Berkala Ilmiah Pendidikan scidac plus Volume 4 Nomor 2. Juli 2024 PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI KELAS IV Yefsi Desty Ania*. Ely Susanti. Avida. Putri Ningsih. Reni Setiawati Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia SD Negeri 130 Palembang. Palembang yefsidestyania@mail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV melalui model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang mempunyai 2 siklus, dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 130 Palembang berjumlah 23 orang yang terdiri dari 13 laki-laki dan 10 perempuan. Dengan teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif untuk memperoleh data yang diharapkan. Hasil siklus I diperoleh informasi bahwa 43,6% siswa sudah mempunyai motivasi belajar yang baik dan sangat baik sehingga dilakukan tindakan pada siklus II karena 50% siswa belum termotivasi. Pada siklus II diperoleh 78,2% siswa mempunyai motivasi belajar baik dan sangat baik. Berdasarkan hasil siklus I dan II dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar siswa melalui model Problem Based Learning (PBL). Kata Kunci: PBL. Motivasi Belajar. Pendidikan Pancasila Abstract The purpose of this research is to increase the learning motivation of class IV students through the Problem Based Learning (PBL) model in the Pancasila Education subject. The method used is classroom action research (PTK) which has 2 cycles, with stages of planning, implementation, observation and reflection. The subjects of this research were 23 fourth grade students at SD Negeri 130 Palembang, consisting of 13 boys and 10 With data collection techniques using observation sheets and interviews. The data obtained in this research was analyzed descriptively quantitatively and descriptively qualitatively to obtain the expected data. The results of cycle I obtained information that 43. 6% of students had good and very good motivation to learn so that action was taken in cycle II because 50% of students were not yet motivated. In cycle II, it was found that 78. 2% of students had good and very good learning motivation. Based on the results of cycles I and II, it can be concluded that there has been an increase in student learning motivation through the Problem Based Learning (PBL) model. Keywords: PBL. Learning Motivation. Pancasila Education Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2024 Yefsi Desty Ania*. Ely Susanti. Avida. Putri Ningsih. Reni Setiawati PENDAHULUAN Menerima dukungan dari orang lain dan dari dalam diri sendiri saat melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pribadi itulah yang memotivasi orang untuk belajar. Wurjanti . menegaskan bahwa siswa yang bermotivasi tinggi akan belajar dengan gembira tanpa diminta dan akan selalu belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sedangkan siswa yang bermotivasi rendah tidak akan belajar sekeras apa pun kita mengingatkannya. Dia jelas mengambil tindakan itu karena dia menginginkannya. Menurut Pasaribu . tingkah laku siswa di dalam kelas yang dihubungkan dengan fokus, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan dalam belajar menunjukkan motivasi belajar. Motivasi sangat penting dalam proses belajar, karena seseorang yang tidak memiliki motivasi akan kesulitan untuk belajar. Motivasi berlajar sangat penting dalam melakukan atau menyelesaikan proses pembelajaran, motivasi belajar memiliki peranan penting yang dibutuhkan bagi siswa. Tanpa motivasi tersebut, siswa tidak akan menyibukkan diri dengan materi yang diajarkan di kelas dan tidak akan serius dalam belajar. Anggraini, , & Sukartono . menyatakan bahwa siswa yang termotivasi belajar akan lebih terlibat dalam proses pembelajaran dan tidak mudah putus asa ketika melakukan kegiatan pendidikan. Temuan hasil penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa rendah dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh pada hasil penelitian Hendrizal . yang menyatakan bahwa strategi pengajaran yang tidak memadai oleh guru, kurikulum, administrasi sekolah