215 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 17. Nomor 2. Oktober 2025. Hal 215-232 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Pandangan Filsuf Muslim Dan Barat Tentang Filsafat Dan Sains Islam Yuni Armayanti* Institut Agama Islam Rokan yuniarmayanti313@gmail. Koresponden* Laila Afni Rambe Institut Agama Islam Rokan lailaafnirambe20@gmail. Diterima: . 5-06-. Direvisi: [ 2025-08-. Disetujui: . 5-10-. Abstract This paper examines the views of Muslim and Western philosophers on Islamic philosophy and science, with the aim of understanding the contributions and interactions between the two traditions of thought. Muslim philosophers such as Al-Farabi. Ibn Sina, and Al-Ghazali attempted to integrate religious teachings with rational thought, creating a dialogue between revelation and They emphasized the importance of empirical experience, ethics, and spirituality in the development of science. Western philosophers, on the other hand, provided a different perspective, often emphasizing rationalism, empiricism, and the scientific method. Despite differences in epistemological and methodological approaches, the dialogue between Muslim and Western philosophers shows that the search for truth is a universal endeavor that transcends cultural and religious boundaries. This paper hopes to provide deeper insight into the relationship between philosophy and science in the Islamic context and the significant contributions made by thinkers from both traditions to the development of global science. The findings suggest that despite methodological differences, both Muslim and Western thinkers recognize the organic unity of philosophy and science in the Islamic tradition, as well as its relevance in addressing contemporary epistemological challenges. Keywords: Islamic Philosophy. Science. Religion Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. PENDAHULUAN Filsafat dipahami sebagai aliran pemikiran yang mulai berkembang 600 tahun lalu, segala hal yang menjadi persoalan saat ini direspon oleh berbagai agama kemudian dijadikan cerita turun temurun oleh generasi generasi lalu dalam sebuah bentuk mitos, salah satu nya mitos mengenai dewa-dewa. Mitos tersebut memberikan stigma bahwa jika ada Guntur dan halilintar pasti ada hujan, dimana hujan sangat penting bagi petani maka masyarakat pada masa itu memuja thor sebagai dewa kesuburan. Saat itu filsuf Yunani akan membuktikana mitosa tersebut dengan filsafat agar masyarakat tidak mempercayai mitos tanpa dasar yang meyakinkan. Para filosofi Yunani paling awal sering disebut dengan filosof alam yang mana mereka menaruh perhatian pada alam dari proses-proses yang terjadi pada Saat ini sudah banyak yang berfikir mengenai sesuatu muncul pasti dari ketiaadaan 1, gagasan ini muncul dan dengan cepat menyebar di Yunani pada masanya dan filosof Yunani mengemukakan bahwa sesuatu itu selalu ada. Filsafat awal mulanya tidak selalu diterima oleh masyarakat salah satunya adalah seorang filosof Socrates . -399 SM) yang memiliki pengaruh besar tehadap pemikiran eropa yang berakhir tragis karena dihukum mati akibat dari aktivitas filsafatnya. Socrates adalah guru dari filosof Plato . -347 SM), plato meyakini bahwa tidak ada yang kekal di ala mini sebab segala hal yang berda dalam dunia material akan musnah ditelan waktu namun yang kekal hanyalah bentuk dari objek tersebut, seperti seekor Kuda yang termasuk dalam bentuk material yang akan mengalami penuaan, sakit, lumpuh dan mati namun bentuk dari kuda tersebut akan kekal abadi. Filsuf lainnya yang cukup eksis adalah Aristoteles . -322 SM) merupakan murid dari Plato selama hampir 20 tahun. Aristoteles tidak hanya sekedar seoarang filosof Yunani besar tetapi juga seorang ahli biologi besar pertama Eropa. Aristoteles memperhatikan perubahan Alam berbeda dengan Plato yang mesra dengan pemikirannya yang memperhatikan bentul-bentuk yang kekal, jika plato menggunakan akalnya maka Aristoteles menggabungkan akal dan perasaan. Orang yang hidup di zaman plato tentu memiliki filosofi hidup yang berbeda dengan filosofi yang dianut oleh orang yang hidup hari ini. Karena mereka hidup di masa, kondisi dan situasi yang berbeda. Kecerdasaan yang dimiliki setiap orang dapat mengeluarkannya dari kondisi yang tidak Lily Sardiani Daulay et al. AuEpistemologi Filsafat dan Sains Perspektif Barat dan Islam Dalam Dunia PendidikanAy 4. No. : 408Ae21. 