SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan ISSN: 3047-8618 (Onlin. | DOI: . https://doi. org/10. 31959/js. Volume 03 . No. Desember 2025 . Homepage: https://ejournal-polnam. id/index. php/JS/index Tindakan Berteologi Anak Negeri Tuhaha Dalam Tradisi Mangkok Enam Bulan Agustinus Oktovianus Lopuhaa Politeknik Negeri Ambon lopuhaa@gmail. Abstrak: Ritus Mangkok Enam Bulan merupakan salah satu ritus yang masih dipertahankan oleh anak negeri Tuhaha dalam konteks hidup mereka. Ritus ini menjadi salah satu jati diri mereka, yang berpijak pada kreasi kognitif leluhur sebagai akibat migrasi dari Kohu ke Aimahono. Ritus Mangkok Enam Bulan dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pagi hari dan tahap malam Keseluruhan rangkaian ritus ini mencerminkan identitas adatis dan identitas kekristenan yang sangat kental di Tuhaha. Ritus Mangkok Enam Bulan mencerminkan sebuah tindakan berteologi anak negeri Tuhaha dalam hubungan mereka dengan Allah dan alam semesta. Tindakan berteologi mereka menampakkan kesadaran mereka akan kehadiran dan tuntunan Allah dalam sejarah mereka, dan juga bagaimana mereka memandang sakralitas ruang dan waktu. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metodologi kualitatif yang berfokus pada observasi dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Sedangkan analisis data menggunakan modus hermeneutik terhadap pergulatan tradisi yang kuat antara injil dan kekuatan budaya masyarakat. Pergulatan itu merupakan tindakan teologi anak negeri, sebagai refleksi atas penyertan Allah dalam sejarah mereka. Kata Kunci: Mangkok Enam Bulan. Tindakan Teologi. Abstract: Mangkok Enam Bulan ritual is one of the rites that is still maintained by the Tuhaha society in the context of their lives. This rite becomes one of their identities, which is based on the cognitive creations of their ancestors as a result of migration from Kohu to Aimahono. Mangkok Enam Bulan ritual is carried out in three stages, namely the preparation stage, the morning stage and the evening stage. This entire series of rites reflects the traditional identity and Christian identity which is very strong in Tuhaha. Mangkok Enam Bulan ritual is reflects an act of theology of the Tuhaha society in their relationship with God and the universe. Their theological actions reveal their awareness of God's presence and guidance in their history, and also how they view the sacredness of space and time. The research was conducted using a qualitative methodology that focused on observation using in-depth interview techniques. Meanwhile, data analysis uses a hermeneutic mode regarding the strong traditional struggle between the gospel and the cultural forces of society. This struggle is an act of theology of the society, as a reflection of God's inclusion in their history. Keywords: Mangkok Enam Bulan. Theological Action PENDAHULUAN Nilai-nilai adatis yang ada di Malulu, sebagian besar bersumber dari dinamika masyarakat adat terhadap konteks lokal dalam komunitas di masa lampau yang dihadapi oleh para leluhur. Dinamika masyarakat ini direspons dalam alam kesadaran kognitif saat itu untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi entah dalam hubungan antar individu secara internal komunitas, atau juga lintas komunitas, dan juga hubungan antara manusia/komunitas dengan Kesadaran kognitif ini merupakan cara pandang mereka terhadap dunia berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki saat itu, dan juga merupakan kejadian historis yang lahir dari pengalaman mereka. Setiap cara pandang para leluhur memiliki makna penting bagi kelanjutan hidup mereka, bahkan juga untuk kelanjutan hidup generasi di masa yang akan datang. Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Secara umum, makna dari setiap peristiwa yang dialami oleh para leluhur yang tetap bertahan sampai generasi saat ini tidak terlepas dari bagaimana makna itu disampaikan. Penyampaian makna itu dilakukan dalam bentuk cerita rakyat atau nyanyian rakyat secara berulang yang dirayakan dalam suatu upacara/ritus yang mengandung kesakralan sehingga menjadi sistem kepercayaan dalam komunitas. Sistem kepercayaan yang ekslusif dalam komunitas ini yang membedakannya dengan komunitas lainnya. Keunikan dalam sistem kepercayaan suatu komunitas tidak lepas pula dari sentuhan nilainilai luar yang masuk dalam komunitas itu, baik menggandeng kekuasaan atau secara damai melalui hubungan dagang di masa lampau. Perjumpaan itu adakalanya menciptakan interpenetrasi antar sistem kepercayaan yang berbeda sehingga bisa melahirkan sistem kepercayaan baru. Salah satu perjumpaan yang sangat berpengaruh adalah nilai-nilai adatis berjumpa dengan nilai-nilai agama-agama besar. Sehingga tidak heran kalau generasi saat ini cenderung melihat adat dalam perspektif agama