Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Improving Student Learning Outcomes in Zakat Education Using Teaching Aids for Grade VI at MI Al-Huda Ploso Imam Mohtar1. Abdurrasid 2 1 MI AL Huda Ploso 2 MI Raudlatus Shaulatiyah Nw Suare Correspondence: mohtar18@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Zakat, teaching aids, learning outcomes, classroom action research. Grade VI. MI Al-Huda Ploso. Islamic education. ABSTRACT This study aims to improve the learning outcomes of students in the topic of Zakat at MI Al-Huda Ploso, specifically for Grade VI students, during the first semester of the 2023-2024 academic year, through the use of teaching aids. Zakat, as one of the core pillars of Islam, is an essential topic that students need to understand not only in theory but also in practical However, students often struggle to grasp the concepts and calculations related to Zakat. The use of teaching aids is seen as an effective method to enhance understanding and make learning more interactive. The research adopts a classroom action research (CAR) approach, focusing on improving student engagement and comprehension through the use of visual aids, such as charts, diagrams, and interactive models. The study was conducted in two cycles, with each cycle consisting of planning, action, observation, and reflection. Data was collected through observations, interviews, and pre- and post-tests to assess students' knowledge before and after the intervention. The findings indicate a significant improvement in students' understanding of Zakat after using teaching aids. Students showed more active participation in lessons, and their ability to explain Zakat concepts and perform calculations also improved. The use of teaching aids helped students visualize abstract concepts and provided them with concrete examples to facilitate learning. This study concludes that teaching aids are an effective tool to improve studentsAo learning outcomes in religious education, especially in understanding complex topics like Zakat. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan pemahaman siswa terhadap ajaran agama. Salah satu materi penting dalam pendidikan agama Islam di sekolah dasar adalah pengajaran mengenai zakat, yang merupakan salah satu rukun Islam. Zakat tidak hanya sebagai kewajiban agama, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang penting, di mana zakat membantu distribusi kekayaan dan pemberdayaan masyarakat. Namun, meskipun zakat merupakan konsep dasar dalam Islam, banyak siswa yang kesulitan untuk memahami cara menghitung zakat dan mengaitkan konsep tersebut dengan kehidupan seharihari mereka (Budi, 2. Pembelajaran zakat di sekolah dasar sering kali dilakukan secara teoritis dengan mengandalkan penjelasan dari guru dan materi yang disampaikan melalui teks buku. Model pembelajaran seperti ini cenderung mengabaikan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar, sehingga pemahaman siswa terhadap zakat menjadi terbatas. Selain itu, pendekatan yang hanya berfokus pada hafalan dan konsep abstrak membuat siswa kesulitan untuk mengaplikasikan pengetahuan zakat dalam kehidupan nyata (Fitria, 2. Oleh karena itu, diperlukan metode Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan agar siswa dapat lebih memahami konsep zakat dengan baik. Salah satu solusi yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran zakat adalah penggunaan alat Alat peraga, seperti diagram, gambar, atau model fisik, dapat membantu siswa memvisualisasikan konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkret. Pembelajaran zakat yang menggunakan alat peraga dapat membuat siswa lebih mudah memahami cara menghitung zakat, memahami jenis-jenis zakat, serta mengaitkannya dengan konteks sosial yang relevan (Khoiriy, 2. Dengan alat peraga, siswa dapat berinteraksi langsung dengan materi yang diajarkan, sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Pentingnya penggunaan alat peraga dalam pembelajaran juga didasarkan pada prinsip konstruktivisme yang mengutamakan pengalaman langsung dalam proses belajar. Menurut teori konstruktivisme, pengetahuan dibangun melalui interaksi siswa dengan lingkungan dan materi pelajaran. Dengan menggunakan alat peraga, siswa dapat mengeksplorasi dan membangun pemahaman mereka sendiri tentang zakat, bukan hanya menerima informasi dari Hal ini tentu akan membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi zakat secara lebih mendalam (Sugiarto, 2. Alat peraga juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan minat siswa untuk belajar lebih lanjut tentang zakat. Di MI Al-Huda Ploso, pembelajaran zakat masih menggunakan metode konvensional, yang seringkali membuat siswa merasa jenuh dan tidak tertarik. Dalam observasi yang dilakukan, banyak siswa yang kurang bersemangat dalam mengikuti pembelajaran zakat, dan hasil belajar mereka cenderung rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya pendekatan yang inovatif dalam pengajaran zakat, yang tidak mengoptimalkan penggunaan media atau alat peraga dalam proses belajar. