e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 ISSN : 2337 - 3997 UPAYA PENINGKATAN EKONOMI RUMAH TANGGA NELAYAN SKALA KECIL DENGAN MEMANFAATKAN WAKTU LUANG DI LUAR PENANGKAPAN IKAN (OFF-FISHING) DI KOTA PADANG Eyviet Nazmar Staf Pengajar pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta Diterima, 20 Januari 2014 Disetujui, 26 Januari 2014 ABSTRACT The amount contribution of off-fishing business to total income of small-scale fishermen households is varies, it depends on the income of fishermen from catching fish in the sea . , the greater income of fishermen from fishing in the sea, then the contribution of off-fishing become lower. Contribution of ofishing for laborer households of fishermen larger than the owner, from statistical test turns out that ofishing effort contribution on laborer households of fishermen is very different from the owners at 99% confidence level. When used fishing household data, the average hours of work on the effectiveness of small-scale fishermen households for economic effort was 286. 78 hours per month . 74%) and the remaining potential of free time for 193. 22 hours per month . 26%). If the potential of the remaining time used for the development of off-fishing, there is a hope to increase production from 40. 26/59. 39%) of the production that has been done and when added with fishermen spare time out of fishing, the predictions can be even greater, though it could be two times greater than the income of fishermen. Key words : Off-fishing. Free time at households, and The off-fishing development potential PENDAHULUAN merupakan skala kecil dengan alat tangkap yang Kota Padang memiliki panjang pantai sekitar 68 tidak representatif lagi untuk waktu sekarang. km dengan luas perairan laut sekitar 905 km2. Upaya untuk meningkatkan pendapatan Nelayan Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Skala Kecil di Kota tidak memungkinkan lagi. Padang . jumlah Rumah Tangga Perikanan untuk itu perlu dicarikan alternatif sumber (RTP) khususnya nelayan yang terdapat di Kota pendapatan tambahan bagi rumah tangga mereka. Padang pada tahun 2010 sebanyak 6. 898 RTP, Sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat dengan armada penangkapan ikan sebanyak 1. di kawasan pesisir dan potensi daerah, maka usaha yang terdiri dari Kapal Motor . Motor Tempel . 156 uni. dan Perahu Tanpa penangkapan ikan dan sekaligus merupakan upaya Motor . Apabila kita perhatikan data di untuk meningkatkan nilai tambah . alue adde. atas, ada ketimpangan yang cukup besar antara hasil perikanan, usaha tersebut menurut Elfindri . disebut dengan Off-fishing. penangkapan ikan. Ini berarti bahwa sekitar 5. Istilah RTP berstatus sebagai buruh nelayan yang mengembangkan dari definisi off-farm pada sektor Selain itu armada penangkapan ikan yang pertanian yaitu bidang usaha pada sektor pertanian tetapi bukan sebagai petani, misalnya pengolahan Kota Padang off-fishing Elfindri e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 hasil pertanian, perdagangan dan jasa, bidang off-farm Menganalisis kontribusi usaha Off-fishing terhadap peningkatan ekonomi rumah tangga Bertolak dari definisi off-farm, maka Elfindri . mencoba memperkenalkan jenis ISSN : 2337 - 3997 nelayan skala kecil. Menganalisis peningkatan pendapatan rumah usaha yang senada pada sektor perikanan, sehingga muncul definisi off-fishing employment memanfaatkan potensi