ISSN: 2746-3656 Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind mapping untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Putri Rambu Dawu1. Darius Imanuel Wadu2, & Elsy S. Hana Taunu3 Pendidikan Matematika. Universitas Kristen Wira Wacana Sumba. Sumba Timur, 87284. Indonesia *Coresponding author: putrirambudawu@gmail. 1,2,3, Diterima 17 Juli 2025, disetujui untuk publikasi 25 Oktober 2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa melalui penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan mind mapping pada materi kesebangunan di kelas VII SMP Negeri 1 Umbu Ratu Nggay Tengah tahun ajaran 2024/2025. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, melibatkan 31 siswa sebagai subjek penelitian. Secara kualitatif, penerapan model TTW dengan mind mapping menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, kolaboratif, dan bermakna. Pada tahap think, siswa berlatih membaca dan memahami masalah secara mandiri. pada tahap talk, mereka berdiskusi dan bertukar gagasan dengan teman kelompok. sedangkan pada tahap write, siswa menuliskan hasil pemikiran dalam bentuk mind mapping sehingga lebih mudah memahami keterkaitan antar konsep. Aktivitas guru dan siswa menunjukkan peningkatan dari kategori cukup menjadi baik, diiringi dengan perubahan perilaku belajar siswa yang lebih antusias, percaya diri, dan mampu menjelaskan kembali konsep dengan bahasa Diskusi kelompok juga memperlihatkan interaksi yang lebih hidup, di mana siswa saling memberi penjelasan dan mengoreksi kesalahan konsep. Selain peningkatan keaktifan, siswa mulai mampu menerapkan konsep dalam pemecahan masalah kontekstual secara mandiri. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan model TTW berbantuan mind mapping tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga memperkuat pemahaman konseptual, keterampilan berpikir kritis, serta kemampuan komunikasi matematis siswa secara menyeluruh. Kata Kunci: Pemahaman Konsep Matematis. Model Think Talk Write. Mind mapping Citation : Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind mapping untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika: 6. , 38-47. 24114/jfi. Wawancara dan observasi di SMP Negeri 1 Pendahuluan Mashuri . , matematika tidak hanya Umbu Ratu Nggay Tengah, diperoleh fakta bahwa menjadi dasar bagi perkembangan teknologi modern, rencahnya pemahaman konsep siswa, yang terlihat tetapi juga melatih daya nalar dan logika berpikir yang dari tidak dapat mengaplikasikan konsep. Kemudian, siswa cenderung lupa terhadap materi yang telah Selain pemahaman konsep ilmiah, matematika juga memiliki banyak penerapan dalam kehidupan sehari-hari. mengemukakan pendapat, mudah menyerah ketika Namun, menghadapi soal sulit, serta kurang aktif dalam proses mengalami kesulitan dalam memahami konsep- Alternatif solusi mengatasi masalah konsep matematika, menguasai prinsip dasar, serta tersebut, guru perlu mengimplementasi pendekatan menerapkannya pada situasi nyata. Salah satu pembelajaran TTW atau Think Talk Write penyebab utama kesulitan tersebut adalah kurangnya dianggap efektif. kesempatan berlatih dan keterlibatan aktif dalam pembelajaran (Apriani & Sudiansyah, 2. Model TTW dikelompokkan dalam cooperatif learning yang memiliki potensi untuk membantu siswa memahami konsep dan membuat mereka lebih fokus mengikuti pembelajaran. Setiap siswa diberikan Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind mapping untuk. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 kesempatan memikirkan solusi yang akan digunakan dalam memperkuat struktur kognitif siswa karena dalam menyelesaikan masalah. Kemudian saling melibatkan proses pengorganisasian dan rekonstruksi bertukar ilmu dengan teman kelompok. Sesudah itu, pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan demikian, mereka menulis pengetahuan yang diperoleh dari penerapan model TTW tidak hanya mengasah kegiatan sebelumnya seperti menulis definisi, rumus, kemampuan kognitif, tetapi juga menumbuhkan gambar atau diagram (Oktaria dkk. , 2. Dalam keterampilan komunikasi dan refleksi, menjadikan penelitian ini peneliti mengunakan mind mapping proses belajar lebih bermakna serta berpusat pada pada tahap write, dimana siswa dilatih untuk mengkonstruksi pemahamannya melalui mind mapping yang dibuat berdasarkan permasalahan yang disajikan Mind mapping oleh guru. Sehingga kegiatan pembelajaran lebih Mind mapping merupakan salah satu strategi menyenangkan karena materi lebih mudah di pahami, visual yang digunakan untuk mengorganisasikan dan akhirnya akan membangkitkan minat dan konsep, ide, atau informasi secara sistematis dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran (Abbas dkk. menghubungkan ide utama dengan sub-ide dalam Teknik bentuk cabang-cabang yang tersusun secara hierarkis Model Think Talk Write dan berhubungan, sehingga konsep yang kompleks Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dapat dipahami secara menyeluruh. Berbeda dari metode pencatatan linear tradisional, mind mapping memungkinkan siswa melihat keterkaitan antar berbicara matematis, dan menulis matematis. Pada konsep secara lebih jelas dan terstruktur. Menurut tahap think . , siswa dilatih untuk menelaah Abbas dkk. Aupeta pikiran mampu mengaktifkan permasalahan matematis secara mendalam. Mereka meningkatkan fokus, serta mempercepat proses yang berkaitan dengan solusi. Tahap ini mendorong memvisualisasikan ide dalam bentuk simbol, warna, siswa berpikir kritis dan analitis dalam memahami dan cabang-cabang, siswa tidak hanya mengingat hubungan antar konsep sebelum melangkah ke tahap fakta, tetapi juga memahami hubungan logis di antara berikutnya (IsrokAoatun & Rosmala, 2. gagasan tersebut. informasiAy. informasi penting, serta merumuskan gagasan awal Tahap talk . memberi kesempatan Dengan Selain itu, dalam pembelajaran matematika mind mapping terbukti efektif dalam meningkatkan pemikiran mereka kepada teman sekelompok melalui kemampuan berpikir konseptual dan kreatif siswa. Dalam proses ini, siswa saling bertukar ide. Menurut Buzan . mind mapping berfungsi menguji pemahaman, serta memperbaiki kesalahan sebagai Aupeta jalan pikiranAy yang membantu otak konsep berdasarkan interaksi sosial dan argumentasi mengorganisasikan informasi secara alami sehingga Diskusi yang berlangsung membantu siswa membangun makna bersama dan memperkuat Kustian . menambahkan bahwa pemahaman konsep yang telah dipelajari (Lestari & teknik ini mampu mengalihkan informasi dari memori Yudhanegara, 2. jangka pendek ke memori jangka panjang melalui Tahap terakhir, write . , merupakan penguatan visual dan asosiasi warna, yang menjadikan bentuk refleksi dari dua tahap sebelumnya. Pada pemahaman lebih tahan lama. Dalam konteks bagian ini, siswa menuliskan hasil pemikiran dan pembelajaran matematika, mind mapping tidak hanya kesimpulan mereka dalam bentuk mempermudah siswa memahami hubungan antar matematis seperti simbol, rumus, atau penjelasan konsep seperti teorema dan rumus, tetapi juga konseptual dengan bahasa sendiri. Menurut Huda menumbuhkan motivasi belajar karena penyajian . , kegiatan menulis matematis berperan penting materi menjadi lebih menarik dan interaktif (Agustin. Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 , 2. Dengan demikian, mind mapping dapat dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui dua metode utama, yaitu instrumen tes pemahaman mendukung pembelajaran aktif, kreatif, dan bermakna. konsep dan observasi aktivitas belajar guru dan siswa Pemahaman Konsep Matematis Subjek melibatkan seluruh 31 siswa kelas VII. Direncakan PTK Pemahaman konsep merupakan tujuan utama dilaksanakan dua siklus dan memungkinkan siklus dalam pembelajaran matematika. Pemahaman konsep berlanjut jika indikator penelitian tidak tercapai. Setiap di definisikan sebagai kemampuan untuk menyerap siklus merujuk pada model Kemmis dan McTaggart dan memahami serta mengolah konsep dengan cara (Gambar . menunjukkan dengan representasi mathematics. Selain itu, keterampilan ini juga termasuk kemampuan dalam menggunakan bahasa kita sendiri untuk membuat algoritma dalam memecahkan masalah, dan dapat menerapkan konsep yang sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki (Sayekti, 2. Dengan memahami konsep, siswa memiliki kemampuan untuk mengerti, konsep dengan cara yang sesuai dengan topik yang mereka pelajari. Siswa akan mengalami kesulitan besar dalam mempelajari matematika secara keseluruhan jika mereka tidak memahami konsep matematika dengan benar. Siswa yang memahami konsep matematika dengan baik memiliki kemampuak lebih dari sekedar mengenal beberapa konsep, tetapi mereka juga mampu mengungkapkannya dalam berbagai sehari-hari, mengubahnya menjadi simbol matematika, atau Siswa matematika dengan baik jika mereka memiliki pemahaman yang baik tentang konsep tersebut (Yanala dkk. , 2. siswa dianggap memahami konsep dalam pembelajaran matematika jika indikator pemahaman konsep terpenuhi. Yulaistin & Roesdiana . indikator pemahaman konsep matematis . konsep, . mengelompokkan objek berdasarkan sifatnya, . memberikan contoh dan noncontoh, . menggunakan operasi matematika yang tepat, serta . mengaplikasikan konsep. Metode Penelitian Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Umbu Ratu Nggay Tengah, yang beralamat di Desa Weluk Praimemang. Kabupaten Sumba Tengah, pada TP 2024/2025 Genap . Mei s. 7 Juni 2. Penelitian Tindakan Kelas desain penelitian yang digunakan Gambar 1. Siklus PTK Kemmis dan Taggart Penelitian ini diawali dengan observasi untuk mengidentifikasi permasalahan di lapangan dan mengumpulkan data awal sebagai dasar Kegiatan penelitian terdiri atas tahap pra-siklus dan dua Pada pra-siklus, memberikan tes awal berupa lima soal uraian untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep siswa sebelum perlakuan. Selanjutnya, pada siklus I dan II, pembelajaran dilaksanakan selama dua TTW berbantuan mind mapping, dan di akhir setiap siklus pemahaman konsep. Data dianalisis secara statistik deskriptif untuk menggambarkan pemahaman konsep serta aktivitas guru dan siswa, dengan hasil belajar diukur melalui rata-rata dan persentase Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Razzaq & Nurnaifah, 2. Kriteria penilaian terdiri atas lima kategori: 85Ae 100% . angat bai. , 65Ae84% . , 55Ae64% . , 35Ae 54% . , dan 0Ae34% . angat kuran. Dengan Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind mapping untuk. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 Indikator keberhasilan secara klasikal minimal 75% operasi tertentu serta kemampuan mengaplikasikan dari total siswa untuk mencapai KKM = 65. Indikator konsep atau algoritma pemecahan masalah yang masing-masing 3,23%, indikator pemahaman konsep dan lembar observasi mengindikasikan bahwa siswa sangat lemah dalam minimal baik. penerapan konsep ke dalam konteks prosedural dan pemecahan masalah. Rendahnya capaian pada aspek- Hasil Penelitian aspek tersebut menunjukkan bahwa pemahaman Pra-siklus konsep siswa masih bersifat hafalan dan belum Hasil tes pemahaman konsep matematis di mencapai tahap pemahaman yang bermakna. Oleh kelas VII dapat dilihat pada Tabel 1. Data pra siklus karena itu, diperlukan tindakan dalam meningkatkan