yang buruk, dan masalah pribadi yang mungkin dimiliki anak-anak dengan orang tua, teman, dan lingkungan semuanya dapat berkontribusi pada kurangnya semangat belajar mereka. Begitu juga dari hasil survei peneliti di Kelas IV SD Negeri 130 Kota Palembang. Hasil survei menunjukkan banyak siswa yang memiliki permasalahan motivasi belajar terutama pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila yang cukup rendah. Rizki dkk. pembelajaran Pendidikan Pancasila merupakan pembelajaran yang sulit untuk dicerna serta membuat mereka bosan. Sehingga para siswa mengalami penurunan motivasi untuk belajar. Dari hasil survey juga diperoleh bahwa saat pembelajaran pendidikan pancasila berlangsung, masih banyak peserta didik yang tidak fokus dan lebih memilih melakukan kegiatan lain atau mengobrol dengan temannya. Habbah dkk. rendahnya motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila ini di sebabkan oleh 2 faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal. Jika ditinajau dari faktor internal dan didukung dengan data hasil wawancara pada beberapa siswa diperoleh bahwa siswa yang masih memiliki masalah motifasi belajar. Hasil wawancara pada beberapa siswa diperoleh bahwa siswa tidak memiliki minat dan ketertarikan terhadap mata pelajaran pendidikan pancasila. Hal tersebut dikarenakan materi pada mata pelajaran pandidikan pancasila terlihat begitu banyak bagi mereka sehingga para siswa ini cenderung tidak bersemangat untuk terlibat dalam proses belajar. Dari faktor eksternal rendahnya motivasi belajar tersebut dipengaruhi dua hal meliputi lingkungan keluarga dan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Beberapa siswa diperoleh bahwa siswa yang masih memiliki masalah dalam motivasi belajar umumnya adalah siswa yang kurang diperhatikan di lingkungan keluarganya. Lingkungan keluarga yang kurang mendukung tersebut cukup memberikan dampak pada semangat siswa ketika datang ke sekolah. Orang tua kurang terlibat aktif dalam proses belajar anak padahal lingkungan keluarga menjadi faktor krusial pada motivasi belajar siswa. Menurut Fadhilah dkk. orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa yang dapat membentuk kebiasaan belajar siswa. Sikap proaktif para orang tua ini dapat memberikan dorongan dan motivasi yang besar terhadap anaknya. Faktor lainnya yang diduga mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah dari aspek model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Menurut Paling dkk. bahwa model pembelajan adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan saat melakukan kegiatan pembelajaran, guru sering kali hanya mengajarkan dan menyampaikan apa yang ada dibuku teks dan pembelajarannya sering kali dilakukan dengan cara konvensional. Meskipun guru tahu bahwa siswa di kelasnya memiliki karakteristik yang beragam, seperti gaya belajar yang beragam dan level kemampuan yang beragam, akan tetapi guru masih belum menggunakan karakteristik siswa tersebut untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran. Media yang digunakan untuk pembelajaran juga masih kurang beragam dan jarang menggunakan media berbasis teknologi. Berdasarkan hasil identifikasi masalah di atas serta mengingat akan pentingnya motivasi belajar, maka perlu dicarikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut serta hal ini juga yang menjadi alasan fundamental bagi peneliti untuk mengangkat permasalahan ini. Dari hasil identifikasi masalah juga diperoleh bahwa penggunaan model dalam pembelajaran merupakan salah satu aspek yang cukup berpengaruh dalam Hal ini juga didukung hasil penelitian terdahulu Herzamzam . terkait upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, diantaranya dengan menggunakan model pembelajaran yang berbasis masalah agar dapat meningkatkan keterterikan siswa terhadap mata pelajaran pendidikan pancasila. Sebelum tindakan rata-rata kelas sebesar 49,94% dengan katagori rendah, meningkat menjadi 69,2% pada siklus I sedangkan pada siklus II bertambah menjadi 85,04% dengan katagori sangat Berdasarkan permasalahan, penyebab masalah, dan penelitian terdahulu termasuk semua fenomena yang telah diuraikan di atas, maka diperlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan dan memperluas kemampuan pemecahan masalah. Siswa harus memecahkan masalah mereka sendiri, dan pembelajaran mendorong pengembangan pemikiran kritis, kerja tim, komunikasi, dan berbagi informasi. Hal ini membantu mendukung siswa sekolah dasar dalam menumbuhkan dan meningkatkan semangat belajarnya. Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan. Sehingga judul penelitian ini adalah AuPeningkatan Motivasi Belajar Siswa Melalui Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Pada Pelajaran Pendidikan Pancasila Di Kelas IVAy METODE Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan di SD Negeri 130 Palembang. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IV B dengan jumlah 23 peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus dan masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti meyusun modul ajar, membuat LKPD, menyiapkan media pembelajaran berbasis teknologi seperti video dan menyusun instrument observasi. Pada tahap pelaksanaan, peneliti mengimplementasikan modul ajar sesuai dengan perencanaan. Pada tahap observasi, semua anggota penelitian melakukan observasi terhadap motivasi belajar siswa. Selanjutnya peneliti melakukan refleksi untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan telah berhasil atau belum dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Kegiatan refleksi ini tidak hanya dilihat dari hasil observasi motivasi belajar saja tetapi juga mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama pembelajaran. Jika pembelajaran yang dilakukan dinilai belum berhasil, maka kegiatan pembelajaran diteruskan ke siklus berikutnya. Kegiatan pembelajaran ini dikatakan berhasil jika lebih dari 50% siswa yang memiliki motivasi belajar. Tahapan penelitian tergambar dalam bentuk siklus seperti gambar di bawah ini. Berikut siklus penelitian Tindakan kelas di bawah ini: Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas Gambar di atas merupakan siklus Penelitian Tindakan Kelas adopsi Kemmis & Taggart dari (Widiastuti. Sayekti & Eryani, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan tediri dari observasi dan Teknik pengumpulan data observasi menggunakan lembar observasi. Lembar observasi tersebut digunakan untuk mengukur motivasi siswa dalam belajar, teknik pengumpulan data berikutnya adalah wawancara, wawancara ini digunakan untuk mengumpulkan data pendukung terkait hal-hal yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. Pada penelitian ini semua data dianalisis secara deskriptif. Data hasil wawancara dianalisis secara deskripsi kualitatif sedangkan data observasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan mengacu pada enam indikator motivasi belajar siswa berdasarkan belajar Nasrah. , & Muafiah . yaitu adanya hasrat dan keinginan berhasil yang meliputi pada pengerjaan tugas tepat waktu, memiliki keinginan untuk mencapai hasil yang maksimal, dan tertantang untuk mengerjakan soal yang sulit. Adanya dorongan dan kebutuham dalam belajar yang merujuk pada rasa ingin tahu dan minat dalam belajar. Kemudian, adanya harapan dan cita-cita masa depan yang meliputi upaya untuk meraih cita-cita dan ketekunan dalam. Data hasil observasi yang dilakukan selanjutnya dinyatakan dalam bentuk kategori seperti pada tabel berikut. Tabel 1. Kategori Motivasi Belajar Rentang nilai Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang HASIL DAN PEMBAHASAN SIKLUS I PERENCANAAN Merencanakan kegiatan perbaikan pembelajaran merupakan langkah awal dalam perencanaan Siklus I. Peneliti membuat modul pembelajaran, lembar kegiatan siswa, media, dan alat observasi sebagai bagian dari tahap perencanaan ini. Pembelajaran berbasis masalah (PBL) merupakan model pembelajaran yang peneliti gunakan. Ini terdiri dari beberapa tahap, termasuk memperkenalkan siswa pada masalah, menyiapkan lingkungan belajar, mengarahkan penyelidikan individu atau