Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Rifqi Atsani. Angga Putra Pratama. Informatika. Fakultas Dakwah dan Saintek. UIN Prof. Saifuddin Zuhri. Indonesia Informatika. Fakultas Dakwah dan Saintek. UIN Prof. Saifuddin Zuhri. Indonesia Article Info Kata Kunci: User Experience. LMS Edlink. Reflexive Thematic Analysis. Honeycomb. Pembelajaran Digital Keywords: User Experience. Edlink LMS. Reflexive Thematic Analysis. Honeycomb. Digital Learning Article history: Received: 12 November 2025 Revised 14 November 2025 Accepted 15 November 2025 Available online 20 November 2025 DOI : 48144/suryainformatika. * Corresponding author. M Rifqi Atsani E-mail address: rifqiatsani@uinsaizu. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman emosional dan kognitif mahasiswa dalam menggunakan Learning Management System (LMS) Edlink . sebagai media pembelajaran digital di perguruan tinggi. Transformasi digital dalam pendidikan tinggi telah mengubah cara belajar mahasiswa, namun pemahaman tentang bagaimana mereka secara emosional dan kognitif mengalami sistem pembelajaran masih terbatas. Menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dan metode Reflexive Thematic Analysis (RTA), penelitian ini melibatkan 44 mahasiswa aktif yang dipilih secara purposive sampling. Analisis dilakukan dengan memetakan hasil wawancara mendalam ke dalam tujuh faset User Experience (UX) Honeycomb: useful, usable, desirable, findable, accessible, credible, dan valuable. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman pengguna terhadap Edlink bersifat ambivalen: memberikan kemudahan dan kemandirian belajar, tetapi juga menimbulkan frustrasi akibat hambatan teknis, kesulitan navigasi, serta ketidakpastian status unggahan dan nilai. Aspek useful dan valuable menonjol dalam mendukung regulasi belajar dan motivasi akademik, sedangkan faset usable, findable, dan credible menunjukkan beban kognitif dan tekanan emosional yang tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa pengalaman pengguna LMS tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga emosional dan sosial. Secara konseptual, studi ini memperluas penerapan model UX Honeycomb ke konteks pendidikan, secara praktis memberikan rekomendasi desain berbasis empati dan mengintegrasikan pendekatan RTA dengan kerangka UX untuk memahami pengalaman belajar yang lebih manusiawi. ABSTRACT This study explores the emotional and cognitive experiences of university students in using the Learning Management System (LMS) Edlink . as a digital learning platform in higher education. The digital transformation in academia has reshaped learning practices, yet little is known about how students emotionally and cognitively experience learning Employing a qualitative exploratory approach and the Reflexive Thematic Analysis (RTA) method, this study involved 44 active students selected through purposive Data were analyzed by mapping interview transcripts across the seven facets of the User Experience (UX) HoneycombAiuseful, usable, desirable, findable, accessible, credible, and valuable. The findings reveal an ambivalent user experience: Edlink provides organization and autonomy in learning, yet also evokes frustration caused by technical errors, navigation difficulties, and uncertainty regarding task submissions and grading. The useful and valuable facets Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. enhance self-regulated learning and motivation, while usable, findable, and credible dimensions indicate cognitive strain and emotional stress. The study highlights that user experience in educational systems is not merely technological but deeply emotional and social. Conceptually, this research extends the UX Honeycomb framework to higher education. practically, it offers evidence-based design recommendations centered on empathy and digital trust. and methodologically, it integrates RTA with UX analysis to illuminate a more human-centered understanding of digital learning experiences. PENDAHULUAN Transformasi digital dalam bidang pendidikan tinggi telah menjadi fenomena global yang tidak terelakkan, terutama setelah pandemi COVID-19 mempercepat adopsi teknologi pembelajaran daring di seluruh dunia. Pergeseran dari ruang kelas konvensional menuju sistem digital menempatkan Learning Management System (LMS) sebagai tulang punggung dalam proses penyampaian materi, interaksi dosen-mahasiswa, dan evaluasi pembelajaran. LMS tidak hanya berfungsi sebagai repositori materi kuliah, tetapi juga menjadi ekosistem pembelajaran yang mendukung kolaborasi, komunikasi, serta pembentukan pengalaman belajar digital yang bermakna. Seiring dengan meningkatnya penggunaan LMS, perhatian ilmiah pun beralih pada bagaimana mahasiswa mengalami sistem ini secara utuh tidak hanya dari segi fungsionalitas, tetapi juga dari sisi emosional dan kognitif yang membentuk persepsi keseluruhan terhadap kualitas pembelajaran digital. Dalam konteks global, berbagai penelitian di bidang Human-Computer Interaction (HCI) dan User Experience (UX) menegaskan bahwa keberhasilan implementasi LMS tidak dapat diukur semata-mata dari kinerja teknisnya. Aspek