Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 1 PENGARUH VIDEO EDUKASI GIZI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG AKTIVITAS FISIK DAN SARAPAN REMAJA DI SMP NEGERI 1 PONDOKSALAM PURWAKARTA Siti Mildaniati Rochman1. Aminarista*2. Aviani Harfika2 1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik 2 Dosen Program Studi Ilmu Gizi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik *Korespondensi: Jl. Terusan Kapten Halim KM. Pondok Salam - Purwakarta Email: riesta_amie@yahoo. ABSTRAK Latar Belakang: Masalah gizi pada remaja di Indonesia saat ini ialah kurangnya asupan makan seperti energi dan protein, ditandai dengan seringnya melewatkan sarapan yang memiliki peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan masalah gizi lainnya ialah kurangnya melakukan aktivitas fisik sehingga diperlukan aktivitas fisik yang terstruktur, terencana dan berulang. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan remaja mengenai aktivitas fisik dan sarapan. Pemberian video edukasi gizi membuat siswa tertarik untuk memperhatikan informasi yang disampaikan. Tujuan: Menganalisis pengaruh video edukasi gizi terhadap tingkat pengetahuan tentang aktivitas fisik dan sarapan remaja di SMP Negeri 1 Pondoksalam Metode: Penelitian ini merupakan quacy eksperimental dengan one group pre-posttest design di SMP Negeri 1 Pondoksalam pada bulan November Ae Desember 2022 dengan 3 kali pemberian edukasi setiap hari secara berturut-turut menggunakan video dengan durasi 8 menit 30 detik yang ditayangkan setiap pukul 08. 00 WIB kepada 80 subjek. Data pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan diukur menggunakan kuisioner Pre-post Analisis data menggunakan Uji wilcoxon. Hasil: Rata-rata pengetahuan tentang aktivitas fisik meningkat sebanyak 24,12 % dan pengetahuan sarapan meningkat sebanyak 28%. Ada pengaruh video edukasi gizi terhadap pengetahuan aktivitas fisik . =0,. dan sarapan . =0,. Simpulan: Terdapat pengaruh video edukasi gizi terhadap peningkatan pengetahuan tentang aktivitas fisik dan sarapan remaja di SMP Negeri 1 Pondoksalam Kata Kunci: Aktivitas Fisik. Pengetahuan. Remaja. Sarapan. Video Edukasi ABSTRACT Background: The current nutritional problem in adolescents in Indonesia is a lack of food intake such as energy and protein, characterized by frequent skipping of breakfast, which has an important role in meeting nutritional needs. another nutritional problem is the lack of physical activity, so structured, planned physical activity is needed. and repeated. This can happen because of the lack of knowledge among adolescents about physical activity and breakfast. Providing nutritional education videos makes students interested in paying attention to the information conveyed. Objective: Analyze the effect of nutrition education videos on the level of knowledge of physical activity and breakfast of adolescents at SMP Negeri 1 Pondoksalam Methods: This research is a quacy experiment with one group pre-posttest design at Pondoksalam 1 Public Middle School in November - December 2022 with 3 consecutive daily education sessions using a video with a duration of 8 minutes and 30 seconds broadcast every 08. 00 WIB to 80 subjects. Data on knowledge of physical activity and breakfast were measured using a pre-post test questionnaire. Data analysis using the Wilcoxon test. Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 2 Results: The average knowledge of physical activity increased by 24. 