Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Kompetensi Universitas Balikpapan ANALISIS SEMIOTIKA PADA ULOS HARUNGGUAN MUARA Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Universitas Sumatera Utara1,2,3 pos-el: nehemiasimorangkir20@gmail. comA, jekmen@usu. idA, warisman@usu. ABSTRAK UHM merupakan salah satu ulos etnik Batak Toba. Ulos yang berasal dari Muara ini memiliki motif yang tergabung dari motif ulos yang dimiliki oleh etnik Batak Toba dan komodifikasi dilakukan sebagai pengembangan dari ulos ini. UHM memiliki kain dengan motif yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Batak Toba yang hidup di sekitar Danau Toba. Motif ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Batak Toba, karena melambangkan keberanian dan semangat juang untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk simbol, fungsi, makna yang terdapat pada UHM dan mendeskripsikan komodifikasi yang terdapat pada UHM. Teori yang digunakan dalam menganalisis data merupakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce dan teori komodifikasi yang dikemukakan oleh Mosco. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data penelitian dihasilkan dari penelitian lapangan dan penelitian sekunder. Pada penelitian ini ditemukan hasil simbol, yakni 22 bentuk simbol motif antara lain: topi, simarpusoran, ragi ambasang, bolean, suri suri, hait masusang, maratur, bola bola anduri, pucca, sibolang, ragi hotang, pinunsaan, ragi singkam, mangiring, situtur, ragi hidup, runjat, suri suri sanggar, gatip gatip, sibolang maranak, maratur toba, dan sitolu tuho. Dari hasil penelitian terhadap fungsi simbol, ditemukan 2 fungsi, yakni: . fungsi simbolis dan . fungsi praktis. Berdasarkan maknanya, ditemukan 2 makna, yakni: . makna konotasi dan . makna denotasi, serta komodifikasi yang terdapat yakni: . komodifikasi fungsi dan penggunaan UHM dan . komodifikasi fungsi dan bentuk UHM. Kata kunci: ulos harungguan, muara, semiotika, komodifikasi budaya. ABSTRACT UHM is one of the ethnic ulos of Batak Toba. This ulos from Muara has a motif that is incorporated from the ulos motif owned by the Toba Batak ethnic group and commodification is carried out as a development of this ulos. UHM has fabrics with motifs inspired by the life of the Toba Batak people who live around Lake Toba. This motif has a very important meaning for the Toba Batak community, because it symbolizes courage and fighting spirit to face various obstacles and challenges in life. This research aims to describe the form of symbols, functions, meanings contained in UHM and describe the commodification contained in UHM. The theory used in analyzing the data is semiotic theory proposed by Charles Sanders Peirce and commodification theory proposed by Mosco. The method used in this research is descriptive qualitative with research data sources generated from field research and secondary research. This research found the results of symbols, namely 22 forms of motif symbols including: hat, simarpusoran, ragi ambasang, bolean, suri suri, hait masusang, maratur, bola bola anduri, pucca, sibolang, ragi hotang, pinunsaan, ragi singkam, mangiring, situtur, ragi hidup, runjat, suri suri sanggar, gatip gatip, sibolang maranak, maratur toba, and sitolu tuho. From the results of research on the function of symbols, two functions were found, namely: . symbolic function and . practical function. Based on the meaning, 2 meanings were found, namely: . connotation meaning and . denotation meaning, as well as commodification, namely: . commodification of function and use of UHM and . commodification of function and form of UHM. Keywords: ulos harungguan, muara, semiotic, cultural commodification. Vol. No. Juni 2024 Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA PENDAHULUAN Etnik Batak merupakan etnik yang terbesar dari beberapa etnik yang lainnya di Indonesia. Etnik Batak yang berada di Provinsi Sumatera Utara ini memiliki lima subetnik di dalamnya. Etnik Batak ini terdiri atas lima subetnik, yaitu Toba. Angkola Mandailing. Simalungun. Karo. Pakpak/Dairi (Nasoichah, 2015:. Dalam setiap subetnik Etnik Batak memiliki budaya masing-masing yang tidak lepas dari aturan/peraturan yang ada di dalamnya. Budaya dapat diartikan sebagai sistem dan cara hidup yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat dan diturunkan untuk (Supardan, 2012:. Kebudayaan sebagai sebuah sistem yang mengandung unsur yang rumit dan saling berhubungan di dalamnya mencakup pada pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adatistiadat, keterampilan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Kusherdyana, 2020:. Unsur-unsur budaya terdiri dari tujuh kelompok, yaitu: . sistem bahasa. sistem pengetahuan. sistem sosial. sistem peralatan hidup dan teknologi. sistem mata pencaharian hidup. sistem religi. kesenian (Syakhrani & Kamil, 2022:. Dalam hal ini subetnik pada etnik Batak memiliki ciri tersendiri dalam unsur-unsur kebudayaan dan dapat dilihat pada setiap komponen-komponen yang ada di dalamnya. Etnik Batak dianggap juga sebagai etnik yang lekat pada kebudayaannya dan memiliki