seperti usability, engagement, dan affective design memainkan peran krusial dalam menentukan seberapa jauh sistem tersebut mendukung efektivitas belajar dan kenyamanan pengguna. Studistudi terbaru mengindikasikan bahwa pengalaman pengguna yang positif dapat meningkatkan motivasi intrinsik, retensi belajar, dan kepuasan akademik, sedangkan pengalaman negatif dapat menimbulkan frustrasi, kelelahan digital . igital fatigu. , hingga resistensi terhadap penggunaan teknologi pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian yang memusatkan perhatian pada user experience di lingkungan pendidikan tinggi menjadi semakin relevan, tidak hanya untuk pengembangan sistem, tetapi juga untuk memastikan inklusivitas dan kesejahteraan kognitif mahasiswa di era pembelajaran digital. Di Indonesia, transformasi digital di perguruan tinggi juga berjalan dengan cepat, terutama setelah pemerintah mendorong inisiatif pembelajaran daring dan blended learning melalui berbagai kebijakan nasional. Banyak kampus mengembangkan LMS internal untuk mengakomodasi kebutuhan belajar yang sesuai dengan karakteristik institusi masing-masing. Salah satunya adalah Edlink . yang digunakan di UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Edlink dirancang untuk mendukung aktivitas akademik secara terpadu, mulai dari distribusi materi kuliah, penugasan, forum diskusi, hingga manajemen nilai dengan antarmuka yang bersifat mobile-friendly untuk menyesuaikan kebutuhan generasi mahasiswa digital saat ini. Namun demikian, keberhasilan implementasi Edlink tidak hanya diukur dari tingkat adopsi pengguna, tetapi juga dari seberapa jauh mahasiswa dapat merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan, efisien, dan bernilai secara emosional maupun kognitif. Dalam praktiknya, mahasiswa seringkali mengalami dinamika kompleks saat menggunakan LMS, seperti kesulitan memahami struktur menu, frustrasi akibat keterlambatan respons sistem, atau kebingungan dalam menemukan materi kuliah tertentu. Di sisi lain, beberapa mahasiswa melaporkan bahwa Edlink membantu mereka lebih disiplin dan teratur dalam mengelola tugas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman pengguna terhadap LMS bersifat multidimensional, melibatkan interaksi antara aspek emosional . eperti rasa senang, cemas, puas, frustras. dan aspek kognitif . eperti beban mental, pemahaman informasi, dan strategi navigas. Sayangnya, dinamika emosional dan kognitif ini belum banyak dieksplorasi secara mendalam melalui pendekatan kualitatif, padahal hal tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih kaya terhadap bagaimana mahasiswa benarbenar mengalami sistem yang mereka gunakan setiap Inilah yang melatarbelakangi pentingnya penelitian ini dilakukan secara kontekstual pada LMS Edlink. Kajian literatur internasional menunjukkan bahwa sejumlah penelitian telah menyoroti pentingnya user mahasiswa di lingkungan pembelajaran digital. Persepsi mahasiswa terhadap LMS sangat dipengaruhi oleh faktor usability dan usefulness, yang pada gilirannya berkontribusi pada tingkat kepuasan dan partisipasi belajar . Navigasi yang intuitif dan umpan balik visual penting untuk mengurangi beban kognitif pengguna dalam LMS berbasis Canvas . Sementara itu, emotional engagement . asa senang, percaya diri, dan terhubun. memiliki korelasi langsung terhadap motivasi belajar dan persistensi mahasiswa dalam pembelajaran daring . Desain Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. LMS harus memperhatikan keseimbangan antara konteks pendidikan tinggi di Indonesia, sebuah domain fungsionalitas dan keindahan visual untuk menciptakan yang masih jarang dikaji dengan pendekatan kualitatif pengalaman belajar yang bermakna . Persepsi mendalam. Kedua, secara praktis, hasil penelitian ini terhadap nilai edukatif LMS tidak hanya dipengaruhi diharapkan dapat memberikan rekomendasi desain oleh ketersediaan fitur, tetapi juga oleh pengalaman berbasis . vidence-based emosional yang dihasilkan selama penggunaannya . bagi pengembang Edlink dan Ketika mahasiswa merasa nyaman, percaya diri, dan pengelola perguruan tinggi dalam mengoptimalkan menikmati proses belajar di LMS, mereka menunjukkan pengalaman pengguna LMS. Dengan memahami peningkatan motivasi belajar dan persepsi positif dinamika emosional dan kognitif mahasiswa, terhadap sistem. Sebaliknya, gangguan teknis dan perguruan tinggi dapat merancang sistem pembelajaran tampilan yang tidak menarik dapat menurunkan digital yang tidak hanya fungsional, tetapi juga kepuasan secara signifikan. Desain antarmuka harus manusiawi, serta sistem yang menumbuhkan rasa memfasilitasi perasaan positif agar mendorong nyaman, percaya diri, dan makna belajar yang lebih keterlibatan kognitif yang lebih dalam . Temuan- dalam bagi penggunanya. temuan ini menegaskan bahwa pengalaman pengguna dalam konteks pendidikan tidak dapat direduksi hanya 2. METODE PENELITIAN menjadi fungsi teknis, melainkan juga mencakup proses psikologis dan sosial yang membentuk interaksi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif, dengan tujuan menggali secara mendalam manusia dan komputer. Berdasarkan