KAFFAH: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan Vol. 2 No. Page 108-119 ISSN: 2985-9662 http://jurnal. id/index. php/kaffah/article/view/667 INTEGRASI DZIKIR DAN FIKIR IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN ISLAM Miftahul Huda Universitas Muhammadiyah Bandung e-mail: miftah. elhuda@umbandung. Abstrak Pendidikan Islam tidaklah berorientasi pada pembentukan dan pengembangan aspek pengetahuan manusia saja, namun ia juga pembentukan dan pengembangan aspek ruhani yang berlandaskan nilai-nilai keislaman sehingga dengan proses pendidikan Islam tersebut dapat melahirkan manusia yang memiliki karakter berakhlak mulia. Untuk itulah dalam konteks teologi harus terdapat keseimbangan antara dzikir . dan fikir (Intelektua. dalam proses Pendidikan Islam. Untuk itu tulisan ini ditujukan untuk menganalisis terkait dengan integrasi dzikir dan fikir implikasinya pada pendidikan Islam. Penelitian ini mempergunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik studi kepustakaan . ibrary researc. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa, manusia yang mampu ber-tadzakur dan ber-tafakur maka ia akan sampai kepada tingkatan yang mampu memahami dan menghayati hikmah dibalik fenomena di alam raya ini adalah merupakan bentuk dari kekuasaan Allah. Agar tujuan tersebut dapat dicapai maka antar dzikir dan fikir harus dijaga keseimbangannya. Dalam menjaga keseimbangan antara fikir dan dzikir, maka materi dalam pendidikan Islam harus mengandung unsur pendidikan akal, pendidikan jasmani dan pendidikan Kata Kunci: dzikir, fikir, integrasi, pendidikan. Islam. Abstract Islamic education is not oriented to the formation and development of aspects of human knowledge, but also the formation and development of spiritual aspects based on Islamic values so that the process of Islamic education can give birth to humans who have noble character. For this reason, in the context of theology, there must be a balance between dhikr . and fikr . in the process of Islamic For this reason, this paper is intended to analyze the integration of dhikr and think about its implications for Islamic education. This study uses a qualitative research approach using library research techniques. The results of this study indicate that humans who are able to meditate and contemplate will reach a level that is able to understand and appreciate the wisdom behind phenomena in the universe is a form of God's power. In order for this goal to be achieved, the balance between dhikr and fikr must be maintained. In maintaining a balance between fikr and dhikr, the material in Islamic education must contain elements of mind education, physical education and heart education. Keywords: dhikr, fikr, integration, education. Islam. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2. PENDAHULUAN Akal merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam pengembangan diri Dengan menggunakan potensi akal manusia mampu untuk berfikir. Sehingga dengan proses berfikir itulah manusia ditempatkan pada posisi jauh lebih semurna dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya (Asyiqien & Setiawan. Dalam perspektif makhluk ciptaan Allah, akal merupakan lambang dari keunikan dan keistimewaan antara manusia dengan makhluk yang lainnya. Dengan menggunakan putensi akal dengan sebaik-baiknya manusia dapat menjadi makhluk yang paling mulia, namun dengan akal pula manusia dapat pula terjerumus ke dalam tempat yang paling rendah diantara makhluk Allah yang lain. Berdasarkan hal tersebut, akal harus dapat dimanifestasikan ke dalam konteks moralitas ilahiyyah berdasarkan primordial covenant yang telah dilakukannya dihadapan Tuhannya (S. Ismail et al. , 2. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia, kompleks dan unik yang terdiri atas bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Apabila ditelisik manusia terdiri atas jasad, akal . , nafsu, hatu dan ruh. Manusia berbeda dengan binatang yang hanya memiliki jasad dan nafsu saja. Untuk itulah manusia ditugaskan sebagai khalifah fi al-ardh. Namun, kenyataannya kadangkala manusia tidak memahami diri dan potensi yang Hal ini dikerenakan manusia tidak mengetahui potensi yang dimiliki dan bagaimana cara merawat dan mengembangkan potensi tersebut. Jasad dan hati contohnya mempunyai struktur dan karakteristik yang berbeda sehingga dalam mengembangkan kedua potensi tersebut diperlukan cara yang bereda pula (MaAoarif. Apabila akal mendapatkan rangsangan-rangsangan secara indrawi, maka akal akan mampu mengolah mengolah rangsangan tersebut sebagai sumber ilmu Dengan hasil oleh akal inilah manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk menjawab segala permasalahan dan semua misteri yang ada di alam semesta ini. Sedangkan hati, memiliki fungsi untuk mengendalikan dan mengingatkan akal agar senantiasa melibatkan kekuasaan Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 109 Tuhannya dalam proses berfikirnya, dan terakhir jasmani berfungsi sebagai sarana untuk mengimplementasikan hasil kerja akal dan hati tersebut (Rochim, 2. Teologi Pendidikan merupakan satu kajian yang membahas terkait dengan doktrin-doktrin agama Islam yang dikaitkan dengan Pendidikan, sehingga focus utama pada kajian ini adalah hubungan antara Tuhan dengan Pendidikan. Oleh sebab itu, pengetahuan teologi bersumber dari Al-QurAoan dan Al-Hadits. Doktrin-doktrin teologi yang bersumber dari al-QurAoan dan al-Hadits tersebut kemudian dikaji dengan metode rasional-abstrak yang pada akhirnya divalidasi secara logis. Untuk dapat melakukan hal tersebut maka kajian teologi Pendidikan dapan dibantu oleh disiplin ilmu yang lain, diantaranya : ilmu tafsir, ilmu bahasa dan ilmu-ilmu yang lainnya (SyafeAoi, 2. Secara esensial, tujuan mempelajari ilmu pengetahuan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui memahami hakikat deri ilmu pengetahuan secara Atas dasar tersebut. Imam Al-Gahzali menegasakan bahwa seyogyanya ilmu yang pertama kali harus dipelajari oleh seseorang adalah ilmu agama yaitu ilmu yang mempelajari terkait dengan syariat Islam. Artinya sebelum seseorang mempelajari ilmu-ilmu yang barkaitan dengan sins dan teknologi seorang muslim harus mempelajari terlebih dahulu ilmu agama. Karena, ilmu agama merupakan pondasi dari segala ilmu. Apabila seseorang lemah ilmu agamanya maka dipastikan akan lemah pula akhlaknya. Oleh karena, ilmu agama merupakan pengendali dari akhlak akhlak seseorang (M. Ismail, 2. Pendidikan Islam tidaklah berorientasi pada pembentukan dan pengembangan aspek pengetahuan manusia saja, namun ia juga pembentukan dan pengembangan aspek ruhani yang berlandaskan nilai-nilai keislaman sehingga dengan proses pendidikan Islam tersebut dapat melahirkan manusia yang memiliki karakter berakhlak mulia. Untuk itulah dalam konteks teologi harus terdapat keseimbangan antara dzikir . dan fikir (Intelektua. dalam proses Pendidikan Islam. Tulisan ini ditujukan untuk menganalisis terkait dengan integrasi dzikir dan fikir implikasinya pada Pendidikan Islam. Hal ini didasarkan kepada bahwa kedua konsep tersebut sangat kurang sekali mendapatkan perhatian di kalangan umat Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 110 muslim. Namun, bagi kalangan sarjana pendidikan Islam konsep dzikir dan fikir tersebut memiliki implikasi yang sangat besar dalam proses Pendidikan Islam. METODE Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif, karena kajian yang akan dibahas mengenai fitrah sebagai potensi manusia dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi kepustakaan . ibrary researc. yaitu penulis mengumpulkan berbagai sumber kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang penulis teliti (Arikunto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dzikir Dari segi bahasa, kata dzikir berasal dari bahasa arab dzakara yang memiliki arti, memperhatikan, mengingat, mengenang, mengerti atau menyebutkan sesuatu baik secara lisan maupun di dalam hati (Mandzur, 2. Sedangkan dari segi istilah dzikir adalah mengingat dan melatih secara spiritual dengan tujuan untuk dapat