kunci: Sudhi Wadani. Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji simbolisme dan makna teologis yang terkandung dalam struktur upacara Sudhi Wadani melalui pendekatan filsafat Hindu, khususnya yang bersumber dari Weda. Upanisad, dan ajaran tattwa. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen pada praktisi agama, pemuka adat, serta teks-teks keagamaan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam upacara Sudhi Wadani mulai dari pembersihan lahir batin, pengucapan mantra, persembahan banten, hingga pengikraran dharma mengandung simbolisme yang merepresentasikan proses penyucian diri, transformasi kesadaran, dan peneguhan kembali hubungan antara Atman dengan Brahman. Makna teologis Sudhi Wadani berorientasi pada penyucian personal dan peneguhan etika hidup melalui Tri Kaya Parisudha serta perwujudan konsep moksa sebagai tujuan akhir manusia. Sudhi Wadani bukan sekadar ritual seremonial, tetapi merupakan praktik filsafat hidup Hindu yang menekankan transformasi kesadaran menuju kemurnian spiritual. Simbolisme yang hadir dalam ritual ini menggambarkan proses kembalinya manusia pada hakikat diri sejati (Atma. , sedangkan makna teologisnya menegaskan keterhubungan kosmis antara manusia, alam, dan Brahman. Dengan demikian. Sudhi Wadani memiliki relevansi yang kuat sebagai praktik spiritual yang menyatukan aspek ritual, teologi, dan filsafat dalam satu kesatuan yang utuh. Pendahuluan Tradisi ritual dalam agama Hindu memiliki kedalaman makna yang mencerminkan filsafat hidup, struktur kepercayaan, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Salah satu ritual yang memiliki nilai teologis penting adalah Sudhi Wadani, sebuah upacara penyucian yang dilakukan untuk memulihkan kesucian spiritual seseorang. Upacara ini tidak hanya bersifat sakral, tetapi juga mengandung simbol-simbol yang mengungkapkan konsep dasar filsafat Hindu. Sudhi Wadani secara umum dipahami sebagai proses pemurnian diri, baik secara lahiriah maupun batiniah. Upacara ini menjadi sarana untuk mengembalikan keselarasan antara Atman, pikiran, dan tindakan, sehingga individu dapat kembali menjalankan aktivitas keagamaan dengan hati yang suci. Pandangan ini menunjukkan bahwa Sudhi Wadani memiliki landasan filosofis yang kuat dalam ajaran etik dan spiritual Hindu. Dalam konteks masyarakat Hindu Bali. Sudhi Wadani bukan sekadar ritual formalitas, melainkan proses penyadaran spiritual yang menekankan keseimbangan antara dimensi sakala . dan niskala . Praktik ini menjadi bentuk aktualisasi dari ajaran-ajaran tattwa yang diajarkan dalam sastra suci. Oleh karena itu, memahami Sudhi Wadani berarti juga memahami filsafat Hindu yang melandasinya. Filsafat Hindu menempatkan kesucian sebagai inti dari dharma. Kesucian ini tidak hanya menyangkut tubuh fisik, tetapi terutama pikiran dan kesadaran. Upacara Sudhi Wadani menjadi wujud nyata dari usaha menjaga kesucian tersebut melalui simbol-simbol ritual yang sarat makna. Setiap simbol mengandung ajaran mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Di dalam ajaran Hindu. Tri Kaya Parisudha, kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan menjadi pedoman etis dalam menjalani kehidupan. Sudhi Wadani merupakan ritual yang mengafirmasi kembali komitmen umat terhadap prinsip ini. Oleh karena itu. Sudhi Wadani tidak dapat dipisahkan dari kerangka etika Hindu yang menekankan kemurnian diri sebagai fondasi spiritualitas (Budiastra, 2. Simbolisme dalam Sudhi Wadani dapat dilihat pada penggunaan air suci, mantra, dan berbagai perangkat upacara. Air suci, misalnya, melambangkan kesadaran yang jernih dan kemampuan untuk membersihkan unsur kegelapan dalam diri. Kajian terhadap simbolisme ini memungkinkan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana ritual berfungsi sebagai bahasa spiritual dalam tradisi Hindu. Dari perspektif teologis. Sudhi Wadani