Room of Civil Society Development DOI: https://doi. org/10. 59110/rcsd. Volume 4 Issue 3. Year 2025 Peningkatan Pemahaman Masyarakat Sosialisasi Manajemen Kesehatan Ternak di Desa Tubo Tengah. Kabupaten Majene Suriansyah1*. Andi Citra Septaningsih1. Hilman Qudratuddarsi1. Nor Indriyanti1. Kasmiati1. Nurman1. Nur Rahmah1 1Universitas Sulawesi Barat. Majene. Indonesia *Correspondence: suriansyah@unsulbar. ABSTRACT Tubo Tengah Village. Tubo Sendana Subdistrict. Majene Regency, is a rural area where most residents are smallholder cattle and goat farmers. Limited knowledge of livestock health management contributes to high disease risk and low productivity. This outreach program aimed to improve farmersAo understanding of biosecurity, disease prevention, farm sanitation, and healthy feeding practices. Conducted on February 14, 2025, at the Tubo Tengah Village Hall, the program engaged 21 farmers using interactive lectures and participatory discussions. Pre- and post-assessments revealed significant improvement: average scores increased from 2. 24 to 4. ( 41. 27%) and pass rates rose from 23. 81% to 95. Findings highlighted weak biosecurity practices and limited awareness of zoonotic disease risks. Recommendations include strengthening continuous education, integrating biosecurity protocols into daily farm routines, enhancing collaboration with veterinary services, and replicating the program in similar communities. These strategies are expected to promote community-based food security and the sustainability of smallholder livestock systems. Keywords: Biosecurity. Community Outreach. Food Security. Livestock Health Management. Tubo Tengah Village. ABSTRAK Desa Tubo Tengah. Kecamatan Tubo Sendana. Kabupaten Majene, merupakan wilayah dengan mayoritas penduduk sebagai peternak sapi dan kambing. Minimnya pengetahuan peternak mengenai manajemen kesehatan ternak menyebabkan tingginya risiko penyakit dan rendahnya produktivitas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peternak terkait biosekuriti, pengendalian penyakit, sanitasi kandang, serta manajemen pakan sehat. Sosialisasi dilaksanakan pada 14 Februari 2025 di Aula Desa Tubo Tengah, melibatkan 21 peternak. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif dan diskusi partisipatif. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan: skor rata-rata naik dari 2,24 menjadi 4,71 ( 41,27%) dan tingkat kelulusan meningkat dari 23,81% menjadi 95,24%. Temuan menunjukkan lemahnya penerapan biosekuriti serta kurangnya pemahaman tentang risiko zoonosis. Direkomendasikan penguatan edukasi berkelanjutan, integrasi protokol biosekuriti dalam praktik harian, peningkatan kolaborasi dengan layanan kesehatan hewan, dan replikasi program di wilayah serupa. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat dan keberlanjutan sektor peternakan rakyat. Kata Kunci: Biosekuriti. Desa Tubo Tengah. Ketahanan Pangan. Manajemen Kesehatan Ternak. Sosialisasi. Copyright A 2025 The Author. : This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Pendahuluan Desa Tubo Tengah terletak di wilayah Kecamatan Tubo Sendana. Kabupaten Majene, dan dikenal sebagai salah satu desa dengan mayoritas penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor peternakan, khususnya budidaya sapi dan kambing. Pola Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development pemeliharaan ternak yang diterapkan di daerah ini umumnya masih bersifat tradisional atau semi-intensif, dengan penerapan manajemen kesehatan hewan yang masih terbatas. Berdasarkan laporan UPTD Kesehatan Hewan dari Dinas Pertanian. Peternakan, dan Perkebunan Kabupaten Majene tahun 2023, tercatat sejumlah penyakit yang sering menjangkiti ternak di wilayah ini, diantaranya bruselosis, demam ephemeral bovina, cacingan . , konjungtivitis, baliziekte, kesulitan melahirkan . , kekurangan gizi . , radang hidung . , radang ambing . , dan kudis . Hasil observasi lapangan yang dilakukan bersama aparatur desa menunjukkan bahwa minimnya pemahaman peternak mengenai pentingnya pengelolaan kesehatan ternak menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan peternakan yang berkelanjutan. Permasalahan masyarakat yang teridentifikasi antara lain rendahnya pengetahuan peternak mengenai jenis-jenis penyakit ternak dan cara pencegahannya, kurangnya keterampilan dalam penerapan manajemen kesehatan ternak, seperti sanitasi kandang, pemberian pakan bergizi, dan penanganan ternak sakit, tidak adanya program pelatihan rutin atau penyuluhan kesehatan hewan di tingkat desa, terbatasnya akses terhadap tenaga medis hewan dan obat-obatan ternak dan masih rendahnya