Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. Edukasi Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Dibawah Usia 6 Bulan di Puskesmas Batang Beruh Sidikalang Nurcahaya Nainggolan1*. Marta Imelda Br Sianturi2. Desy Lustiyani Rajagukguk3 1,2Universitas Audi Indonesia 3Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara. Indonesia *penulis korespondensi : nurcahayanainggolan00@gmail. Abstrak. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah 6 bulan. Permasalahan yang dihadapi adalah faktor-faktor yang menyebabkan ibu memberikan MPASI dini yaitu pengetahuan ibu yang kurang contohnya bayi yang terus menangis dianggap bayinya lapar dan tidak cukup hanya diberikan ASI saja. Selain itu masalah sosial budaya menyangkut masalah kebiasaan yang berkembang di masyarakat seperti pemberian pisang dan bubur yang di buat sendiri pada bayi sebelum berumur enam bulan disebabkan ASI ibu dianggap tidak mencukupi kebutuhan makanan bayi. Selain itu adanya hubungan antara pengetahuan dengan sikap ibu terhadap pemberian MP-ASI dini. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang kurang sangat mendukung sikap ibu dalam pemberian MPASI dini pada bayinya. Hasil dari kegiatan sosialisasi ini ialah disaat pra sosialisasi 93% menyatakan belum mengetahui dan memahami dengan baik tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan. Sedangkan 7% lainnya menyatakan mengerti pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan karena sudah pernah melahirkan sebelumnya. Selanjutnya pasca sosialisasi 100% ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh mengetahui dan memahami dengan baik tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan. Peserta mulai memaknai pentingnya pengetahuan tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan dengan baik. Historis Artikel: Diterima : 23 Juli 2023 Direvisi : 03 Agustus 2023 Disetujui : 07 Agustus 2023 Abstract. The community service activities carried out aim to increase understanding of exclusive breastfeeding in infants under 6 months. The problems faced are the factors that cause mothers to give early MP-ASI, namely the mother's lack of knowledge, for example a baby who keeps crying is considered a hungry baby and it is not enough to give only breast milk. Apart from that, socio-cultural issues relate to the problem of habits that develop in the community, such as giving bananas and self-made porridge to babies before they are six months old because the mother's milk is considered to be insufficient for baby food needs. In addition, there is a relationship between knowledge and mother's attitude towards early complementary This shows that the mother's lack of knowledge strongly supports the mother's attitude in giving early MP-ASI to her baby. The result of this socialization activity was that during the pre-socialization 93% said they did not know and understand well about exclusive breastfeeding for babies under 6 months of age. Meanwhile, another 7% stated that they understood exclusive breastfeeding for babies under the age of 6 months because they had given birth before. Furthermore, after the socialization 100% of postpartum mothers who were treated at the Batang Beruh Health Center knew and understood well about exclusive breastfeeding for babies under 6 months of age. Participants began to properly understand the importance of knowledge about exclusive breastfeeding in infants under 6 months of age. Kata Kunci: ASI Eksklusif. Bayi Usia Dibawah 6 bulan PENDAHULUAN Air Susu Ibu adalah makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Rekomendasi dari United Nation Childrens Funds dan World Health organization menyatakan bahwa sebaiknya anak hanya disusui ASI selama paling sedikit enam bulan dan makanan padat seharusnya diberikan sesudah anak berumur enam bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO dan UNICEF pada tahun 2018, secara global menunjukkan tingkat pemberian ASI eksklusif cukup rendah yaitu hanya 41 persen. Di Indonesia dari data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa tingkat pemberian ASI eksklusif hanya mencapai 37 persen (Asnidawati & Ramdhan. Journal Abdimas Mutiara Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. Kementerian Kesehatan ingin meningkatkan target pemberian ASI eksklusif menjadi 80%. Namun pemberian ASI eksklusif masih jarang di Indonesia, terhitung hanya 74,5% dari semua bayi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2021, 52,5 atau hanya setengah dari 2,3 juta bayi berusia kurang dari enam bulan yang mendapat ASI eksklusif di Indonesia, atau menurun 12 persen dari angka di tahun 2019. Adapun persentase bayi kurang 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI Ekslusif di Sulawesi tenggara sebanyak 49,9% dan di kabupaten Kolaka cakupan ASI ekslusif yaitu 68,8% (Afrianty & et. , 2. ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain kecuali obat. Setelah 6 bulan ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan mineral seperti zat besi, seng sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus diberikan MP ASI . akanan pendamping ASI ) yang kaya zat Bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, dan bayi yang memiliki kelainan hematologi tidak memiliki cadangan besi adekuat pada saat lahir umumnya membutuhkan suplementasi besi sebelum usia 6 bulan, yang dapat diberikan bersama dengan ASI eksklusif. Yang perlu dipahami dalam pemberian ASI adalah produksi ASI yang tidak selalu sama setiap harinya. yaitu antara 450 - 1200 ml per hari, sehingga bila dalam 1 hari dirasakan produksinya berkurang, maka belum tentu akan begitu seterusnya. Bahkan pada 1-2 hari kemudian jumlahnya akan melebihi rata-rata sehingga secara kumulatif akan mencukupi kebutuhan bayi (Sembiring, 2. Pemberian ASI yang optimal dapat mengurangi mortalitas dan morbiditas serta memiliki dampak jangka panjang pada kecerdasan dan kinerja seseorang pada saat dewasa. Balita yang tidak diberikan ASI eksklusif berpeluang 61 kali lipat mengalami stunting dibandingkan balita yang diberi ASI eksklusif. Diare pada anak balita diakibatkan oleh dua faktor utama yaitu faktor perilaku seperti pemberian ASI tidak eksklusif dan faktor lingkungan seperti sanitasi dan personal hygiene yang tidak baik. Bagi ibu, menyusui dapat menurunkan risiko perdarahan dan depresi pasca persalinan. Pemberian ASI terbukti dapat mencegah 823. 000 kematian per tahun kematian pada anak di bawah usia 5 tahun dan 20. 000 kematian pada wanita karena kanker payudara. Pengetahuan mengenai ASI eksklusif juga berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI pada bayi. Hasil penelitian di 19 negara berkembang menunjukkan bahwa faktor Sosial Budaya seperti keyakinan ibu dan orang lain secara yang signifikan menjadi hambatan kuat dalam pemberian ASI Eksklusif (Asnidawati & Ramdhan, 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi ASI eksklusif yaitu produksi ASI kurang, ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar, ingin relaktasi, terlanjur mendapat prelactal feeding . emberian air gula/dekstrosa, susu formula pada hari hari pertama kelahira. , kelainan ibu contohnya masalah anatomi payudara, ibu hamil lagi padahal masih menyusui, ibu bekerja, abnormalitas bayi/kelainan bayi, dan persepsi yang salah mengenai ASI. Faktor lain separti perubahan sosial budaya, faktor psikologis, faktor fisik ibu, faktor kurangnya petugas kesehatan, meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI, petugas kesehatan menganjurkan penggunaan PASI, puting susu nyeri/lecet, payudara bengkak . , saluran susu tersumbat, mastitis, abses payudara, kelainan anatomis pada puting susu, kegagalan menyusui, bayi enggan menyusu, gagal tumbuh pada bayi yang mendapat ASI, ikterus pada bayi yang minum ASI, bayi lahir dengan operasi sectio caesaria, bayi kembar, penyakit kronis/berat pada ibu, ibu dengan diit tertentu, pemberian obatobatan pada ibu menyusui, dan menyusui pada waktu hamil (Aditya & et. , 2. Analisis Situasional Pada tahun 2012 Pemerintah RI mengesahkan Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif. Dalam peraturan ini pemerintah RI mengatur fungsi dan peranan pemerintah dari segala jajaran mulai dari tingkat pusat sampai daerah untuk mendukung dan melaksanakan program peningkatan pemberian ASI eksklusif. Peraturan ini juga mengatur lembaga pemerintah dan lembaga kesehatan untuk memberikan edukasi mengenai pemberian ASI eksklusif, tatacara, dan isi edukasi yang disampaikan turut diatur dalam peraturan ini. Masih rendahnya pencapaian program pemberian ASI eksklusif Journal Abdimas Mutiara Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. dapat terjadi karena beberapa hambatan, diantaranya rendahnya pengetahuan tentang manfaat dan tujuan pemberian ASI eksklusif bisa menjadi penyebab gagalnya pemberian ASI eksklusif. Puskesmas Batang Beruh Sidikalang menjadi tempat edukasi pemberian ASI eksklusif yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Audi Indonesia. Setelah melakukan wawancara terhadap ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh Sidikalang, dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ibu memberikan MP- ASI dini yaitu pengetahuan ibu yang kurang contohnya bayi yang terus menangis dianggap bayinya lapar dan tidak cukup hanya diberikan ASI saja. Selain itu masalah sosial budaya menyangkut masalah kebiasaan yang berkembang di masyarakat seperti pemberian pisang dan bubur yang di buat sendiri pada bayi sebelum berumur enam bulan disebabkan ASI ibu dianggap tidak mencukupi kebutuhan makanan bayi. Selain itu adanya hubungan antara pengetahuan dengan sikap ibu terhadap pemberian MP-ASI dini. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang kurang sangat mendukung sikap ibu dalam pemberian MP-ASI dini pada bayinya. Oleh sebab itu, tim pengabdian masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Audi Indonesia melakukan kegiatan edukasi pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah 6 bulan, dalam bentuk sosialisasi yang ditujukan bagi ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh Sidikalang. Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah 6 bulan. SOLUSI PERMASALAHAN MITRA Berdasarkan observasi dan diskusi langsung antara tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat dan Puskesmas Batang Beruh Sidikalang diperoleh beberapa hal yang menjadi solusi dalam permasalahan mitra yaitu secara langsung memberikan pemahaman terkait pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah 6 bulan. Oleh karena itu, edukasi pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah 6 bulan yang dilakukan diharapkan mampu memberikan ASI yang baik dan benar kepada bayinya. METODE Metode yang digunakan dalam Edukasi Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Dibawah 6 Bulan Di Puskesmas Batang Beruh Sidikalang adalah metode ceramah, diskusi dan sesi tanya jawab. Metode Evaluasi Evaluasi dilakukan pada akhir sesi kegiatan. Evaluasi yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat adalah memberikan kuesioner kepada seluruh peserta sosialisasi yang mengikuti kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun hasil kegiatan adalah sebagai berikut: Tabel 1 : Hasil Pencapaian Akhir Unsur Pra Sosialisasi Pasca Sosialisasi Edukasi Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Dibawah Usia Bulan Puskesmas Batang Beruh Sidikalang Belum mengetahui dan Pemberian ASI Ekslusif Pada Mengetahui dengan baik Pemberian ASI Ekslusif Journal Abdimas Mutiara Uraian Persentase (%) Memberikan Edukasi Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Dibawah Usia 6 Bulan baik teori atau praktik Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. Bayi Dibawah Usia 6 Bulan baik teori atau Pada Bayi Dibawah Usia 6 Bulan baik Pembahasan Kegiatan pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan baik teori atau praktik berjalan baik dan lancar. Kegiatan terlaksana secara interaktif dan para peserta sosialisasi juga sangat antusias terlibat dalam diskusi dan sesi tanya jawab. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan dari beberapa peserta serta keikutsertaan peserta dalam menanggapi jawaban pemateri dan pertanyaan dari peserta lain. Keaktifan pemateri yang memberikan pertanyaan pada peserta terkait sejauhmana mereka mengenal dan memahami pemebrian ASI ekskluisf melalui pre test yang disebar melalui kuesioner menunjukkan pra sosialisasi 93% menyatakan belum mengetahui dan memahami dengan baik tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan. Sedangkan 7% lainnya menyatakan mengerti pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan karena sudah pernah melahirkan sebelumnya. Luaran dari kegiatan ini berdasarkan hasil post test menunjukkan 100% ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh mengetahui dan memahami dengan baik tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan. Peserta mulai memaknai pentingnya pengetahuan tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan dengan baik. Diakhir kegiatan pemateri menutup dengan memberikan pesan kepada ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh Sidikalang untuk tetap menumbuhkan memberikan ASI yang terbaik kepada KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah dengan mengadakan dan terselesaikan edukasi pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan, disaat pra sosialisasi 93% menyatakan belum mengetahui dan memahami dengan baik tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan. Sedangkan 7% lainnya menyatakan mengerti pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan karena sudah pernah melahirkan sebelumnya. Selanjutnya pasca sosialisasi 100% ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh mengetahui dan memahami dengan baik tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan. Peserta mulai memaknai pentingnya pengetahuan tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah usia 6 bulan dengan baik. Adapun saran yang dapat disampaikan yaitu diharapkan ibu nifas yang dirawat di Puskesmas Batang Beruh Sidikalang perlu ditingkatkan lagi pemahaman terkait edukasi pemberian ASI demi kebaikan si bayi. UCAPAN TERIMAKASIH Kami dari Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mengucapkan terimakasih kepada Fakultas Kesehatan Universitas Audi Indonesia yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mendukung kami dalam melaksanakan kegiatan PKM sebagai salah satu Tri Dharma di Perguruan Tinggi. DAFTAR PUSTAKA