ciri yang khas. Salah satu contohnya yaitu kain ulos yang terdapat pada etnik Batak Toba. Setiap ulos dapat memberikan pesan yang berbeda lewat simbol dan bergantung pada macam dan tujuan Simbol yang terdapat pada ulos dapat diperhatikan pada motif, model serta warna ulos saat bertenun . (Sherly & Sukardi, 2016:. Pada awalnya, ulos berguna sebagai Dengan Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan perkembangan zaman saat ini, peralihan fungsi ulos berganti menjadi fungsi simbolik pada keseluruhan aspek Hal ini yang membuat ulos tidak terpisah dalam kehidupan masyarakat Batak Toba karena dianggap bahwa kain ulos adalah lambang dalam berkomunikasi (Takari, 2009:. Kain ulos yang menjadi ciri khas dari Kecamatan Muara adalah Ulos Harungguan yang merupakan salah satu aspek keanekaragaman budaya. Hal ini disebabkan UHM hanya terdapat di Kecamatan Muara saja dan belum banyak dikenal di masyarakat luas. UHM adalah salah satu jenis kain dengan motif yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Batak Toba yang hidup di sekitar Danau Toba. Motif ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Batak Toba, karena melambangkan keberanian dan semangat juang untuk menghadapi berbagai rintangan dan Dalam pengembangannya ulos ini menjadi daya tarik pariwisata yang berjenis pariwisata untuk kebudayaan . ultural touris. Secara harfiah, harungguan dapat diartikan sebagai tempat perkumpulan. Jadi, ulos harungguan muara ini merupakan kumpulan dari semua motif jenis ulos Batak Toba. Pada awalnya. UHM hanya digunakan oleh para rajaraja yang terdapat di Kecamatan Muara. Motif UHM pada umumnya, memiliki warna merah sebagai warna dasar, yang semangat juang. Motifnya terdiri dari garis-garis vertikal yang melambangkan pohon pinus, yang dianggap sebagai simbol kekuatan dan keabadian. Selain itu, motif UHM juga terdapat gambargambar binatang seperti burung, kuda dan rusa yang juga melambangkan kebebasan dan keindahan alam. Oleh karena itu. UHM menjadi ketertarikan penulis untuk dijadikan sebagai objek penelitian dibandingkan dengan ulos Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Penggunaan ulos ini pada awalnya digunakan saat upacara adat sukacita. Tetapi, tidak jarang juga digunakan saat upacara dukacita seperti kematian. Hal ini disebabkan UHM pada zaman dahulu hanya ada beberapa motif saja di dalamnya yang diperuntukkan untuk mangiring dan sibolang. Ulos ini memiliki ukuran dengan panjang kurang lebih dua meter dengan lebar delapan puluh sentimeter. Semiotika merupakan ilmu tentang tanda, bagaimana penggunaan tanda itu, dan bagaimana cara tanda itu memberikan sesuatu kepada yang (Tandiangga, 2021:. Teori yang digunakan pada artikel ini adalah teori semiotik yang dikemukakan oleh Pierce. Pierce menyatakan bahwa simbol merupakan perspektif, dan lain sebagainya yang diarahkan menjadi sebuah objek. Identifikasi yang dilakukan Pierce dengan pernyataan adanya tiga tanda yang dimanfaatkan, yaitu: . ikon, merupakan hubungan tanda dengan acuannya yang berhubungan dengan Ikon menjadi bagian dari semiotika untuk menandai suatu hal atau keadaan dalam menerangkan dan memberitahukan objek kepada subjek. Pada hal ini tanda selalu menunjukkan pada sebuah hal yang nyata seperti benda, kejadian, tulisan, bahasa, tindakan, peristiwa, dan bentuk-bentuk tanda yang lain. indeks, tanda yang merepresentasikan referensi acuan melalui teknik penunjukan kepadanya atau mengikat dengan implisit atau eksplisit melalui referensi acuan yang Pada menghubungkan antara tanda sebagai penanda dan petandanya yang memiliki sifat-sifat yaitu: nyata, berurutan, sebab akibat dan selalu mengisyaratkan Tiga macam indeks yang digunakan yaitu indeks persona, temporal, dan ruang. Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan persetujuan atau kesepakatan pada bidang yang rinci. Pada simbol, ditampilkan sebuah hubungan antara penanda dan petanda. Tanda yang berubah menjadi simbol dengan sendirinya dengan ditambahkan sifatsifat Artian pada sebuah simbol dikembangkan dengan persetujuan sosial atau dengan beragam tradisi sejarah (Danesi, 2. Dalam upaya memperkuat landasan penelitian ini, beberapa studi terdahulu yang relevan telah dikaji. Annisa et al. melakukan analisis semiotika film "Mimpi Ananda Raih Semesta" menggunakan teori Roland Barthes untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, observasi, dan studi pustaka, yang dapat diadaptasi untuk menganalisis Ulos Harungguan Muara. Studi lain yang relevan adalah penelitian Pakpahan dan Sinulingga . tentang semiotika tahapan Mossak pada etnik Batak Toba, yang menerapkan teori semiotik Pierce untuk menganalisis simbol-simbol dalam ritual bela diri. Pendekatan deskriptif kualitatif yang digunakan dalam penelitian tersebut dapat diterapkan untuk mendeskripsikan simbol-simbol pada Ulos Harungguan Muara. Selanjutnya, kajian semiotika sosial pada tradisi upacara Saur Matua etnik Batak Angkola/Mandailing oleh Harahap dan Sinulingga . juga menjadi referensi penting. Penelitian ini menggunakan teori Charles Sanders Pierce untuk menganalisis bentuk, fungsi, dan nilai simbol dalam