besar yang dianut, dan penilaian mereka juga lebih didasarkan pada ayat-ayat dalam kitab suci. Hal ini juga dialami oleh anak negeri Tuhaha. Kecamatan Saparua Timur. Kabupaten Maluku Tengah dalam lintasan hitoris mereka yang penuh dinamika, khususnya dalam tradisi Mangkok Enam Bulan, sebagai bagian dari ritual dalam membentuk pemukiman baru. Ritual ini bukan hanya sebagai sebuah ritual adatis semata tetapi juga sebuah perpaduan ritual yang khas dengan nilai-nilai kekristenan. Ritual yang biasanya dilakukan setiap minggu terakhir bulan Juni dan Desember sepanjang tahun ini, telah menjadi inspirasi teologi bagi anak negeri Tuhaha bahkan menjadi sebuah tindakan teologi mereka. Pengukuhan atas tindakan teologi ini melalui sumpah dan janji supaya generasi selanjutnya tetap melaksanakan ritual itu dengan penuh kesakralan sebagai bagian dari eksistensi dan identitas anak negeri Tuhaha, yang menyatakan juga bahwa mereka adalah bagian dari sejarah para leluhur. Tulisan ini lebih ditegaskan kepada tindakan berteologi yang termaktub dalam ritual Mangkok Enam Bulan, yaitu dialektika yang kreatif antara teks-teks kitab suci (Alkita. dan konteks adat masyarakat. Hal tersebut karena berteologi adalah upaya refleksi spiritualitas manusia dalam usaha mencari dan memahami tindakan Allah dalam arus sejarah dan dinamika kebudayaan Tindakan berteologi selalu muncul dalam beragam bentuk dan ekspresi manusia. Artinya, sama seperti masyarakat dan kebudayaan tidak merupakan produk final, demikian pula tindakan berteologi adalah tindakan progresif yang tidak pernah selesai, karena itu teologi harus terus berpikir dan menjawab berbagai pertanyaan kehidupan manusia. Di dalam ritus Mangkok Enam Bulan terungkap begitu banyak makna menyangkut identitas dan esensi kemanusiaan yang mendalam. Ritus Mangkok Enam Bulan dianggap sebagai tradisi yang sakral, karena anak negeri Tuhaha tetap mempertahankan identitas adatisnya dan tetap eksis dalam perubahan zaman. Ritus Mangkok Enam Bulan sebagai tindakan berteologi tidak hanya mengajarkan tentang peran leluhur yang terejawantahkan dalam repetisi tradisi anak negeri Tuhaha, tetapi juga menjelaskan tentang kreatifitas kognisi yang melihat tentang kuasa Allah dalam keberlanjutan hidup mereka. Tindakan berteologi mereka atas ritus ini telah menumbuhkan kesalehan sosial dalam komunitas mereka yang terwujud dalam praktek-prektek keimanan. METODE PENELITIAN Penulisan ini didasarkan pada penelitian lapangan dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik, dan dengan Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. (Moleong, 2. Observasi terhadap para informan dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara yang mendalam menjadi salah satu cara yang digunakan untuk memperoleh tujuan dimaksud, selain studi kepustakaan yang berhubungan dengan masalah. Data yang telah didapat itu kemudian dianalisis dan dilakukan interpertasi terhadapnya yang dimulai dengan melihat hubungan kunci terhadap data yang telah dikategorisasikan. apa yang diharapkan dari data akan muncul lewat hubungan kunci ini. Dengan demikian, dalam menganalisis data peneliti menggunakan modus hermeneutik, yakni berkaitan dengan pemaknaan suatu teks secara menyeluruh dan interpertasi bagian-bagiannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Ritual Mangkok Enam Bulan Sejarah lahirnya ritual Mangkok Enam Bulan tidak terlepas dari sejarah negeri Tuhaha itu sendiri. Pasca perang dengan Iha dan terjadinya gelombang migrasi ke daerah baru di pesisir, yakni Matalete, mengakibatkan jumlah penduduk mereka semakin banyak. Akibatnya, daya tampung lokasi baru ini sudah tidak memenuhi syarat lagi sebagai sebuah pemukiman, karena sudah semakin padat, bahkan cenderung tidak dapat lagi diperluas. Mereka kemudian mengambil kesepakatan untuk menentukan lokasi lain sebagai pemukiman baru mereka. Ada dua dusun yang dipertimbangkan sebagai daerah pemukiman baru. Pertama. Dusun Pasir putih yang juga disebut Dusun Kohu. Secara topografi Dusun Kohu berbatu, tidak ada air batang . , permukaan tanah yang rata tidak cukup luas dan miring. Kedua, dusun Aimahono. Dari segi topografi memiliki lahan rata yang sangat luas, tidak berbatu, dialiri oleh beberapa sungai yang sangat potensial menyediakan air kebutuhan hidup warga, karena itu lahannya subur. Dua lokasi yang diusulkan itu menjadi perdebatan dalam waktu yang cukup lama. Masingmasing yang mengusulkan memiliki pertimbangan tersendiri. Pertimbangan mereka untuk menentukan lokasi dusun Kohu adalah letaknya persis di poros teluk Tuhaha, sehingga untuk kebutuhan keamanan saat itu justru lebih menguntungkan. Hal ini berkaitan dengan peperangan yang masih sering terjadi, baik itu dengan pihak Belanda maupun juga antar wilayah di sekitarnya. Selain itu, ada pula informasi bahwa di dusun Kohu