Jurnal Keislaman dan Pendidikan stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 VOLUME 3 NOMOR 1. MARET 2022 PEMBELAJARAN NAHWU DENGAN METODE DEDUKTIF DAN INDUKTIF Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman STAI Al Hidayah Tasikmalaya STAI Al Hidayah Tasikmalaya STAI Al Hidayah Tasikmalaya Email : adisupardi@stit-alhidayah. id abuchengiz78@gmail. com rizkiabdu@gmail. Abstract This article aims to describe Nahwu learning through deductive and inductive methods. Nahwu learning in Indonesia has been going on for a long time, massive and dynamic. So that innovations from Arabic language experts continue to be carried out in an effort to answer the needs of the community. The Nahwu learning method is divided into two groups, namely the al-qiyysiyyah method . eductive/general to specifi. and the al-istiqry'iyyah method . nductive/specific to genera. This study uses a qualitative type of research through a descriptive analysis approach to library research. The data comes from classical literature, namely syarh matan Jurmiyyah and Mulakhos Qowyid Lughoh Arobiyyah, and modern literature, namely An-Nahwul Wydih and al-muyassar f ilmi An-Nahwi. The technique of collecting data is through content analysis from available literature, then it is analyzed and described in its entirety. By definition, the deductive method is Nahwu learning which is centered on rules to examples. This deductive method strategy uses rules that are concise and easy to memorize, strengthens memorization with verse verses, as well as rules that are often repeated and then inspired by the use of word examples. The innovation in this deductive method uses the strengthening of the memorization of the rules through the verses of the Nahwu rules that are sung. By implication, this deductive method is considered right on target if it is used by adult students or who are fluent in reading and speaking Arabic as theoretical reinforcement. Meanwhile, the inductive method by definition means mastery of sentence examples rather than rules, students are encouraged to master practical and applicable examples so that they are able to practice them in everyday conversation. Strategically, this method is by making an example of a practical sentence by the teacher and then followed by students, then after memorizing the example, students are expected to be able to make other examples, after being able to make examples, the teacher explains the rules as reinforcement and theory Innovation that can be done by training students to make simple sentences with everyday themes. The implications of the method are considered highly for beginners who are just learning Arabic, they are prioritized to be able to make examples and practice them rather than theory Keywords: al-istiqry'iyyah, al-qiyysiyyah. Nahwu. Methods. Learning. Abstrak Artikel ini bertujuan memaparkan pembelajaran Nahwu melalui metode deduktif dan metode induktif. Pembelajaran Nahwu di Indonesia telah berlangsung lama, massif dan dinamis. Sehingga inovasi dari pakar bahasa Arab terus dilakukan dalam upaya menjawab kebutuhan masyarakat. Metode pembelajaran Nahwu ini dibagi pada dua kelompok yaitu metode al-qiyysiyyah . eduktif/umum ke khusu. dan metode al-istiqryAoiyyah . nduktif/khusus ke umu. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif melalui pendekatan analisis deskriptif pada studi kepustakaan . ibrary researc. , data bersumber dari literer klakik yaitu syarh matan Jurumiyyah dan Mulakhos Qowyid Lughoh Arobiyyah, dan literer modern yaitu An-Nahwul Wydih dan al-muyassar f ilmi An-Nahwi. Teknik pengumpulan data melalui analisis konten dari literer yang tersedia, lalu dianalisis dan dideskripsikan secara utuh. Secara definisi bahwa metode deduktif adalah pembelajaran Nahwu yang berpusat pada kaidah ke contoh. Starategi metode deduktif ini dengan kaidah yang ringkas dan mudah dihapal, penguatan hapalan dengan bait-bait syair, juga kaidah yang sering diulang-ulang lalu diapirmasi dengan penggunaan contoh kata. Inovasi pada metode deduktif ini menggunakan penguatan hapalan kaidah melalui bait-bait syair kaidah Nahwu yang dilagukan. Secara implikasi metode deduktif ini dinilai tepat sasaran jika digunakan oleh peserta didik dewasa atau yang sudah lancar membaca dan berbahasa Arab sebagai penguatan teori. Sementara itu, metode induktif secara definisi berarti penguasaan contoh-contoh kalimat dari pada kaidah, peserta didik diperbanyak menguasai contoh praktis dan aplikatif sehingga mampu mempraktikannya dalam percakapan sehari-hari. Secara strategi, metode ini dengan membuat satu contoh kalimat praktis oleh guru lalu diikuti oleh peserta didik, kemudian setelah hapal contohnya, peserta didik diharapkan mampu membuat contoh yang lain, setelah mampu membuat contoh maka guru menjelaskan kaidah sebagai penguat dan apirmasi teori. Inovasi yang dapat dilakukan dengan melatih peserta didik untuk membuat kalimat sederhana dengan tema sehari-hari. Implikasi pada metode dinilai sangat bagi pemula yang baru belajar bahasa Arab, mereka didahulukan mampu membuat contoh dan mempraktikannya dari pada teori. Kata kunci: al-istiqryAoiyyah, al-qiyysiyyah. Nahwu. Metode. Pembelajaran. Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. PENDAHULUAN Nahwu dinilai sebagai pangkal ilmu dalam mengkaji bahasa Arab. Nahwu juga menjadi pintu utama dalam mempelajari berbagai literer Islam yang bersumber menggunakan bahasa Arab, seperti Alquran, hadis, kitab klasik dan kontemporer. Hal ini akan terus mendorong seluruh muslim agar tergerak untuk mempelajari Nahwu sebagai prasyarat mengetahui maksud dan makna berbagai literer Islam dengan mudah dan tepat Namun, fakta demikian tidak selalu berjalan mudah, masih ditemukan kendala dalam mempelajari ilmu Nahwu, paling tidak sebagai kaidah bahasa asing yang dinilai cukup sulit dan rumit. Nahwu sebagai disiplin ilmu bahasa Arab belum menunjukan perkembangan yang signifikan selain sebagai ilmu qawyid atau penanda bunyi akhir suatu kalimat. Permasalahan utama yang hampir dihadapi oleh setiap guru dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia, yaitu masih menilai dan berasumsi bahwa Nahwu sebagai ilmu teoritis bukan sebagai ilmu praktis, sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya ilmu Nahwu masih statis dan tidak cukup berkembang. Hal demikian, diapirmasi oleh (Muallif, 2. , bahwa mempelajari ilmu Nahwu memiliki beberapa tujuan pokok yaitu, . mengoreksi lisan dan tulisan dari kealfaan berbahasa. agar selalu melakukan analisis dan pendalaman kajian bahasa Arab. membantu pemahaman ungkapan-ungkapan bahasa Arab secara tepat sasaran. memberi stimulus positif terhadap otak, sekaligus memberi warna bagi perasaan serta mengoptimalkan khazanah kebahasaan. menggunakan ilmu gramatika bahasa Arab dalam berbagai kondisi dan situasi kebahasaan. Maka mempelajari Nahwu memiliki fungsi yang strategis. Oleh karena itu, perlu diimbangi dengan penguasaan dan penyediaan materi ajar dengan metode yang mudah dipahami dan Tujuan penelitian ini hendak mengurai beberapa substansi yang menyoal definisi, strategi, inovasi dan implikasi pada pembelajaran Nahwu dengan metode deduktif dan induktif secara langsung dan sederhana. Dengan harapan mampu menjawab dan mempermudah para pengajar dan pembelajar bahasa Arab dalam mengajar ilmu Nahwu tersebut. Pembelajaran Nahwu bagi penutur non-Arab memang cukup mendapat perhatian serius dan sistematis. Hal ini tampak dari berbagai upaya para pakar dalam mengembangkan metode pembelajarannya secara terus Upaya serius ini dilakukan seperti dalam penggunaan bahan ajar yang dinilai cukup efektif dan mampu membantu penutur non-Arab agar mudah dalam mempelajari sintaksis bahasa Arab tersebut. Seperti dalam penelitian (Nurzakiyah, 2. bahwa buku materi yang digunakan sebagai sumber belajar ilmu nahwu di kelas X A MA Pesantren PERSIS 109 Kujang Ciamis adalah kitab Al- Muyassar f AoIlmi An-Nahwi. Metode yang digunakan adalah metode deduktif . l-qiyysiyya. Juga dilakukan olahan atas metode yang digunakan yaitu kolaborasi dengan metode tanya jawab, metode ceramah, metode latihan . embuat contoh dengan mencari dalam Alqura. , dan penugasan/resitasi. Hal tak jauh berbeda juga terjadi pada penelitian (Abdussalam, 2. bahwa model pembelajaran Nahwu dengan kitab Al-fiyyah dengan metode deduktif pada kelas VII MTs NU TBS Kudus tahun ajaran 2016/2017 sudah cukup bagus dan efektif. Kemudian penelitian (Nauri, 2. bahwa pembelajaran Nahwu di pesantren Miftahul Huda 06 telah berlangsung lama dan terarah, di sana menggunakan kitab Syarah Matan Al-Jurmiyah, dan metode yang digunakan bersifat deduktif . l-qiyysiyya. , dikolaborasikan dengan metode QawyAoid wa Tarjamah, metode mudzykarah, metode muthyrahah, metode menghafal, metode tulis menulis, dan juga metode muthylaAoah. Sementara itu, implementasi metode induktif . l-istiqryAoiyya. tertuang pada penelitian (Fauzan, 2. , penerapan metode induktif dalam ilmu nahwu adalah dengan mengawali contoh-contoh kalimat dahulu, diikuti kaidah, selanjutnya simpulan berkaitan dengan kaidah, dan diakhiri aplikasi kaidah dalam soal-soal latihan. Seiring perkembangan yang meliputinya, pembelajaran Nahwu yang dinilai cukup berhasil dan terus digunakan hingga kini adalah metode al-qiyysiyyah . dan al-istiqryAoiyyah . sebagai sebuah formula dalam upaya mempermudah pembelajaran dan diduga kuat sebagai cikal bakal lahirnya bahan ajar Nahwu lainnya. Penggunaan term metode deduktif dan metode induktif memang dikenal sebagai langkah strategis dalam pembelajaran sintaksis dengan pendekatan umum-khusus dan khusus-umum, selain dapat bermanfaat juga akan memudahkan karena disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mereka yang hendak belajar. Langkah ini dinilai sebagai jawaban atas tantangan yang terus mendorong pengembangan metode bahasa Arab. Kompetensi sintaksis ilmu Nahwu berkedudukan sangat primer dalam kemampuan berkomunikasi. Peran sintaksis ini dalam kemampuan bahasa perlu didukung secara teoritik maupun empirik. Metode pembelajaran Nahwu ditinjau pada aspek penyampaian materi umum dapat dikelompokan atas dua metode pembelajaran Nahwu, yaitu Metode pembelajaran al-qiyysiyyah dan metode pembelajaran al-istiqryAoiyyah . l-istinbythiya. Dua metode ini dinilai sebagai pangkal dasar dalam perkembangan pembelajaran ilmu Nahwu hingga saat ini dan akan terus mengalami dinamisasi perbaikan. Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. Pembelajaran sintaksis Nahwu harus membekali punutur non-Arab dengan kaidah dan contoh yang seimbang sehingga dapat menjaga dari kesalahan. Paling tidak pengenalan dan pembiasaan untuk menggunakan kaidah secara benar dan tepat sekaligus mampu mengekspresikan secran lisan dan tulisan. Sehingga kedudukan sintaksis menjadi unsur penting dalam ilmu bahasa bukan saja bersifat teoritis dan kerangka ilmu saja. Gramatika dan sintaksis berperan dalam setiap pembicaraan hadir dari lisan penutur untuk dimengerti ucapannya oleh orang lain. Beberapa penelitian yang relevan pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, hanya saja tentu satu sama lain memiliki perbedaan, diantaranya skripsi berjudul AuPenerapan model pembelajaran deduktif pada mata pelajaran Nahwu kelas VII MTs NU TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyya. Kudus tahun 2016/2017 (Pembelajaran Kitab Nahwu Alfiyya. Ay oleh (Abdussalam, 2. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini hanya berpusat pada satu metode deduktif saja dan hanya menguji pada satu kitab tertentu, sehingga hasil yang diperoleh berfokus pada satu metode deduktif. Kemudian jurnal berjudul AuImplementasi Metode Qiyysiyah Terhadap Kemampuan Santri dalam Memahami Kitab Al-JurmiyahAy karya (MuAoizzudin, 2. , pada jurnal An-NabhigohVol. No. 01 Tahun 2019. Pada jurnal ini juga terbatas hanya berfokus pada satu metode deduktif, juga bepusat pada analisis dari kemampuan santri dalam memahami kitab AlJurumiyah saja. Lalu pada hasil prosiding konferensi nasional bahasa Arab V di Malang, 5 Oktober 2019 dengan judul AuTeori dan Penerapan Pengembangan Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Arab Berdasarkan Metode InduktifAy oleh (Fauzan, 2. Pada artikel ini justeru dipaparkan teori dan implementasi bahan ajar Nahwu menurut metode induktif saja. Sehingga jika kita amati kembali, bahwa dari beberapa artikel sejenis tersebut, yang paling membedakan adalah fokus penelitian, memilih salah satu dua metode tersebut, maka penelitian ini memiliki kebaruan yang akan mengkaji dua metode tersebut sekaligus secara ringkas dalam satu artikel mencakup definisi, strategi, inovasi dan implikasinya dalam kegiatan pembelajaran bahasa Arab secara umum di Indonesia. Maka artikel ini akan mengkaji mengenai penggunaan metode deduktif dan induktif dalam pembelajaran Nahwu. METODE PENELITIAN Metode penelitian yaitu sebagai tahapan untuk mengeksekusi temuan pencarian (Nurul Zuriah, 2. Sedangkan Ulber Silalahi, (Ulber Silalahi, 2. Ia berpendapat, metode penelitian yaitu metode dan prosedur yang terpola sistematis dan terarah untuk mengamati masalah untuk mencari informasi yang digunakan sebagai solusi dari masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan . ibrary researc. , yaitu studi dengan mengamati beragam literer yang bersumber dari kepustakaan sesuai masalah. Data bersumber dari literer klakik yaitu syarh matan Jurmiyyah dan Mulykhos Qowyid Lughoh al-Arobiyyah, dan literer modern yaitu An-Nahwul Wydih dan al-muyassar f ilmi an-Nahwi. Teknik pengumpulan data dengan analisis konten dari beragam literer, kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara rinci dan utuh. Dalam penelitian ini, peneliti memilih metode kualitatif dengan pengamatan mendalam tentang ragam kasus relevan dengan topik. Penelitian kualitatif dimaknai sebagai penelitian yang menjelaskan rinci dan mengolah sikap, keyakinan, fenomena, persepsi, peristiwa, aktivitas sosial, dan hasil perenungan orang individu dan kelompok. Hal demikian, juga diapirmasi (Sukmadinata, 2. , dua tujuan utama penelitian kualitatif adalah pengamatan atau penjelasan. dan ekspresi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dalam realitas pembelajaran Nahwu bahasa Arab di Indonesia masih menyisakan persoalan yang dinilai sebagai kendala dalam memahami substansi bahasa Arab sendiri, pembelajaran yang sudah berlangsung memusatkan pada hapalan kaidah tanpa diimbangi pemahaman yang optimal terkait implementasinya, sehingga hapalan tersebut kurang aplikatif. Fakta yang mencuat ke permukaan bahwa sejauh ini pembelajaran Nahwu baru sebatas kaidah dan informasi, sehingga perlu diketengahkan metode yang dianggap mewakili kelompok umum, dengan begitu kelompok ini dapat membantu para penutur non-Arab dalam mempelajari dengan mudah dan terampil. Para pakar membagi dalam dua kelompok utama yaitu AECOOA . dan A( uEC OAindukti. Secara definisi bahwa metode deduktif adalah pembelajaran Nahwu yang berpusat pada penguasaan gramatika bahasa Arab yang dimulai dari kaidah ke contoh, dari analogi ke penerapan, dari umum ke khusus. Starategi yang dinilai cocok untuk penerapan metode deduktif ini dengan kaidah yang ringkas dan mudah dihapal, penguatan kaidah melalui hapalan dengan syair atau nadhoman seperti bait-bait Al-fiyyah, juga kaidah yang sering diulang-ulang lalu diafirmasi dengan penggunaan contoh kata. Inovasi yang dapat dilakukan pada metode deduktif ini menggunakan pemanfaatan media sosial, penguatan hapalan