telaah pustaka di atas, dapat disimpulkan pengalaman emosional dan kognitif mahasiswa dalam bahwa penelitian mengenai UX dalam LMS telah menggunakan Learning Management System (LMS) berkembang pesat, namun masih terdapat kekosongan Edlink . Pendekatan kualitatif dianggap penting pada aspek pengalaman emosional dan kognitif tepat karena memungkinkan peneliti memahami mahasiswa di konteks lokal Indonesia. Penelitian makna subjektif dan persepsi personal yang tidak dapat sebelumnya cenderung menitikberatkan pada usability diukur melalui pendekatan kuantitatif. Menurut metrics atau efektivitas fitur, tanpa menelaah secara Creswell & Poth, penelitian kualitatif digunakan ketika mendalam bagaimana pengguna merasakan dan peneliti ingin memahami secara mendalam memaknai interaksi mereka dengan sistem. Padahal, pengalaman manusia melalui narasi dan interpretasi menurut teori User Experience Honeycomb yang makna . Sementara itu, pendekatan eksploratif dikemukakan oleh Morville, pengalaman pengguna digunakan karena penelitian ini belum memiliki teori merupakan hasil interaksi yang kompleks dari tujuh atau model yang menjelaskan fenomena secara utuh, dimensi: useful, usable, desirable, findable, accessible, melainkan berusaha menemukan tema-tema yang credible, dan valuable . Analisis yang hanya berfokus muncul secara alami dari data lapangan. Desain ini pada kegunaan atau kemudahan navigasi belum sesuai dengan paradigma constructivist interpretivism, mencerminkan keseluruhan pengalaman yang dirasakan yang menekankan bahwa realitas sosial dibentuk oleh pengguna secara emosional dan kognitif. Penelitian ini pengalaman dan interpretasi individu terhadap hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan interaksinya dengan dunia digital dalam hal ini, pendekatan yang memadukan pemahaman konseptual interaksi mahasiswa dengan sistem Edlink. UX, dimensi emosional dan kognitif pengguna, dan Partisipan dalam penelitian ini adalah 44 mahasiswa pendekatan Reflexive Thematic Analysis (RTA) terhadap aktif yang dipilih menggunakan purposive sampling. pengalaman mahasiswa ketika berinteraksi dengan LMS Menurut Etikan. Musa, & Alkassim, purposive sampling digunakan ketika peneliti memilih partisipan Edlink. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan dengan pengalaman emosional dan kognitif mahasiswa dalam tujuan penelitian . Kriteria dalam penelitian ini menggunakan LMS Edlink, serta menganalisisnya meliputi: . mahasiswa aktif minimal semester dua, . melalui lensa model User Experience Honeycomb. telah menggunakan Edlink sekurang-kurangnya satu Tujuan spesifiknya meliputi: . mengidentifikasi semester, dan . pernah menggunakan fitur utama bentuk-bentuk pengalaman emosional yang muncul seperti tugas, kuis, atau forum diskusi. Data selama interaksi dengan Edlink, . memahami proses dikumpulkan melalui wawancara tertulis, di mana kognitif yang terjadi dalam navigasi dan pemanfaatan peneliti menggunakan panduan pertanyaan utama fitur LMS, dan . memetakan temuan tersebut ke dalam namun tetap memberi ruang bagi partisipan untuk tujuh faset UX Honeycomb untuk menghasilkan mengekspresikan pengalaman mereka secara bebas. pemahaman tematik yang utuh. Penelitian ini Pendekatan ini sesuai dengan panduan wawancara menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan kualitatif yang dijelaskan oleh Kallio et al. metode wawancara tertulis terhadap 44 mahasiswa aktif Wawancara dilakukan secara daring melalui platform google form, dan biodata partisipan dirahasiakan untuk yang dipilih secara purposive sampling. Kontribusi ilmiah dari penelitian ini terletak pada dua menjaga integritas data. ranah utama. Pertama, secara teoritis, penelitian ini Analisis data dilakukan menggunakan metode Thematic Analysis (RTA) memperluas penerapan model UX Honeycomb ke Reflexive Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. dikembangkan oleh Virginia Braun dan Victoria Clarke. Pemetaan kolom survei/wawancara ke faset RTA digunakan karena kemampuannya untuk Honeycomb sesuai teks pertanyaan menghasilkan pemahaman tematik yang kaya melalui interpretasi reflektif peneliti. RTA melibatkan enam . Pemindaian kata kunci emosional positif dan negatif tahap sistematis: . familiarisasi dengan data, . untuk melihat kecenderungan awal pengalaman pemberian kode awal . nitial codin. , . pencarian tema pengguna, dan . earching for theme. , . peninjauan tema, . penamaan dan definisi tema, serta . pelaporan hasil . Analisis kutipan representatif untuk menelusuri analisis . Pendekatan refleksif dalam RTA makna subjektif partisipan terhadap setiap faset UX mengharuskan peneliti untuk terus menyadari posisi, asumsi, dan bias pribadi selama proses analisis . Gambaran Data dan Prosedur Analitis Singkat Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan RTA untuk Berdasarkan hasil wawancara tertulis yang dilakukan mengidentifikasi dan menafsirkan tema-tema yang terhadap 44 mahasiswa dengan 41 pertanyaan yang berkaitan dengan emosi dan kognisi mahasiswa, seperti relevan dengan tujuh faset UX Honeycomb (Useful, rasa frustrasi saat kesulitan navigasi, perasaan lega