Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. Vol. Issue 2, . DOI: xx. x/x p-ISSN: 2528-3928 e-ISSN: 3032-713X Analisis Efektivitas Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Dalam Mempermudah Pembayaran (Studi Pada UMKM Desa Cibeureu. Ende Riki PermanaA. Yogi Sugiarto Maulana2. Asep Endri Mulyana3. Bian Lazuardi4* 1,2,3,4 Administrasi Bisnis. STISIP Bina Putera Banjar. Indonesia Email: enderiki. stisip@gmail. Received: January 25, 2025 Revised: February 27, 2025 Accepted: March 3, 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam mempermudah pembayaran pada Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Cibeureum Kecamatan Banjar Kota Banjar. Penelitian ini mengkaji dan mendeskripsikan analisis efektivitas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam mempermudah pembayaran pada Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) di Desa Cibeureum Kecamatan Banjar Kota Banjar dengan menggunakan teori efektivitas dengan menjelaskan faktor-faktor Usefulness dan Ease Of Use menurut Waluyo dalam Murniarty untuk mengukur program QRIS dalam penggunaan metode pembayaran non-tunai. Metode penelitian menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sebagai teknik pengumpulan data menggunakan beberapa cara yaitu diantaranya wawancara mendalam dengan informan, dokumentasi serta sumber data lainnya. Teknik pengambilan informan menggunakan Teknik Purposive Sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa meskipun QRIS dirancang untuk menyederhanakan proses penjualan, banyak konsumen masih kesulitan menerapkannya karena kurangnya literasi digital dan masalah infrastruktur. Selain itu, penggunaan internet di beberapa wilayah Desa Cibeureum masih lambat karena infrastruktur yang tidak stabil. Oleh karena itu, penggunaan QRIS dianggap sebagai solusi yang baik untuk meningkatkan efektivitas proses penjualan, namun masih menemukan banyak tantangan yang dihadapi konsumen dan pelaku UMKM dalam menggunakan QRIS. Kata Kunci: Efektifitas. Pembayaran. QRIS. UMKM. Abstract This research aims to evaluate the effectiveness of using the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) in facilitating payments for Micro. Small and Medium Enterprises (MSME. in Cibeureum Village. Banjar District. Banjar City. This research examines and describes an analysis of the effectiveness of using the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) in facilitating payments for Micro. Small and Medium Enterprises (MSME. in Cibeureum Village. Banjar District. Banjar City using effectiveness theory by explaining the Usefulness and Ease Of Use factors. according to Waluyo in Murniarty to measure the QRIS program in the use of non-cash payment methods. The research method uses a qualitative research type with a descriptive approach, as a data collection technique using several methods, including in-depth interviews with informants, documentation and other data sources. The technique for taking informants uses Purposive Sampling Technique. The analytical method used is the descriptive analysis method. The research results found that although QRIS was designed to Homepage journal: https://jurnal. id/index. php/ADBIS Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. simplify the sales process, many consumers still have difficulty implementing it due to lack of digital literacy and infrastructure problems. Apart from that, internet usage in several areas of Cibeureum Village is still slow due to unstable infrastructure. Therefore, using QRIS is considered a good solution to increase the effectiveness of the sales process, but there are still many challenges faced by consumers and MSMEs in using QRIS Keywords: Effectiveness. Payment. QRIS. MSMEs. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi pada zaman modern ini sudah semakin pesat, semakin berkembangnya zaman semakin canggih juga teknologi yang dihasilkan. Hal ini membuat manusia semakin dimudahkan dengan adanya alat-alat teknologi yang canggih untuk membantu dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Berkembagnya teknologi saat ini tidak juga hanya membawa dampak positif bagi kehidupan Masyarakat, melainkan juga membawa dampak negatif. Namun apabila sebagai pengguna pun harus bida bijak dalam menggunakan teknologi yang memang harus bisa benar- benar jeli dan digunakan dengan sebaik mungkin untuk hal yang positif. Dengan banyaknya dompet-dompet digital bermunculan dapat menurunkan tigkat keamanan serta pengawasan di bidang jasa keuangan, dan dapat menimbulkan permasalahan jika tidak terus diawasi dan tidak ada pengawasan secara langsung. Oleh karena itu Bank Indonesia melakukan inovasi baru untuk mengejar perkembangan teknologi tersebut yaitu tepatnya pada tahun 2019. Bank Indonesia sebagai otoritas tertinggi yang mengatur perbankan di Indonesia meluncurkan fitur baru yaitu QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. Dengan adopsi yang terus meningkat. QRIS di Indonesia tidak hanya menjadi metode pembayaran yang popular tetapi juga menjadi alat penting dalam mendorong ekonomi digital serta inklusi keuangan di seluruh Indonesia. Transaksi yang menggunakan Kode QR Standar Indonesia (QRIS) meningkat pesat selama pandemi Covid-19. Bank Indonesia mencatat hingga 30 Desember 2020. QRIS telah terhubung dengan sekitar 5,8 juta pedagang ritel nasional. Jumlah ini meningkat 88% dibandingkan 22 Maret 2020 yang berjumlah 3,1 juta merchant. Mayoritas pedagangnya adalah UMKM drngan rincian sebanyak 3,6 juta usaha mikro dan 1,3 juta usaha kecil. Usaha kecil juga mengalami peningkatan penggunaan QRIS tertinggi, naik 316% dari 304. 400 pada 22 Maret 2020. Sedangkan pengguna QRIS untuk merchant lainnya adalah usaha besar 310. 700, usaha menengah 558. dan donasi/sosial 14. BI mengatakan melalui QRIS, digitalisasi UMKM akan dipercepat untuk mendukung inklusi perekonomian dan keuangan tanah air, termasuk ketersediaan data UMKM yang selama ini menjadi salah satu penghambat perkembangan UMKM. Hal tersebut diharapkan dapat membantu setiap UMKM di Kota Banjar dalam mempermudah metode pembayaran dan dapat pula meningkatkan penjualannya. Dengan jumlah UMKM yang terus meningkat, dan digitalisasi teknologi yang terus berkembang, pihak pemerintah Kota Banjar berharap agar semua UMKM dapat memanfaatkan QRIS dalam Namun pada kenyataannya. UMKM yang menggunakan QRIS dalam operasionalnya masih dibawah harapan, bahwa sedikitnya masih kurang dari 50% UMKM di Kota Banjar yang telah menggunakan QRIS. Salah satu daerah dengan UMKM yang menggunakan QRIS yaitu Desa Cibeureum Kecamatan Banjar. Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. LANDASAN TEORI Menurut Hariyanti & Wirapraja, seseorang atau figur dalam media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak atau signifikan, dan hal yang mereka sampaikan dapat mempengaruhi perilaku dari pengikutnya disebut Influencer Instagram. Influencer adalah figur yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan pembelian orang lain karena otoritas, pengetahuan, posisi, atau hubungannya dengan audiensnya. Pengaruh yang diberikan oleh seorang influencer terhadap keputusan pembelian konsumen akan sangat besar, jika pemilik bisnis melakukan kegiatan endors yang tepat dan efektif. Endorsement atau endorse dalam influencer adalah bentuk iklan atau promosi yang dilakukan oleh mereka yang dianggap public figure. Sederhananya, influencer adalah seseorang yang bisa memberikan pengaruh di masyarakat. Contohnya seperti selebriti, blogger, youtuber, ataupun seorang public figure yang dianggap penting di komunitas tertentu. Dalam kasus influencer di media sosial seperti Instagram, para influencer ini dianggap orang terkenal dan bisa mempengaruhi banyak orang karena memiliki ratusan ribu pengikut atau follower, bahkan jutaan pengikut. Selain mengenalkan suatu produk dalam melakukan endors kepada konsumen atau masyarakat, endors juga bisa meyakinkan para konsumen atau masyarakat dalam memilih dan membeli produk yang ditawarkannya. Menurut Sangadji dan Sopiah . mendefinisikan : AuKeputusan pembelian konsumen adalah diawali