PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 8 No. Agustus - Oktober e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pelaku Usaha Warung Makan Di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Aldi Kare1*. Jeffriansyah Dwi Saputra A2. Jamaluddin Kamaruddin3 alkar0300@gmail. com1*, jeffriamori77@gmail. com2, jamaludin_km90@yahoo. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Muhammadiyah Mamuju. Indonesia1*,2,3 Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya faktor internal dan eksternal yang memengaruhi tingkat pendapatan pelaku usaha mikro, khususnya warung makan di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju. Usaha warung makan berperan strategis dalam menunjang perekonomian lokal, namun masih menghadapi tantangan dalam hal permodalan, pengelolaan jam kerja, tingkat pendidikan pemilik, dan lokasi usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh modal usaha, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha terhadap pendapatan pelaku usaha warung makan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Data primer dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan regresi linear berganda, disertai uji validitas, uji reliabilitas, uji t . , dan uji F . untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial modal usaha, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha berpengaruh positif terhadap pendapatan pelaku usaha warung makan di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju. Secara simultan, keempat faktor tersebut juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap pendapatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan modal usaha, pengelolaan jam kerja yang efektif, peningkatan kualitas pendidikan, serta pemilihan lokasi usaha yang strategis merupakan faktor penting dalam meningkatkan pendapatan pelaku usaha warung makan. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya dukungan kebijakan pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM, terutama melalui akses permodalan, pelatihan kewirausahaan, serta fasilitasi lokasi usaha yang lebih representatif. Kata kunci: Modal Usaha. Jam Kerja. Tingkat Pendidikan. Lokasi Usaha. Pendapatan. UMKM This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Pembangunan ekonomi merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan suatu Pertumbuhan ekonomi bukan hanya menggambarkan kenaikan pendapatan per kapita, tetapi juga mencerminkan kemakmuran masyarakat melalui peningkatan daya beli dan taraf hidup (Todaro & Smith, 2. Indonesia, sebagai negara dengan potensi besar, semakin menarik perhatian dunia internasional karena kekayaan sumber daya dan dinamika ekonominya. Salah satu cara untuk memperkuat perekonomian nasional adalah melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang telah menjadi tulang punggung perekonomian rakyat (Rudjito, 2. Pengembangan usaha mikro sangat bergantung pada strategi yang dirancang Strategi bisnis membantu menetapkan tujuan, menjaga konsistensi usaha, serta mendukung terbentuknya kepemimpinan yang efektif (Porter, 1. Dalam praktiknya, pengembangan usaha mikro tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melibatkan aspek Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8 . | 418 pendidikan, moral, dan sosial yang berkelanjutan (Primiana, 2. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama berperan dalam mendorong kreativitas serta kontribusi UMKM sebagai bagian dari pembangunan nasional (Kwartono, 2. Di Kabupaten Mamuju, jumlah usaha mikro mencapai 5. 293 unit pada tahun 2022 (Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kabupaten Mamuju, 2. Namun, data ini belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi sebenarnya karena adanya pelaku usaha baru maupun peralihan kepemilikan yang tidak terdata. Warung makan menjadi salah satu bentuk usaha mikro yang paling berkembang. Selain memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, warung makan kini juga berfungsi sebagai ruang sosialisasi, tempat beristirahat, serta lokasi pertemuan keluarga. Islam menekankan pentingnya bekerja keras sekaligus berbagi melalui zakat dan Hal ini ditegaskan dalam Al-QurAoan Surah At-Taubah ayat 105: "Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata, lalu diberitakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (Kementerian Agama Republik Indonesia, n. Ayat ini memberikan dorongan moral bahwa usaha yang dilakukan manusia selalu mendapat perhatian Allah. Dalam konteks usaha mikro, zakat dan sedekah dapat membantu masyarakat lain memulai atau mengembangkan usahanya, sehingga usaha tidak hanya bermanfaat di dunia tetapi juga di akhirat. Di Kecamatan Mamuju, keberadaan perkantoran dan lembaga pendidikan juga berdampak pada meningkatnya jumlah konsumen warung makan. Warung makan dengan berbagai nama seperti Warung 4 Indah. Yummi. Lesehan Unhy. Lamongan. Rantau Minang. Tenda Biru, hingga