memperlihatkan 31 orang siswa tidak ada yang pemahaman konsep matematis siswa kelas VII yaitu mencapai KKM dengan persentase 100% ketidak dengan menerapkan model TTW dengan mind Sedang nilai rata-rata dikategorikan sangat kurang dengan persentase 13,63, sehingga pemahaman Siklus I konsep kelas VII tergolong rendah. Pada siklus I, pelaksanaan pembelajaran Tabel 1. Persentase Pemahaman Konsep Matematis difokuskan untuk mencapai indikator keberhasilan Siswa Pra Siklus pemahaman konsep matematis siswa. Langkah awal Indikator Kemampuan menjelaskan kembali konsep Kemampuan membedakan contoh dan bukan Mengelompokkan objek-objek tertentu menurut Kemampuan menggunakan langkah-langkah atau operasi tertentu Kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah Rata-rata (%) 17,34 dilakukan dengan menyiapkan berbagai perangkat 22,28 Pembelajaran, modul ajar, lembar kerja siswa (LKS). Rencana Pelaksanaan serta instrumen tes pemahaman konsep dan lembar 13,71 3,23 observasi kegiatan pembelajaran untuk guru dan Model pembelajaran TTW berbantuan mind 3,23 rancangan RPP dan dilaksanakan dalam dua kali 13,63 Proses pembelajaran terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan Berdasarkan tabel 1, dapat disimpulkan bahwa inti, dan kegiatan penutup. Sementara itu, observasi tingkat pemahaman konsep siswa masih tergolong rendah, dengan rata-rata keseluruhan sebesar 13,63%. bersamaan dengan pelaksanaan tindakan untuk Indikator tertinggi adalah kemampuan membedakan memantau keterlaksanaan model pembelajaran. Pada contoh dan bukan contoh dengan persentase 22,28%, akhir siklus, siswa diberikan tes uraian guna menunjukkan bahwa sebagian siswa sudah mampu mengukur peningkatan pemahaman konsep setelah mengenali karakteristik suatu konsep, meskipun penerapan model TTW berbantuan mind mapping. belum sepenuhnya memahami maknanya. Sementara Kegiatan pembelajaran dengan model TTW itu, indikator kemampuan menjelaskan kembali berbantuan mind mapping diawali dengan guru konsep memperoleh nilai 17,34%, yang menandakan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. mengungkapkan kembali ide matematika dengan Pada tahap awal, guru memberikan penjelasan umum kata-kata Adapun mengelompokkan objek berdasarkan sifatnya hanya kesebangunan pada segitiga untuk membangun 13,71%, menunjukkan bahwa siswa belum mampu pemahaman awal siswa terhadap materi yang akan mengaitkan konsep dengan representasi konkret Selanjutnya, guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan mengarahkan peserta didik kemampuan menggunakan langkah-langkah atau untuk membaca, memikirkan, serta mencari solusi Dua Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 secara individu terhadap permasalahan yang disajikan peningkatan, hasil tersebut belum memenuhi indikator keberhasilan klasikal yang ditetapkan sebesar 75% Kegiatan implementasi dari tahap Think, di mana siswa siswa tuntas. berusaha memahami dan memecahkan masalah secara Berdasarkan pemahaman konsep siswa per indikator persentase Setelah itu, guru membagi siswa ke dalam tertinggi adalan indikator kemampuan membedakan beberapa kelompok kecil beranggotakan 3Ae4 orang contoh dan bukan contoh dengan persentase 63,31%, untuk melanjutkan ke tahap Talk, yaitu berdiskusi dan ini menunjukan bahwa siswa sudah mulai memahami bertukar pikiran mengenai solusi dari permasalahan Sedangkan pesentase terendah yaitu indikator dalam LKS. siswa dapat mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah memperoleh presentasi 35,89% siswa belum kesalahan konsep yang mungkin muncul saat bekerja memiliki kemampuan menerapkan suatu konsep. secara individu. Setelah berdiskusi, siswa diarahkan persentase rata-ratanya memperoleh kategori cukup memasuki tahap