sudah terdapat beberapa walang yang telah dihuni oleh beberapa orang keluarga. Pertimbangan ini dirasa cukup masuk akal dalam konteks saat itu, karena mereka menghendaki sebuah wilayah yang bisa memberikan perlindungan secara alamiah dari ancaman Selain itu pula, secara strategis mereka dapat memantau setiap pergerakan musuh dalam upaya menaklukkan mereka untuk perluasan wilayah. Di sisi lain, pertimbangan untuk menempati dusun Aimahono lebih kepada ketersediaan sumber daya alam dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dalam hal ini ketersediaan air dan lahan untuk bercocok tanam. Berbagai upaya dilakukan untuk menentukan lokasi yang tepat sebagai pemukiman baru. Namun upaya demi upaya yang dilakukan selalu menemui jalan buntu, artinya di antara mereka tidak ada kata sepakat untuk menempati lokasi mana yang akan menjadi pemukiman baru mereka. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini kepada Tuhan dalam bentuk doa bersama yang dilakukan oleh pihak gereja bersama pemerintah negeri dan seluruh masyarakat. Secara kongkrit, bentuk penyelesaian dibuat dalam bentuk undian. Untuk pelaksanaan itu, disediakan dua potong kertas. Setiap potongan kertas bertuliskan nama kedua dusun, yang satunya Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 bertuliskan Kohu dan satunya lagi bertuliskan Aimahono. Dua potong kertas itu lalu diletakkan di atas sebuah piring batu. Menjelang penarikan undi, mereka berdoa secara bersama-sama yang dipimpin oleh Pendeta Lukas Wattimena. Mereka memahami bahwa doa yang dibawakan oleh pendeta sebagai bentuk penyerahan dan penyelesaian persoalan oleh Tuhan. Setelah pendeta berdoa, ia lalu mengambil salah satu kertas dari piring batu tersebut. Nama dusun yang dipilih berdasarkan hasil undian itu adalah Kohu. Hal ini dilakukan sampai tiga kali, dan tetap nama dusun yang terpilih adalah Kohu. Mereka kemudian bersepakat bahwa hasil undian yang dilakukan sebanyak tiga kali tersebut dengan dusun Kohu sebagai hasilnya merupakan petunjuk dari Tuhan. Oleh karenanya, mereka pun menetapkan dusun Kohu sebagai lokasi pemukiman yang baru dengan segala kondisi topografi yang ada. Cukup lama mereka menempati dusun Kohu sebagai pemukiman mereka. Namun demikian, kondisi yang dihadapi tidak jauh berbeda dengan kehidupan mereka di Matalete. Mereka dihadapkan dengan kondisi dataran untuk perluasan wilayah pemukiman yang sangat sempit. Selain itu pula, perkebunan mereka khususnya tanaman kelapa tidak menunjukkan hasil yang baik. Oleh karena itu, mereka lalu mengadakan musyawarah untuk mencari lokasi baru selain Kohu. Pertimbangan mereka adalah ke dusun Aimahono. Sebagai bentuk kesepakatan dari niat mereka itu, lalu beberapa orang diutus untuk melakukan survei terhadap kondisi dusun Aimahono. Selama enam bulan, para utusan itu melaksanakan tugas mereka. Bagi mereka, dusun Aimahono lebih layak untuk daerah pemukiman baru, dengan pertimbangan: Untuk kebutuhan pertanian maka tanah di Kohu kurang baik bila dibandingkan dengan tanah di Aimahono. Air untuk kebutuhan sehari-hari kurang tersedia di Kohu bila dibandingkan dengan air yang melimpah di Aimahono. Adanya kekuatiran jangan sampai batas petuanan mereka dilewati . oleh warga negeri lainnya. Pertimbangan-pertimbangan di atas dengan membandingkan kelemahan dan keuntungan yang ada pada kedua dusun itu mengakibatkan mereka cenderung untuk mengalihkan tempat pemukiman mereka dari dusun Kohu ke dusun Aimahono. Hasil laporan dari utusan itu kemudian ditindaklanjuti dalam pertemuan antar pemimpin masyarakat untuk mengambil keputusan yang terakhir atas lokasi pemukiman mereka. Akhirnya, semua menyepakati untuk meninggalkan dusun Kohu dan menjadikan dusun Aimahono sebagai tempat pemukiman mereka. Hal ini mendapat dukungan pula dari kelompok masyarakat yang sejak awal memilih dusun Kohu. Bagi mereka, eskalasi konflik antar masyarakat yang semakin rendah bahkan cenderung tidak terjadi. Pengalihan lokasi dari Kohu ke Aimahono dipahami sebagai langkah yang melanggar petunjuk Tuhan. Muncul ketakutan akan adanya hukuman Tuhan yang menimpa mereka, karena dusun Kohu adalah hasil dari petunjuk Tuhan dalam doa bersama mereka, sekalipun penetapannya melalui mekanisme undian. Bagi mereka. Tuhan marah dan akan menghukum mereka, karena telah melanggar keputusan Tuhan. Para leluhur Tuhaha kemudian melakukan musyawarah dan memutuskan bahwa demi kelangsungan hidup mereka sendiri dan kelangsungan hidup anak-cucu maka mereka harus bedoa memohon ampun dari Tuhan, karena mereka telah bersalah. Lebih lanjut, mengingat peristiwa itu sangat penting maka diputuskan bahwa: Mereka harus selalu berdoa bersama-sama, memohon pengampun dari Tuhan, sekali dalam enam bulan. Sekaligus dengan itu mereka harus bersyukur karena Tuhan tidak menghukum mereka. Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Seluruh generasi anak-cucu mereka harus mengingat peristiwa itu dan berdoa/beribadah secara khusus seperti yang mereka lakukan, sekali dalam enam bulan sepanjang negeri Tuhaha masih ada. Ibadah yang mereka lakukan ini kemudian dikenal dengan nama Ibadah Negeri Enam Bulan atau oleh anak negeri Tuhaha lebih dikenal dengan sebutan Mangkok Enam Bulan, yang pelaksanaannya setiap hari Minggu terakhir bulan Juni dan hari Minggu terakhir bulan Desember. Pelaksanaan ritual ini masih terus berlangsung sampai saat ini. Ritual enam bulan sekali tidak semata-mata pada pembagian tahun takwin menjadi dua bagian (Juni dan Desembe. , tetapi lebih didasari kepada pekerjaan para utusan yang melakukan survei di Aimahono selama enam bulan untuk menentukan lokasi baru. Semakin berkembangnya anak negeri Tuhaha dan banyak dari mereka yang merantau, maka menjadi kewajiban mereka yang tidak sempat mengikuti ritual ini di Tuhaha untuk memberikan persembahan syukur mereka dalam bentuk uang selama enam bulan sekali. Besaran nilai uang tidak ditentukan, hal ini tergantung kepada kemampuan masing-masing anak negeri. Tahapan Pelaksanaan Ritual Mangkok Enam Bulan Pelaksanaan ritual ini berlangsung dalam tiga tahap, yaitu . Tahap Persiapan, . Tahap Pagi Hari dan . Tahap Sore Hari. Masing-masing tahapan akan dijelaskan berikut ini. Tahap Persiapan Pada pelaksanaan ritual Mangkok Enam Bulan, dimulai dengan tahapan persiapan. Persiapan yang dimaksud adalah persiapan yang dilakukan oleh Pemerintah Negeri Tuhaha dan juga Majelis Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Tuhaha. Pada tahapan ini, kedua institusi melakukan penetapan terhadap siapa yang akan melaksanakan tugas tersebut. Baik itu dari Pemerintah Negeri Tuhaha dalam tugasnya mengumpulkan seluruh persembahan syukur dari rumah ke rumah, maupun juga dari Majelis Jemaat yang akan memimpin ibadah di sore hari. Tahapan ini dilakukan sehari sebelum pelaksanaan ritual Mangkok Enam Bulan. Mereka juga sekaligus mengatur prosesinya dan mempersiapkan segala peralatan yang akan digunakan pada saat pelaksanaan ritual Mangkok Enam Bulan. Pertemuan dua institusi ini . emerintah negeri dan gerej. sebagai bentuk penghayatan historis dari apa yang pernah terjadi saat mereka hendak menempati pemukiman yang baru di jaman para leluhur. Selain persiapan yang dilakukan oleh dua institusi tersebut, persiapan pada hari Sabtu malam itu juga dilakukan oleh masing-masing keluarga anak negeri Tuhaha di rumah-rumah Biasanya mereka akan berdoa secara bersama-sama. Pokok doa mereka adalah sebagaimana janji yang diturunkan para leluhur kepada mereka, yakni memohon ampun dan juga mensyukuri kehidupan yang tidak ditimpa hukuman. Selain itu mereka mensyukuri berkat yang mereka peroleh dalam kehidupan di Aimahono. Selain doa yang dipanjatkan, mereka juga menceritakan mengapa sampai terjadinya ritual Cerita-cerita yang disampaikan lebih kepada penanaman nilai-nilai historis yang telah dilakukan oleh para leluhur sehingga mereka bisa menempati negeri Tuhaha saat ini. Hal ini sebagai bentuk atas pemenuhan janji para leluhur bahwa setiap anak negeri Tuhaha harus mengingat peristiwa yang pernah dialami oleh para leluhur. Pada masing-masing keluarga itu, saat persiapan yang dilakukan, mereka telah menyiapkan korban pengucapan syukur mereka dalam bentuk uang yang nanti akan diserahkan di pagi hari. Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Biasanya, bagi mereka yang memiliki keluarga di perantauan dan tidak sempat mengikuti ritual tersebut, akan mengirimkan persembahan syukur mereka kepada keluarga yang ada di Tuhaha. Di malam itu juga, keluarga yang mendapat kiriman persembahan syukur dari saudara mereka di perantauan, wajib mendoakan mereka di perantauan agar terhindar dari segala malapetaka dan tetap diberi berkat. Tahap Pagi Hari Pada hari Minggu pagi, anggota Saniri Negeri bersama-sama dengan Majelis Jemaat berkumpul di konsistori gereja, untuk berdoa bersama-sama mempersiapkan kegiatan pagi itu. Tepat pukul 06. dengan ditandai dentangan loncang gereja yang bertalu-talu mereka berpencar mendatangi seluruh rumah warga sesuai dengan pembagian yang telah dilakukan malam sebelumnya. Biasanya satu anggota Saniri Negeri . nsur pemerintah neger. didampingi oleh satu orang Majelis Jemaat . nsur Pakaian yang mereka kenakan serba hitam, baik itu Saniri Negeri maupun Majelis Jemaat. Wanita akan mengenakan kebaya sedangkan pria mengenakan baniang. Sedangkan Saniri Negeri menggunakan borci . aju hitam panjan. ditambah mengenakan lenso berang . erwarna merah dengan motif batik Maluk. yang diikat di leher. Masing-masing kelompok membawa serta sebuah mangkok berwarna putih dengan ukuran lingkarannya sekitar 15 cm atau 20 cm, yang ditutupi sehelai kain berwarna merah bermotif bunga berwarna