menrasakan kehadiran Allah. Atau dengan kata lain dzikir merupakan suatu metode untuk dapat mencapai konsentrasi secara spiritual (Riyadi, 2. Dzikir adalah suatu kondisi jiwa seseorang yang dimaksudkan untuk menjaga segala sesuatu yang dimiliki berupa pengetahuan. Dzikir memiliki makna yang sama dengan kata hifzh, hanya saja hifzh menjaga segala sesuatu yang bersifat hafalan sedangkan dzikir memiliki makna menghadirkan dan mengingat yang dihadirkan pada hati atau lisan (Mu`inudinillah, 2. Dzikir merupakan perpaduan antara kata hati dan gerak, setiap perbuatanserta sikap manusia, juga berupa ucapan yan dilaksanakan sebagai upaya menjalankan peran manusia sebagai hamba Allah dan juga khalifah di muka bumi. Yang kesemua itu meliputi : Mengingat Allah Menyebut, dalam hal ini menyebut nama-nama Allah (Asmaul Husn. atau berupa kalimah thayibah yang lain. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 111 c. Shalat. Sehalat merupakan satu kesatuan dzikir yang terdiri atas gerak manusia, lisan dan hati. Membaca al-QurAoan dan Hadits sebagai bentuk usaha dalam pijakan dan arahan untuk dapat mencapai tangkatan manusia yang tertinggi (Zamri. Sebagian ulama membagi dzikir menjadi dua, yaitu: dzikir bil-lisan dan dzikir bil-qalbi. Dzikir lisan merupakan media untuk menghantarkan pikiran dan perasaan seseotang untuk memantapkan hati untuk berdzikir. kemudian dengan dzikir hati inilah ketenangan pada diri manusia dapat diraih. Al-Qusyairi mengatakan bahwa apabila seseorang mampu berdzikir dengan lisan dan hatinya, itu merupakan satu tanda bahwa ia telah mencapai kesempurnaan sifat dan tingkah lakunya (Sangkan. Dari hasil analisis penulis, kata dzikir disebutkan sebanyak 267 kali di dalam alQurAoan dengan beberapa variasi kata. Salah satunya sebagaimana yang terdapat di dalam Q. ar-RaAodu ayat 28 sebagai berikut : aa A A a a ca a a A A aa a e a a a AA AIIaO aO aIa acI CEOa aNI aaE a cEEaa aE aaE a cEEa IaI ECEOA AacEaOI A . orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi Berdasarkan ayat tersebut disebutkan bahwa, setiap orang yang beriman akan meraih ketentranan dan ketenangan hati manakala di melaksanakan dzikir kepada Allah. Ketika mereka mengucapkan nama-nama Allah dan membaca ayat-ayat AlQurAoan keimanan mereka semakin bertambah. Al-Maraghi menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa sumber kebenatan dan hikmah adalah al-QurAoan. Sehingga orangorang yang berdzikir dengan membaca al-QurAoan hatnya menjadi tenang dan tentram(A-Maraghi, 1. Sejalan dengan pendapat al-Maraghi di atas. Hamka menambahkan bahwa ketenangan dan ketentraman hati merupakan unsur pokok dalam meraih kesahatan jasmani dan rohani. Sedangkan perasaan gelisah dan ragu merupakan pangkal dari segala macam penyakit. Apabila hati yang sakit tidak segera diobati maka akan Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 112 mengakibatkan kekufuran akan nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepadanya (Hamka, 1. Melalui dzikir kepada Allah manusia mendapatkan pembinaan terkait dengan keimanan, yang berimplikasi kepada memperteguh keyakinan, meningkatkan rasa cinta kepada Allah sehingga mampu menangkal segala macam godaan iblis dan syaitan berupa segala tupu daya hawa nafsu dan kemungkaran. Dzikir pun dapat dijadikan senjata dalam menghadapi segala macam cobaan dalam berjihad di jalan Allah. Esensi dzikir bagi seorang muslim adalah sebagai sarana dalam berkomunikasi sehingga dapat mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Diantara keutamaan atau manfaat dari melakukan dzikir yang lainnya adalah bahwa dzikir memiliki unsur psikoterapeutik, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Larson bahwa terdapat hubungan antara aktifitas ibadah . engingat tuha. dengan kardiovaskuler (S. Ismail et al. , 2. Berdasarkan pemaparan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, dzikir adalah mengingat Allah berupa mensyukuri setiap nikmat yang telah dianugrahkan Allah tidak hanya berupa ucapan, melainkan juga harus dibuktikan dengan perbuatan