Usable. Desirable. Findable. Accessible. Credible, ketika berhasil mengumpulkan tugas, serta strategi Valuabl. RTA dilakukan secara manual dengan berpikir yang digunakan dalam memahami materi dukungan alat bantu spreadsheet coding tematik untuk melalui Edlink. menjaga kedekatan peneliti dengan data, karena pendekatan RTA oleh Braun & Clarke menekankan Dalam analisis data, hasil dari RTA kemudian dipetakan reflexivity, active interpretation, dan researcher ke dalam tujuh faset model User Experience Honeycomb subjectivity sebagai pusat analisis. langkah pertama yang dikembangkan oleh Peter Morville . Model ini yang dilakukan adalah memetakan setiap pertanyaan dipilih karena menyediakan kerangka konseptual yang relevan ke salah satu dari tujuh faset. Setelah itu komprehensif untuk menilai pengalaman pengguna lakukan pemindaian kata kunci secara multidimensi. Secara operasional, penelitian ini . ositif/negati. sebagai upaya eksploratif untuk mengaitkan setiap tema yang ditemukan dengan faset- mengidentifikasi distribusi awal nuansa emosional faset UX Honeycomb: useful . elevansi dan fungsi fitur yang muncul di setiap faset. Hasilnya dapat dilihat Edlink terhadap kebutuhan belaja. , usable . emudahan pada tabel 1 dan gambar 1. Tabel ringkasan navigasi dan interaks. , desirable . aya tarik visual dan menunjukkan jumlah pemindaian respons yang terkait perasaan positif penggun. , findable . emudahan tiap faset (ResponsesScanned = 132 per faset, ini menemukan konten dan fitu. , accessible . emudahan karena banyak kolom dipindai berulang untuk akses lintas perangkat dan kondisi jaringa. , credible menjangkau berbagai pertanyaan releva. , serta . eandalan informasi dan konsistensi siste. , serta jumlah positive keyword matches dan negative valuable . ilai dan manfaat yang dirasakan mahasiswa keyword matches yang ditemui. Angka-angka tersebut terhadap proses belajar merek. Pendekatan ini sejalan digunakan sebagai indikator awal yang memperkuat dengan panduan analisis UX yang menegaskan pembacaan tematik, bukan sebagai pengganti analisis. pentingnya menghubungkan hasil analisis kualitatif Tabel 1. Tabel hasil pemindaian kata kunci per faset dengan dimensi pengalaman pengguna yang terukur . Dengan demikian, kerangka UX Honeycomb tidak Faset Kolom Respo Pencocok Pencocok hanya berfungsi sebagai alat klasifikasi tema, tetapi juga an Kata an Kata Dipetak Kunci Kunci sebagai instrumen konseptual untuk menghasilkan Dipind Positif Negatif rekomendasi desain berbasis pengalaman pengguna yang autentik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menganalisis pengalaman emosional dan kognitif mahasiswa dalam menggunakan Learning Management System (LMS) Edlink . dengan pendekatan Reflexive Thematic Analysis (RTA). Analisis tematik dilakukan berdasarkan tujuh faset model User Experience (UX) Honeycomb: Useful. Usable. Desirable. Findable. Accessible. Credible, dan Valuable. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam terhadap 44 mahasiswa aktif yang menggunakan Edlink secara rutin untuk kegiatan Untuk memperkuat interpretasi tematik, mengombinasikan tiga tahapan analisis: Useful Usable Desirabl Findabl Accessib Credible Valuabl Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. Usable Gambar 1. Grafik ringkasan kecocokan kata kunci positif vs negatif per faset Hasil ringkasan . emindaian kata kunc. memberikan gambaran awal yang berguna: misalnya, faset Useful menunjukkan 39 kecocokan kata kunci positif dan 7 kecocokan negatif menunjukkan bahwa mahasiswa menilai Edlink bermanfaat untuk tugas dan notifikasi, berbeda dengan faset Credible yang menunjukkan 0 kecocokan positif tetapi 60 kecocokan negatif . ndikasi masalah kepercayaan atau info tidak konsiste. Faset Usable dan Desirable juga memperlihatkan kombinasi Usable memiliki jumlah negatif yang relatif tinggi . , menandakan banyak keluhan tentang kesulitan teknis atau beban kognitif, sementara Desirable menunjukkan banyak tanda emosi negatif . meskipun ada sejumlah kecocokan positif . terkait aspek visual. Batang biru . dominan di Useful, menunjukkan pengalaman emosional positif terhadap fungsi Edlink. Batang merah . dominan di Credible. Desirable, dan Usable, menandakan perasaan frustrasi, kesal, atau bingung dalam interaksi teknis. Findable juga menunjukkan nihil sinyal positif, indikasi kesulitan menemukan informasi . ateri, nilai, atau fitu. Data kutipan representatif menyajikan kutipan nyata dari responden yang memperjelas konteks numerik ini, contohnya: Auterlalu ribet untuk mengupload tugas saat dikumpulkanAy (Usabl. dan Aunotifikasi kalo dosen meng upload materi sangat membantuAy (Usefu. Desirable Desirable Findable Accessible Credible Tabel 2. Contoh kutipan representatif Faset Useful Useful Kolom Pertanyaan bagaimana peran membantu proses fitur apa yang paling membantu memahami materi kuliah di edlink? Kutipan sangat membantu tapi terkadang juga masi bingung fitur2 nya banyak tapi harus cari notifikasi kalo dosen meng upload materi sangat membantu ya kalo ada notifikasi ngumpulin tugas di email itu membantu jadi kita ga perlu cek cek lagi Valuable ceritakan momen kesulitan teknis di edlink . isalnya