waktu luang melalui yaitu Rumah Tangga Perikanan yang berusaha di pengembangan usaha off-fishing. luar penangkapan ikan, tetapi masih mempunyai kaitan dengan operasi penangkapan ikan tersebut. Menciptakan strategi pengembangan ofishing di Kota Padang. misalnya pengolahan hasil perikanan, pedagang ikan dan usaha jasa yang bergerak sebagai pendukung operasional penangkapan ikan. Istilah off-fishing Penelitian Kota Padang selama 2 . bulan mulai Mei s/d Juni dipopulerkan pada masyarakat perikanan guna Sasaran penelitian ini adalah Rumah untuk membedakan jenis usaha penangkapan ikan Tangga Perikanan (RTP) nelayan skala kecil yang dengan usaha pendukung atau penunjang operasi penangkapan ikan tersebut. Usaha off-fishing pencarian tambahan. Lokasi penelitian difokuskan dapat dikelompokan menjadi dua kategori, yaitu pada 6 . kecamatan di Kota Padang yang bagian hulu dan bagian hilir operasi penangkapan memiliki kawasan pesisir sebagai basis dari kegiatan nelayan. Off-fishing METODOLOGI PENELITIAN Penyediaan mesin kapal, pembuatan kapal/perahu, off-fishing Penelitian ini menggunakan penyediaan alat penangkapan dan alat bantu survei dengan melakukan studi kasus . ase stud. penangkapan ikan, sedangkan off-fishing bagian terhadap rumah tangga nelayan skala kecil yang hilir mencakup : Pengolahan hasil perikanan, melakukan usaha off-fishing pada lokasi penelitian pemasaran hasil perikanan dan bengkel mesin dan diambil sebanyak 35% sebagai sampel secara acak sederhana (Simple Random Samplin. Bertitik tolak dari fokus penelitian dan Berdasarkan kepada hal tersebut di atas, maka latar belakang serta permasalahan yang telah metode penelitian dan pengambilan sampel yang dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan digunakan dalam penelitian ini mengikuti kriteria sebagai disajikan pada Gambar 1. e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 ISSN : 2337 - 3997 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN sehingga dalam pembinaannya tidak memulai Jenis Usaha Off-fishing dari awal lagi. Jika diperhatikan lebih jauh, sebenarnya Usaha off-fishing mempunyai peluang untuk rumah tangga nelayan skala kecil masih punya dikembangkan karena dapat memanfaatkan waktu luang yang belum dimanfaatkan untuk mutan lokal, sehingga biaya produksi bisa kegiatan ekonomi, baik nelayan itu sendiri di luar operasi penangkapan ikan di laut maupun istri dan meningkatkan nilai tambah . alue adde. anak-anak pekerjaan tetap. Jenis usaha yang dianggap sesuai dengan kondisi wilayah kawasan pesisir dan diferensiasi produk. Nelayan skala kecil dan keluarganya masih kemampuan sumberdaya manusianya adalah off- fishing employment dan lebih khusus lagi adalah mengembangkan usaha off-fishing sebagai berupa kegiatan pasca penangkapan ikan berupa pendapatan komplementer . dari pengolahan hasil perikanan. Alasan kenapa off- usaha penangkapan ikan yang dilakukan fishing jenis pengolahan hasil perikanan yang cocok untuk dikembangkan adalah : Sesuai Secara garis besarnya jenis usaha off- fishing yang dilakukan oleh rumah tangga nelayan skala kecil di Kota Padang dapat dikelompokan terbatasnya penyediaan lahan untuk berusaha menjadi lima jenis, yaitu :. pengolahan ikan di luar sektor perikanan. teri kering asin. pengolahan ikan teri kering Usaha off-fishing khususnya pengolahan hasil . Aneka pengolahan hasil perikanan. perikanan sudah mulai berkembang yang pedagang ikan . umah