Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. https://doi. org/10. 35877/panrannuangku4341 ISSN: 2798-1096 . Pelatihan Inventarisir Produk Wisata di Desa Wisata Sangbua. Rantepao Toraja Utara Berbasis Platform Google Dharma Kuba*. Margaretha Wadid Rante. Faradillah Saputri Politeknik Pariwisata Makassar. Jl. Gn. Rinjani Jl. Metro Tj. Bunga No. Tj. Merdeka. Kec. Tamalate. Kota Makassar. Sulawesi Selatan 90224 Abstract Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Sangbua. Toraja Utara, dalam inventarisasi produk wisata berbasis digital menggunakan platform Google Workspace. Kegiatan pelatihan yang melibatkan perangkat desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwi. , pelaku UMKM, dan pemuda desa dilaksanakan selama dua hari dengan metode ceramah, simulasi, diskusi, dan praktik lapangan. Hasilnya, peserta mampu menginventarisasi dan mendokumentasikan 12 lokasi wisata alam, 5 lokasi wisata budaya, 15 pelaku UMKM, dan 3 event budaya secara sistematis dan digital. Data tersebut berhasil diolah dan dipetakan menggunakan Google Maps, membangun sistem manajemen informasi wisata yang partisipatif dan kolaboratif. Pengabdian ini meningkatkan literasi digital dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumentasi wisata sebagai dasar pengembangan promosi dan pengelolaan destinasi. Kontribusi kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing desa wisata secara berkelanjutan dan mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang adaptif terhadap kemajuan teknologi Keywords: pengabdian kepada masyarakat. desa wisata. inventarisasi digital. literasi digital. Google Workspace. pariwisata berbasis masyarakat. Pendahuluan* Pariwisata berbasis masyarakat merupakan sebuah pendekatan dalam pengembangan destinasi wisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai penggerak utama dalam mengelola potensi wisata di wilayahnya. Melalui pendekatan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya ikut menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dan lingkungan sekitar, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang merata dan berkelanjutan (Junaid, 2. Salah satu wujud nyata dari pendekatan tersebut adalah pengembangan desa wisata, yaitu kawasan pedesaan yang dikembangkan berdasarkan keunikan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat untuk menarik minat wisatawan (Kasim et , 2. Desa Sangbua di Kecamatan KesuAo. Kabupaten Toraja Utara, yang telah ditetapkan sebagai desa wisata oleh Kementerian Pariwisata pada tahun 2024, menjadi salah satu contoh desa yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dengan strategi ini (KEMENTERIAN PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA, 2. Namun, hingga saat ini pengelolaan informasi tentang objek wisata dan berbagai aktivitas budaya di Desa Sangbua masih belum optimal. Informasi yang ada tersebar dan belum terdokumentasi secara terorganisir, sehingga akses bagi masyarakat maupun wisatawan menjadi terbatas (Hasil Observasi, 2. Padahal, inventarisasi produk wisata merupakan langkah awal yang penting dalam pengembangan pariwisata, karena data yang lengkap dan terstruktur dapat membantu dalam merancang strategi promosi, memperbaiki fasilitas, dan menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung (Widjaja et al. , 2. Beberapa studi menunjukkan bahwa banyak desa wisata di Indonesia masih belum memanfaatkan teknologi sistem informasi spasial untuk mengelola data, sehingga pembaruan informasi dan pengambilan keputusan yang efektif menjadi terhambat (Darwis et al. , 2024. Jasman et al. , 2. Hal ini juga menegaskan pentingnya visualisasi spasial sebagai media yang dapat meningkatkan daya tarik sebuah destinasi di era digital. Teknologi digital, khususnya Google Workspace, menawarkan solusi yang terjangkau dan mudah diakses untuk membantu proses inventarisasi ini. Dengan Google Forms, masyarakat dapat mengumpulkan data secara daring. Corresponding author: E-mail address: padhaku@poltekparmakassar. Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat is licensed under an Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Kuba et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 127Ae133 Google Sheets membantu dalam pengelolaan dan analisis data, sementara Google Maps dan Google Earth dapat digunakan untuk memetakan lokasi-lokasi wisata secara interaktif (Rahayu et al. , 2019. Ridwan et al. , 2. Selain itu, platform ini mendukung kerja sama secara real-time dan dapat digunakan di berbagai perangkat. Kendati demikian, menurut (Pratama et al. , 2. tantangan yang masih dihadapi adalah rendahnya kemampuan literasi digital di kalangan masyarakat setempat, sehingga pelatihan yang sistematis dan aplikatif sangat diperlukan agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Lebih jauh lagi, pengembangan desa wisata tidak hanya melibatkan aspek fisik seperti pemandangan alam dan bangunan, tetapi juga aspek non-fisik seperti kegiatan pertanian, ritual adat, kesenian, dan usaha kreatif yang dijalankan masyarakat. Oleh karena itu, menurut (Kasim et al. , 2024. Ohyver et al. , 2. proses inventarisasi yang dilakukan melalui platform digital ini juga bertujuan untuk mendokumentasikan semua unsur tersebut sebagai bagian dari daya tarik dan keunikan desa. Dalam rangka itu, program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk memberikan pelatihan kepada warga dan pengelola Desa Sangbua agar mampu melakukan inventarisasi produk wisata dengan menggunakan teknologi Google secara efektif dan berkelanjutan. Diharapkan setelah pelatihan ini, kapasitas masyarakat dalam mengelola informasi wisata secara digital meningkat, sehingga data produk wisata yang lengkap dan peta wisata digital yang interaktif dapat terbentuk. Selain itu, menurut (Nurhalimah et al. , 2021. Zsarnoczky, 2. peningkatan literasi digital juga menjadi modal penting bagi pengelolaan pariwisata modern yang lebih profesional dan partisipatif. Dengan begitu. Desa Sangbua dapat semakin berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat yang berdaya saing dan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital global. Metode Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan perangkat desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwi. , pelaku UMKM, serta pemuda Desa Sangbua sebagai subjek utama. Pelaksanaan berlangsung di Balai Desa Sangbua. Kecamatan KesuAo. Kabupaten Toraja Utara, selama empat bulan, mulai Juni hingga September 2025. Pelibatan komunitas dilakukan sejak awal melalui musyawarah untuk menyusun rencana aksi bersama dan memastikan partisipasi aktif dalam seluruh tahapan kegiatan. Selain itu, peran Dinas Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, tokoh masyarakat, tokoh adat, pihak swasta, dan staf desa turut mendukung keberhasilan program ini. Pelatihan dilakukan pada tanggal 2-3 Agustus 2025 dengan peserta sebanyak 15 orang yang mewakili kelompokkelompok masyarakat tersebut. Materi pelatihan berfokus pada penggunaan platform Google, seperti Google Forms untuk pengumpulan data. Google Sheets untuk pengelolaan dan analisis data, serta Google Maps untuk pemetaan lokasi wisata secara digital. Setelah pelatihan, peserta langsung melakukan praktik lapangan dengan melakukan inventarisasi produk wisata yang meliputi lokasi wisata alam, budaya, pelaku UMKM, event budaya, serta akses jalan yang ada di Desa Sangbua. Hasil inventarisasi yang berhasil dikumpulkan antara lain 12 lokasi wisata alam, 5 lokasi wisata budaya, 15 pelaku UMKM kuliner dan kerajinan, 3 event budaya tahunan, 1 jalan utama, 5 jalan setapak, dan 5 jalan hewan. Semua data tersebut diinput secara digital melalui Google Form dan dikompilasi otomatis dalam Google Sheets. Pendekatan partisipatif menurut (Junaid et al. , 2. bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan data wisata serta membangun kapasitas dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pengembangan pariwisata desa dilakukan secara Hasil dan Pembahasan Hasil Desa Wisata Sangbua, yang berada di Kecamatan Rantepao. Kabupaten Toraja Utara, memiliki potensi wisata yang kaya akan kekayaan alam, budaya, dan kerajinan tangan lokal. Namun, potensi ini belum terdokumentasi secara sistematis sehingga menghambat upaya promosi dan pengembangan pariwisata secara digital. Untuk menjawab tantangan