perasaan anda saat bagaimana kesan . arna, ikon, layou. ? apakah ada bagian antarmuka yang kesal atau cemas? bisa diceritakan strategi anda jika dicari di edlink? . aptop, hp, atau bagaimana reaksi emosional anda ketika mengalami menurut anda apa nilai utama yang diberikan edlink belajar anda? terlalu ribet untuk saat dikumpulkan kesan saya menarik membosankan enak di menambahkan hasil tugas pada destop,dan juga pada saat tidak ada internet lalu biasanya akun yang sudah tersimpan bisa ke logout sendiri,jadi ga ada strategi tinggal pencet tombol aja yang bisa di buka presensi perkuliahan kalau nemu info di edlink yang nggak sesuai, saya biasanya bingung dan agak panik juga. ngumpulin tugas tapi ternyata infonya salah dalam melihat materi, jadwal kuliah Ketiga hasil analisis di atas . abel ringkasan, grafik visual, dan kutipan representati. membentuk kesatuan naratif yang memperlihatkan bahwa pengalaman pengguna terhadap Edlink bersifat ambivalen, produktif sekaligus rentan. Analisis kuantitatif sederhana memperlihatkan pola dominasi emosi Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. negatif pada faset Credible. Usable, dan Desirable. memprioritaskan fitur yang secara langsung Sementara analisis kualitatif (Tabel . memperkaya mendukung kebutuhan belajar . ateri dan notifikas. pemahaman tentang sumber emosionalnya, error teknis, dan membuatnya prominent sehingga kegunaan tidak hilang oleh kompleksitas antarmuka. logout mendadak, dan ketidakpastian informasi. Tabel 3. Tema utama faset useful Secara keseluruhan, hasil ini mendukung teori Morville Tema Deskripsi Kutipan bahwa user experience tidak pernah hanya soal Representatif fungsionalitas . Emosi dan kognisi pengguna berperan besar dalam menentukan nilai persepsi Notifikasi dan Mahasiswa merasa AuNotifikasi terhadap sistem digital. Dalam konteks LMS, hasil Pengingat terbantu dengan kalau dosen penelitian ini menegaskan pentingnya desain yang tidak Menguatkan adanya notifikasi meng-upload Regulasi otomatis saat materi sangat hanya efisien secara teknis, tetapi juga menenangkan Belajar membantu, jadi secara psikologis dan bermakna secara akademik. Analisis kualitatif ini menggunakan pendekatan Reflexive Thematic Analysis (RTA) yang berorientasi pada interpretasi mendalam terhadap pengalaman subjektif mahasiswa selama menggunakan Learning Management System (LMS) Edlink . RTA ini berfokus pada tujuh faset utama User Experience Honeycomb : Useful. Usable. Desirable. Findable. Accessible. Credible, dan Valuable . Setiap faset diperlakukan sebagai lensa analitik yang merepresentasikan satu dimensi pengalaman pengguna, dan hasil coding induktif menghasilkan 17 tema utama serta 42 subkode tematik. Analisis dilakukan terhadap 44 transkrip wawancara, menghasilkan total 317 unit Kutipan representatif disertakan untuk menggambarkan emosi dan refleksi kognitif mahasiswa, dengan anonimitas terjaga. Analisis Tematik: Useful Temuan awal menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya menganggap Edlink berguna untuk fungsifungsi inti pembelajaran, terutama distribusi materi, pengumuman, dan pengingat tugas. Pemindaian kata kunci menunjukkan 39 pencocokan kata kunci positif dan hanya 7 negatif untuk faset Useful. Kutipan representatif memperjelas beberapa mahasiswa menyatakan bahwa notifikasi unggahan materi atau pengumuman dosen Ausangat membantuAy, karena mereka tidak perlu terus-menerus membuka platform untuk memeriksa pembaruan. Dari sudut pandang kognitif, kegunaan ini mengurangi kebutuhan untuk memelihara external memory . isal : mengingat tenggat atau mencari materi di berbagai sumbe. , sehingga menurunkan beban kognitif yang bersifat administratif. Emosionalnya, fungsi yang jelas dan dapat diandalkan memicu rasa aman dan puas, mahasiswa merasa lebih terorganisir dan lebih percaya bahwa aktivitas akademik mereka berada pada jalur yang benar. Namun, data juga menunjukkan nuansa meski mayoritas melaporkan manfaat, beberapa responden mengeluhkan fitur yang Aubanyak namun harus dicari sendiriAy, yaitu masalah discoverability di dalam area kegunaan. Ini menunjukkan bahwa sekadar kehadiran fitur tidak cukup, relevansi praktis muncul ketika fitur mudah diakses dan sering digunakan dalam konteks tugas nyata. Implikasi praktis: pengembang Edlink perlu Kegunaan Inti Ada. Namun Discoverability Lemah materi atau tugas baru, yang rasa aman dan kontrol terhadap waktu belajar. Fitur Edlink sudah kebutuhan utama, tetapi mahasiswa sering kesulitan menemukan fungsi tertentu karena navigasi tidak kita nggak perlu cek-cek Ay (Responden-. AuSangat membantu tapi terkadang juga masih bingung, fiturnya banyak tapi harus cari Ay (Responden-. Secara kognitif, usefulness mendukung self-regulated learning, yaitu kemampuan mahasiswa untuk mengatur proses belajar secara mandiri. Namun, discoverability yang lemah memunculkan extraneous cognitive load karena mahasiswa harus mengingat lokasi fitur tertentu alih-alih fokus pada konten Analisis Tematik: Usable Analisis awal menunjukkan faset Usable mengandung jumlah kecocokan kata kunci negatif yang signifikan . negatif dan 28 positi. , menunjukkan masalah