tangga buruh nelaya. usaha ikan belah . umah tangga nelayan Untuk jelasnya tentang jenis usaha off- e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 fishing yang nelayan disajikan pada Tabel 1. ISSN : 2337 - 3997 sebanyak 21 RTP . ,87%) dan pada rumah tangga buruh nelayan/anak buah kapal (ABK) Dari Tabel 1 terlihatlah bahwa jenis usaha sebanyak 75 RTP . ,06%) kemudian menyusul off-fishing yang dilakukan oleh rumah tangga usaha off-fishing jenis pengolahan ikan teri kering nelayan sampel yang terbanyak baik nelayan tawar, di mana pada nelayan pemilik sebanyak pemilik maupun buruh nelayan/anak buah kapal 20 RTP . ,26%) dan pada rumah tangga (ABK) adalah pengolahan ikan teri kering asin, di buruh nelayan sebanyak 30 RTP . ,62%). mana pada rumah tangga nelayan pemilik Tabel 1 Jenis usaha off-fishing yang dilakukan oleh rumah tangga nelayan skala kecil di Kota Padang Jenis Usaha Off-fishing Nelayan Pemilik Buruh Nelayan RTP RTP Ikan Teri Kering Asin 33,87 59,06 Ikan Teri Kering Tawar 32,26 23,62 Pedagang Ikan 4,72 Ikan Belah 6,45 Aneka Pengolahan Ikan 27,42 2,60 Jumlah 100,00 100,00 Sumber : Analisa data primer Keterangan : RTP (Rumah Tangga Perikana. Rata-rata pendapatan total rumah tangga Pendapatan Total Rumah Tangga Nelayan Rata-rata pendapatan total rumah tangga nelayan pemilik yang mempunyai usaha lainnya nelayan sampel disajikan pada Tabel 2. Dari Tabel . on-fishin. di samping usaha melaut . 2 terlihatlah bahwa dari 62 RTP nelayan pemilik dan off-fishing adalah sebesar Rp 4. 855,56 yang terpilih sebagai sampel sebanyak 27 RTP per bulan dan rumah tangga buruh nelayan . ,55%) mempunyai usaha lainnya . on-fishin. sebesar Rp 4. 500,30 per bulan. Perbedaan di samping usaha melaut . dan off-fishing pendapatan total rumah tangga nelayan pemilik dan 35 RTP . ,45%%) hanya mempunyai dengan buruh nelayan lebih dominan disebabkan sumber pendapatan dari usaha melaut . karena perbedaan pendapatan nelayan dari hasil dan usaha kegiatan melaut, hal ini bisa dimengerti karena off-fishing Dari 127 RTP buruh nelayan/anak buah kapal (ABK) yang terpilih sebagai armada penangkapan ikan dengan . ,98%) mempunyai usaha lainnya . on-fishin. di samping usaha melaut . dan off-fishing nominalnya sama dengan total pendapatan seluruh dan 94 RTP . ,02%%) hanya buruh nelayan yang mengoperasikan armada sebanyak 33 RTP sumber pendapatan dari usaha melaut . pemilik merupakan dan usaha off-fishing saja. e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 ISSN : 2337 - 3997 Tabel 2. Rata-rata tingkat pendapatan total (R. rumah tangga nelayan skala kecil per bulan menurut statusnya Jumlah Melaut Lainnya Status Nelayan Off-fishing Jumlah RTP (Fishin. (Non-fishin. Mempunyai Pendapatan dari Usaha Lainnya 1 Nelayan Pemilik Nelayan . ,55%) 38. 600,6. 000,45. 600,b. Istri 500,11. 000,76. 500,Jumlah 600,65. 500,17. 000,- 121. 100,Rata-rata 503,70 055,56 296,30 855,56 Buruh Nelayan 2 a. Nelayan . ,98%) 500,6. 000,53. 500,b. Istri 000,11. 000,86. 000,Jumlah 500,74. 000,18. 000,- 139. 500,Rata-rata 590,91 575,76 363,64 500,30 Tidak Mempunyai Pendapatan dari Usaha Lainnya 1 Nelayan Pemilik 35 RTP Nelayan . ,45%) 600,185. 600,b. Istri 000,116. 000,Jumlah 600,- 116. 000,301. 600,Rata-rata 902,86 657,14 560,Buruh Nelayan 94 RTP 2 a. Nelayan . ,02%) 300,161. 300,b. Istri 000,228. 000,Jumlah 300,- 228. 000,389. 