MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. Number. Agustus 2025 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 9-16 Journal Home Page: http://journal. id/index. php/moderation/index TAUHID DAN ISLAM: Implementasi Pendidikan Tauhid di Sekolah Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah3 Mahasiswa Magsiter Iniversitas Islam Jakarta (UIJ)1 Dosen Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA)2,3 anwarlucy24@gmail. sadari@iprija. husnul_khotimah@iprija. Abstract: This article discusses the importance of monotheism . in the diversity of humanity and its role in social systems and worship. The research objective is to understand tauhid education as an integral part of Islamic education leading to the recognition of God. The method used is qualitative descriptive with a literature study approach, collecting data from books, the Qur'an, and related literature. The findings indicate that tauhid education is essential in shaping individuals who recognize the oneness of God and avoid polytheism, contributing to the unity of humanity. In conclusion, tauhid is the foundation of Islamic civilization that teaches that only Allah is worthy of worship, and tauhid education in schools is expected to strengthen students' beliefs and prevent misunderstandings. Keyword: Tauhid. Islamic. Education. School Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah: [Tauhid dan Islam: Implementasi Pendidikan Tauhid di Sekola. | Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah PENDAHULUAN Umat manusia diciptakan dalam keberagaman yang mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, budaya, ekonomi, dan agama. Mereka tersebar di seluruh dunia, terpisah oleh pulau-pulau dan benua-benua, namun terikat oleh berbagai faktor seperti ras, budaya, bahasa, warna kulit, dan sejarah. Dari keragaman ini, terbentuklah komunitaskomunitas manusia yang masing-masing memiliki peradaban unik, yang bisa jadi serupa, hampir serupa, atau bahkan sangat berbeda. Komunitas-komunitas ini bisa dikenali melalui berbagai istilah, seperti bangsa, negara, suku, masyarakat, dan lain-lain. Meskipun terdapat perbedaan makna antara istilah-istilah tersebut, semua diatur oleh sistem norma sosial. Sebagaimana dijelaskan dalam Wikipedia, norma sosial adalah Ausistem nilai atau prinsip yang menjadi patokan perilaku suatu masyarakat agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan. Ay Berbagai umat manusia mengadopsi beragam aturan hukum, adat istiadat, dan praktik ibadah yang bervariasi, sesuai dengan kondisi masingmasing. Namun, keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa . tetap menjadi unsur kebenaran yang tidak berubah. Tuhan tidak dapat dianggap sebagai monopoli suatu bangsa atau agama tertentu. Dia milik seluruh umat manusia. Pada dasarnya, semua agama bersatu dalam konsep ketuhanan yang satu, dan menurut Khalifah Abdul Hakim, agama yang satu tersebut adalah fitrah yang dianugerahkan kepada manusia. Islam, sebagai agama monoteis yang menekankan tauhid, memiliki sistem sosial yang berlandaskan prinsip ini. Tauhid menjadi inti dari ajaran Islam, dan kandungan ayat-ayat AlQurAoan berpusat pada tema ini. Semua aturan, hukum, perintah, dan manhaj dalam Islam bersumber dari tauhid. Berdasarkan kesaksian ayat-ayat Al-QurAoan, dakwah kepada tauhid tidak terbatas pada kelompok agama Islam semata, melainkan merupakan panggilan dari seluruh nabi untuk mengajak umat manusia kepada pengesaan Tuhan. Seluruh agama Ilahi yang ada sebelumnya juga merupakan agama tauhid. Setiap kali terjadi penyimpangan dalam suatu umat. Allah mengutus seorang Nabi untuk mengembalikan mereka kepada akidah tauhid, mengajak mereka untuk beriman hanya kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya, serta