52 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 17. Nomor 1. April, 2025 . Hal 52-70 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Analisis Riwayat Israiliyat tentang Kisah Nabi Daud dalam Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Abdurrazzaq Ash-Shan'ani . tudi QS. Shad. : 21-. Muhammad Aminullah* Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin aminullahbakry@gmail. Koresponden* Najib Irsyadi Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin najibirsyad@uin-antasari. Abstract This study analyzes the Israiliyat narrations about Prophet David in QS. Shad . :21-. , which recounts his encounter with two disputing individuals. focuses on how Ibn Jarir ath-Thabari and Abdurrazzaq ash-Shan'ani use Israiliyat in their interpretations and examines the sources and validity of these this study Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, this research relies on Tafsir ath-Thabari. Tafsir Abdurrazzaq ash-Shan'ani, and other relevant sources. The findings reveal differences in the sanad and interpretative structures, yet both Tafsir works share a common initial source from al-Hasan. The narration describes the verse as both a test for Prophet Dawud and a reprimand, mentioning that he intended to marry the wife of his subordinate. To evaluate the authenticity of these narrations, this study refers to the perspectives of classical and contemporary Tafsir scholars. Keywords: Prophet Dawud. Israiliyat narratives, interpretation. PENDAHULUAN Dalam kajian Tafsir, riwayat Israiliyat merupakan kisah-kisah dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang masuk dalam penafsiran ayat al-QurAoan, (Ali Mursyid & Zidna Khaira Amalia, 2016, hlm. terutama untuk menjelaskan kisah para Nabi dan peristiwa sejarah yang tidak dijelaskan secara rinci dalam al-QurAoan. yang membuat mufassir kesulitan untuk menjelaskannya dari segi sejarah, terutama untuk menjelaskan tokoh-tokoh yang berperan dalam kisah itu serta saat berupaya untuk membahas cerita-cerita itu dengan lebih mendetail 53 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 dan mendalam. Oleh karena itu, para mufassir mengutip riwayat dari ahli kitab selaku kaum yang memiliki hubungan erat dengan kisah-kisah yang disebutkan di dalam al-QurAoan. (Mohamad Saofi, 2020, hlm. keterkaitan antara mufassir dan keterangan ahli kitab ini yang kemudian melatar belakangi masuknya riwayat Israiliyat dalam sumber keilmuan Tafsir al-QurAoan. Namun, penggunaan riwayat Israiliyat dalam tafsir menimbulkan perdebatan di kalangan ulama, terutama terkait keabsahan dan dampaknya terhadap pemahaman ayat. Salah satu kisah yang sering dikaitkan dengan riwayat Israiliyat adalah kisah Nabi Daud dalam QS. Shad ayat 21-25, dalam beberapa tafsir diceritakan dengan narasi bahwa Nabi Daud menginginkan istri bawahannya sendiri. Dalam Tafsir ath-Thabari dan Tafsir Abdurrazzaq ashShanAoani, riwayat Israiliyat digunakan dalam menafsirkan ayat tersebut, dengan jalur sanad yang sama dari al-Hasan tetapi sanad nya berbeda dan pendekatan tafsir yang tidak selalu sejalan dengan prinsip kemaksuman Nabi. Hal ini menimbulkan beberapa permasalahan mendasar: Bagaimana bentuk dan isi riwayat Israiliyat yang digunakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-ShanAoani dalam menafsirkan QS. Shad ayat 21-25? Bagaimana perbedaan dan persamaan dalam metode penafsiran yang digunakan oleh kedua mufassir dalam menyajikan dan menganalisis riwayat Israiliyat tersebut? Sejauh mana keabsahan riwayat Israiliyat yang digunakan dalam kedua kitab tafsir tersebut berdasarkan pandangan ulama tafsir klasik dan Apa implikasi dari penggunaan riwayat Israiliyat ini terhadap pemahaman umat Islam mengenai kisah Nabi Daud? Dengan meneliti persoalan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana penggunaan riwayat Israiliyat dalam tafsir klasik, serta memberikan perspektif kritis terhadap validitasnya dalam studi tafsir, untuk memahami lebih mendalam maka pentinglah terlebih dahulu untuk mengetahui apa itu sebenarnya riwayat israiliyat menurut pandangan para Definisi Israiliyat Menurut Muhammad Khalaf al-Husaini, kata Israiliyat merupakan bentuk jamak dari kata israiliyah . sim, kata bend. disandarkan pada kata israil yang berasal dari bahasa Ibrani yang berarti hamba Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 54 Tuhan, . usdie anwar, 2015, hlm. Secara leksikal. Israiliyat adalah masdar shinai'y dari kata AuisrailAy yang merupakan gelar Nabi Ya'kub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Nabi Ya'kub adalah nenek moyang bangsa Yahudi, karena kedua belas suku bangsa Yahudi yang terkenal itu berasal darinya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa "Israiliyat" berarti, seorang raja, pejuang di jalan Allah. Israiliyat adalah lafazh jamaAo dari Israiliyah. achmat syafeAoi, 