Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 PENERAPAN CAPASITY BUILDING DALAM PENGEMBANGAN OBJEK WISATA GOA LIANG TAPAH DESA JARO KECAMATAN JARO KABUPATEN TABALONG Ahmad Zami *. Muhammad Noor zamizami1119@gmail. muhammadnoor@stiatabalong. Program Studi Administrasi Negara Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Tabalong Komplek Stadion Olah Raga Saraba Kawa Pembataan Tanjung Ae Tabalong Telp/Fax . 2022484 Kode Pos 7012 Email: info@stiatabalong. ABSTRAK Penerapan Capasity Building Dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah ini merupakan aspek penting dalam tinjauan pengembangan dari lembaga-lembaga yang terlibat didalamnya dengan melihat seberapa besar peran koordinasi komunikasi sampai pada perealisasian pengembangan objek wisata ini agar terciptanya pengembangan yang baik dan berkelanjutan kedepannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan capasity building dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah pada desa garagata jaro kecematan jaro kabupaten tabalong, untuk mengetahui apa saja menjadi kendala dalam melakukan pengembangan objek wisata goa liang tapah pada desa garagata jaro kecematan jaro kebupaten tabalong. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah berjumlah 7 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu: observasi . , wawancara . dan dokumentasi . Adapun Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/varification. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pada progress penerapan capasity building yang dilakukan oleh pihak terlibat sudah menunjukkan hasil yang maksimal. Namun pada pengembanganya masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi salah satunya status kepemilikan tanah yang ada diobjek wisata ini masih milik kawasan yang mana bukan wewenang penuh oleh pihak terkait. Kata Kunci: Pengembangan,Capasity Building. Objek Wisata IMPLEMENTATION OF CAPACITY BUILDING IN THE DEVELOPMENT OF THE LIANG TAPAH CAVE TOURIST ATTRACTION IN JARO VILLAGE. JARO DISTRICT, TABALONG REGENCY ABSTRACT The implementation of Capacity Building in the development of the Liang Tapah Cave tourist attraction is a crucial aspect in evaluating the development efforts by the institutions involved, focusing on the extent of coordination and communication roles, leading to the realization of sustainable development. The purpose of this study is to describe how capacity building is implemented in the development of the Liang Tapah Cave tourist attraction in Garagata Village. Jaro District. Tabalong Regency, and to identify the challenges faced in the development process. This study employs a qualitative approach with a descriptive qualitative research design. The study involved 7 informants. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The data analysis technique used in this study follows the interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The results of the study indicate that the progress of capacity building implemented by the involved parties has shown optimal results. However, there are still some challenges in the development process, one of which is JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 the issue of land ownership status at the tourist site, which remains under an area not fully under the authority of the relevant parties. Keywords: Development. Capacity Building. Tourist Attraction PENDAHULUAN Latar Belakang Studi kemampuan penerapan . apacity buildin. yang oleh lembaga-lembaga terkait di antaranya Dinas Pariwisata Dan Pemerintah Desa Garagarata Jaro yang bertujuan meningkatkan kinerja secara optimal untuk menunjang pencapaian dalam pengembangan objek wisata ini secara maksimal, meningkatkan kemampuan individu-individu dalam rangka mewujudkan pengembangan Objek Wisata yang terkait pembahasan Capacity Building. Suatu tindakan dalam mendorong organisasi agar dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, serta upaya pelaksanaan reformasi guna mewujudkan situasi serta kondisi lingkungan berfungsi dengan baik. Penerapan Capasity Building ini mempunyai beberapa dimensi yang termasuk bagian dari proses dinamis yang berkelanjutan, dimana dikatakan bahwasanya kapasitas individu, organisasi, dan sistem yang tidak pernah terputus, namun dibutuhkan pembaharuan dan perlu ditingkatkan secara terus-menerus. (Damayanti. Pada Desa Jaro ini menyimpan berbagai wisata alam diantaranya adalah wisata Goa Liang Tapah. Namun dalam pengelolaannya desa wisata di desa Jaro tersebut masih belum maksiamal karena masih terdapat kendala dalam hal pengembangannya, sehingga masih terhambabat. Maka dari itu objek wisata di desa ini masih butuh pengembangan dalam penataannya. Jika melihat potensi pariwisata di desa. Dalam pengembangan 4 objek wisata ini sangat berperan positif bagi masyarakat tersebut diantara bagi pengelola wisata goa liang tapah karena mampu memberikan pekerjaan bagi masyarakat tersebut. Namun tentu dalam pengembangan desa wisata yang baik diperlukan pengelolaan yang baik pula pengembanganpengembangan yang dimelibatkan lembagaJAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 lembaga terkait di dalamnya agar dalam dikembangankan (Affafi, 2. Kemudian dari hasil wawancara awal dengan kepala Pokdarwis menerangkan bahwa bangunan untuk parkir pengunjung sampai sekarang masih belum memadai serta kurangnya pendanaan dalam mengelola desa wisata ini, hal tersebut pernah diajukan dana sebesar Rp 50. 