kelompok, membuat dan menyajikan temuan, dan menilai dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peneliti ingin siswa berpartisipasi aktif dalam mengidentifikasi masalah dan jawabannya selama pembelajaran, itulah sebabnya mereka memilih pendekatan pembelajaran PBL. Modul pengajaran berisi penjelasan rinci tentang sintaks PBL yang menguraikan kegiatan guru dan siswa. Selain itu, peneliti menciptakan materi pembelajaran berbasis teknologi untuk meningkatkan dan memotivasi siswa dalam belajar guna menunjang proses pembelajaran. Media berbasis teknologi seperti powerpoint dan video pembelajaran digunakan pada siklus 1. Selain itu, guru juga membuat lembar kerja untuk siswa yang akan diselesaikan secara berkelompok untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Setelah perencanaan, peneliti membuat lembar observasi dan melakukan wawancara yang dilakukan selama dan setelah proses pembelajaran. PELAKSANAAN Pelaksanaan Siklus I ini dilakukan pada tanggal 1 Maret 2024 di SDN 10 Palembang pada jenjang kelas IV fase B. Pelaksanaan siklus I terdiri dari kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan dimulai dengan aktivitas rutin kelas, sesuai kesepakatan kelas yaitu menyapa, berdoa, mengecek kehadiran, dan menyanyikan lagu Nasional. Pada kegiatan pembuka, guru juga melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran tentang AuKeutuhan Negara Kesatuan Republik IndonesiaAy. Gambar 2. Pelaksanaan Silkus I Pada kegiatan inti, peneliti menggunakan media pembelajaran berupa powerpoint dan video yang berisi tentang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk memberikan stimulus kepada siswa agar menemukan suatu masalah dalam video tersebut. Guru kemudian membagi kelas menjadi empat kelompok dan memberikan LKPD kepada masing-masing kelompok. Sebelumnya, peneliti telah memberikan bimbingan dan kesempatan kepada siswa untuk mencermati video tersebut guna memahaminya dan mencari cara untuk memecahkan permasalahan yang disajikan. Siswa diinstruksikan untuk berdiskusi dalam kelompoknya, dan LKPD digunakan untuk mencatat hasil diskusi. Setiap kelompok kemudian mendapat kesempatan untuk berbagi hasil percakapannya, dan kelompok lain menanggapi kelompok yang muncul. Setelah penampilan masing-masing kelompok, guru memberikan penguatan dan kejelasan dengan cara menyampaikan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pada kegiatan penutup guru memberikan umpan balik kepada siswa atas semua tugas mereka, mengungkapkan rasa terima kasih atas pekerjaan mereka, menilai proses pembelajaran, dan mengajak kelas untuk menyanyikan sebuah lagu sebelum berdoa lalu mengucapkan salam. OBSERVASI Pelaksanaan observasi siklus I dilakukan oleh peneliti untuk melihat sejauh mana motivasi belajar Terdapat 4 kelompok siswa yang diobservasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Berdasarkan observasi diperoleh bahwa kelompok 4 telah belajar tentang topik pembelajaran dengan baik. Namun salah satu siswa di kelompok 3 masih terlihat makan permen karet selama pembelajaran awal Kemudian kelompok 2 siswa banyak bermain selama diskusi kelompok dan pada kelompok 1 terdapat 1 siswa terlihat sibuk sendiri tidak berdiskusi dengan kelompoknya. Hal ini disebabkan karena siswa belum sepenuhnya mengerti cara menjawab soal yang ada pada LKPD yang diberikan oleh peneliti sehingga siswa banyak bermain. Solusi yang yang diberikan oleh peneliti yaitu dengan melakukan pendekatan kepada siswa yang tidak focus belajar serta bertanya dan membantu siswa yang mengalami kesulitan saat proses pembelajaran berlangsung. Gambar 3. Observasi kegiatan diskusi kelompok HASIL OBSERVASI SIKLUS I Berdasarkan hasil observasi siklus I diperoleh motivasi belajar siswa masih belum baik karena ada 56,4% siswa yang motivasi belajarnya terkategori kurang dan sangat kurang. Berikut ini data motivasi belajar siswa pada siklus I. Tabel 2. Motivasi Belajar Siswa pada Siklus 1 Rentang Nilai Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang Banyak Siswa Persentase 30,4% 8,6% 4,3% 13,0% 