juga mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam konsep Satyam. Sivam. Sundaram kebenaran, kesucian, dan keindahan (Dwija, 2. Upacara ini mengingatkan umat bahwa perjalanan spiritual harus kembali ke nilainilai tersebut, sehingga kesucian bukan hanya tujuan ritual, tetapi juga kualitas eksistensial. Dalam praktik keagamaan Hindu, ritual tidak hanya dilihat sebagai rangkaian tindakan, melainkan sebagai media transformasi kesadaran. Sudhi Wadani menjadi ruang bagi individu untuk melakukan refleksi spiritual dan introspeksi diri, menyadari kesalahan, serta memohon Dengan demikian, ritual ini memiliki fungsi psikologis dan spiritual yang saling Selain aspek teologis dan simbolik. Sudhi Wadani juga mengandung dimensi Dalam masyarakat Hindu Bali, pelaksanaan ritual ini sering kali melibatkan keluarga atau komunitas adat, sehingga menjadi sarana memulihkan hubungan sosial dan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa makna kesucian dalam Hindu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif (Subagiasta, 2. Upacara Sudhi Wadani menggarisbawahi peran penting air suci . sebagai simbol utama dalam ritus penyucian. Air suci dipercaya sebagai manifestasi energi ilahi yang memberikan kehidupan dan membersihkan energi negatif. Dalam kerangka filsafat Hindu, air suci dipandang sebagai representasi dari unsur apah dalam Panca Maha Bhuta, yang membawa vibrasi kesadaran tinggi(Titib. I Made & Sudharta, 2001. Titib, 2003, 2. Penggunaan mantra dalam Sudhi Wadani juga memperkuat aspek teologis ritual ini. Mantra dipahami sebagai suara ilahi . abda brahma. yang mampu menggetarkan kesadaran dan membuka jalan menuju penyucian spiritual. Perpaduan antara tirtha dan mantra menandakan bahwa penyucian tidak hanya bersifat material, tetapi juga vibrasional dan Secara historis, keberadaan Sudhi Wadani dapat ditelusuri dari ajaran-ajaran Weda dan Smrti yang menekankan pentingnya penyucian dan penebusan. Dalam teks-teks tersebut, penyucian dipandang sebagai langkah awal menuju pelaksanaan dharma yang lebih besar. Penelitian tentang Sudhi Wadani memberikan peluang untuk memahami bagaimana ajaran klasik diimplementasikan dalam konteks budaya Bali. Filsafat Hindu mengajarkan bahwa penyucian diri merupakan salah satu cara untuk menyeimbangkan karma. Sulit bagi seseorang menjalankan kewajiban spiritual jika dirinya belum mencapai keadaan murni. Sudhi Wadani menjadi konsep ritual yang sekaligus refleksi ajaran karmaphala, yaitu bahwa tindakan manusia memiliki dampak spiritual yang harus diseimbangkan. Dalam kerangka teologis, ritual ini juga menegaskan kedudukan Atman sebagai inti spiritual yang suci. Kesucian Atman bersifat abadi, tetapi kesadaran manusia sering terhalangi oleh nafsu, ketidaktahuan, atau tindakan yang tidak selaras dengan dharma. Sudhi Wadani menjadi proses simbolis untuk membuka kembali jalan menuju kesadaran Atman yang murni. Penelitian tentang simbolisme dan makna teologis Sudhi Wadani sangat penting untuk memperkaya kajian filsafat Hindu kontemporer. Melalui penelitian ini, dapat diungkap bagaimana umat memahami ritual dan bagaimana nilai-nilai filosofisnya tetap relevan dalam kehidupan masa kini. Hal ini juga memberi kontribusi pada pelestarian tradisi keagamaan. Dalam konteks modern. Sudhi Wadani menghadapi tantangan berupa perubahan cara pandang dan gaya hidup umat Hindu. Namun, simbol dan makna teologisnya tetap bertahan karena ritual tersebut memiliki fungsi eksistensial yang tidak tergantikan. Ritual ini membantu umat kembali ke nilai spiritual di tengah dinamika perkembangan zaman. Pentingnya kajian filosofis terhadap Sudhi Wadani juga terletak pada upaya memahami bagaimana masyarakat memaknai kesucian dalam kehidupan sehari-hari. Simbol-simbol dalam ritual memberikan gambaran mengenai sistem pengetahuan religius yang diwariskan secara turun-temurun, dan hal