12%, and breakfast knowledge increased by 28%. There is an effect of nutritional education videos on knowledge of physical activity . =0. and breakfast . =0. Conclusion: There is an effect of nutrition education videos on knowledge of physical activity and breakfast for teenagers at SMP Negeri 1 Pondoksalam Keywords: Adolescents. Breakfast. Educational Video. Knowledge. Physical Activity PENDAHULUAN Masalah gizi Remaja di Indonesia ialah kurangnya asupan makanan seperti energi dan protein pada kalangan remaja usia 13-15 tahun yang menunjukan prevalensi 54,5% dan mengakibatkan status gizi kurang dengan prevalensi 6,8% . Kurangnya asupan energi dan protein melewatkan sarapan pagi yang memiliki peranan penting dalam memenuhi energi sebesar 15-30% dari kebutuhan gizi sehari . Masalah gizi lainnya yaitu aktivitas fisik remaja usia 10-14 tahun sekitar 64,4% kurang melakukan aktivitas fisik, sehingga diperlukan aktivitas fisik yang direncanakan, terstruktur dan kebugaran fisik . Sarapan makan di pagi hari yang dilakukan sebelum melakukan berbagai aktivitas seimbang, sekitar 69,6 % Anak Indonesia masih mengkonsumsi sarapan pagi yang belum sesuai dengan anjuran gizi seimbang yaitu isi piringku . Menunda sarapan dapat mengakibatkan remaja berlebihan di waktu makan siang maupun malam hari sehingga memicu peningkatan glukosa dalam tubuh yang akhirnya terjadi ketidakseimbangan energi, sehingga perlu diimbangi dengan aktivitas fisik . Aktivitas fisik merupakan gerakan tubuh dari hasil otot rangka yang dapat melepaskan energi. Penggunaan aktivitas fisik untuk pengeluaran energi sangat minimal yang menyebabkan jumlah asupan energi dalam tubuh akan berlebihan dan akan disimpan dalam bentuk jaringan lemak sehingga perlunya aktivitas fisik untuk mencegah penumpukan lemak yang beresiko mengalami obesitas . Hal ini pengetahuan anak mengenai pentingnya sarapan bergizi dan aktivitas fisik Kebiasaan makan dan aktivitas fisik remaja di SMPN 1 Pondoksalam menunjukan kebiasaan makan remaja yang tidak sehat sebanyak . ,7%) aktivitas fisik yang rendah . ,7 %), status gizi remaja kurus (-3SD sd < -2SD) sebanyak . ,9%), status gizi remaja gemuk ( 1SD sd 2SD) sebanyak . ,8 %) serta asupan protein < 80 % AKG sebanyak . ,7%) . Pemberian disampaikan dan terjadinya peningkatan pengetahuan yang signifikan yaitu sebesar 95 % . Video edukasi dapat menunjukan serangkaian gambar sebagai media dalam menunjukan contoh, cara bersikap serta pesan moral yang disampaikan . Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan intervensi pendidikan menggunakan media video edukasi sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh video edukasi gizi terhadap tingkat pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan Remaja di SMP Negeri 1 Pondoksalam. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode quacy experimental (One pre-posttest desig. cara pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah populasi 331 dan subjek sebanyak 80. Penelitian ini pada bulan November Ae Desember dengan 3 kali pemberian edukasi gizi setiap hari berturut-turut. Prosedur yang dilakukan Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 3 yaitu melakukan perizinan, memilih subjek yang memenuhi kriteria penelitian, pengukuran antropometri . erat badan menggunakan timbangan digital, tinggi badan menggunakan microtoice, serta penentuan status gizi menggunakan IMT/U) melakukan wawancara . ingkat aktivitas fisik dan kebiasaan sarapa. , pre-tes aktivitas fisik dan sarapan, pemberian edukasi menggunakan media video dengan durasi 8 menit 30 detik yang ditayangkan setiap pukul 08. 00 WIB menggunakan proyektor di Aula sekolah yang dibagi menjadi 2 sesi, untuk sesi pertama bagi subjek kelas Vi dan XI dan sesi kedua bagi subjek kelas VII, post-test aktivitas fisik dan sarapan. Kriteria pada penelitian ini ialah mengikuti seluruh rangkaian penelitian. Analisis distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji wilcoxon. Instrumen yang digunakan yaitu video edukasi, kuisioner International Physical Activity Questionnaire untuk mengukur tingkat aktivitas fisik yang dikelompokkan menjadi berat, sedang dan ringan . Food Frequency Questionare mengukur kebiasaan sarapan yang dikelompokkan menjadi sering, jarang dan tidak pernah . dan kuisioner Pre-post test untuk mengukur tingkat pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan yang dikelompokkan menjadi baik, cukup dan kurang . Penelitian ini telah disetujui dan lolos kaji etik oleh Komite Etik Penelitian Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka dengan Nomor : 03/22. 