00 dengan deskrifsi keperluan secara detail namun pada faktanya yang keluar hanya sekitar Rp memaksimalkan pengelolaan dengan baik karena kurangnya pendanaan tersebut. Akan tetapi dari hal ini pentingnya bagaimana penguatan yang dilakukan oleh pihakpihak terkait baik dalam hal koordinasi, komunikasi dan lain sebagainya perlu mengambil peran agar apa yang diharapkan oleh pihak pengelola dapat direalisasikan secara lancar terutama dalam hal pengembangan pada objek wisata goa liang tapah ini. Dalam pengembangannya mereka di hadapkan pada permaslahanpermasalahan lain juga di antaranya adalah Status kepemilikan tanah goa liang tapah tersebut masih masuk kawasan yang artinya ada pemiliknya masing-masing, sedangkan jika mau sepenuhnya dikelola oleh pihak 5 lembaga yang terlibat harusnya itu masuk ke aset daerah agar bisa dikelola secara baik dan bertanggung jawab. Kemudian juga keterbatasan dana untuk pengelolaan, sarana dan prasarana kurang memadai seperti masih belum adanya safety para pengujung, jalan yang ada di dalam goa masih belum dibuatkan karena mengingat hal tersbut dapat membahayakan para pengunjung. Pentingnya melihat penerapan capasity building ini agar terciptanya Keberhasilan dalam pengembangan objek wisata secara efektif dan Namun juga sangat dipengaruhi oleh peran lembaga atau stakeholders dalam Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 penyelenggaraan Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong. Pada pengembangan objek wisata memerlukan suatu perancangan yang matang, dengan pengelolaan terhadap resiko-resiko yang mungkin terjadi. Dalam upaya mengembangkan potensi desa. Pemerintah Desa harus melakukan berbagai strategi pengelolaan secara bertahap dan terencana dengan pengembangan . apacity buildin. dari seluruh elemen yang terlibat, baik dari pemerintah desa, organisasi lokal, maupun masyarakat lokal. Pemerintah Desa memiliki beberapa visi dan misi untuk mewujudkan strategi capasity Dengan berkembangnya visi dan misi ini, terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai, yaitu meningkatkan PADes, meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, dan memberdayakan masyarakat melalui berbagai peluang dan potensi yang ada. Selain itu juga pemerintah desa bersinergi bersama masyarakat dalam pembangunan dan pengembangan objek wisata serta perbaikan fasilitas pada objek wisata, pendataan kepada masyarakat dan pelaku usaha, serta pelatihan dan pelayanan kepada masyarakat sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat. Berkaitan dengan kebijakan, masih belum adanya kebijakan yang dirancang dalam upaya pengembangan objek Namun, pengembangan objek wisata masih memiliki kendala dalam menentukan strategi yang tepat guna serta menentukan arah kebijakan yang mampu memaksimalkan jalannya kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan Pemerintah indonesia telah berupaya kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatan pariwisata. Dalam pengembangan desa wisata ini merujuk pada (Undang-Undang RI no 10 tahun 2. tentang kepariwisataan . asal 6: berdasarkan asas sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 yang diwujudkan melalui rencana memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam serta kebutuhan manusia untuk beriwisata. (Undang-undang No. 10 Tahun 2. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Dalam banyak teori yang dipakai pada pengembangan objek wisata goa liang tapah ini maka peneliti akan mencocokkan teori yang dikemukakan oleh grindle. Pada pengembangan kapasitas ini proses dilaksanakan secara berkelanjutan, dimana dikatakan bahwasanya kapasitas individu, organisasi, dan sistem yang tidak pernah terputus, namun dibutuhkan pembaharuan dan perlu ditingkatkan secara terusmenerus. Dalam teori Grindle disebutkan bahwa pemerintahan yang dikatakan baik akan sangat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM), organisasi, dan lembaga sektor publik. (Grindle, 1. (Grindle, 1. kemudian menguraikan dimensi pengembangan kapasitas, sebagai berikut: ) Pengembangan sumber daya manusia (SDM), memiliki fokus terhadap kesediaan tenaga kerja secara teknis dan mampu menunjukkan profesionalitas yang dilakukan dengan suatu proses berupa pelatihan, dan diberikan pemahaman tentang bagaimana cara pengelolaan yang baik dan benar. ) Penguatan organisasi, berkaitan dengan sistem manajemen dalam mengembangkan performansi kinerja organisasi dan 10 struktur mikro yang ditunjukkan dengan aktivitas berupa sistem insentif, pemanfaatan tenaga, bentuk kepemimpinan, budaya organisasi, komunikasi, dan struktur manajerial. Reformasi birokrasi atau kelembagaan, berkaitan dengan lembaga dan sistem kinerja serta berstrukur makro dengan menunjukkan aktivitas berupa aturan pelaksanaan kegiatan, kebijakan dan perubahan pada tatanan lembaga. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari hal yang telah di paparkan di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut perihal Penerapan Capasity Building Dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata Jaro Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong. Fokus Penelitian Fokus Penelitian ini dimaksudkan untuk membatasi studi kualitatif sekaligus membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan mana yang tidak relevan (Moleong,2. Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 Pembatasan dalam penelitian kualitatif ini lebih didasarkan pada tingkat kepentingan/urgensi dari masalah yang dihadapi dalam penelitian ini. Penelitian ini akan difokuskan pada Penerapan Capasity Building Dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata Jaro Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang diatas maka pertanyaan penelitian pada rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana penerapan capasity building dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah pada desa garagata jaro kecematan jaro kabupaten tabalong? Apa saja yang menjadi kendala dalam melakukan pengembangan objek wisata goa liang tapah pada desa garagata jaro kecematan jaro kebupaten tabalong? Tujuan Penelitian Bedasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas rumusan masalah dalam penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut: Untuk menganalisis dan mendeskripsikan Capasity Building dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata Jaro. Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong. Untuk mengetahui dan menganalisis faktorfaktor apa saja yang menghambat dalam proses pengembangan Objek Wisata Goa liang tapah Pada Desa Garagata Jaro. Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong. Manfaat Penelitian Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi berbagai pihak secara langsung maupun tidak Adapun manfaat-manfaat tersebut sebagai berikut: Manfaat Teoritik Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat perkembangan ilmu administras publik. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 terutama dalam hal konsep teori capacity Penggunaan perspektif teori capacity buliding ini juga diharapkan akan lebih memberi peluang untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang kelembagaan dalam sebuah organisasi yang Kemudian teori capacity buliding akan memberikan pemahaman mengenai interaksi aktor kebijakan didalam ruang musyawarah . Manfaat Praktis Penelitian menyumbangkan pemikiran bagi pihak-pihak terkait dalam upaya pengembangan objek wisata pada wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata. Jaro Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong, khususnya dalam penerapan Capasity Building terhadap pengembangan objek wisata. Kemudian, hasil dari penelitian ini semoga bisa menjadi sumbangan koleksi perpustakaan dan bacaan bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Publik Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Tabalong dan bagi mahasiswa lain yang berkepentingan dalam menyusun TINJAUAN PUSTAKA Konsep Pengambangan Menurut (Philip, 2. menyatakan bahwa pengembangan objek wisata ditujukan untuk kepariwisataan menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan untuk penerimaan devisa, memperluas dan meratakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, membangun daerah, memperkenalkan alam dan budaya bangsa. Pengembangan dilaksanakan sejalan dengan upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa, serta menanamkan jiwa, semangat dan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional, terutama dalam bentuk penggalakkan pariwisata remaja dan pemuda dengan lebih meningkatkan kemudahan dalam memperoleh pelayanan kepariwisataan. Daya tarik Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 Indonesia wisatamancanegara perlu ditingkatkan melalui upaya pemeliharaan benda dan khasanah bersejarah yang menggambarkan 25 ketinggian budaya dan kebesaran bangsa, serta didukung dengan promosi memikat. Dalam mengembangkan suatu daerah tujuan wisata harus memperhatikan berbagai faktorfaktor yang berpengaruh terhadap keberadaan suatu daerah tujuan wisata. Faktor-faktor itu terkait dengan 5 unsur pokok yang harus ada dalam suatu daerah tujuan wisata seperti yang dikemukakan oleh (Suwantoro, 1. yang meliputi objek dan daya tarik wisata, prasarana wisata, sarana wisata, tata laksana/infrastruktur serta kondisi dari masyarakat/lingkungan. Pengembangan Pariwisata Pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian upaya penggunaan berbagai sumber daya pariwisata dan mengintegrasikan segala bentuk aspek di luar pariwisata yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung demi kelangsungan pengembangan pariwisata (Suwardjoko, 2. Menurut (Yoeti, 1. ada tiga faktor yang dapat menentukan berhasilnya pengembangan pariwisata sebagai industri. Ketiga faktor tersebut sebagai berikut: . tersedianya objek wisata dan atraksi wisata yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang yang mengunjungi suatu daerah wisata. Misalnya keindahan alam, hasil kebudayaan, tata cara hidup masyarakat, festival tradisional maupun upacara keagamaan. adanya accessibility yaitu prasarana dan sarana dengan segala fasilitas sehingga memungkinkan para wisatawan mengunjungi suatu daerah tujuan wisata tersebut. tersedianya amenities yaitu sarana kepariwisataan yang dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan selama dalam perjalanan wisata baik di dalam maupun di luar negeri. Konsep Capacity Building Menurut (Milen, 2. mendefinisikan kapasitas sebagai kemampuan individu, organisasi sebagaimana mestinya secara efektif, efisien dan JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 terus-menerus. Sedangkan (Morgan, 2. merumuskan pengertian kapasitas sebagai kemampuan, keterampilan, pemahaman, sikap, nilai-nilai, hubungan, perilaku, motivasi, sumber daya, dan kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap individu, organisasi, jaringan kerja/ sektor, dan sistem yang lebih luas untuk melaksanakan fungsi-fungsi mereka dan mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan dari waktu ke (Grindle, 1. menyebutkan capacity building merupakan upaya yang ditunjukan untuk responsivitas kinerja pemerintah. Efisiensi disini dalam hal waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untukmencapai mencapai outcome, efisiensi berupa kepantasan usaha yang dilakukan demi hasil yang diinginkan serta responsivitas bagaimana menyesuaikan antara kebutuhan dan kemampuan untuk maksud tersebut. Definisi lain tentang capacity building organisasi yang dikemukakan oleh (Morisson, 2. yaitu melihat capacity building sebagai suatu proses untuk melaksanakan sesuatu, atau serangkaian gerakan, perubahan multi level di dalam individu, kelompok-kelompok, organisasiorganisasi