Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Analisis Konflik Intrapersonal dan Konflik Interpersonal pada Wargabinaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Fakultas Humaniora dan Ilmu Pendidikan. Universitas Katolik Musi Charitas Email korespondensi: ongko@ukmc. Received: KEYWORDS Lembaga pemasyrakatan Narapidana Hubungan intrapersonal Hubungan Intrapersonal Revised: Accepted: ABSTRACT Lembaga pemasyrakatan memiliki misi untuk memberikan pembinaan karakter dan kemandirian kepada narapidana agar mereka mampu beradaptasi di lingkungan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan masalah interpersonal dan intrapersonal dalam konteks pembinaan bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan kelas II A. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan hubungan masalah melalui tes psikologi Sack Senteces Completion Test (SSCT). Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan kriteria mampu baca tulis, minimal lulusan SMP, dan mampu berpartisipasi sampai akhir pelaksanaan sebanyak 131 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar narapidana . ,4%) memiliki hubungan bermasalah dengan figur ayah, namun 62,6% memiliki hubungan baik dengan figur ibu. Dalam hubungan interpersonal antarsesama perempuan, mayoritas narapidana . ,6%) mengaku tidak masalah dengan figure perempuan lain dan sebanyak 63,4% tidak memiliki hubungan masalah dengan lawan jenis. Sebanyak 99,3% pesera memiliki konflik penyesalan diri dan 40,5% memiliki keyakinan baik terhadap kemampuan diri. Sebanyak 53,7% narapidana memiliki pandangan negatif mengenai masa depan, 79,4% memiliki harapan masa depan. Berdasarkan kondisi tersebut, intervensi dapat dilakukan untuk pengembangan diri melalui program dukungan sosial melalui kegiatan konseling. Pendahuluan Lembaga pemasyarakatan . merupakan sistem pembinaan terhadap pelanggar hukum dan tempat keadilan untuk mengisolasi pelanggar hukum. Konsep sistem pemasyarakatan awalnya dilakukan agar pelanggar hukum untuk pertanggung jawabannya terhadap kesalahannya, harapannya timbul efek jera dengan tidak mengulang perbuatan tersebut (Mahatya, et al. , 2. Perubahan UU no. 12 tahun 1995 menganut konsep pemasyarakatan sebagai pembalasan dan penjeraan berubah menjadi UU no. 22 tahun2022 menganut konsep reintagrasi sosial. Perubahan undang-undang pemasyarakatan berimplikasi pada gaya pendekatan lebih humanis, efektif, perubahan perilaku dan persiapan untuk kembali ke masyarakat . Temuan menunjukkan perubahan UU no. 20 tahun 2022 memiliki perubahan positif pada warga binaan seperti merasa diperhatikan oleh pemerintah khususnya terhadap narapidana narkoba, memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik dan pembinaan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan persiapan keluar dari penjara (Yustian et al. , 2. Sistem pemasyarakatan merupakan tatanan untuk mengenalkan arah dan batasan pada pelanggar untuk meningkatkan kualitas hidupnya, mereka mampu menyadari kesalahan, memperbaiki diri, tidak mengulangi dan berperan menjadi warga negara yang produktif. Lapas merupakan tempat pembinaan yang mempersiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat (Hamzah, 2. Perubahan dari tujuan lapas diharapkan dapat membuat relasi yang lebih humanis, saling menghargai sehingga terjadinya perubahan positif kepribadian. Konsep pemasyarakatan bertujuan untuk melakukan pembinaan kemandirian dan kepribadian yang lebih baik