Demokrasi: Jurnal Riset Ilmu Hukum. Sosial dan Politik Volume 2. Nomor 4. Oktober 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/demokrasi. Tersedia: https://journal. id/index. php/Demokrasi Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta Agus Afriyal1*. Alin Dwi Setyani2. Imam Maulana Azis3 . Gestian Adi Irawan4 Fakultas Syariah. UIN Raden Mas Said Surakarta. Indonesia *Penulis Korespondensi: agustheafriyal@gmail. Abstract: This study aims to analyze the pedagogical strategies in teaching Nailur Roja Syarah Safinatun Najah, particularly the chapter on marriage, at Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta. The teaching of classical Islamic texts . itab kunin. in pesantren not only emphasizes textual understanding but also requires adaptive strategies to ensure that marriage laws are comprehended both theoretically and practically. This research employed a descriptive qualitative method, with data collected through interviews with students and teachers, as well as library research on classical Islamic texts, pesantren pedagogy, and Islamic marriage law. The findings show that pedagogical strategies combine traditional methods such as bandongan and sorogan with contextual approaches including interactive discussions, group deliberations, and case-based learning. The main challenges for students are difficulties in understanding classical Arabic and relating the material to the contemporary Indonesian legal context. To overcome these issues, teachers provide simplified explanations, use real-life analogies, and encourage active student participation. Therefore, the applied pedagogical strategies effectively enhance studentsAo comprehension of the marriage chapter both normatively and practically. Keywords: Classical Islamic Text. Marriage Chapter. Nailur Roja. Pedagogical Strategy. Pesantren Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pedagogis dalam pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada bab nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta. Pembelajaran kitab kuning sebagai tradisi pesantren tidak hanya menekankan aspek tekstual, tetapi juga membutuhkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan santri agar hukum-hukum pernikahan dapat dipahami secara teoritis dan aplikatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada santri dan ustadz, serta studi kepustakaan terhadap literatur terkait kitab kuning, pedagogi pesantren, dan hukum pernikahan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pedagogis yang diterapkan mencakup metode tradisional pesantren seperti bandongan dan sorogan, yang dipadukan dengan pendekatan kontekstual berupa diskusi interaktif, musyawarah, dan studi kasus. Kendala utama yang dihadapi santri adalah kesulitan memahami bahasa Arab klasik dan mengaitkan materi kitab dengan realitas hukum di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, ustadz memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana, menggunakan analogi kehidupan sehari-hari, serta mendorong keterlibatan aktif santri. Dengan demikian, strategi pedagogis yang digunakan mampu meningkatkan pemahaman santri terhadap bab nikah baik dari sisi normatif maupun Kata Kunci: Bab Nikah. Kitab Kuning. Nailur Roja. Pesantren. Strategi Pedagogis PENDAHULUAN Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran sentral dalam menjaga, mengembangkan, dan mentransmisikan khazanah keilmuan klasik. Salah satu tradisi keilmuan yang masih kuat dipertahankan ialah pembelajaran kitab kuning, di antaranya Nailur Roja Syarah Safinatun Najah. Kitab ini dikenal luas sebagai syarah atas Safinatun Najah yang memuat fikih dasar, termasuk bab nikah yang memiliki signifikansi tinggi dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Bab nikah tidak hanya menguraikan hukum-hukum pernikahan dalam perspektif fikih, tetapi juga berkaitan erat dengan realitas yang akan dihadapi santri ketika kelak berinteraksi dengan masyarakat. Dengan demikian, strategi pedagogis yang diterapkan Naskah Masuk: 30 September 2025. Revisi: 14 Oktober 2025. Diterima: 28 Oktober 2025. Terbit: 30 Oktober 2025 Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta dalam mengajarkan materi ini menjadi penting untuk ditelaah agar tidak berhenti pada aspek tekstual, melainkan mampu menjawab kebutuhan zaman (Hasan, 2021. Nurdin & Aini, 2. Urgensi penelitian ini didasarkan pada tantangan pendidikan pesantren yang sering dihadapkan pada dikotomi antara metode tradisional dan kebutuhan akan pendekatan yang lebih interaktif. Model pengajaran klasik seperti bandongan dan sorogan tetap relevan untuk melestarikan tradisi ilmiah pesantren (Zarkasyi, 2. , namun modernisasi pendidikan menuntut adanya strategi yang dapat mendorong partisipasi aktif santri, misalnya diskusi tematik atau studi kasus (Azra, 2. Situasi inilah yang menegaskan pentingnya penelitian mengenai strategi pedagogis dalam pembelajaran bab nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta, khususnya untuk melihat bagaimana metode pengajaran mampu menjembatani teks fikih klasik dengan persoalan kontemporer. Bertolak dari konteks tersebut, penelitian ini berupaya menjawab tiga pertanyaan pokok: pertama, bagaimana strategi pedagogis yang diterapkan dalam pembelajaran Nailur Roja Syarah Safinatun Najah bab nikah di pesantren ini. kedua, bagaimana respon santri terhadap model pembelajaran yang digunakan. dan ketiga, sejauh mana pembelajaran bab nikah ini berkontribusi dalam membentuk pemahaman santri terkait hukum perkawinan. Tujuan penelitian diarahkan untuk mendeskripsikan secara mendalam praktik pedagogis yang berlangsung, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta menilai relevansi pembelajaran dengan kebutuhan santri dan masyarakat luas. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi teoretis dalam memperkaya kajian pedagogi pesantren sekaligus kontribusi praktis bagi para pendidik untuk merancang strategi pembelajaran yang kontekstual. Ahmad Mustain Nasoha . menegaskan bahwa pembelajaran fikih di pesantren semestinya tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai hukum positif agar santri memiliki kesiapan menghadapi dinamika sosial-hukum di masyarakat. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat memperkuat posisi pesantren sebagai institusi yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menyiapkan generasi santri yang adaptif terhadap perubahan zaman. Selain itu, penelitian ini juga relevan dengan wacana pengembangan kurikulum pesantren yang kini mulai diarahkan pada integrasi antara ilmu-ilmu klasik dan kebutuhan masyarakat modern. Kajian tentang bab nikah dalam Nailur Roja Syarah Safinatun Najah bukan hanya sebatas materi fikih, tetapi juga merupakan bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan nilai tanggung jawab, etika, dan kesadaran hukum. Hal ini selaras dengan pandangan para ahli pendidikan Islam yang menekankan pentingnya strategi pedagogis berbasis kontekstual agar santri tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata (Smith, 2020. DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. Hasan, 2. Dengan begitu, penelitian ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang luas bagi peningkatan kualitas pembelajaran di pesantren. TINJAUAN PUSTAKA Pembelajaran kitab kuning di pesantren merupakan praktik pendidikan tradisional yang kaya dan berlapis: selain transfer teks-teks klasik, ia juga membentuk tradisi pedagogis khusus yang berbeda dari pendidikan formal sekuler . an Bruinessen, 1994. Azra, 2. Literatur menyepakati bahwa metode tradisional bandongan . eramah massa. dan sorogan . utoran individua. memegang peranan penting dalam mempertahankan otoritas kyai dan cara berpikir tekstual santri. namun, sejumlah studi terbaru menunjukkan adanya pergeseran adaptif ketika pesantren menghadapi tuntutan sosial dan teknologi modern (Zarkasyi, 2020. Murdianto. Dalam kajian teori pedagogi, dua perspektif sering dipakai untuk menganalisis praktik di pesantren. Pertama, perspektif tradisionalisme pedagogis melihat pesantren sebagai institusi konservatif yang menekankan transmisi teks, hierarki guru-murid, dan hafalan sebagai cara (Dhofier, transformative/contextual Bruinessen. Kedua, pembelajaran harus menghubungkan nash klasik dengan situasi nyata santri, misalnya lewat diskusi kasus, studi kontekstual, dan metode partisipatif supaya pemahaman bukan sekadar tekstual tetapi aplikatif (Azra, 2019. Taufikin, 2. Perdebatan teoretis ini menjadi kerangka penting ketika menilai strategi pengajaran kitab fikih seperti Nailur Roja bab nikah. Empiris tentang pembelajaran kitab kuning menunjukkan beberapa temuan berulang. Pertama, hambatan linguistik Arab klasik/pegon konsisten disebut oleh banyak studi sebagai penghambat utama pemahaman santri (Solichin, 2020. Rohman, 2. Kedua, kombinasi metode tradisional dan inovatif . bandongan diskusi temati. cenderung memperbaiki keterlibatan santri dan pemahaman konseptual studi kasus di beberapa pesantren menunjukkan bahwa integrasi pendekatan kontekstual meningkatkan kemampuan aplikatif siswa (Mustakim. Murdianto, 2. Ketiga, literatur yang lebih luas pada pendidikan agama menyatakan bahwa kurikulum yang menggabungkan nilai-nilai tekstual dan praktik sosial mampu meningkatkan relevansi pendidikan agama bagi masyarakat modern (Hefner, 2010. Tan, 2. Namun ada celah riset yang konsisten: sedikit studi empiris yang fokus pada satu kitab tertentu . Nailur Roj. dengan kedalaman analisis strategi pedagogis pada satu bab . eperti bab nika. dan menggabungkan data wawancara lapangan dengan telaah kepustakaan. Banyak studi bersifat umum pada praktik kitab kuning atau membahas modernisasi pesantren secara Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta Oleh karena itu penelitian lapangan yang menelaah bagaimana pengajar menerjemahkan/menyederhanakan istilah hukum, menstrukturkan diskusi kasus nikah, atau menggunakan simulasi . ole-play, studi kasu. masih terbatasAidan ini adalah celah yang hendak diisi penelitian tentang Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta. Jika ditelaah secara komparatif, beberapa penelitian lokal menemukan pola solusi yang mirip terhadap hambatan: . peningkatan penjelasan dalam bahasa Indonesia, . pembentukan kelompok diskusi kecil, dan . penggunaan ringkasan atau catatan terjemahan untuk istilah-istilah pegon. Studi lain menekankan pentingnya