PENELITIAN ASLI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose Rahma Deni1*. Umi Chairani Manik1. Haris Munandar Nasution1. Gabena Indriyani Dalimunthe1 1Faculty of Pharmacy. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Jl. Garu II No. 93 Medan 20147. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Tanggal Dikirim: 03 Juni 2026 Tanggal Diterima: 17 Juni 2026 Tanggal Dipublish: 18 Juni 2026 Kata kunci: Aktivitas Antibakteri. Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizu. Ekstrak Etanol Fraksi n-Heksan dan Etil Asetat. KLT. Pseudomonas Streptococcus muntans Penulis Korespondensi: Umi Chairani Manik Email: rahmadeni345@gmail. Latar belakang: Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri adalah kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose, kerena memiliki metabolit sekunder seperti: alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid/triterpenoid. \Tujuan: untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan etil asetat kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans. Metode: metode difusi agar dengan kertas cakram. Uji antibakteri ekstrak etanol dan fraksi dengan konsentrasi 7,5%, 10% dan 12,5%. Kontrol positif amoksisilin dan kontrol negatif DMSO. Hasil: uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan etil asetat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 7,5%,10% dan 12,5%. Pada esktrak didapat diameter hambat yaitu 7,55 mm, 8,7 mm dan 10,55 mm. Pada fraksi nHeksan diameter yaitu 9 mm, 9,1 mm dan tidak memiliki zona Pada fraksi etil asetat diameter hambat yaitu 10,2 mm, 10,9 mm dan 13,55 mm. Sedangkan pada bakteri Streptococcus mutans ekstrak etanol diameter zona hambat yaitu 7,7 mm, 8,5 mm dan 10,05 mm. Pada fraksi n-Heksan zona hambat yaitu 6,95 mm, 7,2 mm dan 8,55 mm. Pada fraksi etil asetat zona hambat yaitu 7,75mm, 8,9 mm dan 9,3 mm. Kesimpulan: uji aktivitas antibakteri menunjukkan fraksi paling aktif adalah fraksi etil asetat. Aktivitas antibakteri fraksi etil asetat terbaik pada bakteri Pseudomonas aeruginosa diperoleh pada konsentrasi12,5% dengan daya hambat 13,5 mm. bahwa fraksi etil asetat memiliki efek penghambatan yang lebih kuat dibandingkan fraksi n-Heksan, ini terdapat perbedaan yang sangat signifikan, dapat dilihat pada pertumbuhan fraksi n-Heksan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans tidak semua konsentrasi memiliki daya hambat, sedangkan fraksi etil asetat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans pada semua konsentrasi memiliki daya Jurnal Farmanesia e-ISSN: 2528-2484 Vol. 13 No. 1 Juni, 2026 (Hal 1-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/2/index DOI: https://doi. org/10. 51544/jf. How To Cite: Deni. Rahma. Umi Chairani Manik. Haris Munandar Nasution, and Gabena Indriyani Dalimunthe. AuAktivitas Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose. Ay Jurnal Farmanesia 13 . : 1Ae10. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jf. Copyright A 2026 by the Authors. Published by Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Penyakit infeksi hingga saat ini masih menjadi masalah besar bagi negara berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Penyebab penyakit infeksi adalah bakteri, terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri menjadi semakin kebal terhadap efek antibiotik yang seharusnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini akan sangat berbahaya jika tidak segera ditangani dengan tepat, karena dapat menular terutama individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan penyakit infeksi adalah Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans. Terapi yang digunakan untuk pengobatan infeksi saat ini yaitu dengan pemberian antibiotik. Namun banyak kasus resistensi bakteri terhadap antibiotik yang diakibatkan penggunaan yang tidak rasional, sehingga perlu dikembangkan secara altenatif pengganti antibiotik yang bersumber dari tumbuhan (Wahyudi et al. , 2. Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Khotimah et al. , . aktivitas antibakteri fraksi etanol, etil asetat dan n-Heksan kulit buah naga merah terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus berdasarkan diameter hambatnya kulit buah naga merah dikategorikan memiliki aktivitas antibakteri yang sedang. Pengujian antibakteri terhadap Enterococcus faecalis yang dilakukan oleh Sari et al. , . pada ekstrak etanol kulit buah naga merah dengan metode uji dilusi diperoleh hasil yang menunjukkan nilai KHM pada konsentrasi 1,56% dan nilai KBM pada konsentrasi 3,12%. Adapun metode yang digunakan yaitu ekstraksi maserasi dengan pelarut etanol Keuntungan pelarut etanol 96% memiliki daya larut yang baik, baik yang bersifat polar maupun non polar, sehingga cocok untuk mengekstraksi berbagai senyawa aktif dari bahan alami. Sedangkan keuntungan menggunakan metode maserasi yaitu, prosedur dan peralatan yang digunakan sederhana, tidak memerlukan pemanasan, sehingga cocok untuk penarikan senyawa yang tidak tahan panas. Proses selanjutnya yaitu dilakukan fraksinasi dengan menggunakan dua jenis pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda. Fraksi n-Heksan dan etil asetat karena kedua pelarut ini memiliki sifat kepolaran yang berbeda, sehingga dapat menarik senyawa-senyawa aktif yang berbeda dari bahan penelitian. n-Heksana bersifat non polar, sedangkan etil asetat bersifat semi polar. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia hewani ialah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan . ialah simplisia yang berupa bahan pelikan . yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (Depkes RI, 1. Fitokimia merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan aspek kimia suatu Kajian fitokimia meliputi uraian yang mencangkup anekaragam 19 senyawa organik yang dibentuk dan disimpan oleh organisme, yaitu struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara alamiah dan fungsi biologisnya, isolasi dan perbandingan komposisi senyawa kimia dari bermacam-macam jenis tanaman. Analisis fitokimia dilakukan untuk menentukan ciri komponen bioaktif suatu ekstrak kasar yang mempunyai efek racun atau efek farmakologis lain yang bermanfaat bila diujikan dengan sistem biologi atau bioassay (Harborne, 1. Fraksinasi merupakan proses penarikan senyawa pada suatu ekstrak dengan menggunakan dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Pelarut yang sering dipakai untuk fraksinasi adalah n-heksan, etil asetat, dan metanol. Untuk menarik lemak dan senyawa non polar digunakan n-heksan, etil asetat untuk menarik senyawa semi polar, sedangkan metanol untuk menarik senyawasenyawa polar. Dari proses ini dapat diduga sifat kepolaran dari senyawa yang akan dipisahkan. Seperti mana yang diketahui bahwa senyawa-senyawa yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut yang non polar sedangkan senyawasenyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut yang bersifat polar juga (Sudarwati & Fernanda, 2. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian megenai uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan etil asetat kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans. Alasannya, dimana biasanya kulit buah naga merah hanya dibuang sebagai limbah, padahal kulit buah naga merah memiliki aktivitas antibakteri. Untuk membuktikan apakah ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan etil asetat kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose mampu memberikan efek antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans. Metode Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahap penelitian dimulai dari pengumpulan bahan, pembuatan ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose dengan menggunakan metode maserasi, karakteristik simplisia, fraksi n-Heksan dan etil asetat, skrining fitokimia, kromatografi lapis tipis dan uji aktivitas antibakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans dengan metode difusi agar menggunakan kertas cakram. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, oven, blender, ayakan 40 mesh, botol berwarna gelap, toples kaca, rotary evaporator, water bath, tisu, aluminium foil, timbangan analitik, autoklaf, inkubator, hot plate, vortex, lampu bunsen, jangka sorong, jarum ose, mikroskop, objek glas, deck glas, cawan penguap, cawan krus dan alat-alat kaca yang umum digunakan di laboratorium. Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, oven, blender, ayakan 40 mesh, botol berwarna gelap, toples kaca, rotary evaporator, water bath, tisu, aluminium foil, timbangan analitik, autoklaf, inkubator, hot plate, vortex, lampu bunsen, jangka sorong, jarum ose, mikroskop, objek glas, deck glas, cawan penguap, cawan krus dan alat-alat kaca yang umum digunakan di laboratorium. Sumber Isolat Bakteri Isolat bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Pembuatan Stok Kulkur Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus Diambil sebanyak satu koloni bakteri dengan menggunakan jarum ose steril, lalu ditanam pada media NA miring dengan cara menggores secara zig-zag. Kemudian diinkubasi dalam inkubator pada suhu 37AC selama 24 jam (Harahap. Pembuatan Suspensi Bakteri Membuat suspensi bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptocuccuss mutans dengan cara ambil satu ose bakteri menggunakan jarum ose steril, lalu disuspensikan kedalam tabung reaksi yang telah disterilkan yang berisi 10 ml larutan NaCl fisologis 0,9%, hingga diperoleh kekeruhan yang sama dengan standar kekeruhan larutan standar Mc Farland (Supartiningsih et al. , 2. Pembuatan Konsentrasi Pengenceran Ekstrak Etanol. Fraksi n-Heksan dan Etil Asetat Kulit Buah Naga Merah Pembuatan konsentrasi 12,5% dengan cara menimbang ekstrak etanol, fraksi nHeksan dan etil asetat kulit buah naga merah sebanyak 0,62 g, dilarutkan dalam DMSO 5 ml. Pembuatan konsentrasi 10% dengan cara pipet 4 ml dari konsentrasi 12,5% dan cukupkan dengan DMSO 5 ml. Pembuatan konsentrasi 7,5% dengan cara pipet 3,75 ml dari konsentrasi 10% dan cukupkan dengan DMSO sampai 5 ml. Uji Aktivitas Ekstrak Etanol. Fraksi n-Heksan dan Etil Asetat Kulit Buah Naga Merah Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi menggunakan kertas cakram yang melibatkan sejumlah kondisi eksperimen. Ini melibatkan ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan Etil Asetat dengan variasi konsentrasi . ,5%, 10%, 7,5%), serta kontrol positif dan negatif. Alat-alat yang digunakan telah di sterilkan terlebih dahulu dalam oven. Langkah selanjutnya menuangkan 20 ml media MHA steril ke dalam cawan petri dan menunggu hingga mengeras. Setelah itu, suspensi bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans diambil menggunakan cotton swab steril dan ditebarkan pada permukaan media MHA. Ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan etil asetat dengan berbagai konsentrasi . ,5%, 10%, 7,5%) kemudian dijatuhkan di atas kertas cakram. Sebagai kontrol. DMSO digunakan sebagai kontrol negatif dan antibiotik amoksisilin sebagai kontrol positif. Kertas cakram tersebut dengan hati-hati ditempelkan pada permukaan media MHA yang sudah diinokulasi dengan bakteri, menggunakan pinset. Percobaan ini diulang tiga kali untuk memastikan konsistensi hasil. Setelah itu, media yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam inkubator pada suhu 37AC dan dibiarkan menginkubasi selama 18-24 jam. Setelah periode inkubasi selesai, zona hambat yang terbentuk diukur menggunakan jangka sorong, yang diindikasikan oleh area tanpa pertumbuhan bakteri di sekitar kertas cakram (Nasution et al. , 2. Hasil Pengamatan makroskopik dilakukan secara langsung dengan mata telanjang. Hasil pengamatan makroskopik kulit buah naga berbentuk tekstur agak tebal, keras, memiliki jumba-jumbai yang menyerupai sisik ular naga, tidak berbau dan Pengamatan mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x10, hasil pengamatan terlihat epidermis, sel parenkim, jaringan pengangkut dengan penebalan bentuk tangga dan sistolit (Siregar, 2. pada lampiran 16. Hasil karakteristik dari pemeriksaan serbuk simplisia kulit buah naga merah terdapat pada Tabel 1 dibawah ini: Tabel Tasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Kulit Buah Naga Merah Parameter Perolehan kadar (%) Persyaratan MMI Ket Kadar air 3,3% O 10% Kadar sari larut air 21,6% Ou 4,5% Kadar sari larut etanol Ou 5% Kadar abu total 18,06% O 13% TMS Kadar abu tidak larut 1,5% O 1,5% Hasil Krining Fitokimia Kulit Buah Naga Merah Skrining fitokimia dilakukan bertujuan untuk untuk memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia yang terdapat pada serbuk simplisia dan ekstrak kulit buah naga merah (Depkes RI, 2. Yang mana dapat berpotensi sebagai antibakteri dalam pengujian zona