2006, hlm. Menurut Amin al-Khulli. Israiliyat merupakan percampuran antara kisah-kisah dari agama dan kepercayaan lain yang masuk ke jazirah Arab Islam. pada masa awal Islam, kisah-kisah tersebut diperkenalkan oleh orang-orang Yahudi yang sejak lama berkelana ke arah Timur menuju Babilonia, dan ke arah Barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negara asal, mereka membawa beragam berita keagamaan yang mereka jumpai dari setiap negara yang pernah mereka singgahi. usdie anwar, 2015, hlm. Riwayat ini biasanya di pakai oleh Para mufasir klasik yang menggunakan metode bil-matsur, (Daflani, t. seperti Ibnu Jarir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-Shan'ani, di samping sisi positif adanya riwayat Israiliyat yang memperkaya penjelasan dalam kitab-kitab Tafsir muncul sebuah polemik yaitu kesalahpahaman pembaca dalam memahami riwayat tersebut yang terkadang menyimpang dari (Hawirah, 2018, hlm. para mufassir dalam mengunakan riwayat Israiliyat ada yang menjelaskan sanad dan keabsahan dari riwayat yang mereka masukkan, akan tetapi ada juga yang tidak menuliskan sanad maupun tanggapan keabsahan dari riwayat yang diambil dalam menafsirkan ayat al-QurAoan. oleh karena itu, dalam menghadapi riwayat tersebut, para ulama memberikan berbagai panduan dan kriteria untuk menilai keabsahan riwayat tersebut agar tetap sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang murni dan tidak menimbulkan kekeliruan. Sebagian ulama modern dan kontemporer membagi Israiliyat menjadi tiga Israiliyat yang sesuai dengan syariat Islam. Yaitu riwayat yang sesuai dan didukung oleh al-QurAoan dan hadis. Seperti riwayat tentang Nabi Musa dengan Nabi Khaidir. Israiliyat yang bertentangan dengan syariat Islam. Yaitu riwayat yang bertentangan baik dari akidah islam, logika, dan dalil shahih seperti riwayat Nabi Daud yang menginginkan istri bawahannya. Israiliyat yang didiamkan oleh syariat. 55 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 Yaitu riwayat yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam tetapi juga tidak memiliki dukungan kuat dari Al-QurAoan atau hadis. Seperti detaildetail kisah ashabul kahfi maupun detail kisah Nabi Musa dengan Nabi Khaidir. nwar hafidzi, 2016, hlm. Dalam ilmu Ulumul QurAoan, riwayat Israiliyat harus dikaji dengan metodologi kritik hadis yang disesuaikan dengan konteks tafsir: Kritik Sanad Kritik sanad dilakukan dengan menelusuri jalur periwayatan dan menilai kualitas perawi. Jika sanadnya lemah atau berasal dari sumber yang tidak dapat dipercaya, maka riwayat tersebut harus ditolak. Menurut Manna al-Qattan riwayat Israiliyat dalam penafsiran ayat al-QurAoan dalam kitab Tafsir klasik ini sebagian besar diriwayatkan dari empat tokoh: Abdullah bin Salam. KaAoab al-Ahbar. Wahab bin Munabbih. Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (Ibnu Jurai. annaAo khalil al-qattan & mudzakir as, 2012, hlm. Kritik Matan Yaitu menganalisis apakah isi riwayat Israiliyat tersebut sesuai dengan ajaran syariat islam, logika, dan maqashid syariah. Jika riwayat tersebut menggambarkan Allah, para nabi, atau hal-hal yang lain dengan cara yang tidak sesuai dengan yang sudah dijelasakan di dalam al-QurAoan dan Hadis, maka riwayat itu harus ditolak. Seperti mengenai riwayat menggauli istri dari belakang, yang kemudian di bantah oleh al-QurAoan di dalam QS. al-Baqarah ayat 223. Klasifikasi ini menunjukkan pentingnya telaah kritis terhadap sumber dan keabsahan riwayat Israiliyat yang digunakan dalam kitab Tafsir. Hal ini seperti penafsiran di dalam kitab Tafsir masa-masa awal Islam seperti Tafsir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-ShanAoani dalam menafsirkan QS. Shad ayat 21-25 tentang kisah Nabi Daud dan dua orang yang berselisih. Mereka menggunakan riwayat Israiliyat yang cukup kontradiktif yaitu Nabi Daud yang ingin merebut isteri bawahannya sendiri dengan mengirimnya ke medan perang agar tewas di medan perang. Hal ini bertentangan dengan karakter Nabi Daud, yang mana beliau merupakan seorang Nabi dan rasul sekaligus menjadi raja Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 56 bani israil yang terkenal akan ibadah dan kebijaksanaannya. bnu katsir, 2013, 747Ae. Dari hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai riwayat tersebut di dalam kedua kitab Tafsir. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka . Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah untuk memahami secara mendalam riwayat Israiliyat dalam penafsiran QS. Shad ayat 21-25 dalam kitab Tafsir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-Shan'ani, dengan fokus pada telaah sumber dan keabsahannya. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kitab Tafsir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-Shan'ani. Dan data sekunder seperti kitab. buku, artikel jurnal yang membahas mengenai Israiliyat dalam Tafsir,dan literature lainnya. Pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri penafsiran QS. Shad ayat 21-25 di berbagai sumber primer dan sekunder. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis komparatif, di mana peneliti membandingkan dan menganalisis riwayat yang terkandung dalam data primer, dengan menyoroti sumber riwayat Israiliyat dan memverifikasi keabsahannya berdasarkan kritik sanad, perawi, maupun matan. PEMBAHASAN a aAeI aIA e A aON eaE a OEa Ia eE aA e eo A Ia eI aN eI CaEa eO aaE aA a A EO a Oa a a a A ae a aEa eOA AA a ao A acO aO eEIa e aA a a AA oaaI ae A e aAC aO aaE a eA A acaI Nae aa eO EaN a e UA aAEA aA a Aa O a eA s A EO a eA a aA aO A a AIaA a A aO eN aIae aEOA a A Aa e aE eI a eO aIIa a eE aA a eA Ca aE EaCaA AA a aA acIa eO AaO eEA A a aE aI e aaEa aEOA a aAEa aIEa A a AA a AaO Ia e aU acOa a U AaCa aE a eEA eaEIa eO aN aOA a AacOa ea eOIa Ia e aU acOEA a aA N aO acaI aEaO Ue aIIa eE aEA A aOCa aE eO UE acI Na eIA a AA aEA a A a EaOa e a eO a eA s A EO a eA c AIa EaO EA a A acaaE Eac aOeIa aIIa eO aOA a A aN eIA a aAIaA a AaOA ANA ANA AacNA s A a eaIa E EaEa aOaI E aIaIa EEAO aO aeIa aIA a a AI a Oa I aI AINa A eA aa a aO aca a aEU acOIA u Artinya: 21. Apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab? 22. Ketika mereka masuk menemui Daud, dia terkejut karena mereka. Mereka berkata. AuJanganlah takut! Kami berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang dari kebenaran, dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Ay 23. AuSesungguhnya ini saudaraku. Dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku mempunyai seekor saja. Lalu, dia berkata. AoBiarkan aku yang memeliharanya! Dia mengalahkanku dalam perdebatan. Ay 24. Dia (Dau. 57 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 berkata. AuSungguh, dia benar-benar telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk . kepada kambingkambingnya. Sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu benar-benar saling merugikan satu sama lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka Ay Daud meyakini bahwa Kami hanya mengujinya. Maka, dia memohon ampunan kepada Tuhannya dan dia tersungkur jatuh serta Lalu. Kami mengampuni . Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (QS. Shad: 21-. Ath-Thabari memulai penafsirannya dengan menuliskan ayat yang akan ditafsirkan dan kemudian beliau dalam menafsirkan suatu ayat cenderung melakukan takwil, akan tetapi takwil yang digunakan ath-Thabari tidak lah berdasarkan pemikiran pribadi beliau sendiri, akan tetapi beliau melakukan takwil dengan menggunakan berbagai riwayat sebagai pedukung Baik dari riwayat Nabi. Sahabat, dan TabiAoin. apabila tidak ditemukan riwayat terkait suatu ayat, maka beliau akan berijtihad sendiri. hal ini, beliau berpedoman kepada kaidah-kaidah kebahasaan, sastra, dan qira'at, lalu mentarjihnya. Jikalau ijtihad beliau tersebut terdapat riwayat-riwayat yang mendukungnya, maka beliau menghimpun semuanya. Sehingga dalam menafsirkan 1 ayat saja beliau mampu menghasilkan puluhan lembar Sebagaimana ketika beliau menafsirkan QS. Shad ayat 21-25, yang dimulai dengan ayat 21 dan 22. ath-Thabari menakwilkan ayat Auorang-orang yang berpekaraAy merupakan dua orang malaikat. Takwil ini diperkuat dengan sambungan ayat selanjutnya, yang mengatakan bahwa ketika kedua orang ini datang melalui jalur yang tidak biasa sehingga Nabi Daud terkejut. Pada penjelasan lebih lanjut ath-Thabari lebih banyak menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan dan didukung dengan syair-syair orang arab. kemudian pada ayat: aAEA aA aA aOA a A aO eN aIa auEaOAbeliau menakwilkannya dengan riwayat-riwayat dari sahabat dan tabiAoin, salah satu contoh riwayat dari Ibnu Humaid ia berkata: Salamah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, dari seorang ulama, dari Wahb bin Munabbih, tentang firman Allah aAEA aA a aA aOA a AAu aO eN aIa auEaOADan tunjukilah kami ke jalan yang lurus,Ay ia berkata. AuMaksudnya adalah, bawalah kami kepada yang benar, dan jangan bawa kami melenceng kepada yang tidak Ay . bnu jarir ath-Thabari, 2007, hlm. Kemudian dalam menjelaskan tafsir ayat 23 dan 24 ath-Thabari menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan dan qira'at untuk menjelasakan ayat ia mengatakan bahwa ayat AuSesungguhnya ini saudaraku. Dia Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 58 mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku mempunyai seekor sajaAy ini merupakan sebuah perumpamaan oleh orang yang berseteru tadi. Yang mana kambing disini diumpamakan sebagai seorang wanita . Hal ini diperkuat dengan bacaan abdullah yang menambahkan kata AIOA sebagai bentuk penegasan. Yang mana kata ini memiliki makna feminin atau Kenapa kambing tersebut diumpamakan ath-Thabari sebagai wanita . Karena beliau melihat dari