Sambaluta menjadi bukti bahwa sektor ini terus berkembang dan mampu mendorong pembangunan ekonomi lokal. Faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan pelaku usaha warung makan antara lain modal, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha. Modal yang cukup memungkinkan pengembangan usaha sesuai kebutuhan konsumen (Zimmerer et al. , 2. Jam kerja yang optimal memberikan peluang pendapatan lebih besar (Sukirno, 2. Pendidikan meningkatkan keterampilan manajerial dan inovasi (Becker, 1. , sedangkan lokasi strategis memberikan keunggulan dalam menarik konsumen (Kotler & Keller, 2. Oleh karena itu, penting dilakukan analisis untuk memahami bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi pendapatan warung makan di Mamuju. Landasan Teori Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) UMKM memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Menurut Rudjito . UMKM mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus mendukung pemerataan Primiana . menyatakan bahwa pengembangan UMKM berakar pada empat kegiatan utama: industri manufaktur, agribisnis, bisnis kelautan, dan pengelolaan sumber daya manusia. Selain itu. Kwartono . menjelaskan bahwa UMKM merupakan kegiatan ekonomi rakyat dengan kekayaan bersih maksimal Rp200. 000, tidak termasuk tanah dan bangunan usaha. UMKM juga memiliki omzet penjualan tahunan paling banyak Rp1. 000 dan harus dimiliki oleh warga negara Indonesia. Dengan demikian. UMKM bukan hanya sekadar usaha kecil, tetapi juga motor penggerak pembangunan nasional. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8 . | 419 Pendapatan Pendapatan adalah penerimaan yang diperoleh individu maupun rumah tangga dari gaji, upah, atau hasil usaha, baik utama maupun sampingan, dalam periode tertentu (Sukirno, 2. Dalam konteks warung makan, pendapatan menjadi indikator utama keberhasilan usaha dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta pengembangan usaha. Modal Usaha Modal usaha adalah salah satu faktor krusial dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Menurut Zimmerer et al. , modal mencakup modal finansial maupun modal keahlian. Modal finansial digunakan untuk membiayai izin usaha, investasi, hingga modal kerja, sementara modal keahlian adalah keterampilan manajerial dalam mengelola usaha. Pendidikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi individu agar memiliki kecerdasan, kepribadian, serta keterampilan yang berguna bagi masyarakat dan bangsa. Pendidikan pemilik usaha berpengaruh pada cara mengelola bisnis, membuat inovasi, dan mengambil keputusan strategis (Becker, 1. Lokasi Usaha Lokasi usaha yang strategis menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan. Lokasi yang dekat dengan konsumen dan memiliki akses pasar yang luas mampu meningkatkan peluang penjualan (Kotler & Keller, 2. Lokasi juga merupakan bentuk komitmen jangka panjang yang memengaruhi pertumbuhan nilai investasi usaha. Jam Kerja Jam kerja adalah waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas usaha. Menurut Sukirno . , jam kerja yang optimal dapat meningkatkan produktivitas. Pengaturan jam kerja juga erat kaitannya dengan perencanaan kegiatan usaha agar sejalan dengan tujuan yang ditetapkan. Metode Analisis Penelitian ini dilakukan pada pelaku usaha warung makan di Kecamatan Mamuju. Kabupaten Mamuju, dengan jadwal penelitian yang berlangsung dari Juni hingga Agustus 2025. Jenis data yang digunakan terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa angka dan hasil rekapan penelitian, sedangkan data kualitatif diperoleh dalam bentuk kata, narasi, dan gambaran umum lokasi penelitian (Sugiyono. Sumber data mencakup data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, serta kuesioner yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup maupun terbuka, sementara data sekunder diperoleh melalui dokumen, arsip, dan literatur yang relevan dengan penelitian ini. Pengumpulan data ditempuh melalui empat teknik, yaitu observasi untuk memperoleh fakta empiris dari objek penelitian, studi kepustakaan untuk mengkaji literatur akademik yang relevan, kuesioner untuk menghimpun jawaban responden secara sistematis (Sugiyono, 2. , serta dokumentasi untuk menelusuri dokumen resmi, arsip, maupun catatan tertulis (Arikunto, 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8 . | 420 Data yang terkumpul dianalisis menggunakan regresi linear berganda guna menguji pengaruh modal usaha, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha terhadap pendapatan pelaku usaha. Uji parsial . dilakukan untuk melihat pengaruh masingmasing variabel independen, sedangkan uji simultan . ji F) digunakan untuk menilai pengaruh keseluruhan variabel terhadap pendapatan. Selain itu, uji validitas dan reliabilitas diterapkan guna memastikan instrumen penelitian memenuhi syarat pengukuran yang baik. Untuk menjaga keabsahan data kualitatif, digunakan teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan silang dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi agar kesimpulan penelitian valid dan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan (Sugiyono, 2. Hasil dan Pembahasan Deskripsi Responden Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 30 responden, distribusi responden menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa sebagian besar adalah laki-laki, yaitu sebanyak 21 orang . %), sementara perempuan berjumlah 9 orang . %). Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha warung makan di Kecamatan Mamuju lebih didominasi oleh laki-laki. Jika dilihat berdasarkan umur, responden terbanyak berada pada kelompok usia 25Ae 34 tahun, yaitu 18 orang . %). Kelompok usia 35Ae45 tahun berjumlah 6 orang . %), sedangkan responden dengan usia 15Ae24 tahun dan di atas 45 tahun masing-masing berjumlah 3 orang . %). Data ini menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha berada pada usia produktif awal, yang umumnya memiliki energi, keterampilan, dan motivasi tinggi dalam menjalankan usaha. Tabel 1 Demografi Responden Penelitian Kategori Jenis Kelamin Umur Pendidikan Total Sub-Kategori Jumlah Persentase Laki-laki Perempuan 15Ae24 tahun 25Ae34 tahun 35Ae45 tahun >45 tahun SMA/Sederajat 36,67% Sarjana (S. 43,33% Sarjana (S. Dari segi pendidikan, responden yang berpendidikan SMA/sederajat sebanyak 13 orang . ,67%), sementara lulusan strata satu (S. berjumlah 17 orang . ,33%). Tidak terdapat responden dengan pendidikan strata dua (S. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pelaku usaha memiliki pendidikan menengah hingga tinggi, yang diharapkan dapat mendukung kemampuan manajerial dan pengambilan keputusan dalam usaha. Variabel Penelitian Pada variabel penelitian, modal usaha (X. menjadi salah satu faktor penting yang dinilai responden. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan setuju hingga sangat setuju terhadap pernyataan mengenai pentingnya modal usaha dalam menunjang pendapatan. Misalnya, pada pernyataan pertama. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8 . | 421 63,33% responden memilih AusetujuAy dan 36,67% memilih Ausangat setujuAy. Tidak ada responden yang memilih kategori kurang setuju maupun tidak setuju. Hal ini menguatkan pandangan bahwa ketersediaan modal merupakan pondasi dalam mengembangkan Selanjutnya, pada variabel jam kerja (X. , responden cenderung memberikan penilaian positif. Pada pernyataan pertama, 46,67% responden memilih AusetujuAy dan 40% memilih Ausangat setujuAy, sedangkan sisanya 13,33% memilih Aucukup setujuAy. Hasil ini menunjukkan bahwa jam kerja yang optimal dinilai berpengaruh signifikan terhadap Pada pernyataan kedua, meskipun terdapat variasi jawabanAidengan 43,33% AusetujuAy dan 30% Ausangat setujuAyAitetap terlihat kecenderungan dominan bahwa jam kerja yang panjang dianggap mampu meningkatkan peluang pendapatan. Tabel 2 Deskripsi Variabel Penelitian Variabel Penelitian Modal Usaha (X. Jam Kerja (X. Tingkat Pendidikan (X. Lokasi Usaha (X. Pendapatan (Y) Indikator Pernyataan Kategori Dominan Jumlah Responden Pernyataan 1 Setuju 63,33% 4,37 Pernyataan 2 Setuju 53,33% 4,20 Pernyataan 1 Setuju 46,67% 4,26 Pernyataan 2 Setuju 43,33% 3,87 Pernyataan 1 Setuju 63,33% 4,37 Pernyataan 2 Setuju 53,33% 4,20 Pernyataan 1 Setuju 63,33% 4,37 Pernyataan 2 Setuju 53,33% 4,20 Pernyataan 1 Setuju 47,86% 4,10 Pernyataan 2 Setuju 51,13% 4,73 Persentase Mean Variabel tingkat pendidikan (X. juga memperlihatkan hasil serupa. Mayoritas responden berada pada kategori AusetujuAy dan Ausangat setujuAy. Pada pernyataan pertama, 63,33% menyatakan AusetujuAy dan 36,67% Ausangat setujuAy, sementara pada pernyataan kedua, 53,33% memilih AusetujuAy dan 33,33% Ausangat setujuAy. Hal ini memperkuat asumsi bahwa pendidikan berperan dalam meningkatkan keterampilan, manajemen usaha, serta daya inovasi pelaku usaha. Pada variabel lokasi usaha (X. , mayoritas responden juga menunjukkan kecenderungan positif. Pada pernyataan pertama, 63,33% responden menjawab AusetujuAy dan 36,67% Ausangat setujuAy. Begitu pula pada pernyataan kedua, 53,33% responden menyatakan AusetujuAy dan 33,33% Ausangat setujuAy. Tidak ada responden yang memberikan jawaban negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan lokasi strategis dianggap sebagai salah satu faktor kunci dalam meningkatkan pendapatan usaha. Terakhir, pada variabel pendapatan (Y), responden memberikan jawaban yang Pada pernyataan pertama, 47,86% responden memilih AusetujuAy dan 36,67% memilih Ausangat setujuAy, sementara 5,13% memilih Aucukup setujuAy. Pada pernyataan kedua, kecenderungan semakin kuat, dengan 51,13% AusetujuAy dan 48,87% Ausangat setujuAy. Data ini menggambarkan bahwa pendapatan pelaku usaha warung makan di Kecamatan Mamuju memang sangat dipengaruhi oleh modal, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha, sebagaimana hipotesis penelitian ini. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8 . | 422 Pembahasan Berdasarkan hasil olah data, baik secara parsial maupun simultan, variabel modal usaha, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha terbukti berpengaruh signifikan terhadap pendapatan warung makan di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju. Adapun uraian pembahasan setiap variabel adalah sebagai berikut. Modal Usaha (X. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel modal usaha memiliki nilai signifikansi sebesar 0,022 (< 0,. Dengan demikian, modal usaha berpengaruh signifikan terhadap pendapatan warung makan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa ketersediaan modal merupakan faktor utama dalam mengembangkan usaha. Penelitian ini sejalan dengan temuan Deiral Diandrino . yang membuktikan bahwa modal usaha berpengaruh signifikan terhadap pendapatan UMKM Kedai Kopi di Kota Malang, serta didukung oleh penelitian Astawinetu . yang menunjukkan pengaruh positif modal terhadap pendapatan warung makan di Kecamatan Sukolilo. Surabaya. Jam Kerja (X. Variabel jam kerja juga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan dengan nilai signifikansi sebesar 0,005 (< 0,. Artinya, semakin optimal jam kerja yang digunakan, semakin tinggi pula potensi peningkatan pendapatan. Hasil ini konsisten dengan penelitian Ravisca Aulia Inderianti. Hardiani, dan Rosmeli . yang menemukan bahwa jam kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha warung manisan di Kecamatan Telanaipura. Tingkat Pendidikan (X. Tingkat pendidikan responden terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan dengan nilai signifikansi sebesar 0,003 (< 0,. Hal ini menegaskan bahwa semakin tinggi pendidikan pelaku usaha, semakin baik pula kemampuan mereka dalam mengelola usaha, mengatur strategi, dan mengambil keputusan yang berdampak pada peningkatan pendapatan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Inderianti et al. yang menunjukkan adanya pengaruh positif pendidikan terhadap pendapatan, serta diperkuat oleh hasil penelitian Astawinetu . di Surabaya. Lokasi Usaha (X. Variabel lokasi usaha memiliki nilai signifikansi 0,001 (< 0,. , yang berarti berpengaruh signifikan terhadap pendapatan warung makan di Kecamatan Mamuju. Lokasi strategis memberi akses yang lebih baik kepada konsumen dan meningkatkan peluang transaksi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Diandrino . yang menemukan pengaruh signifikan lokasi usaha terhadap pendapatan UMKM Kedai Kopi di Malang, serta Astawinetu . yang menemukan hasil serupa pada usaha warung makan di Surabaya. Penelitian ini menegaskan pentingnya empat faktor utama, yaitu modal usaha, jam kerja, pendidikan, dan lokasi usaha, dalam memengaruhi pendapatan pelaku usaha mikro, khususnya warung makan. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan adanya peluang besar bagi generasi muda untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam usaha mereka, seperti penggunaan bahan ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Walaupun tantangan seperti keterbatasan modal, jam kerja, pendidikan, dan lokasi masih menjadi kendala, namun meningkatnya minat pasar terhadap usaha berkelanjutan memberikan peluang yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat sehingga pelaku usaha dapat berkontribusi optimal terhadap pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan. Simpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal usaha, jam kerja, tingkat pendidikan, dan lokasi usaha memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan pelaku usaha warung makan di Kecamatan Mamuju. Secara parsial, masing-masing variabel terbukti berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan, sementara secara simultan keempat Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8 . | 423 variabel tersebut memberikan pengaruh yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi antara ketersediaan modal, pengelolaan jam kerja yang efektif, tingkat pendidikan yang memadai, serta pemilihan lokasi usaha yang strategis merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha warung makan di wilayah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan lebih besar dalam bentuk bantuan permodalan, pelatihan, dan akses pembiayaan agar pelaku usaha dapat mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Kedua, pelaku usaha perlu meningkatkan keterampilan dalam manajemen usaha dan pengelolaan keuangan sehingga modal dapat berputar dengan baik dan berdampak pada peningkatan pendapatan. Ketiga, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menambahkan variabel lain, seperti inovasi produk, pemanfaatan teknologi digital, atau strategi pemasaran, yang berpotensi memengaruhi pendapatan usaha sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang menentukan keberhasilan usaha mikro. Daftar Pustaka