PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2025, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. PENANAMAN KARAKTER ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN I Ketut Alit Feri Saha Putra. Nyoman Ayu Putri Lestari Universitas Triatma Mulya. Indonesia Informasi Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 08-05-2024 Direvisi: 29-12-2024 Dipublikasikan: 31-01-2025 Kata-kata kunci: Pendidikan kewarganegaraan Pendidikan Karakter Metode Sosiodrama ABSTRAK Perkembangan zaman telah membawa pengaruh Ae pengaruh negatif bagi anak bangsa di Indonesia. Dimana terjadinya pelemahan karakter anak bangsa yang ditandai banyaknya kasus Ae kasus negatif yang dilakukan oleh pelajar. Kasus Ae kasus yang kini marak terjadi yaitu mengenai kasus bullying ,tawuran antar, pelecehan seksual, dan penyebaran foto Ae foto serta video tidak senonoh melalui grup oleh siswa. Tujuan artikel ini yaitu untuk memahami serta mengetahui tentang bagaimana cara menanamkan karakter kepada anak SD dengan metode pembelajaran yang interaktif yaitu sosiodrama didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dan kualitatif dengan penekanan pada penelitian Penelitian kepustakaan ini mengacu pada penelitian yang menggunakan bahan pustaka untuk memperoleh data penelitian. Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang tepat guna menanamkan nilai nilai, karakter, budi pekerti serta moral baik dalam kehidupan sehari Ae hari anak melalui pendidikan Pancasila yang ada didalamnya. Dan diterapkannya metode sosiodrama dalam Pendidikan Kewarganegaraan bisa mendukung siswa dalam mencerna materi pembelajaran yang diberikan oleh guru melalui berperan secara langsung dalam permasalahan sosial yang dihadapi. Melalui metode ini juga guru mengajarkan baimana cara anak berperiaku dalam berhubungan sosial. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, metode ini tepat digunakan oleh guru dalam upaya penanaman karakter untuk anak usia Sekolah Dasar. This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: I Ketut Alit Feri Saha Putra. Universitas Triatma Mulya. Indonesia e-mail: alitputr4@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu hal penting dan harus diperoleh seluruh anak Ae anak di Indonesia. Melalui pendidikan anak dapat belajar mengenai hal Ae hal yang berguna bagi dirinya bahkan dapat berguna bagi bangsa dan Negara. Saat ini segala aspek dalam kehidupan mengalami perkembangan yang cukup pesat karena perkembangan teknologi yang semakin canggih. Anak Ae anak saat ini tentu akan terlibat atau dilibatkan dengan perkembangan teknologi ini. Contohnya terlihat dalam pendidikan saat ini, teknologi kian dilibatkan dalam segala kegiatan pembelajaran. Guru kini menggunakan media Ae media pembelajaran berupa video dan kuis. Kemudian tugas Ae tugas, surat - surat atau segala informasi kini dikirimkan melalui wa grup. Dimana dalam hal ini tentu siswa dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan tersebut dengan siswa harus memiliki hanphone untuk proses pembelajaran disekolah. Hal inilah yang kemudian akan membawa pengaruh Ae pengaruh positif serta negatif bagi anak Ae anak. Seperti yang kita ketahui bahwa, pengaruh positif dari penggunaan hanphone bagi anak adalah anak dapat dengan mudah mencari berbagai informasi mengenai pelajaran. Apapun yang dicari google pasti dapat menampilkan jawabannya. Kemudian menambah wawasan anak mengenai berbagai hal yang mereka temui di media sosial, dan menjadi alat berkomunikasi dengan teman untuk membahas mengenai tugas Ae tugas seperti Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK A p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 membahas melalui wa grup atau dapat juga melalui zoom meeting. Akan tetapi, dengan kemudahan tersebutlah kemudian akan membawa pengaruh negatif bagi anak. Seperti yang kita temui pada anak Ae anak sekarang, dimana mereka menjadi malas untuk belajar dan membuka buku. Hal tersebut di karenkan mereka akan lebih cepat menemukan jawaban dengan menanyakannya melalui google tanpa harus repot Ae repot membaca buku. Kemudian dengan handphone konsentrasi anak dalam belajar akan terganggu, dimana siswa akan merasa gelisah dan ingin cepat Ae cepat menggunakan handphone mereka untuk sekedar menonton ataupun bermain Pengaruh negatif lainnya yaitu terlihat pada sikap