pada warga binaan namun ada berbagai tantangan dalam proses pengembangan baik dalam bentuk sarana, sumberdaya manusia dan dana pengembangan (Jumarni, 2. Tantangan berhubungan dengan sumber daya manusia meliputi: . kurangnya tenaga ahli seperti psikolog dan psikiater, pendakwah dan instruktur yang melatih kegiatanv lokasi di balai latihan kerja. kualitas pegawai lapas yang kurang baik dalam segi jumlah atau kualitas kerja. wargabinaan yang belum memahami tujuan pembinaan dan merasa terpaksa mengikuti, sehingga hasil pembinaan kurang efektif. hambatan dari masyarakat yang mempersulit mereka untuk melakukan penyesuaian diri di lingkungan sosial (Rahmat et al. , 2. Kesehatan mental bagi masyarakat lapas penting untuk meningkatkan penilaian hidup dan menyesuaikan diri dengan baik (Syahfitri & Putra, 2. Kesehatan mental dapat meningkatkan standar kualitas hidup warga binaan sehingga memudahkan perawatan yang diperlukan dan intervensi yang tepat (Putri et al. , 2. P Para wargabinaan memiliki konflik intrapersonal dan interpersonal yang membuatnya mengalami frustasi sehingga memilih jalan inovasi melanggar dengan cara mencuri atau menjual narkoba untuk menacapai tujuannya. Oleh karena itu diperlukan alat ukur untuk mengungkap kondisi diri dan relasi interpersonal dengan orang terdekat dalam lingkungan sosialnya agar dapat menentukan gambaran kondisi konflik dalam diri. Upaya untuk melakukan screening kondsi warga binaan dapat menggunakan tes Sack Senteces Completion Test (SSCT). Sack Sentences Completion Test merupakan tesproyektif bersifat verbal untuk mengungkap hubungan interpersonal dan intrapersonal individu. Di dalam tes SSCT melihat relasi individu terhadap peran ayah, ibu, atasan, rekan, hubungan laki-laki dan sesama jenis kelamin serta kondisi diri seperti ketakutan, harapan, masa depan dan pandangan masa lalu(Kohli et al. , 2. Temuan sebelumnya menunjukkan tes SSCT dapat dijadikan salah satu bagian dari asesmen untuk rekstrukturasi kognitif pada narapidana(Ariestiria, 2. Tes SSCT merupakan tes proyeksi untuk mengungkap kondisi diri melalui stimulus yang dianggap aman (Nastiti, 2. Dalam tes ini individu akan diberikan kalimat yang belum selesai, dijawab secara spontan mengenai kondisi diri dan orang terdekat. Adanya tes ini dapat dijadikan metode screening untuk melihat dampak konflik interpersonal dan persepsinya terhadap orang terdekatnya. Tes ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan kepribadian dan sarana konseling agar warga binaan dapat adaptif dengan relasi sekitarnya. Beberapa temuan penelitian menunjukkan tes ini dapat melihat gambaran konfik antara orangtua dan anak(Nasution & Sari, 2. dan gambaran persepsi pengasuhan yang Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 diberikan orangtua yang melakukan penelantaran((Azizah, 2. Indikator dari kesehatan mental meliputi seberapa baik kemampuan berelasi yang nyaman dan perasaan merasa berharga sehingga mampu melakukan kegiatan yang produktif (Aziz et al. , 2. Berdasarkan permasalahan yang disebutkan dalam latarbelakang, peneliti tertarik untuk mengeksplorasi mengenai gambaran hubungan interpersonal dan intrapersonal pada warga binaan lembaga pemasyarakatan perempuan II A di kota Palembang. Metodologi Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi secara objektif menggunakan angka dan melakukan penafsiran dari Analisa yang digunakan adalah analisa deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran suatu fenomena atau keadaan. Pengukuran menggunakan alat tes Sack Senteces Completion Test (SSCT) merupakan alat tes proyektif verbal berisi kata-kata yang kurang lengkap, peserta diminta untuk melengkapi kalimat yang belum selesai. Menurut Nastiti, . SSCT bertujuan untuk melihat gambaran persepsi relasi intrapersonal meliputi persepsi mengenai keluarga . ersepsi peran ayah, peran ibu, peran dalam keluarg. , persepsi terhadap relasi sosial . ersepsi relasi dengan atasan, relasi dengan bawahan, relasi dengan rekan sejawa. , persepsi mengenai hubungan laki-laki dan perempuan . ersepsi terhadap peran perempuan, persepsi terhadap pasangan, dan hubungan romanti. Penyajian tes dan skoring alat tes dilakukan oleh mahasiswa dengan pengawasan dari psikolog sesuai dengan aturan dan kode etik dari Himpunan Psikologi (HIMPSI). Interpretasi hasil data dilakukan oleh psikolog yang bertugas. Hasil dan Pembahasan Demografi peserta Tabel 1 Hasil demografi peserta Usia Frekuensi Persentase 51 tahun keatas 24,4% 4,6% Status Pernikahan Belum menikah Menikah Cerai Lainnya 14,5% 51,9% 32,1% 1,5% Pendidikan SMP SMA/SMK D3/S1 4,6% 38,9% 48,9% 7,6% Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Ada 131 peserta yang mengikuti kegiatan ini. Berdasarkan hasil demografi menunjukkan peserta cukup beragam dan merata berdasarkan kelompok usia. Kelompok usia cukup merata, kelompok usia terbanyak berasal dari usia 33-40 tahun yang terdiri dari 38 peserta. %), usia 41-50 tahun sebanyak 34 . %), usia 26-32 tahun terdiri dari 32 orang . ,4%), kelompok usia 18-25 tahun ada 21 orang . %), peserta yang paling sedikit berasal dari kelompok usia 51 tahun keatas yang terdiri dari 6 orang . ,6%). Status pernikahan menunjukkan mayoritas peserta berstatus menikah dengan persentase 9%, status bercerai 32. 1%, belum menikah sebanyak 14,5% dan sisanya tidak menjawab status pernikahannya sebanyaknya 6 orang . ,5%). Berdasarkan pendidikan, mayoritas peserta berasal dari lulusan SMA/SMK sebanyak 64 orang . ,9%), tamatan SMP sebanyak 51 orang . ,9%), lulusan D3/S1 sebanyak 10 orang . ,6%) dan sisanya lulusan SD sebanyak 4,6%. Data ini menunjukkan jumlah peserta yang lulus wajib pendidikan cukup banyak yaitu sekitar 56,5% dari sampel yang diteliti. Persepsi peserta terhadap orangtua Tabel 2 hasil persepsi terhadap peran orang tua Persepsi terhadap orangtua Frekuensi Persentase Persepsi terhadap ayah Relasi normal Relasi sedikit bermasalah Relasi berkonflik tinggi 43,5% 38,9% 17,6% Persepsi terhadap ibu Relasi normal Relasi sedikit bermasalah Relasi berkonflik tinggi 82,4% 12,2% 3,3% Berdasarkan hasil pemeriksaan mayoritas peserta sebanyak 56,5% memiliki relasi yang bermasalah dan konflik dengan ayah. Mayoritas peserta menyebutkan kurang banyak waktu berinteraksi dengan ayah karena ayah sibuk bekerja atau memang kepribadian ayah pendiam. Meski sebanyak 56,5% responden mengganggap peran figur ayah kurang baik, namun mayoritas peserta mengharapkan agar ayah bersedia menerima kondisinya, menerima keadaannya, menasehati dan memberikan arahan padanya. Ada 43,5% responden yang mengaku memiliki relasi dan peran figur ayah dianggap baik dan cukup adekuat. Sebanyak 82,4% mempersepsikan peran ibu baik, ibu sebagai figur yang rela berjuang, berharga dan menerima anaknya apa adanya. Sebanyak 12,2% responden memiliki relasi sedikit bermasalah dengan peran ibu. Ibu digambarkan sebagai figur yang kurang cocok dengannya dan