dengan ragsangan yang kemudian dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti faktor sosial, budaya, pribadi, dan psikologi, dan mempengaruhi konsumen dalam pemilihan produk dengan merek tertentuAy. Keputusan pembelian merupakan suatu keputusan final yang dimiliki seorang konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa dengan berbagai pertimbangan- pertimbangan tertentu. Keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen menggambarkan seberapa jauh pemasar dalam usaha memasarkan suatu produk ke konsumen. Bauran komunikasi pemasaran yang dilakukan suatu perusahaan adalah bertujuan untuk mengkomunikasikan mengenai produk yang dihasilkan oleh perusahaan kepada konsumen. Menurut Kotler dan Keller . Menurut Shimp . , "Endorsement adalah orang yang menggunakan jasa endorser yang artinya adalah pendukung iklan atau bintang iklan untuk mendukung iklan Dalam hal ini selebgram merupakan endorser yang bertugaskan untuk mempromosikan produk atau jasa dari orang yang melakukan endorsement yang sudah membayarkan sejumlah uang dan mengirimkan barang. Menurut Hariyanti & Wirapraja, influencer adalah seseorang atau figur dalam media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak atau signifikan, dan hal yang mereka sampaikan dapat mempengaruhi perilaku dari pengikutnya (Hariyanti & Wirapraja, 2018: Sedangkan berdasarkan pemahaman Brown & Hayes dalam bukunya yang berjudul Influencer Marketing: Who Really Influences Your Customers? influencer merupakan pihak ketiga yang secara signifikan membentuk keputusan pembelian pelanggan, tetapi mungkin pernah ikut bertanggung jawab untuk itu (Brown & Hayes, 2008: . Terdapat sebuah kutipan menarik dari pengertian Brown & Hayes "Influencer dikatakan sebagai sosok yang bisa mempengaruhi keputusan pelanggan". Menurut Aditya Halim Perdana Kusuma, dkk. 0: . , "Influencer marketing yaitu Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. kegiatan pemasaran melalui ahli industri atau sosok yang dipercaya oleh konsumen untuk melakukan promosi, iklan atau ulasan terhadap produk". Pemasaran dengan media sosial mulai berkembang dan digunakan sebagai alat strategi pemasaran produk, mempromosikan merek dan brand suatu perusahaan. Media sosial merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin berbagi informasi dan tempat untuk mencari teman baru serta berinteraksi dengan teman teman lainnya secara online (Aliyah, 2017: . Menurut Nasrullah . alam Aliyah, 2017: . AuMedia sosial adalah konten berisi informasi yang dibuat oleh orang yang memanfaatkan teknologi penerbitan, sangat mudah di akses dan dimaksudkan untuk memfasilitasi komunikasi, pengaruh dan interaksi dengan sesama dan dengan khalayak umumAy. Pengertian keputusan pembelian menurut Kotler dalam Teguh dan Rusly . mengemukakan bahwa "Keputusan pembelian konsumen adalah sarangkaian proses yang dilalui konsumen dalam memutuskan tindakan pembelian". Menurut Schiffmah dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah . mendefinisikan, "Keputusan sebagai pemilihan suatu Tindakan dari dua pilihan alternative atau lebih". Seorang konsumen yang hendak memilih harus memiliki pilihan alternative. Suatu keputusan tanpa pilihan disebut "pilihan hobson". Menurut Setiadi dalam Sangadji dan Sopiah . mendefinisikan: "Keputusan pembelian konsumen adalah diawali dengan rangsangan yang kemudian dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti faktor sosial, budaya, pribadi, dan psikologi, dan mempengaruhi konsumen dalam pemilihan produk dengan merek tertentu". METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode deskriptif, yang menurut Nawawi . metode deskriptif ini diartikan sebagai berikut: Metode deskriptif diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan cara menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian . Lembaga. Masyarakat dan lain-lai. Pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Dalam penelitian kualitatif teori yang digunakan harus jelas, karena teori disini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk Menyusun insntrumen penelitian. Dalam kaitanya dengan teori, sedangakan dalam penelitian kualitatif bersifat menguji hipotesis atau teori. Dalam penelitian kualitatif jumlah teori yang digunakan sesuai variable yang diteliti oleh karena itu penelitian kualitatif harus bersifat Auperspektif emicAy artinya memperoleh data bukan sebagaimana harusnya, bukan sebagaimana seharusnya, bukan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan sebagai adanya yang terjadi dilapangan, yang dialami, diarsakan, dan dipikirkan oleh partisipan/sumber data. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian adalah tempat dimana peneliti melakukan penelitian, dan penetapan tempat penelitian merupakan tahap yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Karena dengan sudah ditentukannya tempat penelitian, brrarti objek dan tujuan sudah ditetapkan sehingga mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian. Tempat penelitian bisa di Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. wilayah tertentu atau suatu Lembaga tertentu dalam situasi sosialnya, seperti lembaga pemerintahan, sekolah, perusahaan, dan lain-lain untuk mendapatkan data primer. Tempat penelitian ini adalah suatu tempat dimana peneliti menangkap keadaan dari objek yang diteliti untuk mendapatkan data atau informasi yang diperlukan sesuai dengan permasalahan yang Adapun penelitian ini bertempat di Kota Banjar tepatnya di Desa Cibeureum. Kecamatan Banjar. Kota Banjar. Jawa Barat. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Analisis data dalam penelitian kualitaif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah menganalisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai telah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu. Data yang terkumpul akan dianalisa secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif sesuai jumlah variable yang dijadikan indikator dalam penelitian ini dan didukung dengan data sekunder. Menurut Bogdan dna Biklen . alam Moleong, 2007:. analisis data kualitatif adalah: upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengkonsistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Selanjutnya Miles and Huberman . alam Sugiyono 2011:. memberikan model analisis sebagai berikut: Data Reduction . eduksi dat. adalah proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan data kasar yang muncul dari catatan yang tertulis Reduksi data ini bertujuan untuk menganalisis data. yang lebih mengarahkan, membuanng yang tidak perlu dan mengoorganisasikan data agar diperoleh kesimplan yang dapat ditarik atau verifikasi. Dalam penelitian ini, proses reduksi data dilakukan dengan mengumpulkan data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi kemudian dipilih dan dikelompokan berdasarkan kemiripan data. Data Display . enyajian dat. adalah pengumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam hal ini, data yang telah dikategorikan tersebut kemudian. diorganisasikan sebagai bahan penyajian Data tersebut disajikan secara deskriptif yang didasarkan pada aspek yang diteliti. Conclusions Drawing/verification adalah sebagian dari kegiatan utuh, artinya makna muncul dari data yang telah disajikan dan diuji kebenarannya, kekokohanya dan Penarikan kesimpulan berdasarkan pada pemahaman terhadap data yang disajikan dan dibuat dalam pernyataan. singkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Desa Cibeureum menunjukkan beberapa tantangan yang mengakibatkan efektivitasnya belum optimal. Meskipun QRIS dirancang untuk mempermudah proses pembayaran, banyak pemilik UMKM yang masih kesulitan dalam mengimplementasikannya karena kurangnya pemahaman dan Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. literasi digital. Selain itu, keterbatasan infrastruktur internet di daerah tersebut sering menyebabkan gangguan dalam transaksi, sehingga pelanggan merasa ragu untuk menggunakan metode ini. Akibatnya, meskipun ada potensi peningkatan penjualan, banyak UMKM yang belum merasakan manfaat signifikan dari penggunaan QRIS. Oleh karena itu, tanpa dukungan yang memadai, efektivitas QRIS dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Desa Cibeureum masih sangat terbatas. Pernyataan informan menyoroti tantangan yang dihadapi dalam adopsi QRIS di Desa Cibeureum, khususnya terkait dengan pemahaman penggunaan teknologi dan keterbatasan infrastruktur seperti akses internet yang tidak merata. Meskipun QRIS menawarkan potensi untuk meningkatkan efektivitas transaksi, masih ada hambatan signifikan yang perlu diatasi untuk memaksimalkan manfaatnya. Masalah pemahaman tentang penggunaan QRIS menjadi krusial. Bapak Ujang menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih lebih memilih transaksi tunai karena kurangnya pemahaman tentang cara menggunakan QRIS. Dengan memperbaiki pemahaman tentang QRIS dan infrastruktur yang mendukung. Desa Cibeureum dapat meraih manfaat maksimal dari teknologi pembayaran elektronik ini, sesuai dengan harapan Bapak Ujang untuk meningkatkan efektivitas dalam transaksi. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti berpendapat bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi oleh konsumen serta pelaku UMKM dalam penggunaan QRIS. Tantangan tersebut muncul baik dari sisi konsumen maupun pelaku UMKM itu sendiri. Meskipun penggunaan QRIS akan membantu mempermudah proses transaksi, tetapi kurangnya literasi masyarakat mengenai pembayaran digital membuat penggunaannya belum optimal. Perceived Usefulness Penggunaan QRIS pada UMKM Desa Cibeureum Perceived usefulness dalam Technology Acceptance Model (TAM) menurut Waluyo . merujuk pada sejauh mana individu percaya bahwa penggunaan suatu teknologi dapat meningkatkan kinerja atau efisiensi mereka. Dalam konteks UMKM, perceived usefulness menjadi faktor kunci yang memengaruhi keputusan untuk mengadopsi teknologi baru, seperti QRIS. Jika pelaku UMKM merasakan bahwa teknologi tersebut dapat memberikan manfaat nyata, seperti kemudahan transaksi dan peningkatan penjualan, mereka cenderung lebih terbuka untuk menggunakannya. Waluyo menekankan pentingnya pemahaman akan manfaat ini agar teknologi dapat diterima dan digunakan secara luas. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. pada UMKM di Desa Cibeureum memiliki beberapa manfaat, meskipun belum sepenuhnya maksimal. QRIS dapat mempermudah transaksi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang lebih memilih menggunakan uang tunai karena merasa lebih nyaman. Keamanan juga meningkat dengan pengurangan risiko pencurian uang tunai, namun masih ada kekhawatiran tentang penipuan digital. Meskipun QRIS bisa menarik pelanggan baru, banyak generasi tua yang belum terbiasa dengan teknologi ini. Selain itu, catatan transaksi yang dihasilkan membantu pengelolaan keuangan, tetapi tidak semua pelaku UMKM memahami cara memanfaatkannya. Dengan adanya tantangan seperti kurangnya edukasi dan infrastruktur yang belum memadai, implementasi QRIS di Desa Cibeureum masih perlu dukungan agar dapat memberikan dampak positif yang lebih besar. Peneliti berpendapat bahwa untuk meningkatkan penggunaan QRIS pada UMKM di Desa Cibeureum, beberapa langkah perlu diambil, diantaranya edukasi dan pelatihan bagi Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. pelaku UMKM dan konsumen sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan terhadap sistem ini. Selanjutnya, peningkatan infrastruktur internet harus didorong agar aksesibilitas dan keandalan koneksi lebih baik. Dukungan finansial, seperti akses pendanaan atau subsidi, juga dapat membantu UMKM menutupi biaya awal dalam mengadopsi QRIS. Selain itu, kolaborasi dengan pihak ketiga, seperti bank atau fintech, untuk menawarkan promosi atau insentif akan menarik lebih banyak pelaku usaha. Selain itu penyediaan fasilitas atau perangkat yang mendukung penggunaan QRIS, seperti smartphone atau terminal pembayaran yang terjangkau, akan memudahkan UMKM dengan modal terbatas dalam mengimplementasikan sistem ini. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan QRIS dapat diterima dan dimanfaatkan secara optimal di Desa Cibeureum. Indikator persepsi manfaat menurut Waluyo . dalam konteks Technology Acceptance Model (TAM), diantaranya: Peningkatan Kinerja Peningkatan kinerja merupakan salah satu indikator kunci dalam persepsi manfaat penggunaan teknologi, terutama bagi UMKM. Dengan teknologi, proses kerja seperti transaksi dan pengolahan data dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan metode manual. Selain itu, risiko kesalahan manusia berkurang, sehingga akurasi meningkat, seperti dalam penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS. Teknologi juga membantu UMKM dalam mengelola sumber daya dengan lebih baik, memungkinkan akses cepat terhadap informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Dengan efisiensi yang meningkat, pelaku UMKM dapat lebih fokus pada aktivitas produktif, seperti pengembangan produk dan pemasaran, serta memfasilitasi integrasi antara berbagai proses bisnis, sehingga komunikasi dan koordinasi antar fungsi menjadi lebih lancar. Semua ini berkontribusi pada pertumbuhan dan daya saing usaha secara keseluruhan. Hasil penelitian menemukan bahwa, beberapa pelaku UMKM Desa Cibeureum masih ragu untuk mengunakan QRIS sebagai metode pembayaran, dikarenakan beberapa dari pelaku UMKM Desa Cibeureum tersebut merasa lebih mudah apabila menggunakan transaksi tunai. Selain itu, beberapa konsumen UMKM Desa Cibeureum belum familiar dengan penggunaan QRIS sebagai alat transaksi digital. Penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. sebagai metode pembayaran di UMKM Desa Cibeureum menunjukkan hasil yang bervariasi. Di satu sisi, beberapa pelaku UMKM menganggap QRIS kurang efektif. Mereka menghadapi tantangan seperti preferensi pelanggan terhadap pembayaran tunai, masalah teknis dengan sistem, serta ketidakmampuan beberapa pelanggan dalam menggunakan teknologi ini. Hal ini menunjukkan adanya hambatan dalam penerimaan dan pelaksanaan QRIS di kalangan Di sisi lain, pelaku UMKM lain melaporkan manfaat signifikan dari penggunaan QRIS. Mereka mengalami peningkatan efisiensi pembayaran, mengurangi waktu transaksi, dan meminimalisir risiko kesalahan yang biasanya terjadi dengan metode pembayaran tunai atau kartu kredit. QRIS mempermudah transaksi dengan memungkinkan pelanggan membayar dengan cepat melalui aplikasi smartphone, serta menyediakan notifikasi pembayaran yang memperlancar pengelolaan keuangan. Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. Secara keseluruhan, meskipun QRIS menawarkan efisiensi dan kemudahan bagi sebagian pelaku UMKM, tantangan dalam adopsi teknologi ini, seperti ketidakpastian teknis dan ketidakfamiliaran pelanggan, masih menjadi kendala yang perlu diatasi. Dukungan dan edukasi lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengoptimalkan manfaat QRIS di kalangan UMKM secara keseluruhan. Penghematan Waktu Dalam konteks Technology Acceptance Model (TAM), penghematan waktu merupakan aspek penting dari persepsi kegunaan . erceived usefulnes. Menurut Waluyo . , penghematan waktu memainkan peran krusial dalam menilai sejauh mana teknologi dianggap bermanfaat bagi pengguna. Teknologi yang mampu mengurangi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu biasanya dianggap lebih berguna, karena memungkinkan pengguna untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas mereka. Persepsi bahwa suatu teknologi dapat menghemat waktu seringkali menghasilkan pandangan positif terhadap teknologi tersebut, yang pada gilirannya mendorong niat pengguna untuk Dengan kata lain, jika pengguna merasa bahwa teknologi yang digunakan dapat mempercepat proses kerja dan mengurangi langkah-langkah yang tidak perlu, mereka cenderung lebih cepat menerima dan menerapkannya dalam aktivitas mereka sehari-hari. Oleh karena itu, evaluasi potensi penghematan waktu yang ditawarkan oleh teknologi menjadi aspek penting dalam keputusan adopsi, baik dalam konteks individu maupun organisasi. Berdasarkan observasi di lapangan, peneliti menemukan bahwa beberapa pelaku UMKM masih menganggap bahwa metode pembayaran menggunakan QRIS lebih banyak memakan waktu dibandingkan