Write, di mana mereka diminta untuk sebesar 50,40%, yang berarti hasil ini dapat dikatakan menuliskan pengetahuan yang telah diperoleh dalam bentuk peta konsep . ind mappin. Mind mapping kurangnya pemahaman siswa terhadap beberapa sub materi dan proses belajar yang belum optimal. Untuk Melalui diskusi ini, menghubungkan ide-ide utama tentang kesebangunan secara sistematis dan visual. Penyebabnya memperkuat argumen ini, diperlukan pelaksanaan uji Sebagai penutup, guru dan siswa secara bersama-sama menarik kesimpulan mengenai materi coba lebih lanjut guna mencapai pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. kesebangunan yang telah dipelajari. Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman siswa Tabel 3. Hasil Tes Kemampuan Pemahaman konsep Siswa Per Indikator Siklus I menumbuhkan kemampuan reflektif dalam proses Tabel 2. Persentasi kesesuasian aktivitas belajar siklus I Pertemuan 54,03 54,52 Aktivitas Guru Siswa Kesimpulan Rata-rata Kategori Cukup 54,27 Kurang Hasil pengamatan kegiatan guru dan siswa dipresentasikan dalam tabel 2 yang menunjukkan bagaimana guru menjalankan aktivitas pembelajaran Indikator Kemampuan menjelaskan kembali Kemampuan membedakan contoh dan bukan contoh Mengelompokkan objek-objek tertentu menurut sifatnya. Kemampuan menggunakan langkah-langkah atau operasi Kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan Rata-rata (%) Kategori 58,47 Cukup 63,31 Cukup 56,85 Cukup 37,50 Kurang 35,89 Kurang 50,40 Cukup dengan model TTW dengan mind mapping cukup dengan rata-rata sebesar 63%. Sedangkan aktivitas Siklus II siswa kurang baik dengan dengan rata- rata 54,27% Berdasarkan Hasil pelaksanan tindakan pada dari dua pertamuan Untuk itu perlu diadakan siklus I menunjukkan peningkatan kemampuan perbaikan guna mencapai hasil yang maksimal. Hasil pemahaman konsep dibandingkan dengan tahap pra- siklus, namun capaian tersebut belum mencapai 75% dan hasil observasi aktivitas guru dan siswa belum penerapan model TTW dengan mind mapping. mencapai kategori baik. Berlandaskan data yang Sebanyak 11 dari 31 siswa . ,48%) mencapai disajikan pada tindakan I akan dipergunakan sebagai ketuntasan, sementara 20 siswa . ,52%) belum tuntas, acuan saat melakukan tindakan siklus II dengan dengan nilai rata-rata kelas 50,40%. Meskipun terjadi harapan bahwa mampu meningkatkan pemahaman Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind mapping untuk. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 konsep matematis siswa. pelaksanaan siklus II sama dengan siklus I, berikut ini data yang peroleh setelah pelakasanaan tindakan II. Hasil pengamatan kegiatan guru dan siswa dipresentasikan dalam tabel 4. Berdasarkan tersebut terlihat terjadi peningkatan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran memperoleh persentase rata-rata sebesar 83,33%, yang termasuk kategori baik. Ini mengimplementasikan model TTW dengan mind maping secara efektif. Sedangkan aktivitas siswa kurang baik dengan dengan rata- rata 71,45% dari dua antusiasme yang tinggi saat mengikuti Kemampuan menggunakan langkah-langkah atau operasi Kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan Rata-rata (%) 63,31 Cukup 60,08 Cukup 71,61 Baik Persentase tertinggi dicapai oleh indikator kemampuan membedakan contoh dan bukan contoh dengan persentase 83,47%, ini menunjukan bahwa siswa sudah memahami konsep sehingga dapat menyeleksi bukan contoh dan contoh konsep. Sedangkan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah memperoleh presentasi 60,08% siswa belum mengusai kemampuan menerapkan suatu konsep. Tabel 4. Persentasi kesesuasian aktivitas belajar siklus Persentase rata-rata 71,61% yang dikategori baik , yang menunjukkan bahwa hasil tersebut telah memenuhi