dalam kondisi apapun baik ketika ditimpa musibah/ peremasalahan di dalam hidup mapun dalam keadaan berjuang meneakan kebenaran. Konsep Fikir Ketika manusia dilahirkan ke dunia, dia tidak membawa pengetahuan sedikitpun. Namun Allah telah membekalinya dengan potensi untuk dapat meraih ilmu dan maAorifah yaitu melalui potensi akal . l-Aoaq. , pendengaran . l-samAo. dan penglihatan . l-absha. Ketiga potensi tersebut ditujukan agar manusia mampu untuk mengetahui kebenaran . l-ha. sehingga dengan kebenaran tersebut dapat dijadikan landasan berfikir baginya dalam memberikan setiap argument. Kebenaran ini pun dimaksudkan untuk dapat dijadikan panduan bagi manusia untuk dapat mengendalikan dirinya aar tidak terjerumus kepada perbuatan yang sesat . Untuk dapat menhasilkan broduk berfikir yang benar, maka cara berfikirnya pun harus benar pula . Apabila cara berfikir yang dilakukan oleh manusia itu salah, maka produk berfikirnya pun akan menjadi salah pula (M. Ismail, 2. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 113 Berfikir merupakan satu keniscayaan bagi manusia. Berpikir merupakan suatu proses yang melibatkan fungsi otak. Namun, kendati pun demikian fungsi otak merupakan satu bagian dalam proses kegiatan berfikir ada peran atau fungsi lain yang mempengaruhi proses berfikir diantaranya perasaan dan kehendak manusia. Apabila manusia sedang dalam proses memikirkan sesuatu, maka secara otomatis dirinya sedang memfokuskan pada objek tersebut, menyadari dan menghadirkannya di dalam fikiran yang pada akhirnya menghasilkan pengetahuan terkait ibjek itu. Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa berfikir merupakan suatu usaha untuk dapat mencapai ilmu pengetahuan dengan bimbingan akal. Kelebihan inilah yang hanya dimiliki oleh manusia jika dibandinkan dengan hewan. Salah satu ayat yang menyinggung terkait dengan konsep fikir adalah sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al-AnAoam ayat 50 sebagai berikut : a aa eaa a a a a a eaa Aa ae a A a aa eAa A a aAOE EA a aAOE EA e a aAE I ua a acI aIEaE nU ua I a a uaaE aI OA AOaA AE I aIaO aI cEEa OaE EI EO OaE CA ACE aE CA a A a a a a a a a a A a a a a a u AOoac AaE aAE aOIA a a Aua E oac CE NE O aOO EaI OEA Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak . aku mengetahui yang ghaib dan tidak . aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan. ?" Sayyid Quthub menjelaskan terkait dengan ayat tersebut di atas bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berfikir dengan tujuan agar mendapatkan pengetahuan dan terhindar dari kesesatan. Dimana pada ayat tersebut Allah memerintahkan kepada kaum Quraisy untuk berfikir kembali terkait dengan kenabian, dikarenakan pemikiran mereka yang telah sesat. Bahkan Allah menganalogikan hal tersebut berupa sindiran bahwa tidaklah sama antara orang berfikir dengan yang tidak, sebagaimana tidak sama antara orang yang melihat dengan yang buta. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tafakur merupakan proses untuk meraih pemahaman terkait dengan satu kebenaran berupa kebaikan . l-khai. maupun Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 114 keburukan . l-Sya. sehingga dari proses tafakur tersebut dapat diambil manfaat dari yang baik dan menghindari yang buruk. Berdasarkan hal tersebut maka objek kajian dari tafakur ini adalah ilmu. Sebab, berfikir merupakan proses usaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka secara langsung ia memiliki relasi yang kuat dengan konsep ilmu . l-Aoil. Untuk itulah oeang yang selalu berfikir berkaitan dangan satu ilmu disebut sebagai Aoarif atau Aoalim. Kata Aoarif dan Aoalim ini memiliki lawan kata yaitu jahil atau orang yang tidak tahu. Artinya orang yang tidak mengetahui ilmu sehingga tidak dapat dijadikan sandaran untuk mendapatkan kebenaran karena ketidaktahuannya terhadap ilmu (M. Ismail, 2. Al-Ghazali memberikan gambaran terkait dengan berfikir yaitu sebagai Aupenyulut cahaya pengetahuanAy. Ia juga menyatakan bahwa cahaya pengetahuan yang hadir dari pikiran dapat