ini menjadi bagian penting dalam identitas budaya Bali. Penelitian ini menjadi relevan mengingat kajian tentang Sudhi Wadani masih terbatas, terutama pada aspek simbolisme dan makna teologisnya. Dengan pendekatan filosofis, tulisan ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan mengungkap struktur makna yang hidup dalam praktik ritual. Selain itu, kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penguatan literatur akademik mengenai Panca Yadnya, terutama dalam konteks penyucian Sudhi Wadani merupakan salah satu ritus fundamental yang mendukung pelaksanaan yadnya lainnya, sehingga memahami maknanya menjadi penting untuk memahami keseluruhan struktur ritual Hindu. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis simbolisme dan makna teologis Sudhi Wadani dalam kerangka filsafat Hindu. Melalui penelitian ini, diharapkan terbangun pemahaman komprehensif mengenai kedalaman filosofi yang terkandung dalam ritual, serta relevansinya dalam kehidupan spiritual umat Hindu masa kini. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus etnografi keagamaan. Pendekatan ini dipilih karena upacara Sudhi Wadani merupakan praktik keagamaan yang sarat makna simbolis, filosofis, dan teologis yang hanya dapat dipahami melalui pemaknaan mendalam terhadap pengalaman religius, simbol-simbol ritual, serta interpretasi para pelaku dan pemuka agama Hindu. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti menggali makna yang hidup dalam kesadaran umat Hindu yang menjalankan dan membimbing pelaksanaan Sudhi Wadani. Jenis penelitian ini adalah deskriptif-interpretatif. Deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara objektif tahapan, sarana upacara, serta simbolisme yang terdapat dalam ritual Sudhi Wadani. Sementara itu, interpretatif digunakan untuk menafsirkan makna teologis serta relevansinya dengan kerangka filsafat Hindu, khususnya konsep tattwa, etika . , dan ritual . (Eriyanto, 2015. Moleong, 2019. Rahmadi, 2. Penelitian dilakukan di beberapa tempat pelaksanaan upacara Sudhi Wadani pada komunitas Hindu, khususnya di Bali dan Lombok, dengan tujuan menangkap keragaman praktik dan pemahaman. Lokasi dipilih secara purposive, yaitu di daerah yang aktif melaksanakan Sudhi Wadani dan memiliki pemuka agama (Sulinggih atau Pinandit. yang kompeten memberikan penjelasan filosofis serta teologis. Informan ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan yang dianggap memiliki kompetensi dalam memberikan pemahaman filosofis dan teologis mengenai Sudhi Wadani. Peneliti mengamati langsung prosesi Sudhi Wadani meliputi persiapan, pelaksanaan, mantra yang digunakan, dan sarana banten. Observasi partisipatif digunakan untuk menangkap konteks simbolik dan makna tindakan ritual. Wawancara dilakukan secara semiterstruktur untuk menggali makna filosofis dan teologis menurut perspektif para pemuka agama dan pelaksana. Teknik ini memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap konsepkonsep kunci seperti sudhi, satwam, penyucian, identitas keagamaan, dan transformasi Dan studi dokumentasi Meliputi penelusuran naskah-naskah keagamaan, pedoman upacara, manuskrip lontar, arsip adat, serta literatur filsafat Hindu yang relevan dengan tema Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri . uman instrumen. , karena penelitian kualitatif menuntut peneliti untuk terlibat dalam proses interpretasi makna. Instrumen tambahan berupa pedoman wawancara, catatan lapangan . ield note. , serta perangkat dokumentasi seperti kamera dan perekam suara. Hasil Dan Pembahasan Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara Sudhi Wadani dipahami sebagai proses penyucian lahir dan batin yang memiliki dimensi teologis mendalam dalam tradisi Hindu. Penyucian ini bukan hanya ritual fisik, tetapi juga transformasi kesadaran individu menuju kemurnian spiritual sebagai dasar menjalankan