kaidah Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. melalui bait-bait syair kaidah Nahwu yang dilagukan. Secara implikasi metode deduktif ini dinilai tepat sasaran jika digunakan oleh peserta didik dewasa atau yang sudah lancar membaca dan berbahasa Arab sebagai penguatan teori. Sementara itu, metode induktif secara definisi berarti pembelajaran Nahwu yang berpusat pada penguasaan contoh-contoh kalimat dari pada kaidah, peserta didik diperbanyak menguasai contoh praktis dan aplikatif sehingga mampu mempraktikannya dalam percakapan sehari-hari. Secara strategi, metode ini dapat dilakukan dengan membuat satu contoh kalimat praktis oleh guru lalu diikuti oleh peserta didik, kemudian setelah hapal contohnya, peserta didik diharapkan mampu membuat contoh yang lain, setelah mampu membuat contoh maka guru menjelaskan kaidah sebagai penguat dan apirmasi teori. Inovasi yang dapat dilakukan dengan melatih peserta didik untuk membuat kalimat sederhana dengan tema sehari-hari seperti tentang sekolah, kampus, cinta, keluarga, teman dan lain-lain, setelah menuliskan peserta didik diharapkan mampu mengucapkan kembali di depan secara bergantian dan memeroleh reward atas keberaniannya. Implikasi pada metode ini memang dinilai sangat cocok bagi pemula, bagi peserta didik yang baru belajar bahasa Arab, mereka didahulukan mampu membuat contoh dan mempraktikannya dari pada teori atau kaidah yang belum tentu dipahami. Pembahasan Proses pembelajaran bahasa Arab -dalam kerangka umum- bertujuan memberi motivasi, stimulus, dan inovasi untuk meningkatkan sekaligus membina kemampuan berbahasa secara fasih, secara pemerolehan bahasa . dan menggunakan bahasa . , serta memiliki optimisme yang besar akan bahasa itu. Motivasi untuk berbahasa dan rasa optimis juga sikap positif terhadap bahasa Arab itu sangat penting, karena mendorong agar tercipta suasana dan lingkungan berbahasa yang kondusif dalam menghidupkan pengembangan bahasa Arab. Untuk itu, kafasitas dan wawasan guru atau dosen dalam kegiatan pembelajaran harus sangat diperhatikan, paling tidak melalui metode pembelajaran yang kreatif, solutif, inovatif sekaligus menyenangkan sebagai solusi yang mesti diimplementasikan. Oleh karena itu, metode pembelajaran bahasa Arab berbasis praktik ditekankan pada keberanian yang diimbangi dengan wawasan kognitif yang baik, sehingga akan mewujudkan keterampilan . yang Hal demikian, tampak terjadi pada metode deduktif dan metode induktif, dua metode ini merupakan tangga utama dalam arus pemahaman kaidah bahasa Arab terutama ilmu Nahwu. Untuk mempermudah pemahaman pembaca, berikut disajikan tabel kategorisasi dua metode tersebut. Kategori Metode Deduktif Istilah bahasa Arab AECOOA l-qiyysiyya. Penyampaian materi Karakteristik khusus Kerangka Sasaran Usia Contoh Pustaka Klasik Umum ke Khusus Kaidah lalu Contoh Analogi ke penerapan Lanjutan Syarh matan Jurmiyyah Contoh Pustaka Modern Al-muyassar f ilmi anNahwi Induktif AuEC cOA . l-istiqryAoiyya. Khusus ke Umum Contoh lalu Kaidah Penerapan ke Analogi Pemula Mulykhos Qowyid Lughoh al-Arobiyyah An-Nahwul Wydih Tabel 1. Kategorisasi Metode Deduktif dan Metode Induktif Metode deduktif ialah pembelajaran Nahwu yang bermula dari/dengan paparan kaidah dulu, setelah itu berlanjut dengan beragam contoh yang relevan dengan paparan kaidah sebelumnya. Model pembelajaran ini cenderung ditunjukan pada hafalan serta uraian Nahwu dengan taAorif . serta al- mabdaAo al-ymm . rinsip umu. Tata cara ini dalam ilmu Psikologi relevan dengan teori Gestalt (Gestalt Theor. , kalau peserta didik berasumsi untuk mengamati serta mempersepsi hal baru dengan totalitas atau universal, tanpa terlebih dulu mengamati turunannya. Keseluruhan isi metode ini bukan hanya gabungan dari bagianbagiannya, tetapi merupakan sistem silih berkaitan menjadi terpadu. Totalitas metode ini, bagi logika, akan membantu mendahului kaidah dari pada rincian . ebih dulu daripada bagian-bagianny. Bagi (Effendy, 2. dalam bukunya, meyakini bahwasanya metode pengajaran bahasa bertujuan menjadi media agar tercapainya kemampuan berbahasa. Pada dasarnya, kegiatan bahasa terdiri dari 2 bagian utama, yaitu . Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. pengenalan kaidah-kaidah bahasa. pemberian latihan ataupun drill. Kedua aktivitas ini bisa terbantu dengan metode deduktif . l-qiyysiyya. serta induktif . l-istiqryAoiyya. Sedangkan (Muhbib Abdul Wahab, 2. , berasumsi kalau tiap bahasa tentu memiliki tata nilai atau pun sistem yang berbeda. Kaidah bahasa Arab mencuat tidak otomatis ada dengan munculnya bahasa Arab, tapi lahir setelah bahasa Arab dipakai dalam kegiatan sosial. Terdapat metode bahasa Arab, dimungkinkan terdapatnya kealfaan berbahasa ataupun disebut lahn. Nahwu disusun agar orang yang memanfaatkannya tidak melaksanakan kesalahan dikala dalam berdialog ataupun menulis bahasa Arab. Metode yang dikira sangat lama ini barangkali tidak pas diterapkan buat para pemula, sebab hendak sulit memahaminya. Sebab itu, bila hendak digunakan, tata cara ini lebih sesuai bagi peserta didik tingkatan Madrasah Aliyah/SMA, mahasiswa, serta mereka yang telah banyak mempunyai prinsip dasar kaidah. Metode