mengubah kecenderungan hati yang awalnya tidak menyukai sesuatu. Selain itu, anggota tubuh pun bekerja sesuai dengan situasi hati. Lebih jauh lagi al-Ghazali aktifitas tersebut di atas merupakan hasil dari 5 tingkatan proses, yaitu : Mengingat, ialah menghadirkan dua pengetahuan ke dalam hati. Berfikir, ialah mencari pengetahuan yang dimaksud dari dua pengetahuan dari hasil proses mengingat. Memperoleh pengetahuan, yaitu proses didapatnya pengetahuan yang kemudian menyinari hatinya. Berubahnya kondisi hati, dan Kesiapan anggota tubuh untuk melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh hati berdasarkan pengalaman yang bari didapatkan oleh hati (Hamka, 1. Berdasarkan deskripsi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa tafakur merupakan suatu usaha untuk dapat mencapai ilmu pengetahuan dengan bimbingan Ketika hasil dari proses berfikir itu di dapat maka akan mempengaruhi hati sehingga menghasilkan perilaku yang sesuai dengan hasil pemikiran tersebut. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 115 Integrasi Dzikir dan Fikir Implikasinya pada Pendidikan Islam Manusia diciptakan oleh Allah dengan dibekali potensi yang siap untuk Potensi tersebut terdiri atas potensi jasmani dan rohani. Potensi yang dimiliki tersebut akan berubah menjadi pasif dan tidak memiliki daya guna apabila tidak dikembangkan dan diberdayakan. Pengembangan dan pemberdayaan potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut adalah dengan melalui jalur pendidikan. Apabila akal tidak dikembangkan dengan baik maka dia akan menjadi pasif dan tidak berdaya guna, namun apabila akal dikembangkan dan diberdayakan sampai dengan kapasitas maksimumnya maka akan menghasilkan penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan yang tidak mungkin akan merubah dan mengguncang dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa di masa kita saat ini perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang berkembang dengan pesat, hal itu merupakan hasil dari aktualisasi dari pemikiran manusia. Oleh karena pentingnya peran pendidikan dalam pengembangan potensi manusia, maka ia mendapatkan perhatian penting di dalam Islam. Ilmu pun ditempatkan pada kedudukan yang penting, begitu juga posisi guru dan murid ditempatkan pada posisi terhormat di dalam pandangan Islam. Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang harus terpenuhi. Oleh sebab itu maka pendidikan haruslah dapat menyesuaikan potensi yang dimiliki oleh manusia yang berkaitan erat dengan potensi jasmani dan rohaninya berupa konsep dzikir dan Pendidikan Islam sejatinya harus dapat menciptakan keseimbangan antar konsep dzikir dan pikir dengan tujuan agar dapat melahirkan manusia yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luas serta menjadi manusia yang bertakqwa kepada Allah Swt. Terdapat banyak sekali ayat yang menyinggung terkait dengan proses ber-tafakur dan ber-tadzakur. Tafakur dan tadzakur memiliki kesamaan yaitu suatu proses yang berpusat pada akal. Walaupun memiliki namun, tafakur dan tadzakur ternyata Tafakur merupakan proses berfikir untuk dapat menghasilkan pengetahuan yang baru, sedangkan tadzakur merupakan proses berfikir untuk mengungkapkan Kembali pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, dikarenaka lupa atau Pada hakekatnya manusia sudah mengetahui dan menyadari keberadaan Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 116 Allah Swt, akan tetapi karena kelalaiannya seringkali membuat dirinya lupa kepadaNya. Maka, melalui tadzakur inilah manusia berusaha untuk mengingat akan kehadiran Allah Swt. Realitas saat ini, pengaruh pemikiran barat telah merubah pemikiran manusia yang awalnya dari makhluk teosentris manjadi makhluk materialis. Hal ini disebabkan karena paradigma dan epistemologi yang mereka pergunakan sangat jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Sehingga pendidikan di barat mengembangkan materialisme dan meyakini bahwa orientasi manusia hanya satu yaitu materi. Dampaknya dapat dibayangkan, manusia menjadikan materi