Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 71 - 80 DOI:10. 51170/jmabr. Strategic Development of Natural Tourism Attractions in Mount Halimun Salak National Park. West Java Sri Pujiastut. * . Dikki Zuchradi Choesrani. A Tourism. Pradita University. Tangerang. Indonesia Tourism. Pradita University. Tangerang. Indonesia *sri. pujiastuti@pradita. Abstract This study aims to analyze and formulate a strategy for developing natural tourist attractions in Mount Halimun Salak National Park (TNGHS). West Java. TNGHS has great natural tourism potential, but its development requires a comprehensive strategy in order to attract touristAos sustainability and provide a positive impact on the environment and surrounding communities. The research method used is qualitative with a descriptive analysis approach. Data collection was carried out through field observations, in-depth interviews with managers and tourists, and documentation studies. Data analysis was carried out using the Miles and Huberman interactive model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions, and using SWOT analysis (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. to formulate a development strategy. The results of the study are expected to provide strategic recommendations for TNGHS managers in optimizing natural tourism potential, increasing tourist visits, and minimizing negative impacts. Keywords: Tourism Strategy. Nature Tourism. SWOT Analysis. Halimun Salak National Park. Tourism Attraction Article history: Received June 18th 2025. Accepted June 29th 2025. Available online June 30th 2025 PENDAHULUAN Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor vital yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, termasuk di Indonesia. Sektor pariwisata Indonesia menyumbang sekitar 3,8 % dari PDB pada 2023, dan estimasi kontribusinya meningkat menjadi 4Ae4,5 % pada 2024. Rencana Kerja Pemerintah bahkan menargetkan kontribusi di atas 4,6 % pada 2025 (Indonesia. id, 2025. World Travel & Tourism Council, 2. Potensi wisata alam Indonesia yang melimpah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu kawasan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata alam adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Jawa Barat. Dengan keanekaragaman hayati yang kaya, bentang alam yang indah, dan nilai konservasi yang tinggi. TNGHS menawarkan berbagai aktivitas wisata seperti trekking, pengamatan satwa, dan edukasi lingkungan. Namun, pengembangan daya tarik wisata alam di TNGHS menghadapi berbagai tantangan, termasuk isu konservasi, aksesibilitas, fasilitas pendukung, serta pengelolaan yang berkelanjutan. Taman Nasional Gunung HalimunAeSalak (TNGHS) menghadapi beragam tantangan dalam pengelolaannya, mulai dari konflik penggunaan lahan akibat ekspansi pertanian dan JMABR Pujiastuti & Choesrani . permukiman yang mengancam koridor ekologi dan tutupan hutan, hingga keterbatasan infrastruktur akses dan fasilitas pendukung wisata. Selain itu, koordinasi antar pemangku kepentingan masih lemah, dengan regulasi yang tumpang tindih dan minimnya kolaborasi antar lembaga pemerintah, masyarakat lokal, dan swasta. Pendekatan konservasi yang bersifat partisipatif masih dalam tahap transisi dan belum sepenuhnya efektif dalam mendorong keterlibatan masyarakat secara luas. Upaya kemitraan konservasi dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas seperti di Kampung Cipta Gelar sudah mulai dilakukan, namun dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan masih terbatas (Hakim, et. , 2016. Rochaedi, et. Al. , 2021. Keliwar, 2. Diperlukan strategi yang matang dan terencana untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan pendapatan, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat lokal. Penelitian sebelumnya seringkali membahas potensi pariwisata alam secara umum atau fokus pada aspek konservasi tertentu. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada perumusan strategi pengembangan daya tarik wisata alam di TNGHS secara Penelitian ini penting untuk memberikan masukan konkrit bagi pihak pengelola TNGHS dalam menyusun rencana strategis yang efektif. Dengan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada, diharapkan dapat dirumuskan strategi yang adaptif dan berkelanjutan, sehingga TNGHS dapat berkembang menjadi destinasi wisata alam unggulan yang bertanggung jawab. TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan terhadap literatur terkait pengembangan pariwisata alam menunjukkan bahwa strategi pembangunan destinasi wisata harus mempertimbangkan keseimbangan antara potensi atraksi alam dengan kapasitas lingkungan dan partisipasi masyarakat lokal. Yoeti . menekankan pentingnya pemenuhan unsur 4A (Attraction. Accessibility. Amenity, dan Ancillar. sebagai fondasi dalam membangun destinasi wisata yang kompetitif. Dalam konteks TNGHS, beberapa studi telah mengidentifikasi tantangan konservasi dan konflik lahan yang menghambat pengelolaan berkelanjutan (Hakim et al. , 2016. Rochaedi et al. Sementara itu, pendekatan ekowisata berbasis komunitas juga menjadi sorotan dalam strategi pengembangan destinasi yang inklusif dan adaptif (Keliwar, 2. Pendekatan SWOT digunakan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan daya tarik wisata, sebagaimana disarankan oleh Miles dan Huberman . dalam kerangka analisis kualitatif. Dengan merujuk pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, penelitian ini mencoba menggabungkan kerangka regulasi JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 71 - 80 DOI:10. 51170/jmabr. nasional dengan kondisi lapangan aktual untuk merumuskan strategi yang kontekstual dan Analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. merupakan alat strategis yang umum digunakan dalam pengembangan pariwisata untuk mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal yang memengaruhi keberhasilan suatu destinasi. Dalam studi ini. SWOT berfungsi sebagai kerangka untuk merumuskan strategi yang adaptif dengan mempertimbangkan kekuatan seperti keanekaragaman hayati, kelemahan berupa infrastruktur yang belum optimal, peluang meningkatnya minat terhadap wisata alam, serta ancaman dari aktivitas ilegal dan perubahan iklim. Sementara itu, teori 4A yang diperkenalkan oleh Cooper et al. mencakup empat elemen kunci dalam daya tarik destinasi wisata, yaitu Attraction . aya tarik utam. Accessibility . emudahan akse. Amenity . asilitas pendukun. , dan Ancillary Services . ayanan tambaha. Keempat unsur ini saling berkaitan dan menjadi tolok ukur utama dalam mengevaluasi kesiapan suatu kawasan wisata untuk dikembangkan secara berkelanjutan dan kompetitif di tengah persaingan antar destinasi. Analisis SWOT terdiri dari empat tahap utama, yaitu: . identifikasi kekuatan (Strength. dan kelemahan (Weaknesse. dari faktor internal destinasi, . identifikasi peluang (Opportunitie. dan ancaman (Threat. dari lingkungan eksternal, . penyusunan matriks SWOT untuk merancang kombinasi strategi seperti SO . emanfaatkan kekuatan untuk mengejar peluan. WO . eminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluan. ST . enggunakan kekuatan untuk menghadapi ancama. , dan WT . engurangi kelemahan untuk menghindari ancama. , serta . penentuan strategi prioritas yang paling relevan untuk Dalam konteks pengembangan daya tarik wisata alam, analisis SWOT dapat diintegrasikan secara langsung dengan konsep 4A (Attraction. Accessibility. Amenity, dan Ancillar. dengan memetakan masing-masing unsur tersebut ke dalam kategori SWOT. Misalnya, keindahan alam dan keanekaragaman hayati yang menjadi Attraction utama dapat dikategorikan sebagai kekuatan, sementara kerusakan infrastruktur jalan sebagai bagian dari Accessibility menjadi kelemahan. Dengan demikian, integrasi SWOT dan 4A memungkinkan perumusan strategi yang lebih holistik dan sistematis dalam mengembangkan destinasi wisata secara berkelanjutan dan berbasis potensi aktual di lapangan. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam fenomena pengembangan daya tarik wisata alam di TNGHS dari perspektif berbagai pihak yang terlibat (Sugiyono, 2. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jawa Barat. Sumber data primer diperoleh dari observasi langsung di JMABR Pujiastuti & Choesrani . lapangan, wawancara mendalam dengan narasumber kunci . engelola TNGHS, perwakilan masyarakat lokal, dan wisatawa. , serta dokumentasi kegiatan dan fasilitas di TNGHS. Sumber data sekunder diperoleh dari studi literatur, dokumen resmi TNGHS, data statistik terkait pariwisata, dan publikasi relevan lainnya Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan acara observasi, wawancara dam studi Observasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap kondisi fisik daya tarik wisata, fasilitas pendukung, interaksi wisatawan, serta pengelolaan di TNGHS. Wawacara (In-depth Intervie. yaitu melakukan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur dengan pihak-pihak terkait untuk menggali informasi mengenai potensi, tantangan, dan strategi pengembangan. Studi Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis dokumen-dokumen relevan seperti laporan tahunan, rencana tata ruang, peraturan, dan data kunjungan wisatawan. Analisis data kualitatif menggunakan miles dan Huberman yaitu, reduksi data, penyajian data dan penarikan Kesimpulan/verifikasi. SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. dipergunakan untuk merumuskan strategi pengembangan yaitu dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor internal . ekuatan dan kelemaha. dan faktor-faktor eksternal . eluang dan ancama. yang mempengaruhi pengembangan daya tarik wisata alam di TNGHS. HASIL PENELITIAN Berdasarkan data yang terkumpul melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, ditemukan beberapa poin penting terkait daya tarik wisata alam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Temuan ini menunjukkan bahwa TNGHS memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata alam, didukung oleh kekayaan alam dan fasilitas dasar yang mulai memadai. Konsep Attraction. Accessibility. Amenity. Ancillary . A) sudah mulai diterapkan dengan baik, terbukti dari adanya atraksi yang beragam, aksesibilitas yang memadai . eskipun ada beberapa ruas jalan rusa. , amenitas seperti penginapan, dan jasa pendukung. Namun, tantangan utama terletak pada pengelolaan sampah dan pemeliharaan infrastruktur Kesadaran lingkungan wisatawan juga menjadi faktor penting yang perlu ditingkatkan melalui edukasi dan kontrol. Pengelola perlu melakukan controlling terhadap kondisi jalan yang rusak untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Peningkatan kesadaran terhadap sampah juga merupakan tugas bersama antara pengelola dan DISKUSI DAN PEMBAHASAN Hasil ini sejalan dengan teori pembangunan pariwisata berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Berdasarkan hasil observasi dan analisis penelitian pengembangan daya tarik wisata alam di Taman Nasional Gunung JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 71 - 80 DOI:10. 51170/jmabr. Halimun Salak (TNGHS) telah menerapkan aspek-aspek unsur kepariwisataan yang dikenal sebagai 4A: Attraction (Atraks. Accessibility (Aksesibilita. Amenity (Amenita. , dan Ancillary (Jasa Pendukun. , berikut adalah penjabarannya: Attraction (Atraks. : Atraksi merujuk pada daya tarik utama atau hal-hal yang membuat wisatawan tertarik untuk mengunjungi suatu destinasi. Di TNGHS, atraksi utamanya adalah: Keanekaragaman Hayati yang Kaya: TNGHS dikenal sebagai rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik dan langka, seperti Elang Jawa dan Owa Jawa. Kehadiran satwa dan tumbuhan unik ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang memiliki minat khusus pada ekowisata, pengamatan satwa liar . , dan botani. Pemandangan Alam yang Asri: Kawasan TNGHS menawarkan bentang alam yang indah, hutan hujan tropis yang lebat, dan udara yang sejuk dan bersih, jauh dari polusi perkotaan. Hal ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan keindahan alam. Air Terjun dan Sungai Jernih: Keberadaan air terjun dan sungai-sungai dengan air yang jernih menambah pesona TNGHS, seringkali menjadi tujuan untuk aktivitas rekreasi air atau sekadar menikmati suasana alam. Potensi Edukasi dan Penelitian: Selain rekreasi. TNGHS juga memiliki potensi sebagai lokasi untuk edukasi lingkungan dan penelitian ilmiah, menarik segmen wisatawan dan akademisi yang tertarik pada konservasi dan ekosistem. Kegiatan Wisata: Daya tarik TNGHS tidak hanya pada objeknya, tetapi juga