ini dirasa kurang sesuai digunakan buat tingkatan bawah atau pemula . arhalah ibtidya. Buku nahwu yang relevan pada metode deduktif tersebut ialah JamiAo al- Durys al-AoArabiyyah karya Mushthafy al-Ghalyyainy. Mushthafy alGhalyyainy dianggap tokoh Nahwu abad kedua puluh, sebab karya yang cukup terkenal. JymiAo al- Durys alAoArabiyyah. Di Indonesia sendiri, buku ajar yang kerap digunakan dalam tata cara deduktif ini merupakan kitab AlJurmiyyah karya Syaikh Shonhaji yang sudah dipelajari di begitu banyak pesantren semenjak ratusan tahun, setelah itu yang kontemporer antara lain merupakan kitab Al- Muyassar f ilmi an-Nahwi karya KH. Aceng Zakariya sebagai pimpinan Persatuan Islam yang sudah digunakan secara serenatak di pesantren PERSIS. Sementara itu, secara definisi metode induktif ataupun al-istiqryAoiyyah ialah lawan dari al-qiyysiyyah atau metode deduktif. Sebagian contoh nyata serta fakta-fakta dijabarkan terlebih dulu, setelah itu jadi sesuatu kesimpulan ataupun generalisasi. Pada tata cara induktif, informasi dikaji lewat proses yang terjadi dari kenyataan. Terdapat sebagian keunggulan dari metode induktif ini, ialah: . bisa menciptakan realita yang lingkungan yang ada dalam informasi. bisa membentuk ikatan baik antara peneliti dengan responden sebagai eksplisit, bisa diketahui serta dipertimbangkan. bisa membagikan wawasan secara maksimal serta bisa membuat hasil tentang bisa tidaknya pengalihan kepada wawasan yang lain. bisa menciptakan pengaruh bersama yang menguatkan antarhubungan. Sedangkan pelaksanaan metode induktif dalam pendidikan Nahwu ialah dengan menyajikan contohcontoh . Sehabis menekuni contoh . yang diberikan, peserta didik dengan tutorial guru membuat kesimpulan kaidah-kaidah bahasa bersumber pada contoh . Sehabis itu, peserta didik dimohon menuliskan contoh . sendiri (Effendy, 2. Dengan metode ini peserta didik aktif dalam pendidikan serta sanggup memahami materi/modul yang sudah dipelajari secara langsung. Serta kaidah-kaidah yang diajarkan tidak hanya teori tetapi dapat diaplikasikan. Salah satu bahan ajar tata cara ini merupakan an-Nahwu al-Wydhih karya Ali Al-Jarimi dan Musthofa Amin serta Mulykhos Qowyid Lughoh al-Arobiyah karya Fuad NiAomah Metode induktif pada dasarnya merupakan tata cara dari khusus ke umum. Ada pula yang bersumber dari contoh-contoh kalimat, syarahan kaidah, simpulan kaidah, serta aplikasi kaidah dalam soal-soal latihan. Ilmu Nahwu merupakan ilmu yang sepatutnya dipelajari, sebab apabila seseorang berdialog dengan bahasa Arab ataupun menulis kalimat bahasa Arab, tetapi tidak menguasai ilmu Nahwu dengan benar, maka perkataan serta kalimatnya tidak dapat dimengerti. Begitu berartinya peran ilmu Nahwu dalam bahasa Arab sehingga Nahwu jadi ilmu yang wajib dipelajari oleh peserta didik atau mahasiswa kala menekuni bahasa Arab. Bahan ajar merupakan salah satu bagian yang wajib terdapat dalam wacana pendidikan sebab di memuat kerangka yang wajib ada sepanjang proses pendidikan berlangsung. Dalam meningkatkan bahan ajar buat sintaksis bahasa Arab bersumber pada tata cara induktif terdapat 5 langkah utama yang wajib dicoba, ialah: . ( . perbaikan/revisi. (Fauzan. Paling tidak, bisa diurutkan wilayah belajar dalam bahan ajar induktif, yaitu, . berbentuk frase, kalimat, ataupun paragraf. kesimpulan dari kaidah yang dipelajari, serta . berlatih buat kaidah/definisi. Perihal dengan komentar tersebut, (Setyawan, 2. melaporkan kalau tata cara induktif dalam pendidikan sintaksis Arab merupakan tata cara yang menampilkan contoh . dulu saat sebelum kaidah bahasa Arab. Dalam kaitan pengajaran di kelas, pendekatan induktif diterapkan dengan menjajaki 5 langkah, ialah: . enyajian modu. engaitan dengan modu. istinbath al-qaiAodah . enyimpulan kaida. , serta . plikasi kaida. Bersumber pada sebagian komentar di atas, kalau urutan penyajian serta muatan bahan ajar Nahwu metode induktif sebagaimana berikut, . Judul kaidah. tujuan pendidikan. kalimat yang di dalamnya muat kaidah sintaksis. ulasan tentang contoh . pelaksanaan kaidah dalam banyak jenis soal latihan. Untuk pelaksanaan kaidah dalam ragam soal Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. latihan dapat bermacam-macam bergantung pengembang bahan ajar serta alokasi waktu yang ada buat pelajaran yang terdapat di sekolah, lembaga, ataupun universitas. Dalam pengajaran ilmu Nahwu mesti terdapat inovasi, ialah objek bahasan wajib diperluas serta terdapat modul/kaidah yang wajib didahulukan serta menunda modul yang lain, ialah modul yang kurang aplikatif pada bahasa tiap hari peserta didik. Untuk menjauhi kealfaan dalam tutur bahasa Arab maka ilmu Nahwu mengendalikan pada metode menyusun kosakata bahasa Arab dengan benar, wajib dipelajari, spesialnya oleh para pelajar yang mau berbicara dalam bahasa Arab. Terdapat sebagian metode dalam pengajaran nahwu, tiap-tiap metode tersebut terdapat pendukungnya serta penentangnya. belum dapat diistimewakankan salah satu metode atas yang lain. Oleh karena itu, dibutuhkan riset intensif oleh pakar spesialis di bidang ini supaya bisa ditemui tata cara yang sesuai buat pengajaran nahwu. Supaya para peserta didik atau mahasiswa bisa