ini, kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan pelatihan inventarisasi produk wisata berbasis platform Google, yang berlangsung pada tanggal 2 hingga 3 Agustus 2025 di Balai Desa Sangbua. Pelatihan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwi. , pelaku UMKM, hingga pemuda desa, dengan tujuan memperkuat kapasitas mereka dalam mendata dan mengelola data produk wisata secara digital dan terintegrasi. Kuba et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 127Ae133 Gambar 1. Tim PKM Bersama Para Peserta Gambar ini memperlihatkan momen kebersamaan antara tim PKM dengan peserta pelatihan di Balai Desa Sangbua. Kehadiran tim pendamping sangat penting untuk mendukung proses transfer pengetahuan dan membangun semangat kolaborasi di antara warga dalam mengelola potensi wisata secara bersama. Materi pelatihan mencakup konsep dasar inventarisasi produk wisata, klasifikasi produk wisata seperti atraksi alam, budaya, kuliner, kerajinan, dan event budaya, serta penggunaan platform Google seperti Google Forms. Google Sheets, dan Google Maps untuk pengumpulan dan pengolahan data. Metode pembelajaran yang digunakan sangat interaktif, meliputi ceramah, simulasi langsung, diskusi kelompok, dan praktik lapangan, sehingga peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta adalah 40%, yang mencerminkan efektivitas metode pelatihan yang diterapkan. Gambar 2. Peserta Melakukan Simulasi Inventarisir Data didampingi oleh TIM PKM Dalam gambar ini, peserta terlihat aktif melakukan simulasi pengumpulan data menggunakan Google Forms pada perangkat masing-masing. Praktik langsung ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran, membantu peserta memahami cara kerja pengumpulan data digital secara sistematis dan efisien. Setelah pelatihan, peserta melakukan inventarisasi lapangan dan berhasil mengumpulkan data yang cukup lengkap, yakni 12 lokasi wisata alam, 5 lokasi wisata budaya, 15 pelaku UMKM kuliner dan kerajinan, 3 event budaya tahunan, serta berbagai akses jalan seperti satu jalan utama, lima jalan setapak, dan lima jalan hewan. Seluruh data ini kemudian diinput menggunakan Google Forms dan secara otomatis dikompilasi di Google Sheets, sehingga memudahkan proses pengelolaan data secara real-time dan kolaboratif. Selain itu, peserta juga berhasil memetakan lokasi-lokasi tersebut ke dalam Google My Maps, sehingga menghasilkan peta wisata digital yang dapat diakses secara publik. Keberhasilan ini menandai perubahan signifikan dalam pengelolaan informasi pariwisata di Desa Sangbua. Basis data digital yang lengkap dan peta wisata digital yang interaktif tidak hanya mempermudah pengelolaan dan promosi wisata tetapi juga membuka peluang untuk pengambilan kebijakan berbasis data yang lebih efektif oleh pemangku kepentingan lokal. Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat dalam proses inventarisasi ini telah menumbuhkan kesadaran dan partisipasi kolektif yang lebih besar dalam menjaga dan mengembangkan potensi wisata desa. Kuba et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 127Ae133 Gambar 3. Produk Inventaris Data pada Google Sheet Gambar ini menunjukkan tampilan data hasil inventarisasi yang sudah terinput dan terorganisir dalam Google Sheets. Sistem ini memudahkan pemantauan, pengelolaan, dan analisis data secara kolaboratif, sekaligus menjadi dasar pengembangan promosi dan pengelolaan wisata yang profesional dan berbasis data. Dari segi sosial, pelatihan dan pendampingan ini memunculkan transformasi perilaku positif dalam masyarakat. Tingkat literasi digital yang sebelumnya rendah mulai meningkat, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi objek wisata tetapi juga pelaku aktif dalam pengelolaan destinasi. Terbentuknya tim khusus di desa untuk pemutakhiran data secara berkala serta rencana pengembangan website desa wisata menjadi bukti nyata munculnya pranata baru yang mendukung pengelolaan wisata secara berkelanjutan. Hal ini juga membuka ruang bagi munculnya pemimpin lokal yang mampu memimpin inovasi dan adaptasi teknologi dalam komunitas. Selain itu, pelatihan ini memberikan pondasi bagi pengembangan digital marketing dan integrasi dengan platform wisata nasional seperti Google Travel dan TripAdvisor, yang akan semakin memperluas jangkauan promosi desa wisata Sangbua. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas teknis masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi lokal yang berkelanjutan, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. , khususnya pada aspek pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta permukiman yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, pemanfaatan teknologi digital berbasis platform Google dalam kegiatan PKM ini membuktikan efektivitas pendekatan modern yang murah dan mudah diakses untuk pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Transformasi sosial dan teknis yang terjadi menunjukkan potensi besar Desa Sangbua untuk menjadi destinasi wisata yang tidak hanya menarik secara budaya dan alam, tetapi juga cerdas dalam pengelolaan data dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global. Umpan Balik dan Testimoni Peserta Dalam proses pelaksanaan kegiatan PKM, umpan balik dari para peserta menjadi bagian penting untuk mengevaluasi keberhasilan pelatihan serta untuk pengembangan kegiatan serupa di masa depan. Para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti perangkat desa. Pokdarwis, pelaku UMKM, dan pemuda desa, memberikan berbagai tanggapan positif terkait pelatihan inventarisasi produk wisata berbasis platform Google. Informan 1 menyampaikan bahwa penggunaan Google My Maps sangat membantu dalam memetakan 35 titik lokasi wisata yang kini dapat diakses secara publik. Hasil ini sangat bermanfaat sebagai bahan dasar dalam pengembangan promosi digital melalui website desa maupun media sosial. Informan ini juga menegaskan bahwa pelatihan memberikan pemahaman yang jelas dan praktis, sehingga mereka merasa yakin dapat mengulang proses inventarisasi secara mandiri ke depannya. Kuba et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 127Ae133 Sedangkan Informan 3 dan Informan 4 menegaskan bahwa pelatihan yang berbasis platform Google terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat desa untuk melakukan inventarisasi produk wisata secara mandiri dan Peserta menilai bahwa penggunaan platform gratis seperti Google Forms dan Google Sheets sangat memudahkan pencatatan data, sekaligus memungkinkan kolaborasi dan akses data secara real-time. Menurut mereka, kemampuan ini sangat penting untuk menjaga kesinambungan pengelolaan data produk wisata di desa. Secara umum, para peserta menyatakan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap materi, metode pelatihan, dan pendampingan yang diberikan. Mereka merasa proses pelatihan tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab bersama dalam mengembangkan potensi wisata desa secara digital dan berkelanjutan. Pembahasan Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Wisata Sangbua berhasil menunjukkan efektivitas pendekatan pelatihan berbasis platform Google dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menginventarisasi produk wisata secara sistematis dan digital. Temuan ini konsisten dengan hasil studi (Ridwan et al. , 2. yang menegaskan bahwa penggunaan sistem informasi spasial menjadi faktor krusial dalam pengelolaan dan promosi desa wisata. Selain itu, dukungan media visual spasial sebagai bagian dari destination branding telah terbukti meningkatkan daya tarik destinasi, sebagaimana dikemukakan oleh (Slusarski & Jurkiewicz, 2. Implikasi praktis dari kegiatan ini menunjukkan bahwa digitalisasi data wisata dapat memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi pengelolaan, serta mendorong keterlibatan partisipatif masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas. Secara konseptual, kegiatan ini memperkuat landasan teori community-based tourism (CBT) yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pengelola utama sumber daya wisata (Ruiz-Ballesteros, 2. Penerapan teknologi digital sebagai media pemberdayaan memungkinkan transformasi peran masyarakat dari sekadar objek menjadi subjek aktif dalam pengelolaan dan pengembangan produk wisata. Hal ini selaras dengan paradigma empowerment yang menekankan peningkatan kapasitas lokal untuk mengelola