menyingkirkan kesyirikan dan penyimpangan yang ada. Semua nabi, dari yang pertama hingga yang terakhir, membawa ajaran yang memiliki prinsip-prinsip yang sama. Oleh karena itu, umat manusia diharapkan untuk menjaga keutuhan agama ini dan memelihara persatuan di antara umat manusia, dengan menghindari pertentangan dan perpecahan. Menurut Hamka. AuPada dasarnya fitrah manusia merasakan adanya Maha Kuasa,Ay yang mengindikasikan kepercayaan bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Pemberi Rizki, serta Penghidup dan Pemati. Hanya Dia yang layak disembah, dan hakikat kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan terpatri dalam hati nurani manusia. 2 Selama individu mengikuti fitrahnya, mereka cenderung berada di jalur yang benar. Namun, banyak yang tidak mengetahui jalan tersebut, sehingga mereka akhirnya menyembah apa yang ditakuti atau dianggap memiliki pengaruh. Dalam konteks ini, muncul individu-individu yang dianggap sakti, yang oleh masyarakat dipercaya dapat berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Akibatnya, mereka menjadi penentu praktik ibadah dan ritual, sehingga kepercayaan fitrah yang suci ini terdistorsi oleh manusia itu sendiri. Dengan demikian, sistem pemerintahan yang otoriter dapat muncul. Kehormatan, harta, dan tujuan hidup manusia dikendalikan oleh kehendak para individu sakti tersebut. Sejarah penyebaran kesyirikan di kalangan umat ini berulang, terutama karena adanya penyeru Salah satu faktor penting lainnya adalah pembangunan kuburan sebagai bentuk pengagungan berlebihan terhadap para wali dan orang-orang shalih, yang menjadikan kuburan sebagai tempat pemujaan dan berhala selain Allah. Berbagai praktik ibadah, seperti doa, penyembelihan, dan nadzar, sering kali dipersembahkan kepada kuburan-kuburan tersebut. 1 Khalifah Abdul Hakim. Hidup yang Islami Menyeharikan Pemikiran Transendental Akidah dan Ubudiyah, cet ke-1 (Jakarta: CV. Rajawali, 1. , 92. 2 Hamka. Filsafat Ketuhanan ( Surabaya: Karunia 1. , 29. 10 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Fenomena ini mencerminkan perjalanan sejarah agama umat manusia hingga saat ini. Belakangan ini, kesyirikan telah begitu meresap di kalangan kaum Muslimin, dengan sangat sedikit yang memahami tauhid dan terbebas dari syirik. Namun, ajaran AuTiada Tuhan selain AllahAy berpotensi membebaskan setiap individu dari ibadah kepada makhluk, mengarahkan mereka untuk beribadah hanya kepada Allah. Dalam konteks ini, manusia tidak akan saling bersekutu atau terpecah ke dalam kelompok-kelompok yang berselisih mengenai kebenaran. Mereka akan terbebas dari belenggu perbudakan antar manusia dan dari perasaan superioritas satu sama lain, yang pada gilirannya menumbuhkan kesadaran bahwa semua manusia setara. Tidak ada yang lebih kuat atau lemah di antara mereka. semua makhluk adalah hamba Allah, baik sebagai individu, kelompok, komunitas, maupun bangsa. Inilah yang disebut dengan tauhid, yaitu penyatuan kepercayaan yang tidak terpecah-pecah. Alam semesta ini diatur oleh satu pengatur, sesuai dengan satu aturan, dan segala sesuatu tunduk pada hukum-hukum yang Hanya Allah yang menjadi pusat tujuan hidup. PEMBAHASAN Pengertian Tauhid At-Tauhid, dalam pengertian linguistik, merupakan masdar dari kata Auwahhada. Ay Ketika dikatakan Auwahhada asy-syaiAoa,Ay hal ini berarti menjadikan suatu perkara menjadi satu. Dalam konteks syariat, tauhid diartikan sebagai pengesaan Allah dengan atribut-atribut khas-Nya, yang mencakup rububiyah, uluhiyah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Aa aA Aa U NacEEaE NA a AA aI a aEOaE aOaEOaOEa aOaEOa aEIENNau aE aA UOA a ACaE aN aO NacEEaA Artinya: AuKatakanlah: AuDialah Allah. Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan DiaAy. (Q. Al-Ikhlas:1-. Ay Tuhan juga mengungkapkan dalam surat Al-Ikhlas ayat pertama bahwa Dzat-Nya adalah Tuhan yang AuAhadAy, yang bermakna satu. Istilah AuahadAy dalam bahasa Arab sepadan dengan Auwahid,Ay tetapi terdapat perbedaan penekanan. AuahadAy menunjukkan satu yang tidak terbilang, berdiri sendiri, sementara AuwahidAy merujuk pada satu yang terbilang dan merupakan awal dari bilangan yang dapat berlanjut menjadi dua, tiga, empat, dan seterusnya hingga tak terhingga. Dengan demikian, ayat pertama surat Al-Ikhlas menegaskan bahwa Tuhan adalah satu yang Ketika Al-QurAoan menyatakan AuAllahu Ahad,Ay hal ini menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan yang tunggal dan tidak ada yang menyertainya, baik sebelum maupun setelah-Nya. Sebaliknya, ketika Al-QurAoan menyebut AuAllah al-Wahid,Ay maka hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah yang pertama dalam permulaan wujud segala sesuatu, yang tidak didahului oleh apa pun, tetapi diikuti oleh kehadiran angka dan entitas lainnya setelah-Nya. Ilmu tauhid merupakan disiplin pengetahuan yang memiliki kedudukan tertinggi dalam konteks agama Islam, karena ia menjadi fondasi utama bagi seluruh ilmu pengetahuan dalam agama tersebut. Para ulama sepakat bahwa Islam adalah agama yang berlandaskan tauhid. Kajian ini berfokus pada keesaan Dzat Allah, di mana mempelajari ilmu ini diwajibkan secara fardhu Aoain bagi setiap individu yang mukallaf, yaitu mereka yang telah mencapai usia baligh, berakal, serta memiliki panca indera yang utuh, dan telah menerima ajaran agama Islam. Sementara itu, mendalami ilmu tauhid secara rinci memiliki status hukum fardhu kifayah. Ilmu tauhid juga dikenal dengan berbagai istilah lain, seperti ilmu ushuluddin, ilmu kalam, ilmu aqaid, dan ilmu ma'rifat. Syaikh Muhammad Al-Utsaimin. Syarah Kitab Tauhid (Bekasi: PT Darul Falah, 2. , xvii. Abdul Latif Fakih. Deklarasi Tauhid . ebuah Akidah Pembebasan. Sisik-melik Surah Al-Ikhla. , cet. Ke-1 (Pamulang: Inbook, 2. , 73-74. 5 Abdullah Zakiy Al-Kaaf dan Maman Abdul Djaliel. Mutiara Ilmu Tauhid (Bandung: CV Pustaka Setia, 1. Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah: [Tauhid dan Islam: Implementasi Pendidikan Tauhid di Sekola. 11 | Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah Dengan demikian, tauhid adalah suatu bentuk pengakuan dan penegasan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Zat Yang Maha Suci yang meliputi sifat, asma`dan af`al-Nya. Tauhid adalah inti ajaran yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul. Allah SWT berfirman dalam Al-QurAoan: a a AOIaEIA a aAOEuaNacEIA s AE aII NA AaIa a O aIA a AOOuaEaO aNaINNauacEuaEaNauaNacEA a a aa a AIICaEA Artinya: AuDan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan . ang ha. melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. Ay (Q. Al-Anbiya: . Macam-Macam Tauhid Dalam buku ensiklopedia Islam yang disusun oleh tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah, para ulama mengklasifikasikan tauhid ke dalam dua kategori, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid Sebaliknya. Muhammad bin Abdul Wahab membagi tauhid menjadi dua bagian: Tauhid Uluhiyah, dan kedua. Tauhid Rububiyah. Berdasarkan berbagai perspektif tersebut, penulis menyimpulkan bahwa tauhid dapat dibedakan menjadi tiga jenis: Tauhid Uluhiyah. Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Ubudiyah. a AOaOacNEIN aOeN aEIEN aOEa aC aEIOEN aOIA AIICaEa aEIEa aEN aEIaN aCO aIA a a a a a a a a Artinya: AuHai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (Q. Al-Baqarah: . Ay Secara ringkas, tauhid uluhiyah didefinisikan sebagai Aumengesakan Allah Swt sebagai Tuhan yang wajib disembah dan ditakuti. Ay7 Dalam Kamus Istilah Islam, tauhid rububiyah diartikan sebagai Aumengesakan Allah sebagai pencipta segala makhluk dan yang melimpahkan karunia yang tak terhingga. Ay Tauhid rububiyah mencerminkan keyakinan dan pengakuan bahwa hanya ada satu Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh alam. Semua aktivitas di alam semesta ini tidak terlepas dari kebesaran dan kekuasaan Allah sebagai Rabb, yang tidak memerlukan bantuan siapa pun dalam mengatur alam ini. a Aua NIN aEI NacEE EN aOEaC E NI OA ANN aOaEaaNauA a AA a AOEaA a aN NacOI aaN a aOO aEaO E a a OaO ENO aE EIA a a a aa a a a AOENI OE aCI OEIacOII NA a ca A aI aNaacEEaNEaEC OEaIaaE NacEEA AIOA a aOA a AE aEaIA aa aa a a a a a a a a a a aa a a Artinya: AuSesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan . iciptakan-Nya pul. matahari, bulan dan bintang-bintang . asing-masin. tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah. Tuhan semesta alam. Ay Q. Al-Araf: 54. Selanjutnya, tauhid ubudiyah, yang juga dikenal sebagai tauhid ibadah, menurut Moh. Hasim, diartikan sebagai Aumengesakan Allah dalam penyembahan: iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin,Ay yang berarti Auhanya kepada-Mu saja kami menyembah dan hanya kepada-Mu saja kami mohon pertolongan. Ay Tauhid ubudiyah merupakan kelanjutan dari tauhid uluhiyah dan rububiyah. Ketauhidan ini tidak hanya sebatas pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, tetapi juga harus sejalan dengan seluruh aktivitas seorang hamba. Keyakinan ini harus diwujudkan dalam bentuk ibadah dan amal saleh yang ditujukan langsung kepada Allah Swt tanpa perantara, serta segala bentuk penyembahan dan pengabdian hanya ditujukan kepadaNya. Moehammad Thahir Badrie. Syarah Kitab al-Tauhid Muhammad bin Abdul Wahab (Jakarta: PT Pustaka Panjimas 1. , 24-25. 7 Moh. Hasim. Kamus Istilah Islam (Bandung : Penerbit Pustaka 1. , 159. 12 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Pengertian Pendidikan Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, individu dapat berkembang dan mencapai kemajuan, yang pada gilirannya melahirkan kebudayaan dan peradaban yang positif, serta membawa kebahagiaan dan kesejahteraan. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula tingkat kebudayaan dan peradaban yang dapat dicapainya. Menurut Muhibin Syah. Aukata pendidikan berasal dari kata dasar didik atau mendidik, yang secara harfiah berarti memelihara dan memberi latihan. Ay8 Dalam kamus al-Munawwir, istilah pendidikan juga berasal dari kata rabba-yurabbi-tarbiyatan, yang berarti mendidik, mengasuh, dan 9 Dalam bahasa Arab, pendidikan sering diartikan dari kata AuAllama dan AddabaAy. Kata allama berarti mengajar . enyampaikan pengetahua. , memberitahu, dan mendidik, sementara kata addaba lebih fokus pada melatih, memperbaiki, dan menyempurnakan akhlak serta sopan santun. Namun, kedua istilah ini jarang digunakan secara eksklusif untuk menggambarkan pendidikan, karena pendidikan harus mencakup aspek intelektual, moral, psikomotorik, dan afektif secara keseluruhan. Dengan demikian, terdapat tiga istilah dalam konteks Islam yang digunakan untuk mewakili pendidikan, yaitu tarbiyah, taAolim, dan taAodib. Di antara ketiganya, kata tarbiyah dianggap paling tepat untuk menggambarkan pendidikan, karena mengandung makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga eksistensi. Semua makna ini mencerminkan keseluruhan arti pendidikan. Kata pendidikan juga sepadan dengan istilah AueducationAy yang berarti membimbing. John Dewey menyatakan. Authe word education means just a process of leading or bringing up. Ay10 Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai pendidikan, yaitu membimbing kemampuan, potensi, dan fitrah yang ada dalam diri anak untuk mencapai kedewasaan. Pendidikan mencakup berbagai pengaruh yang membantu individu dalam menghadapi Dengan demikian, pendidikan berarti mempersiapkan dan membentuk pola hidup METODOLOGI PENELITAN Metode penelitian yang digunakan adalah deskritif kualitatif, penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. yaitu suatu penelitian yang di lakukan dengan mengumpulkann bahan-bahan kepustakaan, membaca buku-buku, literatur dan menelaah dari berbagai macam teori yang mempunyai hubungan dengan permasalahan yang diteliti. 