217 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 diinginkannya . Tentunya mengeluarkan diri dari perangkap pikiran menuju kebebasan membutuhkan keberanian sebagaimana Socrates yang memanfaatkan kecerdesaan akalnya berusaha keluar dari pemikiran yang berkembang saat itu. Hari ini orang-orang dari berbagai kebudayaan, negara bahkan agama semakin membaur karena mereka berpendapat lebih baik menerima kepercayaan masing-masing dari pada mempertanyakan tentang halhal yang mereka percayai atau tidak. Dari para filosof Yunani dapat disimpulkan bahwa mulanya filosof dan ilmuan mengembangkan sains dengan tujuan untuk menemukan kebenaran pada suatu persoalan yang terdapat pada sains itu sendiri. Saat itulah awal pembentukan suatu pemikiran tentang kosmologi yaitu kaitannya dengan alam semesta, buah hasil dari pemikiran menjadikan para filosof menemukan informasi mengenai alam semesta, lingkungan masyarakat, serta diri filosof itu Perdebatan antara sains dan agama selalu memiliki kesan ketidakharmonisan dimana Sains berada pada ranah objektif, sedangkan agama ada di ranah subjektif. Pemahaman antara sains dengan agama . sering sekali tidak berjalan beriringan, para ilmuan menempatkan sains dan teknologi sebagai suatu penemuan atau ilmu yang sekiranya dapat dipertangungjawabkan, sedangkan tokoh-tokoh agama lebih condong untuk berbicara tentang akhirat dan dakwah moral, sehingga sering terjadi benturan antara sains, teknologi dan juga agama. Agar tercipta keselarasan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sains maka harapannya tokoh-tokoh agama juga mengedepankan aspek akal budi atau daya fikir rasional dalam persoalanpersoalan pemecahan masalah dalam kehidupan. Tetapi kesimpulan tersebut selalu tertinggal karena saat ini, masa keterbukaan yang dapat membuktikan jika sains dan gama adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, dimana pengabdian tanpa diiringi penelitian maka akan berubah menjadi fanatic atau bahkan dogma yang sempit 3. Pertemuan antara tradisi intelektual Islam dan Barat telah melahirkan interaksi yang kompleks dalam sejarah perkembangan filsafat dan sains. Filsafat dan sains Islam memiliki posisi unik dalam sejarah intelektual dunia, menjembatani pengetahuan klasik Yunani-Romawi dengan Eropa masa Renaissance dan era modern. Dalam konteks globalisasi dan dialog peradaban kontemporer, pemahaman mendalam tentang pandangan filsuf Muslim dan Daulay et al. Daulay et al. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. 218 Barat mengenai filsafat dan sains Islam menjadi sangat relevan untuk memperkaya wacana akademik dan membangun jembatan pemahaman lintas Filosofi pada Islam diawali dengan masa alkindi . dimana sebagai pelopor filosof muslim alkindi pernah berkata bahwa kita sebagai muslim tidak perlu merasa malu ketika mengambil pendapat atau ilmu dari bangsa non muslin atau bangsa yang sudah terdahulu, karena hakekatnya bagi seseorang yang mencintai ilmu pengetahuan akan menjunjung tingi kebenaran yang bila mana kita kaji lagi kebenaran juga yang membawa kita pada Dari alkindi kita belajar bahwa ilmu bisa bersumber dari mana saja, dan tidak perlu malu untuk mengakui bahwa ilmu yang kita anut kebenaranya berasal dari bangsa non muslim, karena hakekat ilmu sebenarnya adalah menjunjung haq atau kebenaran. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan pada surah Mujadillah ayat 11: AuAllah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu diantara kalian beberapa derajatAy Mencari kebenaran merupakan hal pokok yang diajarkan diawal-awal Islam, dari surah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang akan dilebihkan derajatnya dari orang lain jika berilmu, kata berilmu tentu saja berimplikasi pada kebenaran yang harus dicari sampai ke dasar pengetahuan. Ilmu merupakan bukti kemajuan peradaban dan tidak ada peradaban yang berkembang tanpa menjadikan ilmu sebagai ujung tombaknya 6 mengatakan tidak semua ilmu memiliki kebermanfaatan yang baik dengan catatan jika ilmu tersebut disalahgunakan dengan membuat kerusakan di bumi serta membuat kerugian bagi kehidupan alam dan perilaku kejahatan manusia mulai dari criminal, perang, bencana alam, pencemaran lingkungan merupakan contoh dari penyalahgunaan ilmu. Sebuah kebenaran dapat ditemukan dan dibuktikan dengan pembuktian empiris serta dapat dijelaskan secara nalar manusia, sehingga pada akhirnya dari pembuktian empiris dapat memberikan kontribusi mendasar mengenai metode Antara Islam dan Barat dalam hal sains atau ilmu pengetahuan memang telah terjadi pemisahan yang tegas atau bertolak belakang . Pada faktanya bahwa tidak ada dikotomi ilmu antara Islam dan Barat, hanya saja yang Azizah Hanum OK Muhammad Nasrullah Ramadhana. Mat Amin. AuFilsafat dan Sains Prespektif Yunani Dan Islam,Ay Journal of Human And Education Volume 4, . : pp 13841390. Badarussyamsi Ramandha Rudwi Hantoro. Ahmad Syukri. AuKlasifikasi Ilmu Pengetahuan Barat dan Islam Serta Kontribusinya Dalam Dunia Akademik,Ay Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 14, . : 90Ae114. Eko Suryaddin Zain. Lc. AuFilsafat Ilmu Antara Islam dan Barat,Ay 2013, 0Ae17. 