pada kegiatan yang dapat dilakukan, seperti trekking atau hiking menyusuri hutan dan sungai, serta kegiatan pengamatan satwa. Accessibility (Aksesibilita. : Aksesibilitas berkaitan dengan kemudahan wisatawan untuk mencapai lokasi daya tarik wisata. Ketersediaan Akses: TNGHS memiliki akses yang memungkinkan wisatawan untuk datang dan melakukan kegiatan di kawasan tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kunjungan wisatawan yang berulang dan rekomendasi dari mereka kepada kerabat. Permasalahan Infrastruktur Jalan: Meskipun sudah ada akses, skripsi mencatat bahwa "masih ada beberapa akses jalan yang masih rusak. " Ini mengindikasikan bahwa meskipun lokasi bisa dicapai, kondisi jalan yang rusak dapat mengurangi kenyamanan dan keamanan wisatawan, serta berpotensi menjadi hambatan bagi peningkatan kunjungan. JMABR Pujiastuti & Choesrani . Amenity (Amenita. : Amenitas adalah fasilitas pendukung yang tersedia di destinasi untuk kenyamanan wisatawan selama berkunjung. Di TNGHS, amenitas yang disebutkan Penginapan (Resor. : Tersedianya penginapan berupa resort memungkinkan wisatawan yang berasal dari luar kota untuk menginap dan menikmati kawasan lebih lama. Ini adalah fasilitas krusial untuk mendukung pariwisata bermalam. Ketersediaan Air Bersih: Akses terhadap air bersih merupakan fasilitas dasar yang Toilet: Fasilitas toilet yang memadai juga menjadi poin plus untuk kenyamanan Mushola: Adanya fasilitas ibadah seperti mushola menunjukkan perhatian penting untuk kenyamanan dan kesehatan wisatawan. terhadap kebutuhan spiritual wisatawan, terutama bagi wisatawan Muslim. Ancillary (Jasa Pendukun. : Ancillary services adalah layanan pendukung lain yang melengkapi pengalaman wisata, seperti pemandu wisata, informasi pariwisata, pusat informasi, toko suvenir, atau layanan darurat. Meskipun penelitian ini tidak secara eksplisit merinci semua "Jasa Pendukung" yang ada, namun secara umum dinyatakan bahwa TNGHS "sudah menerapkan aspek unsur dari kepariwisataan yang dapat mempengaruhi pembangunan sebuah destinasi wisata menjadi objek daya tarik wisata yakni Attraction (Atraks. Accessibilities (Aksesbilita. Amenities (Amenita. Ancillary (Jasa Pendukun. Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa terdapat elemen-elemen pendukung yang membantu operasional dan pengalaman wisata, meskipun detail spesifiknya tidak dijelaskan secara rinci. Jasa pendukung ini kemungkinan mencakup: Pengelolaan yang Baik: Adanya pengelolaan yang baik yang telah berupaya Informasi dan Pemanduan: Meskipun tidak disebutkan secara spesifik, biasanya menyediakan fasilitas dan menjaga kawasan sehingga menarik wisatawan. di kawasan taman nasional akan ada pusat informasi atau pemandu lokal yang dapat membantu wisatawan. Layanan Keamanan/Kebersihan: Upaya pengelolaan sampah, meskipun masih ada temuan sampah berserakan, menunjukkan adanya layanan kebersihan . alaupun perlu ditingkatka. Adanya pengelola juga mengimplikasikan adanya fungsi keamanan. Secara keseluruhan. TNGHS telah memiliki fondasi yang kuat dari sisi 4A, namun ada area spesifik pada aksesibilitas . ondisi jala. dan amenitas/pengelolaan . yang memerlukan perhatian lebih lanjut untuk meningkatkan kepuasan dan keberlanjutan Berikut adalah hasil analisis yang dipetakan menggunakan SWOT. JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 71 - 80 DOI:10. 51170/jmabr. Tabel 1. Hasil Analisis SWOT Pengembangan Wisata Taman Nasional Halimun-Salak INTERNAL Kekuatan (Strengt. Kelemahan (Weaknes. Kekayaan dan keanekaragaman Masih ditemukan sampah flora dan fauna . lang jaw. Pemandangan alam yang asri dan udara yang sejuk, jauh daru polusi kesadaran wisatawan Adanya air terjun dan Sungai yang jernih sebagai daya tarik dan/atau pengawasan. Beberapa akses jalan Potensi edukasi lingkungan dan menuju dan di dalam penelitian yang tinggi Ketersediaan fasilitas dasar seperti penginapan resort, air bersih, toilet dan mushola yang Pengelolaan yang sudah EXTERNAL berserakan di beberapa area, menunjukkan kurangnya kawasan masih rusak, menghambat kenyamanan Kurangnya promosi, keterbatasan SDM menerapkan aspek unsur kepariwisataan . ttraction, accessibility, amenity, ancillar. Peluang (Opportunit. Peningkatan minat terhadap wisata alam dan Dukungan pemerintah daerah dan pusat untuk Potensi kerja sama Strategi SO (Strengths- Strategi WO (Weaknesses- Opportunitie. Opportunitie. Memanfaatkan keindahan alam Memperbaiki infrastruktur dan keanekaragaman hayati jalan dan fasilitas pendukung untuk mengembangkan paket dengan dukungan dana dari wisata edukasi dan konservasi yang menarik minat wisatawan pemerintah atau investor. Memperkuat promosi digital dan Meningkatkan program edukasi dan kampanye kolaborasi dengan agen kebersihan kepada wisatawan dan masyarakat perjalanan untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas. dengan komunitas lokal dan lembaga Posisi geografis TNGHS yang relatif dekat dengan kotakota besar (Bogor. Jakart. JMABR Pujiastuti & Choesrani . Ancaman (Treat. Strategi ST (Strengths-Threat. Strategi WT (WeaknessesThreat. Ancaman Mengembangkan sistem pengawasan dan patroli yang lingkungan akibat aktivitas ilegal . erburuan, penebangan lia. lebih efektif untuk mencegah kerusakan lingkungan. Membangun citra destinasi yang atau kunjungan wisatawan yang tidak bertanggung kuat melalui branding dan keunikan alam TNGHS untuk bersaing dengan destinasi lain. Mengadakan pelatihan bagi guide lokal dan petugas kebersihan untuk meningkatkan kualitas layanan dan kesadaran Mencari sumber pendanaan alternatif untuk perbaikan infrastruktur dan mitigasi risiko bencana. Persaingan dengan destinasi wisata alam lain di Jawa Barat. Perubahan iklim dan bencana alam yang dapat kondisi alam. Kurangnya penegakan hukum. KESIMPULAN Berdasarkan analisis pada Tabel 1, dapat disimpulkan bahwa Taman Nasional Gunung Halimun Salak memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata alam yang didukung oleh kelengkapan unsur-unsur kepariwisataan (Attraction. Accessibility. Amenity. Ancillar. Namun, terdapat beberapa kelemahan internal seperti masalah sampah dan kerusakan infrastruktur jalan, serta ancaman eksternal seperti perusakan lingkungan dan persaingan Strategi pengembangan daya tarik wisata alam di TNGHS harus berfokus pada: Peningkatan Infrastruktur: Perbaikan akses jalan dan fasilitas pendukung lainnya. Pengelolaan Lingkungan: Peningkatan kesadaran kebersihan melalui edukasi dan pengawasan, serta penanganan sampah yang lebih efektif. Pengembangan Produk Wisata: Memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk mengembangkan paket wisata edukasi dan konservasi yang berkelanjutan. JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 71 - 80 DOI:10. 51170/jmabr. Promosi dan Pemasaran: Memperkuat promosi untuk menjangkau target pasar yang lebih luas, khususnya wisatawan yang peduli lingkungan. Saran: Pengelola TNGHS diharapkan dapat melakukan controlling secara berkala terhadap kondisi jalan-jalan di dalam dan menuju kawasan untuk segera dilakukan Meningkatkan program edukasi dan kampanye tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan kepada setiap wisatawan yang berkunjung. Memperkuat kolaborasi dengan masyarakat lokal untuk pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesadaran konservasi. Menerapkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di seluruh kawasan Implikasi Manajemen Temuan penelitian ini memiliki implikasi manajerial yang penting bagi pengelola kawasan wisata alam, khususnya di TNGHS. Strategi yang dihasilkan melalui integrasi analisis SWOT dan konsep 4A dapat menjadi landasan dalam menyusun rencana kerja yang lebih terarah dan responsif terhadap tantangan lapangan. Pengelola perlu memprioritaskan perbaikan infrastruktur dasar, seperti akses jalan dan pengelolaan sampah, serta meningkatkan kolaborasi lintas sektor, baik dengan masyarakat lokal, lembaga konservasi, maupun pelaku industri pariwisata. Selain itu, penting bagi pengelola untuk mengadopsi pendekatan berbasis data dan partisipatif dalam pengambilan keputusan, guna memastikan pengembangan destinasi berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan. Dengan implementasi strategi manajerial yang tepat. TNGHS dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata alam unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. DAFTAR PUSTAKA