11 yang dimana data yang di gunakan adalah data Kepustakaan, sumber data yang dikumpulkan adalah data primer yang diambil dari buku-buku dan Al-QurAoan, sedangkan sumber data sekunder di ambil dari jurnal, artikel dan literasi lainnya. Data yang telah diperoleh dianalisis secara analisis isi . ontent analysi. yaitu penelitian yang bersifat pembahasan terhadap isi suatu informasi tertulis atau cetak dalam media massa. 8 Muhibin Syah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, cet. Ke-8 (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2. , 32. Ahmad Warson Munawwir. Kamus al-Munawwir (Yogyakarta: PP. al-Mmunawwir, 1. , 504. 10 John Dewey. Democracy and Education (New York: The Masmillan company, 1. , 10. 11 Sutrisno Hadi. Metode Research ( Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1. , 6. Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah: [Tauhid dan Islam: Implementasi Pendidikan Tauhid di Sekola. | Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah HASIL PENELITIAN Pendidikan tauhid merupakan salah satu cabang pendidikan Islam yang fokus pada pengenalan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Sementara itu, pendidikan Islam memiliki cakupan luas dan mendalam dibandingkan pendidikan tauhid. Di sekolah, pendidikan Islam mencakup berbagai pembelajaran, seperti tafsir Al-QurAoan, akidah, hadist, fiqih, akhlak, serta sejarah kebudayaan Islam. Dengan demikian, pendidikan tauhid termasuk dalam kategori pendidikan Islam, sebagaimana dinyatakan oleh beberapa sumber. Secara sederhana, pendidikan tauhid atau pendidikan Islam dapat dipahami sebagai proses bimbingan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuan manusia dalam mengenali keesaan Allah. Pendidikan ini bertujuan agar individu dapat memanfaatkan instrumen yang diberikan Allah, yaitu akal, hati, dan tubuh, untuk menjalankan kehendak Pencipta dan menjauhi larangan-Nya. Menurut Yusran Asmuni, pendidikan tauhid yang berfokus pada pengembangan potensi . manusia dalam mengenal Allah Auakan menanamkan keikhlasan dalam setiap tindakan atau perbuatan pengabdian. Ay Dengan demikian, individu akan senantiasa berserah diri kepada Allah atas segala karunia, baik yang positif maupun negatif, yang menimpanya dalam kehidupan. Melalui pendidikan tauhid, manusia diharapkan menjadi hamba yang tidak terdehumanisasi, yang melahirkan rasa saling mengasihi, tolong-menolong, serta memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Selain itu, pendidikan mengajarkan kewaspadaan terhadap tipu daya dunia dan kezaliman, serta mendorong sikap sederhana . dan hati yang waraAo. Dengan demikian, pendidikan tauhid dapat dipahami sebagai upaya menampakkan atau mengaktualisasikan potensi yang dimiliki setiap manusia, yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai fitrah. Aspek dari fitrah manusia adalah fitrah beragama, karena, pendidikan tauhid lebih diarahkan pada pengembangan aspek keberagamaan seseorang sebagai manusia Dengan kata lain, pendidikan tauhid adalah usaha mengubah tingkah laku manusia berdasarkan ajaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan yang dilandasi oleh keyakinan kepada Allah semata. Hal ini sejalan dengan karakteristik ajaran Islam yang menekankan pengesaan Allah dan penyerahan diri kepada-Nya, karena Allah adalah pengatur kehidupan umat manusia dan seluruh alam, serta satu-satunya yang berhak dimintai pertolongan. Tauhid merupakan aspek fundamental dan paling utama dalam Islam. Meskipun demikian, masih banyak individu dari kalangan awam yang belum sepenuhnya memahami, mengerti, dan menghayati makna serta hakikat tauhid yang diinginkan dalam ajaran Islam. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang secara tidak sadar terjerumus pada pemahaman dan keyakinan yang keliru. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami dan menginternalisasi risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Tauhid adalah dasar peradaban Islam, di mana esensi dari peradaban tersebut terletak pada agama Islam itu sendiri. Esensi ajaran Islam adalah tauhid, yang merupakan pengakuan bahwa Allah adalah Maha Esa. Raja. Pencipta yang Mutlak, dan Penguasa seluruh alam Tauhid memiliki implikasi yang sangat signifikan dalam sistem dan struktur amal dalam Islam. Dengan pemahaman tauhid, seorang Muslim menjadikan Allah sebagai tujuan awal dan akhir, sehingga seluruh tindakan dalam kehidupannya dilakukan semata-mata karena Allah dan untuk Allah. Amin Rais berpendapat bahwa pandangan dunia tauhid tidak hanya sekadar mengesakan Allah, seperti yang diyakini oleh kaum monoteis, tetapi juga mengakui kesatuan penciptaan . nity of creatio. , kesatuan kemanusiaan . nity of mankin. , kesatuan tuntunan hidup . nity of guidanc. , dan kesatuan tujuan hidup . nity of purpose of lif. Semua ini merupakan derivasi dari kesatuan ketuhanan . nity of godhea. 13 Kalimat tauhid, yang diungkapkan dalam kalimat thayyibah AuLaa ilaaha illallahAy, berarti tiada Tuhan selain Allah. Dengan mengucapkan kalimat ini, individu mengakui dan memutlakkan Allah yang Maha Esa sebagai Khalik, serta menafikan eksistensi selain-Nya sebagai makhluk. 12 M. Yusran Asmuni, ilmu Tauhid, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1. , 42. 13 M. Amin Rais . Cakrawala Islam antara Cita da Fakta, cet. Ke-1 (Bandung . Mizan, 1. , 18. 14 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Dengan landasan ini, pendidikan tauhid menjadi sangat vital dalam kehidupan manusia. Dengan bekal pemahaman tauhid, individu akan senantiasa ingat kepada Allah. Sebaliknya, mereka yang berpaling dari pengetahuan tentang tauhid berisiko tersesat, karena cenderung mengikuti pemikiran-pemikiran yang keliru yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam Pendidikan tauhid di sekolah umum sering kali disertakan dalam mata pelajaran yang dikenal sebagai pendidikan agama. Pendidikan agama ini terdiri dari berbagai ilmu keislaman, seperti aqidah, akhlak, fiqih, sejarah kebudayaan Islam, serta tafsir QurAoan dan Oleh karena itu, pendidikan tauhid juga dapat dikategorikan sebagai bagian dari pendidikan agama. Sekolah berfungsi sebagai institusi pendidikan yang khusus, di mana anak-anak dapat mengenal dunia yang lebih luas. Dalam lingkungan keluarga, mereka hanya mengenal ayah, ibu, saudara, dan anggota keluarga lainnya. Namun, di sekolah, anak-anak berinteraksi dengan guru dan bermain bersama teman-teman dari berbagai latar belakang masyarakat. Atmosfer pendidikan di sekolah diciptakan secara sengaja untuk menjadi lebih terarah dan spesifik. Sebagai institusi sosial, sekolah memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan kepada anak. Tidak mungkin setiap orang tua dapat memberikan pendidikan yang optimal dan menyeluruh hanya melalui pengasuhan di rumah, mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan manusia. Meskipun orang tua mungkin memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup, mereka sering kali kekurangan waktu untuk mendidik anak secara efektif. Oleh karena itu, orang tua sering mempercayakan sebagian tanggung jawab pendidikan, termasuk pendidikan tauhid, kepada