kebiasaan orang-orang arab dalam mengumpamakan wanita . , sebagaimana syair berikut U ACae aE eIa aNa aOaA AAu aI a Ua a Ua Oa aC caE aa eOIa aN ua eAaEa aNAAku adalah pemilik tanah itu dan kambingnya, sangat waspada, selalu menatap agar tidak terlena. Ay Kambing dalam syair ini digunakan sebagai kiasan untuk istri seorang laki-laki yang selalu dijaganya dengan ketat. Makna dari ayat yang sedang ditafsirkan ini adalah bahwa temannya telah berbuat dzalim kepadanya dengan meminta istrinya yang satu, untuk dijadikan tambahan bagi sembilan puluh sembilan istrinya. Kemudian contoh penafsiran dari Abdurrazzaq Ash-ShanAoani. Sama halnya dengan ath-Thabari dalam menafsirkan ayat al-Qur'an, ia ketika menafsirkan ayat selalu menggunakan metode bil-matsur yaitu menggunakan berbagai riwayat, akan tetapi ia lebih cenderung menyajikan riwayat-riwayat yang ada tanpa banyak melakukan takwil atau analisis kebahasaan yang mendalam. Berbeda dengan Ath-Thabari yang mengali lebih dalam makna suatu ayat melalui takwil dan analisis kebahasaan yang mendalam. Abdurrazzaq Hanya mengumpulkan riwayat-riwayat yang bersumber dari riwayat Nabi. Sahabat, dan TabiAoin. tanpa melakukan analisis kritis terhadap keabsahannya, serta menyandarkan setiap riwayat kepada perawinya tanpa mempertimbangkan validitasnya, apakah sahih atau tidak. kemudian membiarkan pembaca memahami makna ayat berdasarkan riwayat-riwayat tersebut. Sebagaimana ketika menafsirkan QS. Shad ayat 21-25, ia tidak menafsirkan semua ayat yang ada tapi hanya sebagiannya saja. Hal ini dikarenakan ia hanya menafsirkan ayat tersebut ketika ada riwayat yang berkaitan dengan ayat tersebut. Beliau tidak menafsirkan ayat Auorang-orang yang berpekaraAy apakah malaikat atau bukan, dan menafsirkan maksud kambing pada ayat 23 dan 24 apakah itu memang hewan ataukah wanita . berbeda dengan ath-Thabari yang menggunakan berbagai analisis kebahasaan. Abdurrazzaq dalam menafsirkan QS. Shad ayat 21-25 beliau hanya menggunakan satu riwayat yang berasal dari Muammar dari Amr bin Ubaid dari al-Hasan. Yang mana isi riwayat tersebut adalah kisah Nabi Daud yang ingin merebut istri bawahanya sendiri, dimana kisah tersebut cukup kontradiktif 59 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 dengan keistimewaan dan kemaksuman Nabi Daud yang disebutkan di dalam al-QurAoan. Sebagaimana yang disebutkan di pendahuluan bahwa fokus penelitian adalah riwayat yang digunakan dalam menafsirkan kisah Nabi Daud yang ada pada QS. Shad ayat 21-25 di dalam kedua kitab Tafsir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-ShanAoani, dimana kedua kitab ini menggunakan bahkan menjadi riwayat utama dalam menafsirkan QS. Shad ayat 21-25. Adapun kisah lengkap dari riwayat tersebut adalah sebagai berikut: Diawali dengan menceritakan bahwa Nabi Daud membagi harinya menjadi empat bagian: Satu hari untuk istri-istrinya, satu hari untuk memutuskan perkara . , satu hari untuk menyendiri beribadah kepada Allah, dan satu hari untuk Bani Israil bertanya Dia berkata kepada Bani Israil. AuSiapakah di antara kalian yang bisa beribadah kepada Allah sehingga setan tidak dapat celah mengambil sesuatu darinya?Ay Mereka berkata. AuTidak, demi Allah, kami tidak mampu. Ay Nabi Daud berkata kepada dirinya sendiri bahwa AuIa mampu melakukannya,Ay lalu ia masuk ke mihrabnya dan menutup pintu-pintunya, kemudian ia berdiri untuk salat. Tiba-tiba datang seekor burung dalam rupa yang sangat indah, berhias dengan sebaik-baiknya, dan hinggap di Ia memandang burung itu dan merasa kagum, sehingga muncul keinginan dalam hatinya terhadap burung tersebut. Ia mendekat untuk menangkapnya, lalu mengulurkan tangannya, tetapi gagal. Burung itu hinggap lebih dekat lagi, membuatnya semakin berharap bisa Ia mencoba sampai tiga kali, namun tetap gagal. Pada percobaan keempat, ia kembali mengulurkan tangannya, tetapi burung itu hinggap di atas pagar mihrab. Di sekitar mihrab itu terdapat kolam tempat perempuan-perempuan Bani Israil mandi. Ia mengulurkan tangannya lagi untuk menangkap burung itu, tetapi gagal. Burung tersebut terbang turun, lalu ia melihat seorang wanita yang sedang mandi, sambil mengibaskan rambutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya . Timbullah keinginan dalam dirinya terhadap wanita itu, hingga mengganggu kekhusyukannya dalam salat. Ia pun turun dari mihrabnya, sedangkan wanita itu telah mengenakan pakaiannya dan kembali ke rumahnya. Ia mengikuti wanita itu sampai mengetahui rumahnya, lalu bertanya. AuSiapakah engkau?Ay Wanita itu menjawab. AuAku adalah istri si Fulan. Ay Ia bertanya lagi. AuApakah Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 60 engkau memiliki suami?Ay Wanita itu menjawab. AuYa. Ay Ia bertanya. AuDi mana suamimu?Ay Wanita itu berkata. AuIa sedang berada di medan perang bersama pasukan tertentu. Ay Lalu ia kembali dan menulis