pembayaran secara tunai. Hal ini dikarenakan beberapa pelaku UMKM masih awam serta kurang memahami cara penggunaan QRIS. Kurangnya pemahaman dan pengalaman dalam menggunakan QRIS menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan pelaku UMKM merasa metode pembayaran ini kurang Bapak Kewon dan beberapa pelaku UMKM lainnya mungkin belum sepenuhnya familiar dengan prosedur dan fitur yang ada dalam sistem QRIS, sehingga mereka masih merasa bahwa metode pembayaran tunai adalah opsi yang lebih sederhana dan langsung. Dengan kata lain, meskipun QRIS menawarkan kemudahan dan efisiensi bagi banyak pengguna, pelaku UMKM yang masih baru dengan teknologi ini mungkin menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan metode pembayaran digital ini ke dalam praktik bisnis Hal ini menunjukkan perlunya pelatihan dan dukungan tambahan untuk membantu mereka lebih memahami dan mengoptimalkan penggunaan QRIS, sehingga mereka dapat merasakan manfaat penuh dari metode pembayaran digital ini. Kemudahan penggunaan Menurut Waluyo . , kemudahan penggunaan merujuk pada sejauh mana pengguna merasa bahwa suatu teknologi dapat digunakan tanpa memerlukan usaha yang signifikan. Teknologi yang dianggap mudah digunakan akan membuat pengguna merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam mengoperasikannya, sehingga mereka dapat lebih cepat merasakan manfaat dari teknologi tersebut. Hal ini dikarenakan kemudahan penggunaan mengurangi beban mental dan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari teknologi, yang pada gilirannya meningkatkan efektivitas dan produktivitas. Dengan demikian, teknologi yang dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan tidak hanya mempermudah proses Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. adaptasi, tetapi juga memperkuat persepsi pengguna tentang manfaat yang dapat diperoleh, sehingga mendorong penerimaan teknologi yang lebih tinggi. Peneliti berpendapat bahwa kekhawatiran penggunaan QRIS mencerminkan tantangan yang umum dihadapi oleh pelaku UMKM, terutama di komunitas dengan basis pelanggan yang kurang akrab dengan teknologi digital. Kompleksitas proses pendaftaran QRIS yang dianggap rumit dan memakan waktu menjadi hambatan signifikan, sehingga memerlukan panduan yang jelas dan dukungan yang memadai dari penyedia layanan untuk mempermudah proses tersebut. Selain itu, kekhawatiran tentang manajemen masalah teknis menunjukkan perlunya layanan pelanggan yang responsif dan tutorial yang mudah diakses agar pelaku UMKM dapat mengatasi kendala teknis dengan lebih mudah. Kekhawatiran terkait pemahaman pelanggan, khususnya ibu-ibu dan lansia, menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan sosialisasi mengenai penggunaan QRIS, melalui pelatihan, panduan visual, atau demo langsung di lokasi usaha. Peneliti juga menekankan bahwa adopsi teknologi seperti QRIS harus mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan spesifik komunitas lokal agar teknologi baru dapat diterima dan digunakan dengan efektif. Dengan demikian, pendekatan yang komprehensif termasuk penyederhanaan proses pendaftaran, peningkatan dukungan teknis, edukasi pelanggan, dan adaptasi teknologi adalah kunci untuk memastikan QRIS dapat diimplementasikan dengan sukses dan memberikan manfaat yang maksimal bagi pelaku UMKM dan pelanggan mereka. Dengan demikian, penggunaan QRIS terkait kompleksitas pendaftaran, potensi masalah teknis, dan kesulitan pelanggan mencerminkan tantangan umum yang dihadapi oleh banyak pelaku UMKM. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk menyederhanakan proses pendaftaran, meningkatkan dukungan teknis, serta menyediakan edukasi dan panduan yang jelas bagi pelanggan. Penyedia layanan QRIS harus menyediakan dukungan yang memadai dan adaptasi teknologi yang sesuai dengan karakteristik lokal, agar sistem pembayaran digital ini dapat diimplementasikan secara efektif dan memberikan manfaat yang maksimal bagi pelaku UMKM dan pelanggan mereka. Kualitas dan akurasi Menurut Waluyo . , dalam kerangka Teknology Acceptance Model (TAM), kualitas dan akurasi teknologi memainkan peran krusial dalam penilaian pengguna terhadap manfaat teknologi tersebut. Teknologi yang mampu meningkatkan akurasi dan kualitas hasil kerja dianggap lebih bermanfaat karena dapat memberikan output yang lebih baik dibandingkan dengan alternatif lain. Pengguna cenderung memandang teknologi sebagai alat yang lebih berguna jika teknologi tersebut menawarkan hasil yang lebih akurat dan berkualitas tinggi. Hasil penelitian di lapangan menunjukan bahwa penyedia layanan QRIS di Desa Cibeureum adalah dari Bank BRI Unit Cimaragas. Pihaknya menyediakan layanan QRIS untuk membantu para pelaku UMKM di Desa Cibeureum dalam upaya mendigitalisasi UMKM sehingga mempercepat dan mempermudah proses transaksi dengan lebih akurat dan Peneliti berpendapat bahwa, penggunaan QRIS membawa dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan akurasi dan kualitas transaksi pembayaran. QRIS, dengan sistem verifikasi otomatis dan pemrosesan data yang terintegrasi, secara substansial Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. mengurangi risiko kesalahan dalam penginputan jumlah dan data transaksi. Teknologi ini meminimalkan ketergantungan pada proses manual, yang sering kali rentan terhadap human error, serta mempercepat proses pembayaran dengan mengurangi kebutuhan akan penanganan uang tunai. Selain itu. QRIS juga memungkinkan pencatatan transaksi yang lebih sistematis dan transparan, sehingga mempermudah pelaporan keuangan dan pengelolaan bisnis. Dengan demikian. QRIS tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga memberikan keandalan dan keamanan tambahan dalam transaksi keuangan. Dengan demikian. QRIS menawarkan solusi yang sangat efektif untuk meningkatkan akurasi dan kualitas transaksi pembayaran. Teknologi ini mengurangi kemungkinan kesalahan yang terjadi dalam proses manual dan memungkinkan verifikasi otomatis setiap pembayaran. Hasilnya, transaksi menjadi lebih cepat, akurat, dan aman. Selain itu, pencatatan dan pelaporan keuangan menjadi lebih sistematis dan transparan, memudahkan bisnis dalam pengelolaan dan analisis data keuangan. Oleh karena itu. QRIS tidak hanya memperbaiki efisiensi operasional tetapi juga memberikan keandalan tambahan yang mendukung integritas dan keamanan transaksi keuangan. Lebih dari itu. QRIS juga menawarkan keuntungan tambahan dalam hal pengalaman pelanggan dan integrasi dengan berbagai sistem pembayaran. Dengan memanfaatkan QRIS, bisnis dapat menyediakan opsi pembayaran yang lebih nyaman bagi pelanggan, yang hanya perlu memindai QR Code untuk menyelesaikan transaksi. Ini meningkatkan kepuasan pelanggan dan dapat berpotensi meningkatkan loyalitas mereka. Selain itu. QRIS memungkinkan integrasi yang mulus dengan berbagai platform pembayaran digital, memperluas jangkauan metode pembayaran yang diterima oleh bisnis. Hal ini tidak hanya mempercepat proses transaksi tetapi juga menyederhanakan manajemen keuangan secara Dengan adopsi QRIS, bisnis dapat lebih siap menghadapi tuntutan pasar yang semakin digital, memperkuat posisi mereka dalam ekosistem ekonomi modern yang berkembang pesat. Keuntungan kompetitif Dalam konteks Technology Acceptance Model (TAM). Waluyo . mengemukakan bahwa keuntungan kompetitif dari teknologi sangat dipengaruhi oleh persepsi manfaat . erceived usefulness - PU). Teknologi yang dianggap sangat bermanfaat dapat memberikan keuntungan kompetitif yang signifikan dengan meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya, dan meningkatkan margin keuntungan melalui proses yang lebih otomatis dan efisien. Selain itu, adopsi teknologi yang memiliki manfaat tinggi memungkinkan perusahaan untuk menawarkan produk dan layanan yang lebih inovatif, menciptakan diferensiasi yang jelas di pasar. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan kepuasan pelanggan, yang mendorong loyalitas dan mengurangi churn. Kecepatan dalam mengadopsi teknologi yang bermanfaat juga memungkinkan perusahaan untuk merespons perubahan pasar dengan lebih cepat, mempertahankan relevansi dan posisi unggul dalam industri yang Pada kenyataannya, pada UMKM Desa Cibeureum masih terdapat sebagian besar yang belum merasakan manfaat dari penggunaan QRIS terutama dalam keuntungan kompetitifnya dikarenakan pelanggan UMKM Desa Cibeureum mayoritas masih menggunakan pembayaran Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. Peneliti berpendapat bahwa UMKM di Desa Cibeureum belum merasakan manfaat signifikan dari penggunaan QRIS dalam hal keuntungan kompetitif karena mayoritas pelanggan masih lebih memilih pembayaran tunai. Meskipun QRIS menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam transaksi digital, pelanggan sering kali merasa bahwa pembayaran tunai lebih praktis dan langsung. Peneliti juga mencatat bahwa pelanggan mengalami kesulitan dengan proses QRIS, yang dianggap rumit dan memakan waktu tambahan, seperti harus membuka aplikasi atau menunggu konfirmasi pembayaran. Oleh karena itu, disarankan agar UMKM di desa tersebut menyediakan berbagai metode pembayaran, termasuk tunai dan QRIS, serta meningkatkan edukasi pelanggan tentang cara dan manfaat QRIS. Dengan pendekatan ini, diharapkan QRIS dapat lebih diterima dan memberikan keuntungan kompetitif yang diharapkan di masa depan. Selanjutnya, untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan memaksimalkan potensi QRIS. UMKM di Desa Cibeureum disarankan untuk mengimplementasikan beberapa strategi Pertama, perlu dilakukan kampanye promosi yang menjelaskan keuntungan QRIS kepada pelanggan, seperti kecepatan dan kemudahan transaksi. Hal ini dapat mencakup pemasangan materi informasi di toko, promosi di media sosial, atau melalui interaksi langsung dengan pelanggan. Kedua. UMKM harus memastikan infrastruktur teknologinya dalam kondisi optimal, termasuk koneksi internet yang stabil dan perangkat yang memadai, untuk menghindari masalah teknis saat transaksi berlangsung. Selain itu, memberikan pelatihan kepada staf tentang cara membantu pelanggan dalam menggunakan QRIS akan meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan pelanggan terhadap metode pembayaran ini. Penerapan insentif seperti diskon khusus atau hadiah untuk pembayaran menggunakan QRIS juga dapat mendorong lebih banyak pelanggan untuk beralih dari pembayaran tunai. Terakhir. UMKM harus terus menilai dan menyesuaikan strategi berdasarkan umpan balik pelanggan dan hasil evaluasi untuk memastikan bahwa QRIS memberikan manfaat yang diharapkan dan berkontribusi pada keuntungan kompetitif. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan QRIS dapat lebih efektif dalam meningkatkan daya saing UMKM dan memenuhi kebutuhan pelanggan di Desa Cibeureum. Dengan demikian, untuk memaksimalkan manfaat QRIS dan meningkatkan keuntungan kompetitif di UMKM Desa Cibeureum, penting bagi pelaku usaha untuk menerapkan berbagai strategi. Menyediakan opsi pembayaran yang beragam, meningkatkan edukasi pelanggan, dan memastikan infrastruktur teknologi yang memadai merupakan langkahlangkah krusial. Selain itu, promosi dan insentif khusus untuk transaksi QRIS, serta pelatihan staf yang memadai, dapat membantu mengatasi hambatan yang ada. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan. QRIS dapat lebih diterima dan memberikan manfaat yang signifikan, meningkatkan daya saing UMKM, serta mendukung pertumbuhan bisnis di masa depan. Fitur tambahan yang memudahkan Dalam penelitian Waluyo . tentang model Teknologi Penerimaan dan Penggunaan Teknologi (TAM), beberapa fitur tambahan diusulkan untuk memperdalam pemahaman penerimaan teknologi. Fitur ini meliputi pengaruh sosial dari lingkungan sekitar, faktor psikologis dan emosional seperti kepuasan pengguna, risiko yang dirasakan terkait keamanan dan privasi, serta konteks dan situasi penggunaan yang spesifik. Selain itu, kemampuan Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. kustomisasi teknologi dan dukungan serta pelatihan pengguna yang memadai juga menjadi faktor penting. Menambahkan fitur-fitur ini dapat membantu model TAM untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dan strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan adopsi Peneliti berpendapat bahwa pendekatan yang diterapkan QRIS, seperti memanfaatkan pengaruh sosial melalui influencer dan mitra bisnis, serta kampanye komunitas, sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran dan penerimaan di masyarakat. Selain itu, penyediaan fitur umpan balik, pusat layanan pelanggan, dan survei kepuasan menunjukkan komitmen QRIS dalam meningkatkan kualitas layanan dan memastikan kepuasan pengguna. Langkah-langkah keamanan yang kuat, seperti enkripsi data dan otentikasi dua faktor, bersama dengan edukasi keamanan yang aktif, membantu mengatasi kekhawatiran pengguna tentang risiko. Penambahan fitur kustomisasi dan dukungan pelatihan juga merupakan langkah positif, karena ini memungkinkan penyesuaian aplikasi sesuai dengan kebutuhan spesifik dan mempermudah pengguna baru untuk memahami dan menggunakan QRIS dengan lebih baik. Semua ini menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya fokus pada aspek teknis tetapi juga pada aspek psikologis dan praktis, yang secara keseluruhan mendukung adopsi teknologi yang lebih luas dan efektif. Selanjutnya, peneliti berpendapat bahwa QRIS telah menunjukkan upaya komprehensif dalam meningkatkan penerimaan teknologi melalui berbagai strategi efektif. Penggunaan pengaruh sosial, seperti melibatkan influencer dan mitra bisnis serta mengadakan kampanye komunitas, terbukti berhasil dalam meningkatkan kesadaran dan adopsi QRIS. Selain itu, penyediaan fitur umpan balik, pusat layanan pelanggan, dan survei kepuasan menunjukkan komitmen QRIS untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memastikan kepuasan Langkah-langkah keamanan yang kuat, seperti enkripsi data dan otentikasi dua faktor, bersama dengan edukasi yang aktif, membantu mengatasi kekhawatiran pengguna mengenai risiko. Penambahan fitur kustomisasi dan dukungan pelatihan juga memperkuat usaha QRIS dalam menyediakan pengalaman yang lebih personal dan adaptif. Peneliti menyarankan agar QRIS terus memantau dan mengevaluasi dampak dari strategi-strategi ini, serta terus mengembangkan fitur dan dukungan untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan teknologi oleh pengguna baru. Dengan demikian. QRIS telah menerapkan berbagai strategi yang efektif dalam meningkatkan adopsi teknologi dan kepuasan pengguna. Upaya melibatkan influencer dan mitra bisnis, serta pelaksanaan kampanye komunitas, berhasil meningkatkan kesadaran dan penerimaan QRIS di masyarakat. Selain itu, fitur umpan balik, pusat layanan pelanggan, dan survei kepuasan menunjukkan dedikasi QRIS dalam memastikan kualitas layanan yang baik dan memperbaiki pengalaman pengguna. Langkah-langkah keamanan yang kuat dan edukasi berkelanjutan membantu membangun kepercayaan pengguna terhadap teknologi. Penambahan fitur kustomisasi dan dukungan pelatihan lebih lanjut mendukung pemahaman dan penggunaan QRIS yang lebih baik. Secara keseluruhan. QRIS menunjukkan komitmen yang menyeluruh untuk meningkatkan penerimaan teknologi dan memberikan pengalaman pengguna yang optimal, dengan terus memantau dan mengevaluasi efektivitas strategi-strategi Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. Berdasarkan uraian di atas terkait perception usefullness, maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan. QRIS menawarkan efisiensi dan kemudahan yang signifikan bagi pelaku UMKM, namun adopsi teknologi ini masih menghadapi beberapa tantangan, seperti ketidakpastian teknis dan ketidakfamiliaran pelanggan. Untuk mengatasi kendala ini, diperlukan dukungan dan edukasi tambahan bagi pelaku UMKM agar mereka dapat memanfaatkan QRIS secara optimal. Penyederhanaan proses pendaftaran, peningkatan dukungan teknis, dan penyediaan panduan yang jelas bagi pelanggan menjadi langkah penting dalam memfasilitasi integrasi QRIS. QRIS tidak hanya mempercepat dan meningkatkan akurasi transaksi pembayaran, tetapi juga mengurangi potensi kesalahan dalam proses manual. Untuk meningkatkan keuntungan kompetitif di UMKM, seperti di Desa