dan perilaku anak yang kini condong mengarah ke hal Ae hal yang negatif atau buruk. Hal tersebut dapat kita lihat pada pemberitaan di televisi maupun media sosial mengenai kasus yang telah dilakukan oleh para pelajar. Saat ini kasus Ae kasus yang marak terjadi yaitu mengenai kasus bullying disekolah maupun dimedia sosial melalui komentar Ae komentar yang menghina seseorang. Kemudian kasus lainnya yaitu tawuran antar pelajar yang dikarenakan oleh permasalahan yang dianggap sepele, kasus narkoba yang melibatkan para pelajar, kasus pelecehan seksual dan penyebaran foto Ae foto serta video tidak senonoh melalui grup oleh para Contoh kasus saat ini yang dilakukan oleh pelajar di Indonesia yaitu pembullyan. Sukabumi - Kasus kekerasan yaitu perundungan atau bullying terjadi kembali di Sukabumi. Jawa Barat. Kini , korban yang mengalami perundungan merupakan seorang anak yang kelas 3 Sekolah Dasar (SD) di Kota Sukabumi mengalami patah lengan kanan. NCS . diduga didorong teman sekelasnya yang mengakibatkan korban terjatuh dan mengalami patah tulang. Banyaknya kasus Ae kasus yang dilakukan oleh pelajar mrupakan sebuah tanda dari lemahnya karakter pada anak Ae anak di Indonesia. Karakter merupakan suatu nilai Ae nilai baik yang ada dalam diri setiap manusia yang mampu mengatur manusia agar mampu berprilaku sesuai dengan karakter yang tertanam dalam dirinya. KBBI mengartikan karakter sebagai Auwatak, tabiat, sifat kejiwaan, dan akhlak yang mampu menjadi pembeda antara satu orang dengan orang lainnya (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,2. Karakter ini memiliki arti yang sama dengan moralitas. Moralitas adalah keadaan pikiran, perasaan batin, bahasa, dan tindakan seseorang yang berkaitan dengan nilai-nilai baik atau nilai-nilai buruk ( Jamal MaAomur Asmani, 2. (Dalam samrin. Nilai-nilai baik itu antara lain nilai toleransi, disiplin, tanggung jawab, perhatian, gotong royong, solidaritas, sopan santun, jujur, disiplin, dan saling menghargai. Nilai Ae nilai baik inilah yang harus ditanamkan kepada anak nantinya untuk menciptakan generasi bangsa yang berkarakter. Sekolah merupakan tempat yang paling tepat untuk mengajarkan anak mengenai karakter yang baik bagi dirinya. Sekolah dasar merupakan masa emas dimana anak-anak diajarkan nilai-nilai karakter yang akan menjadi landasan masa depannya dan masa depan bangsa Indonesia (Anatasya & Anggareni Dewi, 2. Melalui sekolah anak akan lebih banyak mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Dalam upaya penanaman karakter pada siswa sekolah dasar, pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang cocok untuk membentuk siswa menjadi anak cerdas dan berkarakter. Dimana dalam mata pelajaran tersebut berisi mengenai bagaimana cara kita berprilaku yang baik sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat sehari Ae hari. Tujuan dari pendidikan kewarganegaraan ini adalah untuk memberi pengetahuan dan karakter yang baik kepada anak agar dapat diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dari banyaknya kasus Ae kasus yang terjadi dikalangan pelajar yaitu kasus yang menyimpang dengan nilai Ae nilai karakter bangsa. Maka, peneliti beranggapan bahwa lingkungan sekolah turut berpengaruh besar terhadap fenomena tersebut. Hal tersebut dapat timbul dari kurang tepatnya penerapan atau pemilihan dari metode pembelajaran. Jika metode pembelajaran yang diterapkan tidak merangsang minat belajar siswa, berarti isi pelajaran belum terserap seluruhnya oleh siswa. Oleh karena itu, cara atau metode yang cocok diterapkan guru untuk mengembangkan aktivitas belajar anak adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa, dimana siswa sendiri dapat mencari juga menemukan pengetahuan dari Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ini sendiri sangatlah cocok dengan metode pembelajaran yang memusatkan proses pembelajaran pada siswa . erpusat pada sisw. Hal tersebut dikarenakan guru akan mengajarkan pendidikan penanaman karakter pada anak sekolah dasar yang dimana hal tersebut haruslah dapat dipraktekan secara langsung. Adapun metode yang pembelajarannya berpusat kepada siswa yang tepat untuk materi penanaman karakter ini yaitu metode sosiodrama, yang dimana metode ini memerlukan peran aktif siswanya dalam pembelajaran di kelas. Dimana pada metode ini siswa kemudian dapat membuat