usability yang terasa oleh pengguna. Kutipan seperti Auterlalu ribet untuk mengupload tugas saat dikumpulkanAy merepresentasikan pengalaman kognitif yang menuntut usaha ekstra, setiap langkah teknis yang berlebih menaikkan cognitive load dan memicu emosi negatif seperti frustrasi atau cemas menjelang tenggat. Beberapa mahasiswa menggambarkan inkonsistensi antar mata kuliah . lur submit berbeda, label yang berubah-uba. , yang memperburuk kebutuhan kognitif untuk re-learn alur setiap kali berpindah konteks. Dalam kerangka HCI, fenomena ini berkaitan langsung dengan interaction cost dan learnability: semakin tinggi biaya interaksi, semakin sering pengguna beralih dari fokus kognitif pembelajaran ke pemecahan masalah teknis. Dari segi emosional, usability yang buruk mengakumulasi pengalaman negatif kecil yang pada akhirnya menurunkan kenyamanan penggunaan dan potensi engagement. Mahasiswa melaporkan perasaan Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. cemas saat upload tidak berhasil, serta kebutuhan untuk dipandu, dan mendapat konfirmasi positif atas tindakan mengecek ulang status unggahan, perasaan yang mereka. mengganggu proses belajar. Implikasi desain: reduksi Secara kognitif, desain yang menarik membantu langkah kritis . ewer click. , feedback real-time pemrosesan informasi . isual hierarchy, penggunaan . rogress bars, confirmation receipt. , dan standarisasi ikon yang konsiste. sehingga mahasiswa dapat alur antar-kursus akan menurunkan beban kognitif dan menavigasi konten dengan lebih mudah. Secara memulihkan emosi positif seperti lega dan tenang. emosional, micro-interactions . otif AusubmittedAy. Tabel 4 Tema Utama faset usable pesan sukse. memberikan positive reinforcement yang Tema Deskripsi Kutipan meningkatkan kepuasan. Rekomendasi praktis: Representatif perbaikan microcopy dan feedback visual, perbaikan empty state dan pesan error yang empatik, serta Biaya Interaksi Mahasiswa AuTerlalu konsistensi visual yang menghindari kejutan Tinggi pada mengeluhkan untuk mengupload Alur Kritis Tabel 5. Tema utama faset desirable Inkonsistensi Meningkatkan Cognitive Load Kebutuhan Feedback dan Konfirmasi sering gagal. Ay (Responden-. Terdapat letak atau label pengguna harus beradaptasi ulang. AuSetiap tampilannya beda, jadi harus nyarinyari Ay (Responden-. Mahasiswa konfirmasi sukses atau error yang AuKadang bingung, ke-upload belum ya? Soalnya gak ada tanda Ay (Responden-. Tantangan usability ini berhubungan langsung dengan interaction cost dan learnability. Setiap hambatan kecil menambah beban kognitif dan menggeser fokus mental dari aktivitas belajar ke aktivitas teknis . Pengalaman emosional yang muncul didominasi oleh perasaan cemas dan tidak yakin, menandakan perlunya affective feedback system dalam desain LMS. Analisis Tematik: Desirable Faset Desirable menunjukkan kombinasi kuat: 25 kecocokan positif namun 41 kecocokan negatif pada pemindaian awal, menandakan adanya perbedaan persepsi estetika dan efeknya pada emosi. Beberapa mahasiswa memuji tampilan . isalnya : Aukesan saya menarik, warnanya juga beragam, enak dipandangA. , yang berkaitan dengan emosi positif-kenyamanan visual dapat meningkatkan motivasi dan menurunkan kelelahan kognitif pada sesi belajar panjang. Namun sebuah kelompok lain mengeluhkan masalah estetika yang berkaitan pengalaman negatif . isalnya : tampilan error, notifikasi yang mengganggu, tampilan yang berubah tiba-tiba setelah logout yang memaksa login ulan. , yang menimbulkan frustrasi. Persepsi desirability ini tidak sekadar soal Aucantik vs jelekAy tetapi bagaimana desain memfasilitasi affective trust, apakah antarmuka membuat pengguna merasa dihargai. Tema Deskripsi Estetika Menunjang Kepuasan Tampilan warna dan ikon Edlink motivasi belajar. Stabilitas UI dan Microcopy Menentukan Kenyamanan Logout otomatis dan pesan error Kutipan Representatif AuKesan menarik, warnanya enak dipandang. Ay (Responden-. AuTampilan bagus, tapi sering logout capek harus login Ay (Responden. Secara afektif, desain visual berperan dalam menciptakan positive valence. Namun, ketidakstabilan fungsional menimbulkan affective dissonance, yakni konflik antara ekspektasi estetika dan pengalaman Hal ini menunjukkan bahwa desirability harus seimbang antara keindahan dan reliabilitas. Analisis Tematik: Findable Faset Findable menunjukkan sejumlah kritik, pemindaian kata kunci menemukan 30 kecocokan negatif dan 0 kecocokan positif pada ringkasan awal, menggambarkan masalah nyata dalam menemukan materi, tugas, atau nilai. Beberapa kutipan singkat yang diambil mengindikasikan mahasiswa sering Aulangsung pencet tombolAy tanpa strategi pencarian terstruktur karena struktur penyimpanan materi yang tersebar. Secara kognitif, ini berarti mahasiswa menghabiskan waktu pada search cost . iaya mencar. , bukan pada learning cost . iaya memahami mater. Pengulangan usaha pencarian antar kuliah memperbesar friksi kognitif dan menimbulkan emosi negatif seperti jengkel atau kelelahan mental. Temuan ini menyoroti kebutuhan untuk menguatkan informasi arsitektur: implementasi global search yang kuat, konsistensi lokasi materi antar-kursus, breadcrumb, dan