219 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 terjadi adalah pengelompokan atau ilmu pengetahuan yang diklasifikasikan karna kembali lagi tidak bisa dipungkiri bahwa jika dilihat berdasarkan sejarah perkembangan filsafat serta dasar keilmuan yang diperoleh para filosof muslim, para filosof muslim mempelajari serta mengambil ilmu-ilmu dari para filosofi Yunani. Filsafat dan sains Islam berkembang selama periode abad ke-8 hingga ke-16 Masehi, sebuah era yang sering disebut sebagai "Zaman Keemasan Islam". Selama periode ini, para sarjana Muslim tidak hanya melestarikan karya-karya klasik dari Yunani. Persia, dan India tetapi juga mengembangkan, memperluas dan mentransformasikan pengetahuan tersebut melalui lensa budaya dan teologi Islam. Para filsuf Muslim seperti Al-Kindi. Al-Farabi. Ibnu Sina (Avicenn. , dan Ibnu Rushd (Averroe. menyintesis pemikiran Aristotelian dan Neo-Platonik dengan prinsip-prinsip Islam untuk menciptakan sistem filosofis yang koheren 7. Harmonisasi antara Sains. Agama dan Teknologi sering kali menjadi diskusi dalam perkembangan pemikiran saat ini. Namun terdapat hal-hal yang perlu disoroti untuk melihat potensi korelasi antara sain dan agama tersebut sehingga tidak melulu melihat dari sisi ketidakmesraan keduanya. Tulisan ini bertujuan untuk m e n g e k s p l o r a s i d a n menjelaskan perbandingan antara pemikiran filsafat Islam dan Barat mengenai ilmu serta implikasinya dalam menentukan ilmiah atau tidaknya berbagai ilmu yang berkembang di zaman sekarang sebagai asset pemikiran yang mendukung perluasan keilmuan. METODE PENELITIAN Penelitian pustaka . ibrary researc. digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui riset Pustaka yang bersumber dari karya ilmiah seperti buku dan artikel publikasi (Pringgar & Sujatmiko, 2. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan menuliskan kata kunci Pandangan Filsuf Muslim dan Barat tentang Filsafat dan Sains Islam pada gooegle schoolar dengan memilih artikel terbaru dengan kurun waktu 5 tahun terakhir untuk buku maupun artikel yang akan digunakan. Analisis penelitian menggunakan metode deskriptif-analitis yang berfokus pada Pandangan Filsuf Muslim dan Barat tentang Filsafat dan Sains Islam. Muhammad Nasrullah Ramadhana. Mat Amin. AuFilsafat dan Sains Prespektif Yunani dan Islam. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. PEMBAHASAN Defenisi Sains Secara etimologi. AosainsAo berasal dari AyscienceAy bersumber dari bahasa latin AyscientiaAy artinya mengetahui atau pengetahuan, . o know, knowledg. dan perkataan AoscireAo yang memiliki arti belajar . o lear. (M. Muslih, 2. Secara terminologi sains adalah pengetahuan empiris yang dapat dibuktikan dengan pendekatan ilmiah seperti eksperimen, pengalaman dan pengembangan. Pengertian sains di atas memiliki 2 makna yang menarik. Pertama : sains hanya berkaitan dengan objek fisik pengetahuan. Kedua, sains hanya mengakomodir 2 sumber ilmu yakni akal dan pengalaman indrawi. Inilah pengertian sains menurut kebudayaan Barat sekuler 8. Kesimpulannya mengenai defenisi sains yang tertera di atas merupakan sebuah proses yang terbentuk dari interaksi akal dan panca indera manusia dengan alam Sehingga dapat diartikan jika objek utama kajian sains adalah alam empirik termasuk juga manusia. Sedangan objek sains yang utama adalah mencari kebenaran 9. Terdapat unsur-unsur dari sains yang saling berkaitan yakni ontologis sebagai landasan keyakinan ilmiah, epistemology sebagai landasan metodologi sebagai kebenaran dan aksiomatik sebagai hakikat atau manfaat dari kebenaran . itu sendiri 10. Filsafat dan Sains Filsafat dan sains merupakan kesatuan yang erat hubungannya, sehingga dapat di iBaratkan anak dan ibu, sehingga dikenal sebagai ungkapan Auphilosophy is the mother of scienceAy. Filsafat adalah ibu dari Factor pendorong dari perkembangan sains adalah filsafat. Berkat filsafat sains dapat melebarkan sayap nya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta filsafat membawa kita pada alam keterbukaan wawasan Karena filsafat memiliki karakteristik berfikir secara komprehensif maka filsafat dapat menggiring pemikiran tentang menemukan sebuah Nur Hadi Ihsan et al. AuHubungan Agama dan Sains : Telaah Kritis Sejarah Filsafat Sains Islam dan ModernAy 27, no. : 97Ae111. Salman Ahmadi and Muhammad Alinafiah. AuFilsafat Dan Sains IslamAy 2, no. 454Ae67. Daulay et al. AuEpistemologi Filsafat dan Sains Perspektif Barat dan Islam Dalam Dunia Pendidikan. Ay 221 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 jawaban yang bersifat empiris yang berakhir dengan hasil pengetahuan baru Filsafat adalah induk dari berbagai ilmu pengetahuan, hal tersebut bukan tanpa alasan, karena filsafat dianggap dapat menjawab semua pertanyaan yang berhubungan dengan berbagai hal, baik itu manusia, hewan, tumbuhan, alam semesta dengan segala permasalahan yang terdapat pada alam semesta. Proses merupakan hal terpenting dalam memahami ilmu yang bermakna yaitu dengan