surat kepada panglimanya: AuJika surat ini sampai kepadamu, tempatkanlah si Fulan di barisan terdepan pasukan yang menghadapi musuh. Ay Maka orang itu maju bersama para pasukan di barisan depan, bertempur hingga akhirnya terbunuh. Kemudian ia menikahi wanita tersebut. Dalam menggunakan riwayat ini ath-Thabari dan ash-ShanAoani memiliki perbedaan dan kesamaan di beberapa pendekatan. Dalam penggunaan riwayat tersebut Ibnu Jarir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-ShanAoani tidak menjelaskan secara jelas mengenai keabsahan riwayat yang mereka pakai dalam penafsiran QS. Shad ayat 21-25, mereka hanya mencantumkan sanad dari riwayat yang mereka ambil. Dalam hal ini peneliti kemudian akan menilai keabsahan riwayat yang di pakai ath-Thabari dan ash-ShanAoani melalui pendekatan analisis sanad, perawi dan matan. Ath-Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa ada perbedaan pendapat mengenai sebab Nabi Daud diuji, sebagian pendapat mengatakan bahwa ia menginginkan pujian yang baik dan abadi di tengah masyarakat seperti yang diberikan Allah kepada Nabi ibrahim, ishaq, dan yaAoqub. Sehingga Nabi Daud menginginkan hal yang sama, lalu dikatakan kepadanya bahwa mereka diuji kemudian bersabar. Nabi Daud lalu meminta agar ia diberi ujian sebagaimana yang diberikan kepada Nabi ibrahim, ishaq, dan yaAoqub. menyampaikan pendapat ini ath-Thabari memberikan banyak riwayat dengan jalur sanad yang berbeda pula, ada dua riwayat yaitu: Riwayat Muhammad bin SaAoad dari ayahnya dari pamannya dari ayahnya dari ayahnya dari Ibnu Abbas. Nama perawi dalam sanad ini tidak disebutkan secara eksplisit siapa nama dari pamannya atau ayahnya ini sehingga dari segi perawi riwayat ini merupakan mubham/majhul karena tidak adanya kejelasan siapa perawi tersebut, bahkan bukan cuma satu tapi ada tiga perawi yang tidak jelas siapa dia sehingga ada kemungkinan terputus sanad dan tidak jelas apakah perawinya tsiqah atau tidak. Riwayat Muhammad bin Husain dari Ahmad bin Mufadhdhal dari Asbath dari as-Suddi, dari segi sanad riwayat ini dinilai marfu oleh alQurtubi. Riwayat ini menyebutkan bahwa burung yang mendatangi Nabi Daud adalah jelmaan iblis dan pada riwayat ini disebutkan bahwa nama suami perempuan tersebut adalah uhria dan ketika dikirim ke medan 61 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 perang ternyata uhria menang kemudian dikirim ke medan perang yang lain hingga tiga kali dan sampai uhria terbunuh. Kemudian pendapat yang lain mengatakan bahwa Nabi Daud diuji karena terlintas dalam hatinya prasangka bahwa ia bisa menjalani satu hari tampa berbuat dosa. Lalu ia diuji dengan hari saat ia sangat antusias untuk menjalani hari itu tampa berbuat dosa, adapun dalam pendapat ini, ath-Thabari mencantumkan 6 riwayat yaitu: Riwayat Bisyr dari Yazid dari SaAoid dari Mathar dari Hasan, sanad ini walaupun menyebutkan semua perawinya akan tetapi kejelasan dari siapa perawi tersebut masih samar-samar. Seperti nama Bisyr dan yazid ini cukup umum pada masa itu apakah itu Yazid bin Harun atau Yazid ar-Raqqasyi. Hal ini penting karena dalam menilai sebuah riwayat diperlukan kejelasan perawi apakah tsiqah atau tidak. Adapun isi riwayat ini sama dengan riwayat di dalam Tafsir Abdurrazzaq ashShanAoani dari jalur sanad Muammar dari Amr bin Ubaid dari al-Hasan. Dari sanad ini ada seorang perawi yang bermasalah yaitu Amr bin Ubaid dimana menurut Imam Ahmad, ad-Daruquthni dan Ibnu Hibban menilai bahwa dia adalah perawi yang dla'if . emah atau caca. Riwayat Ibnu Humaid dari Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Wahab bin Munabbih al-Yamani, sanad ini terdapat beberapa tokoh yang terkenal sering meriwayatkan riwayat israiliyat sehingga sebagian ulama menolak riwayat dari perawi tersebut. Adapun isi riwayatnya dijelaskan bahwa Nabi Daud telah difitnah tentang keinginan mengambil isteri orang. Dalam tafsir ath-Thabari sanad tersebut ada dua riwayat, pada riwayat kedua Ibnu Humaid menjelaskan bahwa burung yang mendatangi Nabi Daud adalah seekor merpati dari emas sehingga Nabi Daud kagum dengannya, dan dijelaskan nama suami perempuan itu adalah Aurian putra Hanania, diriwayat ini dijelaskan pula Nabi Daud bertaubat tampa makan dan minum selama 40 hari sampai tumbuh rumput di tempat dia setelah Allah mengampuninya Nabi Daud menulis dosanya di telapak tangannya. isi dan kejelasan riwayat ini berbeda dari riwayat pertama, yang mana dijelaskan pada riwayat pertama bahwa Nabi Daud di fitnah tetapi di riwayat kedua dijelaskan bahwa Nabi Daud tergoda, sehingga dari segi sanad maupun matan kedua riwayat ini bermasalah. Riwayat dari YaAoqub bin Ibrahim dari Ibnu Idris dari al-Laits dari Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 62 Mujahid pada riwayat tidak mengkisahkan kisah Nabi Daud hanya saja menyebutkan bahwa air mata Daud setara dengan air mata