pelatihan kependidikan kepada kyai/ustadz agar mereka memiliki teknik fasilitasi partisipatif . raining-of-trainer. yang mampu mendukung pergeseran pedagogi tanpa menghilangkan nilai tradisi (Azra, 2019. Taufikin, 2. Namun kritik muncul: beberapa perubahan dilaporkan hanya kosmetik mengadopsi bahasa AodiskusiAo tetapi tetap mempertahankan hierarki otoritas yang menutup ruang kritik atau tafsir lokal . ritik etnografis oleh lukens-bull & Hefne. Dari perspektif hukum dan aplikasinya, pembelajaran bab nikah menuntut lebih dari sekadar hafalan nash: santri perlu memahami implikasi sosial-hukum . prosedur akad, dampak sosial perceraian, hak dan kewajiban piha. serta bagaimana nash klasik berinteraksi dengan regulasi perkawinan di Indonesia. Literatur tentang pengajaran fikih di konteks modern menekankan perlunya pedagogical alignment antara materi . , metode . ara mengaja. , dan konteks . ukum & sosial kontempore. agar lulusan pesantren dapat berperan sebagai penasihat komunitas yang relevan dan bertanggung jawab (Smith, 2020. Hefner, 2. Secara kritis, walau banyak studi mengakui nilai integrasi metode tradisional dan modern, ada kebutuhan metodologis untuk penelitian yang . memaparkan strategi pedagogis secara rinci langkah demi langkah. menilai efektivitasnya dengan indikator pemahaman normatif dan aplikatif. merekomendasikan model pelatihan bagi pengajar. Penelitian tentang Nailur Roja bab nikah berpotensi menyuplai bukti empiris yang konkret misalnya: apakah penggunaan studi kasus kasus nikah konkret di kelas meningkatkan kapasitas santri mengambil keputusan atau sekadar meningkatkan skor ujian teoretis? dan menambah bukti apakah model-model inovasi benar-benar memperkuat kemampuan aplikatif santri. Berdasarkan telaah pustaka itu, penelitian ini mengambil posisi sebagai studi kasus pedagogis yang berfokus pada satu kitab dan satu bab . , menggabungkan wawancara dan kepustakaan untuk menelaah: strategi apa yang dipilih pengajar, bagaimana santri merespon, hambatan apa yang muncul, serta sejauh mana strategi itu menambah pemahaman normatif dan DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. aplikatif santri. Dengan demikian studi ini diharapkan menutup celah empiris yang masih terbuka di literatur pesantren dan pendidikan Islam kontemporer. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, karena bertujuan memahami secara mendalam strategi pedagogis yang diterapkan dalam pembelajaran kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada bab nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta. Pendekatan ini dipilih untuk menggali fenomena pembelajaran dalam konteks alami pesantren, dengan menekankan makna dan proses yang terjadi antara ustadz dan santri. Menurut Moleong . , pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti memahami perilaku, persepsi, dan interaksi sosial secara holistik, bukan sekadar dalam bentuk angka atau statistik. Jenis penelitian ini adalah studi lapangan . ield researc. dengan dukungan studi kepustakaan . ibrary researc. Studi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer melalui wawancara mendalam dengan santri dan ustadz pengampu kitab. Sementara itu, studi kepustakaan digunakan untuk memperkuat temuan lapangan dengan merujuk pada literatur relevan, seperti kitab Safinatun Najah. Nailur Roja Syarah Safinatun Najah, karya-karya Ahmad Mustain Nasoha, serta berbagai jurnal akademik tentang pedagogi pesantren dan strategi pembelajaran fikih. Populasi penelitian ini adalah seluruh santri yang mengikuti kajian kitab Nailur Roja di pesantren tersebut, sementara sampel ditentukan secara purposive sampling, yakni dipilih berdasarkan keterlibatan aktif dalam pembelajaran bab nikah. Informan utama terdiri dari satu ustadz pengampu kitab dan beberapa santri tingkat menengah hingga senior yang telah mengikuti kajian minimal satu semester. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semiterstruktur, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi . ermasuk catatan pengajaran dan naskah Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara yang berisi pertanyaan terbuka mengenai metode pengajaran, strategi penyampaian materi, dan respon santri terhadap Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Miles. Huberman, dan Saldaa . Proses analisis dilakukan secara interaktif dengan membandingkan data empiris dan teori pedagogis pesantren. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan secara akurat strategi pedagogis yang diterapkan dalam Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta pembelajaran kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Konsep Strategi Pedagogis dalam Konteks Pesantren Strategi pedagogis merupakan pendekatan sistematis dalam proses pembelajaran yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu melalui penerapan prinsip-prinsip pedagogik yang relevan. Dalam konteks pendidikan Islam, strategi pedagogis tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan . ransfer of knowledg. , tetapi juga pada pembentukan kepribadian dan karakter santri . ormation of ada. Menurut Syukri dan Hasanah . dalam International Journal of Islamic Educational Research (Scopus Q. , strategi pedagogis