sering terlibat pertengkaran. Ada 3,3% peserta yang mengaku memiliki relasi konflik tinggi pada peran ibu. Ibu dipersepsikan sebagai Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 figuryang kurang baik, tidak memperhatikannya dan bersikap adil terhadap dirinya dan Persepsi terhadap relasi hubungan dan sesama perempuan Tabel 3 hasil persepsi relasi interpersonal Persepsi terhadap rekan Persepsi terhadap perempuan Persepsi normal Adanya persepsi negatif Adanya prasangka dan relasi buruk Frekuensi Persentase 62,6% 8,4% Persepsi Relasi normal Ada masalah membangun relasi dengan lawan 8 Ada masalah dan konflik relasi yang berat dengan lawan jenis 63,4% 29,8% 6,1% Dalam membangun relasi dengan lawan jenis sebanyak 62,6% mengaku tidak ada masalah dan normal dalam membangun hubungan dengan sesama perempuan. Persepsi negatif terhadap perempuan 29% dan prasangka negatif serta relasi buruk pada perempuan sebanyak 8,4%. Persepsi negatif dan prasangka negatif terdiri dari pandangan perempuan sebagai figur penggoda, nakal, munafik dan tidak patuh pada orangtua. Tes SSCT merupakan tes proyektif untuk mengungkap motif, nilai, keaadan emosi, kebutuhan yang sulit disampaikan dalam situasi kesehariannya(Merida et al. , 2. Gambaran pernyataan mengenai figur perempuan yang dianggap buruk dapat berupa hasil dari pandangan diri mengenai dirinya atau pengalaman masa lalu. Pada relasi dengan lawan jenis sebanyak 63,4% mengaku tidak memiliki masalah, 29,8% memiliki masalah dengan lawan jenis dan 6,1% memiliki konflik berat dengan lawan jenis. Konflik dengan hubungan heteroseksual terjadi pada suami, mantan suami atau pacar. Tema konflik yang diungkapkan adalah perasaan kecewa mengenal pasangan, menyesal telah salah memilih pasangan dan menyalahkan pasangan. Sisanya mengalami ketidakmampuan dengan berelasi dengan lawan jenis dan adanya ketakutan membangun hubungan romantis dengan lawan jenis. Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Relasi interpersonal teman, rekan kerja dan atasan Tabel 4 Persepsi terhadap teman, rekan kerja dan atasan Persepsi terhadap teman Frekuensi Normal Rentan berkonflik Bermasalahan dan berkonflik Persepsi terhadap rekan kerja Normal Rentan berkonflik Bermasalah dan berkonflik Persepsi terhadap atasan Normal Rentan berkonflik Bermasalah dan berkonflik Persentase 67,9% 29,0% 3,1% 94,7% 3,1% 2,3% Relasi interpersonal pada teman menunjukkan sebanyak89 warga binaan . ,9%) tidak memiliki masalah dalam menjalin pertemanan. Ada 38 . %) memiliki kerentanan untuk berkonflik dan 4 . ,1%) memiliki relasi bermasalah dan konflik. Tema konflik yang sering terjadi berhubungan dengan penghianatan, tidak suka teman yang menjelekjelekkan, dan pengalaman buruk diadudomba. Pada relasi interpersonal dengan rekan kerja semua respoden mengaku tidak ada masalah dalam menjalin relasi dengan teman Hal ini menunjukkan wargabinaan bisa melakukan kerjasama dengan oranglain. Pada relasi dengan atasan, responden memandang atasan itu adalah petugas sipir, bosnya terdahulu atau orangtua. Sebanyak 124 warga binaan . ,7%) memiliki persepsi baik dengan atasannya, dan 5,4% memiliki masalah terhadap relasi dengan atasan. Tema konflik yang diungkap dengan atasan adalah perasaan ketidakadilan, mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Konflik dalam diri Tabel 5 hasil persepsi konflik dalam diri Persepsi terhadap rasa Normal Adanya rasa bersalah Adanya penyesalan dan rasa bersalah tinggi