Cibeureum, pelaku usaha perlu menyediakan opsi pembayaran yang beragam, meningkatkan edukasi pelanggan, dan memastikan infrastruktur teknologi yang memadai. Upaya yang melibatkan influencer, mitra bisnis, dan kampanye komunitas telah terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan adopsi QRIS di Meskipun QRIS menjanjikan efisiensi dan akurasi dalam transaksi pembayaran, tantangan teknis dan ketidakfamiliaran dengan teknologi ini sering kali menjadi hambatan Banyak UMKM yang baru mengenal QRIS mungkin menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan sistem ini ke dalam praktik bisnis mereka, yang dapat mengakibatkan keterlambatan dalam memanfaatkan manfaatnya secara penuh. Impak dari tantangan ini dapat mencakup penurunan efisiensi operasional dan potensi kebingungan di antara pelanggan yang belum terbiasa dengan metode pembayaran digital. Ketidakpastian teknis, seperti masalah dalam sistem atau kesalahan dalam proses pendaftaran, dapat mengganggu alur transaksi dan mempengaruhi pengalaman pelanggan. Selain itu, kurangnya edukasi dan dukungan bagi pelaku UMKM dapat menghambat adopsi yang lebih luas dan memperlambat peningkatan akurasi serta kecepatan transaksi yang diharapkan dari QRIS. Untuk memitigasi implikasi tersebut, diperlukan pendekatan yang komprehensif. Penyederhanaan proses pendaftaran QRIS, serta peningkatan dukungan teknis dan edukasi bagi pelaku UMKM, sangat penting. Edukasi yang efektif akan membantu pelaku UMKM lebih memahami dan mengoptimalkan penggunaan QRIS, sementara dukungan teknis yang memadai akan mengurangi risiko masalah teknis. Selain itu, strategi implementasi yang mencakup penyediaan berbagai opsi pembayaran dan kampanye komunitas dapat mempercepat adopsi dan meningkatkan persepsi positif terhadap QRIS. Dengan langkahlangkah tersebut. QRIS dapat diimplementasikan secara lebih efektif, memungkinkan UMKM merasakan manfaat penuh dari teknologi ini dan meningkatkan daya saing mereka di pasar. Perceived Easy to Use Penggunaan QRIS pada UMKM Desa Cibeureum Dalam kajian Waluyo . mengenai penggunaan QRIS dalam kerangka Technology Acceptance Model (TAM), "Perceived Ease of Use" atau persepsi kemudahan penggunaan menjadi faktor krusial yang mempengaruhi adopsi sistem pembayaran digital ini. QRIS, yang dirancang untuk mempermudah transaksi melalui QR Code, menawarkan antarmuka yang intuitif dan dapat diintegrasikan dengan berbagai aplikasi pembayaran, sehingga Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. meminimalisir usaha yang diperlukan dari pengguna. Waluyo mengungkapkan bahwa semakin mudah QRIS digunakan, semakin besar kemungkinan pengguna merasa nyaman dan puas, yang pada akhirnya mendorong tingkat adopsi yang lebih tinggi. Studi ini menunjukkan bahwa dukungan teknis yang baik, panduan penggunaan yang jelas, serta pengalaman pengguna sebelumnya berkontribusi pada persepsi positif terhadap kemudahan penggunaan QRIS. Dengan demikian, kemudahan penggunaan yang tinggi secara signifikan meningkatkan niat pengguna untuk mengadopsi dan menggunakan QRIS secara rutin. Untuk mengukur perceived easy to use, peneliti menggunakan indikator menurut Waluyo . , sebagai Antarmuka Pengguna yang Intuitif Indikator ini mengacu pada seberapa mudah pengguna dapat memahami dan menggunakan antarmuka QRIS tanpa memerlukan pelatihan tambahan. Jika antarmuka QRIS sederhana dan mudah dipahami, maka persepsi kemudahan penggunaannya akan tinggi. Menurut Waluyo . , antarmuka pengguna yang intuitif adalah kunci dalam menciptakan pengalaman pengguna yang positif dan efektif. Prinsip utamanya meliputi konsistensi dalam desain, sehingga elemen-elemen antarmuka seperti ikon dan terminologi seragam di seluruh Navigasi yang mudah dan logis juga penting, memungkinkan pengguna untuk menemukan informasi dan fitur dengan cepat. Selain itu, sistem harus memberikan umpan balik yang jelas setiap kali pengguna melakukan tindakan, sehingga mereka tahu bahwa aksi mereka telah diproses. Desain yang sederhana dan bersih membantu mengurangi gangguan dan memudahkan pengguna dalam fokus pada tugas utama. Memahami konteks penggunaan, seperti perangkat yang digunakan dan lingkungan kerja, serta memastikan keterbacaan dan aksesibilitas, juga merupakan aspek penting dari antarmuka intuitif. Penggunaan elemen desain yang sudah familiar bagi pengguna membantu mereka beradaptasi lebih cepat. Semua prinsip ini bertujuan untuk menciptakan antarmuka yang tidak hanya fungsional tetapi juga mudah dipahami dan digunakan, meningkatkan kepuasan dan efisiensi pengguna. Dalam penelitian yang dilakukan di lapangan, ditemukan bahwa pelaku UMKM mengalami kesulitan dalam menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran. Menurut Bapak Kewon, yang diwawancarai, antarmuka QRIS dirasakan sulit dipahami. Ia sering kali harus berpindah-pindah menu untuk menemukan informasi yang dibutuhkan, dan banyak tombol serta menu yang tersedia tidak jelas fungsinya. Hal ini menyebabkan navigasi menjadi membingungkan dan memperumit penggunaan aplikasi. Kesimpulannya, antarmuka QRIS dianggap tidak intuitif oleh pelaku UMKM, yang mengakibatkan frustrasi dan kesulitan dalam mengakses fitur yang diperlukan. Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa pelaku UMKM menghadapi kesulitan dalam menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran. Peneliti menemukan bahwa antarmuka QRIS sulit dipahami, pengguna harus berpindah-pindah menu untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Banyak tombol dan menu dalam aplikasi yang kurang jelas fungsinya, menyebabkan navigasi menjadi membingungkan. Kesulitan ini menunjukkan bahwa antarmuka QRIS tidak cukup intuitif, sehingga mempersulit pelaku UMKM dalam melakukan transaksi dengan aplikasi tersebut. Masalah yang dihadapi pelaku UMKM, seperti navigasi yang membingungkan dan ketidakjelasan fungsi tombol serta menu, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk perbaikan desain. Antarmuka yang tidak intuitif dapat menghambat efisiensi Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. dan meningkatkan frustrasi pengguna, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi adopsi dan penggunaan sistem secara keseluruhan. Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menyederhanakan navigasi dengan mengorganisir menu dan tombol secara lebih logis serta Selain itu, ikon dan label harus lebih jelas untuk memudahkan pengguna memahami fungsi setiap elemen. Peningkatan umpan balik, seperti notifikasi yang jelas mengenai status transaksi, juga diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian. Dengan demikian, untuk mengatasi masalah yang dihadapi pelaku UMKM terkait antarmuka QRIS yang tidak intuitif, perlu dilakukan perbaikan desain yang mencakup penyederhanaan navigasi, klarifikasi fungsi tombol dan menu, serta peningkatan umpan balik Perubahan ini akan membantu mempermudah penggunaan aplikasi, mengurangi frustrasi, dan meningkatkan efisiensi transaksi. Perbaikan-perbaikan tersebut akan mendukung pelaku UMKM dalam mengoptimalkan penggunaan QRIS dan mendorong adopsi sistem pembayaran ini secara lebih luas dan efektif. Kemudahan proses transaksi Menurut Waluyo . , kemudahan proses transaksi adalah salah satu aspek krusial dalam menilai efektivitas QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. QRIS, yang merupakan sistem pembayaran berbasis QR code, dirancang untuk menyederhanakan transaksi dengan cara yang lebih cepat dan efisien. Pengguna cukup memindai QR Code yang disediakan oleh pedagang menggunakan aplikasi e-wallet atau perbankan mereka, tanpa perlu membawa uang tunai atau kartu fisik. Integrasi QRIS dengan berbagai aplikasi pembayaran memperluas kemudahan akses bagi konsumen dan pedagang, sementara proses transaksi yang cepat mengurangi risiko kesalahan manual dan meningkatkan keamanan. Selain itu, dukungan dan edukasi yang memadai bagi pengguna dan pedagang turut memainkan peran penting dalam meningkatkan kenyamanan dan adopsi sistem ini. Keseluruhan, kemudahan proses transaksi yang ditawarkan oleh QRIS dapat mendorong peningkatan penggunaan metode pembayaran digital