di pesantren cenderung menekankan keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berpadu dengan nilai-nilai spiritual. Pembelajaran kitab kuning seperti Nailur Roja Syarah Safinatun Najah merupakan contoh konkret bagaimana nilai, ilmu, dan praktik keagamaan menyatu dalam sistem pengajaran klasik yang khas. Dalam perspektif K. Ahmad Mustain Nasoha . , strategi pedagogis di pesantren harus berpijak pada dua pilar utama: tafaqquh fi al-din . endalaman ilmu agam. dan tahdzib al-nafs . embersihan jiw. Menurut beliau, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari kemampuannya memahami teks, tetapi juga sejauh mana ilmu tersebut membentuk perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendekatan pengajaran kitab di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta dirancang agar santri tidak sekadar menguasai makna linguistik dan hukum fikih dalam bab nikah, tetapi juga memahami nilai moral dan sosial di balik ajaran tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu santri yang mempelajari kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah, diperoleh bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta mengintegrasikan beberapa metode tradisional dan kontekstual. Pertama, penggunaan metode qiraAoah wa syarh . embaca dan menjelaskan tek. dilakukan dengan sistem makna gandul atau pegon. Cara ini memungkinkan santri untuk memahami struktur bahasa Arab secara kontekstual dan memaknai istilah fikih secara bertahap. Kedua, metode praktik mengajar diterapkan untuk melatih kemampuan santri dalam menyampaikan ulang materi yang telah dipelajari, memperkuat daya ingat, dan meningkatkan rasa percaya diri. Ketiga, metode tanya jawab . digunakan untuk membangun interaksi dua arah dan mengasah daya kritis santri. Terakhir, implementasi nilai Aual-Aoilmu bila Aoamal kasy-syajar bila tsamarAy . lmu tanpa amal seperti pohon tanpa bua. DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. menjadi pedoman agar setiap ilmu yang diperoleh dapat diamalkan secara nyata dalam Ustadz menjelaskan bahwa pemilihan kitab ini bukan hanya karena bahasa Arabnya yang sederhana, tetapi juga karena kandungannya yang relevan dengan kehidupan sosial santri. Bab nikah dipilih karena dinilai mampu memberikan pemahaman mendalam tentang hukumhukum syariat, tanggung jawab rumah tangga, serta nilai ibadah dalam pernikahan. Santri diajak memahami bahwa pernikahan bukan hanya soal cinta, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual. Pendekatan kontekstual ini membuat santri merasa bahwa pelajaran yang mereka dapatkan tidak sekadar teks hukum, melainkan juga panduan hidup nyata. Respon santri terhadap pembelajaran ini cukup positif. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi ketika membahas topik-topik seputar nikah, terutama karena dianggap dekat dengan realitas kehidupan. Namun, tantangan muncul dalam memahami istilah fikih atau bahasa Arab klasik. Untuk mengatasi hal tersebut, ustadz sering memberikan penjelasan dengan contoh sehari-hari atau studi kasus aktual seperti pernikahan usia muda dan pernikahan Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih relevan dan aplikatif. Analisis Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Kuning Jika ditinjau dari teori pedagogi Islam, pendekatan yang digunakan oleh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin mencerminkan prinsip andragogi dan kontekstualisasi nilai. Menurut Al-Harbi . dalam Journal of Islamic Pedagogical Studies (Scopu. , pembelajaran kitab kuning yang efektif adalah yang mampu menghubungkan teks klasik dengan realitas kontemporer. Dalam konteks ini, ustadz berperan tidak hanya sebagai muAoallim . , tetapi juga sebagai murabbi . embimbing spiritua. Proses tanya jawab dan praktik mengajar berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai dan penguatan pemahaman hukumhukum fikih dalam bab nikah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Al-Muhsin . yang menegaskan bahwa strategi pedagogis di pesantren efektif ketika berbasis pada active learning, di mana santri dilibatkan dalam proses penemuan makna dan penerapan ajaran Islam secara reflektif. Dalam pembelajaran Nailur Roja, kegiatan membaca, berdiskusi, dan mengajar kembali menjadi bentuk nyata dari experiential learning, yang menjadikan santri subjek aktif, bukan sekadar penerima pasif. Selain itu, pembelajaran kitab ini juga berorientasi pada character formation. Sebagaimana diungkapkan oleh Nasoha . , tujuan akhir pendidikan pesantren bukan hanya al-maAorifah . , tetapi al-hidayah . etunjuk hidu. Dengan memahami bab nikah, santri diarahkan untuk memahami tanggung jawab sosial dan spiritual dalam kehidupan Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta Hal ini menegaskan bahwa pendidikan pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran moral umat. Selain active learning dan internalisasi melalui praktik dan dialog, penelitian Sufirmansyah . dalam jurnal Cendekia: Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan menjelaskan bahwa prinsip andragogi dalam pendidikan pesantren membantu santri menjadi lebih sadar terhadap kebutuhan belajar mereka, bukan sekadar menerima materi yang diberikan Dalam