Persepsi kemampuan diri Normal Persepsi negatif kemampuan diri Frekuensi Persentase 0,8% 40,5% 58,8% 59,5% 35,9% 4,6% Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Persepsi sangat negatif dan tidak Mayoritas peserta sebanyak 130 peserta . %) mengalami konflik dalam diri mengenai perasaan bersalah. Perasaan bersalah disebabkan ia masuk penjara dan membuatnya harus terpisah dengan keluarga, teman, pasangan dan anak. Sebanyak 77 peserta . ,8%) mengalami perasaan penyesalan dan rasa bersalah tinggi karena sudah memalukan orangtua dan terpisah dengan anak sehingga tidak bisa mengasuh anaknya. Ada 53 peserta . ,5%) merasa bersalah karena membuat kecewa atau menyulitkan Hanya 1 . ,8%) peserta yang mengaku tidak mengalami perasaan bersalah karena merasa ia dijebak untuk masuk penjara. Pada kemampuan diri, sebanyak 78 orang . ,5%) memiliki pandangan positif terhadap kemampuan diri untuk bisa bebas, sukses, mampu menafkahi keluarga dan bertemu dengan keluarganya. Sebanyak 47 peserta. ,9%) mengaku memiliki pandangan negatif mengenai diri seperti merasa takut tidak diterima oleh lingkungannya ketika bebas. Sisanya sebanyak 6 peserta . ,6%) memiliki pandangan negatif mengenai diri dan ketidakberdayaan seperti merasa diri tidak berharga, tidak ada kemampuan diri untuk Persepsi terhadap masa depan dan harapan Tabel 6 persepsi terhadap masa depan dan harapan Persepsi terhadap cita-cita Normal . unya harapan dan tujua. Kondisi bingung dengan tujuan Pandangan negatif mengenai diri dan Persepsi masa depan Normal . andangan optimis masa depa. Persepsi negatif mengenai masa depan Persepsi sangat negatif mengenai masa depan Frekuensi Persentase 79,4% 17,6% 3,1% 47,3% 27,5% 25,2% Berdasarkan hasil pemeriksaan menunjukkan mayoritas peserta memiliki pandangan positif mengenai harapan dan tujuan sebanyak 104 orang . ,4%) dan 69 orang . ,7%) memiliki pandangan negatif mengenai masa depannya. Hal ini menunjukkan mayoritas peserta memiliki tujuan untuk keluar dari lapas seperti bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarga dan menafkahi keluarga, namun mereka mengalami pandangan negatif di masa depan karena takut akan stigma ataupun Pembahasan Dari hasil penelitian ditemukan mayoritas peserta 56,5% . orang ) memiliki permasalahan dengan relasi ayah, sebanyak 17,6% . memiliki relasi yang buruk dengan ayah. Relasi buruk dari ayah dipersepsikan oleh mayoritas narapidana Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 karena ayah tak peduli, tidak terlibat dalam kehidupannya, dan bersikap abai. Pada relasi buruk dengan ayah, persepsi buruk pada peran ayah karena ayah melakukan tindakan kekerasan, tidak menjadi figur baik seperti berselingkuh atau pemabuk. Temuan yang menarik meski memiliki persepsi buruk terhadap peran ayah, warga binaan memiliki harapan agar ayah dapat bersikap baik. Kondisi ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas warga binaan kehilangan peran ayah dalam pengasuhan atau disebut juga fatherless. Penelitian menunjukkan dampak fatherless memiliki kondisi finansial yang kekurangan dan hambatan secara emosional, hambatan dalam pengambilan keputusan dan kecenderungan untuk menormalkan perilaku eksploitasi yang dilakukan oleh orang lain (Brown, 2. Mayoritas warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan II A merupakan tahanan karena kejahatan penjualan dan penggunaan obat-obatan terlarang . Temuan dari hasil SSCT menunjukkan penyebab warga binaan