Aktivitas Guru Siswa Pertemuan 77,17 71,77% Kesimpulan Rata-rata Kategori 83,33 71,13 81,27 71,45 Baik Baik Sedangkan untuk hasil posttest pemahaman konsep matematis siswa yang dilakukan setelah melakukan tindakan II terdapat peningkatan dalam hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut terlihat dari kuantitas siswa yang memperoleh nilai Ou65 sebanyak 24 siswa dari 31 siswa dengan persentase keberhasilan sebesar 77,42%, sementara 7 siswa tidak memperoleh ketuntasan dengan nilai di bawah <65 dengan indikator keberhasilan yang diharapkan kategori baik. Gambar 2 menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa dari pra-siklus hingga siklus II. Pada pra-siklus, nilai rata-rata masih 0, menandakan belum adanya hasil yang dapat diukur. Setelah penerapan tindakan pada siklus I, rata-rata meningkat menjadi 35,48, dan pada siklus II naik tajam menjadi 77,42. Kenaikan sebesar 41,94 poin dari siklus I ke siklus II menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran yang diperbaiki secara berkelanjutan mampu meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa secara signifikan. persentase ketidak tuntasan sebesar 22,58%. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa hasil pemahaman 77,42 konsep siswa meningkat dari sebelumnya dan mencapai indikator keberhasilan klasikal yaitu 75% 35,48 siswa yang tuntas. Keberhasilan berdasarkan indikator pemahaman konsep pada tabel 5. Pra Siklus Tabel 5. Hasil Kemampuan Pemahaman konsep Siswa Per-indikator Siklus II Indikator Kemampuan menjelaskan kembali Kemampuan membedakan contoh dan bukan contoh Mengelompokkan objek-objek tertentu menurut sifatnya. Kategori 81,05 Baik 83,47 Baik Siklus I Siklus II Gambar 2. Persentase Ketuntasan Klasikal Setiap Siklus Gambar pemahaman konsep matematis siswa dari pra-siklus hingga siklus II. Pada pra-siklus, rata-rata nilai hanya 13,63, menandakan pemahaman siswa masih sangat 70,16 Baik Setelah penerapan tindakan pada siklus I, nilai rata-rata meningkat menjadi 50,40, naik sebesar 36,77 poin atau 269,7%, yang menunjukkan adanya dampak Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 positif dari strategi pembelajaran yang diterapkan. Tabel 6. Perbandingan Indikator Pemahaman konsep Pada siklus II, nilai rata-rata kembali meningkat setiap Siklus menjadi 71,45, dengan kenaikan 21,05 poin atau 41,8% dari siklus I. Peningkatan ini mencerminkan bahwa penyempurnaan dalam pelaksanaan pembelajaranAi seperti perbaikan instruksi, peningkatan interaksi kelompok, dan pemanfaatan media belajar yang lebih efektifAiberhasil memperkuat pemahaman konsep siswa secara signifikan. 71,45 Indikator Pemahaman Konsep Kemampuan menjelaskan kembali konsep Kemampuan membedakan contoh dan bukan contoh Mengelompokkan objek-objek tertentu menurut sifatnya. Kemampuan menggunakan langkah-langkah atau operasi Kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah Pra Siklus 17,34 58,47 81,05 22,28 63,31 83,47 13,71 56,85 70,16 3,23 37,50 63,31 3,23 35,89 60,08 Setiap indikator pemahaman konsep matematis 13,63 mengalami peningkatan dari pra-siklus hingga siklus Pra Siklus Siklus I II. Kemampuan membedakan contoh dan bukan Siklus II contoh meningkat dari 22,28% menjadi 83,47%. Gambar 3. Rata-rata Pemahaman Konsep Siswa Setiap menunjukkan peningkatan kemampuan analitis siswa Siklus Selanjutnya, pada siklus II, nilai rata-rata Indikator mengelompokkan objek berdasarkan sifatnya juga naik meningkat lagi menjadi 71,45, atau naik sebesar 21,05 poin dari siklus I dengan persentase peningkatan kemampuan klasifikasi konsep yang lebih baik. 41,8%. Peningkatan mencolok terlihat pada kemampuan penyempurnaan tindakan pembelajaran pada siklus menggunakan langkah-langkah atau operasi tertentu. IIAiseperti perbaikan instruksi, peningkatan interaksi dari 3,23% menjadi 63,31%, menunjukkan kemajuan kelompok, dan penggunaan media pembelajaran yang dalam penerapan prosedur matematis. Sementara itu, kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma Peningkatan efektifAisemakin memperkuat kemampuan siswa dalam memahami konsep. 