biru dengan ukuran 25 cm x 25 cm . Mangkok ini yang digunakan untuk menampung persembahan syukur dari masing-masing warga yang telah disiapkan sebelumnya. Sewaktu mendatangi rumah warga, masing-masing kelompok hanya menggunakan waktu yang sangat singkat. Mereka saat itu hanya menyapa masing-masing keluarga yang didatangi, dan keluarga tersebut yang sudah mengetahui kewajibannya segera menyerahkan uang yang telah disiapkan sebelumnya. Uang itu dimasukkan sendiri oleh masing-masing keluarga ke mangkuk yang dibawa oleh Saniri Negeri dan Majelis Jemaat. Hal itu dilakukan di setiap rumah yang Pada saat pelaksanaan pengumpulan uang itu dilakukan, tidak ada aktifitas masyarakat di luar rumah sampai kegiatan itu selesai. Setelah aktifitas pengumpulan uang selesai, mereka kembali lagi ke konsistori dan bersamasama berdoa syukur atas penyelesaian tugas saat itu. Sementara itu uang yang terkumpul itu disatukan dan dimasukan ke dalam sebuah peti khusus yang telah disiapkan. Uang di dalam peti itu selanjutnya dibawa oleh Saniri Negeri ke kantor pemerintah negeri, untuk nantinya diserahkan secara keseluruhan pada sore hari di gereja saat ritual sore dilaksanakan. Tanda bahwa ritual pagi ini telah selesai adalah bunyi lonceng gereja untuk pelaksanaan ibadah minggu pagi. Tahapan Sore Hari Pelaksanaan ritus Mangkok Enam Bulan pada sore hari dalam bentuk ibadah syukur di gereja. Ibadah syukur enam bulan ini, diawali dengan lonceng gereja sama seperti ibadah Minggu biasa. Jika pada pelaksanaan pagi hari Saniri Negeri dan Majelis Jemaat berkumpul dan berdoa bersama di konsistori, lain halnya dengan pelaksanaan sore hari. Mereka tidak berkumpul bersama, namun masing-masing mereka akan melakukan persiapan tersendiri. Saniri Negeri melakukan persiapan di kantor Pemerintah Negeri, sedangkan Majelis Jemaat di konsistori gereja. Di tempat yang terpisah ini, masing-masing mereka berdoa sebagai tanda persiapan akan dilakukannya Ibadah Negeri Enam Bulan. Menjelang didentangkannya lonceng gereja tiga kali Saniri Negeri, dalam arti raja dan perangkat pemerintah negeri berjalan meninggalkan kantor pemerintah negeri menuju gedung gereja untuk pelaksanaan Ibadah Negeri Enam Bulan bersama dengan seluruh persembahan syukur Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 masyarakat yang telah dikumpulkan di pagi hari. Sementara Majelis Jemaat telah berdiri berbanjar di depan pintu gereja menyambut kedatangan rombongan Saniri Negeri. Baik Saniri Negeri maupun Majelis Jemaat, mereka tetap menggunakan pakaian seperti pada ritual pagi hari itu. Sesampainya Saniri Negeri di depan pintu halaman gereja, lonceng gereja didentangkan sebanyak tiga kali, sebagai tanda bahwa ibadah akan dimulai. Saniri Negeri memasuki halaman gereja disambut dengan jabatan tangan oleh Majelis Jemaat, kemudian mereka bersama-sama masuk ruangan gereja untuk melangsungkan ibadah. Jabat tangan itu dilakukan ada dalam prinsip bahwa selain Saniri Negeri disambut oleh pihak Majelis Jemaat, tetapi juga dua institusi ini bersama-sama bertanggung jawab atas kehidupan umat dan masyarakat. Di dalam gereja, mereka menduduki kursi yang telah disediakan, yakni berada pada deretan muka, tepat diposisi tengah ruangan gereja. Posisi mereka di depan sebagai tanda bahwa mereka adalah pemimpin atas umat dan atas anak negeri Tuhaha di mana saja mereka berada. Pelaksanaan ritual sore hari ini adalah ibadah yang sama dengan ibadah yang biasanya Hanya saja mendahului acara ibadah. Saniri Negeri yang merupakan representasi keseluruhan anak negeri Tuhaha, baik di Tuhaha maupun di perantauan, akan menyerahkan keseluruhan persembahan syukur anak negeri Tuhaha dalalm sebuah peti yang dibungkusi kain berwarna merah. Peti itu diletakan di tempat yang telah disediakan tepat di depan altar/mimbar gereja, sebagai tanda syukur atas berkat yang Tuhan berikan bagi negeri Tuhaha. Setelah itu. Saniri Negeri membacakan sejarah terjadinya Ibadah Negeri Enam Bulan atau Mangkok Enam Bulan, serta penyampaikan himbauan atau nasihat atau ajakan kepada seluruh warga agar mereka tetap setia malaksanakannya. Ibadah yang berlangsung kemudian, setelah pembacaan sejarah atau latar belakang terjadinya Mangkok Enam Bulan, tata urutan ritusnya sama dengan yang biasanya berlangsung dalam berbagai ibadah kristiani lainnya dan penyelenggaranya diserahkan kepada Majelis Jemaat. Ibadah dimaksud mengandung unsur-unsur liturgis kristiani, yakni votum, pengakuan dosa, pemberitaan anugerah pengampunan dosa, petunjuk hidup baru, pembacaan dan pemberitaan firman Tuhan, doa syafaat, nyanyian jemaat dan pemberkatan/penutup. Satu perbedaan utama yakni dalam ibadah tersebut, peserta ibadah tidak lagi memberikan persembahan syukur. Hal ini karena telah dilakukan pada waktu pagi, ketika Saniri dan Majelis Jemaat mendatangi semua rumah