300,Rata-rata 726,60 2,431,648,94 375,53 Sumber : Analisis data primer Keterangan : Pendapatan lainnya bisa bersumber dari nelayan atau istri atau keduanya Rata-rata mencari tambahan pendapatan untuk memenuhi nelayan pemilik yang hanya mempunyai sumber kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat. pendapatan dari usaha melaut dan usaha off- Menurut hasil penelitian Zein . terhadap fishing saja adalah sebesar Rp 8. 560,- per pendapatan keluarga nelayan di Kota Padang, bulan dan rumah tangga buruh nelayan sebesar Rp menyatakan bahwa pendapatan keluarga nelayan 373,53 per bulan. Dari data yang terbesar bersumber dari kepala keluarga semakin jelas bahwa usaha off-fishing yang . dari hasil tangkapan ikan di laut dan oleh rumah tangga nelayan skala pendapatan tambahan berasal dari pendapatan kecil lebih dominan pada rumah tangga yang nelayan di luar penangkapan ikan serta anggota pendapatan kepala keluarga sebagai nelayan keluarga . stri dan ana. relatif rendah, sehingga mereka harus berusaha Kontribusi Usaha Off-fishing Besarnya kontribusi usaha off-fishing sampel disajikan pada Tabel 3. Dari Tabel 3 terlihatlah bahwa pada rumah tangga nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 ISSN : 2337 - 3997 Tabel 3 Kontribusi usaha off-fishing (%) terhadap pendapatan total rumah tangga nelayan skala kecil Status Nelayan Jumlah RTP Nelayan Pemilik Melaut Usaha Off-fishing Jumlah . Kontribusi Melaut (%) Kontribusi Off-fishing (%) Buruh Nelayan (ABK) Melaut Usaha Off-fishing Jumlah . Kontribusi Melaut (%) Kontribusi Off-fishing (%) Nelayan Pemilik Melaut Usaha Off-fishing Usaha Lainnya Jumlah . Kontribusi Melaut (%) Kontribusi Off-fishing (%) Kontribusi Usaha Lain (%) Buruh Nelayan (ABK) Melaut Usaha Off-fishing Usaha Lainnya Jumlah . Kontribusi Melaut (%) Kontribusi Off-fishing (%) Kontribusi Usaha Lain (%) Pendapatan (R. Jumlah Terendah Tertinggi Tidak Mempunyai Usaha Lainnya 56,45 600,116. 000,301. 000,1. 000,8. 20,06 18,75 81,25 79,94 000,1. 000,7. 902,86 657,14 560,56,45 43,55 74,02 300,228. 000,389. Rata-rata 19,50 38,78 Mempunyai Usaha Lainnya 61,22 80,50 600,65. 500,17. 000,121. 000,1. 000,160. 000,5. 000,900. 19,46 32,00 3,02 42,70 75,85 28,45 713726,60 648,94 375,53 41,22 58,78 43,45 503,70 055,56 296,30 855,56 33,27 51,27 15,46 25,98 500,74. 000,18. 000,139. Sumber : Analisis data primer Skala kecil yang tidak mempunyai usaha lainnya 000,840. 000,150. 000,18,35 28,34 3,16 000,4. 000,1. 000,53,14 78,49 39,68 590,91 575,76 363,63 530,30 33,38 53,09 13,53 Dari hasil uji beda nyata kontribusi usaha rata-rata besarnya kontribusi usaha off-fishing off-fishing terhadap pendapatan total rumah tangga pada nelayan/anak buah kapal (ABK) dan nelayan nelayan pemilik sebesar 43,55%, sedangkan pada pemilik terlihatlah bahwa nilai t-hitung . buruh nelayan/anak buah kapal (ABK) sebesar lebih besar dari nilai t-Tabel . = 2,326, yang 58,78%. Jika dibandingkan kontribusi usaha off- berarti menolak hipotesis Ho dan menerima H1. fishing pada rumah tangga nelayan skala kecil Ini menunjukan bahwa besarnya kontribusi usaha yang tidak mempunyai usaha lainnya antara off-fishing pada rumah tangga buruh nelayan kelompok rumah tangga nelayan pemilik dan berbeda sangat nyata dengan rumah tangga rumah tangga buruh nelayan/anak buah kapal nelayan pemilik pada taraf kepercayaan 99%. (ABK), didapatkan gambaran bahwa rata-rata Lain halnya dengan penelitian yang kontribusi usaha off-fishing pada rumah tangga dilakukan oleh Aryani . dan Reniati . , buruh nelayan/anak buah kapal . ,78%) lebih kedua peneliti tersebut menyatakan bahwa para besar dari kontribusi usaha off-fishing pada rumah istri dan anggota kerja perempuan lainnya dalam tangga nelayan pemilik . ,55%). Pada rumah rumah tangga nelayan bekerja untuk kegiatan tangga nelayan skala kecil yang mempunyai usaha produksi, pengolahan dan perdagangan ikan. Hasil lainnya rata-rata besarnya kontribusi usaha off- penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok fishing terhadap pendapatan total rumah tangga Barat oleh Waspodo . menyatakan bahwa pada nelayan pemilik sebesar 51,27% sedangkan pendapatan rumah tangga di seluruh kegiatan di pada buruh nelayan/anak buah kapal (ABK) luar nelayan lebih besar dibandingkan dengan sebesar 53,09%. pendapatan nelayan. Selain itu Ditjen Perikanan e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 . menyatakan bahwa dari semua tingkat ISSN : 2337 - 3997 Rumah tangga nelayan skala kecil masih kemajuan usaha dan teknologi penangkapan ikan yang digunakan masih terdapat sekitar 25% kegiatan ekonomi. Rata- pendapatan rumah tangga nelayan bersumber dari rata besarnya potensi waktu rumah tangga nelayan kegiatan non melaut. skala kecil yang belum dimanfaatkan disajikan pada Tabel 4. Alokasi Waktu Rumah Tangga Nelayan Tabel 4 Rata-rata potensi waktu rumah tangga nelayan skala kecil per bulan yang masih bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha off-fishing Uraian Efektifitas Jam Kerja Potensi Jumlah Jam Kerja Jam Jam Jam NELAYAN Nelayan Pemilik 176,00 73,33 64,00 26,67 100,00 Buruh Nelayan 171,09 71,29 68,91 28,71 100,00 Jumlah 347,90 72,48 132,10 27,52 100,00 Rata-rata 173,95 72,48 66,05 27,52 100,00 ISTRI NELAYAN Istri Nelayan Pemilik 95,11 39,63 144,89 60,37 100,00 Istri Buruh Nelayan 111,35 46,40 128,65 53,60 100,00 Jumlah 206,46 43,01 273,54 56,99 100,00 Rata-rata 103,23 43,01 136,77 56,99 100,00 RUMAH TANGGA NELAYAN Nelayan Pemilik 291,11 60,83 188,89 39,17 100,00 Buruh Nelayan 282,44 58,84 195,56 41,16 100,00 Jumlah 573,55 59,74 386,45 40,26 100,00 Rata-rata 286,78 59,74 193,22 40,26 100,00 Sumber : Analisis data primer Keterangan : Jumlah jam kerja optimal/orang/bulan adalah 240 jam. Jumlah jam kerja optimal/rumah tangga/bulan adalah 480 jam . elayan istr. Dari Tabel 4 terlihatlah bahwa besarnya Apabila digunakan data rumah tangga efektifitas penggunaan waktu nelayan pemilik nelayan, maka rata-rata efektifitas jam kerja pada terhadap kegiatan ekonomi rumah tangga adalah rumah tangga nelayan skala kecil untuk usaha 176,00 jam per bulan . ,33%) dan buruh ekonomi adalah 286,78 jam per bulan . ,74%) nelayan/anak buah kapal (ABK) adalah 171,09 dan masih tersisa potensi waktu luang sebesar jam . ,29%) dari jam kerja optimal sebesar 240 193,22 jam per bulan . ,26%). Dari hasil uji jam per bulan dan jika dirata-ratakan efektifitas beda nyata alokasi waktu yang digunakan pada penggunaan waktu nelayan . elayan pemilik dan usaha off-fishing antara rumah tangga buruh buruh nelaya. terhadap kegiatan ekonomi adalah nelayan/anak buah kapal (ABK) dan nelayan 173,95 jam per bulan . ,48%). Sedangkan pemilik terlihatlah bahwa nilai t-hitung . besarnya efektifitas penggunaan waktu lebih besar dari nilai t-Tabel . = 1,645, yang nelayan pemilik terhadap kegiatan ekonomi berarti menolak hipotesis Ho dan menerima H1. rumah tangga baru mencapai 95,11 jam . ,63%) Ini menunjukan bahwa