tag atau metadata yang memudahkan Perbaikan findability akan mengurangi usaha navigasi sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap sistem, karena mahasiswa lebih cepat Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. mendapatkan bukti bahwa materi atau penugasan ada Secara emosional, kegagalan akses menciptakan dan tertata. perasaan tidak berdaya. Hal ini memperlihatkan Tabel 6. Tema utama faset findable pentingnya resilient UX, desain yang tetap berfungsi Tema Deskripsi Kutipan dalam kondisi terbatas . Findability Rendah. IA Perlu Diperkuat Kesulitan menemukan materi, nilai, dan tugas akibat struktur menu yang tidak konsisten dan tidak adanya fitur pencarian global. Representatif AuKadang susah cari nilai, harus satu-satu Ay (Responden-. Temuan ini menegaskan pentingnya Information Architecture (IA) yang jelas dan dapat diprediksi. Dari perspektif kognitif, waktu yang dihabiskan untuk mencari konten mengalihkan working memory dari tugas pembelajaran ke orientasi spasial. Solusi desain yang disarankan meliputi global search, breadcrumb navigation, dan metadata tagging. Analisis Tematik: Accessible Pada faset Accessible, hasil pemindaian menunjukkan lebih banyak kecocokan negatif . daripada positif . , namun kutipan menunjukkan penggunaan dominan melalui perangkat mobile (Auhp, karena bisa digunakan untuk presensi perkuliahanA. Mahasiswa mengapresiasi kemampuan mobile-friendly, tetapi masih mengalami kendala saat kondisi jaringan lemah atau saat fitur tidak Secara kognitif, gangguan akses . oad time, error saat submi. mengganggu alur mental mahasiswa dan dapat memicu kecemasan sekitar kehilangan hasil Secara emosional, aksesibilitas yang buruk menciptakan perasaan impotensi teknis, mahasiswa merasa tidak memiliki kontrol atas aksesnya terhadap pengalaman belajar. Implikasi teknis yang jelas: sediakan mode lowbandwidth, caching offline untuk materi penting, optimasi ukuran file dan pemrosesan upload di server, serta desain responsif yang mempertimbangkan target sentuh dan ukuran teks. Juga pertimbangkan pemberitahuan kondisi koneksi dan opsi pengiriman alternatif agar mahasiswa tidak stres ketika jaringan Tabel 7. Tema utama faset accesible Tema Deskripsi Dominasi Mobile dengan Kendala Jaringan Sebagian mengakses Edlink terkendala koneksi. Fitur aksesibilitas belum tersedia. Aksesibilitas Inklusif Belum Terlihat Kutipan Representatif AuSaya pakai HP, tapi kalau sinyal jelek susah banget Ay (Responden-. Analisis Tematik: Credible Kecenderungan paling mengkhawatirkan muncul pada faset Credible: pemindaian awal menunjukkan 60 kecocokan kata kunci negatif dan 0 positif. Ini adalah sinyal kuat adanya masalah kepercayaan, responden melaporkan kejadian di mana informasi di Edlink Autidak sesuaiAy . isalnya : status tugas yang keliru, nilai yang belum sinkro. , yang memicu emosi cemas dan merusak keandalan sistem di mata pengguna. Dari perspektif kognitif, ketidak-kredibilan ini memaksa mahasiswa untuk melakukan double checking . emeriksa sumber lain, menanyakan dosen langsun. , yang jelas menambah beban mental dan Kepercayaan adalah fondasi penggunaan begitu retak, pengguna beralih ke praktik . isalnya pengumpulan secara offlin. , mengurangi efisiensi dan nilai LMS. Rekomendasi prioritas tinggi: perbaikan mekanisme sinkronisasi, log audit transaksi . isalnya : waktu upload, checksu. , dan transparansi status . notifikasi konfirmasi, penjelasan jika ada dela. Mekanisme fallback dan rekonsiliasi nilai juga penting untuk mengembalikan kepercayaan. Tabel 8. Tema utama faset credible Tema Deskripsi Ketidakpastian Status Sinkronisasi Mahasiswa sering apakah tugas telah terkirim dengan benar atau nilai sudah diperbarui. Pengguna ingin bukti dan log setiap perubahan Kurang Transparan. Butuh Audit Trail Kutipan Representatif AuKadang udah upload, tapi di Edlink belum muncul Ay (Responden-. AuKalau riwayat upload kan enak, biar gak panik kalo Ay (Responden-. Dalam psikologi pengguna, kepercayaan terhadap sistem digital . ystem credibilit. berkorelasi langsung dengan persepsi reliabilitas dan kejujuran sistem . Kegagalan sinkronisasi di Edlink menurunkan rasa percaya dan memicu perilaku kompensatif seperti menyimpan bukti pengumpulan manual. Analisis Tematik: Valuable AuKalau font-nya bisa diganti atau Ay (Responden-. Secara teknis, mobile-first experience sangat membantu mobilitas belajar, namun belum inklusif secara penuh. Akhirnya, faset Valuable menampilkan kombinasi: 7 kecocokan positif dan 24 negatif. Banyak mahasiswa mengakui bahwa Edlink Aumemudahkan melihat materi, penugasan, serta jadwalAy, namun dampak pada hasil belajar dinilai variatif, ketika dosen aktif dan sistem berjalan lancar, manfaat terasa nyata. Sebaliknya, jika pengelolaan konten dan komunikasi dosen rendah. Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. nilai tambah Edlink terasa minimal. Secara kognitif. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan nilai nyata muncul ketika LMS mendukung scaffolding bahwa pengalaman pengguna terhadap LMS bersifat pembelajaran: struktur modul yang logis, feedback tugas ambivalen: di satu sisi menghadirkan kemudahan, yang jelas, dan integrasi aktivitas pembelajaran. kemandirian, dan keteraturan dalam belajar . Emosionalnya, ketika sistem terasa bernilai, mahasiswa valuabl. , namun di sisi lain memunculkan frustrasi, lebih termotivasi dan merasa pembelajaran memiliki kebingungan, dan ketidakpastian akibat hambatan arah yang jelas. teknis dan kurangnya transparansi sistem . Tabel 9. Analisis tematik Tema Deskripsi Kutipan Mahasiswa memandang Edlink sebagai sistem yang Representatif membantu mereka tetap disiplin dan terhubung dengan dosen, tetapi masih belum sepenuhnya memberikan Regulasi Edlink AuMemudahkan saya rasa aman dan kepercayaan digital. Temuan ini Belajar mengonfirmasi bahwa user experience dalam Terbantu materi, penugasan pendidikan tidak hanya teknologis, tetapi juga lebih serta jadwal kuliah. Ay terorganisir dan (Responden-. psikologis dan sosial. Keberhasilan suatu LMS bukan hanya ditentukan oleh performa sistem, melainkan oleh seberapa dalam sistem tersebut dapat menumbuhkan Nilai LMS hanya AuKalau dosennya gak rasa percaya . , rasa terkendali . , dan rasa Bergantung jika aktif. Edlink jadi terlibat . di antara penggunanya. Dalam pada Praktik dosen aktif kayak tempat upload Pedagogis Ay (Respondenkonteks pembelajaran digital, pengalaman pengguna Dosen dan . adalah jembatan antara teknologi dan kemanusiaan. memberi umpan Dari sisi kognitif, penelitian ini menemukan bahwa LMS berfungsi sebagai sarana scaffolding belajar yang Nilai edukatif suatu LMS tidak hanya dihasilkan oleh membantu mahasiswa mengatur tugas, jadwal, dan teknologinya, tetapi juga oleh interaksi pedagogis di materi. Namun, kejelasan struktur informasi . Secara kognitif. LMS berfungsi optimal dan keandalan fungsi . sable, credibl. menjadi faktor ketika mendukung scaffolding learning, panduan kunci dalam menurunkan cognitive load. Ketika fitur tidak bekerja secara konsisten atau informasi sulit bertahap dalam belajar mandiri . ditemukan, perhatian mahasiswa teralihkan dari Analisis RTA menunjukkan bahwa pengalaman aktivitas belajar ke aktivitas teknis, sebuah bentuk mahasiswa terhadap LMS Edlink merupakan perpaduan frustration-driven distraction yang menurunkan antara efisiensi kognitif dan tantangan emosional. efektivitas kognitif. Secara ringkas, ringkasan pemindaian kata kunci per Dari sisi emosional, pengalaman mahasiswa diwarnai faset menunjukkan pola kontras: Useful relatif kuat oleh dinamika antara perasaan aman dan kecemasan . anyak sinyal positi. , namun Credible. Usable, dan digital. Fitur notifikasi dan pengingat menimbulkan Findable menampilkan tekanan negatif yang signifikan. rasa lega, sedangkan ketidakpastian status unggahan Analisis kutipan menegaskan bahwa isu-isu teknis kecil memunculkan rasa cemas dan kehilangan kendali. pload error, loading, inkonsistensi men. Keadaan ini menunjukkan bahwa sistem digital dalam terakumulasi menjadi beban kognitif dan pengalaman pendidikan emosional negatif yang menurunkan engagement. memengaruhi suasana hati dan motivasi belajar Temuan ini konsisten dengan literatur HCI yang mahasiswa, baik secara positif maupun negatif. menempatkan usability, findability, dan credibility Penelitian ini memperluas cakrawala teoritis bidang sebagai prasyarat untuk pengalaman pengguna yang Human-Computer Interaction (HCI) dan User bernilai secara edukatif . Hasil RTA ini menjadi Experience (UX) Education Research dengan tiga dasar kuat bagi pengembangan desain LMS yang lebih kontribusi utama yaitu Rekonseptualisasi UX empatik, transparan, dan manusiawi. Honeycomb. Integrasi teori afeksi dan beban kognitif. Penguatan paradigma AuHumanizing Digital LearningAy. KESIMPULAN Penelitian ini menjembatani jarak antara teknologi Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mendasar pendidikan dan pengalaman manusiawi, serta tentang bagaimana mahasiswa mengalami, menafsirkan, menegaskan bahwa sistem pembelajaran yang efektif dan menilai interaksi mereka dengan Learning harus dirancang dengan prinsip human-centered trust. Management System (LMS) Edlink . sebagai kepercayaan yang tumbuh karena pengguna merasa media pembelajaran digital di perguruan tinggi. Dengan dimengerti. Penelitian ini memperkenalkan integrasi menggunakan pendekatan Reflexive Thematic Analysis Reflexive Thematic Analysis (RTA) dengan model UX (RTA) dan kerangka UX Honeycomb, penelitian ini Honeycomb sebagai hybrid analytical framework. berhasil menyingkap dinamika emosional dan kognitif Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi mendalam mahasiswa dalam konteks pembelajaran daring, serta tanpa kehilangan arah konseptual, dan dapat direplikasi mengungkap makna yang lebih dalam dari user dalam studi UX pendidikan lainnya. beberapa saran experience pendidikan. yang dapat menjadi arah penelitian berikutnya yaitu Eksplorasi Pengalaman Emosional dan Kognitif Mahasiswa Pada LMS Edlink Dengan Model UX Honeycomb Jurnal Surya Informatika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/surya_informatika P-ISSN: 2477-3042. E-ISSN: 3026-3034 Vol. No. November 2025. Pp. Pendekatan Multi-aktor dan Multi-level UX dan Studi Longitudinal dan Komparatif. REFERENSI