menyangkutkan pada proses yang bersifat rasional, kognitif dan teleologi 12. Pandangan Filsuf Muslim Klasik . Al-Kindi . -873 M) dan Konsep Harmonisasi Filsafat Yunani dengan Islam Al-Kindi, yang dikenal sebagai "Filsuf Arab" pertama, memandang filsafat dan sains sebagai pendekatan komplementer dengan wahyu untuk mencapai kebenaran. Dalam karyanya *Risalah fi Hudud al-Ashya' wa Rusumiha*. Al-Kindi menegaskan pentingnya mencari pengetahuan dari berbagai sumber tanpa memandang asal-usulnya. Ia menulis: "Kita tidak boleh malu untuk mengakui kebenaran dan mengambilnya dari sumber manapun ia berasal, meskipun dibawa kepada kita oleh generasi sebelumnya dan bangsa-bangsa asing"13. Al-Kindi memahami filsafat sebagai "pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas kemampuan manusia," dan ia percaya bahwa filsafat dan teologi pada akhirnya mengarah pada kebenaran yang sama. Penelitian 14 menunjukkan bahwa pendekatan Al-Kindi dalam mendamaikan filsafat Yunani dengan Islam membentuk landasan bagi perkembangan filsafat Islam berikutnya dan mencerminkan konteks sosiopolitik dari gerakan penerjemahan selama era Abbasiyah. Amir Syarifuddin Fatonah. Neldi Harianto. Uswan Hasan. Denny Defrianti. AuTranstegrasi Ilmu Dalam Persfektif Sejarah Filsafat,Ay Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi 24, no. : 944Ae53, https://doi. org/10. 33087/jiubj. Jeihan Fitrah Wardanah et al. AuFilsafat Ilmu Dalam Pandangan IslamAy 5, no. 21Ae29. Ramandha Rudwi Hantoro. Ahmad Syukri. AuKlasifikasi Ilmu Pengetahuan Barat Dan Islam Serta Kontribusinya Dalam Dunia Akademik. Ay Ilham Putra Pratama Aulia Rahmah Puteri. Salminawati. Febrina Asmiralda. Viona Miftahuljannah. AuIndonesian Research Journal on Education : Jurnal Ilmu PendidikanAy 2, no. : 1030Ae37. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. Ibn Sina (Avicenn. -1037 M) dan Sintesis Rasionalisme dengan Spiritualitas Ibn Sina (Avicenn. mengembangkan sistem filosofis yang komprehensif, menyintesis Aristotelianisme dan Neoplatonisme dengan pemikiran Islam. Dalam karya monumentalnya *Al-Shifa* (Penyembuha. dan *Al-Najat* (Keselamata. Ibn Sina menawarkan pandangan dunia yang terintegrasi di mana metafisika, logika, fisika, dan kedokteran membentuk keseluruhan yang koheren. Pandangan Ibn Sina tentang hubungan antara filsafat dan sains didasarkan pada pemahaman bahwa semua ilmu pengetahuan memiliki hierarki yang jelas. Ia menulis: "Ilmu pengetahuan adalah penyusunan yang sistematis dari fakta-fakta yang diketahui sedemikian rupa sehingga kita dapat memanfaatkannya untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang apa yang belum diketahuiAy 15. Analisis 16 mengungkapkan bahwa Ibn Sina memandang sains empiris dan filsafat rasional sebagai pendekatan yang saling melengkapi untuk memahami realitas. Di satu sisi. Ibn Sina menekankan pentingnya observasi dan eksperimen dalam sains medis. di sisi lain, ia mengembangkan argumen metafisik yang canggih tentang eksistensi Tuhan dan struktur realitas. Al-Ghazali . 8-1111 M) dan Kritik Terhadap Rasionalisme Ekstrem Al-Ghazali, dalam karyanya yang berpengaruh *Tahafut al-Falasifah* (Kerancuan Para Filsu. , mengkritik beberapa aspek filsafat peripatetik yang dianut oleh filsuf Muslim sebelumnya. Namun, pandangan AlGhazali tentang filsafat dan sains lebih kompleks daripada sekadar Sebagaimana dikemukakan oleh 17. Al-Ghazali membedakan antara aspek-aspek filsafat yang dapat diterima dan yang problematik dari perspektif teologis. Ia sangat mendukung logika, matematika, dan sains alam sebagai disiplin yang berharga. Al-Ghazali menulis: "Tidak ada yang lebih berharga dalam sains non-religius daripada matematika dan setiap Muslim harus mempelajarinya". Meskipun sering digambarkan sebagai oposisi terhadap filsafat rasionalistik, 18 Menunjukkan bahwa Al-Ghazali Moch. Nurcholis. AuIntegrasi Islam dan Sains: Sebuah Telaah Epistemologi,Ay Falasifa Vol. 12 No . Abdullah Sattar. AuFilsafat Islam: Antara Suplikasi dan Kreasi,Ay Ulumuna. Jurnal Studi Ke Islaman Volume XIV . ): 6. Haidar Bagir. Mengenal Filsafat Islam (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2. Bagir. 223 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 sebenarnya mengadopsi dan mengadaptasi banyak konsep filosofis dalam karyanya sendiri, terutama dalam tulisannya tentang etika dan kosmologi. Ibn Rushd (Averroe. 