sumber daya secara berkelanjutan (Cole, 2006. Junaid. Namun demikian, temuan ini juga menggarisbawahi hambatan literasi digital yang masih menjadi tantangan signifikan(Pratama et al. , 2. , yang memerlukan pendekatan pembelajaran berkelanjutan dan kontekstual agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal. Meskipun berhasil mengumpulkan dan mengintegrasikan data produk wisata melalui platform Google, keterbatasan teknis dan sosial masih menjadi kendala yang perlu diperhatikan dalam implementasi jangka panjang. Akses internet yang belum merata dan ketersediaan perangkat teknologi yang terbatas menjadi hambatan utama dalam memastikan kesinambungan pengelolaan data. Hal ini diperkuat oleh hasil studi (Nurhalimah et al. , 2. yang menunjukkan bahwa infrastruktur digital dan dukungan institusional merupakan faktor penentu keberhasilan digitalisasi desa wisata. Oleh karena itu, penguatan kapasitas harus diikuti dengan pengembangan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung agar inovasi teknologi dapat berfungsi secara optimal dalam konteks lokal yang spesifik. Pengintegrasian teknologi digital dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan destinasi dan memberdayakan komunitas lokal secara menyeluruh. Namun, keberhasilan teknis tidak dapat menjamin terwujudnya perubahan sosial secara permanen tanpa adanya komitmen kolektif, dukungan kebijakan, dan keberlanjutan program (Hribar et al. , 2021. Jamal & Getz, 1995. Taufik et al. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek sosial, teknis, dan kelembagaan perlu dikembangkan guna memastikan transformasi sosial dan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Temuan ini membuka ruang bagi penelitian dan pengembangan model pelatihan yang lebih komprehensif, adaptif, dan kontekstual, agar pengelolaan pariwisata berbasis digital dapat menjadi instrumen nyata dalam mendukung pembangunan desa wisata yang berkelanjutan. Conclusion Pelatihan inventarisasi produk wisata berbasis platform Google di Desa Sangbua berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola data wisata secara digital dan sistematis. Masyarakat kini mampu mendokumentasikan dan memetakan potensi wisata dengan lebih mudah dan partisipatif, membuka peluang pengembangan pariwisata yang lebih terencana dan berkelanjutan. Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya literasi digital dalam pengelolaan pariwisata modern, meskipun masih diperlukan pendampingan lanjutan untuk mengatasi keterbatasan kemampuan teknologi di awal. Pembentukan tim pengelola data menjadi kunci keberlanjutan sistem informasi yang dibangun. Kuba et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 127Ae133 Rekomendasi ke depan meliputi pelatihan lanjutan dalam digital marketing dan pengembangan sistem informasi yang terus diperbarui. Kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait akan memperkuat posisi Desa Sangbua sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat yang adaptif dan kompetitif. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan fondasi teknis dan sosial yang kuat untuk pengembangan pariwisata desa yang berkelanjutan, sekaligus mendorong transformasi digital sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Acknowledgements Penulis menyampaikan apresiasi yang tulus kepada Direktur Politeknik Pariwisata Makassar atas dukungan dan fasilitasi yang telah diberikan dalam mendukung terlaksananya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Desa Sangbua beserta jajaran perangkat desa yang telah memberikan izin, dukungan, serta partisipasi aktif selama proses pelaksanaan kegiatan. Penghargaan khusus juga kami tujukan kepada seluruh peserta pelatihan yang berasal dari kelompok sadar wisata (Pokdarwi. , pelaku UMKM, pemuda, dan masyarakat Desa Sangbua yang secara antusias mengikuti pelatihan dan turut serta dalam proses inventarisasi produk wisata. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Tim PKM Politeknik Pariwisata Makassar Tahun SK: Sk/196/H. 02/PTP. 3/2025, yang didanai oleh institusi. Dukungan dan sinergi dari berbagai pihak tersebut sangat berkontribusi pada keberhasilan program ini. References