sekolah. Berdasarkan hal tersebut, sekolah beserta semua perangkatnya harus menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya nuansa tauhid dalam diri siswa. Melalui pendidikan tauhid di sekolah, diharapkan anak-anak dapat mengenal dan memahami konsep-konsep keimanan secara teoritis serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Guru, sebagai praktisi pendidikan di sekolah, harus memiliki kemampuan yang memadai dalam pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. Jika seorang guru mengajarkan nilai-nilai keimanan dan mendorong siswa untuk melaksanakan shalat, tetapi tidak melakukannya sendiri, maka harapan untuk siswa mengikuti teladannya menjadi kecil. Seperti yang diungkapkan oleh Zakiah Daradjat. AuGuru masuk ke dalam kelas, membawa seluruh unsur kepribadiannya, agamanya, akhlaknya, pemikirannya, sikapnya, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ay Penampilan guru, cara berbicara, interaksi dengan siswa, serta emosi dan keadaan psikologis yang dialaminya, semuanya dapat mempengaruhi siswa secara tidak langsung. Semua ini akan diserap oleh anak tanpa disadari oleh guru maupun orang tua. Di sisi lain, terdapat anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan agama dari orang tua mereka, disebabkan oleh ketidakpatuhan orang tua terhadap ajaran agama di rumah. Kondisi ini mengakibatkan sikap acuh tak acuh anak-anak terhadap agama. Dalam situasi seperti ini, guru agama memikul tugas yang cukup berat dalam menyampaikan nilai-nilai agama kepada siswa. Ketertarikan siswa terhadap pelajaran agama sangat bergantung pada kemampuan guru agama itu sendiri. Sebagaimana diungkapkan oleh Zakiah Daradjat: AuJika guru agama memiliki kepribadian yang menarik dan mampu menyajikan pendidikan agama sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak, maka pelajaran agama dapat disampaikan dengan cara yang menarik minat siswa. Sebaliknya, guru yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan menghasilkan dampak yang kurang positif. Ay Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan agama akan tercapai jika suasana sekolah secara keseluruhan mendukung proses tersebut. Semua guru, dalam mata pelajaran apapun, serta perhatian kepala sekolah, harus selaras dengan tujuan pendidikan agama dalam membina jiwa spiritual siswa. Tentunya, pendidikan agama harus dilakukan oleh guru yang memenuhi syarat-syarat dalam aspek kepribadian, keterampilan, dan pengetahuan ilmiah. Zakiah Daradjat. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah (Jakarta : Ruhama 1. , 77. Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah: [Tauhid dan Islam: Implementasi Pendidikan Tauhid di Sekola. | Lucy Anwar. Sadari. Husnul Khotimah KESIMPULAN Pendidikan tauhid adalah cabang dari pendidikan Islam yang menekankan pengenalan Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa. Ia mencakup proses bimbingan untuk memperkuat pemahaman manusia tentang keesaan Allah, menggunakan akal, hati, dan tubuh untuk menjalankan kehendak-Nya. Pendidikan tauhid bertujuan menanamkan keikhlasan dalam setiap tindakan, sehingga individu dapat berserah diri kepada Allah dan mengembangkan rasa saling mengasihi. Ini juga membantu individu menghadapi tantangan dunia dengan sikap zuhud dan waraAo. Di sekolah, pendidikan tauhid bagian dari pendidikan agama, yang mencakup berbagai ilmu keislaman. Sekolah berperan penting dalam memberikan pendidikan yang menyeluruh, terutama bagi anak-anak yang mungkin tidak mendapatkan pendidikan agama di rumah. Guru yang berkompeten dan memiliki kepribadian menarik sangat berpengaruh dalam menarik minat siswa terhadap pelajaran agama. Keberhasilan pendidikan tauhid bergantung pada suasana sekolah yang mendukung dan konsisten dengan nilai-nilai spiritual. REFERENSI