6-1198 M) dan Pembelaan Filsafat Rasional Ibn Rushd (Averroe. , filsuf dan ahli hukum dari Andalusia, membela filsafat dari kritik Al-Ghazali dalam karyanya *Tahafut al-Tahafut* (Kerancuan dari Kerancua. Ia mengembangkan interpretasi Aristoteles yang sangat berpengaruh dan berpendapat bahwa tidak ada pertentangan yang sebenarnya antara agama dan filsafat. Ibn Rushd memandang filsafat dan sains sebagai pendekatan yang sah untuk mencari kebenaran, dengan metode yang berbeda tetapi komplementer dengan agama. Ia menulis: "Kebenaran tidak bertentangan dengan kebenaran, tetapi selaras dengannya dan menjadi saksi baginya" . Ibn Rushd mengartikulasikan teori "kebenaran ganda" yang sering Menurut interpretasi kontemporer. Ibn Rushd tidak berpendapat bahwa ada kebenaran yang berlawanan dalam filsafat dan agama, tetapi ia mengakui bahwa metode berbeda dapat mengarah pada formulasi kebenaran yang berbeda yang secara substansial kompatibel. Pandangan Filsuf Barat Abad Pertengahan . Thomas Aquinas . 5-1274 M) dan Pengaruh Filsafat Islam dalam Teologi Kristen Thomas Aquinas, teolog dan filsuf Kristen terkemuka, sangat dipengaruhi oleh karya-karya filsuf Muslim, terutama Ibn Sina dan Ibn Rushd. Meskipun ia sering mengkritik beberapa aspek pemikiran mereka. Aquinas mengadaptasi banyak argumen dan kerangka konseptual dari tradisi Islam ke dalam sintesis Kristiani-Aristotelianya sendiri. Sebagaimana diidentifikasi oleh 20. Aquinas banyak berutang pada tradisi filosofis Islam dalam mengembangkan argumen kosmologisnya tentang eksistensi Tuhan, teori mengenai intelek, dan pemahaman tentang hubungan antara iman dan akal. Ia sering mengutip "Komentator" (Ibn Rush. dan "Avicenna" (Ibn Sin. dalam karya-karyanya. Roger Bacon . 9/20-1292 M) dan Advokasi untuk Mempelajari Sains Islam Bagir. Abubakar Madani. AuPemikiran Filsafat Al-Kindi Abubakar Madani 1,Ay pemikiran filsafat al-kindi ixx, no. : 106Ae17. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. 224 Roger Bacon, filsuf dan ilmuwan Inggris, sangat menganjurkan pentingnya mempelajari bahasa Arab dan karya-karya ilmiah Muslim. menunjukkan bahwa Bacon tidak hanya mengakui utang intelektual kepada sarjana Muslim, tetapi juga memahami bahwa kemajuan ilmiah Eropa bergantung pada asimilasi dan pengembangan lebih lanjut dari pengetahuan yang dipelihara dan diperluas oleh tradisi Islam. Bacon terutama tertarik pada kontribusi Islam dalam bidang optik, matematika, dan metodologi eksperimental. Ilmu dalam Perspektif Barat Secara umum ilmu didefinisikan berdasarkan pandangan hidup yang dipegang dan perspektif yang dianut. Menurut Plato ilmu adalah keyakinan yang disertai dengan kebenaran. Keyakinan yang salah bukanlah ilmu, untuk menentukan kebenaran sebuah keyakinan hingga menjadi ilmu dibutuhkan penalaran akal, artinya kebenaran harus dikonfirmasi oleh akal agar dapat disebut dengan ilmu. Selain itu, keyakinan yang benar karena kebetulan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu. Definisi yang diungkapkan Plato sendiri sangat singkat tapi padat dan mendalam. Dalam definisi ilmu yang diungkapkan oleh Plato, ada tiga unsur dasar untuk menentukan keyakinan dianggap sebagai ilmu yaitu keyakinan, kebenaran dan nalar. Pendapat plato tersebut kemudian ditentang oleh Edmund L Gettier yang berpendapat bahwa ketika pengetahuan seseorang itu dalam kondisi tidak dapat dibuktikan kebenarannya pada tahap tertentu . erdasarkan standar plat. namun memiliki keyakinan dan disepakati oleh semua orang maka kebenaran . tersebut dapat diterima sebagai ilmu . Selain itu, jika nalar adalah ukuran kebenaran, maka ilmu yang dihasilkan akan bersifat nisbi . idak absolu. , karena s e tiap kepala memiliki nalar yang berbeda, akibatnya adalah tidak ada standar kebenaran, semua berhak mengklaim kebenaran. Ini merupakan dampak dari diktum yang dipopulerkan oleh Protagoras AuMan is the measure of all thingsAy dan prinsip Rene Descartes Aucogito ergo sumAy. Problem definisi yang bermasalah ini tidak lain akibat dari pengaruh epistomologi Aristotelianisme dan Platonisme yang dimanifestasikan dalam kebudayaan Helenisme dan selanjutnya menjadi cikal bakal kebudayaan Barat. Madzhab ini mengajarkan ada dua cara pengenalan terhadap Hadi Sufyan et al. AuPertumbuhan Filsafat dan Sains Pada Zaman Islam Terhadap Modernitas Era Society 5. 0,Ay Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam 7, no. : 274Ae87, https://doi. org/10. 15575/jaqfi. 225 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 pengetahuan, yaitu pengenalan empiris dan pengenalan melalui akal . Akibat dari konsep ini, peradaban Barat modern membagi ilmu dalam 2 istilah yaitu science dan knowledge. Istilah yang pertama digunakan untuk ilmu-sains . yang penggunaannya untuk menjelaskan halhal yang bersifat empiris dan rasional, hal inilah yang dikenal sebagai ilmu. Selanjutnya pengetahuan . yang penggunaanya untuk memahami hal yang bersifat non fisik seperti metafisika, agama dan konsep mental yang tidak dapat dikategorikan sebagai ilmu karena tida dapat dibuktikan secara Dalam perkembangannya, perbedaan antara ilmu dan pengetahuan terjadi pada masa modern yang ditandai dengan lahirnya pemahaman Pada masa itu pengetahuan yang dapat dibuktikan secara empiris dan rasional dikhususkan sebagai sciene, sedangkan pada abad pertengahan kedua istilah tersebut masih belum dibedakan. Perubahan makna pengetahuan di dunia Barat bisa dilihat dalam definisi yang ada di WebsterAos New World Dictionary, di kamus tersebut dijelaskan arti science adalah mengetahui dengan fakta atau keadaan. Kata tersebut sering diserap untuk menjelaskan arti pengetahuan yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan. Namun, kata ini kemudian mengalami perkembangan dan perubahan pemaknaan sehingga berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip dari apa yang dikaji. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran makna sains dari "pengetahuanAy menjadi "pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi indrawiAy. Pergeseran paradigma yang terjadi memberikan batas sains yang berada dalam ranah fisik semata. Hal ini terlihat dari batasan defenisi yang terdapat pada kamus-kamus 22 Selain memunculkan dikotomi ilmu, konsep epistomologi Barat juga melahirkan paham ateisme dalam berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, teologi Yahudi-Kristen, sains, sosiologi, politik, ekonomi dan lain-lain . Paham ini muncul karena adanya sebuah anggapan bahwa Tuhan telah mati dan posisinya digantikan oleh ilmu pengetahuan yang dilahirkan oleh pengalaman panjang manusia. Berkaitan dengan ini Auguste Comte membuat sebuah pernyataan yang dikutip oleh Jujun S. Suriasumatri: religi dijadikan sebagai postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan penjabaran dari Selanjutnya spekulasi tentang metafisika yang dijadikan sebagai objek Budi Handrianto. Islamisasi Sains (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. 226 yang bebas dari distraksi religi, kemudian pengetahua sebagai objek yang diuji secara objektif berdasarkan proses ilmiah. Dalam pandangan Comte, agama dan Tuhan merupakan sebuah pengetahuan primitif yang sudah ketinggalan jaman, dan akan segera hilang seiring dengan munculnya era positivisme dan empirisme. Adapun mereka yang tidak terjangkit paham ateisme, akan terserang virus sekulerisme. Hal ini terjadi karena mereka menganggap agama tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman, maka harus ada upaya modifikasi terhadap pandangan teologi agar selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Kemudian, mereka juga melakukan penafsiran baru terhadap kitab suci dan ajaran agama, semua ini dilakukan agar agama tetap relevan dengan perkembangan kehidupan masyarakat modern. Ilmu dalam Perspektif Islam Pembahasan mengenai hakikat ilmu tidak pernah selesai dengan banyaknya tulisan ilmiah yang membahas tentang ilmu. Banyaknya defenisi ilmu yang dikemukakan para ahli menunjukkan keterkaitan dan saling menguatkan dalam keilmuan. Defenisi ilmu yang berkembang berkaitan dengan hakikat ilmu itu sendiri yang tidak berubah. Namun dalam hal bentuk, ukuran, berat, isi, warna dan sifat-sifat lainny. bukan bagian dari ilmu. Seseorang t i d a k d i b o l e h k a n mengklaim memiliki ilmu jika tidak mengetahui hakikatnya, karena terkadang sesuatu itu tampak tidak sebagaimana hakikatnya . pa adany. Pendapat lain diungkapkan oleh Ibn Taimiyah yang mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang berdasar pada bukti . Dan dalil yang dimaksud bisa berupa penukilan wahyu dengan metode yang benar . n naql al mushadda. dan bisa juga berupa penelitian ilmiah . l bahts al Pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Qayyim al Jauziyah yang merupakan murid paling terkenal dari Ibn Taimiyah. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang dihasilkan melalui bukti empiris . dan dalil syarAoi . Lebih lanjut Ibn Qayyim Dari definisi yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa wahyu adalah sumber ilmu sedangkan berbagai macam dugaan . , khayalan . , ilusi, halusinasi, mitos dan semacamnya dari Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Cetakan IX (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1. 227 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 cakupan ilmu, karena . hal-hal tersebut tidak hakiki dan apa adanya. hal-hal tersebut tidak berdasarkan bukti apapun, baik yang indrawi . , akal . maupun khabar shadiq. Dalam Bahasa Arab istilah ilmu disandarkan pada kata Aoilm, maAorifah, syuAour. Aoilm juga disandarkan kepada salah satu sifat Tuhan yang bermakna maha mengetahui. Pemaknaan ilmu . sejak awal kemunculan islam tidak pernah bergeser hingga saat ini. Ilmu dalam epistemologi Islam mencakup dalam hal fisik maupun metafisik. Wan Mohd Nor Wan Daud menuturkan bahwa konotasi istilah ilmu dipengaruhi pandangan hidup islam itu sendiri 24. Mulai sejak kelahirnya Islam memiliki sistem yang integral . sehingga tidak ditemukan tarik ulur antara akal dan iman atau dunia dan agama. Penjelasan lebih lanjut disampaikan Mulyadi Kartanegara salah satu guru besar dalam bidang filsafat di Universitas Chicago, beliau