kesadaran peternak terhadap pentingnya kesehatan ternak dalam menunjang produktivitas dan ketahanan pangan Oleh karena itu, dibutuhkan penyelenggaraan kegiatan edukatif berupa sosialisasi untuk meningkatkan wawasan peternak terkait manajemen kesehatan hewan, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan di Desa Tubo Tengah. Upaya ini juga sejalan dengan potensi besar sektor peternakan nasional yang dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya asupan protein hewani (Dyer et al. , 2020. Puradireja et al. , 2. Sektor peternakan memegang peranan strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, karena hasil-hasil ternak merupakan salah satu sumber utama protein hewani yang esensial bagi kebutuhan gizi masyarakat. Namun, sektor ini menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait dengan kesehatan hewan. Salah satu kendala utamanya adalah tingginya potensi wabah penyakit ternak yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar bagi para peternak (Widianingrum et al. , 2023. Saatkamp et al. , 2. Selain itu, dampak penyakit hewan tidak hanya terbatas pada kerugian produksi langsung, tetapi juga mencakup dampak tidak langsung terhadap rantai pasok, kesejahteraan peternak, dan bahkan potensi dampak kesehatan masyarakat dalam perspektif One Health (Whatford et al. , 2. Iklim tropis Indonesia turut memperbesar risiko penyebaran berbagai agen patogen, seperti virus, bakteri, dan parasit, yang sangat mudah berkembang biak dalam kondisi suhu dan kelembaban tinggi (Adhianti et al. , 2023. Magdalena et al. , 2023 Kurangnya pengetahuan peternak mengenai berbagai jenis penyakit ternak, langkahlangkah pencegahan, serta tata kelola kesehatan hewan secara menyeluruh masih menjadi tantangan mendasar dalam pengembangan sektor peternakan, khususnya di wilayah Keterbatasan akses terhadap informasi dan pendidikan formal membuat banyak peternak belum memahami pentingnya manajemen kesehatan ternak yang efektif dan berkelanjutan (Ruru et al. , 2023. Nainggolan et al. , 2. Salah satu dampak nyata dari kondisi ini adalah rendahnya penerapan prinsip biosekuriti di tingkat peternakan rakyat. Praktik-praktik dasar seperti sanitasi kandang, penggunaan desinfektan secara rutin, serta pengawasan terhadap mobilitas hewan dan manusia di sekitar area peternakan masih sering diabaikan (FAO, 2. Hasil kajian oleh Gaina et al. juga menunjukkan bahwa sebagian besar peternak di Kabupaten Kupang belum menerapkan protokol biosekuriti secara optimal, termasuk tidak melakukan disinfeksi kandang secara berkala, tidak Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development memisahkan hewan baru untuk proses karantina, serta tidak memiliki sistem pengawasan lalu lintas manusia dan barang di area peternakan. Kondisi ini semakin memperbesar risiko penyebaran penyakit menular antar-hewan, yang berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak dan potensi kerugian ekonomi. Situasi ini mempertegas pentingnya intervensi edukatif dan pendampingan teknis yang berkelanjutan kepada peternak rakyat (Tundreng, 2024. Rahman et al. , 2. Peternakan di wilayah pedesaan sering diposisikan sebagai aktivitas tambahan atau simpanan ekonomi, bukan sebagai usaha utama, sehingga perhatian terhadap aspek kesehatan hewan cenderung minim (Boham et al. , 2. Lemahnya praktik manajemen dan kurangnya fasilitas sanitasi menyebabkan tingginya tingkat kontaminasi bakteri dan risiko Studi oleh Indah et al. menunjukkan bahwa sebagian besar peternakan ayam broiler di Jawa Timur belum menerapkan disinfeksi dan pengelolaan limbah yang memadai, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit. Beberapa penyakit ternak bersifat zoonosisAiseperti antraks, bruselosis, tuberkulosis, kudis, dan Q feverAiyang dapat menular ke manusia dan menimbulkan risiko kesehatan serius bagi peternak dan masyarakat sekitar (Bahiya & Ronaboyd, 2. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran biosekuriti, edukasi berkelanjutan kepada peternak, serta penguatan program pengawasan kesehatan hewan oleh pemerintah menjadi hal yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan sektor peternakan nasional. Tidak hanya berdampak pada penurunan produktivitas, kesehatan ternak yang buruk juga berkontribusi terhadap peningkatan angka kematian dan beban biaya pengobatan. Beberapa penyakit ternak bersifat zoonosisAiseperti antraks, bruselosis, tuberkulosis, kudis, dan Q feverAiyang dapat menular ke manusia dan menimbulkan risiko kesehatan serius bagi peternak dan masyarakat sekitar (Bahiya & Ronaboyd, 2. Oleh karena itu, edukasi terhadap peternak, peningkatan kesadaran biosekuriti, serta