besarnya kontribusi usaha dan istri buruh nelayan/anak buah kapal (ABK) off-fishing pada rumah tangga buruh nelayan adalah 111,35 jam . ,40%) dari jam kerja berbeda nyata dengan rumah tangga nelayan optimal per bulan. pemilik pada taraf kepercayaan 95%. e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 Apabila potensi waktu luang rumah ISSN : 2337 - 3997 tangga nelayan skala kecil yang masih tersisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha off- pemberian bantuan permodalan melalui Program fishing, berarti ada harapan untuk meningkatkan Pemberdayaan produksi sebesar 40,26/59,74 . ,39%) dari (PEMP). produksi yang sudah dicapai dan jika ditambah Untuk Ekonomi Masyarakat Pesisir dengan waktu luang nelayan di luar melaut, maka pelaku usaha off-fishing dalam meningkatkan prediksi tersebut bisa lebih besar lagi, bahkan bisa teknologi produk yang dihasilkan, maka perlu mencapai dua kali lebih besar dari pendapatan Hal ini akan terwujud jika dibarengi pengolahan hasil perikanan. Program ini dapat dengan penciptaan perluasan dan jaminan pasar memberikan manfaat ganda yaitu meningkatkan yang layak serta menguntungkan pihak produsen. nilai tambah . alue adde. hasil perikanan dan Menurut Saidan . dalam pekerjaan mencari nafkah rata-rata curahan waktu istri nelayan 1,4 Ae 2,35 jam/hari (Kelurahan Sungai sehingga pada gilirannya konsumsi ikan bagi Pisan. dan 1,75 Ae 4 jam/hari (Kelurahan Pasir masyarakat akan meningkat dengan banyak Ulak Karan. Curahan waktu istri nelayan untuk alternatif pilihan jenis produk dan di lain pihak usaha ekonomi bertujuan menambah pendapatan ekonomi masyarakat nelayan dapat lebih baik. rumah tangga nelayan selain dari hasil tangkapan Faktor lain yang perlu dibenahi untuk nelayan sebagai kepala keluarga. Sedangkan pengembangan usaha off-fishing adalah penguatan Lindawati . terhadap wanita nelayan di Kecamatan Medan Kelembagaan yang dimaksudkan dalam hal ini Belawan. Sumatera Utara menyatakan bahwa adalah kelembagaan pada tingkat pelaku usaha sebanyak 62,86% istri nelayan bekerja pada sektor off-fishing, seperti kelompok wanita nelayan atau perikanan dan 40% diantaranya bekerja sebagai Kelompok Usaha Bersama (KUB). Fungsi pengolahan ikan. sebagaimana yang diharapkan, kenyataannya Strategi Pengembangan Usaha Off-fishing anggota kelompok belum mendapat layanan Penyiapan layaknya sebagai seorang anggota. Motivasi Sumberdaya Manusia Pelaku pelaku usaha off-fishing untuk menjadi anggota Usaha Secara kelompok masih rendah, seakan-akan mereka dihadapi oleh pelaku usaha off-fishing di Kota menjadi anggota kelompok karena terpaksa atau Padang sumberdaya manusianya yang menyebabkan mutu instansi pembina, hal ini menyebabkan kelompok produk yang dihasilkan rendah dengan kapasitas yang ada tidak bisa berjalan dengan baik. Oleh Untuk permasalahan mutu produk dapat dilakukan sumberdaya pelaku usaha off-fishing harus diawali dengan pembenahan kelembagaannya. e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 ISSN : 2337 - 3997 Kelembagaan pada tingkat pelaku usaha tumbuh dari keinginan mereka sendiri, sehingga program yang disusun. Di samping itu, untuk mereka merasakan bagian dari organisasi tersebut. lebih efektifnya pelaksanaan penyuluhan dan Untuk berperannya kelembagaan yang dimiliki bimbingan kepada masyarakat kelautan dan oleh pelaku usaha off-fishing, peran pemerintah perikanan juga diperlukan tenaga pendamping