menyampaikan bahwa dalam epistemologi Islam dan Barat memiliki Ilmu bukan sembarang pengetahuan atau sekedar opini, melainkan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Pengertian ilmu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sains, hanya sementara sains dibatasi pada bidang-bidang fisik atau indrawi, ilmu melampauinya pada bidangbidang nonfisik seperti metafisikaAy 25 Berkaitan dengan obyek metafisika. Mulyadhi berpendapat bahwa: Seperti obyek-obyek fisik, obyek-obyek metafisika juga mempunyai status ontologis yang sah. Obyek ilmu metafisika seperti Tuhan, malaikat, jin dan ruh adalah entitas-entitas yang sama riilnya dengan obyek-obyek fisikempiris. Oleh karena itu, teologi, angelologi, eskatologi, psikologi, ontologi, kosmologi dan filsafat termasuk dalam kategori ilmu. Ilmu-ilmu tersebut mempunyai status keilmuan yang sama kuatnya dengan ilmu fisika dan Bahkan, bagi kalangan tertentu, mereka menempati puncak status ilmiah sehingga metafisika sering disebut sebagai mahkota ilmu seperti posisi fisika dalam sains modernAy. Selain perbedaan yang sudah dijelaskan di atas, terdapat perbedaan fundamental lain antara konsep epistomologi Barat yang selalu mengandalkan spekulasi di awal setiap pengetahuan yang mereka dapatkan. Islam yang juga menerima kebenaran ilmiah melalui khabar shadiq . erita Wan Mohd Wan Daud. Konsep Pengetahuan Dalam Islam (Bandung: Pustaka, 1. Mulyadhi Kartanegara. Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistomologi Islam (Bandung: Mizan, 2. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. 228 atau informasi yang diberikan oleh orang yang terpercaya dan juju. Dalam ajaran Islam informasi yang didapat dari khabar shadiq juga merupakan ilmu yang dapat dibuktikan secara ilmiah karena berasal dari sumber yang dapat dipercaya . , seperti al Quran dan as Sunah. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ilmu yang diperoleh melalui jalur ini juga dapat diterima secara universal. Contohnya sangat jarang seorang anak meminta bukti empiris dan rasional terhadap status hubungan anak dengan orangtua. Atau seorang profesor filsafat yang percaya dengan segala penjelasan dari seorang pramugari saat bepergian dengan pesawat Profesor tersebut menerima kebenaran ilmiah bukan berdasarkan metode empirisisme akan tetapi melalui jalur pemberitaan yang dapat dipercaya atau khabar shadiq. Oleh karena itu, tidaklah tepat jika dalam perspektif Islam, ilmu hanya dibatasi dengan yang diperoleh melalui metode rasional empiris. Pengetahuan tentang Allah SWT, akhirat, dan berbagai keutamaan ibadah didapatkan dari khabar shadiq meskipun hal itu di atas jangkauan akal . upra rasiona. Berikut tabel yang memberikan kesimpulan dari epistomologi Islam dan Barat dalam pandangannya terhadap ilmu. Islam Barat Obyek Fisik (Aoalam syahada. Fisik dan metafisik (Aoalam Sumber Wahyu . habar shadi. Akal . dan indra akal, rasa . albu, intuisi, . akal praktis, dzauq, sir. , indra . Paradigma dan metode Logis, rasional empiris . dan Rasional empiris Netralitas Ilmu Dewasa ini, paradigma netralitas ilmu sangat mendapat legitimasi di kalangan para ilmuwan, terutama mereka yang terpengaruh oleh epistomologi Barat. Paradigma bahwa ilmu pengetahuan terbebas dari segala mitos keagamaan seperti wahyu, credo . ernyataan atau deklarasi yang mengungkapkan keyakinan atau prinsip-prinsip filsafat yang dipegang oleh 229 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 seorang filsu. , nilai dan lain sebagainya ini merupakan dampak dari semangat rasional sebagai raja pengetahuan. Ide ini berkembang dengan pesat ketika Auguste Comte muncul dengan filsafat Positivismenya yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan dinilai sebagai sesuatu obyektif. Pendapat ini mencoba untuk menggaris bawahi antara fakta dan nilai, sehingga ketika hendak membuktikannya seorang peneliti harus menarik diri dan bersikap objektif . Paham netralitas ilmu mengalami perkembangan menjadi sebuah ide dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun, merebaknya pandangan mendapat "perlawananAy dari para ilmuwan Barat dan terutama para ilmuwan muslim. Di antara para ilmuwan Barat yang menolak klaim netralitas ilmu adalah Karl R. Popper, para filsuf madzhab Framkurt. Paul Feyerabend. Whitehead. Paul Illich. Thomas Kuhn dan lain-lain. Para filsuf tersebut berpendapat bahwa ilmu tidak bebas nilai, melainkan terikat dengan nilai-nilai tertentu. Di balik klaim bebas nilai, tersembunyi nilai-nilai ideologis yang mempunyai maksud tersendiri. Bahkan filosof sekaliber Aristoteles sebelumnya telah menyatakan bahwa ilmu tumbih dan terikat dengan nilai-nilai. Para ilmuwan ini menyatakan bahwa seorang ilmuwan yang meneliti dan mengamati obyek penelitian berada dalam kerangka pemahaman yang Bahwa hukum-hukum alam yang ada di alam semesta terbentuk dengan pengaruh sosial masyarakat, pemikiran dan nilai yang berkembang Oleh karena itu, yang sebenarnya adalah ilmu tidak bebas nilai dan obyektivitas suatu ilmu selalu berada pada subyektivitas dan nilai-nilai. Bahkan Thomas S. Kuhn yang pendapatnya tentang ketidakbebasan ilmu mengatakan bahwa netralitas ilmu adalah sebuah ilusi, karena tanpa paradigma tertentu para ilmuwan tidak mampu mengumpulkan fakta dari berbagai jenis eksperimen yang mereka lakukan. Adapun para ilmuwan yang mendukung teori ketidaknetralan ilmu diantaranya adalah Syed Muhammad Naquib al Attas. Ismail Raji al Faruqi. Sayyed Hossein Nasr. Ziauddin Sardar, dan lain-lain31. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Risalah untuk Kaum Muslimin. Syed Muhammad Naquib al Attas menyatakan Aukita harus meyakini bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan tidak bersifat objektif karena setiap pemahaman berbeda meskipun saling berkaitanAy26. Pernyataan al Attas tersebut dikuatkan oleh salah satu muridnya Wan Syed Muhammad Naquib al Attas. Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2. 230 Mohd Nor Wan Daud yang mengatakan bahwa ilmu telah memasuki elemenelemen pandangan hidup, agama, kebudayaan dan peradaban seseorang. Selain itu, sering pendapat dan spekulasi yang merefleksikan unsur-unsur kepribadian, agama, dan kebudayaan dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Dikatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai . karena ilmu adalah sifat manusia. Sementara menurut Mulyadhi Kartanegara terdapat perbedaan ilmu dan Fakta dapat bersifat netral, namun ilmu tidak hanya sekedar fakta tetapi berada setingkat dari fakta karena ilmu adalah fakta yang disertai dengn penjelasan dari seorang ilmuan. Dengan demikiana ketika ilmu melibatkan penjelasan maka sebenarnya ilmu itu tidak lagi netral dalam arti sebenarnya. Hal ini memunculkan pemahaman baru bahwa ilmu tidak dapat menjadi ilmu kecuali dilibatkan dengan penjelasan fakta. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa ilmu dalam pandangan Islam tidak netral dan tidak bebas nilai tetapi sarat akan nilai . alue lade. , karena dari waktu ke waktu ilmu mengalami pergeseran . hifting paradig. karena pengaruh sosial cultural, politik dan agama. Bahkan ilmu dapat dijadikan sebagai alat yang sangat halus dan tajam bagi penyebarluasan cara dan pandangan hidup suatu kebudayaan 27. PENUTUP Filsafat Islam tentang sains berlandaskan pada konsep "Tawhid" yang menekankan kesatuan dan keesaan Allah SWT. Dalam konteks sains, konsep Tawhid ini berarti bahwa semua pengetahuan dan fenomena alam dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip yang bersumber dari Allah SWT. Tokohtokoh filsafat Islam seperti Al-Kindi. Al-Farabi, dan Ibnu Sina berpendapat bahwa sains adalah cara untuk memahami keajaiban Allah SWT dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi tentang alam semesta. Sedangkan filsafat Barat tentang sains berlandaskan pada konsep "Rasionalisme" yang menekankan peran akal dan rasio dalam mencari pengetahuan. Dalam konteks sains, konsep Rasionalisme ini berarti bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan deduksi logis. Tokoh-tokoh filsafat berpendapat bahwa sains adalah cara untuk memahami alam semesta secara objektif dan bebas dari prasangka. Dalam beberapa hal, filsafat Islam dan Barat tentang sains memiliki kesamaan, seperti pengakuan akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentang alam semesta. Eko Suryaddin Zain. Lc. AuFilsafat Ilmu Antara Islam dan Barat. Ay 231 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2. Oktober 2025 Penggunaan metode ilmiah dan observasi dalam mencari pengetahuan, pengakuan akan pentingnya akal dan rasio dalam mencari pengetahuan. Namun, dalam beberapa hal lainnya, filsafat Islam dan Barat tentang sains memiliki perbedaan, seperti konsep Tawhid dalam filsafat Islam yang menekankan kesatuan dan keesaan Allah SWT, sedangkan filsafat Barat lebih menekankan peran akal dan rasio dalam mencari pengetahuan. Pendekatan filsafat Islam yang lebih menekankan pada pengetahuan yang bersumber dari wahyu dan tradisi, sedangkan filsafat Barat lebih menekankan pada pengetahuan yang bersumber dari observasi dan eksperimen. Ilmu adalah ujung tombak peradaban, walaupun kadang membawa Oleh karena itulah, dibutuhkan konsep penyelarasan antara ilmu dan adab. Konsep ilmu dalam epistomologi Barat hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat fisik dan rasional empiris serta tidak mengakui wahyu sebagai sumber ilmu yang otoritatif, sedangkan konsep Islam lebih unggul karena mencakup juga metafisika dan perkara yang suprarasional. Ilmu penuh dengan nilai . alue lade. , oleh karena itu ia menjadi alat yang ampuh untuk menyebarluaskan pandangan hidup . Klasifikasi ilmu sangat dipengaruhi pandangan hidup seseorang. DAFTAR PUSTAKA