10/02083 dan izin penelitian dari SMPN 1 Pondoksalam. HASIL PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini adalah siswa/I SMP Negeri 1 Pondoksalam sebanyak 80 subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Data usia, jenis kelamin, kelas, dan status gizi, ditampilkan dalam tabel 1. Karakteristik subjek Tabel 1. Karakteristik subjek Karakteristik Subjek Usia (Tahu. Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Kelas VII Total Status Gizi Gizi kurang Normal Gizi lebih Total Jumlah . Persentase (%) 13,75 36,25 22,50 26,25 1,25 37,50 62,50 40,00 35,00 25,00 10,00 77,50 12,50 Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 4 Berdasarkan menunjukan bahwa sebagian besar subjek penelitian berusia 13 tahun sebanyak 29 subjek . ,25 %), berjenis kelamin perempuan sebanyak 50 subjek . ,50%), berada dikelas VII sebanyak 32 subjek . ,00%), memiliki status gizi normal sebanyak 62 subjek . ,50%). Tingkat pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan subjek Tabel 2. Tingkat pengetahuan subjek Tingkat pengetahuan Aktivitas fisik Cukup Baik Kurang Total Sarapan Cukup Baik Kurang Total Sebelum edukasi Persentase (%) Setelah edukasi Persentase (%) Tingkat pengetahuan aktivitas fisik sebelum diberikan pengetahuan baik sebanyak 12 subjek . %), pengetahuan cukup sebanyak 44 subjek . %), dan pengetahuan kurang 24 subjek . %). Setelah diberikan edukasi pengetahuan baik menjadi 61 subjek . ,3%), dan pengetahuan cukup 19 subjek . ,8%). Tingkat pengetahuan sarapan sebelum diberikan pengetahuan baik sebanyak 11 subjek . ,8%), pengetahuan cukup sebanyak 37 subjek . ,3%), dan pengetahuan kurang 32 subjek . %). Setelah diberikan edukasi pengetahuan baik menjadi 66 subjek . ,5%), dan pengetahuan cukup 14 subjek . ,5%). Perbedaan sebelum dan setelah pemberian video edukasi gizi terhadap pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan subjek Tabel 3. Perbedaan sebelum dan setelah pemberian video edukasi gizi Tingkat Pengetahuan Aktivitas fisik Sebelum Setelah Sarapan Sebelum Setelah Min-max Mean p-Value 58,75 82,87 0,000 56,50 84,50 0,000 Berdasarkan tabel 4. 3 menunjukan nilai rata-rata pengetahuan aktivitas fisik sebelum diberikan edukasi adalah 58,75 dan sesudah diberikan edukasi menjadi 82,87 sedangkan pengetahuan sarapan menunjukan nilai rata-rata pengetahuan sebelum diberikan edukasi adalah 56,50 dan sesudah diberikan edukasi dihasilkan nilai rata-rata 84,50. Hasil uji wilcoxon mengalami peningkatan dengan nilai p-value 0,000 (<0,. yang menunjukan adanya pengaruh video edukasi gizi terhadap pengetahuan aktivitas fisik dan Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 5 PEMBAHASAN Gambaran tingkat aktivitas fisik subjek Tingkat aktivitas fisik remaja di SMPN 1 Pondoksalam sebagian besar memiliki aktivitas fisik sedang sebanyak 55 %. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Septiany . terkait aktivitas fisik pada remaja putri di SMPN 1 Pondoksalam yang menunjukan bahwa remaja SMPN 1 Pondoksalam memiliki aktivitas fisik sedang 72,3 % . Hal ini dapat dilihat dari kegiatan remaja selama di sekolah lebih banyak melakukan aktivitas seperti belajar, berolahraga dan mengikuti ekstrakulikuler selama 1-2 hari dalam seminggu selama 60 menit. Aktivitas fisik remaja dirumah lebih banyak waktu untuk istirahat, mengerjakan tugas dan bermain Remaja SMPN Pondoksalam lebih banyak menggunakan transportasi umum dibandingkan berjalan kaki untuk menuju sekolah ataupun pulang sekolah dan ketika waktu santai atau hari libur sekolah, remaja melakukan aktivitas berat seperti membantu orang tua mengangkat beban dan mencangkul selama 1 hari dalam seminggu