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan baru yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa, seperti penggunaan alat peraga dalam pembelajaran zakat (Alfiansyah, 2. Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa lebih memahami materi zakat secara konkret. Misalnya, dengan menggunakan diagram perhitungan zakat, siswa dapat dengan mudah memvisualisasikan bagaimana cara menghitung zakat mal, zakat fitrah, dan zakat profesi. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami, terutama bagi siswa yang kesulitan dalam memahami konsep matematika yang terkait dengan zakat. Selain itu, alat peraga dapat memperjelas perbedaan antara berbagai jenis zakat, seperti zakat fitrah dan zakat mal, yang sering kali membingungkan bagi siswa (Nisa, 2. Selain itu, alat peraga juga memungkinkan siswa untuk bekerja secara lebih kolaboratif. Dalam pembelajaran zakat dengan alat peraga, siswa dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diberikan tugas untuk menghitung zakat dengan menggunakan diagram atau alat peraga yang disediakan. Melalui diskusi dan kolaborasi dalam kelompok, siswa dapat saling membantu untuk memahami cara perhitungan zakat dan berbagi pemahaman mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman zakat, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial siswa dalam bekerja sama (Junaidi, 2. Salah satu alasan mengapa pembelajaran zakat perlu menggunakan alat peraga adalah karena zakat merupakan materi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan menggunakan alat peraga, siswa dapat melihat secara langsung bagaimana zakat berperan dalam kehidupan sosial, seperti distribusi kekayaan kepada yang membutuhkan. Hal ini memungkinkan siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan situasi nyata di lingkungan mereka. Pembelajaran zakat yang mengaitkan ajaran agama dengan kenyataan sosial akan lebih mudah dipahami dan relevan bagi siswa (Lestari, 2. Pada siklus pertama penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat, ditemukan bahwa siswa lebih tertarik dan lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi dan kegiatan perhitungan zakat. Sebelumnya, siswa merasa kesulitan dan kurang tertarik saat belajar zakat secara teoritis. Namun, setelah menggunakan alat peraga, siswa menunjukkan peningkatan dalam hal Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pemahaman materi dan keterlibatan dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya menghafal rumus zakat, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dengan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari mereka (Budi, 2. Dalam siklus kedua, perbaikan dilakukan berdasarkan refleksi siklus pertama. Pada siklus ini, alat peraga yang digunakan lebih bervariasi dan melibatkan lebih banyak aktivitas praktis. Misalnya, siswa diajak untuk melakukan simulasi zakat fitrah dengan menggunakan uang palsu atau barang-barang tertentu untuk menghitung zakat sesuai dengan jenisnya. Dengan cara ini, siswa dapat lebih memahami dan merasakan langsung bagaimana zakat diterapkan dalam kehidupan nyata. Aktivitas seperti ini meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan (Wahyu, 2. Namun, tantangan dalam penggunaan alat peraga tetap ada, terutama dalam hal ketersediaan alat yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Beberapa alat peraga yang digunakan mungkin kurang memadai atau sulit dipahami oleh siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk terus mengembangkan dan menyesuaikan alat peraga agar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Selain itu, guru juga perlu mengembangkan kreativitas dalam merancang alat peraga agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif (Sugiarto, 2. Meskipun demikian, hasil dari penggunaan alat peraga dalam pembelajaran zakat menunjukkan bahwa metode ini efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa tidak hanya lebih memahami materi zakat secara teoritis, tetapi juga lebih mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam konteks kehidupan mereka. Pembelajaran zakat yang mengutamakan visualisasi dan interaksi aktif membantu siswa memahami zakat dengan cara yang lebih mudah dan menyenangkan (Indah, 2. Secara keseluruhan, penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat di MI Al-Huda Ploso menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Penggunaan alat peraga membantu siswa untuk lebih memahami konsep-konsep abstrak seperti perhitungan zakat dengan cara yang lebih praktis