43,4% Total REFLEKSI Refleksi pada siklus I dilakukan dengan cara meninjau beberapa cara yaitu dengan meninjau kembali kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti, meninjau hasil observasi yang dilakukan observer, dan meninjau hasil observasi siswa mengenai motivasi belajar. Berdasarkan hasil observasi di Siklus I diperoleh informasi bahwa kelompok-kelompok yang aktif, antusias, dan berhasil dalam pembelajaran adalah siswa yang banyak dibimbing dan diperhatikan guru, atau dengan kata lain keterlibatan siswa dalam pembelajaran dipengaruhi kontribusi guru baik sebagai motivator maupun sebagai fasilitator. Selain itu, jika ditinjau dari implementasi penerepan model PBL pada proses pembelajaran siswa dituntut untuk berpikir kritis dalam menemukan masalah serta solusi dari permasalahan tersebut, hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih menantang dan menarik bagi siswa. Kemudian penggunaan media powerpoint dan video juga menarik siswa dalam memahami materi. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang belum memperhatikan pembelajaran secara keseluruhan sehingga siswa tersebut belum termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Dari hasil observasi siswa juga diperoleh 56,4% siswa yang masih tidak termotivasi saat Sehingga hasil refleksi menyimpulkan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran tersebut perlu dilanjutkan ke siklus 2 dengan mengubah beberapa hal seperti tempat duduk siswa, keterlibatan siswa dalam menggunakan media, dan penggunaan wordwall. SIKLUS II PERENCANAAN Pada tahap perencanaan di siklus II ini peneliti juga menyusun perangkat ajar berupa modul ajar sesuai dengan kurikulum Merdeka. LKPD dan media pembelajaran. Pada siklus 2 ini model pembelajaran tetap menggunakan model PBL. Pemilihan model pembelajaran ini disesuaikan juga dengan karakteristik siswa untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan mengatasi masalah serta mengembangkan berpikir kritis siswa sebagai upanya dalam peningkatan pada motivasi belajar siswa. Pada tahap perencanaan ini, peneliti juga mengembangkan LKPD dengan tujuan untuk memfasilitasi siswa dalam berkolaborasi dengan petunjuk pengerjaan yang mudah dipahami oleh siswa. Selain itu, peneliti juga menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi yang memuat informasi visual, audio visual dalam bentuk powerpoint, video serta media teknologi wordwall berbasis games. Kegiatan perencanaan pada siklus II ini diakhiri dengan menyiapkan instrumen penilaian yang terdiri dari lembar observasi, dan instrument wawancara untuk mengukur peningkatan motivasi belajar siswa. PELAKSANAAN Pelaksanaan siklus II ini dilakukan pada tanggal 8 Maret 2024 dengan dilakukan perubahan posisi tempat duduk atau rolling. Perubahan tempat duduk ini dilakukan atas dasar hasil refleksi pada siklus 1. Perubahan tempat duduk siswa ini diharapkan dapat mendorong siswa yang belum memperhatikan pembelajaran secara keseluruhan. Pada siklus II, kegiatan pendahuluan dilakukan seperti biasa mulai dari menyapa siswa, berdoa, dan mengecek kehadiran sampai menyanyikan lagu Nasional. Pada kegiatan pembuka, guru juga melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran tentang AuPerilaku yang Menunjukan Sikap Menjaga Kesatuan Negara Kesatuan Republik IndonesiaAy. Kemudian pada kegiatan inti hal pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan membahas sedikit tentang materi sebelumnya kemudian menampilkan gambar tentang AuPerilaku yang Menunjukkan Sikap Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik IndonesiaAy. Kedua peneliti memberikan pertanyaanpertanyaan pemantik kepada siswa tentang pemasalahan yang ditemukan setelah melihat gambar yang telah ditampilkan. ketiga peneliti membentuk 4 kelompok dan membagikan LKPD disetiap kelompok. Keempat peneliti memersiapkan laptop dan proyektor untuk menayangkan video tentang sikap yang tidak menunjukkan sikap menjaga keutuhan NKRI. Kelima peneliti mempersilahkan kepada setiap siswa dikelompoknya masing-masing untuk menyimak