13,71% 70,16%, pemecahan masalah meningkat dari 3,23% menjadi Berdasarkan tabel 6, terlihat bahwa pemahaman 60,08%, konsep siswa mengalami peningkatan yang signifikan menggunakan konsep dalam konteks baru secara lebih pada setiap indikator dari pra-siklus hingga siklus II. bermakna dan aplikatif. Pada indikator kemampuan menjelaskan kembali konsep, nilai rata-rata meningkat dari 17,34 pada pra- Pembahasan siklus menjadi 58,47 pada siklus I, dan mencapai 81,05 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pada siklus II. Peningkatan ini menunjukkan bahwa peneliti menyampaikan temuan dari pelaksanaan observasi dan tes. Siklus I, pengamatan terhadap mengungkapkan kembali konsep dengan bahasanya aktivitas guru menunjukkan persentase 63% yang sendiri, yang menandakan adanya perbaikan dalam tergolong dalam kategori cukup baik. Namun guru pemahaman konseptual setelah diterapkannya model belum sepenuhnya optimal dalam menerapkan model pembelajaran yang melibatkan aktivitas berpikir. TTW dengan mind mapping. Beberapa kegiatan masih berdiskusi, dan menulis. dinilai kurang efektif, seperti penjelasan materi oleh guru dan pemberian kesempatan berpikir kepada siswa, serta bimbingan siswa dalam membuat catatan pada template mind mapping. Sementara itu, aktivitas siswa juga masih dalam kategori kurang dengan Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind mapping untuk. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 persentase 54,27%. Terdapat beberapa kekurangan juga dapat diukur melalui cara siswa menyelesaikan dalam aktivitas pembelajaran, seperti ketika guru Banyak siswa yang masih kesulitan menerapkan sedang mengajar, banyak siswa yang tidak fokus dan konsep atau algoritma dalam menyelesaikan masalah tidak memperhatikan penjelasan, kesulitan dalam dan ada juga yang tidak memberikan jawaban yang menjawab pertanyaan secara mandiri, kurangnya sama sekali. kolaborasi dalam diskusi kelompok, serta kesulitan Pada siklus I, persentase siswa yang tidak lulus dalam mengisi template mind mapping. Masalah yang berkurang menjadi 64,52%, sementara yang lulus ditemukan masih relevan dan masih ada hingga saat meningkat menjadi 35,48% dengan rata-rata nilai ini, sejalan dengan temuan Dewi dkk. proses 50,40%. Pekerjaan siswa menunjukkan peningkatan pembelajaran siklus I belum optimal dikarenakan yang signifikan berdasarkan indikator. Meskipun Siswa masih bingung dengan penerapan model TTW, demikian, masih ada sebagian siswa yang mengalami kurang berkomunikasi dan saling tunggu dalam kesulitan dalam menggunakan langkah-langkah atau mengerjakan tugas kelompoknya, dan siswa kesulitan operasi tertentu, juga dalam menerapkan konsep dalam menuliskan kesimpulan dari hasil diskusi untuk memecahkan problem. Pada siklus I, persentase Selain itu, dalam penyampaian materi guru siswa yang tidak tuntas berkurang menjadi 64,52%, tampak tergesa-gesa. sementara yang tuntas meningkat menjadi 35,48% Pada siklus II, kinerja guru mencapai kategori dengan rata-rata nilai 50,40%. Hasil kerja siswa baik dengan persentase 81,27%, sedangkan aktivitas berdasarkan indikator menunjukkan peningkatan siswa mencapai 71,45%. Keterlibatan guru dan siswa yang signifikan, meskipun beberapa siswa masih terus meningkat dari siklus I hingga siklus II, dengan menghadapi kesulitan dalam menggunakan operasi siswa menunjukkan perhatian dan respons yang lebih tertentu serta