ini di seluruh Indonesia. Penelitian di lapangan menunjukan bahwa baik pelaku UMKM maupun pelanggan UMKM Desa Cibeureum masih mengalami kesulitan dalam menggunakan QRIS untuk Dikarenakan kurangnya pemahaman mereka akan penggunaan teknologi terbaru. Dalam menghadapi tantangan yang dihadapi pelaku UMKM dan pelanggan di Desa Cibeureum dalam menggunakan QRIS untuk bertransaksi, peneliti dapat memberikan beberapa pandangan kritis dan solusi strategis. Pertama, peneliti mungkin berpendapat bahwa masalah utama terletak pada kualitas QR Code dan infrastruktur teknologi yang Ketidakmampuan aplikasi untuk membaca QR Code dengan jelas menunjukkan perlunya standar pencetakan QR Code yang lebih baik dan peningkatan kualitas aplikasi pemindai. Selain itu, kondisi pencahayaan yang buruk juga dapat mempengaruhi efektivitas pemindaian. Oleh karena itu, peneliti menyarankan perbaikan pada kedua aspek ini untuk meminimalkan kesulitan teknis yang dihadapi oleh pengguna. Kedua, desain proses transaksi yang melibatkan beberapa Langkah tambahan, seperti memasukkan jumlah pembayaran dan konfirmasi, dianggap menambah kerumitan dan mengurangi kenyamanan bagi pengguna, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi digital. Peneliti mungkin merekomendasikan penyederhanaan proses tersebut, dengan tujuan membuatnya lebih intuitif dan langsung agar pengguna tidak merasa terbebani. Selain itu, kurangnya Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. pemahaman tentang teknologi terbaru merupakan hambatan signifikan yang menghambat adopsi QRIS. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti menekankan perlunya program edukasi dan pelatihan yang komprehensif, yang tidak hanya memberikan pengetahuan dasar tentang penggunaan QRIS, tetapi juga mengatasi kekhawatiran dan kebingungan yang mungkin muncul selama proses belajar. Terakhir, peneliti mungkin menilai bahwa komunitas yang baru beradaptasi dengan teknologi digital memerlukan dukungan tambahan, baik dari segi teknis maupun praktis. Dukungan langsung dari penyedia layanan dan bantuan di lapangan bisa menjadi langkah penting untuk memastikan transisi yang mulus dan mengurangi hambatan yang dihadapi oleh pelaku UMKM dan pelanggan. Secara keseluruhan, peneliti berpendapat bahwa meskipun QRIS menawarkan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi transaksi, perhatian harus diberikan pada perbaikan teknis, desain proses yang lebih ramah pengguna, dan dukungan edukasi yang memadai untuk mengatasi tantangan dan memastikan keberhasilan adopsi sistem pembayaran digital ini di komunitas seperti Desa Cibeureum. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa meskipun QRIS memiliki potensi untuk mempercepat dan mempermudah proses transaksi, pelaku UMKM dan pelanggan di Desa Cibeureum masih menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Kesulitan dalam memindai QR code, proses transaksi yang dianggap rumit, dan kurangnya pemahaman tentang teknologi terbaru adalah faktor-faktor utama yang menghambat adopsi sistem ini. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti merekomendasikan perbaikan dalam kualitas pencetakan QR Code dan aplikasi pemindai, penyederhanaan proses transaksi, serta implementasi program edukasi dan pelatihan yang efektif. Selain itu, dukungan teknis yang memadai dan bantuan langsung di lapangan juga diperlukan untuk memastikan transisi yang mulus menuju penggunaan QRIS. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan penggunaan QRIS dapat lebih diterima dan dioptimalkan, sehingga memberikan manfaat maksimal bagi pelaku UMKM dan pelanggan di komunitas tersebut. Minimnya kesalahan teknis Menurut Waluyo . , kemudahan penggunaan suatu teknologi, termasuk sistem pembayaran seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. , sangat dipengaruhi oleh frekuensi kesalahan teknis yang dialami pengguna. Dalam konteks ini, semakin jarang pengguna menghadapi masalah teknis saat menggunakan QRIS, semakin tinggi persepsi kemudahan penggunaannya. Waluyo menekankan bahwa pengalaman pengguna yang positif, bebas dari gangguan teknis, memainkan peran penting dalam meningkatkan persepsi kemudahan penggunaan. Ketika teknologi berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan teknis, pengguna merasa lebih percaya diri dan nyaman, yang pada gilirannya memperkuat keyakinan mereka terhadap kemudahan penggunaan sistem tersebut. Sebaliknya, jika pengguna sering mengalami masalah teknis, hal ini dapat menurunkan persepsi mereka terhadap kemudahan penggunaan dan mempengaruhi keinginan mereka untuk terus menggunakan teknologi tersebut. Oleh karena itu, mengurangi kesalahan teknis dan meningkatkan kualitas operasional QRIS menjadi krusial untuk menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik dan mendorong adopsi yang lebih luas. Berdasarkan hasil analisis saat melakukan observasi, peneliti menemukan bahwa pelanggan UMKM maupun pelaku UMKM enggan untuk menggunakan QRIS dikarekan Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. sering terjadi kesalahan teknis atau error saat melakukan pembayaran yang membuat mereka harus meluangkan waktu sampai transaksi dinyatakan berhasil. Peneliti berpendapat bahwa untuk meningkatkan adopsi QRIS di kalangan pelanggan dan pelaku UMKM, perlu dilakukan perbaikan signifikan terhadap masalah teknis yang sering Mengingat seringnya ketidakresponsifan aplikasi dan keterlambatan transaksi yang dihadapi, seperti yang diungkapkan oleh Ibu Siti Aisyah, maka langkah-langkah perbaikan teknis harus menjadi prioritas. Dengan mengatasi isu-isu ini. QRIS dapat memberikan pengalaman pengguna yang lebih lancar dan efisien, mengurangi frustrasi, dan meningkatkan persepsi kemudahan penggunaan. Perbaikan tersebut akan membantu mengembalikan kepercayaan pengguna dan mendorong adopsi yang lebih luas, serta memastikan bahwa QRIS dapat berfungsi dengan optimal untuk mendukung operasional UMKM secara efektif. Selanjutnya, beberapa langkah penting untuk meningkatkan adopsi QRIS di kalangan pelanggan dan pelaku UMKM. Pertama, perbaikan kualitas teknologi dan penghapusan bug yang sering menyebabkan ketidakresponsifan aplikasi serta keterlambatan transaksi sangat Peneliti juga merekomendasikan optimasi kinerja aplikasi QRIS untuk memastikan proses transaksi yang cepat dan lancar. Selain itu, peningkatan dukungan teknis dan pelatihan bagi pelaku UMKM akan membantu mereka menangani masalah teknis dengan lebih efektif. Penting juga untuk meningkatkan komunikasi dan umpan balik kepada pengguna agar mereka dapat melaporkan masalah dengan lebih mudah. Penerapan sistem cadangan dan redundansi dalam infrastruktur QRIS diusulkan sebagai langkah untuk mengatasi gangguan teknis dan memastikan kestabilan sistem. Terakhir, evaluasi berkala terhadap performa QRIS dan penyesuaian sistem berdasarkan umpan balik pengguna dan perkembangan teknologi akan menjaga sistem tetap relevan dan efisien. Dengan melaksanakan saran-saran ini, diharapkan QRIS dapat memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik dan mendorong adopsi yang lebih luas di kalangan UMKM. Ketersediaan panduan dan dukungan Menurut Waluyo . , panduan pengguna yang jelas, dukungan teknis yang responsif, serta pelatihan dan tutorial yang memadai dapat secara signifikan meningkatkan Perceived Ease of Use. Panduan yang baik membantu pengguna baru memahami teknologi dengan cepat, sementara dukungan teknis yang efektif dan komunitas pengguna yang aktif memberikan rasa aman dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Dokumentasi yang dapat diakses dengan mudah juga berperan dalam membantu pengguna mencari solusi secara Dengan demikian, ketersediaan panduan dan dukungan yang memadai dapat mengurangi kecemasan dan usaha yang dirasakan pengguna, membuat teknologi tampak lebih mudah digunakan dan mendorong adopsi yang lebih luas. Temuan di lapangan menunjukan bahwa penyedia layanan QRIS telah memberikan pelatihan bagi pengguna dalam pengoperasian aplikasi QRIS terutama QRIS dari Bank BRI. Peneliti berpendapat bahwa meskipun Bank BRI telah melaksanakan pelatihan dan sosialisasi mengenai penggunaan