dharma. Sudhi Wadani ditemukan tidak hanya sebagai rangkaian seremonial, tetapi juga sebagai wujud implementasi ajaran tattwa terkait hakikat kesucian . , kebenaran . , dan kemurnian pikiran . Hal ini menunjukkan bahwa proses ritual memiliki akar filosofis yang kuat. Pelaksanaan upacara Sudhi Wadani dilandasi oleh pemahaman bahwa manusia perlu melalui proses penyucian untuk mengharmoniskan hubungan antara Atman dengan Brahman. Kesadaran ini menjadi dasar teologis yang menempatkan Sudhi Wadani sebagai proses spiritual, bukan sekadar formalitas adat. Dalam observasi lapangan, tahapan-tahapan ritual Sudhi Wadani menunjukkan struktur simbolisme yang terintegrasi, mulai dari persiapan banten, mantra penyucian, hingga puncak ritual. Setiap unsur memiliki makna yang terhubung dengan konsep penyucian diri dalam filsafat Hindu. Simbol air suci . menjadi unsur utama yang menonjol dalam ritual ini. Temuan penelitian menunjukkan bahwa air suci merepresentasikan prinsip penyuci kosmis yang menghubungkan Atman pada kesadaran murni. Tirtha berfungsi sebagai media pembersihan vibrasi negatif. Sulinggih sebagai pemimpin ritual memberi penjelasan bahwa air suci bukan hanya air secara fisik, melainkan manifestasi energi suci Brahman yang diundang melalui Hal ini memperlihatkan aspek teologis dalam mengkonstruksi makna ritual. Banten Sudhi Wadani ditemukan memiliki susunan simbolik yang mewakili unsur alam semesta . anca maha bhut. Komposisi bunga, canang, porosan, serta api dupa mencerminkan mikrokosmos yang dibebaskan dari impuritas spiritual. Simbol porosan yang terdiri dari sirih, kapur, dan pinang mengandung makna filosofis tentang kesatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Informan penelitian menegaskan bahwa porosan adalah simbol integrasi moral seseorang setelah ritual penyucian. Rangkaian mantra yang diucapkan oleh pemuka agama memiliki peran penting dalam menciptakan vibrasi Mantra mantram penyucian seperti pavitra mantra dan gayatri mantra menegaskan hubungan teologis antara ritual dan ajaran Veda. Interpretasi para tokoh agama menyatakan bahwa mantra yang dilantunkan dalam Sudhi Wadani mengaktifkan kesadaran satwika dalam diri peserta ritual. Dengan demikian, mantra menjadi media transformasi psiko-spiritual. Penelitian menemukan bahwa peserta ritual mengalami pengalaman religius subjektif berupa ketenangan batin, perasaan bersih, dan motivasi memperbaiki diri. Hal ini menunjukkan keberhasilan ritual dalam mempengaruhi kesadaran spiritual individu. Dalam konteks filsafat Hindu, pengalaman religius tersebut dapat dikaitkan dengan proses adhyatma samskara atau pembentukan kesadaran rohani melalui pemurnian mental dan spiritual. Sudhi Wadani juga terbukti memperkuat identitas keagamaan Hindu, khususnya bagi umat yang sebelumnya belum menjalankan ritual tertentu atau mengalami pencarian spiritual Ritual ini memberikan fondasi teologis untuk memasuki struktur keyakinan Hindu. Selain aspek teologis. Sudhi Wadani berfungsi sebagai proses initiation yang menandai seseorang memasuki kehidupan religius yang lebih matur. Hal ini memperlihatkan hubungan ritual dengan struktur sosial dan keagamaan komunitas. Simbolisme api dupa dalam ritual ditafsirkan sebagai penyaksi suci yang menyerap segala ketidakmurnian. Api melambangkan Brahman sebagai kesadaran tertinggi yang menerangi proses penyucian. Penelitian menunjukkan bahwa dupa bukan sekadar ornamen ritual, melainkan simbol transformasi dari kondisi kotor menjadi bersih, sebagaimana asap dupa naik ke atas menuju alam suci. Simbol bunga yang digunakan dalam upacara Sudhi Wadani memiliki makna kesucian hati. Bunga dianggap lambang kerendahan hati dan persembahan niat tulus untuk mencapai kemurnian Makna filosofis ini berkaitan dengan ajaran Hindu bahwa penyucian diri harus dimulai dari bhava suddhi atau kemurnian hati sebagai dasar hubungan manusia dengan Tuhan. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan antara simbol ritual dengan makna teologis tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi struktur makna yang saling melengkapi dalam tradisi Hindu. Dengan demikian. Sudhi Wadani bukan hanya proses penyucian untuk kepentingan individu, tetapi juga menjadi mekanisme pemeliharaan keseimbangan kosmis antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karan. Sudhi Wadani memperlihatkan relasi mendalam antara ritual dan filsafat Hindu. Hal ini tampak dari struktur simbolisme yang selaras dengan ajaran tattwa seperti Panca Sradha dan Tri Kaya Parisudha. Penelitian menemukan bahwa simbolisme ritual merefleksikan konsep satyam, sivam. Sundaram kebenaran, kesucian, dan keindahan yang membentuk inti dari spiritualitas Hindu. Melalui wawancara mendalam, pemuka agama menegaskan bahwa Sudhi Wadani tidak pernah dimaknai sekadar ritual identitas, tetapi sebagai proses suci penyelarasan diri dengan hukum kosmis . Simbol kesucian air suci dalam Sudhi Wadani memiliki relasi filosofis dengan konsep apah dalam Veda, yaitu unsur yang membawa kehidupan dan menyucikan segala bentuk kekotoran. Dalam konteks teologis, air suci dipandang sebagai manifestasi dari Devi sebagai prinsip feminin kosmis yang memberi kehidupan sekaligus penyucian. Penelitian juga menemukan bahwa struktur ritual Sudhi Wadani mencerminkan proses samskara dalam tradisi Hindu, yaitu penyucian batin untuk memasuki tahap kehidupan spiritual tertentu. Hal ini menguatkan posisi Sudhi Wadani sebagai ritus yang memiliki landasan filosofis dan bukan sekadar penyesuaian budaya lokal. Simbolisme tirtha yang dipercikkan ke peserta ritual mengandung ajaran bahwa Atman selalu suci, tetapi pikiran dan indria perlu dimurnikan melalui proses ritual dan etika religius. Penerimaan air suci oleh peserta ritual diinterpretasikan sebagai penerimaan bimbingan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi transformasi dari pasif menjadi aktif dalam praktik spiritual. Penelitian menemukan bahwa perubahan perilaku setelah mengikuti Sudhi Wadani cukup Peserta menunjukkan kecenderungan menguatkan disiplin spiritual seperti japa mantra dan sembahyang. Perubahan itu sejalan dengan konsep adhyatmika prasada, yaitu anugerah spiritual yang muncul setelah seseorang disucikan secara ritual. Simbol banten Sudhi Wadani, terutama canang sari, menunjukkan representasi hubungan antara persembahan lahir dengan intensi batin, menegaskan kesatuan simbol dan Makna teologis dari persembahan ini adalah bentuk bhakti yang memperhalus vibrasi batin sehingga peserta ritual mudah menerima energi kesucian. Penelitian juga menunjukkan bahwa Sudhi Wadani berfungsi sebagai penyempurna moralitas, karena peserta ritual didorong untuk mengembangkan perilaku satwika setelah penyucian (Punyatmaja, 2009. Purwita, 2. Makna ini berakar dari ajaran Tri Kaya Parisudha yang menekankan kesucian pikiran, kata, dan perbuatan. Ritual penyucian ini menyediakan ruang sakral untuk memulai praktik etis tersebut. Simbolisme buah-buahan dalam banten ditafsirkan sebagai hasil karma yang bersih, menunjukkan bahwa penyucian memberi peluang untuk memulai karma baru yang lebih satwika. Elemen beras dan biji-bijian dalam banten juga mengandung makna vitalitas hidup dan harapan kesuburan spiritual. Dalam konteks filsafat Hindu, hal ini berkaitan dengan annam brahma. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memaknai Sudhi Wadani sebagai fondasi untuk memperbaiki hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan. Hal ini menunjukkan implikasi sosial dari ritual. Sudhi Wadani juga berfungsi meluruskan kesadaran diri sehingga peserta ritual mampu menjalankan ajaran Hindu secara lebih stabil dan Penelitian menghubungkan fungsi ini dengan konsep yoga cittavrtti nirodhah, yaitu proses menenangkan gelombang pikiran sebagai syarat kemurnian spiritual. Makna teologis dari keseluruhan proses ritual menunjukkan bahwa penyucian bukan sekadar menghapus dosa, tetapi mengubah struktur batin seseorang. Pemuka agama menyatakan bahwa Sudhi Wadani berfungsi sebagai pembuka pintu untuk memasuki pemahaman dharma yang lebih Penelitian menemukan bahwa Sudhi Wadani sering dilakukan pada momen penting kehidupan, menunjukkan bahwa ritual ini dianggap sebagai fondasi spiritual yang kuat bagi perjalanan hidup. Simbolisme keseluruhan ritual memperlihatkan hubungan antara manusia dengan kekuatan kosmis dan ilahi. Hal ini menegaskan dimensi teologis yang tidak terpisahkan dari filsafat Hindu. Analisis data menunjukkan bahwa Sudhi Wadani mengintegrasikan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam praktik keagamaan Hindu. Dimensi ontologis terlihat dari pemahaman tentang Atman yang suci. Dimensi epistemologis terlihat dari proses penerangan kesadaran. Dimensi aksiologis terlihat dari perubahan perilaku. Hubungan simbolisme dengan makna teologis memperkuat pemahaman bahwa ritual bukan sekadar estetika sakral, tetapi struktur makna spiritual. Dalam perspektif filsafat Hindu. Sudhi Wadani adalah upaya mencapai suddha satwa atau kesucian batin sebagai dasar moksha. Temuan penelitian menegaskan bahwa ritual ini memiliki dampak transformatif yang diakui oleh peserta maupun pemuka agama. Secara keseluruhan. Sudhi Wadani dapat dipahami sebagai ritual yang mengintegrasikan simbolisme sakral dan makna teologis dalam kerangka filsafat Hindu. Ritual ini menjadi media transformasi spiritual yang membawa manusia mendekat kepada kesucian dan kebenaran universal. Pembahasan mendalam mengenai upacara Sudhi Wadani menunjukkan bahwa proses penyucian yang berlangsung tidak semata-mata bersifat ritualistik, melainkan merupakan manifestasi konkret dari filsafat Hindu tentang suddhi dan moksha margga. Penyucian dalam tradisi Hindu dipahami sebagai langkah menuju pembebasan spiritual, di mana manusia harus melalui proses penghalusan pikiran, ucapan, dan tindakan. Dalam konteks ini. Sudhi Wadani berfungsi sebagai titik awal harmonisasi antara Atman yang suci dengan tubuh dan pikiran yang sering terpengaruh oleh mala . Dengan demikian, ritual ini merupakan media yang menjembatani dimensi metafisik ajaran Hindu dengan praktik nyata kehidupan keagamaan umat. Simbolisme yang hadir dalam Sudhi Wadani sesungguhnya merupakan bahasa filsafat yang diwujudkan dalam bentuk visual dan tindakan ritual. Air suci tidak hanya dianggap sebagai media pembersih fisik, tetapi sebagai representasi prinsip kosmis apah yang menyimbolkan kelahiran kembali dan regenerasi kesadaran manusia. Api dupa mengartikulasikan aspek transformasi, menggambarkan bahwa segala kekotoran batin harus dilebur melalui cahaya pengetahuan . nana-agn. Banten yang tersusun dari elemen flora, biji-bijian, dan unsur alam lainnya menjadi representasi hubungan manusia dengan alam semesta melalui ritual ecology, yaitu pemahaman bahwa proses penyucian individu turut berdampak pada kesucian kosmos secara keseluruhan. Dari perspektif teologis. Sudhi Wadani menegaskan ajaran fundamental bahwa Brahman adalah sumber kesucian tertinggi dan manusia perlu menyelaraskan dirinya dengan vibrasi ilahi tersebut. Mantra yang diucapkan oleh Sulinggih dalam prosesi bukan sekadar doa, tetapi vibration of truth yang mengorientasikan kesadaran peserta dari kondisi profan menuju kondisi sakral. Dalam tradisi Hindu, kata-kata yang diucapkan dalam mantra dipercaya memiliki kekuatan intrinsik . antra shakt. yang dapat mentransformasikan struktur batin seseorang. Oleh karena itu, pelafalan mantra pada Sudhi Wadani bukanlah formalitas, tetapi mekanisme spiritual yang dapat membuka kesadaran menuju keadaan satwika, yaitu kondisi kejernihan pikiran. Pengalaman religius peserta ritual menunjukkan bahwa