mengaplikasikan algoritma untuk baik terhadap penjelasan serta pertanyaan guru. memecahkan problem. Langkah selanjutnya untuk siswa adalah membentuk Pada siklus II. Pada siklus II, persentase siswa kelompok sesuai petunjuk guru, berdiskusi dengan yang tidak lulus menurun menjadi 22,58%, sementara yang lulus meningkat menjadi 77,42%, dengan ratarata menunjukkan peningkatan. Meskipun masih banyak nilai kelas mencapai 71,45%. Meskipun hasil kerja per siswa yang belum dapat mengambil kesimpulan pada indikator pada siklus II dinilai baik, masih ada akhir pelajaran, namun terdapat peningkatan yang beberapa siswa yang kesulitan menerapkan konsep atau algoritma untuk memecahkan masalah dan Serta siswa mengikuti semua instruksi menggunakan langkah-langkah sesuai dengan konsep dan panduan yang diberikan selama pembelajaran. yang diterapkan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hal ini sejalan dengan pernyataan Kurniawati & Sartika dkk. serta Oktaria dkk. , yang Chrisnawati . TTW meskipun terdapat beberapa kekurangan, seperti meningkatkan pemahaman konsep matematis secara Oleh karena itu, model pembelajaran TTW Peningkatan dengan mind mapping layak direkomendasikan sebagai aktivitas belajar siswa pada periode siklus II jika pilihan strategi pembelajaran untuk meningkatkan dibandingkan dengan siklus I. kemampuan pemahaman konseptual matematis siswa Berdasarkan informasi tabel 6 disimpulkan secara berkelanjutan. bahwa peningkatan pemahaman konsep matematika siswa matematika siswa kelas VII dalam pembelajaran matematika dari pra siklus, siklus I sampai dengan Penutup Berdasarkan siklus II mengalami peningkatan. terlihat peningkatan dilakukan di SMP Negeri 1 Umbu Ratu Nggay pemahaman konsep matematika siswa dari hasil tes Tengah, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pra siklus dengan persentase 0% siswa tuntas dengan pembelajaran TTW berbantuan mind mapping terbukti rata-rata nilai 13,63%. Di sisi lain, pemahaman konsep Dawu. Wadu. , &. Taunu. Penerapan Model Think Talk Write dengan Mind. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep VII. Hasil menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari setiap siklus. Pada tahap pra-siklus, rata-rata Apriani. , & Sudiansyah. Dampak Kurangnya Praktik Dalam Pelajaran Matematika: Pentingnya Latihan pemahaman konsep siswa hanya sebesar 13,63% tanpa Terstruktur Bagi Pemahaman Konsep ada yang tuntas. Setelah penerapan tindakan pada Matematika. siklus I, rata-rata meningkat menjadi 50,40% dengan Matematika (AL KHAWARIZMI), 4. , 35,48% siswa tuntas, dan pada siklus II meningkat 40Ae49. signifikan menjadi 71,61% dengan ketuntasan 77,42%, melampaui indikator keberhasilan klasikal. Aktivitas guru dan siswa juga mengalami peningkatan, dari kategori cukup dan kurang pada siklus I menjadi kategori baik pada siklus II. Pendidikan https://doi. org/:https://doi. org/10. 8/kjpm. Buzan. The Mind Map Book: Unlock Your Creativity. Boost Your Memory. Setiap indikator pemahaman konsep matematis Jurnal kemampuan menjelaskan kembali Change Your Life. London: BBC Active. Huda. Model-Model Pengajaran dan membedakan contoh dan bukan contoh. Hal ini Pembelajaran: Isu-Isu Paradigmatis. Yogyakarta: memahami dan menerapkan konsep matematika Penggunaan mengorganisasi ide secara visual dan sistematis. Metodis Pustaka Pelajar. IsrokAoatun, & Rosmala. ModelModel Pembelajaran Matematika (B. Fatmawati. Ed. PT Bumi Aksara. Dengan demikian, model TTW berbantuan Kurniawati. , & Chrisnawati. mind mapping efektif meningkatkan hasil belajar Penerapan Model Pembelajaran Think sekaligus menciptakan pembelajaran yang aktif. Talk Write (TTW) Dengan Strategi kolaboratif, dan bermakna. React Untuk Meningkatkan Aktivitas Daftar Pustaka