naskahnya sendiri secara berkelompok dan mempresentasikannya bersama-sama di depan kelas. Metode ini tepat untuk menjadikan siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dikelas, dan juga sangatlah cocok untuk menumbuhkan kreativitas siswa dalam mengungkapkan pikiran dan gagasan siswa melalui gerak Ae gerak dalam drama. Disini guru hanya memberi petunjuk atau pengarahan kepada siswa mengenai tugastugas yang diberikan. Metode sosiodrama adalah metode pembelajaran berupa bermain peran, dimana melibatkan para siswa untuk memerankan tokoh-tokoh yang ada pada cerita. Sudjana berpendapat bahwa metode sosiodrama adalah metode pembelajaran di sekolah dasar yang mengikutsertakan siswanya untuk bermain peran yang PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2025: 59 - 67 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 terfokus pada pemecahan suatu permasalahan di lingkungan sosial (Sari et al. , 2. Cerita yang diangkat oleh guru haruslah cerita yang berkaitan dengan isu-isu sosial yang ada di kehidupan sehari-hari. Alasan memilih metode sosiodrama adalah karena metode ini melibatkan siswa secara aktif dan memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi permasalahan sosial. Dengan berperan dalam cerita, siswa tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga merasakan secara emosional dan mempraktikkan nilai-nilai positif. Hal ini relevan untuk menanamkan karakter baik, seperti empati, kerja sama, tanggung jawab, dan sikap toleransi. Melalui metode ini, guru secara tidak langsung mengajarkan siswa untuk mengenali, memahami, dan mencari solusi atas permasalahan sosial yang ada. Dengan demikian, karakter baik akan tertanam secara perlahan dalam diri setiap anak, membentuk generasi muda yang berintegritas dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Maka dalam upaya mengatasi hal Ae hal diatas , pada artikel ini penulis akan membahas mengenai apa itu Pendidikan Kewarganegaraan? Apa itu karakter? Dan bagaimana cara menanamkan karakter pada anak SD yang membuat siswa mampu mempraktekannya pada kehidupan sehari Ae hari yaitu dengan menggunakan metode sosiodrama. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif deskriptif Ae kritis dimana penelitian ini akan lebih menekankan pada penelitian library research. Library Reseach adalah jenis penelitian yang dalam penerapannya akan menggunakan sumber atau bahan yang berasal dari perpustakaan untuk mendapatkan suatu data penelitian. Dimana yang menjadi target atau subjek dari penelitian ini yaitu berupa data-data seperti jurnal penelitian, buku - buku, laporan penelitian yang memiliki keterkaitan dengan topik, karakter, sosiodrama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Data penelitian ini berdasarkan data dari berbagai karya ilmiah seperti laporan penelitian, buku, dan jurnal. Dimana peneliti mengumpulkan data penelitian dari berbagai jenis bahan ilmiah yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pendidikan Kewarganegaraan Pendidikn Kewarganegaraan di sekolah dasar merupakan suatu program dari pendidikan yang berisikan mengenai pembelajaran tentang nilai-nilai pada Pancasila. Tujuannya adalah untuk mengembangkan dan memelihara nilai Ae nilai luhur, moral, serta karakter bangsa yang berakar pada kebudayaan bangsa,dan menjadi wujud jati diri yang diharapkan untuk diterapakan dalam bentuk perilaku keseharian siswa dalam menjalani kehidupan bermasyarakat (Magdalena et al. , 2. Penjelasan Pasal 39 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 menyatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah suatu usaha yang dilakukan untuk membekali siswa dengan pengetahuan Ae pengetahuan serta keterampilan dasar terkait perilaku bela negara. Hal tersebut bertujuan untuk menjadikan warga negara yang nantinya mampu untuk diandalkan oleh bangsa dan Negara. Pendidikan Kewarganegaraan ini merupakan suatu mata pelajaran yang diwajibkan muncul dalam setiap jenjang - jenjang pendidikan di Indonesia. Dimana mata pelajaran ini wajib untuk diajarkan dari jenjang SD. SMP, hingga SMA. Dimana hal tersbut sudah dinyatakan pada Pasal 37 Ayat . Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yaitu Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) merupakan mata pelajaran wajib yang dimuat dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan juga sekolah menengah. Hal tersebut dikarenakan dalam mata pelajara Pendidikan Kewarganegaraan ini memuat aspek Ae aspek yang penting mengenai cara berprilaku seseorang dalam menjalani kehidupan sehari Ae hari sebagai warga negara sesuai dengan nilai Ae nilai dalam Pancasila. Menurut pendapat Nashar yang menyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki fungsi sebagai pendidikan nilai dan moral, yaitu pelajaran yang menosialisasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila/kebudayaan nasional serta membentuk akhlak dan moral anak sesuai dengan nilai-nilai tentang falsafah atau filosofi hidup mereka (Parawangsa et al. , 2. Pedagogi Pancasila menekankan pada moralitas yang harus diwujudkan dalam keseharian siswa, yaitu perbuatan yang mencerminkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai kalangan agama, dan perbuatan yang dilakukan secara adil dan beradab fokus pada tindakan manusiawi dan mendukung bangsa. Tindakan yang mendukung persatuan dan demokrasi dalam masyarakat yang berbeda budaya dan kepentingan yang berbeda, mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan kelompok, serta memungkinkan perbedaan pandangan, pendapat, dan kepentingan diselesaikan dengan jalan musyawarah dan mufakat serta tindakan yang mendukung usaha tersebut untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Putra et al. Penanaman Karakter Anak . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Pendidikan Kewarganegaraan pada jenjang Sekolah Dasar berisi mengenai beragam pembentukan diri pada anak mulai dari pendidikan mengenai agama, suku, budaya, sosial, hingga mengenai pemerintahan. Dimana dalam usianya yang masih anak Ae anak merupakan usia yang sangat tepat untuk menenamkan nilai Ae nilai dari karakter serta moral yang baik sebagai bekal bangsa Indonesia dimasa depan. Berdasarkan dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 yaitu mengenai Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan juga Menengah PPKN merupakan pelajaran yang mengutamakan kepada pembentukan warga negara yang paham dan mampu melaksanakan suatu hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi seorang warga negara Indonesia yang cerdas, kreatif, terampil, dan berkarakter sesuai dengan yang diamanatkan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (Anatasya & Anggareni Dewi, 2. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang menanamkan nilai - nilai, karakter serta moral yang baik pada siswa dalam menjalani kehidupan sehari Ae harinya melalui pendidikan Pancasila. Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting didapatkan pada usia anak SD , dimana usia tersebut merupakan usia emas anak untuk menanamkan nilai Ae nilai karakter sehingga akan menciptakan generasi muda berkarakter sebagai bekal untuk masa depan bangsa dan negara. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Karakter adalah nilai-nilai yang tertanam dalam diri setiap individu yang mempengaruhi perilaku dan tindakan mereka sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai "watak, tabiat, sifat kejiwaan, akhlak yang baik, atau berbudi pekerti yang menjadi pembeda seseorang dengan orang lainnya" (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2. Kemendiknas mendefinisikan karakter sebagai kepribadian atau tabiat yang timbul dari internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini, dan menjadi dasar cara pandang, pemikiran, sikap, serta tindakan individu tersebut. Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, kepercayaan, dan rasa hormat terhadap sesama merupakan contoh kebajikan yang membentuk karakter tersebut (Indra Kurniawan, 2. Pembentukan karakter anak merupakan salah satu tujuan utama pendidikan nasional. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar memiliki kecerdasan intelektual, kepribadian yang baik, budi pekerti, dan akhlak mulia. Tujuan ini bertujuan untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam karakter bangsa Indonesia. Sudrajad (Indrastoeti, 2. menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem yang menanamkan nilai-nilai tertentu pada diri peserta didik, dengan komponen yang mencakup pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan perilaku untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Di sekolah, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan secara formal, tetapi juga melalui interaksi dengan lingkungan rumah dan masyarakat sekitar. Teori Karakter dan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Nilai-nilai karakter yang diajarkan di sekolah dasar berkaitan erat dengan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Karakter dapat dikenali dari perilaku seseorang dalam hubungan mereka dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa, yang tercermin dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan tindakan mereka, berdasarkan norma agama, hukum, adat, kesusilaan, estetika, dan budaya. Seseorang yang berkarakter baik adalah mereka yang berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut, yang juga mencakup lima nilai inti pendidikan karakter, yaitu: Nilai Religius: Tercermin dalam sikap keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan diaplikasikan dalam tindakan nyata, seperti menghargai ajaran agama dan keyakinan orang lain, serta hidup rukun dengan agama lain. Nilai Nasionalis: Menyatakan kesetiaan, kepedulian, dan rasa hormat terhadap bangsa dan negara, dengan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau Nilai Integritas: Berkaitan dengan kejujuran dan tanggung jawab dalam segala tindakan, dengan menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Nilai Mandiri: Mendorong peserta didik untuk memiliki kemandirian dalam mencapai tujuan dan cita-citanya melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat juang. Nilai Gotong Royong: Menekankan pentingnya kerja sama, saling menghormati, serta peduli terhadap orang lain dan lingkungan. PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2025: 59 - 67 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Belakangan ini, banyak kasus kenakalan remaja yang mencerminkan penyimpangan dari nilainilai karakter yang diajarkan. Penyimpangan seperti intoleransi, pelanggaran norma sosial, diskriminasi, dan kekerasan sering terjadi di kalangan siswa. Hal ini menuntut sekolah untuk berperan aktif dalam membentuk karakter siswa menjadi lebih baik. Dengan pendidikan karakter yang baik sejak dini, diharapkan dapat mengurangi kasus-kasus tersebut dan membentuk generasi muda yang lebih baik. Pendidikan karakter sangat penting diterapkan sejak usia dini, terutama di Sekolah Dasar, karena karakter yang tertanam pada usia anak akan terus terbawa hingga dewasa, dan sulit untuk Oleh karena itu, implementasi pendidikan karakter yang berbasis pada teori karakter dan nilai-nilai tersebut akan membentuk pribadi siswa yang berintegritas, mandiri, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan negara di masa depan. Penerapan Metode Sosiodrama dalam Penanaman Karakter Anak Sekolah Dasar Sosiodrama merupakan teknik kelompok terapi yang dikembangkan oleh J. Moreno, perluasan dari psychodrama miliknya. Dasar utama metode ini tentu adalah drama. Diman nanti nya dalam metode ini beberapa orang atau individu akan terlibat didalam pertunjukkan drama dengan tujuan untuk mempelajari dan memperbaiki permasalah yang timbul dalam hubungan manusia dengan sosial dan kelompoknya (Ahyani & Dhania, 2. Sudjana menyatakan bahwa metode sosiodrama adalah suatu metode pembelajaran yang mengajak para peserta didik untuk melakukan permainan peran dimana metode ini lebih menekankan pada bagaimana pemecahan atau solusi dari permasalahan sosial (Sari et al. , 2. Kemudian Erawan dalam (Agnia & WRR Hayu, 2. menyatakan bahwa metode sosiodrama merupakan metode pembelajaran yang dilaksanakan melalui cara mendramatisir perbuatan dan tindakan seseorang dalam berhubungan sosial. Metode sosiodrama yakni suatu drama yang pementasannya tanpa menggunakan naskah dan dipenankan atau dimainkan oleh peserta didik secara berkelompok, dimana permasalahan cukup diceritakan secara ringkas atau singkat (Hardini, 2. Menurut Zuhairini dalam (Asih Suprapti, 2. yakni bentuk metode mengajar dengan mendramatisir/memerankan mengenai bagaimana cara bertingkah laku seseorang dalam hubungan Sosiodrama merupakan salah satu bentuk pendidikan yang mampu memberikan peluang kepada peserta didik untuk memainkan peran tertentu dalam kehidupan bermasyarakat . ehidupan Dari sini dapat disimpulkan bahwa metode sosiodrama adalah metode pengajaran yang melibatkan siswa dan menggunakan permainan peran dengan pendampingan guru, dimana cerita yang didramatisasi diambil dari permasalahan sosial sehari-hari. Kemudian metode sosiodrama pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan merupakan permainan edukasi yang membantu menjelaskan emosi, sikap, perilaku dan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat, dengan tujuan untuk memahami emosi, cara pandang dan nilai-nilai Dengan berpikir seperti orang lain, dengan menempatkan diri Anda pada posisi orang lain. Teknik dalam sosiodrama dilakukan secara spontan oleh siswa tanpa naskah yang telah disiapkan, sehingga ideal untuk strategi pemecahan masalah. Menurut Sudjana . 