upacara adat Batak, yang sangat relevan untuk mengkaji Ulos Harungguan Muara dalam konteks sosial dan budaya. Meskipun penelitian-penelitian tersebut memberikan landasan yang kuat untuk analisis semiotika dalam konteks Kompetensi Universitas Balikpapan Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA budaya Batak, terdapat kesenjangan . yang perlu diisi. Belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji Ulos Harungguan Muara menggunakan pendekatan semiotika. Kebanyakan studi sebelumnya berfokus pada aspek ritual, upacara adat, atau bentuk-bentuk kebudayaan Batak lainnya, namun belum ada yang secara mendalam menganalisis makna simbolik dari Ulos Harungguan Muara sebagai artefak budaya yang penting. Selain itu, penelitian-penelitian terdahulu belum mengeksplorasi bagaimana makna dan fungsi Ulos Harungguan Muara mungkin telah berevolusi dalam konteks masyarakat Batak kontemporer. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu dan gap yang teridentifikasi, studi tentang Ulos Harungguan Muara ini akan mengadopsi pendekatan semiotika untuk menganalisis aspek visual dan kultural ulos tersebut, serta perannya dalam masyarakat Batak Penelitian ini akan mengintegrasikan teori-teori semiotika yang telah digunakan dalam studi-studi sebelumnya, sambil memberikan fokus khusus pada Ulos Harungguan Muara sebagai objek penelitian utama. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam pemahaman tentang makna dan signifikansi Ulos Harungguan Muara dalam konteks budaya Batak, sekaligus mengisi kesenjangan dalam literatur yang ada mengenai analisis semiotika tekstil tradisional Batak. Artikel menjelaskan bentuk, fungsi dan makna dari simbol yang terdapat pada UHM serta komodofikasi budaya yang terdapat pada ulos tersebut. Komodifikasi terjadi disebabkan oleh dorongan kebutuhan industri kapitalis yang mempertanyakan tentang lokasi mendapatkan keuntungan relatif tinggi yang harus mereka peroleh (Mudana Ribek, 2017:. Komodifikasi budaya dilakukan akibat adanya sebuah hasil dari perkembangan Vol. No. Juni 2024 industri budaya (Labas & Yasmine, 2017:. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan tentang bentuk, fungsi, makna simbol serta komodifikasi yang terdapat pada UHM. METODE PENELITIAN Metode adalah cara atau jalan yang selanjutnya metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasaran atau tujuan pemecahan masalah (Subagyo, 2004:. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah metode deskriptif kualitatif untuk mengkaji analisis semiotika pada UHM. Pada hal ini, deskriptif kualitatif diartikan sebagai penelitian yang memberikan hasil berupa kalimat deskriptif dan didapat secara sistematis, (Mukhtar, 2013:. Teknik tersebut yang mengumpulkan dan menginterpretasikan data yang telah didapatkan. Sumber data penelitian merupakan sebuah subjek mengenai dari mana asal data penelitian itu didapatkan atau diperoleh (Sujarweni, 2018:. Sumber data pada penelitian ini yaitu: penelitian lapangan, di mana penulis melaksanakan penelitian ke lokasi yang bertempat di Desa Hutanagodang dan Desa Papande. Kecamatan Muara. Kabupaten Tapanuli Utara untuk mendapatkan informasi yang akurat dari informan kunci dengan data-data sekunder, di mana mendapatkan informasi dari pihak kedua yang menjadi informan penguat data dari hasil wawancara yang dilakukan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dengan metode triangulasi, yaitu . wawancara dengan informan yang merupakan ahli dalam bertenun UHM dan pihak pengembang ulos tersebut. observasi yang dilakukan pada lokasi penelitian melalui cara pengadaan kajian pada aktivitas yang telah dilakukan saat pengamatan Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA dalam pembuatan UHM. dokumentasi, pengumpulan tiap-tiap materi film atau tertulis pada penelitian ini berupa gambar-gambar objek penelitian yaitu UHM serta penenun yang dijadikan informan pada penelitian ini (Moleong, 2017:. Metode analisis data adalah proses yang dilakukan untuk mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh (Sugiyono, 2020:. Teknik analisis data yang digunakan . mengumpulkan data yang didapatkan di lapangan yaitu lokasi penelitian. melakukan identifikasi terhadap data yang didapatkan dan disesuaikan pada objek penelitian yang dalam hal ini UHM menganalisis data yang disesuaikan pada rumusan masalah yaitu mengenai bentuk, fungsi dan makna simbol serta komodifikasi yang terdapat pada UHM. membuat kesimpulan dan saran. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk. Fungsi, dan Makna Motif pada Ulos Harungguan Muara UHM merupakan ulos yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 210 sentimeter dan lebar 93 sentimeter. Warna dasar pada pembuatan UHM adalah berwarna merah dan warna hitam sebagai warna Proses pewarnaan pada UHM dapat menggunakan dua pewarna yaitu: pewarna alami dan kimia. Terdapat 2 topi . di sisi kanan dan kiri, yang berfungsi sebagai pengikat benang agar tidak terurai. Dalam pembuatan UHM, benang yang digunakan adalah benang Selain itu, terdapat 22 motif di dalam UHM. Motif-motif yang ada ini merupakan gabungan motif dari ulosulos yang terdapat pada etnik Batak. Setiap simbol pada UHM memiliki bentuk yang berbeda. UHM yang memiliki motif beragam ini menjadi sebuah keistimewaan karena motif kompleks yang menggabungkan Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan semua motif ulos etnik Batak. Fungsi UHM sendiri yaitu dibagi menjadi tiga: fungsi sakral. UHM yang hanya digunakan oleh raja-raja pada zaman dahulu karena memiliki kekuatan magis untuk melindungi dari roh jahat. fungsi sosial, yang digunakan pada kehidupan sehari-hari seperti digunakan sebagai selendang dan sarung bagi wanita serta dijadikan cinderamata atau tanda penghormatan karena didasari pada keestetikan dan keistimewaan dari UHM. fungsi ekonomis, yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dijual sebagai kerajinan tangan. UHM sebagai kain tenun khas etnik Batak Toba, tidak hanya untuk dipandang, tetapi juga kaya akan fungsi dan makna di dalamnya. Setiap motif pada UHM memiliki arti dan filosofi yang mendalam, yang menjadikannya sebuah karya seni yang penuh makna. Semiotika mempelajari mengenai tanda dan makna, dapat digunakan untuk mengurai makna di balik motif-motif yang terdapat pada UHM tersebut. Dalam semiotika. UHM dapat dilihat dari segi bentuk motif yang terdapat di dalamnya, yaitu sebagai Bentuk geometris yang beragam: Motif pada UHM terdiri dari berbagai bentuk geometris, seperti garis, segitiga, belah ketupat, dan lingkaran. Warna-warna cerah: UHM umumnya menggunakan warna-warna cerah dan berani, seperti merah, kuning, biru, dan Komposisi yang padat: Motif pada UHM tersusun dengan rapat dan tidak menyisakan ruang kosong yang berarti. Keseimbangan dan kesimetrisan: Motif pada UHM ditata dengan seimbang dan simetris, sehingga menciptakan kesan yang harmonis dan Makna yang mendalam: Setiap motif pada UHM memiliki makna yang Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Makna motif-motif UHM tersebut dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda-beda tergantung pada konteks dan budaya setempat. Semiotika dapat membantu dalam memahami makna yang lebih dalam di balik motif-motif tersebut, dan membuka wawasan tentang nilai-nilai dan filosofi yang terkandung dalam budaya Batak Toba. Selain makna yang telah disebutkan di atas, motif pada UHM juga dapat memiliki fungsi yang lebih personal bagi pemiliknya sebagai fungsi praktis dan UHM sering kali diwariskan dari generasi ke generasi, dan setiap ulos memiliki cerita dan sejarahnya sendiri. Bagi pemiliknya. UHM dapat menjadi simbol identitas, kebanggaan, dan koneksi dengan leluhur mereka. Pada semiotika yang terdiri atas ikon, indeks, dan simbol dapat mengenai UHM. Ikon dalam UHM memiliki makna mendalam dan berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya masyarakat Batak Toba. Ikon yang terdapat pada UHM, yaitu: . garis, garis pada UHM dapat melambangkan berbagai hal, seperti kehidupan, kematian, perjalanan, dan hubungan. Garis lurus melambangkan kehidupan yang panjang dan bahagia, sedangkan putus-putus Garis melambangkan perjalanan, dan garis yang saling terhubung melambangkan . warna, warna pada UHM juga memiliki makna simbolis. Warna merah melambangkan keberanian dan kekuatan, warna hitam melambangkan kematian dan duka, warna putih melambangkan kesucian dan kemurnian, dan warna kuning melambangkan kekayaan dan kemakmuran. motif, motif pada ulos Batak sangat beragam dan memiliki makna yang berbeda-beda seperti motif geometris yang melambangkan kekuatan dan Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan keteguhan dan motif garis-garis yang melambangkan keseimbangan dan Indeks semiotika pada motif UHM dapat dilihat pada cara penggunaan. Pada cara penggunaan motif UHM sendiri berhubungan dengan fungsi secara simbolis dan praktis. Fungsi yang terdapat pada motif UHM antara lain yaitu: . sebagai selendang saat manortor pada upacara adat pernikahan Batak Toba yang digunakan oleh orang tua mempelai perempuan. sebagai hadiah kepada anak yang memasuki rumah baru dan kepada seseorang yang . sebagai ikat kepala. sebagai tali-tali . kat kepal. dan selendang yang diberikan oleh orang tua anak-anaknya Simbol semiotika pada motif UHM dapat dilihat pada konteks budaya. Pada konteks budaya, motif UHM memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan masyarakat Batak Toba. Makna motif yang terdapat pada UHM antara lain, adalah: . tanda agar memperoleh rezeki dan berkat dari sang pencipta. sebagai lambang sikap patuh, rukun dan kekeluargaan termasuk dalam hal kekayaan dan kekuasaan. sebagai tanda bahwa mengikuti acara berduka dan sebagai tanda bahwa turut dalam dan . sebagai lambang yang mengartikan bahwa kehidupan manusia dengan segala makhluk hidup yang ada. Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA No. Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 1. Bentuk. Fungsi dan Makna Motif Bentuk Motif Fungsi Motif Makna Motif Motif topi sebagai pembatas Denotasi: corak ulos yang antara bagian tepi berada pada tepi ulos bagian sebagai pembatas. Konotasi: Makna topi pada UHM menjelaskan bahwa Motif ini memiliki warna putih sebagai segala sesuatu yang ada warna dasarnya dengan memiliki pada dunia ini terdapat ukuran lebar sekitar 3 sentimeter pada setiap sisi kanan dan kiri. Pada motif ini, juga terdapat garis merah dan kuning pada tepinya. Topi pada UHM adalah sebagai pembatas antara bagian tepi dengan bagian tengah. Bagian topi pada UHM terdapat pada sisi kanan dan sisi kiri. Motif simarpusoran Denotasi: corak ulos yang selendang untuk berpusat pada kepala atau acara-acara adat di tengah. Komotasi: Makna motif Motif simarpusoran merupakan motif yang terdapat pada UHM pada. Dari memperoleh rezeki dan segi bahasa simarpusoran dibagi dari berkat dari sang pencipta dua kata yaitu simar dan pusoran artinya memiliki lingkaran-lingkaran geometris sebagai motif. Motif geometris yang terdapat pada motif simarpusoran sebagai bentuk estetis dan penuh makna dari motif ini. Motif ragi ambasang Denotasi: selendang untuk seperti buah dari pohon segala jenis acara embacang. adat-istiadat Konotasi: Makna motif ragi ambasang yaitu agar Motif ini merupakan salah satu motif yang berasal dari keindahan alam Batak menjadi kuat dan berupa tumbuhan yang berada di mendapatkan berkat dari wilayah Tapanuli Utara dengan adanya Sang Pencipta tumbuhan embacang. Motif ini merupakan salah satu motif seperti motif "bunga embacang" yang dimulai dari warna putik, bunga hingga warna Motif bolean Denotasi: corak ulos yang dan bergaris hitam dan putih. juga pelengkap baju adat bagi Komotasi: Makna motif para wanita dan bolean yaitu sebagai tanda digunakan saat bahwa mengikuti acara acara dukacita. berduka dan sebagai tanda Vol. No. Juni 2024 Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Motif bolean merupakan yang berwarna biru hitam/gelap. Motif bolean terdiri dari garis-garis vertikal dan horizontal yang membentuk kotakkotak kecil. Pola dan warna yang tergantung pada keahlian dan kreativitas penenun. Seara simbolis, keindahan dan kekuasaan alam. Motif suri suri manortor pada pernikahan Batak Toba Pada motif suri suri terbentuk dari digunakan oleh unsur geometris dan membentuk corak orang yang berbentuk sisir dengan pola mempelai Motif suri suri merupakan perempuan. salah satu motif yang digunakan pada upacara adat pernikahan. Biasanya, ulos bermotif ini digunakan orang tua dari mempelai perempuan dengan tujuan sebagai pemberian berkat kepada anak perempuannya yang Motif hait masungsang Pada motif ini, terdiri dari sebuah ataupun bawah. garis-garis yang saling berpotongan dari tiga bagian di dalamya. Motif hait - sebagai ikat masungsang diberikan pada saat kepala upacara adat yang masisuharan . ituasi kaca. Pada contohnya, ada semula yang menjadi hulahula tetapi kemudian menjadi pihak parboru karena alasan pernikahan. Motif maratur sebagai hadiah kepada anak yang memasuki rumah baru dan kepada seseorang yang Motif ini memiliki arti yaitu "teratur". Motif ulos ini biasanya digunakan pada merayakan tujuh upacara adat sukacita yaitu memasuki bulan kehamilan. rumah baru. Motif ulos maratur diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru dengan tujuan sebagai bentuk apresiasi karena sudah memiliki rumah baru. Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Denotasi: corak ulos yang berbentuk sisi-sisi yang Konotasi: Makna motif suri suri yaitu diberikan mendapatkan berkat. Denotasi: corak ulos yang digunakan ketika saat keadaan yang dilakukan sedang berantakan. Konotasi: Makna motif hait masungsang yaitu sebagai tanda bahwa situasi kacau atau masisuharan telah selesai dan telah ada damai dari pihak yang Denotasi: corak ulos yang bentuknya teratur dan terdapat pada masyarakat Batak Toba di daerah Tapanuli. Konotasi: Makna motif maratur memiliki nilai sebagai lambang sikap dalam hal kekayaan dan Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Motif bola bola anduri sebagai sarung bagi wanita dan berfungsi sebagai Pada motif ini membentuk motif geometris yaitu garis-garis yang rapat antara satu dengan yang lainnya. Garis-garis ini saling membentuk sebagai simbol yang khas dan motif yang memiliki warna cerah ini menandakan motif ini pada umumnya digunakan saat upacara adat sukacita masyarakat Batak Toba. Motif pucca pansamot yang Pada motif ini membentuk geomteris . garis-garis yang membentuk belah kepada orang tua ketupat yang menyimbolkan bahwa pengantin masyarakat adat Batak Toba harus pihak laki-laki tolong-menolong kehidupan dan berlandaskan pada sistem kekerabatan yaitu Dalihan Natolu. Motif sibolang yang dierikan orang tua Motif ini memiliki corak seperti ombak kepada mempelai yang mencerminkan sebagai tantangan laki-laki. hidup yang dilewati oleh masyarakat etnik Batak Toba yang berada pada sekitar kawasan Danau Toba. Motif sibolang memliki warna biru gelap dengan pola corak runcing. Corak pada motif ini merupakan motif abstrak yang memiliki runcing yang berbentuk seperti pagar. Motif ragi hotang sebagai hadiah pengantin yang Pada motif ini terdapat unsur geometris di dalamnya. Motif ini mempunyai Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Denotasi: corak ulos yang seperti tampi. Konotasi: Makna motif bola bola anduri bagi Batak agar memiliki hidup yang cerah sesuai dengan warna motif ini. Denotasi: corak ulos yang dengan membentuk belah Konotasi: Makna motif pucca yaitu sebagai tanda bahwa pihak hulahula . engantin kepada orang tua pengantin laki-laki . telah sah menjadi saudara dekat. Denotasi: Corak ulos yang berbentuk belang pada Konotasi: Makna motif sibolang berkaitan dengan pedoman hidup etnik Batak . , . , hasangapon . Denotasi: corak ulos yang berbentuk seperti rotan dan Konotasi: Makna motif ragihotang yaitu sebagai bentuk agar memiliki ikatan batin yang kuat. Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA makna dan simbolik dari sebuah budaya kehidupan masyarakat etnik Batak Toba yaitu masyarakat petani yang memiliki mata pencaharian dari bercocok tanam. Motif ini memiliki corak yaitu seperti rotan dan berbintik. Selai itu, motif ragi hotang terdiri dari garis-garis vertikal dan diagonal yang membentuk pola segitiga. Motif pinunsaan pansamot yang digunakan orang Motif pinunsaan merupakan motif pengantin lakiyang terdapat pada UHM dan laki pada saat merupakan motif ulos yang paling upacara Motif ini terbagi dari lima pernikahan. bagian yang ditenun secara terpisah dan disatukan kembali dengan rapi hingga membentuk corak yang membuatnya menjadi seperti bentuk belah ketupat. Motif ragi singkam selendang bagi wanita dan juga dapat digunakan sebagai sarung. Motif ragi singkam merupakan motif yang terdapat pada ulos harungguan muara dan terbentuk dari garis garis panjang yang memiliki corak garis gari yang saling beriringan. Pada motif ini merupakan motif yang terinspirasi dari pohon yang besar ini memiliki makna agar kehidupan dapat hidup kuat walaupun berada dalam kesulitan dan Motif mangiring sebagai tali-tali . utup pri. dan saong . utup Motif mangiring merupakan motif yang terdapat pada UHM dan memiliki corak garis yang saling beriringan, karena secara harfiah mangiring memiliki arti saling beriringan atau Proses pengerjaan pada motif ini terbilang Motif ini hampir sama dengan motif mangiring sungsang. Dalam Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan karena pada zaman dahulu rotan menjadi tali pengikat dianggap paling kuat dan Denotasi: corak ulos yang besar dan merupakan induknya ulos. Konotasi: Makna motif pinunsaan sama seperti dengan ulos ragihidup dengan sebuah lambang yang mengartikan bahwa kehidupan manusia dengan segala makhluk hidup yang Denotasi: corak ulos yang berbentuk seperti pohon yang batangnya panjang dan besar. Konotasi: Motif ragi singkam yaitu masyarakat Batak harus memiliki walaupun sedang berada Denotasi: corak ulos yang bentuknya beriringan. Konotasi: Motif mangiring yaitu menjadi kepada anaknya dengan tujuan agar hidup anaknya terus saling beriringan. Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA penggambaran motif ini digambarkan secara abstrak dengan melihat dari bentuk yang ditemukan . Motif situtur sebagai tali-tali . kat kepal. dan selendang yang orang tua kepada Motif situtur merupakan motif yang anak-anaknya terdapat pada UHM dan dilihat dari atau cara penempatan motif hiasnya. Motif keturunannya. ini termasuk ke dalam motif dengan unsur geometris yaitu berbentuuk garis-garis. Pada motif situtur, warna yang mendominasi pada motif ini adalah merah. Motif ragihidup Denotasi: corak ulos yang menurut pada deretan garis-garis. Konotasi: Motif situtur memiliki makna yaitu menjadi tanda penghangat dari orang tua karena dapat disebut dengan parompa kepada anaknya untuk sebagai pansamot Denotasi: corak ulos yang untuk orang tua semuanya seperti hidup. pengantin lakilaki Konotasi: Makna motif ragihidup yaitu menjadi lambang bagi masyarakat Batak agar tetap hidup dan harus dapat mencapai kebahagiaan hidup. Motif ini memiliki warna dan corak yang memberi kesan bahwa motif itu Motif ini termasuk motif yang sulit dibuatnya karena terdiri dari tiga bagian, yaitu dua sisi yang ditenun sekaligus dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Bagian tengahnya terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian tengah atau badan dan dua bagian lainnya sebagai Warna dan corak pada motif ini dibuat seperti hidup. Motif runjat yang digunakan menjadi sebuah baju atau sarung Motif ini memiliki ciri khas yaitu pada atau biasa disebut jalur samping yang berwarna biru tua. dengan siabithon Garis-garis yang menandai batas antara jalur samping dan tengah adalah kompleks, dihiasi dengan pola Motif kotak-kotak dan terkadang bandul yang rumit banyak ditemukan pada benang lusi . enang yang searah dengan panjang kai. berwarna biru Motif suri suri sanggar selendang pada saat margondang . enari diiringi Bata. Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Denotasi: motif yang coraknya renggang atau tidak rapat. Konotasi: Makna motif runjat yaitu sebagai salah satu bentuk penghormatan pada acara mangupaupa dan juga pemberian oleh pengantin agar keluarga pengantin memiliki hidup yang makmur. Denotasi: corak ulos yang berbentuk sisi-sisi dengan Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Motif suri suri sanggar merupakan motif yang terdapat pada UHM dan merupakan motif yang memiliki derajat yang tinggi. Motif suri suri sanggar juga termasuk ke dalam motif Motif ini memiliki perbedaan dengan motif yang lainnya, yaitu terlihat pada panjang garis yang lebih panjang dibandingkan dengan motif lainnya. Motif gatip gatip sebagai pengikat kepala dan juga dapat diletakkan sebagai penutup bagian tubuh atas. Motif gatip gatip merupakan motif yang terdapat pada UHM dan motif yang terdapat pada UHM. Motif ini pada ulos gatip gatip memiliki fungsi sebagai pengikat kepala dan juga dapat diletakkan sebagai penutup bagian tubuh atas. Motif sibolang maranak - sebagai pakaian Motif sibolang maranak merupakan motif yang terdapat pada UHM dan - sebagai ikat terdiri dari beberapa garis-garis lurus kepala yang saling beriringan. Pada motif ini biasanya digunakan pada upacara adat dukacita tapi juga dapat juga pada saat Saat upacara pernikahan, orang tua pengantin perempuan akan memberikan ulos ini ke ayah pengantin pria sebagai bentuk penghormatan. Motif maratur toba sebagai hadiah yang diberikan oleh orang tua pihak perempuan Motif maratur toba merupakan motif perempuannya. yang terdapat pada UHM dan hampir sama dengan motif maratur yaitu zigzag mirip gelombang nadi . Motif Maratur Toba pada ulos maratur toba berfungsi sebagai perantara sukacita atau berita gembira yang diberikan kepada orang-orang tertentu yang mendapatkan berkat dan rezeki agar semua orang yang di sekitarnya dapat turut merasakan Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Konotasi: Motif suri suri sanggar memiliki makna agar si penerima dapat panjang untuk umur dan juga berkat terus mengalir di dalam kehidupannya. Denotasi: corak ulos yang ikatan yang kuat. Konotasi: Makna motif gatip gatip yaitu sebagai proses hamalimon atau hadatuon yang berarti agama kepercayaan yang ada berkaitan dengan hal Denotasi: berbentuk belang dan memiliki corak yang kecil Konotasi: Makna motif sibolang maranak yaitu sebagai tanda jasa seorang Denotasi: corak motif yang berbentuk teratur pada etnik Batak Toba yang terdapat pada daerah Toba. Konotasi: Makna motif maratur toba yaitu sebagai tanda mendapatkan berkat dan rezeki agar semua orang yang di sekitarnya dapat turut merasakan Kompetensi Universitas Balikpapan Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA Motif sitolu tuho Motif sitolu tuho merupakan motif yang terdapat pada UHM dan bentuk garis-garis vertikal dan horizontal yang pola-pola seperti tangga. Motif sitolu tuho merupakan motif yang memiliki corak gorga di dalamnya. Dari segi bahasanya, tolu tuho dibagi menjadi dua kata tolu yang berarti tiga dan tuho yang berarti cabang. ikat Denotasi: corak ulos yang atau terdapat tiga yang menjadi bagi tanda perbatasan. Konotasi: Makna motif sitolu tuho pada jika diberikan kepada seorang anak yang baru lahir untuk dijadikan parompa. Selain itu, sebagai panoropi yang diberikan hula-hula kepada Sebutan sitolu tuho karena memiliki corak jumlah tiga. Dari tabel 1 di atas ditemukan motif yang terdapat pada Ulos Harungguan Muara yang berjumlah 22 motif. Motif-motif yang tergabung ke dalam satu ulos ini merupakan jenis-jenis ulos yang terdapat dalam masyarakat Batak Toba. Motif tersebut menggambarkan bahwa dalam Ulos Harungguan Muara merupakan istilah yaitu "berkumpulnya seluruh jenis motif. Dalam hal ini, fungsi dan makna yang terdapat dalam motif UHM mengikuti dari jenis ulos itu sendiri. Dari masing-masing motif, terdapat fungsi yang menyerupai dengan motif yang lainnya seperti: sebagai pengikat kepala dan sebagai hadiah atau cinderamata, yang terdapat pada motif simarpusoran, ragai ambasang, bolean, suri-suri, hait masungsang, maratur, ragi hotang, maratur toba dan sitolu tuho. Selain itu, makna yang terdapat pada setiap motif, merupakan makna sosial yang berkaitan dengan proses ataupun hasil dari aktivitas sosial yang terjadi pada masyarakat Batak Toba. Makna ini dilihat juga dari penamaan dari masing-masing motif, seperti: motif ragihotang yang secara harfiah ragi adalah "corak" dan hotang adalah "rotan", yang bermakna sebagai bentuk agar memiliki ikatan batin yang kuat seperti rotan. Selain itu, pada motif ragi hidup yang bermakna menjadi lambang bagi masyarakat Batak agar tetap hidup dan harus dapat mencapai kebahagiaan hidup. Komodifikasi Ulos Harungguan Muara Komodifikasi Fungsi Penggunaan Ulos Harungguan Muara UHM menjadi kain tenun yang kebudayaan masyarakat etnik Batak Toba yang saat ini sudah mengalami perubahan fungsi dan penggunaan berkaitan dengan ritual ataupun tata cara UHM secara sederhana meletakkannya di pundak dan dililit di Penggunaan itu berkaitan dengan fungsi UHM itu sendiri pada upacara adat yang dilaksanakan. Tetapi pada Vol. No. Juni 2024 proses perkembangannya fungsi dan penggunaan ulos berubah menyesuaikan dengan keadaan zaman. UHM yang awalnya dibuat dengan menggunakan alat tenun tradisional, saat ini telah menggunakan alat tenun modern dengan mempergunakan pola sesuai dengan pola UHM yang akan ditenun, selain itu fungsi ulos juga berubah sejalan dengan penggunaannya di mana ulos dahulu disesuaikan dengan kondisi ritual, dapat sukacita dan Akan tetapi, sekarang ini telah berubah