konteks pembelajaran kitab kuning di MaAohad Aly Lirboyo, pendekatan ini menekankan kemandirian santri dalam menentukan cara belajar, kecepatan, dan kedalaman materi yang dipelajari. Dengan demikian, santri tidak hanya belajar memahami teks klasik, tetapi juga mengembangkan kemampuan reflektif dan metakognitif terhadap konteks sosial yang dihadapi (Sufirmansyah, 2. Dalam konteks Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin, penerapan prinsip ini memperkuat posisi ustadz sebagai fasilitator pembelajaran, bukan hanya penyampai ilmu, sehingga proses belajar menjadi lebih partisipatif dan berpusat pada santri. Selanjutnya, pembelajaran kitab kuning juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter . haracter formatio. , sebuah aspek yang secara konsisten disebut sebagai tujuan utama pendidikan pesantren. Menurut penelitian Zain dan Zaini . dalam Dirasah: Jurnal Pendidikan Islam, pembelajaran kitab kuning berperan penting dalam menanamkan nilai moderasi dan akhlak melalui proses interpretasi teks yang dikontekstualisasikan dengan realitas kehidupan santri. Nilai-nilai ini diinternalisasikan melalui metode keteladanan kyai, disiplin kegiatan harian, dan budaya taAodzim terhadap ilmu dan guru (Zain & Zaini, 2. Oleh karena itu, strategi pedagogis yang diterapkan di Raudlatul Muhibbin sejalan dengan pendekatan ini, yaitu menjadikan kitab sebagai media pembentukan kepribadian dan spiritualitas, bukan sekadar instrumen kognitif. Lebih lanjut, pembelajaran kitab kuning juga berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi bahasa Arab sekaligus penguatan spiritualitas santri. Dalam penelitian Alfarisi . berjudul The Impact of Kitab Kuning Reading Habits on Arabic Vocabulary Mastery, ditemukan bahwa kebiasaan membaca kitab kuning secara intensif tidak hanya meningkatkan kemampuan linguistik, tetapi juga menumbuhkan karakter religius melalui disiplin dan ketekunan yang melekat pada proses belajar (Alfarisi, 2. Dengan demikian, strategi pedagogis yang berbasis pada kebiasaan membaca . eading habit formatio. , diskusi interpretatif, dan keteladanan ustadz mampu melahirkan santri yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran sosial-spiritual yang utuh. DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. Efektivitas Strategi Pedagogis terhadap Pemahaman Santri Tujuan utama pembelajaran Bab Nikah dalam kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah bukan semata-mata memberikan pengetahuan teoritis tentang hukum pernikahan, melainkan membentuk cara pandang santri terhadap makna ibadah, tanggung jawab sosial, dan etika berumah tangga dalam Islam. Berdasarkan hasil wawancara, ustadz menegaskan bahwa pembelajaran ini bertujuan agar santri memahami hukum-hukum syariat secara menyeluruh, termasuk batasan antara yang wajib, sunnah, makruh, dan haram. Dengan demikian, santri mampu menempatkan pernikahan bukan sekadar persoalan emosional atau romantik, melainkan ibadah yang dilandasi kesadaran moral dan spiritual. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan KH Ahmad Mustain Nasoha, yang menegaskan bahwa pendidikan Islam yang ideal harus mengintegrasikan tiga aspek utama: ilmu, amal, dan akhlak. Menurut beliau, pesantren bukan hanya lembaga transfer pengetahuan, tetapi juga madrasah al-akhlaq . ekolah mora. yang menanamkan kesadaran tanggung jawab dalam kehidupan sosial dan spiritual. Dalam Studi Pedagogis Islam Kontemporer (Nasoha, 2. , beliau menekankan pentingnya sinergi antara taAolim, tarbiyah, dan taAodib. Ketiganya menjadi kerangka strategis yang menuntun guru pesantren untuk tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian islami. Hal ini terlihat dalam pola pengajaran kitab Nailur Roja, di mana santri tidak hanya memahami hukum-hukum pernikahan, tetapi juga mempraktikkan adab, kesopanan, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari. Metode pengajaran yang digunakan ustadz juga memperlihatkan efektivitas pedagogis yang signifikan. Istilah-istilah fikih seperti mahar, wali, akad, syarat, dan rukun nikah dijelaskan dengan bahasa sederhana dan diberikan contoh kontekstual yang dekat dengan kehidupan santri. Strategi kontekstualisasi ini menjembatani kesenjangan antara teks klasik dan pengalaman empiris santri, sesuai dengan prinsip constructivism learning theory yang menekankan peran aktif peserta didik dalam membangun pemahaman berdasarkan pengalaman Penelitian Abdullah & Mulyadi . dalam Journal of Islamic Pedagogy and Curriculum Studies (Scopus Indexe. menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis kontekstual dalam pesantren meningkatkan pemahaman dan retensi santri terhadap teks klasik hingga 73% dibanding metode ceramah pasif. Temuan ini memperkuat praktik di Raudlatul Muhibbin, di mana ustadz tidak hanya menjelaskan hukum nikah secara tekstual, tetapi juga memberi contoh sosial aktual seperti fenomena pernikahan usia muda, pernikahan siri, hingga persoalan hak dan kewajiban dalam keluarga modern. Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta Lebih jauh, pendekatan ini juga selaras dengan teori andragogi Islam sebagaimana dikemukakan oleh Al-Harbi . dalam Journal of Islamic Pedagogical Studies (Scopu. , bahwa pembelajaran yang efektif di pesantren harus memberi ruang pada pengalaman, refleksi, dan keterlibatan aktif peserta didik. Dalam konteks Nailur Roja, santri tidak hanya membaca dan mendengarkan, tetapi juga melakukan praktik mengajar kembali . eer teachin. , yang berfungsi sebagai sarana memperkuat pemahaman dan kepercayaan diri. Proses ini melatih santri menjadi subjek aktif, bukan objek pasif, dalam memperoleh dan mengamalkan ilmu. Selain aspek kognitif dan afektif, pembelajaran bab nikah ini juga menyentuh dimensi moral dan spiritual. Menurut Zain & Zaini . dalam Dirasah: Jurnal Pendidikan Islam, pendidikan pesantren idealnya mengarah pada character formation dan bukan sekadar knowledge acquisition. Hal ini tampak jelas di Raudlatul Muhibbin, di mana pengajaran kitab nikah disertai dengan pembiasaan akhlak dan refleksi diri, sehingga santri memahami bahwa setiap hukum fikih mengandung nilai adab dan kesadaran ketuhanan . aAodi. Misalnya, ketika membahas kewajiban suami menafkahi istri, ustadz tidak hanya menjelaskan dalil fikihnya, tetapi juga menekankan nilai tanggung jawab, kasih sayang, dan amanah sebagai wujud pengabdian kepada Allah. Selain itu, ustadz juga menekankan prinsip keseimbangan antara akal dan qalb . ntelektual dan spiritua. Hal ini sesuai dengan pandangan Nasoha . yang menyebut bahwa tujuan akhir pendidikan Islam bukan hanya al-maAorifah . , tetapi alhidayah . etunjuk hidu. Dalam praktiknya, santri diarahkan untuk tidak hanya memahami hukum-hukum fikih nikah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran moral agar kelak mampu menjalankan kehidupan berkeluarga dengan landasan iman dan tanggung jawab sosial. Tantangan dan Inovasi dalam Pembelajaran Kitab Kuning di Era Kontemporer Dalam konteks pendidikan Islam tradisional, pembelajaran kitab kuning memiliki posisi yang unik: ia menjadi sarana pewarisan otoritas keilmuan Islam klasik, tetapi sekaligus dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan teknologi modern. Di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta, dinamika tersebut terlihat dalam proses pembelajaran kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah. Berdasarkan hasil wawancara, santri dan ustadz mengakui bahwa antusiasme terhadap bab ini sangat tinggi karena isinya dekat dengan realitas kehidupan, namun pada saat yang sama, muncul tantangan seperti keterbatasan penguasaan bahasa Arab, kesulitan memahami struktur kalimat kitab, serta keterbatasan waktu untuk mendalami aspek kontekstual fikih. DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. Untuk mengatasi hal ini, para ustadz menerapkan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan fleksibel. Metode bandongan dan sorogan klasik tetap dipertahankan, tetapi dipadukan dengan diskusi kelompok kecil, peer teaching, dan penggunaan media digital seperti PDF kitab, video kajian, serta aplikasi kamus Arab. Strategi ini mencerminkan adaptasi pedagogis pesantren terhadap kebutuhan santri masa kini, sekaligus mempertahankan ruh alturats . iwa tradisi keilmuan Isla. Hasil penelitian Hasanah . dalam International Journal of Islamic Education Studies menegaskan bahwa kombinasi antara metode tradisional dan digital learning memperkuat literasi keislaman santri sekaligus menumbuhkan kemandirian belajar, asalkan tidak menghapus nilai adab dan kedisiplinan khas pesantren. Ustadz di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta menegaskan bahwa tujuan utama integrasi teknologi bukan sekadar memudahkan akses materi, melainkan untuk mengembangkan daya kritis santri terhadap persoalan sosial. Misalnya, pembahasan hukum nikah tidak hanya dibaca dari sisi fiqhiyyah, tetapi juga dikaitkan dengan kasus aktual seperti fenomena pernikahan dini, pernikahan beda budaya, dan isu hak serta kewajiban dalam rumah tangga di era digital. Model pengajaran seperti ini menunjukkan penerapan problem-based learning dalam konteks pesantren. Hal ini sejalan dengan penelitian Mubarak & Rahman . dalam Journal of Contemporary Islamic Studies, yang menyebut bahwa pesantren yang mampu menghadirkan problematika sosial ke dalam kelas kitab kuning akan melahirkan santri yang reflektif, solutif, dan tidak terjebak dalam kejumudan teks klasik. Lebih lanjut, pendekatan ini menunjukkan adanya transformasi peran ustadz dari sekadar muAoallim . enyampai ilm. menjadi murabbi . endidik karakte. dan mursyid . embimbing spiritua. Perubahan peran ini sangat penting karena ustadz kini harus menavigasi antara teks klasik dan realitas santri digital-native. Dalam pandangan Nasoha . , proses pendidikan Islam di era modern harus menyeimbangkan tiga ranah besar: teologi, moralitas, dan sosioteknologi. Pendidikan yang hanya menekankan aspek teks tanpa kontekstualisasi akan melahirkan kejumudan intelektual, sedangkan pendidikan yang hanya fokus pada teknologi tanpa adab akan kehilangan arah spiritual. Oleh karena itu, inovasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menghidupkannya kembali dengan ruh baru yang relevan dengan kebutuhan zaman. Salah satu inovasi yang diterapkan di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin AlMustainiyyah Surakarta adalah pemberian tugas praktik mengajar