selama 30 menit dimana semakin tinggi aktivitas fisik mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani . Jenis olahraga yang sering dilakukan remaja di SMPN 1 Pondoksalam ialah voli dengan frekuensi olahraga 1 hari dalam Hal ini dapat terjadi karena jenis olahraga remaja di SMPN 1 Pondoksalam kurikulum mata pelajaran olahraga di Gambaran kebiasaan sarapan subjek Kebiasaan sarapan subjek di SMPN 1 Pondoksalam sebagian besar memiliki kebiasaan sarapan yang sering . ,25%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Runa, 2. yang menunjukan kebiasaan sarapan remaja memiliki kebiasaan sering . ,1%) . Hal ini dapat terjadi karena pengetahuan remaja terkait pentingnya sarapan sudah cukup . ,3%) dan adanya program membawa bekal sarapan setiap hari rabu sesuai dengan peraturan kementrian kesehatan nomor 41 tahun 2014 . Jenis SMPN Pondoksalam yang terbanyak ialah sarapan dengan nasi dengan ayam. Hal ini dapat terjadi karena remaja kurang mengkonsumsi karbohidrat dan protein Masalah sarapan yang terjadi saat ini diantaranya masih banyak anak sekolah yang salah memaknai sarapan yaitu dengan makan saat pagi atau minum saja memperhatikan kualitas sarapan yang dikonsumsi . Serta faktor yang mempengaruhi kebiasaan sarapan antara lain pengetahuan anak terkait gizi dan kesehatan, ketersediaan sarapan dirumah, waktu tempuh atau jarak rumah ke sekolah, jumlah uang jajan, membawa pekerjaan orang tua . Sarapan yang berkualitas baik ialah makanan yang beragam dan susunan menu yang dikonsumsi seimbang dimana kualitas sarapan dapat dilihat dalam keanekaragaman makanan dalam jumlah dan porsi yang sesuai sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi seseorang . Tingkat pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan subjek Edukasi gizi melalui video yang terdiri dari 10 soal pertanyaan terkait aktivitas fisik dan 10 pertanyaan terkait sarapan dihasilkan rata-rata nilai sebelum edukasi ialah 58,75 untuk aktivitas fisik dan 56,50 untuk sarapan dengan nilai terendah 20 dan tertinggi 80 sedangkan setelah diberikan edukasi meningkat menjadi 82,87 untuk aktivitas fisik dan 84,50 untuk sarapan dengan nilai terendah 60 dan tertinggi 100. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Diba. , et al,2. rata-rata nilai pengetahuan sebelum diberikan edukasi dihasilkan 58,25 dan menigkat menjadi 86,75 . Hal ini dapat terjadi karena remaja sudah memahami perlunya melakukan aktivitas fisik serta pentingnya sarapan terhadap konsentrasi ketika Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 6 Penayangan video pada penelitian ini dilakukan setiap pukul 08. 00 pagi selama 8 menit 30 detik, dimana saat remaja datang ke sekolah dengan kemampuan konsentrasi yang tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan (Muchtar, et al, 2. terkait hubungan sarapan terhadap konsentrasi pada Remaja yang menunjukkan bahwa WIB meningkatkan konsentrasi tinggi yang berarti penayangan video dipagi hari mampu meningkatkan pengetahuan . Usia remaja pada penelitian ini berkisar usia 12-16 tahun dimana usia seseorang akan mempengaruhi pola pikir terhadap pengetahuan baru . Siswa SMP yang masih dalam tahap proses belajar sehingga mudah dalam menerima . Penerimaan dipengaruhi kemampuan literasi remaja dalam menerima informasi gizi yang didapatkan . Pengetahuan akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan menjadi suatu kebiasaan yang dapat membentuk sikap seseorang. Sikap positif yang dimiliki akan merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik . Perbedaan sebelum dan setelah pemberian video edukasi gizi terhadap sarapan subjek Hasil uji statistik menggunakan uji wilcoxon didapatkan hasil p=0,000 yang artinya pada penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh pemberian video edukasi gizi terhadap pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan subjek. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Prasetyo, 2. yang menunjukan nilai signifikansi p=0,000 . Hal ini dapat terjadi karena media edukasi gizi yang digunakan menarik dan mampu membuat remaja paham pentingnya sarapan peningkatan skor pre-post test subjek. Peningkatan pengetahuan pre-post test aktivitas fisik subjek sebelum edukasi sebagian besar dikategorikan cukup dan peningkatan 33,75 % pada butir soal nomor 10 mengenai dampak bila tidak melakukan aktivitas fisik dan peningkatan kedua terbanyak pada butir soal nomor 6 dengan peningkatan 28,75 % mengenai waktu untuk melakukan aktivitas fisik pada usia 5-17 tahun. Peningkatan skor pengetahuan pre-post test sarapan subjek dikategorikan cukup dan meningkat menjadi baik dengan peningkatan sekitar 47,5 % pada butir soal nomor 6 mengenai menu sarapan pagi yang baik dan peningkatan kedua terbanyak butir soal nomor 10 dengan peningkaan 42,5% mengenai dampak bila tidak melakukan Hal ini dapat terjadi karena jenis informasi yang diberikan menarik dan siswa sudah terbiasa membawa bekal sarapan di setiap hari Rabu. Program di SMPN 1 Pondoksalam dengan membawa bekal sarapan setiap hari Rabu bagi siswa mendukung intervensi gizi. Pendidikan gizi akan berjalan dengan efektif bila diiringi dengan tindakan sehingga remaja paham pentingnya sarapan. Selain itu, peran guru dan orang tua yang merupakan role model juga memiliki peran penting, serta jenis informasi pendidikan gizi yang efektif akan mudah dipahami oleh siswa . Penggunaan media video dalam memberikan edukasi sangat membantu keefektifan dalam proses pembelajaran, video mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran yang dapat mempengaruhi pengetahuan siswa . Berdasarkan penelitian (Meliyanti, 2. Pengetahuan siswa meningkat sebanyak 17% menggunakan media video . Sebagian besar remaja di SMPN 1 Pondoksalam mengetahui dan memahami pentingnya sarapan namun masih terdapat remaja yang melewatkan sarapan dengan alasan tidak terbiasa dan tidak tersedianya makanan di pagi hari. Edukasi menggunakan video dapat meningkatkan motivasi Remaja untuk menerima pesan dan mengingatnya dengan lebih baik karena video menampilkan gerak, gambar dan suara sehingga Remaja mempunyai keingintahuan terhadap isi video . Journal of Holistic and Health Sciences Vol. No. Januari-Juni 2024 | 7 Video memiliki dampak yang lebih pada edukasi kesehatan dari pesan yang disampaikan serta penayangan video secara berulang-ulang akan cepat dan mengembangkan pikiran remaja . Pada penelitian ini, jenis informasi yang diberikan menggunakan video animasi yang membuat siswa lebih tertarik terhadap materi yang diberikan. Berdasarkan penelitian (Azhari, 2. kelompok video animasi lebih besar dibandingkan hanya ceramah . Sebagian besar remaja di SMPN 1 Pondoksalam mengetahui dan memahami materi yang diberikan namun, masih terdapat remaja yang kurang melakukan aktivitas fisik dikarenakan malas dan waktunya sempit. Video edukasi memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran siswa dengan baik secara mandiri maupun dikelas sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran yang dapat memperjelas, mempermudah, mempercepat penyampaian pesan, sebagai pengarah pesan, materi atau kompetensi apa yang akan dikembangkan untuk dimiliki siswa, sebagai permainan atau membangkitkan perhatian dan motivasi siswa . SIMPULAN Rata-rata pengetahuan aktivitas fisik meningkat sebanyak 24,12 % dan pengetahuan sarapan meningkat sebanyak 28% sehingga terdapat pengaruh video edukasi gizi terhadap tingkat pengetahuan aktivitas fisik dan sarapan Remaja di SMP Negeri 1 Pondoksalam (P=0,. SARAN Dalam penelitian ini pengetahuan Remaja terkait dengan pentingnya aktivitas fisik dan sarapan sudah dikategorikan baik namun tidak sampai kualitas sarapan yang dikonsumsi, maka dari itu disarankan bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh video edukasi gizi terhadap kualitas sarapan remaja. REFERENSI