dan sistem-sistem dalam rangka untuk memperkuat kemampuan penyesuaian individu dan organisasi sehingga dapat tanggap terhadap perubahan lingkungan yang ada. Dalam teori (Grindle, 1. , disebutkan bahwa pemerintahan yang dikatakan baik akan sangat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM), organisasi, dan lembaga sektor Kemudian pengembangan kapasitas, (Damayanti, 2. sebagai berikut: Pengembangan sumber daya manusia (SDM), memiliki fokus terhadap kesediaan tenaga kerja secara teknis dan mampu menunjukkan profesionalitas yang dilakukan dengan suatu proses berupa pelatihan, gaji, kondisi kerja, dan perekrutan. Penguatan organisasi, berkaitan dengan sistem manajemen dalam mengembangkan performansi kinerja organisasi dan struktur mikro yang ditunjukkan dengan aktivitas Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 berupa sistem insentif, pemanfaatan tenaga, bentuk kepemimpinan, budaya organisasi, komunikasi, dan struktur manajerial. Reformasi birokrasi atau kelembagaan, berkaitan dengan lembaga dan sistem kinerja serta berstrukur makro dengan menunjukkan aktivitas berupa aturan pelaksanaan kegiatan, kebijakan dan perubahan pada tatanan Dimensi dan Tingkatan Capacity Building Dalam melakukan pengembangan kapasitas individu, tingkatan kompetensi atau kapasitas individu bisa diukur melalui konsep dari (Gross, 2. yang menyatakan bahwa kompetensi yang harus dimiliki aparatur dalam menjalankan tugas dan fungsi pemerintahan dan pembangunan, (Budianto, 2. adalah sebagai berikut: Pengetahuan yang meliputi: pengetahuan umum, pengetahuan teknis, pekerjaan dan organisasi, konsep administrasi dan metode, dan pengetahuan diri. Kemampuan yang meliputi: manajemen, perencanaan, pengorganisasian, pengontrolan, bekerja dengan orang lain, penanganan konflik, pikiran intuitif, komunikasi, dan Tujuan yang meliputi: orientasi tindakan, kepercayaan diri, tanggung jawab, serta norma dan etika. Tujuan dan karakteristik Capacity Building (Morrison, 2. mengatakan bahwa Capacity Building adalah pembelajaran, berawal dari mengalirnya kebutuhan untuk mengalami suatu hal, mengurangi ketidaktahuan dan ketidakpastian dalam hidup, dan mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk beradaptasi menghadapi perubahan. Berdasarkan pendapat ahli di atas, penjelasan tersebut menunjukkan bahwa adapun tujuan dari Capacity Building . engembangan kapasita. dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu : JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Secara umum diidentikkan pada perwujudan sustainabilitas . suatu sistem. Secara khusus ditujukan untuk mewujudkan kinerja yang lebih baik dilihat dari aspek : Efisiensi dalam hal waktu . dan sumber daya . yang dibutuhkan guna mencapai suatu outcome. Efektifitas berupa kepantasan usaha yang dilakukan demi hasil yang diinginkan Responsifitas mensinkronkan antara kebutuhan dan kemampuan untuk maksud tersebut. Pembelajaran yang terindikasi pada kinerja individu, grup, organisasi dan Dari indikator-indikator di atas dapat dimaknai bahwa Capacity Building merupakan berkelanjutan, bukan berangkat dari pencapaian hasil semata, seperti yang telah dijelaskan dimuka bahwa Capacity Building adalah proses pembelajaran akan terus melakukan keberlanjutan untuk tetap dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara terus menerus. Faktor-faktor yang mempengaruhi Capacity Building Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan maupun kesuksesan program pengembangan kapasitas. Namun secara khusus (Soeprapto, 2. mengemukakan bahwa ada faktor-faktor mempengaruhi pengembangan kapasitas adalah sebagai berikut: Komitmen Bersama Kepemimpinan Reformasi Peraturan Reformasi Kelembagaan Konsep Objek Wisata Menurut (Joshi, 2. yang menyatakan bahwa objek wisata adalah suatu sektor pariwisata yang mampu menarik minat wisatawan dengan menyuguhkan suasana keaslian pedesaan yang Objek wisata sebagai kawasan yang berada pada pedesaan yang menyuguhkan suasana keaslian wilayah desa dengan representasi sumber Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 daya serta keseharian masyarakat yang menjadi daya tarik pariwisata masa kini, serta didukung adanya akomodasi, atraksi, serta fasilitas lainnya. Dalam proses pengembangan objek wisata, masyarakat sekitar dijadikan sebagai subyek aktif, artinya lingkungan sekitar dan kehidupan sosial masyarakat di desa tersebut dijadikan sebagai tujuan wisata. Masyarakat juga berperan sebagai agen promosi wisata serta inovator dalam memberikan ide gagasan pengembangan objek Pembangunan dan pengembangan pariwisata secara langsung akan merambah dan mengikutsertakan masyarakat, sehingga dapat masyarakat setempat, baik berupa pengaruh positif maupun negatif. Pemanfaatan sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam di sekitar desa wisata yang diorganisir secara maksimal, akan memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. Dalam pengembangan objek wisata yang menjadi salah satu faktor pentingnya adalah keaslian dari desa setempat serta integrasi dari komponen pariwisata yang ada. Komponen untuk pengembangan desa wisata ini tidak jauh berbeda Pariwisata Perdesaan adalah suatu wilayah perdesaan yang mencerminkan keaslian perdesaan, baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adatAe istiadat keseharian, arsitektur bangunan maupun struktur tata ruang desa yang khas atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen kepariwisataan yaitu, atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukungnya. Menurut (Gumelar, 2. tidak semua kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di desa adalah benar-benar bersifat desa wisata, oleh karena itu agar dapat menjadi pusat perhatian pengunjung, desa tersebut pada hakikatnya harus memiliki hal yang penting. Kerangka Pikir Penelitian Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Sumber: Peneliti, 2024 METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian Adapun pendekatan deskriptif kualitatif pada penelitian ini yang berupaya untuk memperoleh pemahaman yang mendalam bagaimana Penerapan Capasity Building dalam membantu fenomena yang diteliti. Informasi yang dicari dalam penelitian ini berkaitan dengan fakta, bagaimana pendapat pengembangan desa wisata goa liang tapah Menurut (Creswell, 2. menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan pendekatan holistik yang melibatkan penemuan. Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menggugat atau secara tegas membantah suatu teori tertentu, namun penulis berupaya mengkontruksi teori untuk menemukan model yang tepat dalam menjalankan Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah katakata dan tindakan para informan maupun tulisan atau dokumen-dokumen yang mendukung pernyataan informan. Untuk memperoleh datadata yang relevan dengan tujuan penelitian, maka Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 data yang diperoleh berdasarkan sumber data primer dan sekunder. Tabel 1. Jumlah Informan Sumber: Peneliti, 2024 Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan sumber data diatas, teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai Observasi Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung di lapangan secara sustematis serta akurat terhadap fenomena-fenomena yang ada sesuai dengan topik pembahasan dalam Dokumentasi Dokumentasi ini pada umumnya adalah suatu cara pengumpulan data dimana dokumendokumen yang dianggap menunjang dan relevan dengan permasalahan yang akan diteliti seperti buku-buku, jurnal, laporanlaporan, foto atau gambar, rekaman, peraturan perundang-undangan, hasil karya dan lain Wawancara Wawancara merupakan pertemuan dua orang atau lebih yang bertujuan bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik Yaitu mengacu kepada sebuah proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan perubahan data kasar yang muncul dari Informan Jumlah Kapala Desa Staf Dinas Pariwisata Ketua BPD Pokdarwis Masyarakat Pengunjung catatan-catatan tertulis yang dihasilkan ketika lapangan saat berlangsung, dengan menulis catatan-catatan dalam file, membuat pedoman wawancara, dokumen dan bahan emperis lainnya. Penyajian Data (Data Displa. Yaitu sebuah aktivitas yang menyajikan data penelitian sehingga memungkinkan peneliti mengambil sebuah kesimpulan sementara . dan juga dapat merencanakan suatu tindakan berikutnya bila terjadi data yang tidak lengkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan tersebut. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi Data (Conclution Drawing atau Data Verificatio. Yaitu sebuah aktivitas yang merumuskan kesimpulan berdasarkan dua aktivitas Kesimpulan ini dapat berupa kesimpulan awal dan kesimpulan akhir. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini melalui penelitian analisis data yang dikembangkan (Miles, 2. yang menggunakan metode analisis interaktif dengan prosedur yaitu: Seleksi Data (Data Collectio. Seleksi data adalah proses pengumpulan, pengukuran dan analisis berbagai tipe informasi menggunakan teknik berstandar. Tujuan utama data collection adalah untuk mengumpulkan informasi dan data terpercaya sebanyak-banyaknya dianalisis untuk membuat sebuah keputusan bisnis dan krusial. Kondensasi Data (Data Condesatio. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Gambar 2. Komponen Teknik Analisis Data Kualitatif Model Interaktif Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 ) kemampuan organisasi untuk melakukan promosi destinasi wisata. Sumber: Miles Hubermen and Saldana, 2014 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penerapan Capasity Building Dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata Kecematan Jaro. Capasity Building atau lembaga terkait lainnya dalam melakukan pengebangan dan pengelolaan seecara mendalam sebelumnya dan kedepanya nanti. Pengembangan objek wisata goa liang tapah pada dasarnya pasti memerlukan yang namanya peranan Capasity Building atau lembagalembaga terkait lainnya dalam melakukan penataan dan pengembangannya pada objek wisata goa liang tapah yang ada di Desa Jaro Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong ini, di antaranya peranan Aparatur Desa Jaro Garagata. Dinas Pariwisata, dan Pokdarwis . elompok sadar wisat. dari lembaga-lembaga inilah yang menjadi faktor utama pada pengembagan objek wisata goa liang tapah ini Berdasarkan penelitian yang berjudul Penerapan Capasity Builiding dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Di Desa Garagata Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong maka akan di uraikan dalam 4 . point penting yaitu: 1. kemampuan organisasi untuk memimpin dan ) kemampuan organisasi untuk melakukan kemitraan eksternal. mengembangkan produk-produk pariwisata. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Kemampuan Organisasi Untuk Memimpin Dan Berkoordinasi. Lembaga atau organisasi apabila ingin pelaksanaan terkait pengembangan maka tentu yang perlu dilihat adalah bagaimana koordinasinya secara holistik apakah ada kekeliruan atau sudah berjalan secara baik, nanti akan dimilai oleh masyarakat dan lainlain. Dengan demikian pada penelitian ini akan membahas tentang bagaimana Capasity Building pada pengembangan objek wisata goa liang tapah di Desa Garagata Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong. Kemampuan Memimpin Upaya pengembangan objek wisata goa liang tapah ini sering melakukan musyawarah yang melibatkan pihak-pihak terkait seperti dinas pariwisata, ketua BPD, dan masyarakat sekitar lainya merupakan cara kepemimpinan yang Kemudian jangka waktu dalam rapat atau musyawarah ini di lakukan dalam waktu 3 . bulan sekali yang bertempat digoa liang tapah itu Kemampuan Berkoordinasi Dalam upaya pengembangan objek wisata goa liang tapah ini sering melakukan koordinasi dalam bentuk musyawarah yang melibatkan pihak-pihak terkait seperti dinas pariwisata, ketua BPD, dan masyarakat sekitar lainya. Yang jangka waktu dalam rapat atau musyawarah ini di lakukan dalam waktu 3 . bulan sekali yang bertempat digoa liang tapah itu Kemampuan Organisasi Untuk Melakukan Kemitraan Eksternal. Kemampuan organisasi dalam melakukan kemitraan ekternal adalah salah satu bentuk upaya dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini. Yang mana dalam upaya Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 pengembangan ini mesti melibatkan bebrapa kemitraan eksternal semisal dari dinas pariwisata Kabupaten Tabalong. Yang juga merupakan aktor peran utama dalam pengembangan ini yang melakukan mitra juga dengan aparatur desa, pihak pokdarwis dan masyarakat sekitar. Bentuk kemitraan yang diakukan oleh Aparatur Desa ke Pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong sudah berjalan dengan baik, kemudian kontribusi yang diberikan oleh pihak-pihak terkait sudah memberikan peranan yang cukup membantu bagi pihak pengelola khususnya pokdarwis sendiri. Kemampuan Organisasi Dalam Mengembangkan Produk-Produk Pariwisata. Mengembangkan produk-produk pariwisata merupakan peran dari setiap lembaga terkait yang akan mempengaruhi bagaimana nantinya objek wisata goa liang tapah ini akan berjalan dengan baik, baik itu dalam pengelolaan fisik dan lain sebagainya, karena dengan adanya produk-produk pariwisata inilah yang nantinya akan juga menambah daya tarik bagi para pengunjung yang akan berwisata ke goa liang tapah ini khususnya. Peran lembaga-lembaga terkait atau capasity building dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah dari bentuk produk-produk pariwisata yang telah dikembangkan berupa sarana prasarana, kemudian penunjang daya tarik daripada cendremata bagi para pengunjung agar menambah kekhasan dari objek wisata goa liang tapah ini. Kemudian harapannya ke depan semoga lebih baik lagi agar memberikan hal yang positif bagi para masyarakat sekitar yang berjualan agar pendapataan mereka juga bertambah seiring bertambah pula para pengunjung. Kemampuan Organisasi Untuk Melakukan Promosi Destenasi Pariwisata. Pengembangan objek wisata goa liang tapah ini tentu tidak lepas dari yang namanya upaya promosi yang di lakukan oleh pihak terkait lainnya agar lebih meningkatkan daya tarik bagi para pengunjung itu sendiri. Sehingga JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 para pengunjung yang datang tidak hanya dari masyarakat lokal daerah tersebut bisa juga dari luar daerah atau bahkan luar provinsi. Dengan adanya promosi daya tarik yang mempengaruhi hasil pendapatan bagi pihak Bentuk promosi yang sudah diupayakan oleh pihakpihak terkait maka peneliti ingin memperdalam lagi jawaban dari berbagai informan yang mana telah disampaikan oleh bapak Midra selaku . epala des. garagata, bapak adif selaku . etua BPD) dan bapak Hendra selaku . etua pokdarwi. yang menyatakan bahwa para pengunjung ini ada juga yang berasal dari luar daerah kita yaitu turis asing. Kendala Yang Dihadapi Oleh LembagaLembaga Terkait Dalam Melakukan Upaya Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Dari beberapa bentuk upaya yang sudah dilakukan dalam pengembangan objek wisata ini baik dalam pelaksanaan program atau kegiatan yang berasal dari hasil rapat atau musyawarah dari pihak-pihak lainnya, tentu masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pemerintah desa, dan pihak pengelola itu sendiri yaitu pokdarwsis. Sehingga proses upaya pengembangan objek wisata goa liang tapah ini menjadi terhambat atau belum maksimal. Status Kepemilikan Tanah Yang Masih Masuk Kawasan. Pengembangan objek wisata goa liang tapah ini tentu masih ada kendala yang memang dihadapi oleh pihak-pihak terkait dan memungkinkan tidak makasimalnya kegiatan pengembangan secara lancar. Bahwa harapan dari pihak-pihak lainya semoga status kepemilikan tanah pada objek wisata goa liang tapah ini bisa dihibahkan kepihak desa garagata agar pengelolaan goa liang tapah ini bisa maksimal. Keterbatasan dana untuk pengelolaan. Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 Pada setiap pengembangan tentu dana adalah bagian utama yang sangat diperlukan karena dana adalah penunjang yang sangat penting bagi setiap organisasi yang ingin mengelola dan mengembangkan apa saja yang mereka Termasuk pada upaya pengembamgan objek wisata goa liang tapah ini. Kurangnya dana dalam pengelolaan dan pengembangan objek wisata goa liang tapah ini masih memerlukan dana yang cukup besar untuk membantu pengembangan objek wisata goa liang tapah ini. Sarana Prasarana Belum Memadai. Pada upaya yang mendukung dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini tentu sangat memerlukan sarana dan lain keberhasilan pengelolaan objek wisata goa liang tapah ini. Karena jika sarana dan prasarana nya kurang memadai ataupum masih banyak yang perlu ditambah dan diperbaiki maka sangat besar harapan dari pihak pengelola agar dalam memperhatikan bagaimana sarana dan prasarana ini dipenuhi secara layak dan baik. Bahwa masih ada beberapa saran dan masukan yang memang perlu dibenahi dalam upaya pengembangan objek wisata goa liang tapah ini. Khususnya dalam 3 . kendala yang dihadapi yaitu: Status tanah kepemilikan masih masuk kawasan, yang kedua keterbatasan dana, dan yang terakhir sarana prasarana masih belum memadai. Jadi harapan dari pihak pengelola semoga kedepannya bisa berjalan dengan baik dan Pembahasan Pembahasan temuan merupakan gagasan peneliti dari keterkaitan antara kategori-kategori dan deminsi-deminsi, temuan-temuan sebelumnya, serta penafsiran dan penjelasan dari temuan yang diungkap dari lapangan. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Penerapan Capasity Building Dalam Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata Kecematan Jaro. Penerapan pengembangan objek wisata goa liang tapah ini tidak lepas dari kemampuan organisasi atau lembaga terkait . apasity buildin. yang perlu menekankan cara seorang aktor yang mengembangankan cara kepemimpinan dan koordinasi yang baik antar semua pihak agar berkesinambungan disetiap lembaga, serta dapat memaksimalkan semua hal yang berkaitan dengan pengembangan objek wisata goa liang tapah di Desa Garagata Kecematan Jaro Kabupaten Tabalong Berikut adalah uraian dari hasil pembahasan penelitian yang akan dibahas sesuai dengan 4 . point penting dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini yaitu. Kemampuan Organisasi Untuk Memimpin Dan Berkoordinasi. Kemampuan Organisasi Dalam Melakukan Kemitraan Eksternal. ) Kemampuan Organisasi Dalam Mengembangankan Produk-Produk Pariwisata. ) Kemampuan Organisasi Dalam Melakukan Promosi Destinasi Wisata. Kemampuan Organisasi Untuk Memimpin Dan Berkoordinasi. Kemampuan organisasi dalam berkoordinasi merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuan bersama. Berikut adalah beberapa konsep utama terkait kemampuan organisasi dalam berkoordinasi yang mencakup beberapa point yaitu: 1. Komunikasi yang Efektif. Komunikasi yang baik merupakan dasar dari koordinasi yang Organisasi perlu memiliki sistem komunikasi yang jelas dan terbuka. Komunikasi menghindari kesalahpahaman, meningkatkan kolaborasi, dan mempercepat alur kerja. Penggunaan Teknologi yang Mendukung Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 Koordinasi. Teknologi informasi dan sistem yang canggih dapat memfasilitasi koordinasi yang lebih baik dalam organisasi. Kemampuan Memimpin. Penerapan Capasity Building pengembangan objek wisata ini terkait tentang kemampuan Memimpin yang dilakukan oleh pihak-pihak pengelola, pihak Aparatur desa, dan pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong, telah sejalan juga dengan apa yang di sampaikan oleh (Millen, 2. yang menyatakan pemahaman, sikap, nilainilai, hubungan, perilaku, motivasi, sumber daya, dan kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap individu, untuk melaksanakan fungsi-fungsi mereka dan mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan dari waktu ke waktu. Kemampuan Berkoordinasi. Bentuk koordinasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait sudah melakukan pengembangan secara baik kepada aktoraktor yang terlibat (SDM) hal ini dibuktikan dalam hal bentuk keterlibatan beberapa pihak yang menjalankan tugasnya AparaturPemerintah Desa Garagata. Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong. Pihak pengelola Yaitu Pokdarwis Dan Masyarakat dalam pengelolaan pengembangan objek wisata goa liang tapah ini. Kemampuan organisasi untuk memimpin dan berkoordinasi pada penerapan capasity buulding dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini sudah menunjukkan hasil yang cukup maksimal, dan sudah sejalan dengan beberapa teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli terkait teori Capasity Building. Karena dalam hal ini sudah didukung dari hasil wawancara kepada beberapa pihak baik itu Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong. Aparatur Pemerintah Desa, dan pihak pokdarwis pada objek wisata goa liang tapah. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Kemampuann Organisasi Untuk Melakukan Kemitraan Eksternal. Kemampuan organisasi dalam melakukan kemitraan ekternal adalah salah satu bentuk upaya dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini, yang mana dalam upaya pengembangan ini mesti melibatkan bebrapa kemitraan eksternal semisal dari dinas pariwisata Kabupaten Tabalong, yang juga pengembangan ini yang melakukan mitra juga dengan Aparatur Desa, pihak pokdarwis dan masyarakat sekitar. Kemampuan Organisasi Untuk Melakukan Kemitraan Eksternal pada penerapan Capasity buulding dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini sudah menunjukkan hasil yang cukup maksimal. Karena dalam hal ini sudah didukung dari hasil wawancara kepada beberapa pihak baik itu Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong. Aparatur Pemerintah Desa, dan pihak pokdarwis pada objek wisata goa liang tapah. Kemampuan Organisasi Dalam Mengembangkan Produk-Produk Pariwisata. Dalam mengembangkan produk-produk pariwisata peran dari setiap lembaga terkait akan mempengaruhi bagaimana nantinya objek wisata goa liang tapah ini akan berjalan dengan baik, baik itu dalam pengelolaan fisik dan lain sebagainya. Karena adanya produkproduk pariwisata inilah yang nantinya akan juga menambah daya tarik bagi para pengunjung yang akan berwisata kegoa liang tapah ini. Maka dari itu perlu adanya perbaikan atau juga pengembangan dalam objek wisata goa liang tapah ini yang bertujuan agar memberikan feedback yang baik untuk objek wisata goa liang tapah itu sendiri dan juga para pengunjung bahkan juga beberapa masyarakat sekitar. Kemampuan mengembangkan produk-produk pariwisata pada penerapan capasity buulding dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini sudah menunjukkan hasil yang cukup Karena dalam hal ini sudah Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 didukung dari hasil wawancara kepada beberapa pihak baik itu Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong. Aparatur