warga. Setelah ibadah selesai, masing-masing warga akan kembali ke rumahnya sementara Saniri Negeri ke Kantor Pemerintahan untuk doa syukur dan Majelis Jemaat melaksanakan doa syukur di Konsistori. Ritual Mangkok Enam Bulan Sebagai Tindakan Berteologi Mangkok Enam Bulan: Kesadaran Tuntunan Allah dalam Sejarah Mengulik sistem pengetahuan dalam ritus Mangkok Enam Bulan sesungguhnya terbentuk atas dasar sejarah dan peran leluhur di Tuhaha dalam membentuk suatu komunitas. Peran mereka itu memiliki dua makna yakni, pertama migrasi yang dilakukan leluhur dalam mencari sebuah tatanan masyarakat dan pemukiman baru, menunjukkan suatu ikatan solidaritas yang tinggi. Ikatan itu tidak menjadikan mereka terpolarisasi, melainkan terbuka meliputi semua individu dalam Indikasinya nampak dalam tindakan yang sifatnya saling melindungi komunitas dan mencari peluang baru dalam menata kehidupannya. Kedua, migrasi yang dilakukan dari Kohu ke Aimahono terkait dengan pemahaman mengenai hidup yang tidak dapat dilepaspisahkan dari keberlanjutannya di masa yang akan datang. Hidup ada dalam kaitan dengan hubungan antar sesama dan bagaimana sesama saling Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 menciptakan ruang yang menjamin kelangsungan hidupnya. Selain itu pula, dalam konteks kekinian, hidup anak negeri Tuhaha selalu berkaitan dengan apa yang telah dilakukan oleh leluhur, dan ritus yang dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada leluhurnya. Hubungan tersebut terjadi melintasi batas historis, yaitu berdasarkan pergumulan sejarah anak negeri Tuhaha baik waktu lampau, masa kini maupun masa yang akan datang. Waktu lampau tidak dipahami sebagai bentuk keterikatan yang kaku, melainkan penggalian nilai-nilai sejarah sebagai pijakan dan persepsi membangun hidup ke masa depan. Ritus Mangkok Enam Bulan adalah buah dari sisi sejarah masa lampau anak negeri Tuhaha yang tidak dapat diabaikan, karena di dalam tradisi tersebut, mereka tidak hanya menjadi makhluk sejarah . istorical bein. , tetapi juga menjadi makhluk yang menyadari tuntunan Allah dalam sejarah Nilai-nilai Injil yang hidup dalam tradisi ini adalah harapan akan masa depan bagi mereka untuk memberitakan kabar sukacita tentang tuntungan Allah bagi manusia dalam kaitan dengan hidup yang berkelanjutan. Muatan Injil dalam tradisi mereka telah mengarahkan orientasi anak negeri Tuhaha agar melihat hidupnya dalam keutuhan waktu: masa lampau, masa kini dan masa depan, sebab dalam dimensi waktu itulah Allah bertindak. Sama seperti kisah dalam Perjanjian Lama, bahwa Allah selalu AumengingatkanAy . hema = dengarla. Israel agar tidak lupa akan keberadaan mereka dulu sebagai budak di Mesir (Ulangan 6:4, . Kesadaran itu membawa harapan bagi Israel bahwa dalam waktu yang tidak lama Allah akan membebaskan dan membawa mereka kembali ke tanah yang berlimpah susu dan madu. Cara Allah ini juga ingin mengingatkan Israel bahwa mereka harus memahami rencana Allah sebagai suatu perspektif masa depan (Yeremia 29:. Artinya untuk kehidupan yang akan datang. Israel harus sadar bahwa Allah terlibat dan bertindak dalam sejarah manusia dengan tiga dimensi waktu . asa lampau, masa kini dan masa akan datan. Begitu pula Injil yang mengisahkan hidup dan pelayanan Yesus, bahwa dalam kehadiranNya. Yesus selalu memberi pemaknaan baru terhadap tradisi yang sudah ada di masyarakat saat itu. Yesus dalam karyaNya tidak menyingkirkan tradisi tetapi memenuhinya sehingga, melalui tradisi. Allah bisa dikenal dan disapa. Sebagai seorang Yahudi yang dibesarkan dalam tradisi keyahudian. Yesus tetap kritis terhadap tradisi itu. Apalagi ketika tradisi tidak lagi menjadi sarana pembebasan manusia/masyarakat dari struktur ketidakadilan yang menindas Mangkok Enam Bulan: Bentuk Kesadaran Allah Hadir Dalam Dunia Konsep kosmologi anak negeri Tuhaha dalam Ritus Mangkok Enam Bulan, memandang alam merupakan perwujudan dari makrokosmos yang harus dijaga keserasiannya oleh mikrokosmos yang terwujud dalam dalam diri mereka. Anak negeri Tuhaha menempatkan sasaran pemahamannya ini dalam hubungan yang saling menghidupkan antara makrokosmos . dengan mikrokosmos . Bagi mereka, alam dan fenomenanya bukan hanya sesuatu yang imanen, ada dalam keseharian mereka. Alam juga selalu dikaitkan sesuatu yang memiliki dimensi spiritual. Pada pemahaman ini, ada tanggung jawab dari anak negeri Tuhaha untuk memeliharanya dan menjaga kelestariannya sebagai bentuk menjaga hidup yang berkelanjutan. Oleh karena itu, repetisi atas nilai ritual itu selalu terkait dengan alam dan kelanjutan hidup yang diajarkan turun-temurun, dan membuat setiap generasi memandang alam sebagai bagian penting dari kehidupannya. Kesadaran mereka menjadi kesadaran teologis terhadap alam, yaitu kesadaran tentang alam yang dibentuk melalui bingkai-bingkai pemahaman kekristenan mereka. Kisah penciptaan dalam kitab Kejadian dengan jelas menyatakan bahwa Allah menciptakan dunia ini dengan sabdaNya. Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Hal itu mengindikasikan bahwa dunia yang berasal dari sabda Allah itu adalah dunia yang transenden, dan semua itu merupakan wujud dari kemurahan Allah. Penciptaan dunia oleh sabda Allah menunjukkan bahwa eksistensi dunia adalah hasil yang baik, bahkan kehadiran manusia untuk memenuhi dunia adalah juga wujud dari kebaikan itu sendiri (Kejadian 1:26. Posisi manusia menjadi sangat penting sebagai pembawa citra Allah dalam dirinya. Sebagai citra Allah, manusia hadir untuk membantu menyempurnakan ciptaan Allah. Penyempurnaan ciptaan Allah dimulai dari bagaimana manusia menyempurnakan dirinya sendiri lewat kerja sama yang membawanya kepada persahabatan dengan Allah. Manusia sebagai puncak maha karya Allah menjadi teman sekerja Allah dalam merawat alam semesta ciptaanNya, yang adala dalam hubungan timbal balik yang dilandasi puji syukur. Kehadiran Allah dalam dunia bukan saja menunjukkan Allah yang hidup, tetapi juga tuan atas kehidupan, sebab Allah adalah sumber segala kehidupan secara tidak terbatas yang melampaui ciri dan keterbatasan hidup. Oleh karena hidup hanya milik Allah, penghormatan manusia tidak semata-mata terarah kepada kehidupan kosmis, tetapi juga memperoleh martabat yang tidak pernah dikenal sebelumnya . andingkan Kejadian 9:4 dan seterusnya. Imamat 1:5 dan seterusny. Ritus Mangkok Enam Bulan menegaskan bahwa anak negeri Tuhaha adalah bagian dari alam, berhak memanfaatkan alam, tapi sebaliknya mereka juga mempunyai tanggung jawab dari Tuhan untuk memelihara dan melestarikan alam. Kesadaran teologis ini menjadikan ritus itu sebagai sumber spirit yang menumbuhkan kesadaran lingkungan. Sebuah kesadaran teologi yang menekankan diri pada gerakan sosial, dan membicarakan kembali semua hal yang terkait dengan lingkungan dari sisi kekristenan. Lingkungan dimana mereka tinggal adalah bagian dari segala keteraturan . , yang menjadikan mereka dapat membuka tabir kehadiran Allah dalam dunia. Mereka mengalami kosmos sebagai suatu keseluruhan yang secara mendasar bersifat mengikat antara mereka dengan Lewat pengalaman ini. Allah dikenal oleh mereka dalam ciptaanNya. Kesadaran teologis anak negeri Tuhaha terhadap Mangkok Enam Bulan, menyiratkan bahwa segala sesuatu, termasuk pikiran atau jiwa, adalah bagian dari alam yang melihat dan memahami dunia dalam tujuan dan makna kehidupan serta keteraturan. Melalui akalnya mereka dapat mengetahui bahwa Allah ada. Cara mereka memahami kehadiran Allah dalam dunia, menunjukkan bahwa dunia yang menjadi tempat mereka berpijak dan ruang dimana pengalaman manusia tumbuh, tidak luput dari refleksi mereka dalam kehadiranNya. Hal tersebut karena dunia menunjuk kepada alam semesta yang mengelilingi dan menjadi tempat hidup mereka, oleh karena itu sebagai tempat hidup mereka akan terus berusaha menemukan eksistensinya. Mangkok Enam Bulan: Refleksi Atas Sakralitas Ruang dan Waktu Bentuk refleksi atas sakralnya ruang dan waktu dalam Mangkok Enam Bulan menegaskan tindakan teologis atas tanggung jawab ekologis anak negeri Tuhaha. Mereka diberi kuasa untuk menguasai alamnya, agar alam dimanfaatkan untuk kesejahteraan mereka dan anak cucunya. Pada dasarnya, alam bukan untuk memenuhi kerakusan manusia, melainkan terkait dengan kesejahteraan yang Penguasaan atas alam dibatasi tujuan penguasaan itu sendiri, yakni demi kesejahteraan bersama. Wujud penguasaan manusia atas alam adalah memelihara alam dan tidak merusak ekosistem. Artinya, dunia adalah tempat tinggal bersama yang sesama penghuninya hidup saling bergantung. Bentuk refleksi ruang dan waktu menegaskan Mangkok Enam Bulan tidak hanya sebatas tradisi yang terus dilakukan berulang-ulang setiap tahunnya, tanpa kedalaman makna. Muatan nilai Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 yang terus berkembang dalam Mangkok Enam Bulan, menggambarkan tentang kreasi kognisi anak negeri Tuhaha yang dihasilkan dari pengalaman empiriknya yang tidak pernah final. Hal tersebut karena gagasan-gagasan yang ada di dalamnya terus berdialektika dengan gagasan-gagasan injil dalam realitas mereka. Sebagaimana anak negeri Tuhaha bertindak dan berkarya dalam ruang dan waktu, demikian pula narasi-narasi dalam Alkitab memberikan kesaksian tentang Allah yang bertindak dan berkarya dalam ruang dan waktu mereka. Penghayatan mengenai ruang sakral memungkinkan pendasaran pemahaman mereka tentang dunia. Sebab ruang tidak homogen, mereka bisa membentuk dunia di mana mereka dapat Dalam kaitan dengan itu, mencari ruang hidup baru bagi anak negeri Tuhaha mempunyai makna eksistensial. Mereka tidak bisa diam pada suatu tempat tertentu, kalau tidak ada tempat tertentu yang dapat