tayangan video tersebut. Setelah menayangan video, peneliti memberikan pertanyaan terkait tayangan video melalui tayangan proyektor dengan menggunakan wordwall yang dapat menarik perhatian peserta didik. Sebelumnya peneliti sudah membagikan LKPD disetiap kelompok dan mempersilahkan siswa untuk berdiskusi dalam menjawab pertanyaan tersebut, disini peserta didik berlomba dalam menjawab pertayaan yang diberikan. Hasil diskusi tersebut dicatat pada LKPD, kemudian setiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Keenam peneliti memberikan lembar evaluasi untuk dikerjakan masing-masing siswa. Terakhir guru memberikan penguatan/klarifikasi dengan menjelaskan materi setelah semua kelompok tampil. Selanjutnya pada kegiatan penutup guru mengapresiasi dan memberikan klarifikasi terhadap seluruh tugas yang sudah dikerjakan oleh peserta didik, melakukan evaluasi proses pembelajaran dan menutup kegiatan pembelajaran dengan mengajak peserta didik untuk menyanyikan lagu daerah. Kemudian dilanjutkan dengan doa dan mengucapkan salam. OBSERVASI Pelaksanaan observasi siklus II dilakukan untuk melihat motivasi belajar siswa. Terdapat 4 kelompok yang diobservasi. Kelompok 4 telah belajar topik pembelajaran dengan baik. Pada siklus II ini terlihat ada kemajuan yang signifikan pada siswa di Kelompok 3. Siswa di kelompok 3 terlihat lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran, lebih fokus, semangat, aktif dan menunjukan sikap kolaboratif dengan siswa lainnya. Siswa tersebut terlihat mampu mengikuti arahan peneliti selama kegiatan Berdasarkan hasil pengamatan pada kelompok 2 yang sebelumnya pada siklus I masih banyak bermain diperoleh bahwa siswa di kelompok 2 tersebut sudah memiliki motivasi dalam belajar dan aktif dalam berkolaborasi menyelesaikan LKPD serta mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Siswa sudah mengerti cara mengerjakan LKPD yang diberikan oleh peneliti sehingga siswa sudah fokus dalam Siswa kelompok 1 yang awalnya sibuk sendiri pada siklus II siswa tersebut ikut berdiskusi dengan kelompoknya dan terlihat antusias. Meskipun ada perpindahan tempat duduk dan perpindahan suasana Siswa tampak senantiasa termotiviasi untuk mengikuti pembelajaran, terutama dengan ditampilkannya berbagai media seperti powerpoint, video, wordwall berbentuk games sehingga terlihat antusias siswa dalam belajar dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. HASIL OBSERVASI SIKLUS II Berdasarkan hasil observasi siklus II diperoleh motivasi belajar siswa sudah meningkat. Ada 78,2% siswa yang sudah terkategori baik dan sangat baik. Berikut ini data motivasi belajar siswa pada siklus II. Tabel 3. Motivasi Belajar Siswa pada Siklus II Rentang Nilai Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang Total Banyak Siswa Persentase 65,2% 4,3% 8,6% 8,6% REFLEKSI Pembelajaran sudah berjalan dengan baik, berdasarkan hasil evaluasi dan analisis data siklus II yang telah selesai dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2024 dengan menerapkan paradigma pembelajaran PBL berbantuan wordwall. Diskusi kelas menunjukkan bahwa semuanya berjalan cukup baik. memperhatikan penjelasan guru saat menyampaikan materi, mampu mengerjakan soal, dan terdapat peningkatan nyata pada motivasi belajar siswa siklus II yang dibuktikan dengan semangat mereka menyelesaikan soal wordwall. Hasil refleksi siklus II menunjukkan bahwa setelah penggunaan model PBL, beberapa kekurangan yang dihadapi peneliti pada siklus I telah teratasi pada siklus II. Pada kelas IV B mata pelajaran Pendidikan Pancasila SD Negeri 130 Palembang diterapkan paradigma PBL untuk meningkatkan motivasi belajar Hal ini dirasa cukup berhasil dan dilanjutkan hingga siklus II. Motivasi belajar siswa diketahui melalui observasi selama kegiatan pembelajaran dilakukan pada siklus I dan II. Berdasarkan temuan observasi penelitian yang dilakukan di materi Pendidikan Pancasila, penggunaan model pembelajaran PBL meningkatkan motivasi belajar siswa. PEMBAHASAN Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan, sesuai