QRIS di Desa Cibeureum, ada tantangan signifikan yang harus diatasi untuk memperluas penerapan teknologi ini. Pelatihan yang diberikan mencakup cara instalasi dan penggunaan aplikasi QRIS serta cara melakukan transaksi dengan kode QR, dan materi sosialisasi telah disiapkan untuk mempermudah pemahaman masyarakat. Namun, kendala Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. utama yang masih menghambat penyebaran QRIS adalah keterbatasan kemampuan masyarakat dalam memahami teknologi terbaru. Banyak warga di desa tersebut belum familiar dengan aplikasi digital dan teknologi modern, yang menyebabkan adopsi QRIS menjadi lebih sulit. Peneliti menyarankan bahwa untuk mengatasi masalah ini, diperlukan strategi yang lebih adaptif dan komprehensif. Ini termasuk pengembangan metode pelatihan yang lebih sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat, penggunaan pendekatan yang lebih sederhana dan mudah dipahami, serta melibatkan tokoh lokal dalam proses edukasi. Dengan cara ini, diharapkan masyarakat akan lebih mudah memahami dan menggunakan QRIS, sehingga penerapan teknologi ini dapat meluas dan efektif di tingkat desa. Pendekatan yang holistik dan terintegrasi akan membantu mengurangi kesenjangan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi QRIS. Dengan demikian, untuk meningkatkan efektivitas penerapan QRIS di Desa Cibeureum, diperlukan pendekatan yang lebih adaptif dan komprehensif dalam sosialisasi dan pelatihan. Meskipun pelatihan dan materi yang diberikan sudah mencakup aspek-aspek penting dari penggunaan QRIS, keterbatasan pemahaman teknologi di kalangan masyarakat masih menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, pengembangan metode pelatihan yang lebih sesuai dengan tingkat pemahaman lokal, penggunaan bahasa yang sederhana, serta melibatkan tokoh masyarakat dalam proses edukasi menjadi langkah-langkah krusial. Pendekatan yang lebih holistik ini diharapkan dapat membantu masyarakat lebih mudah memahami dan mengadopsi teknologi QRIS, sehingga memperluas penerapannya dan meningkatkan inklusi teknologi di tingkat desa. Berdasarkan uraian diatas terkait perception easy to use dalam penggunaan QRIS pada UMKM Desa Cibeureum dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi tantangan adopsi QRIS di Desa Cibeureum, diperlukan perbaikan mendalam pada antarmuka dan teknologi QRIS untuk mengatasi masalah yang dihadapi pelaku UMKM dan pelanggan. Perbaikan desain antarmuka seperti penyederhanaan navigasi, klarifikasi fungsi tombol dan menu, serta peningkatan umpan balik sistem akan mempermudah penggunaan aplikasi dan mengurangi Selain itu, perlu dilakukan perbaikan pada kualitas pencetakan QR Code dan aplikasi pemindai, serta implementasi program edukasi dan pelatihan yang efektif untuk meningkatkan pemahaman teknologi di kalangan masyarakat. Keterbatasan pemahaman teknologi dan masalah teknis seperti ketidakresponsifan aplikasi dan keterlambatan transaksi harus diatasi melalui langkah-langkah perbaikan teknis dan dukungan langsung. Pengembangan metode pelatihan yang sesuai dengan tingkat pemahaman lokal, penggunaan bahasa yang sederhana, dan keterlibatan tokoh masyarakat dalam edukasi menjadi langkah-langkah penting. Dengan pendekatan yang lebih adaptif dan komprehensif, diharapkan penggunaan QRIS dapat lebih diterima, memperluas penerapannya, dan meningkatkan inklusi teknologi di tingkat desa. Berdasarkan analisis mengenai perception usefulness dan perception easy to use terkait efektivitas penggunaan QRIS di UMKM Desa Cibeureum, dapat disimpulkan bahwa meskipun QRIS menawarkan potensi signifikan untuk meningkatkan efisiensi transaksi dan mengurangi kesalahan manual, adopsi teknologi ini masih menghadapi beberapa tantangan Pelaku UMKM sering mengalami masalah teknis seperti ketidakresponsifan aplikasi Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. dan keterlambatan transaksi, sementara ketidakfamiliaran dengan teknologi juga menambah Untuk mengatasi kendala ini, diperlukan perbaikan menyeluruh pada antarmuka QRIS, termasuk penyederhanaan navigasi dan klarifikasi fungsi tombol serta menu. Peningkatan dukungan teknis, seperti perbaikan kualitas pencetakan QR Code dan aplikasi pemindai, juga sangat penting. Selain itu, program edukasi dan pelatihan yang efektif, disertai dengan pengembangan metode pelatihan yang sesuai dengan tingkat pemahaman lokal dan melibatkan tokoh masyarakat, akan mempercepat adopsi teknologi ini. Strategi implementasi yang meliputi penyediaan berbagai opsi pembayaran dan kampanye komunitas juga akan membantu meningkatkan penerimaan QRIS. Dengan pendekatan komprehensif ini. QRIS dapat dioptimalkan, memperbaiki efisiensi transaksi, dan memperluas penerapannya di tingkat desa, sehingga memberikan manfaat maksimal bagi pelaku UMKM dan pelanggan di Desa Cibeureum. Keefektifan penggunaan QRIS pada UMKM Desa Cibeureum sangat tergantung pada sejumlah faktor yang harus diatasi untuk mencapai penerimaan dan pemanfaatan yang Meskipun QRIS menjanjikan efisiensi dalam transaksi dan potensi untuk mengurangi kesalahan manual, adopsi teknologi ini di Desa Cibeureum menghadapi tantangan yang Pertama, masalah teknis seperti ketidakresponsifan aplikasi dan keterlambatan transaksi perlu diselesaikan melalui perbaikan teknis yang mencakup peningkatan kualitas pencetakan QR Code dan stabilitas aplikasi pemindai. Kedua, tingkat pemahaman dan familiaritas yang rendah terhadap teknologi QRIS di kalangan pelaku UMKM dan pelanggan menjadi hambatan utama yang mempengaruhi efektivitasnya. Edukasi yang intensif dan adaptif, disertai dengan pelatihan yang tepat sesuai dengan tingkat pemahaman lokal dan dukungan langsung dari tokoh masyarakat, diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan adopsi QRIS. Selanjutnya, penyederhanaan antarmuka aplikasi QRIS dengan navigasi yang lebih intuitif, klarifikasi fungsi tombol, serta umpan balik yang lebih jelas akan mempermudah penggunaan dan mengurangi tingkat frustrasi dalam proses transaksi. Implementasi strategi komprehensif yang mencakup berbagai opsi pembayaran dan kampanye komunitas juga dapat mempercepat adopsi QRIS di masyarakat Desa Cibeureum. Dengan mengatasi tantangan ini melalui pendekatan yang holistik dan terkoordinasi. QRIS memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi operasional UMKM, meningkatkan akurasi transaksi, dan pada akhirnya, memperluas inklusi teknologi di tingkat desa. Dengan demikian, keefektifan penggunaan QRIS pada UMKM Desa Cibeureum dapat dicapai melalui upaya yang berkelanjutan dalam memperbaiki teknologi, meningkatkan pemahaman, serta mendukung adopsi dan integrasi teknologi QRIS secara menyeluruh di komunitas tersebut KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Efektivitas QRIS dalam Meningkatkan Efisiensi Pembayaran QRIS dibuat untuk menyederhanakan proses pembayaran di UMKM Desa Cibeureum. Meskipun demikian, ada tantangan yang dihadapi, terutama terkait dengan tingkat literasi digital yang rendah di kalangan konsumen maupun pelaku usaha dan masalah Vol. Issue 2, . 106-126 Jurnal Ilmiah ADBIS (Administrasi Bisni. infrastruktur, seperti koneksi internet yang lambat. Meskipun QRIS menjanjikan efisiensi, implementasinya belum optimal kerena beberapa faktor. Masalah yang Dihadapi dalam Penggunaan QRIS Dalam Studi ini Peneliti mengidentifikasi beberapa masalah yang dihadapi oleh konsumen dan pelaku UMKM dalam menggunakan QRIS. Tantangan utama meliputi minimnya literasi digital di masyarakat tersebut dan masalah infrastruktur yang mempengaruhi konektivitas internet. Hal ini menghambat adopsi QRIS meskipun potensi manfaatnya dalam meningkatkan efektivitas proses penjualan. Upaya untuk Meningkatkan Penerimaan dan Penggunaan QRIS Meskipun masih ada kendala, penelitian ini menunjukkan bahwa QRIS dapat menjadi solusi yang baik jika dilakukan upaya untuk meningkatkan literasi digital di kalangan Masyarakat serta infrastruktur internet. Penting bagi pelaku UMKM untuk melihat nilai nyata dalam penggunaan QRIS agar mereka lebih termotivasi untuk mengadopsi teknologi ini di UMKM Desa Cibeureum DAFTAR PUSTAKA