menjual narkoba adalah untuk memenuhi biaya hidup, sumber penghasilan yang besar dan mudah, gaya hidup dan dijebak oleh rekan. Dampak fatherless adalah kontrol diri yang rendah(Yuliana et al. , 2. Hal ini berdampak kemampuan dalam pembentukkan keputusan cenderung menggunakan cara berpikir instan tanpa mempertimbangkan risiko. Individu yang mengalami fatherless sepanjang hidupnya berisiko memiliki masalah sosial emosional dan keterampilan diri yang kurang, kondisi menyebabkan pencapaian pendidikan, pembentukan keluarga dan kemampuan untuk masuk dalam dunia kerja rendah(Castetter, 2. Mayoritas warga binaan memiliki pandangan yang baik mengenai peran ibu. Ada 15,5% . yang memiliki relasi yang bermasalah dengan figure ibu. Anak yang diasuh ibu tunggal cenderung diasuh dengan pola asuh pengendalian sehingga meningkatkan adanya gejala depresi, inferior dan stress terhadap tuntutan hidup terutama ibu dari sosial ekonomi rendah (Daryanai et al. , 2. Risiko pengasuhan ibu tunggal memiliki kualitas hidup yang rendah terutama ibu yang memiliki pendidikan dan penghasilan yang rendah(Kim & Kim, 2. Dalam budaya Indonesia, pengasuhan lebih di titik beratkan pada ibu terutama pada keluarga tradisional. Hal ini dikarenakan ibu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan anak, sehingga pendisiplinan dan pengasuhan lebih dibebankan pada ibu (Hallers-Haalboom et al. Pengasuhan yang hanya dilakukan oleh ibu saja tanpa keterlibatan kuat dari peran ayah menimbulkan beban pengasuhan ibu lebih sehingga berdampak pada hambatan perkembangan anak. Figur orangtua baik ayah atau ibu harus seimbang pada diri individu, sehingga individu mampu merefleksikan diri untuk berperan di lingkungan sosialnya. Ketika terjadinya salah satu peran hilang dan menyebabkan beban pengasuhan tinggi pada figur ibu tanpa diimbangi kompetensi berpotensi menyebabkan pengasuhan yang Keberfungsian keluarga dan konflik pernikahan memiliki pengaruh terhadap gaya pengasuhan dan perilaku kekerasan terhadap anak (Abbaspour et al. , 2. Kondisi sosial ekonomi dan beban pengasuhan yang berlebihan berdampak pada pengasuhan yang cenderung mengabaikan(Roskam et al. , 2. Penelitian ini Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 menunjukkan mayoritas warga binaan mengaku memiliki relasi buruk dengan ayah namun relasi baik dengan ibu, maka dapat disimpulkan terdapat relasi yang tidak imbang pada peranan orangtua. Ketidakseimbangan peranan orangtua berdampak pada pengasuhan buruk berakibat dengan masalah perilaku. Warga binaan mengaku tidak memiliki masalah dalam relasi interpersonalnya, mayoritas warga binaan memiliki persepsi yang baik dalam hubungan dengan sesama perempuan dan hubungan lawan jenis. Ada 37,4%. memiliki persepsi negatif dengan perempuan dan 35,9% . memiliki persepsi negatif dengan relasi lawan Persepsi negatif dalam hubungan interpersonal berdampak pada kesulitan menjalin relasi interpersonal di lingkungannya. Persepsi negatif terhadap figur perempuan merupakan bentuk proyeksi dari pengalaman masa laluberupa pandangan diri sebagai perempuan ataupunpenilaian oranglain terhadap figur perempuan. Masalah intrapersonal paling banyak terjadi pada warga binaan terutama pandangan rasa bersalah diri. Ada 99,3% . warga binaan memiliki rasa bersalah yang tinggi karena kekecewaan terhadap kehidupan, penyesalan sudah melanggar hukum. Sebanyak 59,5% . memiliki persepsi yang cukup baik terhadap kemampuan dirinya. Ada sekitar 