intervensi dari pemerintah melalui program pengawasan kesehatan hewan menjadi hal yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan sektor peternakan nasional. Untuk mengurangi risiko penyakit ternak, penting untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan perhatian masyarakat terhadap pentingnya manajemen kesehatan hewan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah melalui pelaksanaan program sosialisasi yang komprehensif dan terarah. Manajemen kesehatan ternak merupakan pendekatan yang esensial untuk mencegah penyebaran penyakit, yang dapat dilakukan melalui penguatan biosekuriti kandang, menjaga kebersihan lingkungan, mengatur pemberian pakan secara tepat, serta memberikan suplemen multivitamin dan obat cacing secara rutin (Affandhy et , 2. Jika prinsip-prinsip ini diterapkan dengan konsisten dan berkelanjutan, dampak negatif dari penyakit ternak dapat diminimalkan, serta mendukung keberhasilan dalam usaha peternakan (Diaz et al. , 2. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para peternak di Desa Tubo Tengah. Kecamatan Tubo Sendana. Kabupaten Majene mengenai pentingnya pengelolaan kesehatan ternak sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan Diharapkan melalui kegiatan ini, tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan kesehatan ternak yang berkelanjutan dapat meningkat, sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas ternak serta kesejahteraan para peternak. Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development Metode Pelaksanaan 1 Tempat. Waktu, dan Sasaran Kegiatan Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Februari 2025, bertempat di Kantor Desa Tubo Tengah. Kecamatan Tubo Sendana. Kabupaten Majene. Peserta kegiatan berjumlah 21 peternak aktif yang merupakan warga Desa Tubo Tengah. Pemilihan peserta dilakukan melalui rekomendasi Kepala Desa, dengan mempertimbangkan tingkat keterlibatan mereka dalam kegiatan peternakan di desa tersebut. 2 Alur Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan dirancang secara sistematis dan dituangkan dalam sebuah diagram alir . ihat Gambar . , yang terdiri dari tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Gambar 1. Diagram Alir Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi Manajemen Kesehatan Ternak di Desa Tubo Tengah. Tahap persiapan diawali dengan survei lokasi dan identifikasi masalah yang dihadapi oleh peternak terkait pengelolaan kesehatan ternak. Survei dilakukan melalui wawancara mendalam dengan Kepala Desa serta diskusi bersama warga, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi peternakan di wilayah tersebut. Informasi yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan materi sosialisasi yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Tim pelaksana juga melakukan persiapan sarana dan prasarana penunjang kegiatan agar proses sosialisasi dapat berjalan dengan optimal. Pada tahap pelaksanaan, kegiatan difokuskan pada penyampaian materi mengenai manajemen kesehatan ternak. Materi meliputi pengenalan penyakit yang sering menyerang sapi dan kambing, upaya pencegahan penyakit, prinsip biosekuriti, penerapan sanitasi kandang, serta pemberian pakan yang higienis dan bergizi. Metode penyampaian dilakukan secara ceramah interaktif yang dipadukan dengan sesi tanya jawab, sehingga memungkinkan terjadinya dialog dua arah antara pemateri dan peserta. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong partisipasi aktif para Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development 3 Evaluasi Kegiatan Tahap evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan dalam meningkatkan pemahaman peserta. Evaluasi dilakukan melalui pemberian pre-test sebelum pelaksanaan sosialisasi dan post-test setelah kegiatan selesai. Instrumen evaluasi berupa soal pilihan ganda dan isian singkat yang dirancang untuk mengukur pemahaman peserta terkait aspek-aspek penting dalam manajemen kesehatan ternak. Selain itu, peserta juga diminta mengisi lembar umpan balik yang berisi penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan dan saran perbaikan untuk kegiatan sejenis di masa yang akan datang. Hasil Kegiatan sosialisasi dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan teoretis, tetapi juga untuk mendorong pemahaman praktis para peternak terkait penerapan manajemen kesehatan ternak dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, untuk mengukur efektivitas kegiatan, dilakukan evaluasi melalui instrumen pre-test dan post-test yang berfungsi sebagai tolok ukur pemahaman peserta sebelum dan sesudah menerima materi. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peternak di Desa Tubo Tengah mengenai manajemen kesehatan ternak, sebagaimana dibuktikan oleh perbandingan skor pre-test dan post-test yang dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan. Rata-rata skor pre-test peserta berada pada rentang 45Ae55%, sedangkan skor post-test meningkat tajam menjadi 80Ae90%. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan penyampaian materi yang efektif serta relevansi topik yang dibahas dengan kebutuhan nyata masyarakat. Tabel 1. Rekapitulasi Peningkatan Pemahaman Peserta Berdasarkan Hasil Pre-Test dan Post-Test Aspek Pre-Test Post-Test Rata-Rata Nilai 2,24 4,71 Jumlah Peserta Lulus 5 Orang 20 Orang Jumlah Peserta Tidak Lulus 16 Orang 1 Orang Presentase Kelulusan 23,81% 95,24% Rata-Rata Peningkatan Kelulusan 2,48 Poin Presentase Peningkatan Nilai 41,27% Hasil tersebut diperkuat dengan data yang tersaji pada Tabel 1, yang menunjukkan peningkatan signifikan baik pada rata-rata nilai maupun persentase kelulusan peserta. Untuk memberikan gambaran visual yang lebih jelas terkait tren peningkatan pemahaman peserta. Gambar 2 berikut ini menyajikan perbandingan nilai pre-test dan post-test serta distribusi jumlah peserta yang lulus dan tidak lulus setelah pelaksanaan kegiatan. Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development Gambar 2. Grafik Nilai Pre Test dan Post Test Selain aspek kognitif, respon peserta juga sangat positif, baik dari segi antusiasme maupun tingkat partisipasi. Sebanyak 100% peserta mengisi lembar umpan balik dan menyatakan bahwa materi yang disampaikan mudah dipahami, aplikatif, dan sesuai dengan permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Mereka juga mengapresiasi penggunaan metode penyuluhan interaktif, studi kasus, serta pemaparan visual yang mendukung pemahaman konsep manajemen kesehatan ternak secara praktis. Kegiatan ini juga mendorong diskusi aktif antara peserta dan pemateri, terutama terkait masalah nyata seperti pengendalian penyakit menular, pemberian pakan yang higienis, serta pentingnya sanitasi kandang. Hal ini sejalan dengan studi Christi et al. yang menyebutkan bahwa peningkatan literasi peternak melalui penyuluhan yang partisipatif berkontribusi langsung terhadap perbaikan praktik pemeliharaan ternak dan penurunan risiko penyakit. Di akhir kegiatan, peserta menyampaikan harapan agar program semacam ini dilakukan secara berkelanjutan dan menyasar lebih banyak kelompok peternak. Permintaan tersebut menjadi indikator bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memberikan dampak edukatif yang bermakna dan mendorong perubahan sikap serta perilaku peternak terhadap pentingnya kesehatan ternak sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan lokal. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini tidak hanya berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan masyarakat, serta menjadi model implementasi nyata dari peran perguruan tinggi dalam penguatan kapasitas masyarakat di sektor peternakan Pembahasan 1 Tahap Persiapan Tahapan awal kegiatan pengabdian masyarakat diawali dengan observasi lapangan dan survei partisipatif yang dilakukan langsung di Desa Tubo Tengah. Kecamatan Tubo Sendana. Kabupaten Majene. Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para peternak lokal, khususnya dalam aspek pengelolaan Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development kesehatan ternak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan Kepala Desa, aparat dusun, dan beberapa peternak sebagai informan kunci. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar peternak belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai praktik manajemen kesehatan ternak, seperti biosekuriti, vaksinasi, dan sanitasi kandang. Banyak peternak masih mengandalkan pengetahuan tradisional yang diturunkan secara turun-temurun tanpa adanya pelatihan formal atau penyuluhan berkala dari tenaga ahli (Rahma et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Simamora dan Matoneng . , yang menyatakan bahwa rendahnya adopsi inovasi teknologi peternakan erat kaitannya dengan minimnya edukasi dan pendampingan kepada peternak di daerah rural (Klerkx dan Rose. Selanjutnya, tim pelaksana melakukan analisis kebutuhan . eeds assessmen. untuk memetakan prioritas intervensi. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, disepakati bahwa kelompok peternak di Desa Tubo Tengah menjadi sasaran utama program sosialisasi, dengan fokus pada peningkatan pemahaman mengenai manajemen kesehatan ternak sebagai upaya strategis mendukung ketahanan pangan lokal. Penetapan tema ini didukung oleh kajian Mehrabi et al. , yang menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, penghidupan masyarakat, dan kesejahteraan ekonomi, namun masih menghadapi berbagai tantangan teknis dan manajerial yang memerlukan intervensi kebijakan dan peningkatan kapasitas peternak. Metode pelaksanaan yang dipilih adalah pendekatan partisipatif dan edukatif melalui penyuluhan serta demonstrasi langsung di lapangan, sebagaimana direkomendasikan oleh Christi et al. , yang menekankan bahwa kegiatan penyuluhan berbasis pendekatan interaktif lebih efektif dalam membangun pemahaman peternak di daerah terpencil. Selain itu, pemilihan materi juga mempertimbangkan isu-isu aktual di dunia peternakan, terutama potensi wabah penyakit zoonosis dan ancaman terhadap produktivitas ternak (Eastwood et al. , 2. Hal ini sesuai dengan pandangan Pratama et al. yang menyatakan bahwa kurangnya manajemen kesehatan hewan secara sistematis dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit dari hewan ke manusia, terutama di lingkungan peternakan tradisional. Dengan landasan data yang kuat serta dukungan dari perangkat desa, kegiatan pun dirancang dengan tahapan yang sistematisAimulai dari penyusunan modul materi, penentuan narasumber ahli dari Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Sulawesi Barat, hingga persiapan logistik dan dokumentasi kegiatan. Tahap persiapan ini menjadi fondasi penting yang menjamin relevansi, efektivitas, dan keberlanjutan dari program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan. 2 Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Desa Tubo Tengah. Kecamatan Tubo Sendana, berhasil melibatkan 21 peternak aktif yang secara langsung bergelut dalam pengelolaan ternak di wilayah tersebut. Kehadiran Kepala Desa serta Wakil Dekan II Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Sulawesi Barat, menambah bobot dan legitimasi acara, sekaligus menunjukkan komitmen institusi akademik dalam mendukung peningkatan kapasitas masyarakat peternak lokal. Partisipasi yang tinggi dari peserta mencerminkan antusiasme yang besar terhadap isu manajemen kesehatan ternak yang dibahas. Hal ini juga menandakan bahwa materi yang disiapkan sangat relevan dengan kondisi dan kebutuhan nyata para peternak di lapangan. Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development Acara dimulai dengan pembacaan doa sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kelancaran kegiatan, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Dusun yang mewakili Kepala Desa, serta sambutan dari Wakil Dekan II yang memberikan gambaran tentang pentingnya sinergi antara dunia akademis dan masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui sektor peternakan. Selanjutnya, materi utama yang disampaikan berfokus pada manajemen kesehatan ternak yang mencakup beberapa aspek penting, seperti pengendalian penyakit, penerapan biosekuriti, sanitasi kandang, dan pemberian pakan yang berkualitas. Materi ini dirancang berdasarkan hasil survei awal yang menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang praktik kesehatan hewan yang benar. Pendekatan penyuluhan yang digunakan bersifat interaktif, dengan metode diskusi dan tanya jawab yang aktif untuk meningkatkan keterlibatan peserta serta memastikan pemahaman yang mendalam. Materi ini penting mengingat bahwa pengelolaan kesehatan ternak yang baik tidak hanya berdampak pada peningkatan produktivitas, tetapi juga berperan dalam mencegah penyebaran penyakit menular, termasuk zoonosis yang berpotensi mengancam kesehatan manusia (Suryani et al. , 2. Selain itu, penerapan biosekuriti yang efektif sangat krusial untuk mengurangi risiko kontaminasi dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh wabah penyakit ternak (Christi et al. , 2. Partisipasi aktif dalam sesi tanya jawab menunjukkan tingginya kesadaran peternak terhadap pentingnya manajemen kesehatan dan keinginan mereka untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dalam praktik sehari-hari. Studi oleh Simamora dan Matoneng . juga menggarisbawahi pentingnya penguatan kapasitas peternak melalui edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan adopsi teknologi dan inovasi dalam bidang peternakan. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya sebagai upaya transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam membangun ketahanan pangan di tingkat desa melalui pemberdayaan peternak. Gambar 3. Kegiatan Sosialisasi di Desa Tubo Tengah. Bulan Februari Selama sesi pemaparan materi, peserta menunjukkan perhatian yang sangat baik dan mengikuti dengan penuh keseriusan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang interaktif, di mana banyak peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait materi yang telah disampaikan. Mereka juga berbagi pengalaman mengenai masalah kesehatan ternak yang mereka hadapi dan berdiskusi mengenai solusi yang dapat diterapkan. Antusiasme peserta dalam sesi diskusi ini mencerminkan kebutuhan yang sangat tinggi akan informasi Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development dan pengetahuan terkait manajemen kesehatan ternak. Kegiatan ini berhasil menjawab kebutuhan tersebut dan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kapasitas peternak di Desa Tubo Tengah. Penyampaian materi pada kegiatan ini sangat relevan dan penting, mengingat mayoritas penduduk Desa Tubo Tengah bekerja sebagai peternak sapi dan kambing. Pola pemeliharaan yang masih mengandalkan metode tradisional atau semi-intensif menunjukkan bahwa banyak peternak yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip manajemen kesehatan ternak yang baik dan benar. Namun, sapi dan kambing adalah sumber utama yang sangat penting untuk ketahanan pangan, terutama dalam penyediaan protein hewani yang diperlukan oleh masyarakat (Ariani et al. , 2. Hal ini sesuai dengan tujuan pemerintah yang sedang mengintensifkan ketahanan pangan nasional dengan memperkuat ketersediaan protein hewani dari sektor peternakan (Syaharani, 2. Dalam konteks tersebut, pentingnya pendidikan kepada peternak tentang manajemen kesehatan ternak menjadi sangat krusial. Keberhasilan dalam usaha peternakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak yang dipelihara, tetapi juga oleh sejauh mana peternakan tersebut dapat meningkatkan pendapatan peternak serta menjamin keberlanjutan usaha mereka (Simamora & Matoneng, 2. Gangguan kesehatan ternak dapat membawa dampak yang cukup serius, seperti kematian ternak, penurunan produksi, dan peningkatan biaya untuk perawatan dan pengobatan (Nuraini et al. , 2. Selain itu, beberapa penyakit hewan juga berpotensi menular ke manusia . , yang dapat membahayakan kesehatan peternak dan masyarakat sekitar. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peternak tentang manajemen kesehatan ternak sangat penting untuk menjaga kesehatan ternak dan mengurangi kerugian (Rasyid et al. , 2. Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan para peternak dapat memperoleh informasi yang akurat dan dapat mengimplementasikannya dalam praktek peternakan mereka sehari-hari. Dengan demikian, tidak hanya ketahanan pangan di tingkat desa yang dapat terjamin, tetapi juga kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat. Penerapan manajemen kesehatan ternak yang baik diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan produktivitas ternak, mengurangi risiko penyakit, serta memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. Ini menjadi penting sebagai bagian dari upaya bersama untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan mandiri. Kesimpulan Hasil evaluasi pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peternak di Desa Tubo Tengah mengenai pentingnya manajemen kesehatan ternak. Materi yang disampaikan oleh narasumber terbukti memberikan wawasan baru, khususnya terkait dengan identifikasi awal gejala penyakit, langkah-langkah pencegahan, serta pentingnya penerapan sanitasi dan biosekuriti dalam sistem peternakan Pemaparan ini memperkuat pemahaman bahwa kesehatan ternak tidak hanya berdampak langsung terhadap produktivitas, tetapi juga memiliki implikasi jangka panjang terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Berdasarkan hasil evaluasi, dapat disimpulkan bahwa tujuan kegiatan telah tercapai dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta terhadap manajemen kesehatan ternak, sebagaimana tercermin dari rata-rata nilai pre-test sebesar 2,24 yang meningkat menjadi 4,71 pada post-test. Selain itu, tingkat kelulusan peserta juga mengalami lonjakan dari 23,81% menjadi 95,24%, menandakan keberhasilan penyampaian materi secara efektif dan diterima dengan baik oleh Volume 4 No 3: 448-459 Room of Civil Society Development Melihat hasil tersebut, kegiatan ini terbukti mampu meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat, khususnya peternak, dalam menerapkan prinsip-prinsip kesehatan ternak secara lebih baik. Oleh karena itu, direkomendasikan agar program sosialisasi seperti ini dilanjutkan secara berkala, dengan tambahan materi praktik langsung di lapangan, serta diperluas ke wilayah desa lain yang memiliki karakteristik serupa. Upaya ini penting sebagai bagian dari strategi penguatan sektor peternakan rakyat dan peningkatan ketahanan pangan berbasis komunitas secara berkelanjutan. Daftar Pustaka