berfungsi sebagai titik orientasi untuk sebuah kehidupan yang berkelanjutan. Biarpun mereka memindahkan tempat kediamannya dari Kohu ke Aimahono, namun mereka dengan demikian tetap hidup dalam AuduniaAy mereka dan serentak menyimpan hubungan ke masa depan untuk kelanjutan generasinya. Gejala ini membuktikan kecenderungan mereka untuk hidup di tempat sakral atau mensakralkan tempat tinggalnya dan sekaligus menciptakan ritus yang sakral. Sebagaimana halnya dengan ruang, waktu dalam pandangan anak negeri Tuhaha juga tidak Ada waktu sakral dan ada waktu profan. Waktu sakral berlangsung bila mereka merayakan ritus-ritus tertentu yang sifatnya repetitif seperti ritus Mangkok Enam Bulan. Sedangkan waktu profan adalah waktu biasa di mana peristiwa-peristiwa sehari-hari berlangsung. Tidak ada kontinuitas antara dua jenis waktu itu, tetapi dengan ritus atau upacara mereka bisa beralih dari waktu biasa kepada waktu kudus. Waktu sakral dalam ritus Mangkok Enam Bulan adalah waktu yang berlangsung dalam pengulangan atas apa yang telah dilakukan oleh para leluhur. Waktu di mana berlangsung peristiwa-peristiwa yang diceritakan oleh ritus tersebut, seakan-akan merupakan suatu Auwaktu sekarangAy yang selalu dapat dihubungi. Waktu sakral dalam ritus tersebut selalu dapat dihadirkan kembali secara periodik. Setiap perayaan atas ritus pada dasarnya bagi anak negeri Tuhaha mempunyai arti sebagai suatu kejadian sekaral dari waktu lampau yang mistis dan dihadirkan kembali Oleh karena itu, setiap anak negeri Tuhaha yang mengambil bagian dalam ritus Mangkok Enam Bulan berarti keluar dari waktu biasa yang profan dan masuk ke dalam waktu sakral, yang dihadirkan pada ritus tersebut. Pengakuan bahwa Allah bertindak dalam ruang dan waktu anak negeri Tuhaha, berarti mengakui bahwa Allah yang bergerak dalam kebudayaan mereka. Allah meresap dalam setiap bentuk ekspresi kultural mereka dengan bebas dan ke segala arah. Oleh karena itu. Mangkok Enam Bulan memperoleh kepenuhan maknanya sebagai suatu arena dialektika pergulatan teologis, yang terus-menerus menantang anak negeri Tuhaha untuk mengenal manifestasi Allah dalam waktu dan ruang hidup mereka. Salah satunya dalam narasi-narasi injil, ketika Yesus dalam seluruh hidup dan pelayananNya, memberi pemaknaan baru terhadap tradisi, sekalipun Ia dibesarkan juga oleh Misalnya, tradisi pembasuhan kaki yang Ia lakukan kepada murid-muridNya (Yohanes 13:1-. Nilai keberlanjutan hidup yang termanifestasi dalam refleksi mereka tentang ruang dan waktu memberi makna pembaruan spiritual begitu dalam, yang telah membuka ruang perdamaian antar sesama anak negeri maupun juga dengan alam semesta sebagai ruang hidupnya. Hal tersebut bukan hanya merupakan kecerdasan rasio mereka, tetapi juga kecerdasan batiniah yang terwujud dalam pelayanan mereka terhadap sesama dan alam sebagai satu kesatuan kosmos. Artinya, kesadaran ini menjadikan mereka menyatu dalam batinnya dan memiliki kesadaran yang Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 berkesinambungan terhadap kosmis. Oleh karena itu, seluruh laku dalam Mangkok Enam Bulan, akan bercorak pada pembaruan spiritual dalam diri anak negeri Tuhaha. KESIMPULAN Konsep Mangkok Enam Bulan sebagai tindakan berteologi mewujudkan suatu bentuk keteraturan sosial dan pertahanan keberadaan serta kelestarian kehidupan anak negeri Tuhaha. Nilai-nilai dalam Mangkok Enam Bulan menampilkan integritas nilai-nilai kekristenan yang muncul sebagai cara mereka berteologi semakin kuat dan kokoh dalam gerak hidup anak negeri Tuhaha. Anak negeri Tuhaha menjadi suatu komunitas yang taat dengan keagamaannya (Kriste. , tetapi di sisi lain ritus adat mereka tetap menjadi jiwa dalam realitasnya. Integritas keyakinan ini saling memberi makna satu sama lain, mengarahkan pengetahuan, nilai-nilai, dan tindakan anak negeri Tuhaha dalam memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kebutuhan dan tidak merusaknya, dalam kesadaran bahwa harus dilestarikan keberadaannya. Hal ini berarti mempertahankan kesejahteraan hidup anak negeri Tuhaha dalam jangka panjang. Makna ini ditanamkan dan dijaga dalam totalitas hidup anak negeri Tuhaha, sehingga menjadi keyakinan yang sakral. Dengan kata lain. Ritus Mangkok Enam Bulan di Tuhaha bukan saling melemahkan nilai satu sama lain, tetapi semakin memperkuat mereka sebagai anak negeri Tuhaha dalam totalitas keyakinannya. Ritus Mangkok Enam Bulan merupakan ritual daur hidup dalam konteks masyarakat Tuhaha. Upaya untuk menjaga kelangsungan hidup alam semesta yang berimplikasi kepada kehidupan manusia di masa mendatang merupakan bentuk daur ulang tatanan hidup alam semesta. Daur hidup itu tidak serta merta merombak seluruh tatanan hidup, tetapi lebih kepada menjaga keselarasan dan keseimbangan dalam hidup dari praktek-praktek keserakahan. DAFTAR PUSTAKA