seluruh manusia dan pada hari kiamat Nabi Daud datang dengan kesalahannya di telapak tangan dalam perasaan khawatir, dari segi sanad riwayat ini semua perawi di pandang tsiqah oleh para ulama ahli hadis sehingga sanad ini dapat diterima . Dan dari segi matan riwayat ini tidak ada pertentangan menurut Ibnu Jauzi dalam kitab zad al-masir fi ilmi Riwayat dari Yunus dari Ibnu Wahb dari Ibnu LuhaiAoah dari Abu Shakhr dari Yazid ar-Raqqasyi dari Anas bin Malik, sanad ini memiliki beberapa perawi yang dlaAoif . emah atau caca. ibnu luhaiAoah menurut adz-Dzahabi dan Muhammad bin SaAoad walaupun Ibnu Hajar menilai bahwa dia shaduuq . Kemudian Yazid ar-Raqqasyi para ahli hadis seperti ibnu hajar, daruqutni, adz-dzahabi dan abu hatim menyebutkan bahwa dia adalah perawi yang dlaAoif . emah atau caca. bahkan al-hakim dan an-nasaAoI mengatakan matrukul hadits . iriwayat kan dari pendust. sehingga kebanyakan riwayat yang diriwayatkan Yazid dinilai dhaif oleh ulama hadis. Riwayat Ali bin Sahl dari Walid bin Muslim dari Ibnu Jabir dari Atha al-Khurasani. Pada sanad ini terdapat satu perawi yang mubham/majhul karena nama Ali bin Sahl tidak bisa ditemukan di dalam kitab yang khusus membahas perawi hadis seperti kitab lisanul mizan dan kitab tahdzibul kamal fi asmaAo al-rijal karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Mungkin Ali bin Sahl adalah perawi hadis yang tidak terkenal dan tidak ada dalam kitab-kitab hadis utama. walaupun begitu, dalam ilmu ushul hadis hal tersebut dapat menjadikan riwayat yang diriwayatkannya dinilai dhaif. Adapun pada isi riwayat ini tidak menyebutkan secara lengkap kisah Nabi Daud tapi menceritakan bahwa ketika datang berita kematian pasukannya Nabi Daud membaca istirja tetapi ketika sampai pada nama suami perempuan yang diinginkan Nabi Daud ia membaca aE caE aI eA s aaCaA e Lalu ia pun menikahi wanita tersebut. bnu jarir ath-Thabari. AA a AE aI eOA. 2007, hlm. 125Ae. Dari hasil analisis sanad, perawi dan matan mengenai riwayat-riwayat tentang kisah Nabi Daud yang dicantumkan kedua mufassir di dalam kitab tafsir Peneliti menemukan bahwa kebanyakan riwayat yang menceritakan Nabi Daud ingin istri bawahannya yang terletak di dalam tafsir ath-Thabari dan Abdurrazzaq ash-ShanAoani. mengalami beberapa masalah baik itu berasal dari 63 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 sanad, perawi, dan matan. Walaupun ada riwayat yang tidak memiliki masalah dari sanad maupun matan tetapi isi riwayat tersebut tidak menceritakan kisah Nabi Daud yang peneliti teliti, riwayat tersebut hanya menyebutkan bahwa Nabi Daud takut akan dosanya sampai menangis 40 hari, tampa kisah Nabi Daud ingin merebut istri bawahannya. Lebih lanjut peneliti akan membahas bagaimana pemikiran para pemikir islam maupun orientalis dalam menyikapi masalah kisah Nabi Daud yang ada pada kedua kitab tafsir ini. Pemikiran Tokoh Islam Dan Orientalis Mengenai Riwayat Dan Kisah Nabi Daud Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa suatu kisah mengenai kisah Nabi Daud, kebanyakan sumbernya berasal dari kisah-kisah lsrailiyat. Dalam hal ini tidak ada suatu pun hadits dari Nabi yang menerangkannya hingga dapat dijadikan sebagai pegangan. Yang paling utama adalah membatasi diri pada kisah ini sebagai bahan bacaan semata dan mengembalikan kepada Allah terkait kejadian yang sebenarnya. al-QurAoan adalah hal yang benar dan apa yang terkandung di dalamnya pun adalah benar. (Ibnu Katsir, 2017, hlm. Dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib. Imam ar-Razi menegaskan bahwa kisah Nabi Daud jatuh cinta pada istri Uria, kemudian merencanakan pembunuhan suaminya adalah bathil . Ia menolak kisah ini dengan tiga alasan: Tidak pantas disandarkan bahkan kepada orang fasik, apalagi kepada Nabi yang maksum. Mengandung dua tuduhan besar: membunuh Muslim tanpa hak dan menginginkan istri orang lain, yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Bertentangan dengan pujian Allah terhadap Daud sebelum dan sesudah kisah ini, yang menunjukkan kesucian dan keutamaan beliau. Menurut Ar-Razi, kisah ini jelas tidak sesuai dengan martabat ke Nabian dan harus ditolak. (Fakhruddin al-Razi, 1981, hlm. Al-Qurtubi dalam Tafsirnya menyebutkan juga riwayat mengenai kisah Nabi Daud diatas, akan tetapi al-Qurtubi dalam menyebutkan riwayat tersebut beliau memberikan tanggapan dan komentar mengenai keabsahan riwayat tersebut bahwa kisah tersebut tidak benar adanya, beliau mengambil riwayat tersebut dari al-Mawardi dalam Tafsirnya menurut beliau riwayat tersebut diriwayatkan secara marfuAo. l-Qurtrubi, 2007, hlm. hal ini sama dengan ucapan as-Sayuthi yang dikutip buya hamka dalam Tafsirnya beliau memberi komentar demikian: AuKisah yang mereka ceritakan tentang perempuan itu. Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 64 bahwa Daud jatuh hati kepadanya, lalu suaminya disuruhnya kirim ke medan perang supaya mati dalam pertemuan, dan memang mati. Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Hadis Anas bin Malik, yaitu Hadis marf'u'. Tetapi dalam sanadnya bertemu nama lbnu Luhai'ah. Keadaan dia ini dalam meriwayatkan Hadis sangat dikenal . idak dipercay. Dia menerimanya dari Yazid ar-Raqaasyi, dan orang ini pun dha'if. Ay(Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, 1989, hlm. Kemudian Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirnya mengatakan bahwa bagian riwayat tersebut yang sahih dan dapat diterima adalah bagian Daud membagi waktu mingguannya menjadi tiga. Sepertiga urusan kerajaan, sepertiga menjalankan sidang peradilan, dan sepertiganya lagi untuk berkhalwat, beribadah, dan membaca Zabur di dalam mihrabnya hal ini didukung dari riwayat Ibnu Abbas berkata, "Daud membagi waktunya menjadi empat bagian. hari untuk ibadah, membentuk maielis peradilan, urusan pribadi, dan seluruh rakyat Bani Israel, menasihati mereka dan membuat mereka menangis. Saat mereka mendatanginya selain waktu majelis Ay(Wahbah az-Zuhaili, 2013, hlm. Menurut Quraisy Shihab dalam Tafsirnya al-Lubab beliau mengomentari dan mengkritik riwayat mengenai kisah Nabi Daud yang dikemukakan ath-Thabari dan ash-ShanAoani. Beliau berpendapat bahwa riwayat yang mengisahkan peristiwa kisah Nabi Daud yang diperankan oleh dua malaikat yang mengambil bentuk manusia untuk menegur Nabi Daud mengenai dosa beliau yang mengawini isteri salah satu seorang anggota pasukannya dengan ditugaskan ke medan perang. Pendapat riwayat ini sangatlah tidak sejalan dengan kedudukan Daud, sebagai seorang Nabi yang mana para Nabi sebagai seorang penuntun ummatnya ke jalan kebenaran. (M. Quraisy Shihab, 2002, hlm. 391Ae. Asy-Syaukani dalam Tafsirnya Fathul Qadir juga mengomentari mengenai dosa Nabi Daud dalam riwayat tersebut yang mana ada enam dosa menurut para mufassir, beliau berkata: AuPandangan-pandangan dan kisah ini tidak layak dengan kedudukan para Nabi. Jadi ini adalah kebohongankebohongan kaum yahudi dan kisah-kisah dusta mereka mengenai para Nabi Allah Ta'ala, di samping pembunuhan mereka . embunuh Nabi-Nabi mereka sendiri seperti zakaria dan yahy. (Muhammad bin Ali bin Muhammad AsySyaukani, 2008, hlm. 641Ae. Ignaz Goldziher dalam karyanya madzahibut tafsir al-islami mengkritik keberadaan riwayat Israiliyat dalam tafsir Al-Qur'an karena dianggap sebagai 65 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 hasil interaksi antara tradisi Islam dan budaya Yahudi-Kristen. Menurutnya, banyak mufasir klasik tidak secara kritis menyaring kisah-kisah yang berasal dari sumber-sumber di luar Islam, sehingga cerita-cerita tersebut masuk ke dalam tafsir tanpa proses verifikasi yang memadai. Goldziher berpendapat bahwa fenomena ini terjadi karena ada kebutuhan di kalangan mufassir untuk memperluas pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang sifatnya ringkas atau samar. Oleh karena itu, mereka sering kali merujuk pada sumber-sumber luar Islam untuk mengisi kekosongan informasi dalam narasi Al-Qur'an, terutama terkait dengan kisah para nabi dan umat terdahulu. Dalam kasus Nabi Daud. Goldziher menyoroti bagaimana riwayat Israiliyat turut memengaruhi pemahaman umat Islam terhadap sosoknya. Salah satu contoh utama adalah kisah yang berkaitan dengan Batsyeba, yang dalam Perjanjian Lama dikisahkan sebagai istri seorang prajurit yang kemudian dinikahi oleh Nabi Daud setelah suaminya dikirim ke medan perang dan Kisah ini memiliki kemiripan dengan beberapa riwayat dalam literatur tafsir Islam yang menyebutkan bahwa Nabi Daud tertarik kepada seorang wanita yang sudah bersuami, yang kemudian menyebabkan suaminya ditempatkan di garis depan pertempuran agar terbunuh. Goldziher melihat bahwa kisah semacam ini berasal dari sumber Yahudi dan Kristen, yang masuk ke dalam tafsir melalui jalur periwayatan yang tidak selalu memiliki dasar kuat dalam Islam. Lebih lanjut. Goldziher menilai bahwa penggunaan riwayat Israiliyat dalam tafsir sering kali menciptakan gambaran tentang para nabi yang tidak sesuai dengan konsep kenabian dalam Islam. Dalam tradisi Islam, para nabi dipandang sebagai manusia yang memiliki sifat maksum . erjaga dari dosa besa. , sementara dalam narasi Israiliyat, mereka kadang digambarkan memiliki kelemahan moral yang mencoreng kedudukan mereka sebagai utusan Allah. Dalam kasus Nabi Daud, riwayat-riwayat Israiliyat yang masuk ke dalam tafsir menyebabkan sebagian mufasir menggambarkannya dengan sifat-sifat yang menyerupai karakter dalam Perjanjian Lama, yang dalam beberapa hal bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam tentang kesucian para nabi. (Ignaz Goldziher, 1955, hlm. 80Ae. Dari pendapat-pendapat tokoh muslim dan orientalis yang peneliti ungkapkan baik yang dari masa klasik maupun modern, mayoritas pendapat