40,5% . memiliki persepsi negative mengenai kemampuan diri. Pesepsi terhadap masa dan cita-cita cukup baik, mayoritas warga binaan memiliki tujuan dan optimisme terhadap kondisinya. Hal ini dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan intervensi pengembangan kepribadian agar warga binaan memiliki motivasi untuk menjadi lebih baik. Sebanyak 79,4% responden mengaku memiliki cita-citadan tujuan untuk keluar serta sebanyak 52,7% memiliki pandangan negatif mengenai masa depannya. Ketimpangan ini disebabkan adanya ketakutan mendapatkan stigma ataupenolakan di masyarakat karena pernah terlibat dalam kasus kriminal. Ketakutan paling banyak disebutkan adalah kesulitan mencari pekerjaan, mendapatkan kepercayaan orang lain atau diterima oleh teman-temannya seperti dulu. Dalam relasi interpersonal dengan rekan kerja, atasan dan teman menunjukkan mayoritas warga binaan mampu memiliki relasi yang baik untuk bekerjasama mengerjakan suatu tugas. Hal ini menjadi kelebihan yang perlu dipertahankan dalam rangka meningkatkan dukungan sosial. Cara dan perlakuan lembaga pemasyarakatan memiliki dampak positif terhadap perubahan perilaku dan optimis wargabinaan (Cid et al. , 2. Peserta yang memiliki pandangan negatif mengenai masa depannya dapat dikuatkan kembali sehingga mereka memiliki tujuan hidup. Riset terdahulu menunjukkan hal yang dapat memberikan perubahan positif pada warga binaan selain perlakuan lembaga masyarakat adalah dukungan sosial. Dukungan sosial dari keluarga atau dari kegiatan relawan dapat mengurangi kembalinya perilaku warga binaan ke lembaga pemasyarakatan (Kjellstrand et al. , 2. Mayoritas responden memiliki figur ayah yang buruk dan memiliki persepsi baik pada figur ibu. Ada baiknya jika lembaga pemasyarakatan memiliki program reunifikasi untuk Ongko Handoko. Herlina Wutari Lumban Toruan Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 mempertemukan secara berkala orangtua atau keluarga dekat untuk menciptakan harapan positif. Tantangan lainnya adalah tidak semua warga binaan bisa mendapatkan dukungan sosial menguatkan dari keluarga(Solbakken & Wynn, 2. Beberapa alasan seperti jarak yang jauh, stigma buruk dari keluarga ataupun ditinggalkan keluarga terjadi pada warga binaan. Kegiatan lainnya yang dapat disarankan untuk meningkatkan kesehatan mental wargabinaan melalui relasi interpersonal adalah menguatkan dukungan sosial dari komunitas baik internal ataupun eksternal. Temuan penelitian sebelumnya menunjukkan kegiatan kerelawanan dapat meningkatkan dukungan sosial sehingga menciptakan harapan dan memperbaiki kondisi diri wargabinaan (Kjellstrand et al. , 2. Temuan penelitian ini menunjukkan mayoritas warga binaan mampu berelasipositif dengan sesama rekan kerja, teman dan Artinya, mereka mampu diberi arahan dengan rekanandalam suatu komunitas. Kondisi ini dapat dimanfaatka ndengan adanya membangun dukungan sosial kerelawanan dari warga binaan ataupun dari intansi pendidikan atausosial. Ucapan terimakasih: Tidak ada kepentingan apapun dalam penelitian ini. Tim peneliti mengucapkan rasa terimakasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UKMC atas dukungan material yang diberi, petugas lapas bidang kesehatan yang membantu proses kegiatan dan tim mahasiswa yang bertugas. Pernyataan Pengunaan AI "Penulis menyatakan bahwa naskah ini disusun sepenuhnya oleh penulis tanpa menggunakan teknologi AI generatif maupun teknologi berbantuan AI. Daftar Pustaka