3: 90-. , metode pembelajaran sosiodrama menuntut siswa untuk menghargai dan menghargai perasaan orang lain. Metode sosiodrama juga mendorong siswa untuk mengembangkan rasa tanggung jawab pribadi siswa. Selain itu tujuan Ae tujuan dari sosiodrama adalah sebagai berikut : Siswa mampu memahami serta merasakan perasaan yang dialami orang lain. Siswa mampu berbagi tanggung jawab dengan temannya . Siswa mampu menghormati dan menghargai pendapat yang diberikan orang lain. Siswa mampu menentukan dan mengambil sebuah keputusan dalam kelompoknya. Siswa mampu meningkatkan hubungan social dengan sesame temannya. Siswa mampu mengenali nilai dan sikap yang baik dan buruk. Siswa mampu mengatasi atau memperbaiki sikap-sikap yang salah dari drama tersebut. Dalam metode sosiodrama diharapkan tujuan Ae tujuan diatas mampu tersalur dengan baik kepada siswa. Seperti siswa yang ikut dalam berperan dan memerankan suatu karakter, ia akan ikut merasakan apa yang karakter rasakan. Mereka akan mengetahui jika mereka bersikap seperti demikian maka dapat membuat perasaan orang lain menjadi senang atau sedih. Kemudian peserta didik dapat mengembangkan nilai tanggung jawab yang mereka miliki dengan ikut mempersiapkan diri mengikuti drama tersebut. Entah peserta didik berlatih dengan karakter yang dia dapatkan atau mereka akan mempersiapkan sarana dan prasarana yang mereka perlukan. Dengan begitu masing Ae Putra et al. Penanaman Karakter Anak . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 masing peserta didik memiliki tanggung jawabnya dalam berdrama. Dalam berdramapun kita tentu harus meminta pendapat serta saran dengan orang lain mengenai alur cerita atau karakter yang akan dimainkannya sehingga disini akan ada banyak pendapat dan peserta didik harus memutuskan pendapat mana yang akan diambil dan menghargai keputusan tersebut. Sehingga dengan melaksanakan metode sosiodrama ini peserta didik mampu memperbaiki hubungan sosialnya, mengenali nilai serta sikap yang mereka miliki dan dapat menerapkan sikap yang baik dan memperbaiki sikap sikap yang salah. Dalam penerapan metode sosiodrama ini guru akan terlebih dahulu memilih suatu permasalahan sosial yang ada dikehidupan sehari Ae hari. Dimana permasalahan yang diambil diutamakan permasalahan sosial yang sering terjadi dalam lingkup pelajar. Adapun contohnya yaitu seperti perundungan atau bullying, pelecehan seksual, penyebaran foto atau video tidak senonoh, narkoba, tawuran antar pelajar. Adapun beberapa sikap karakter yang harus ada dalam drama dan harus diteladani oleh anak pada jenjang SD yaitu. Nilai hubungan dengan Tuhan YME Nilai agama dalam hal ini adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang secara konsisten berdasarkan nilai ketuhanan dan ajaran agama yang dianutnta. Nilai tersebut berupa menghargai perbedaan agama setiap orang, menjungjung tinngi toleransi terhadap seseorang yang sedang menjalankan atau melaksanakan ibadahnya, saling menjalin kerukunan dengan orang yang berbeda agama. Nilai hubungannya dengan sesama Dalam kehidupan kita selalu berdampingan dengan manusia atau orang lain, manusia tidak dapat hidup sendiri atau perlu manusia lain dalam hidup mereka. Maka dari itu, penting bagi siswa untuk menjalin hubungan baik kepada sesamanya yaitu dengan cara sebagai berikut, . Dapat menghargai hak dan kewajiban orang lain. Selalu taat terhadap peraturan sosial. Berperilaku dengan sopan dan santun. Mampu menghargai hasil karya dan prestasi yang diraih orang lain. Mampu berdemokrasi. Nilai hubungannya dengan diri sendiri . Sabar Kesabaran merupakan kualitas utama yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Kesabaran adalah sebuah kemampuan seseorang dalam hal menahan diri untuk tidak melakukan tindakan