menguasai ilmu nahwu secara lebih gampang diperlukan tata cara pengajaran yang sesuai buat mengatasi kesusahan mereka, ialah dengan tidak terpaku kepada satu tata cara tertentu saja, namun wajib mencampurkan seluruh tata cara cocok dengan kebutuhan suasana serta keadaan para peserta didik atau mahasiswa. (Muallif, 2. Pelaksanaan tata cara pendidikan tidak hendak berjalan dengan efisien serta efektif selaku media pengantar modul pengajaran apabila pelaksanaannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang mencukupi tentang tata cara itu sendiri. Sehingga tata cara dapat saja hendak jadi penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen yang mendukung pencapaian tujuan, pula tidak pas aplikasinya. Oleh sebab itu, berarti sekali buat menguasai dengan baik serta benar tentang ciri sesuatu tata cara. Kemampuan kaidah-kaidah Nahwu serta Saraf bukan hanya tujuan pendidikan bahasa, melainkan cuma fasilitas buat menolong peserta didik supaya sanggup meningkatkan 4 keahlian berbahasa Arab, ialah menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. (Kusuma, 2. Oleh karena itu, dibutuhkan riset intensif di lapangan oleh orang-orang spesialis di bidang ini supaya bisa ditemui tata cara yang sesuai buat pengajaran nahwu. Supaya para pelajar bisa menguasai ilmu nahwu secara lebih gampang diperlukan tata cara pengajaran yang sesuai buat mengatasi kesusahan mereka, ialah dengan tidak terpaku kepada satu tata cara tertentu saja, namun wajib mencampurkan seluruh. (Sehri, 2. Secara universal, strategi dimaknai sesuatu garis besar haluan yang berperan dalam menggapai sasaran yang sudah ditetapkan. Strategi pendidikan selaku perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang direncanakan menggapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pendidikan ialah rencana pemakaian tata cara serta pemanfaatan sumber energi ataupun kekuatan dalam pendidikan yang disusun buat menggapai tujuan tertentu (Tim Direktorat Tenaga Kependidikan, 2. Strategi pada konteks pembelajaran bisa dimaknai selaku perencanaan yang berisi serangkaian aktivitas yang dibuat buat menggapai tujuan pembelajaran. Strategi dalam konteks pembelajaran menuju kepada perihal yang lebih khusus, ialah spesial pada Kemp . seperti kutipan (Suryadi, 2. , menarangkan kalau strategi pendidikan merupakan aktivitas pendidikan yang dicoba guru dan peserta didik untuk menghasilkan tujuan pendidikan secara efektif serta efisien. Strategi pendidikan ialah perihal yang butuh dicermati oleh seseorang guru/ dosen dalam proses`qq Sangat tidak terdapat 3 tipe strategi yang cocok dengan pendidikan, ialah . strategi pengorganisasian pendidikan. strategi penyampaian pendidikan. strategi pengelolaan pendidikan (Tim Direktorat Tenaga Kependidikan, 2. Dari definisi di atas. Bisa di informasikan kalau, strategi pendidikan merupakan langkah seseorang guru dalam mengantarkan/melaksanakan aktivitas pendidikan, sehingga tujuan pembelajaran tercapai, dari awal pendidikan hingga akhir pendidikan. Dick dan Carey dalam (Sunhaji, 2. mengatakan kalau ada 4 komponen strategi pendidikan, ialah . aktivitas pendidikan . penyampaian infomasi. partisipasi mahasiswa. Pada bagian berikut hendak dijabarkan uraian tiap- tiap komponen: Aktivitas pendahuluan Aktivitas pendahuluan pada bagian sistem pendidikan berperan total memegang peranan berarti. Pada bagian ini guru dianjurkan bisa menarik atensi peserta didik atas modul pelajaran Nahwu yang hendak Aktivitas pendahuluan harus dibuat dengan menarik agar bisa meningkatkan kinerja belajar peserta didik dalam pengetahuan Nahwu. Metode guru memberi informasi modul pelajaran lewat contoh . kehidupan sehari-hari ataupun metode guru meyakinkan fungsi menekuni pokok bahasan tersebut hendak sangat pengaruhi motivasi belajar peserta didik. Perkara motivasi dalam ini jadi sangat berarti untuk peserta didik yang belum berumur, sebaliknya motivasi intrinsik sangat berarti untuk peserta didik yang berusia lanjut / dewasa sebab kelompok ini lebih menyadari berartinya kewajiban belajar dan memakainya untuk mereka. Secara khusus, aktivitas pendidikan pendahuluan bisa dicoba lewat teknik- teknik berikut: Jelaskan tujuan pembelajaran kepada semua peserta didik pada kegiatan pembelajaran. Maka dari itu, peserta didik menyadari manfaat pengetahuan, keterampilan sekaligus manfaat yang akan Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. diperoleh pada bahasan tersebut. Pada bagian ini instruktur akan membuka pembelajaran dengan cara yang menarik dan diharapkan mempengaruhi partisipasi mahasiswa. Berikan apersepsi, berupa kegiatan review antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru. Berikan gambaran jelas pada peserta didik atau mahasiswa tentang relevansi pengetahuan yang akan Pada bagian ini guru atau dosen memberi apersepsi berupa korelasi pembelajaran dan materi pada beberapa pertemuan, kaitan materi dan perlunya materi sekarang yang akan dibahas Penyampaian Informasi Penyampaian data kerap kali dikira sesuatu aktivitas yang sangat berarti dalam proses pendidikan, sementara itu bagian ini cuma ialah salah satu item strategi pendidikan. Maksudnya apabila terdapat