Sudhi Wadani memiliki dimensi psikospiritual yang signifikan. Ketenangan batin, rasa suci, dan keinginan untuk memperbaiki diri menggambarkan bahwa ritual ini mampu memperbaharui motivasi moral Hal ini selaras dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yang menekankan pentingnya kesucian pikiran, kata, dan perbuatan. Sudhi Wadani bukan hanya memberi makna simbolis, tetapi juga memfasilitasi pembentukan karakter spiritual yang berlandaskan nilai-nilai Dengan demikian, ritual ini menjadi instrumen untuk memperkuat fondasi etis umat agar mampu menjalankan kehidupan rohani dan sosial dengan lebih seimbang. Melalui integrasi simbolisme, pengalaman ritual, dan ajaran teologis. Sudhi Wadani menegaskan dirinya sebagai manifestasi konkret filsafat Hindu yang bersifat holistic (Jelantik et al. , 2024. Jero, 2020. Wiana, 2000. Widnyana et al. , 2. Upacara ini menggabungkan aspek ontologis . emahaman tentang hakikat Atman dan Brahma. , epistemologis . encarian pengetahuan melalui pengalaman sakra. , dan aksiologis . ilai moral dan spiritual sebagai hasil penyucia. Sudhi Wadani menunjukkan bahwa filsafat Hindu tidak hanya dipahami melalui teks-teks suci, tetapi juga melalui praktik ritual yang menghidupkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian. Sudhi Wadani bukan sekadar ritual penyucian, melainkan jalan spiritual yang menuntun umat menuju keselarasan kosmis dan kemurnian sejati. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa upacara Sudhi Wadani merupakan ritual penyucian diri yang memiliki makna teologis mendalam dalam tradisi Hindu. Ritual ini tidak hanya menghapus ketidakmurnian secara simbolis, tetapi juga menjadi proses pembentukan kesadaran spiritual. Pelaksanaan Sudhi Wadani menegaskan bahwa kesucian lahir dan batin merupakan fondasi fundamental bagi seseorang untuk memasuki kehidupan religius yang lebih matang sesuai dengan ajaran tattwa. Simbolisme yang muncul dalam berbagai tahapan upacara, seperti penggunaan air suci, bunga, api, banten, serta mantra, menunjukkan adanya struktur makna yang terintegrasi dengan filsafat Hindu. Setiap simbol memiliki fungsi tertentu dalam mengarahkan peserta menuju kesadaran satwika. Tirtha sebagai unsur utama berperan sebagai media penyucian kosmis, sementara banten dan mantra memperhalus vibrasi batin sehingga memungkinkan terjadinya transformasi spiritual. Dari sudut pandang peserta dan pemuka agama. Sudhi Wadani terbukti memberikan pengalaman religius yang nyata, seperti ketenangan batin, motivasi moral, dan perubahan perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa ritual tersebut tidak hanya bersifat formal atau seremonial, tetapi memiliki dampak psikologis dan spiritual yang signifikan. Dampak ini berhubungan langsung dengan konsep penyucian diri dalam ajaran Hindu, termasuk Tri Kaya Parisudha dan Panca Sradha. Makna teologis dari Sudhi Wadani dapat dipahami melalui hubungan antara simbolisme ritual dengan ajaran filsafat Hindu. Ritual ini menjadi wujud implementasi prinsip-prinsip teologis seperti kesatuan Atman dengan Brahman, pentingnya bhakti, dan keharmonisan kosmis. Sudhi Wadani menegaskan bahwa transformasi spiritual bukanlah proses abstrak, melainkan perlu diwujudkan melalui tindakan ritual yang terarah dan penuh kesadaran. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Sudhi Wadani merupakan ritus penyucian yang mengintegrasikan aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam kehidupan spiritual Hindu. Dengan memadukan simbolisme sakral dan makna teologis. Sudhi Wadani berfungsi sebagai media transformasi yang membawa manusia menuju kemurnian batin dan kedekatan dengan kebenaran universal. Ritual ini membuktikan bahwa filsafat Hindu tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga diwujudkan secara nyata melalui praktik keagamaan yang sarat simbol dan makna. Daftar Pustaka