tertentu seperti, marah, benci, dendam, mudah menyerah, mengeluh, melatih diri sendiri supaya selalu taat, dan tidak ganas untuk bertindak . Jujur Nilai kejujuran adalah keberanian seseorang dalam mengungkapkan isi hati atau suatu hal sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kejujuran ini dapat ditumbuhkan oleh komitmen seseorang dalam menyelesaikan tugas dengan usaha sendiri dan kemampuan menahan godaan untuk tidak melanggar hak/harta orang lain . Integritas Integritas merupakan suatu kemampuan seseorang dalammelaksanakan tugas yang diberikan secara tuntas dan penuh dedikasi. Integritas juga merupakan kesatuan pikiran, perkataan, dan tindakan yang selaras dengan norma dan hukum yang berlaku. Adil Sikap adil adalah sikap yang tidak membeda Ae bedakan perlakuan terhadap seseorang atau memperlakukan semua orang dengan sama. Dengan nilai ini maka diharapka peserta didik mampu membina hubungan yang baik dengan sesamanya tanpa ada deskriminasi . Pemberani Pemberani adalah rasa percaya diri seseorang dalam menghadapi suatu hal seperti masalah atau tantangan. Mengembangkan sifat berani dapat diajarkan pada siswa dengan PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2025: 59 - 67 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 memberikan tugas-tugas sulit kepada anak seperti, keberanian bertanya, mengemukakan pendapat, menawarkan kesempatan, menunjukkan keterampilan, dan lain-lain. Pembelajar Menumbuhkan rasa keiingin tahuan anak yaitu dengan kegiatan sehari-hari yang dapat dilakukan di mana saja sehingga siswa dapat belajar mengenai segala hal. Belajar merupakan suatu kegiatan yang penting sekali untuk seorang anak bahkan untuk orang Karena dengan belajar anak akan mengetahui tentang apa saja yang baik dan benar, boleh atau tidak boleh. Kerja keras Kerja keras adalah sikap seseorang yang tekun dan ulet saat mengerjakan sesuatu. Kemampuan ini cocok diterapkan untuk bekerja sama dengan orang lain sekaligus melakukan koordinasi tugas dengan teman satu tim Nilai hubungan dengan lingkungan . Peduli dengan lingkungan. Perasaan yang membuat anak bersikap selalu ingin menghindari kerusakan lingkungan hidup, selalu berusaha memperbaiki kerusakan lingkungan hidup apabila terjadi bencana, dan selalu menjaga alam agar tetap lestari. Peduli terhadap hubungan sosial. Sikap selalu memberikan bantuan dan menolong orang yang benar-benar sedang kesusahan yang membutuhkan pertolongan atau bantuan. Menghargai keberagaman dan perbedaan. Merupakan sikap seseorang yang mampu menghormati dan menghargai perbedaan dalam keberagaman budaya, agama, adat istiadat dan lain hal. Nilai kebangsaan Nilai ini merupakan sikap yang seseorang yang selalu akan mengutamakan atau memprioritaskan kepentingan bangsa dan negaranya diatas kepentingan pribadi. Langkah Ae langkah yang ditempuh apabila menggunakan metode sosiodrama ini yaitu Menurut Yahya dalam (Pipi & Program StudiPendidikanAnakUsiaDini FKIP Untan Pontianak. Menyatakan langkah-langkah atautahapat yang ditempuh guru dan siswa dalam menerapkan metode sosiodrama ini yaitu, . Tahap Persiapan. Pada tahap ini. Engkoshwara mengatakan dalam Segala syaiful menyatakan bahwa sebelum mementaskan drama, yang terlebih dahulu dilakukan memutuskan pokok permasalahan yang akan didramatisasi, menentukan pemerannya, dan mempersiapkan siswa sebagai pendengar yang akan menyaksikan perkembangan cerita tersebut hal itu perlu dilakukan. Permasalahan yang akan didramatisasi dipilih secara bertahap, dimulai dari masalah mudah dan diakhiri dengan masalah yang sedikit lebih sulit dan bervariasi pada babak kedua. Ingat juga bahwa permasalahan yang disajikan harus menarik perhatian siswa, dan konteks permasalahan yang disajikan harus sesuai dengan usia siswa. Seperti dalam materi penanaman karakter ini alangkah baiknya guru mengambil permasalahan yang terjadi dalam lingkup para pelajar yaitu seperti bulliying dan kasus lainnya. Dimana dalam permasalahan bulliying tersebut mengandung nilai Ae nilai karakter yaitu saling menghargai, bersikap adil, setia kawan, dan peduli social. Tahap pelaksanaan. Setelah tahap persiapan selesai, siswa diharuskan mendramatisasi permasalahan yang diperlukan dalam waktu selama kurang lebih 4-5 menit berdasarkan pendapat dan saran yang diberikan. Dalam hal ini siswa akan memperagakan hasil karyanya sesuai dengan saran dan masukan yang diberikan oleh guru. Tahap Tindak Lanjut Sesuai dengan pernyataan Sudjana bahwa, jika penampilan dari sosiodrama telah usai dan berakhir, maka diperlukan suatu upaya tindak lanjut dari guru dan siswa yaitu dengan alternative berdiskusi. Engkoswara . alam Tariga. menyatakan bahwa Putra et al. Penanaman Karakter Anak . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 sosiodrama adalah metode pembelajran yang dalam pelaksanaanya tidak hanya berakhir pada pementasan dramatisasi semata, melainkan juga hendaknya dapat dilanjutkan dengan menentukan masalah apa yang ada pada drama tersebut. Jadi, para siswa yang akan melakukan drama harus mampu memilih drama yang akan diangkat. Dimana masalah tersebut harus diketahui oleh para pemain dan juga oleh pengamat. Masalah yang diambil haruslah valid, jelas dan juga sederhana, karena ini akan diterapkan oleh siswa Sekolah Dasar. Kemudian pada tahap ini guru mendiskusikan dengan para pemain atau siswa mengenai aspek Ae aspek apa saja yang perlu dihindari yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan terhadap tujuan yang sebenarnya ingin dicapai yaitu melalui guru melakukan tanya jawab, berdiskusi, mengkritik, dan menganalisis persoalan bersama Dan apabila dirasa perlu diulang, peserta didik lainnya diberikan kesempatan untuk mengulang kembali peranan yang dimainkannya tersebut dengan maksimal. Sebagai tindak lanjutnya, guru dapat melakukan kegiatan mengevaluasi atau menjawab pelaksanaan sosiodrama dan memberikan kesempatan seluas Ae luasnya kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang hasil sosiodrama yang telah dilaksanakan. Metode sosiodrama ini dapat melatih anak mendramatisasi sesuatu dan melatih keberanian Metode pembelajaran ini menarik perhatian anak, menjadikan suasana kelas menjadi hidup, dan memungkinkan siswa mengapresiasi apa yang terjadi. Untuk membantu siswa menarik kesimpulan berdasarkan pemahamannya sendiri. Misalnya, nilai-nilai karakter mana yang patut dan tidak boleh ditiru oleh siswa. Selanjutnya, anak diajarkan untuk mengatur pikirannya secara teratur. Siswa dapat belajar dari pengalaman baru dengan mengevaluasi ingatan dan pemahamannya sendiri. Dalam melakukan kegiatan sosiodrama terjadi hubungan komunikatif antar anggota kelompok, dan pemahaman terhadap topik yang dibicarakan muncul melalui diskusi dan tanya jawab antar anggota Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode sosiodrama yaitu metode pembelajaran yang menarik, yang mampu membantu siswa untuk memahami materi yang diajarkan oleh guru melalui berperan secara langsung dalam permasalahan sosial yang dihadapi. Dengan siswa mengalami suatu permasalahan secara langsung disinilah kemudia akan muncul pembelajaran yang memberikan makna kepada siswa. Dimana melalui metode pembelajaran ini secara tidak langsung guru juga mengajarkan baimana cara kita berperiaku dalam berhubungan sosial sesuai dengan nilai karakter yang ada. Sehingga dengan demikian metode sosiodrama bisa digunakan oleh guru dalam usaha penanaman karakter untuk anak usia Sekolah Dasar. SIMPULAN Berdasarkan pemaparan diatas, maka diperoleh hasil simpulan yaitu Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang menanamkan nilai karakter serta moral baik dalam kehidupan sehari Ae hari melalui pendidikan Pancasila yang ada didalamnya. Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting didapatkan pada usia anak SD , dimana usia tersebut merupakan usia emas anak untuk menanamkan nilai Ae nilai karakter sehingga akan menciptakan generasi muda berkarakter sebagai bekal masa depan bangsa dan Negara. Metode sosiodrama adala metode pengajaran dengan bermain peran yang melibatkan para siswa,didampingi oleh guru dimana cerita yang didramakan diambil dari masalah Ae masalah sosial di kehidupan sehari Ae hari. Dengan metode sosiodrama yang diterapkan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dapat membantu siswa dalam mereka memahami materi yang diberikan oleh guru melalui berperan secara langsung dalam permasalahan sosial yang dihadapi. Melalui metode ini juga guru mengajarkan baimana cara kita berperiaku dalam berhubungan sosial. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, metode ini tepat digunakan oleh guru dalam upaya penanaman karakter untu anak usia Sekolah Dasar. DAFTAR PUSTAKA