kitab kuning oleh santri senior kepada junior. Praktik ini berfungsi sebagai simulasi pedagogis agar santri tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu menyampaikan dan menjelaskan kepada orang lain dengan bahasa yang komunikatif. Strategi ini sesuai dengan hasil riset Amin & Sulaiman . dalam Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta Journal of Islamic Educational Innovation, yang menemukan bahwa peer-learning method di pesantren meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah dan tanggung jawab akademik santri secara signifikan. Di samping itu, praktik mengajar ini juga menjadi sarana penanaman nilai ikhlas dan tawadhuAo karena santri belajar untuk mengajar bukan demi prestise, tetapi sebagai bentuk pengabdian dan pengamalan ilmu. Selain inovasi pedagogis, faktor kultural juga menjadi bagian penting dari pembelajaran kitab kuning. Santri dibiasakan untuk mujahadah . ersungguh-sunggu. dan taAodzim kepada guru. Nilai-nilai ini tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Dalam perspektif KH Mustain Nasoha, disiplin spiritual seperti ini merupakan fondasi keberhasilan pendidikan Islam. ia menanamkan ikhlas, ketaatan, dan akhlaqul karimah yang menjadi inti keberkahan ilmu. Dengan demikian, inovasi dalam pesantren bukan sekadar menciptakan metode baru, melainkan menjaga agar proses pendidikan tetap bersandar pada nilai ketundukan kepada Allah dan hormat kepada ilmu serta guru. Namun demikian, tantangan terbesar pembelajaran kitab kuning di era kontemporer bukan hanya pada aspek teknis atau bahasa, tetapi pada kemampuan menjaga relevansi moral di tengah arus globalisasi nilai. Santri hidup dalam dunia yang serba cepat dan terbuka, di mana pandangan modern tentang pernikahan, gender, dan relasi keluarga sering kali berbeda dari perspektif fikih klasik. Oleh sebab itu, ustadz berperan penting dalam menjembatani pemahaman tersebut dengan bijak. Dalam konteks ini, pembelajaran bab nikah di Raudlatul Muhibbin berfungsi sebagai media tafaqquh fi al-din yang dinamis bukan sekadar pengulangan teks, tetapi juga arena dialog antara ajaran Islam dan tantangan zaman. Selain inovasi pada metode pengajaran, aspek evaluasi juga menjadi tantangan tersendiri dalam pembelajaran kitab kuning di era kontemporer. Evaluasi di pesantren tradisional umumnya dilakukan secara kualitatif, melalui pengamatan langsung ustadz terhadap perilaku, kedisiplinan, dan adab santri. Namun, dalam konteks modern, diperlukan sistem evaluasi yang lebih komprehensif tanpa menghilangkan nilai spiritualitasnya. Menurut penelitian Nurhadi . dalam Journal of Islamic Pedagogy, evaluasi pembelajaran kitab kuning dapat menggabungkan dua bentuk: penilaian kognitif . enguasaan teks dan makn. dan penilaian afektif . erubahan perilaku, sopan santun, dan tanggung jawab sosia. Di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta, praktik ini sudah terlihat dalam bentuk praktek mengajar dan muhadharah . , di mana santri diuji bukan hanya secara lisan, tetapi juga sejauh mana mereka mampu menginternalisasi ilmu melalui perilaku dan tutur kata sehari-hari. Pendekatan evaluatif ini sejalan dengan prinsip taAodib yang diajarkan oleh KH Ahmad Mustain Nasoha, yaitu bahwa hasil pendidikan yang sejati bukanlah nilai angka. DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. melainkan Auterbentuknya manusia yang sadar akan posisi dirinya di hadapan Allah dan Ay Integrasi Tradisi dan Inovasi dalam Strategi Pedagogis PesantrenAy Secara analitis, strategi pedagogis di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin AlMustainiyyah menunjukkan bentuk integrasi antara pendekatan tradisional dan modern. Pendekatan tradisional tampak dari metode makna pegon, bandongan, dan sorogan yang masih digunakan sebagai ciri khas pengajaran kitab kuning. Metode ini berfungsi menjaga kesinambungan sanad keilmuan . ttisal al-sana. , yang merupakan identitas epistemologis Namun, di sisi lain, terdapat pula penerapan metode modern seperti praktik mengajar . eer teachin. , tanya jawab interaktif, dan studi kasus aktual yang dikembangkan ustadz untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan relevansi pemahaman santri terhadap konteks sosial kontemporer. Kombinasi dua pendekatan ini menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif, kontekstual, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Pendekatan sintesis tersebut sejalan dengan gagasan transformative pedagogy yang dikemukakan oleh Cranton . , di mana proses pendidikan tidak semata mentransfer ilmu, tetapi mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak peserta didik. Dalam konteks pesantren, transformasi itu tercermin pada kemampuan santri untuk memahami hukum fikih tidak hanya sebagai norma ritual, tetapi juga sebagai pedoman moral dalam kehidupan sosial. Misalnya, ketika mempelajari bab nikah dalam Nailur Roja Syarah Safinatun Najah, santri diarahkan untuk memahami makna pernikahan sebagai tanggung jawab spiritual dan sosial, bukan sekadar akad formal. Proses reflektif ini menjadikan pembelajaran kitab kuning bukan hanya alat transmisi ilmu agama, tetapi juga wahana pembentukan kesadaran etis yang mendorong perubahan perilaku dan karakter. Lebih jauh, strategi pedagogis di pesantren ini juga menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dapat bersinergi dalam kerangka pembaruan pendidikan Islam. Pesantren sebagai lembaga pendidikan klasik tetap mempertahankan metode turats sebagai warisan keilmuan, namun pada saat yang sama membuka diri terhadap pembaharuan metode dan media pembelajaran. Hal ini sesuai dengan prinsip al-muhafadzah Aoala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah menjaga tradisi lama yang baik sambil mengambil hal baru yang lebih bermanfaat. Dalam praktiknya, inovasi pedagogis seperti diskusi kontekstual, penugasan reflektif, dan pengintegrasian nilai sosial menjadi bentuk nyata dari penerapan prinsip tersebut dalam sistem pendidikan pesantren. Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta Pandangan ini selaras dengan pemikiran Nasoha . yang menegaskan bahwa pesantren modern harus menyeimbangkan tiga dimensi besar dalam pendidikan Islam, yakni teologi, moralitas, dan sosioteknologi. Menurutnya, pendidikan yang hanya menekankan aspek teks akan melahirkan kejumudan intelektual, sedangkan pendidikan yang hanya menekankan aspek teknologi tanpa adab akan kehilangan arah spiritual. Karena itu, pembaharuan di pesantren harus bersifat substansial, bukan sekadar formalistik. Inovasi pedagogis hendaknya tetap berlandaskan nilai taAodib pendidikan berbasis adab, agar transformasi keilmuan juga diiringi dengan transformasi akhlak. Dalam konteks Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin, strategi integratif ini berhasil menunjukkan bagaimana pendidikan kitab kuning mampu tetap relevan di era kontemporer tanpa meninggalkan ruh tradisinya, sekaligus menjadikan pesantren sebagai pusat pembentukan moral dan peradaban Islam. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa strategi pedagogis dalam pembelajaran Kitab Nailur Roja Syarah Safinatun Najah pada Bab Nikah di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta mencerminkan model pendidikan Islam yang integratif, adaptif, dan berorientasi nilai. Strategi ini tidak hanya menekankan penguasaan aspek kognitif dalam memahami teks fikih klasik, tetapi juga menginternalisasikan nilai moral dan spiritual yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren. Melalui kombinasi metode tradisional seperti bandongan, sorogan, dan makna pegon dengan pendekatan modern seperti peer teaching, diskusi reflektif, serta studi kasus aktual, proses pembelajaran di pesantren ini berhasil menghubungkan antara teks dan konteks, antara ilmu dan amal. Pendekatan tersebut membuktikan bahwa pembelajaran kitab kuning tetap relevan dan efektif dalam membentuk karakter santri di era kontemporer. Santri tidak hanya memahami hukum-hukum fikih tentang pernikahan, tetapi juga mampu menafsirkan nilai-nilai syariat dalam kehidupan sosial dan spiritual mereka. Hal ini sejalan dengan pandangan KH Ahmad Mustain Nasoha . , bahwa pendidikan Islam yang ideal harus mengintegrasikan tiga aspek utama taAolim, tarbiyah, dan taAodib sebagai fondasi pembentukan manusia berilmu dan beradab. Lebih lanjut, penerapan strategi pedagogis berbasis andragogi, active learning, dan transformative pedagogy memperkuat posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial santri. Pembelajaran kitab kuning dalam konteks ini menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai tafaqquh fi al-din, memperkuat moralitas, serta membangun kepekaan terhadap problematika sosial-keagamaan yang dihadapi masyarakat modern. DEMOKRASI - VOLUME 2. NOMOR 4. OKTOBER 2025 E-ISSN . : 3031-9730. P-ISSN . : 3031-9714. Hal. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa strategi pedagogis di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah merupakan representasi nyata dari prinsip almuhafadzah Aoala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah menjaga tradisi lama yang baik sambil mengambil inovasi baru yang lebih bermanfaat. Melalui keseimbangan antara tradisi dan inovasi, pesantren ini berhasil mempertahankan ruh keilmuan Islam klasik sembari menjawab tantangan pendidikan di era digital. Pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu, tetapi juga laboratorium moral yang membentuk generasi beradab, reflektif, dan siap menghadapi kompleksitas zaman dengan berpegang pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil Aoalamin. Saran Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi pesantren dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang menyeimbangkan tradisi dan inovasi. Pengasuh dan pendidik perlu terus mengintegrasikan metode klasik seperti bandongan dan sorogan dengan pendekatan kontekstual dan berbasis teknologi agar pembelajaran kitab kuning tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Dari sisi akademis, penelitian ini membuka peluang bagi studi lanjutan yang menelaah efektivitas integrasi tradisi dan inovasi dalam pembelajaran pesantren. Penelitian berikutnya disarankan mengembangkan model pedagogis berbasis riset tindakan . ction researc. atau melakukan studi komparatif antarjenis pesantren untuk memperkaya teori pendidikan Islam yang kontekstual dan adaptif terhadap perubahan sosial. DAFTAR PUSTAKA