hambat bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans. Hasil yang diperoleh dari uji kandungan kimia menunjukkan bahwa: alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid dan Adapun hasil skrining fitokimia pada serbuk simplisia dan ekstrak kulit buah naga merah dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini: Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Skrining Fitokimia Kulit Buah Naga Merah Golongan Metabolit Hasil Serbuk Hasil Eksrak Sekunder Simplisia Alkaloid Flavonoid Tanin Saponin Steroid/Triterpenoid Glikosida Berdasarkan Tabel 1 hasil skrining fitokimia serbuk dan ekstrak etanol kulit buah naga merah menunjukan adanya senyawa aktif seperti: alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid dan glikosida. Penambahan HCl dengan tujuan untuk membentuk garam alkaloid. Penambahan reagen mayer akan menyebabkan nitrogen pada alkaloid bereaksi dengan ion logam K dari kalium tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks kaliumalkaloid yang mengendap. Pereaksi dragendroff terdiri dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodida akan membentuk endapan bismut . iodida, yang kemudian melarut dalam kalium iodida membentuk kompleks kalium tetraiodobismutat yang mengendap (Dewi Sari Ida et al. , 2. Hasil positif polifenol dengan penambahan FeCl3 ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi gelap, yang disebabkan akibat terjadinya reduksi ion Fe3 menjadi Fe2 ketika polifenol direaksikan dengan FeCl3 . Warna biru tua menandakan larutan memiliki senyawa metabolit tanin terhidrolisis, sedangkan warna hijau kehitaman menandakan larutan memiliki senyawa metabolit tanin terkondensasi (Fatmawati et al. , 2. Setelah direaksikan, larutan uji memiliki warna hijau kehitaman, menandakan serbuk simplisia dan ekstrak etanol positif mengandung tanin terkondensasi. Hasil positif saponin ditandai dengan busa yang terbentuk dengan kisaran tinggi 1-10 cm yang tidak hilang selama sepuluh menit, dan busa tidak menghilang setelah diberikan asam klorida (HC. Saponin adalah senyawa yang memiliki gugus hidrofilik yang berikatan dengan air, dan gugus hidrofobik yang berikatan dengan udara sehingga busa terbentuk ketika dikocok. Busa yang terbentuk menandakan adanya glikosida yang terhidrolisis menjadi glukosa dan aglikonaglikonnya. Terbentuknya busa disebabkan saponin yang mengandung senyawa polar dan non-polar yang membentuk misel, di mana misel-misel tersebut menyebabkan senyawa polar muncul di permukaan, sedangkan senyawa non polar menghadap ke dalam. Penambahan HCl 2N dimaksudkan untuk meningkatkan kepolaran, sehingga gugus hidrofilik memiliki ikatan yang lebih kuat dan busa yang terbentuk menjadi lebih stabil (Lestasi Marwah Siti et al. Pada ekstrak positif saponin sedangkan pada serbuk simplisia negatif, kerena pada saat proses ekstraksi dapat misahkan dan menarik senyawa saponin. Uji steroid menunjukkan hasil positif sedangkan uji terpenoid menunjukkan hasil yang negatif pada pengujian steroid, terjadi perubahan warna menjadi hijau pada larutan uji yang menunjukkan adanya senyawa steroid. Pada penambahan asam sulfat menyebabkan terjadinya eliminasi gugus asetil dan hidrogen, sehingga terbentuk ikatan rangkap terkonjugasi. Pada hasil skirining glikosida dengan metode refluks. Serbuk simplisia dan ekstrak etanol menunjukkan hasil positif senyawa glikosida ditunjukkan dengan penambahan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat dimana terbentuk cincin berwarna ungu. Pereaksi Molish merupakan pereaksi umum yang digunakan untuk identifikasi karbohidrat, dalam hal ini adalah gula. Hasil krining fitokimia serbuk simplisia dan ekstrak etanol kulit buah naga merah menunjukkan adanya senyawa golongan metabolit sekunder yang diduga memberikan aktivitas antibakteri dilihat pada lampiran 19. Hasil Fraksi n-Heksan dan Etil Asetat Kulit Buah Naga Merah Fraksinasi dilakukan dengan menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda. Fraksinasi bertujuan untuk menarik semua senyawa-senyawa kimia dalam tumbuhan berdasarkan kepolaran dari setiap senyawa. Fraksinasi dilakukan karena ekstrak yang didapatkan masih berupa senyawa-senyawa Selain itu, tidak semua senyawa memiliki aktivitas antibakteri. Adapun