aktivitas pendahuluan yang disukai bisa menstimulus peserta didik dalam belajar sehingga aktivitas penyampaian data ini jadi berarti. Guru atau dosen yang sanggup mengantarkan data informasi dengan baik, namun tidak melaksanakan aktivitas pendahuluan dengan lembut akan mengalami hambatan dalam aktivitas pendidikan Dalam aktivitas ini guru pula wajib menguasai dengan baik suasana serta keadaan yang dirasa. Mala dari itu, data yang di informasikan bisa dicerna oleh peserta didik atau mahasiswa dengan baik. Referensi modul pendidikan bisa dicoba dengan menjajaki buku panduan serta buku modul dari pihak pusat bahasa, sehingga berlangsung interaktif dengan buku tersebut. Partisipasi Peserta didik/Mahasiswa Bersumber pada prinsip student centered, peserta didik ialah pusat dari sesuatu aktivitas KBM. Perihal ini diketahui dengan sebutan CBSA (Metode Belajar Siswa Akti. yang maknanya merupakan proses pendidikan sukses apabila peserta didik ataupun mahasiswa secara aktif melaksanakan latihan secara langsung serta relevan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan (Sunhaji, 2. Ada tatacara yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik serta mahasiswa, ialah sebagai berikut: Latihan serta praktek sepatutnya dicoba, selepas peserta didik atau mahasiswa diberi data informasi tentang sesuatu pengetahuan, perilaku, ataupun keahlian tertentu. Hingga aktivitas berikutnya merupakan sebaiknya mahasiswa diberi peluang buat berlatih ataupun mempraktikan pengetahuan, perilaku ataupun keahlian tersebut. Upaya ini dicoba supaya peserta didik atau mahasiswa ikut serta aktif serta responsif dalam pembelajaran bahasa Arab. Umpan balik. Pasca peserta didik atau mahasiswa mencerminkan hasil dari belajarnya, maka guru membagikan umpan balik atas hasil belajarnya. Dampak umpan balik yang diberikan oleh guru, peserta didik atau mahasiswa hendak mengenali apakah jawaban yang ialah aktivitas yang sudah benar atau salah, pas tidak tidak pas, ataupun terdapat suatu yang diperbaiki. Keadaan ini butuh dilatih supaya pendidikan lebih interaktif serta mengasyikkan. Tes (Evaluas. Aneka rajam uji universal yang digunakan oleh peserta didik atau mahasiswa buat mengenali . apakah tujuan pendidikan spesial sudah tuntas atau belum. apakah pengetahuan serta keahlian sudah dikuasai oleh mahasiswa ataupun belum. Pelaksanakan uji umumnya dicoba diakhir pendidikan serta penyampaian data berbentuk modul pelajaran penerapan uji pula dicoba sehabis mahasiswa melaksanakan latihan ataupun praktek. Pada bagian strategi ini guru atau instruktur berupaya melaksanakan refleksi berbentuk uji ataupun soal latihan, sehingga dengan uji soal kepada mahasiswa ini instruktur bisa mengenali serta mengevaluasi hasil pendidikan pada dikala itu. Tes ini sekaligus bentuk refleksi atau proses pembelajaran yang dilakuan, keseluruhan proses belajar perlu diuji atau dites, sehingga dapat terukur dan terdapat evaluasi sebagai bentuk perbaikan dan pertanggungjawaban. Faktor-faktor Menetapkan Strategi Pembelajaran Empat hal yang harus diindahkan guru dalam merumuskan strategi pembelajaran sebagai berikut: Tujuan pembelajaran yang akan dicapai Item utama yang wajib diindahkan ketika memilah serta memakai strategi pembelajaran yakni tujuan, karena dalam kurikulum diformulasikan dalam wujud kompetensi, karena seluruh item tersebut, tercantum strategi pendidikan diseleksi serta difungsikan buat menggapai tujuan pendidikan. Semacam yang dikenal kalau tujuan pendidikan meliputi 3 kelompok ranah, ialah kognitif, apektif serta psikomotor. Untuk Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. tiap-tiap kelompok ranah dibutuhkan pemakaian strategi pendidikan yang berbeda cocok dengan bidang aktivitas yang dihendaki agar tercapai kemampuan ragam tujuan pendidikan tersebut. Dengan mencermati ciri hasil tiap tujuan pendidikan, diharapkan guru tidak melaksanakan kesalahan dalam memilah strategi pendidikan buat menolong mahasiswa memahami tujuan pendidikan. Peserta didik / Mahasiswa Perihal yang sangat berkepentingan dalam proses pendidikan yakni peserta didik atau mahasiswa mengingat tujuan yang wajib dicapai dari proses tersebut yakni pergantian sikap. Oleh sebab itu, di dalam memilah serta memakai strategi pendidikan, aspek peserta didik atau mahasiswa siswa harus dipantau dengan seksama. Selepas merumuskan strategi pendidikan yang diseleksi hendaknya pakai opsi bersumber pada pertimbangan tujuan sehingga dalam memastikan gimana metode memakai strategi pendidikan tersebut, aspek siswa jadi salah satu pertimbangan. Peserta didik atau mahasiswa selaku individu tertentu mempunyai jenis perbedaan. Sangat bijaksana apabila dalam pemakaian strategi pendidikan, kita memikirkan sikap toleransi. Tidak sekedar memikirkan siswa secara individual, tapi jumlah siswa akan mempengaruhi pula terhadap strategi. Sarana (Alat dan Sumbe. Perlengkapan yang jadi pikiran guru dalam memilah serta memakai strategi pendidikan yakni perlengkapan alat peraga, semacam peta, gambar, globe, foto, serta sebagainya. Dan alat-alat pelajaran semacam alat-alat praktek peserta didik atau mahasiswa. Jumlah dan alat-alat tersebut bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam memilah serta memakai strategi pendidikan. Tercantum dalam bidang ini yakni media pendidikan yang bisa dipelajari peserta didik, semacam paket materi, pengajaran berprogram, serta pengajaran lewat perlengkapan audio. Sama halnya dengan sumber modul pelajaran, semacam buku-buku pelajaran, dan buku ajar lainnya. Guru/Dosen/Instruktur Tiap guru mempunyai keunggulan serta keterbatasan. Selaku contoh terkadang terdapat guru yang apabila mensyarahi pelajaran berlangsung sangat menarik dan atensi peserta didik dengan fokus. Sedangkan terdapat guru lain yang meski pub memakai strategi pendidikan yang sama, namun dia tidak sanggup menarik atensi siswa, sehingga cenderung membosankan. Perihal ini terjalin bisa jadi sebab guru yang awal mempunyai keunggulan dalam perihal seni mengajar. Hal-hal semacam itu butuh jadi pertimbangan kita dalam memilah serta memakai strategi pendidikan. Hal demikian, menyiratkan keadaan guru, paling utama pada sisi kejiwaan dan kesiapan mengajar. (Haidir Salim, 2. Dari paparan di atas, bahwa strategi pembelajaran Nahwu juga akan menuntut kreativitas dan juga ruh mengajar yang kuat dari guru atau dosen, sehingga pembelajaran dengan dua metode tersebut dapat optimal. Starategi yang dinilai cocok untuk penerapan metode deduktif ini dengan kaidah yang ringkas dan mudah dihapal, penguatan kaidah melalui hapalan dengan syair atau nadhoman seperti bait-bait Al-fiyyah, juga kaidah yang sering diulang-ulang lalu diafirmasi dengan penggunaan contoh kata. Secara strategi, metode ini dapat dilakukan dengan membuat satu contoh kalimat praktis oleh guru lalu diikuti oleh peserta didik, kemudian setelah hapal contohnya, peserta didik diharapkan mampu membuat contoh yang lain, setelah mampu membuat contoh maka guru menjelaskan kaidah sebagai penguat dan apirmasi teori. Inovasi yang dapat dilakukan pada metode deduktif ini menggunakan pemanfaatan media sosial, penguatan hapalan kaidah melalui bait-bait syair kaidah Nahwu yang dilagukan. Dewasa ini, media sosial bukan lagi menjadi hal baru, tapi telah menjadi kebutuhan masyarakat, upaya sadar menuntut para pengajar untuk kreatif memanfaatkan media sosial sebagai media pembelajaran, agar materi lebih mudah diterima. Inovasi yang dapat dilakukan pada metode induktif dengan melatih peserta didik untuk membuat kalimat sederhana dengan tema sehari-hari seperti tentang sekolah, kampus, cinta, keluarga, teman dan lain-lain, setelah menuliskan peserta didik diharapkan mampu mengucapkan kembali di depan secara bergantian dan memeroleh reward atas keberaniannya. Bahwa dengan kesadaran untuk menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi, maka perlu sering dilatih dengan percakapan . , sehingga penguasaan materi dapat segera diaplikasikan dalam keseharian. Secara implikasi metode deduktif ini dinilai tepat sasaran jika digunakan oleh peserta didik dewasa atau yang sudah lancar membaca dan berbahasa Arab sebagai penguatan teori. Karena dalam aplikasinya metode ini dinilai untuk mengafirmasi dan memperkuat penguasaan kaidah, sebagai legitimasi dan kerangka teori yang dibutuhkan. Metode ini akan mampu menumbuhkan penguasaan kaidah yang memperkuat materi. Sementara itu, implikasi pada metode induktif memang dinilai sangat cocok bagi pemula, bagi peserta didik yang baru belajar bahasa Arab, mereka didahulukan mampu membuat contoh dan mempraktikannya dari pada teori atau kaidah yang belum tentu dipahami. Sebagai pemula atau tingkat dasar, disarankan untuk Adi Supardi. Agung Gumilar. Rizki Abdurohman Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOL. 3 NO. belajar Nahwu dengan metode induktif ini, sehingga mempercepat penguasaan contoh dan mempermudah mempraktekannya dalam keseharian, karena dituntut terlebih dahulu untuk mempraktekan dari contoh yang ada, dengan tidak memperhatikan kaidah atau definisi, peserta didik hanya berpusat pada penguasaan contoh dahulu lalu diikuti dengan pembahasan kaidah. PENUTUP Dalam pembelajaran Nahwu hendaknya terus melakukan inovasi sehingga tetap menarik. Ilmu Nahwu bukan saja disiplin ilmu yang bersifat teoritis dan hapalan, tapi mampu memjawab kebutuhan jaman. Dalam beberapa metode pembelajaran Nahwu dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu metode al-qiyysiyyah . eduktif/umum-khusu. dan metode al-istiqryAoiyyah . nduktif/khusus-umu. Metode al-qiyysiyyah sebagai refleksi atas cara mengajarkan Nahwu dengan pola kaidah sebagai tumpuan pokok, setelah peserta didik mengetahui dan hapal kaidah Nahwu tertentu maka akan dielaborasi dengan penjabaran contoh-contoh dan aplikasi berupa praktik. Metode ini terbilang klasik dan terus berlangsung hingga kini, sangat efektif untuk Metode al-istiqryAoiyyah sebagai upaya pengembangan metode al-qiyysiyyah. Metode ini sebagai jawaban atas kebutuhan peserta didik yang lebih terdorong untuk praktik dan kurang memperhatikan kaidah yang dihapal. Metode ini dimulai dengan pemberian contoh-contoh dahulu lalu dikembangkan dengan elaborasi dan pendekatan kontekstual sosial, hingga disimpulkan menjadi kaidah atau generalisasi materi. Metode ini dirasa cocok untuk pemula. DAFTAR PUSTAKA