dan menyenangkan. Pembelajaran zakat yang mengoptimalkan penggunaan alat peraga memungkinkan siswa untuk lebih mengaplikasikan nilai-nilai zakat dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran agama Islam (Alfiansyah, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran zakat di MI Al-Huda Ploso melalui penggunaan alat peraga. PTK dipilih karena metode ini memungkinkan guru untuk secara langsung merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi tindakannya dalam kelas untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Dengan menggunakan PTK, guru dapat mengidentifikasi masalah dalam proses pembelajaran, kemudian melakukan perbaikan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam materi zakat (Budi, 2. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran mendalam mengenai peningkatan pemahaman siswa terhadap materi zakat setelah penerapan alat peraga. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen pembelajaran, seperti catatan tugas dan hasil tes. Observasi dilakukan untuk melihat bagaimana penggunaan alat peraga memengaruhi keterlibatan siswa dalam diskusi dan kegiatan perhitungan zakat, sementara wawancara bertujuan untuk menggali pandangan guru dan siswa mengenai efektifitas metode ini (Fitria, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri dari empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, guru memperkenalkan alat peraga yang sederhana seperti grafik dan diagram untuk membantu siswa memahami konsep zakat dan cara perhitungannya. Setelah pelaksanaan siklus pertama, refleksi dilakukan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 untuk menilai apakah penggunaan alat peraga telah berhasil meningkatkan pemahaman siswa. Jika diperlukan, perbaikan dilakukan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil evaluasi (Khoiriy, 2. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif dengan cara mendeskripsikan temuan observasi, wawancara, dan dokumen. Observasi akan dianalisis untuk melihat bagaimana siswa berpartisipasi dalam pembelajaran menggunakan alat peraga dan apakah alat tersebut membantu mereka dalam memahami materi zakat dengan lebih baik. Wawancara dengan guru dan siswa akan dianalisis untuk memahami pengalaman mereka terhadap penggunaan alat peraga, serta tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran. Hasil tes dan tugas akan dianalisis untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa secara objektif (Sugiarto, 2. Melalui penelitian ini, diharapkan penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran zakat di MI Al-Huda Ploso. Dengan memberikan alat yang membantu visualisasi konsep zakat, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami cara perhitungan zakat serta mengaitkan konsep tersebut dengan kehidupan sehari-hari mereka. Penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat ini juga diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar lebih aktif. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat di MI Al-Huda Ploso, ditemukan bahwa penggunaan alat peraga memberikan dampak yang signifikan terhadap keterlibatan siswa. Sebelumnya, pembelajaran zakat sering dianggap sulit dan membosankan karena siswa hanya mengandalkan hafalan dan teori yang abstrak. Namun, setelah penerapan alat peraga, seperti diagram dan grafik, siswa terlihat lebih tertarik dan aktif dalam mengikuti Mereka dapat lebih mudah memahami konsep zakat, terutama dalam perhitungan zakat mal dan zakat fitrah, karena alat peraga memberikan visualisasi yang lebih jelas dan Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dapat membuat materi yang sulit menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa (Budi, 2. Salah satu temuan utama yang ditemukan selama observasi adalah peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep dasar zakat. Sebelumnya, banyak siswa yang kesulitan membedakan jenis-jenis zakat dan cara perhitungannya. Namun, setelah menggunakan alat peraga, siswa dapat lebih mudah mengidentifikasi perbedaan antara zakat fitrah dan zakat mal. Diagram yang digunakan untuk memvisualisasikan perbedaan jenis zakat memungkinkan siswa untuk melihat dengan jelas cara menghitung zakat sesuai dengan jenis harta yang dimiliki. Ini menunjukkan bahwa alat peraga dapat membantu menyederhanakan konsep yang kompleks dan membuatnya lebih mudah dipahami oleh siswa (Fitria, 2. Selain itu, penggunaan alat peraga juga meningkatkan interaksi siswa selama diskusi Dalam siklus pertama, guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil dan memberikan tugas untuk menghitung zakat menggunakan alat peraga yang sudah disiapkan. Aktivitas ini mengundang partisipasi aktif, di mana siswa saling berdiskusi dan membantu satu sama lain dalam menyelesaikan tugas. Beberapa siswa yang awalnya cenderung diam dan tidak aktif dalam pembelajaran mulai berbicara lebih banyak dan memberikan pendapat dalam Diskusi yang terarah ini membantu siswa untuk lebih memahami cara perhitungan zakat dan meningkatkan rasa percaya diri mereka (Khoiriy, 2. Namun, meskipun hasil yang diperoleh sangat positif, tantangan juga muncul dalam penerapan alat peraga pada siklus pertama. Beberapa siswa masih merasa kesulitan dalam memahami cara menggunakan alat peraga, terutama yang berkaitan dengan perhitungan zakat mal. Meskipun alat peraga sudah disiapkan dengan baik, ada beberapa siswa yang merasa bingung dengan bagaimana mengaplikasikan alat tersebut dalam konteks zakat harta. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun alat peraga sudah membantu visualisasi, masih ada kebutuhan untuk Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memberikan penjelasan yang lebih rinci dan memberikan lebih banyak latihan praktis agar siswa lebih mahir dalam menggunakan alat tersebut (Sugiarto, 2. Pada siklus kedua, refleksi dari siklus pertama menunjukkan bahwa perlu ada peningkatan dalam cara pengenalan alat peraga kepada siswa. Guru mulai memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang bagaimana cara menggunakan alat peraga sebelum memulai tugas Guru juga memperkenalkan lebih banyak variasi alat peraga, seperti tabel perhitungan zakat dan video tutorial yang menjelaskan langkah-langkah zakat. Dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan penjelasan yang lebih mendalam, siswa dapat lebih memahami cara menggunakan alat peraga dan menerapkannya dalam perhitungan zakat dengan lebih baik. Hal ini menunjukkan pentingnya persiapan yang matang dalam penggunaan alat peraga (Lestari, 2. Selain itu, pada siklus kedua, peningkatan juga terlihat pada minat siswa dalam mengikuti pelajaran zakat. Penggunaan alat peraga yang lebih bervariasi dan interaktif membuat siswa merasa lebih tertarik untuk mengikuti pelajaran dan lebih semangat dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Salah satu temuan yang signifikan adalah adanya peningkatan motivasi siswa yang lebih aktif dalam bertanya dan mencari jawaban mengenai zakat. Mereka mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih besar mengenai bagaimana zakat dapat dihitung dan diterapkan dalam kehidupan mereka, sehingga mereka tidak hanya melihat zakat sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang harus dipahami dengan baik (Wahyu, 2. Pada siklus kedua, selain peningkatan minat, juga terdapat peningkatan dalam pemahaman siswa tentang aplikasi zakat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan alat peraga yang memperlihatkan contoh-contoh kasus nyata, seperti perhitungan zakat untuk petani, pedagang, dan profesi lainnya, siswa mulai lebih mudah mengaitkan konsep zakat dengan situasi sosial yang mereka hadapi. Mereka dapat memahami dengan lebih jelas bahwa zakat bukan hanya terkait dengan uang, tetapi juga dengan jenis harta lainnya yang perlu dikeluarkan Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dapat membantu siswa melihat relevansi zakat dengan kehidupan mereka (Nisa, 2. Penerapan alat peraga juga memperlihatkan pengaruh positif terhadap kemampuan siswa dalam menghitung zakat. Sebelumnya, banyak siswa yang merasa kesulitan dalam melakukan perhitungan zakat, terutama zakat mal. Namun, setelah penggunaan alat peraga, seperti tabel dan diagram perhitungan, siswa dapat melakukan perhitungan dengan lebih mudah dan cepat. Mereka dapat melihat langkah-langkah perhitungan dengan jelas dan mengikuti prosedur yang ada tanpa kebingungannya. Peningkatan keterampilan ini menunjukkan bahwa alat peraga berperan penting dalam mempermudah pemahaman konsep-konsep matematika yang terkait dengan zakat (Indah, 2. Meski demikian, pada siklus kedua, tantangan yang dihadapi adalah ketidakmerataan kecepatan belajar antar siswa. Beberapa siswa yang sudah lebih cepat memahami materi dan alat peraga cenderung maju lebih cepat dalam menyelesaikan tugas, sementara yang lain masih membutuhkan waktu lebih banyak. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu memberikan perhatian lebih kepada siswa yang lebih lambat dalam memahami materi dan memberi mereka waktu lebih banyak untuk berlatih. Ini juga menunjukkan pentingnya perbedaan pendekatan dalam pengajaran untuk memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki kecepatan belajar yang berbedabeda (Sugiarto, 2. Namun, secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran zakat sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Siswa menjadi lebih aktif dan lebih mudah memahami materi zakat yang sebelumnya dianggap rumit. Selain itu, alat peraga membantu siswa untuk melihat hubungan langsung antara pengetahuan yang mereka peroleh dengan praktik kehidupan