Pemerintah Desa, dan pihak pokdarwis pada objek wisata goa liang tapah. Kemampuan Organisasi Untuk Melakukan Promosi Destinasi Wisata. Dalam melakukan pengembangan objek wisata goa liang tapah ini tentu tidak lepas dari yang namanya upaya promosi destinasi meningkatkan daya tarik bagi para wisatawan itu sendiri Sehingga para pengunjung dan wisatawan yang datang tidak hanya dari masyarakat lokal daerah tersebut bisa juga dari luar daerah atau bahkan luar provinsi. Dengan adanya promosi daya tarik yang mempengaruhi hasil pendapatan bagi pihak pengelola dan bagi yang berjualan ditempat Maka dari itu sangat diperlukan yang namanya peran promosi destinasi wisata ini baik itu diberbagai sarana baik itu media dan lain sebagainya yang mendukung dalam upaya pengembangan kedepannya nanti. Kemampuan Organisasi Untuk Melakukan Promosi Destinasi Wisata pada penerapan capasity buulding dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini sudah menunjukkan hasil yang cukup maksimal. Karena dalam hal ini sudah didukung dari hasil wawancara kepada beberapa pihak baik itu Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong. Aparatur Pemerintah Desa, dan pihak pokdarwis pada objek wisata goa liang tapah. Kendala Yang Dihadapi Oleh LembagaLembaga Terkait DalamMelakukan Upaya Pengembangan Objek Wisata Goa Liang Tapah. Dalam melakukan upaya pengembangan baik dalam pelaksanaan program atau kegiatan yang berasal dari hasil rapat atau musyawarah pada pihak-pihak lainnya, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pemerintah desa, dan pihak pengelola itu sendiri yaitu pokdarwsis. Sehingga proses JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 upaya pengembangan objek wisata goa liang tapah ini menjadi terhambat atau belum Status Kepemilikan Tanah Yang Masih Masuk Kawasan. Status kepemilikan tanah menentukan siapa yang memiliki hak sah untuk menggunakan, mengontrol, dan memanfaatkan tanah Tanah dapat dimiliki oleh individu, kelompok, atau entitas hukum seperti perusahaan atau pemerintah. Dari masalah ini lah yang menjadi faktor utama sehingga kami pihak terkait khususnya juga dari dinas pariwisata Kabupaten Tabalong melakukan bnyak hal karena status tanah goa liang tapah ini sedikit terhabat pada upaya Tetapi untuk tahun ini kami sudah usahakan agar kendala ini semoga bisa diselesaikan dan pada pengembangan ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Keterbatasan dana untuk pengelolaan. Keterbatasan dana untuk pengelolaan mengacu pada situasi di mana organisasi atau entitas tidak memiliki sumber daya keuangan yang cukup untuk mengelola atau mengoperasikan suatu proyek, program, atau kegiatan secara optimal. Dari permasalahan selanjutnya dapat disimpulkan bahwa dana memang sangat Keterbatasan dana yang dihadapi oleh pihak-pihak terkait lainnya dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini juga mengacu pada prioritas penggunaan dana yang dipindah alihkan karena faktor utamalah sehingga aparatur pemerintah Desa Garagata mengalihkannya untuk pembuatan bank sampah yang secara efektivitas akan membantu masyarakat Desa Garagata. Sarana Prasarana Belum Memadai. Sarana dan prasarana penunjang objek wisata sangat penting karena berperan dalam Http://jurnal. id/index. php/JAPB ISSN : 2723-0937 meningkatkan daya tarik destinasi, dan mendukung keberlanjutan industri pariwisata secara keseluruhan. Dari permasalahan diatas mengapa pentingnya sarana prasarana penunjang dalam objek wisata goa liang tapah ini agar meningkatkan Kepuasan Wisatawan. Sarana prasarana yang baik seperti jalan yang layak, parkir yang memadai, fasilitas toilet dan tempat istirahat, serta transportasi umum yang mudah diakses dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan wisatawan. Dengan demikian dapat disimpulan bahwa dalam proses penerapan capasity building dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah ini harus dilakukan dengan pengkajian yang benarbenar siap dalam segala aspek yang menjadi faktor kendala sehingga dapat meminimalisir kedepannya nanti. PENUTUP Kesimpulan Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pihak-pihak terkait yaitu lembaga-lembaga yang mengelola Objek Wisata Goa Liang Tapah Pada Desa Garagata Kecematan Jaro, dengan menggunakan Teknik Pengumpulan Data Observasi. Wawancara dan Dokumentasi maka dapat disimpulkan bahwa: Dalam penerapan capasity building dalam pengembangan objek wisata goa liang tapah desa garagata ini sudah menjalankan pengembangan yang cukup maksimal dari beberapa pihak yang terlibat didalamnya. Dalam hal ini sudah sesuai dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Adapun kendala yang dihadapi oleh pihakpihak terkait dalam proses pengembangan objek wisata goa liang tapah ini salah satu faktor utamanya adalah status tanah yang menjadi objek wisata goa liang tapah ini masih menjadi milik kawasan. JAPB : Volume 7 Nomor 2, 2024 Saran Harapannya pada proses pengembangan objek wisata goa liang tapah ini kedepannya agar tetap bisa mempertahankan asas kearifan lokal, struktural keaslian dan kealamian dari goa liang tapah ini esensi aslinya, menjaga kebersihan lingkungan. Diharapkan juga melakukan rapat atau masyarakat, tokoh masyarakat pihak lembagalembaga pengelola yang terkait untuk Audit Identifikasi Kepemilikan Tanah. Dari permasalaha terkait keterbasan dana untuk pengelolaan ini maka diharapkan kedepannya agar pihak terkait bisa berkolaborasi melakukan kemitraan dengan pengembangan objek wisata. Adapun kendala yang terakhir adalah sarana prasarana belum memadai, dari hal ini maka diharapkan kedepannya bahwa agar mampu bekerjasama dengan pihak swasta untuk mendukung pengembangan infrastruktur. DAFTAR PUSTAKA