dengan tidak mengikut pada kondisi ritual serta penggunaan ulos yang disesuaikan dengan gaya masa kini Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA dan keinginan pemakai dalam konteks Seiring berkembangnya zaman, peran dan fungsi UHM yang pada zaman dahulu dikenakan oleh para raja sebagai pakaian sehari-hari. Komodifikasi pada UHM yang dilakukan oleh masyarakat Batak menjadi sebuah pengerjaan yang digabungkan dengan hiasan lainnya yang tidak lagi menjadi murni tenunan. Kompetensi Universitas Balikpapan UHM yang telah komodifikasi akan lebih menarik karena akan mendapatkan nilai jual sehingga dapat menjadi pemasukan ekonomi bagi penenun ulos tersebut. Selain itu, menjadi kekayaan budaya Batak Toba agar dapat diperkenalkan bagi generasi muda saat ini. Berikut ini komodifikasi fungsi dan penggunaan pada UHM: Tabel 2. Komodifikasi Fungsi dan Penggunaan Ulos Harungguan Muara Fungsi Komodifikasi Pembuatan Penggunaan Pembuatan Penggunaan Pewarnan Menggunakan - Upacara adat Menggunakan Untuk wanita, pada Menggunakan alat tenun etnik Batak alat tenun umumnya menjadi pewarnaan Toba baik selendang, sarung. alami dan (ATBM) dan yang sukacita (ATBM) dan Untuk pria, pada dikerjakan oleh juga alat tenun umumnya menjadi beberapa orang modern . kemeja, jas. rumah baru, seorang anak. - Upacara adat Komodifikasi Fungsi dan Bentuk Ulos Harungguan Muara Perubahan fungsi dan bentuk UHM yang terjadi pada saat ini adalah bentuk perubahan yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini dengan tetap berada di jalur pelestarian kain tenun tradisional masyarakat etnik Batak Toba. Komodifikasi UHM merupakan sebuah pengerjaan yang digabungkan dengan hiasan lainnya yang tidak lagi menjadi murni tenunan. UHM yang sudah dikomodifikasi dipercaya menjadi akan lebih menarik karena akan mendapatkan nilai jual sehingga dapat menjadi pemasukan ekonomi bagi penenun ulos tersebut. Selain itu, menjadi kekayaan budaya Batak Toba agar dapat diperkenalkan bagi generasi muda saat ini. Proses komodifikasi Vol. No. Juni 2024 fungsi dan bentuk dibagi menjadi dua . komodifikasi UHM secara internal, proses komodifikasi terhadap kain tenun UHM secara internal merupakan proses UHM masyarakat etnik Batak Toba. Pada umumnya, masyarakat etnik Batak Toba memandang proses komodifikasi UHM telah terbagi menjadi dua, yaitu: golongan yang mendukung dan golongan yang menolak. komodifikasi UHM secara eksternal, proses komodifikasi UHM secara eksternal merupakan sebuah usaha dalam mendorong UHM menjadi kain bernilai dalam kehidupan secara luas dengan tidak hanya berupa selembar kain saja, melainkan mengembangkan setiap kemungkinan yang terdapat pada Kompetensi Universitas Balikpapan Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA usaha komodifikasi UHM tersebut. Komodifikasi UHM secara eksternal pengembangan untuk tahap yang berikutnya, seperti penggunaan UHM pada beberapa bentuk yang dapat dijadikan kain sarung, tas wanita, kemeja, jas dan yang lainnya. Gambar 1. Komodifikasi Ulos Harungguan Muara secara Eksternal Sumber: Hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2023 Keterangan gambar: . pembuatan tas menggunakan motif sibolang, . pembuatan masker dengan motif gatip gatip. pembuatan hande-hande . dengan motif simarpusoran KESIMPULAN Etnik Batak dianggap sebagai etnik yang lekat pada kebudayaannya dan memiliki ciri yang khas. Salah satu contohnya yaitu kain ulos yang terdapat pada etnik Batak Toba. Setiap ulos dapat memberikan pesan yang berbeda lewat simbol dan bergantung pada macam dan tujuan pembuatannya. Simbol yang terdapat pada ulos dapat diperhatikan pada motif, model serta warna ulos saat bertenun . Ulos Harungguan Muara merupakan ulos pada etnik Batak Toba dengan memiliki 22 simbol motif di Selain itu, terdapat fungsi UHM yang dibagi ke dalam dua fungsi, yakni: . fungsi praktis yang mencakup sebagai pakaian seperti selendang dan ikat kepala. fungsi simbolis, yang mencakup pada status sosial dari masyarakat . ada zaman dahulu dikenakan oleh raja-raj. , simbol identitas budaya pada kehidupan masyarakat Batak Toba. Makna yang terdapat pada UHM melihat pada makna dari segi pemakaian dan warna dasarnya. Vol. No. Juni 2024 Selain itu, komodifikasi yang terdapat pada UHM antara lain adalah: komodifikasi fungsi dan bentuk yang meliputi komodifikasi UHM secara internal dan komodifikasi UHM secara eksternal. Dalam proses komodifikasi pada UHM, perlu adanya dukungan dari pihak-pihak terkait seperti: pemerintah daerah, penggiat budaya Batak dan eksistensi UHM agar dapat menambah nilai jual dan mendapatkan keuntungan secara ekonomis bagi masyarakat. Selain itu, perlu adanya sosialisasi atau pembelajaran khususnya bagi generasi muda agar mengetahui cara pembuatan UHM itu sendiri dan lebih menghargai keberadaan UHM. Bagi peneliti selanjutnya yang akan membahas mengenai UHM diharapkan agar lebih memperhatikan keaslian dari ulos dikarenakan telah adanya proses komodifikasi yang dilakukan dan komodifikasi yaitu perubahan pada nilai jual dari UHM itu sendiri. Nehemia Anugrah ParasianA. Jekmen SinulinggaA. Warisman SinagaA DAFTAR PUSTAKA