sehari-hari, khususnya dalam hal distribusi kekayaan dan pengelolaan harta secara islami (Alfiansyah, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Secara keseluruhan, penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat terbukti memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa. Pembelajaran zakat yang lebih berbasis pada pengalaman dan interaksi aktif dengan alat peraga memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang aktif dan kolaboratif juga membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi zakat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, penggunaan alat peraga dapat menjadi metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan zakat di MI Al-Huda Ploso. CONCLUSION Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat di MI Al-Huda Ploso memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Alat peraga, yang digunakan untuk memvisualisasikan konsep-konsep abstrak dalam zakat, terbukti efektif dalam membantu siswa memahami materi yang sebelumnya sulit dipahami, seperti perhitungan zakat mal dan zakat fitrah. Dengan menggunakan alat peraga, siswa dapat dengan mudah menggambarkan perbedaan jenis zakat, cara menghitungnya, serta aplikasi zakat dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran zakat yang berbasis pada visualisasi ini membantu siswa memahami konsep secara lebih konkret dan Salah satu temuan utama dalam penelitian ini adalah peningkatan partisipasi siswa dalam Sebelum penggunaan alat peraga, siswa lebih cenderung pasif, lebih banyak mendengarkan penjelasan guru, dan tidak terlalu aktif dalam berdiskusi atau bertanya. Namun, setelah menggunakan alat peraga, siswa menjadi lebih terlibat dalam proses pembelajaran, aktif berdiskusi dalam kelompok, dan lebih mudah menyampaikan pendapat mereka. Alat peraga membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif, di mana siswa merasa lebih termotivasi untuk belajar dan berbagi pengetahuan. Selain itu, alat peraga juga meningkatkan pemahaman siswa terhadap aplikasi zakat dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, banyak siswa yang hanya melihat zakat sebagai kewajiban agama tanpa memahami bagaimana zakat dapat diterapkan dalam konteks sosial mereka. Dengan menggunakan alat peraga, siswa diberi kesempatan untuk menghubungkan konsep zakat dengan kehidupan nyata, seperti bagaimana zakat dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini membantu siswa melihat relevansi zakat bukan hanya dalam konteks ibadah, tetapi juga sebagai alat sosial yang Peningkatan hasil belajar juga terlihat dalam kemampuan siswa dalam menghitung zakat. Sebelum menggunakan alat peraga, banyak siswa yang kesulitan dalam menghitung zakat mal atau zakat fitrah, terutama terkait dengan jumlah yang harus dikeluarkan dan jenis harta yang dikenakan zakat. Namun, dengan adanya alat peraga, seperti diagram atau tabel perhitungan, siswa dapat mengikuti langkah-langkah perhitungan dengan lebih mudah dan cepat. Alat peraga memungkinkan siswa untuk memvisualisasikan proses perhitungan dengan lebih jelas, sehingga mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Namun, meskipun hasil yang diperoleh sangat positif, terdapat beberapa tantangan yang masih perlu diperhatikan. Salah satunya adalah keberagaman kemampuan siswa dalam memahami Beberapa siswa yang lebih cepat memahami materi zakat dan penggunaan alat peraga cenderung merasa lebih cepat selesai, sementara siswa lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk memahaminya. Oleh karena itu, guru perlu memberikan perhatian lebih kepada siswa yang kesulitan dan memberikan kesempatan lebih banyak untuk berlatih. Selain itu, meskipun alat peraga sangat membantu, guru juga perlu memastikan bahwa alat tersebut digunakan dengan cara yang tepat dan efektif agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh siswa, baik yang cepat maupun yang lambat dalam memahami materi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Secara keseluruhan, penerapan alat peraga dalam pembelajaran zakat di MI Al-Huda Ploso terbukti meningkatkan pemahaman siswa, keterlibatan mereka dalam pembelajaran, serta aplikasi konsep zakat dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga bukan hanya membantu menyederhanakan konsep-konsep abstrak, tetapi juga meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif dalam belajar. Dengan terus mengembangkan penggunaan alat peraga yang lebih variatif dan melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar, diharapkan pembelajaran zakat dapat semakin efektif dan menyenangkan bagi siswa. Hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas pendidikan agama di MI Al-Huda Ploso dan memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter dan pemahaman agama siswa secara keseluruhan. REFERENCES