pelarut yang digunakan yaitu n-Heksan . on pola. dan etil asetat . emi Fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair (ECC). Dengan menimbang ekstrak kental 40 g dilarutkan dengan 80 ml etanol 96% dan 80 ml aquadest lalu di fraksi dengan n-Heksan 200 ml sampai bening . x pengulanga. dilanjut dengan fraksi dengan Etil Asetat 200 ml sampai bening . x pengulanga. lalu di rotary evaporator dan diuapkan di waterbath untuk memproleh hasil ekstrak kental fraksi n-Heksan dan Etil Asetat kulit buah naga dilihat pada lampiran 20. Adapun hasil fraksi kulit buah naga merah dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini: Tabel 2 Hasil Fraksi Kulit Buah Naga Merah Fraksi Bobot Rendeme Karakteristik Fraksi Kulit Fraksi Buah Naga Merah Bentuk Warna Bau n-Heksan 4,1 gram 10,25% Kental Hijau Khas Etil 3,15 gram 7,87% Kental Coklat Khas Asetat Hasil KLT Fraksi n-Heksan dan Etil Asetat Kulit Buah Naga Merah Senyawa Fraksi Eluen Rf Pereaksi Pereaksi Ket (Penampa k berca. Alkaloid nn0,7 Drage Dragendorf Heksan Heksan:Etil f (Oreng. Asetat Etil Asetat Flavonoid nn0,2 AlCl3 1% Kuning Heksan Heksan:Etil Kecoklatan Asetat Etil Asetat Steroid/Tri nn0,2 Liberman- Merah terpenoid Heksan Heksan:Etil burchard muda Etil Asetat 0,23 Asetat . Tanin nn0,3 FeCl3 Hitam Heksan Heksan:Etil Asetat Etil Asetat Glikosida nn0,6 KOH 10% Violet Heksan Heksan:Etil Merah Etil Asetat Asetat . Saponin nn0,8 Liberman- Hijau-biru Heksan Heksan:Etil Etil Asetat . 0,8 Asetat Berdasarkan Tabel 3 hasil penelitian diketahui bahwa eluen dapat menunjukkan noda yang banyak karena kepolaran eluen tersebut sebanding dengan analit yang bersifat semi polar. Hal ini didukung oleh kepolaran yang tepat antara senyawa eluen dan analit. Diperoleh eluen terbaik untuk pemisahan seyawa golongan dengan menggunakan fase gerak n-Heksan : etil asetat . Pada pemisahan senyawa alkaloid dapat noda di lihat pada n-Heksan dan etil asetat terdeteksi warna orenge atau merah pada sinar UV 365 nm dengan nilai Rf n-heksan 0,7 dan etil asetat 0,4 setelah di semprot pereaksi dragendroff dapat dinyatakan positif mengandung alkaloid. Pada pengujian senyawa flavonoid dapat di lihat noda pada n-Heksan dan etil asetat terdeteksi warna kuning kecoklatan pada sinar UV 365 nm dengan nilai Rf n-Heksan 0,2 dan etil asetat 0,6 setelah di semprot pereaksi AlCl3 1% dapat dinyatakan positif mengandung flavonoid. Pada pemisahan senyawa steroid/triterpenoid dapat di lihat noda pada n-Heksan dan etil asetat terdeteksi warna merah mudah pada sinar UV 365 nm dengan nilai Rf masing-masing 0,2 dan 0,23 setelah di semprot pereaksi Liberman-Burchard dapat dinyatakan positif terpenoid. Pada pemisahan senyawa tanin dapat di lihat noda pada n-Heksan dan etil asetat terdeteksi warna hitam pada sinar UV 365 nm dengan nilai Rf n-Heksan 0,3 dan etil asetat 0,4 setelah di semprot pereaksi FeCl3 10% dapat dinyatakan positif mengandung tanin. Pada pemisahan senyawa alkaloid dapat di lihat noda pada n-heksan dan etil asetat terdeteksi warna merah violet pada sinar UV 365 nm dengan nilai Rf nHeksan 0,6 dan etil asetat 0,5 setelah di semprot pereaksi KOH 10% dapat dinyatakan positif mengandung glikosida. Pada pemisahan senyawa saponin dapat di lihat noda pada n-Heksan dan etil asetat terdeteksi warna hijau sampai biru pada sinar UV 365 nm dengan nilai Rf yang sama yaitu 0,8 setelah di semprot pereaksi Liberman-Burchard dapat dinyatakan positif mengandung saponin. Kesimpulan Ekstrak etanol, fraksi n-Heksan dan etil asetat kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. C Webe. Britton & Rose memiliki daya hambat terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Streptococcus mutans pada konsentrasi 7,5%, 10% dan 12,5%. Fraksi etil asetat menunjukkan zona bening yang efektivitas dari pada ekstrak etanol dan fraksi n-Heksan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan konsentrasi 7,5%, 10% dan 12,5% masingmasing memiliki zona hambat berturut-turut sebesar 10,2 mm, 10,9 mm dan 13,55 mm dengan kategori kuat. Metabolit sekunder yang terdapat pada kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizu. (F. Webe. Britton & Rose pada pengujian skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid dan glikosida. Daftar Pustaka