sebagai titik sentral dan meruntuhkan esensi spiritual mereka. Pendidikan yang berorientasi pada materi, bertentangan dengan prinsip dalam pendidikan Islam yang memandang bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani . dan rohana . on-mater. sehingga keduanya harus mendapatkan porsi dalam pengembangannya (Anis, 2. Selanjutnya. Abudin Nata menjelaskan terkait kedudukan dan posisi akal dalam pendidikan Islam. Menurutnya, seseorang yang berakal (Ulul Alba. adalah orang yang memiliki 2 hal yaitu tadzakur . engingat Alla. dan tafakur . emikirkan ciptaan Alla. Ketika manusia mampu ber-tadzakur dan ber-tafakur maka ia akan sampai kepada tingkatan yang mampu memahami dan menghayati hikmah dibalik fenomena di alam raya ini adalah merupakan bentuk dari kekuasaan Allah. Terkait dengan objeknya, tafakur objeknya adalah seluruh makhlu-makhluk Allah, sedangkan tadabur objeknya adalah Allah Swt. Semakin banyak hasil yang didapatkan dari proses pilir dan dzikir maka semakin luas pula pengetahuan dan dihasilkan dan semakin besar juga rasa takut kepada Allah Swt. Fikir dan dzikir tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan memikirkan alam semesta ini maka akan didapatkan pengetahuan yang luas, selain itu diperoleh ingatan bahwa alam raya ini tidak tercipta dengan sendirinya. Ada dzat yang maha kuasa yang menciptakannya, yaitu Allah Swt. Dzikir memberikan pengaruh kepada manusia agar berupaya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu didasarkan kepada kesadaran bahwa manusai itu berasal dari Allah dan suatu saat nanti akan kembali kepada-Nya. Atas dasar kesadaran tersebut maka manusia akan membentengi dirinya agar tidak Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 117 tergelincir kepada perilaku jahat. Sedangkan fikir yang merupakan pasangan dari dzikir merupakan hal yang tidak kalah pentingnya, karena ketika manusa telah menggunakan potensi akalnya untuk berfikir dan meraih pengetahuan. Maka pengetahuan tersebut dapat dijadikan panduan bagi mereka untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini, dengan menjaga kelesatarian alam raya memanfaatkan seluruh ciptaan Allah Swt yang diperuntukan untuk manusia. Lebih jauh lagi Ahmad Tafsir memaparkan sebagaimana dikutip Arief Rifkiawan Hamzah, bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk menjadi hamba dan khalifah di bumi. Untuk itu Allah membekali manusia dengan unsur-unsur penting, yaitu : akal, jasmani dan rohani. Ketiga unsur tersebut diasah dan dikembangkan oleh manusia sesuai dengan minat dan bakatnya, tentunya untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi (Hamzah, 2. Maka materi dalam pendidikan Islam harus mengandung ke-tiga aspek Pertama, pengembangan potensi jasmani berupa materi terkait memelihara dan menjaga kesehatan anggota badan. Peserta didik harus diberikan pengetahuan terkait dengan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan. Kedua, pendidikan Peserta didik sejatinya harus diberikan materi berupa ilmu pengetahuan yang dapat melatih dan mengembangkan potensi akal mereka. Ketiga, pendidikan hati . Potensi hati yang dimiliki oleh peserta didik menjadi perhatian yang sangat penting pada pendidikan Islam. Hal ini berkitan dengan salah satu tujuan pendidikan Islam yaitu menghidupkan, membangun dan menyuburkan hati. SIMPULAN Konsep dzikir dan fikir menuntun manusia untuk dapat mengembangkan potensi yang telah dikaruniakan Allah Swt kepada manusia yaitu berupa potensi akal, jasmani dan rohani. Ketika manusia mampu ber-tadzakur dan ber-tafakur maka ia akan sampai kepada tingkatan yang mampu memahami dan menghayati hikmah dibalik fenomena di alam raya ini adalah merupakan bentuk dari kekuasaan Allah. Agar tujuan tersebut dapat dicapai maka antar dzikir dan fikir harus dijaga Dalam menjaga keseimbangan antara fikir dan dzikir, maka Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 2 . , 2023 | 118 materi dalam pendidikan Islam harus mengandung unsur pendidikan akal, pendidikan jasmani dan pendidikan hati. DAFTAR PUSTAKA