menolak dan mengkritik riwayat ini dengan berbagai argumen yang masingmasing dapat di uji keabsahannya. Dalam hal ini penulis kemudian dapat menyimpulkan bahwa riwayat ini adalah riwayat Israiliyat yang bertentangan Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 66 dengan syariat islam, sehingga tidak dapat dijadikan dasar hukum atau pedoman dalam memahami kisah Nabi Daud secara akurat. Pendekatan yang paling tepat adalah merujuk pada penjelasan Al-QurAoan dan hadis sahih yang menegaskan kemaksuman para Nabi serta menjaga kehormatan mereka dari tuduhantuduhan yang tidak berdasar. Oleh karena itu, riwayat-riwayat tersebut harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat Islam dan ajaran tauhid yang murni. Kisah-kisah yang berasal dari sumber Israiliyat ini hanya dapat digunakan sebagai bahan bacaan pelengkap dengan catatan tidak diyakini kebenarannya tanpa dalil yang sahih dari Al-QurAoan atau hadis yang PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan riwayat Israiliyat dalam penafsiran kisah Nabi Daud pada QS. Shad ayat 21Ae25 oleh Ibnu Jarir athThabari dan Abdurrazzaq ash-Shan'ani menunjukkan adanya kesamaan dan perbedaan dalam jalur sanad, dimana Abdurrazzaq ash-Shan'ani menggunakan riwayat dari al-Hasan begitu juga ath-Thabari memasukkan riwayat dari hasan akan tetapi perawi setelah hasan keduanya memiliki jalur yang berbeda. Akan tetapi, isi dan konteks dari riwayat tersebut memiliki kesamaan yang sama. detail kisah yang dikemukakan. Meskipun keduanya menggunakan riwayat yang serupa dalam konteks, yaitu tentang ujian yang dihadapi Nabi Daud, terdapat perbedaan dalam cara mereka menyusun penafsiran dan menyebutkan riwayat tersebut. Berdasarkan analisis penafsiran dari kedua mufassir, maka persamaan dan perbedaan penafsiran meliputi beberapa hal: Kriteria Kelebihan Kekurangan Tafsir Ath-Thabari Dalam menafsirkan suatu ayat selalu menggunakan takwil yang didukung dengan kaidah kebahasaan dan berbagai Terlalu terpaku pada riwayat, sehingga dari ayat 21-25 beliau sudah berfokus pada riwayat Tapi mengungkap makna lain. Tafsir Abdurrazzaq AshShan'ani Penafsiran yang ringkas dan padat, sehingga pembaca dapat langsung tahu apa yang dimaksud mufassir. Penggunaan riwayat yang tidak diberikan penjelasan dan hanya menafsirkan potongan ayat. 67 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 Metodologi Tafsir Golongan Persamaan Perbedaan Menggunakan metode tahlili dan pendekatan bil-matsur. Menggunakan riwayat sebagai rujukan utama. Ada riwayat yang berasal dari hasan walau perawi setelahnya berbeda. Ath-Thabari mengumpulkan riwayat, dan melakukan takwil, analisis kebahasaan secara Ia mengkaji suatu ayat dengan menggunakan berbagai sumber riwayat serta menyesuaikannya dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, sastra, dan qira'at. Jika tidak ditemukan riwayat yang mendukung, ia akan melakukan ijtihad berdasarkan pemahaman kebahasaan dan aturan-aturan yang berlaku dalam penafsiran. Menggunakan metode ijmali dan pendekatan bil-matsur Sunni tapi ada sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dia adalah syiah Menggunakan riwayat sebagai rujukan utama. Sama menggunakan riwayat dari al-hasan tapi dari perawi yang berbeda. Abdurrazzaq Ash-Shan'ani tidak menafsirkan orang yang berseteru adalah malaikat dan menafsirkan apakah yang di maksud dalam ayat adalah kambing atau wanita . Ia menyajikan kisah riwayat sebagaimana adanya dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan sendiri dari kisah Ash-Shan'ani juga tidak melakukan kritik terhadap keabsahan riwayat, sehingga validitasnya tidak selalu terjamin. Mayoritas ulama Tafsir, baik klasik maupun modern, menolak keabsahan riwayat Israiliyat yang menyebutkan bahwa Nabi Daud ingin merebut istri bawahannya melalui siasat. Argumen utama penolakan tersebut didasarkan pada prinsip kemaksuman para Nabi dalam Islam, yang menjauhkan mereka dari perbuatan dosa besar seperti yang dikisahkan dalam riwayat Selain itu, riwayat ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan keadilan dan integritas moral para Nabi, dan Bertentangan dengan pujian Allah terhadap Daud sebelum dan sesudah ayat kisah ini, yang menunjukkan kesucian dan keutamaan beliau. Kritik terhadap riwayat ini berlandaskan pada potensi penyimpangan akidah serta kekhawatiran bahwa kisah-kisah ini berasal dari sumber-sumber yang tidak dapat diverifikasi secara Penelitian ini menegaskan pentingnya selektivitas dalam menerima riwayat Israiliyat dalam Tafsir. Hanya riwayat yang sesuai dengan prinsip ajaran Islam dan didukung oleh sanad yang kuat yang layak dijadikan rujukan. Kisah-kisah yang tidak sejalan dengan syariat Islam sebaiknya diperlakukan sebagai pelengkap historis semata, bukan sebagai sumber hukum atau akidah yang sahih. Tasamuh. Volume 17 Nomor 1. April 2025 | 68 DAFTAR PUSTAKA