dianggap sebagai panutan dalam masyarakat. berkelanjutan dan bersinergi sesuai dengan tugas Pemuka masyarakat yang difungsikan sebagai dan wewenang masing-masing instansi pembina tenaga pendamping disebut dengan Penyuluh kelembagaan tersebut. Swadaya. Sebelum melakukan Dukungan Supporting System Supporting system adalah bantuan pihak pembinaan kepada pelaku usaha off-fishing, kemampuan pelaku usaha off-fishing. Menyadari pembekalan berupa Training of Trainer (TOT) keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh tentang ilmu teknis dan manajemen serta teknik pelaku usaha off-fishing, maka diperlukan uluran Pelatihan dan pembinaan terhadap tangan dari pihak luar untuk ikut membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh pelaku pemberian penyuluhan secara kontinyu dan berkelanjutan, oleh sebab itu tenaga pendamping diperlukan bantuan dari supporting system, antara yang sudah dipersiapkan harus bersinergi dan lain pembinaan dan pendampingan serta bantuan merupakan suatu kelompokm kerja . eam wor. modal usaha. dalam melakukan penyuluhan dan pembinaan di Pembinaan dan Pendampingan lapangan, kekompakan dalam pembinaan terhadap Sehubungan off-fishing Pembinaan dan pendampingan sangat kelompok sasaran akan memberikan hasil yang diperlukan oleh kelompok usaha off-fishing yang memuaskan, untuk itu juga diperlukan evaluasi dilakukan oleh rumah tangga nelayan skala kecil, terhadap pelaksanaannya. hal ini mengingat keterbatasan sumberdaya dan Bantuan Modal Usaha permodalan yang mereka miliki. Peningkatan Pelaku off-fishing mutu hasil usaha yang dilakukan tidak bisa hanya dengan mengandalkan bekal pelatihan yang menggunakan modal sendiri, hanya sebagian kecil diberikan saja tetapi perlu ditindaklanjuti dengan saja yang sudah memperoleh bantuan modal dari Bantuan modal diperoleh melalui Tenaga pendamping yang bertugas di pemerintah . alam hal ini adalah Kementerian lapangan terdiri dari : . Penyuluh Perikanan. Kelautan dan Perikana. yaitu pada pelaku usaha Tenaga teknis. Penyuluh swadaya. Petugas off-fishing jenis aneka pengolahan hasil perikanan, karena program ini merupakan program prioritas e-Jurnal Apresiasi Ekonomi Volume 2. Nomor 1. Januari 2014 : 15 - 25 ISSN : 2337 - 3997 pada Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka menciptakan nilai tambah . alue adde. hasil perikanan dan sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan konsumsi ikan bagi masyarakat. profesional sangat diperlukan oleh pelaku Penyediaan modal merupakan faktor yang usaha off-fishing, mengingat sumberdaya sangat menentukan dalam meningkatkan kapasitas dan mutu produk yang dihasilkan, tanpa dukungan Pembinaan yang dimiliki sangat terbatas. Usaha off-fishing mempunyai peluang untuk modal yang memadai teknologi yang dimiliki dikembangkan karena dapat memanfaatkan tidak akan bisa diterapkan. Oleh sebab itu agar bahan baku lokal serta menciptakan nilai usaha off-fishing yang dilakukan oleh rumah tambah . alue adde. hasil perikanan. tangga nelayan skala kecil bisa berkembang sesuai Pemberian bantuan modal merupakan faktor dengan program yang disusun, maka perlu penting untuk meningkatkan kapasitas dan diberikan bantuan modal usaha. mutu usaha off-fishing yang dilakukan oleh Upaya rumah tangga nelayan skala kecil, mengingat tangga nelayan skala kecil diharapkan akan terbatasnya modal yang dimiliki. berhasil dengan pemanfaatan waktu luang rumah Saran