dengan hasil pelaksanaan siklus I dan siklus II dengan menggunakan model pembelajaran PBL. Data ini menunjukkan bahwa setelah dua siklus tindakan, proses pembelajaran penelitian mengalami peningkatan kualitas. Seperti terlihat pada bagan di bawah ini, peningkatan kualitas pengajaran melalui penggunaan model pembelajaran PBL mempengaruhi motivasi belajar siswa. MOTIVASI BELAJAR SIKLUS I SIKLUS II Termotivasi Belum Termotivasi Gambar 4. Motivasi Belajar Siswa Berdasarkan gambar diagram di atas diketahui bahwa hasil belajar siswa terlihat meningkat yaitu dari 43,6% dari siklus I menjadi 78,2% pada siklus II. Peningkatan motivasi belajar tersebut dipengaruhi oleh penerapan model PBL dalam proses pembelajaran serta didukung dengan penggunaan media yang berbasis teknologi. Menurut Khusna. , & Dian . penerapan model PBL dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dibuktikan dengan kegembiraan mereka terhadap materi yang dibahas di kelas, kemandirian dalam menjawab pertanyaan guru dan menyelesaikan tugas tepat waktu, dan kepercayaan diri mereka dalam berpartisipasi dalam diskusi kelas dan mempresentasikan temuan diskusi tersebut. Wahyuningtyas. , & Kristin . menambahkan bahwa model PBL merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pendekatan pembelajaran PBL melibatkan siswa dalam proses aktif pemecahan masalah. Dengan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, siswa mampu meningkatkan hasil belajarnya. Selain itu. PBL dapat membantu siswa memperkuat keterampilan sosial, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, dan kemampuan berkolaborasi dalam suatu masalah. Selain itu, peneliti memanfaatkan salah satu media yang inovatif, yaitu aplikasi wordwall. Menurut Nurhikmah. & Zalsabilah . penggunaan wordwall mudah dimasukan ke dalam proses pembelajaran dengan diintegrasikan model PBL pada siklus II, adanya aplikasi wordwall, menjadikan pembelajaran menjadi lebih interaktif, mudah, dan menyenangkan. Dengan pertanyaan yang berbentuk isian melengkapi dan menyempurnakan, siswa yang awalnya kurang termotivasi dalam belajar menjadi termotivasi untuk memecahkan masalah secara menyenangkan. Kurniawan dkk. menjelaskan bahwa Penerapan model PBL terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Untuk mendorong siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikannya, pembelajaran berpusat pada siswa. Astuti. & Yuafian . menyatakan bahwa model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran keterlibatan siswa secara langsung. Pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna bila siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan lebih termotivasi untuk belajar. Siswa yang terlibat dalam pembelajaran bermakna mempraktikkan apa yang mereka pelajari. Siswa dapat menemukan jawaban atas permasalahan yang mereka alami. Pengalaman siswa sendiri akan menjadi katalisator motivasi mereka. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penerapan pendekatan PBL meningkatkan motivasi belajar siswa. Dari 43,6% menjadi 78,2% persentase hasil belajar siswa meningkat. Karena siswa berpartisipasi langsung dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pemahamannya untuk memecahkan masalah, maka model pembelajaran PBL dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif. Karena tantangan diambil dari situasi dunia nyata, pembelajaran menjadi lebih menarik dan siswa lebih bersemangat untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelas. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian ini, terutama kedua orang tua penulis yang selalu meridhoi dan tidak hentinya mendoakan serta mendukung setiap langkah penulis hingga sampai di tahap ini. Ucapan terima kasih selanjutnya penulis sampaikan kepada dosen pembimbing lapangan Ibu Dr. Ely Susanti. Pd dan guru pamong Ibu Avida. Pd. Gr yang senantiasa memberi bimbingan, arahan, dan saran dalam penelitian ini hingga selesai. Terakhir penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang selalu membantu penulis dalam suka maupun duka. DAFTAR PUSTAKA